Header Ads Widget

Chapter 121 - Wahyu Suci

 


Bab 121: Wahyu Suci

Sampai mereka benar-benar bersiap berangkat ke desa, Lizzie tidak pernah membayangkan semuanya akan berjalan secepat ini.

Ia merebahkan dirinya ke atas kasur penginapan. Di luar sudah gelap gulita. Sudah lama sejak pejalan kaki terakhir menghilang dari jalanan.

"Lelah?"

Juhwan membaringkan anak mereka di kasur yang lain, lalu datang dan duduk di sebelah Lizzie. Kasur jerami itu melesak menahan berat badannya, membuat tubuh Lizzie ikut miring dan membentur kaki suaminya.

"Kamu pasti lebih lelah dariku. Dari tadi kamu sibuk rapat terus," ucap Lizzie. Ia memaksakan matanya yang setengah terpejam untuk terbuka dan menatap suaminya.

Suaminya hanya tersenyum.

Lizzie menggeliat mendekat dan menyandarkan kepalanya di paha Juhwan. Karena posisinya yang canggung, kakinya tertekuk dan separuh tubuhnya menggantung di udara. Juhwan tertawa pelan, lalu menarik tubuh Lizzie dan memeluknya dengan nyaman.

"Yah, aku baik-baik saja. Dulu, aku sering kerja lembur semalaman hanya karena alasan sepele. Sebanyak ini sih belum ada apa-apanya."

"Memangnya dulu kamu kerja di mana sih? Di semacam serikat gelap?"

Juhwan hanya tertawa pelan mendengar ucapan Lizzie.

Beberapa hari terakhir sejak tiba di desa, Juhwan memang luar biasa sibuk. Mengorganisir pasukan pembasmi monster ternyata menjadi tugas besar. Juhwan dibanjiri jadwal rapat dan wawancara hari demi hari.

Dan kini, akhirnya, persiapan mereka selesai. Mereka akan berangkat besok. Seorang pegawai serikat juga telah ditugaskan untuk ikut sebagai pemandu.

Mereka dengar makanan pokok akan disediakan begitu mereka tiba di lokasi pembasmian. Rupanya, beberapa pos pangkalan pembasmian sudah didirikan di sana. Namun, makanan dan perbekalan untuk perjalanan menuju ke sana harus disiapkan sendiri-sendiri.

Lizzie dan Juhwan telah menimbun cukup banyak makanan dan berbagai perlengkapan di kereta kuda mereka, tetapi petualang lain tampak kelabakan selama beberapa hari terakhir untuk menyelesaikan persiapan mereka. Karena terlalu banyak orang yang datang secara bersamaan, toko-toko yang biasanya menjual barang lebih murah mulai menaikkan harga, membuat suasana semakin kacau.

Untungnya, pihak serikat menghubungi beberapa toko, sehingga para petualang bisa membeli makanan pokok dan persediaan darurat dengan harga yang wajar. Meski begitu, kebanyakan dari mereka hanya membeli daging kering, garam, dan sedikit tepung.

Barang bawaan para petualang biasanya hanya sebatas pakaian berlapis yang mereka kenakan dan sebuah ransel. Banyak yang bahkan tidak membawa selimut yang layak, dan hanya mengandalkan pakaian di badan untuk menahan dingin. Jarang ada orang yang bisa bepergian dengan bawaan seringan petualang.

Mata Lizzie perlahan terpejam. Dalam keadaan setengah tidur, ia bergumam, "Kita hidup terlalu mewah, ya? Makanannya, tempat tidurnya... semuanya semakin membaik. Kamu menghabiskan lebih banyak uang untuk hal-hal itu daripada yang lain."

"Kalau ada wanita dan anak kecil, fasilitas seperti itu sudah jadi kebutuhan dasar."

"...Kamu terlalu baik pada kami."

Mereka masih belum menjual kulit binatang yang mereka bawa dari gunung ke serikat. Saat Juhwan menanyakan harganya, Si Cerewet (staf serikat) berpikir cukup lama sebelum menjawab bahwa harganya kemungkinan besar akan naik di masa depan.

