Pemantik Api
Juhwan awalnya berencana untuk menggantung asal-asalan kulit serigala itu di dalam gudang penyimpanan. Namun, sebelum dia sempat melakukannya, Liz sudah membentangkannya dengan raki di dalam rumah. Tampaknya wanita itu berniat untuk mengeringkannya di dalam ruangan.
Juhwan sempat heran mengapa dia melakukannya mengingat baunya yang sangat menyengat, tetapi saat melihat Liz mengusap bulu serigala itu dengan lembut seolah benda itu adalah sebuah harta karun, dia pun mengerti.
‘Ah… ini adalah aset yang sangat berharga baginya.’
Bagi Liz, kulit serigala ini adalah sesuatu yang sangat berharga—sesuatu yang tidak boleh hilang. Meskipun mereka tinggal jauh di pedalaman gunung tanpa ada siapa pun di sekitar mereka, dia terlalu menghargai kulit itu untuk meninggalkannya begitu saja di dalam gudang penyimpanan.
Juhwan tidak tahu banyak tentang kehidupan yang telah dilalui Liz sebelumnya, tetapi itu pasti sangatlah sulit. Menyaksikan bagaimana wanita itu berulang kali menyentuh bulu tersebut dengan penuh kehati-hatian, dia sedikit banyak bisa membayangkan masa lalu Liz yang kelam.
Sesekali, Dorothy akan mendekati Liz dan ikut memandangi kulit serigala itu bersamanya.
Mungkin karena merasa takjub dengan wajah serigala yang sudah mengkerut tanpa ada isi di dalamnya, Dorothy terus-menerus menusuk-menusuk bagian hidungnya menggunakan jari kecilnya. Kemudian Liz pun ikut menusuknya juga. Juhwan tidak mengerti apa yang lucu dari hal itu, tetapi mereka berdua tampak sangat menikmati momen sederhana tersebut.
Terkadang, Liz akan mengangkat kulit itu dan memeriksanya dengan ekspresi serius, atau mengerang lirih seolah sedang kebingungan. Tampaknya dia tahu bahwa kulit ini membutuhkan proses pengolahan lebih lanjut agar tidak rusak, tetapi tidak tahu bagaimana cara melakukannya.
‘Ya… pada akhirnya kita akan menemukan caranya nanti.’
Bahkan jika mereka tidak bisa menjualnya ke pasar, mereka masih bisa menggunakannya sendiri sebagai penghangat di rumah. Kulit itu tidak akan benar-benar menjadi tidak berguna hanya karena tanpa proses perawatan yang sempurna.
Setelah selesai membentangkan kulit tersebut, Liz mulai melumuri daging serigala dengan garam agar awet.
Sambil bekerja, dia sesekali melirik ke arah gumpalan lemak dengan ekspresi puas. Juhwan sengaja memisahkan dan menyimpan lemak itu karena berpikir mungkin akan berguna, dan tampaknya keputusan itu sangat tepat.
Tidak banyak garam yang tersisa di dalam bungkusan bantuan mereka. Setelah mengawetkan daging ini, kemungkinan besar persediaan garam mereka akan hampir habis total. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah besar karena cuaca sekarang sedang sangat dingin, tetapi akan menjadi persoalan serius jika cuaca sedang hangat.
‘Ada begitu banyak hal yang perlu kupelajari… begitu banyak yang harus kulakukan.’
Apa saja yang dianggap sebagai kekayaan di dunia ini, bagaimana cara berdagang, dan cara mendapatkan barang—dia ingin mempelajari semua hal itu secepat mungkin.
Sementara Liz sibuk menggarami daging, Dorothy bergerak ke sana kemari di dalam rumah dengan lincah, memindahkan barang-barang dari dalam bungkusan kembali ke tempat yang semestinya dengan tubuh mungilnya.
Setiap kali dia berhasil menyelesaikan satu tugas, dia akan langsung menghampiri Liz untuk mendapatkan pujian. Memperhatikan interaksi mereka berdua selama beberapa saat, Juhwan tersenyum tipis sebelum akhirnya bangkit berdiri.