Lizzie awalnya mengira Juhwan tidak akan peduli dengan hal semacam itu. Namun secara mengejutkan, begitu mendengar kata-kata staf itu, Juhwan langsung menarik kembali tumpukan kulit yang sudah hampir diserahkannya.

Mengingat momen itu, Lizzie tertawa kecil. Si Cerewet menatap nanar tumpukan kulit yang menjauh dari jangkauannya. Dari raut wajahnya, pria itu mungkin menyesal telah membocorkan bahwa harganya akan naik. Dia benar-benar orang yang lucu.

Lizzie melingkarkan lengannya di pinggang Juhwan. Saat ia memeluknya erat, Juhwan membelai rambutnya dengan lembut. Setiap kali tangan besar suaminya mengusap kepalanya, rasanya begitu nyaman hingga mata Lizzie terpejam rapat.

Masih ada beberapa hal yang harus ia kerjakan, tapi ia terlalu mengantuk. Ia hanya ingin tidur seperti ini. Ah, tapi aku harus bangun. Saat pikiran itu datang dan pergi, ia sepertinya sudah terlelap.

Bibir lembut menyentuh pipinya, dan suara suaminya terdengar.

"Tidur yang nyenyak, Lizzie."

Tubuhnya terasa melayang pelan, lalu kembali turun ke atas kasur. Sepertinya Juhwan telah membaringkannya dengan benar di bawah selimut. Tepat sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia mendengar Juhwan keluar dari kamar. Apakah dia mau mengecek perbekalan di kereta satu kali lagi?

Aku harus membantunya, batin Lizzie. Tapi kepalanya terasa seberat kain basah. Perlahan, ia pun tenggelam dalam tidur yang lelap.

Pada jam yang sama, kuil Kerajaan Simoni tenggelam dalam kegelapan. Sebagian besar bangunan telah mematikan penerangannya.

Namun di satu tempat, di sebuah ruang doa kecil di kuil pusat, cahaya redup masih menyala. Itu adalah ruang doa Pendeta Wanita Tertinggi, yang dipuji sebagai sosok yang paling dicintai oleh Dewa sepanjang sejarah.

Dia memasuki kuil pada usia lima tahun, dan kini berusia dua puluh tiga tahun. Setelah hidup sebagai pendeta selama hampir dua puluh tahun, kesehariannya adalah rantai doa yang tak terputus dari pagi hingga larut malam, dan terkadang bahkan hingga fajar.

Semua itu ia lakukan demi mendengar firman Dewa. Namun, selama waktu itu, ia hanya menerima wahyu sebanyak tiga kali.

Akan tetapi, di hadapan publik, ia dikabarkan menerima wahyu setiap tahun. Semua itu karena Raja yang menginginkannya.

Situasi internal kerajaan semakin memburuk setiap tahunnya. Perang panjang dan kekeringan, para bangsawan dan rakyatnya yang semakin miskin, orang-orang kelaparan... Untuk meredam perlawanan yang semakin berkembang baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelata, Raja telah memanfaatkan kuil sejak lama.

Di suatu tempat, seekor ayam jantan berkokok. Langit masih gelap, namun fajar sepertinya sudah dekat.

Pendeta Tertinggi menghela napas pelan dan bangkit berdiri. Hari ini pun, ia gagal mendengar firman Dewa. Saat ia meninggalkan ruang doa, ia menyadari ada cahaya redup yang bocor dari perpustakaan di dekatnya. Sepertinya ada seorang pendeta yang sedang belajar di dalam.

Baru saja ia hendak melewati perpustakaan, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia merasa mendengar suara aneh.

Apakah ia salah dengar? Ia mendengarkan dengan saksama, tetapi tidak mendengar apa-apa. Ia pun kembali melangkah.

Namun kemudian, sesuatu memanggilnya.

[Kemarilah, Anakku... dengarkan kata-kataku...]

Kali ini, ia mendengarnya dengan sangat jelas. Suara itu tidak asing.

Seolah terhipnotis, Pendeta Tertinggi menatap ke arah pintu masuk perpustakaan. Setelah mengambil beberapa langkah ke dalam, cahaya yang sangat terang tiba-tiba menyilaukan pikirannya.

Itu adalah sensasi yang aneh. Itu bukan cahaya yang bisa dilihat dengan matanya. Rasanya seolah-olah seluruh jiwanya sedang disinari. Perpustakaan yang seharusnya gelap gulita itu kini bersinar seterang siang hari.

Di pusat cahaya benderang itu, berdirilah sesuatu yang bentuknya tidak jelas. Sosok itu berbentuk seperti manusia, tetapi sangat besar. Sesosok cahaya yang beberapa kali lebih besar dari manusia biasa berdiri di hadapannya.

Pendeta Tertinggi buru-buru berlutut. Di atas kepalanya yang tertunduk, cahaya itu mengulurkan tangan, mendekat seolah ingin membelainya dengan lembut.

[Anak dari Dewa kita, anakku yang malang... waktunya telah tiba untuk mengakhiri penderitaan panjangmu. Pahlawan utusan Dewa telah turun ke tanah ini. Sambutlah dia. Pahlawan ini akan menyelamatkan hati kalian dan tanah kalian yang telah layu.]

Wahyu biasa sangat sulit dipahami. Biasanya terdiri dari kata-kata yang samar dan maknanya tidak pasti. Namun, wahyu kali ini terasa seperti kilat—sangat kuat dan sangat jelas.

Sinar yang menyilaukan melintas di benak Pendeta Tertinggi. Sesaat, ia merasa seperti buta. Penglihatannya menjadi putih bersih. Ia tidak bisa melihat apa-apa.

Ketika ia kembali sadar, ia masih berlutut dengan tatapan kosong, menatap udara hampa.

"...Pendeta... Pendeta Tertinggi... Anda tidak apa-apa?"

Ia mendengar suara seorang pendeta. Ketika ia menoleh, ia melihat seorang pendeta muda—yang wajahnya masih terlihat seperti anak laki-laki—menatapnya dengan khawatir. Di belakang pendeta muda itu, berdiri seorang lelaki tua yang rambut dan janggutnya sudah memutih sepenuhnya. Dia adalah tetua yang bertanggung jawab mengajar anak-anak yang masuk ke kuil.

"Aku... aku menerima kehadiran Dewa. Ini bukan sekadar wahyu biasa," ucapnya.

"Sepertinya begitu."

"Apakah Anda melihatnya juga, Tetua?"

"Tidak. Yang kulihat hanyalah dirimu. Tapi aku tahu. Aku memahaminya secara naluriah. Dewa hadir di sini." Tetua pendeta itu menatapnya dengan mata menyipit, seolah sedang menatap sesuatu yang menyilaukan, lalu menoleh ke samping. "Kau, cepat beri tahu pendeta lain. Aku akan memanggil Kepala Pendeta."

Tetua itu mengulurkan tangannya padanya. "Pendeta Tertinggi, mari kita pergi. Menerima kedatangan Dewa bukanlah urusan untuk kuil ini saja."

Mendengar kata-kata tetua itu, Pendeta Tertinggi seolah kembali tersadar dan bangkit berdiri. Ya, itu benar. Ia harus mengumumkan firman Dewa ini kepada dunia.

Kekeringan, perang, dan kelaparan telah menyiksa seluruh kerajaan untuk waktu yang lama. Rakyat jelata paling menderita, tetapi bukan berarti para bangsawan hidup nyaman. Selain segelintir orang terpilih, para bangsawan juga kehilangan kerabat selama perang panjang, dan wilayah mereka hancur. Penderitaan mereka sama saja. Ini adalah masa-masa kelam bagi semua orang.

Dan di tengah semua penderitaan itu, banyak orang mulai putus asa karena Dewa tak kunjung memberikan jawaban. Mereka harus segera memberitahu semua orang.

Saat ia bergegas menyusuri lorong gelap bersama sang tetua dengan setengah berlari, emosi membuncah di dada Pendeta Tertinggi.

Akhirnya... Akhirnya, seorang pahlawan telah muncul di kerajaan kita juga. Pahlawan utusan Dewa.