Melihatnya berdiri, Liz bergegas menghampirinya dengan raut terkejut.
"… …"
Dengan ekspresi penuh kekhawatiran, Liz menunjuk ke arah lengan kiri Juhwan dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah melarangnya bekerja dan menyuruhnya untuk beristirahat karena luka gigitan tadi.
Namun, ada terlalu banyak hal yang harus segera diselesaikan. Dia tidak punya waktu untuk bersantai.
"Aku tidak apa-apa. Setelah beristirahat sebentar, rasanya sudah tidak terlalu sakit lagi."
Sambil berkata demikian, Juhwan menyentuh pipinya dengan lembut untuk menenangkannya, namun Liz tetap menggelengkan kepalanya dengan kuat sebagai tanda bahwa itu sama sekali tidak boleh. Meskipun ada kendala bahasa di antara mereka, wanita itu tampaknya memahami maksud ucapannya.
Lagipula, Juhwan benar-benar merasa baik-baik saja sekarang. Bukannya tidak terasa sakit sama sekali, tetapi semenjak kobaran api misterius tadi padam dari lengannya, lukanya sudah berhenti berdarah dan tampaknya telah menutup serta sembuh sampai batas tertentu. Permukaan kulit yang robek bahkan sudah mulai mengering, jadi kemungkinan kondisinya tidak akan memburuk lagi.
Meninggalkan Liz yang masih dirundung cemas, Juhwan melangkah ke luar rumah.
Kondisi di dalam rumah saat ini sangat membeku. Bahkan dengan pakaian berlapis-lapis pun udara dingin tetap menusuk tulang—jika malam tiba dengan kondisi seperti ini, mereka bisa benar-benar membeku di dalam ruangan.
Juhwan berjalan menuju ke dalam hutan terdekat dan mengumpulkan dahan-dahan pohon yang tebal dan tampak kering, lalu membawanya kembali ke halaman depan rumah.
Ada sebuah batang kayu besar berpermukaan datar di area luar yang berfungsi sebagai talenan pembelah. Sambil meletakkan dahan-dahan pohon di atasnya, dia menghantamnya menggunakan kapak. Kayu-kayu itu terbelah dengan mudah.
Dia awalnya mengira dahan-dahan pohon yang berjatuhan di gunung seperti ini pasti sudah habis dikumpulkan oleh orang-orang desa, tetapi ternyata ada banyak sekali yang berserakan di sekitar sini.
Mungkin orang-orang desa tidak berani menjelajah sedalam ini ke dalam hutan. Di dekat pintu masuk hutan mungkin iya—tetapi tidak sampai sejauh ini ke dalam.
Hal ini mengingatkannya pada kondisi di Korea dulu, di mana pengumpulan kayu bakar yang berlebihan sempat membuat pegunungan menjadi gundul gila-gilaan. Jika dibandingkan dengan itu, situasi di hutan ini terasa sangat asing.
Namun, melihat adanya balok kayu pembelah di tempat ini menunjukkan bahwa penjaga gunung sebelumnya memang memanfaatkan pohon-pohon di sekitar sini sebagai sumber kayu bakar.
Jangan-jangan orang-orang desa menjarah seluruh persediaan kayu bakar dari gudang utama kemarin karena mereka sendiri dilarang keras untuk menebang pohon di hutan ini.
Mungkin hanya penjaga gunung yang diizinkan oleh hukum untuk memanfaatkan hasil hutan, sedangkan bagi para penduduk desa, menebang pohon di sini adalah sebuah tabu atau larangan suci yang berat.
‘Rasanya seperti ada udang di balik batu…’
Mereka memberinya sebuah rumah, wanita, dan pasokan logistik untuk bertahan hidup. Mereka bahkan menyediakan seorang guru untuk mengajarinya cara berburu nanti.
Bahkan bagi seseorang yang masih sangat asing dengan dunia ini sekalipun, semua fasilitas ini terasa terlalu murah hati. Ini bukanlah sesuatu yang bisa kamu harapkan dari sebuah desa miskin yang bahkan tega menjarah habis-habisan isi rumah seseorang hanya demi menyambung hidup.
Kenyataan bahwa mereka menyerahkan semua ini kepada seorang asing—seseorang yang bahkan datang bersama budak—menandakan pasti ada motif terselubung atau tanggung jawab mengerikan di baliknya. Tidak ada yang namanya makan siang gratis di dunia ini.
Juhwan mendengus mencemooh.
Kendati demikian, itu semua tidak menjadi masalah baginya. Jika menjadi seorang penjaga gunung adalah alasan mengapa Liz dan Dorothy diserahkan kepadanya, maka dia tidak peduli meskipun tempat ini adalah sebuah jebakan maut. Apa pun tantangan yang akan datang, dia akan mengatasinya dan melindungi mereka berdua.
"…"
Tentu saja, jika situasi di masa depan berubah menjadi benar-benar membahayakan nyawa, dia akan mencampakkan semua tugas ini begitu saja dan langsung melarikan diri sejauh mungkin bersama keluarganya.
Sambil mengumpulkan kayu-kayu kering, Juhwan terus mengedarkan pandangannya mencari pohon yang sekiranya cocok untuk ditebang menjadi persediaan kayu bakar jangka panjang.
Dia sengaja menghindari pohon-pohon yang ukurannya terlalu besar. Dia tidak memiliki rasa percaya diri untuk langsung merobohkan pohon raksasa menggunakan kapak saat ini. Sampai dia mendapatkan pengalaman yang cukup nanti, pohon dengan ukuran sedang akan jauh lebih baik.
Namun tetap saja, hal itu tidaklah mudah. Bukan hanya sulit untuk menemukan ukuran yang pas, tetapi dia juga tidak bisa membedakan jenis kayu mana yang bisa terbakar dengan baik atau menghasilkan lebih sedikit asap berbahaya.
Dia pernah mendengar bahwa pohon ek adalah jenis kayu bakar yang sangat bagus—tetapi jujur saja, dia tidak tahu seperti apa bentuk fisik pohon ek itu di alam nyata.
Dia hanya ingat secara samar bahwa pohon yang menghasilkan buah ek adalah pohon ek, tetapi pengetahuan itu sama sekali tidak berguna di musim dingin saat tidak ada buah yang tumbuh di dahan.
Dengan daun-daun yang telah berguguran sepenuhnya, semua pohon di hutan musim dingin ini terlihat persis sama.
Setelah berjalan memutar ke sana kemari sambil menginjak daun-daun kering yang berkersek di bawah kakinya, dia akhirnya menyerah untuk mencari pohon ek dan memilih sebuah pohon acak dengan ukuran yang dirasa masuk akal.
Ketebalannya dirasa pas untuk dibelah menjadi empat bagian besar. Tingginya sekitar tiga kali lipat tinggi manusia, dengan dahan-dahan tebal yang menjulur lebar ke luar.
Pohon itu memang tinggi, tetapi jika dibandingkan dengan pepohonan lain di sekitarnya, ukurannya tergolong sangat pendek. Pepohonan di sekelilingnya sangatlah masif, menjulang tinggi mencakar langit bagaikan berada di negeri raksasa—sama sekali berbeda dengan pemandangan alam yang pernah dia lihat di Bumi.
Juhwan melepas ikatan kapak dari pinggangnya dan mulai mengayunkannya ke bagian pangkal batang pohon. Dia mengira tugas ini akan terasa mudah mengingat kekuatan fisik barunya, tetapi ternyata kenyatannya jauh lebih sulit dari perkiraan.
Serat kayunya sangat keras, dan teknik menebangnya pun masih sangat kurang. Berbeda dengan adegan di dalam film di mana mata kapak bisa menghantam dengan rapi dan langsung ditarik keluar dengan mudah, mata kapaknya justru sering kali tersangkut erat di dalam serat batang pohon.
Saat mencoba menariknya keluar secara paksa, dia sempat merasa khawatir jika mata besi kapak tersebut terlepas dari gagang kayunya.
Setelah melalui beberapa kali kegagalan dan kelelahan, dia perlahan-lahan mulai menyesuaikan ritme ayunan dan mempelajari cara menghantam yang benar agar kapaknya tidak tersangkut lagi.