Pahlawan adalah sosok yang dipanggil saat manusia berdoa dengan putus asa kepada Dewa. Banyak persiapan yang dibutuhkan, namun faktor terpentingnya adalah izin dari Dewa. Sehebat apa pun persiapannya, jika Dewa tidak mengizinkan, pahlawan tidak akan terpanggil.

Itulah mengapa semua orang menjadi cemas saat mendengar bahwa seorang pahlawan telah dipanggil di Kerajaan Tyron. Dewa telah mengirim pahlawan kepada musuh mereka, tetapi tidak ke kerajaan mereka.

Lalu, apakah Dewa telah meninggalkan mereka?

Ketakutan itu telah menyebar bukan hanya di kalangan rakyat biasa, tetapi bahkan di kalangan para pendeta pria dan wanita. Untuk menghilangkan atmosfer tersebut, Raja bahkan menyebarkan rumor bahwa mungkin saja seorang pahlawan telah turun di tanah mereka, namun hal itu sia-sia.

Keputusasaan merajalela di seluruh negeri. Tapi Dewa tidak meninggalkan kita.

Pahlawan adalah harapan. Pahlawan akan menjadi pusat yang menyatukan hati dan kekuatan orang-orang. Pahlawan akan menjadi kekuatan yang memungkinkan mereka bertahan melewati masa-masa kelam dan menyakitkan ini. Hatinya membengkak, dan air mata mulai menggenang di matanya.

"Pahlawan yang ini sepertinya sama sekali berbeda dengan pahlawan-pahlawan sebelumnya," gumam tetua pendeta itu tiba-tiba.

"Ya. Tentu saja. Karena dia adalah seseorang yang diutus langsung oleh Dewa." Pendeta Tertinggi mengangguk mantap.

Bertemu dengan Raja membutuhkan banyak prosedur dan waktu yang panjang. Namun kali ini, begitu fajar menyingsing, permintaan audiensi langsung dikabulkan.

Bersama dengan Kepala Pendeta, Pendeta Tertinggi melangkah menuju ruang audiensi istana kerajaan yang megah. Normalnya, seorang pendeta wanita tidak menemui raja secara langsung. Ada momen-momen langka di mana ia melihat Raja secara langsung, tetapi itu pun hanya sekilas dari jarak yang sangat jauh.

Bagi seorang pendeta wanita, menjaga kemurnian jiwanya demi menerima Dewa adalah hal yang sangat penting. Kontak dengan orang lain dijaga seminimal mungkin, dan ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dalam kuil.

Namun, ini bukan wahyu sembarangan. Memang ada permintaan dari Raja sebelumnya, namun Kepala Pendeta sepertinya juga menganggap lebih baik jika dia melaporkannya secara langsung.

Ketika pengumuman dari pengawal bergema, menandakan kedatangan Raja, Pendeta Tertinggi menundukkan kepalanya dengan sedikit gugup. Setelah Raja memberinya izin untuk mengangkat kepala, ia mengangkatnya sedikit.

Raja terlihat jauh lebih tua dibandingkan saat terakhir kali ia melihatnya. Dulu ia hanya melihat sekilas dari jauh, jadi ia tidak bisa memastikan, tetapi tubuh Raja tampak kurus kering. Ia bertanya-tanya apakah Raja sedang sakit. Itu hanya intuisinya, tetapi tebakannya kemungkinan benar. Instingnya biasanya selalu akurat.

Tapi ia tidak berada dalam posisi untuk mengutarakan hal semacam itu, dan mungkin Raja sudah mengetahuinya. Jika hal itu memang disembunyikan, tidak perlu baginya untuk mengungkitnya.

Pendeta Tertinggi menunggu sampai Kepala Pendeta selesai memberikan laporannya kepada Raja. Dan akhirnya, setelah Raja memberinya izin untuk menyampaikan firman Dewa secara langsung, ia membuka mulutnya.

Tidak ada kata yang dilebihkan, tidak ada yang dikurangi. Semuanya persis sama. Firman Dewa tidak boleh diubah sedikit pun.

Raja mendengarkan dalam diam.

"Ulangi sekali lagi."