Tak lama kemudian, batang pohon itu telah dipenuhi oleh bekas takikan kapak yang berantakan bagaikan deretan gigi yang ompong. Ketika dia mendorongnya dengan segenap tenaga, batang itu mengeluarkan suara derit yang keras dan mulai miring.
Namun, pohon itu tidak langsung roboh sepenuhnya karena dia sedari tadi hanya menebangnya dari satu sisi saja. Setelah menghantam bagian dari sisi yang berlawanan beberapa kali, pohon itu akhirnya tumbang ke tanah dengan suara debuman yang keras.
Dia kemudian menebang satu pohon lagi di dekat sana. Kali ini, prosesnya terasa jauh lebih mudah dan cepat.
Dia mengapak dari berbagai sudut yang berbeda secara bergantian sambil berjalan memutari batang pohon tersebut. Berbeda dengan pohon pertama yang bagian patahannya terlihat berantakan, pohon yang satu ini tumbang dengan potongan yang sangat bersih dan rapi.
Dia memotong-motong batang pohon yang telah tumbang itu menjadi beberapa bagian balok kayu, lalu mengangkutnya kembali ke rumah dalam beberapa kali perjalanan.
Setelah memindahkan seluruhnya ke halaman, dia meletakkan potongan balok kayu itu di atas papan pembelah dan mulai membelahnya menjadi bilah-bilah kayu bakar yang siap pakai.
Setiap kali hantaman kapak mendarat, serpihan kayu melesat terbang ke segala arah. Tugas ini ternyata terasa jauh lebih berat daripada sekadar memotong dahan kering biasa.
Dia awalnya mengira kerja kasar sederhana seperti ini akan terasa sangat mudah—tetapi ternyata ini beberapa kali lipat lebih menguras tenaga ketimbang bertarung melawan serigala tadi pagi.
Lengan kirinya yang terluka mulai kembali berdepat-denyut nyeri, dan otot-otot yang jarang digunakannya di bagian punggung, leher, serta pundak mulai terasa sangat kaku dan pegal luar biasa.
Jika kondisinya terus seperti ini, tidur nyaman malam nanti sepertinya akan menjadi hal yang mustahil bagi dirinya.
Ketika dia melangkah kembali ke dalam rumah, Liz telah selesai mengurus seluruh daging serigala dan sedang sibuk merapikan barang-barang pasokan lainnya. Ada beberapa benda asing yang tidak dia ketahui fungsinya di sana.
"… …"
Melihat kedatangan Juhwan, Liz bergegas menghampirinya dengan raut cemas. Dia langsung memeriksa kondisi lengan kirinya, mengembuskan napas lega setelah melihat lukanya aman, lalu berlari cepat ke belakang dan kembali dengan membawa selembar kain basah yang hangat.
"Gomawo."
Menggunakan kosakata yang baru saja dia pelajari sebelumnya, Juhwan mengucapkan terima kasih sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil kain tersebut dari tangan Liz.
Namun, Liz menarik kembali kain itu ke belakang dan memberikan isyarat tangan menyuruh Juhwan untuk merendahkan posisi tubuhnya terlebih dahulu.
Saat Juhwan duduk bersila di atas lantai kayu, Liz dengan penuh kelembutan mulai menyeka wajah, leher, dan kedua lengan pria itu dari sisa-sisa kotoran kering dan noda darah. Kemudian, dengan nada suara yang terdengar sangat malu-malu, wanita itu berkata:
"… Gomawo… …"
Dorothy, yang sedari tadi ikut membantu merapikan barang, mendadak berlari mendekat lalu mencelupkan kedua tangan kecilnya ke dalam wadah air sebelum akhirnya mengusap-usapkannya ke seluruh permukaan wajah Juhwan dengan bersemangat. Anak itu tampaknya berniat ingin ikut membantu ibunya—tetapi tindakan polos itu justru membuat wajah Juhwan menjadi semakin kotor berantakan.
Liz terkekeh geli melihatnya lalu menyeka kembali wajah suaminya dengan kain. Sementara itu, Dorothy menatap Juhwan dengan pandangan mata bulat yang penuh harap.
"Dorothy, gomawo."
Saat Juhwan mengucapkan kalimat itu, wajah Dorothy langsung berbinar bahagia luar biasa dan dia justru kembali mengusapkan lebih banyak air kotor ke wajah Juhwan dengan riang.
Liz tertawa renyah, dan Juhwan pun tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa bersamanya. Tak lama kemudian, Dorothy pun ikut meledak dalam tawa anak-anak yang ceria.
Setelah melewatkan momen hangat seperti itu sejenak, Juhwan mengangkut tumpukan kayu bakar yang telah selesai dibelahnya menuju ke bagian tengah ruangan rumah.
Dia tidak tahu pasti apakah seluruh bangunan rumah di dunia ini memiliki desain yang serupa, tetapi rumah pondok yang satu ini tidak memiliki perapian di dinding. Sebagai gantinya, terdapat sebuah tempat perapian terbuka tepat di bagian tengah ruangan.
Permukaan lantai di area tersebut telah diperkuat dan dikelilingi oleh susunan batu bata tebal untuk menahan kobaran api agar tidak menjalar ke struktur kayu rumah.
Di bagian atasnya, sebuah batang besi tebal membentang melintang, lengkap dengan beberapa pengait besi besar yang berfungsi untuk menggantung panci atau wadah memasak.
Tidak ada cerobong asap sama sekali di sana—hanya ada sebuah celah lubang udara yang dibiarkan terbuka di langit-langit atap yang tinggi sebagai jalur keluarnya asap. Namun, Juhwan sempat heran apa yang akan mereka lakukan jika hujan deras mengguyur nanti.
Setelah membersihkan sisa-sisa abu pembakaran lama menggunakan sekop besi dari gudang kerja, Juhwan mulai menyusun potongan kayu bakarnya dengan rapi membentuk piramida kecil.
Baru pada saat itulah dia menyadari satu hal yang sangat konyol—dia tidak memiliki korek api atau sumber api sama sekali untuk menyalakannya.
Dia memang memiliki tumpukan kayu yang melimpah, tetapi tidak ada pemantik untuk menyulut api tersebut.
Melihat Juhwan yang mendadak mematung kebingungan, Liz dengan cekatan langsung membantunya dengan membawakan sebuah kantong kecil yang terbuat dari kulit binatang.
Di dalam kantong tersebut terdapat sebongkah besi kecil berbentuk melengkung menyerupai huruf C, sebuah batu hitam keras yang permukaannya berkilau mirip batu marmer, dan serpihan serat kulit kayu kering yang telah disuwir-suwir halus.
Liz menyerahkan benda-benda itu kepadanya, tetapi Juhwan sama sekali tidak mengerti bagaimana cara mengoperasikannya.
Menyadari kebingungan suaminya, Liz segera berjongkok dan memberikan contoh demonstrasi. Wanita itu memukulkan bongkahan besi tersebut ke permukaan batu keras dengan gerakan tangan yang cepat dan berulang.
Ting! Ting!
Sepercik percikan api langsung melesat keluar dari benturan keras tersebut. Setelah dilakukan beberapa kali dengan penuh kesabaran, serat kulit kayu kering yang diletakkan di bawahnya mulai menangkap percikan dan mengeluarkan asap tipis.
Baru saat itulah Juhwan menyadari—benda ini adalah batu pemantik api tradisional. Selama ini dia selalu mengira bahwa menyalakan api secara primitif dilakukan murni dengan membenturkan dua buah batu biasa secara bersamaan. Dia sama sekali tidak menduga bahwa mekanismenya ternyata melibatkan gesekan keras antara unsur logam baja dan batuan khusus.
Liz dengan sangat hati-hati meniup bara api kecil yang mulai menyala di serat kayu tersebut, lalu memindahkan apinya ke atas tumpukan jerami kering sebagai pemicu kobaran. Baru setelah melewati waktu yang cukup lama dan penuh kehati-hatian, kobaran api hangat itu akhirnya berhasil membakar tumpukan kayu bakar mereka dengan sempurna, mengusir hawa dingin dari dalam pondok.
0 Comments