Atas perintah itu, Pendeta Tertinggi menyampaikan kata-kata yang sama persis kepada sang Raja.

"Begitu... Sesuai dugaanku." Raja berbicara seolah-olah lega, lalu tertawa pelan. "Sepertinya pahlawan kita tanpa sengaja jatuh ke kerajaan musuh. Untungnya, larut malam tadi, ada kabar yang menyebutkan bahwa dia telah meninggalkan istana kerajaan Tyron."

Begitu Raja selesai berbicara, pelayan di sebelahnya membuka suara.

"Agar peristiwanya selaras dengan begitu sempurna—sungguh, dia adalah Pendeta Tertinggi terhebat di kerajaan kita."

Pelayan itu memulai dengan pura-pura memuji Pendeta Tertinggi, lalu melanjutkan dengan memberi tahu Kepala Pendeta beberapa instruksi Raja. Ia mengatakan bahwa masalah ini harus segera diumumkan secara luas kepada rakyat.

Semuanya seolah sudah dipersiapkan sebelumnya. Mereka diperintahkan untuk memberi tahu kuil-kuil di seluruh kerajaan mengenai kemunculan pahlawan ini. Mereka harus menjelaskan kepada rakyat bahwa, berkat usaha tanpa kenal lelah dari sang Raja, ia berhasil merebut pahlawan tersebut dari cengkeraman musuh. Dan masih banyak lagi instruksi lainnya.

Kepala Pendeta mendengarkan kata-kata pelayan itu dengan tenang. Mungkin ia berniat untuk patuh sepenuhnya sesuai instruksi.

Namun—

"Tidak. Itu tidak benar."

Sebelum ia menyadarinya, Pendeta Tertinggi telah melangkah maju dan berbicara. Mata Raja, sang pelayan, dan Kepala Pendeta langsung tertuju padanya.

"Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi pahlawan tersebut sudah ada di tanah ini. Dia tidak berada di negara lain."

Tatapan Raja menajam. Urat di dahinya menonjol. Pendeta Tertinggi tersentak mundur, tetapi ini adalah kebenaran yang harus ia sampaikan. Dewa dengan jelas mengatakan bahwa pahlawan itu telah turun di tanah ini. Dewa tidak mengatakan pahlawan itu ada di tempat lain.

Ia mencoba menjelaskan hal itu, tetapi Kepala Pendeta memegang lengannya dengan erat.

"Maafkan kami, Yang Mulia. Pendeta wanita ini memasuki kuil pada usia lima tahun dan hidup hampir sepenuhnya di dalam dinding kuil sejak saat itu. Dia hanyalah anak yang hanya mendengarkan kata-kata Dewa, jiwa suci yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Tolong maafkan dia."

Raja mengerutkan kening dan melambaikan tangannya dengan ringan.

"Sebagai seorang pendeta yang tidak melakukan apa-apa selain menyampaikan firman Dewa, sangat mungkin dia tidak mengerti soal dunia. Hari ini adalah hari yang baik, jadi aku akan memaafkannya. Tapi mulai sekarang, ada baiknya dia menjaga ucapannya."

"Tentu saja, Yang Mulia. Ini tidak akan terjadi lagi. Kami berterima kasih atas kemurahan hati Anda yang besar."

Pendeta Tertinggi tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun hingga ia ditarik keluar dari ruang audiensi. Saat ia berjalan di lorong dengan pergelangan tangan yang dipegang oleh Kepala Pendeta, ia menggelengkan kepalanya.

"Kepala Pendeta, jangan. Ini salah."

"Diam. Banyak mata yang mengawasi di sini." Nada suara Kepala Pendeta sangat tegas hingga Pendeta Tertinggi tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Baru setelah mereka berada di dalam kereta kuda dalam perjalanan kembali ke kuil, ia akhirnya bisa berbicara.

"Firman Dewa tidak seperti itu. Kali ini, bahkan tidak ada ruang untuk penafsiran yang berbeda..."

"Aku tahu. Tapi ini tidak bisa dilakukan." Setelah mengatakan itu, Kepala Pendeta meletakkan tangannya di atas kepala wanita itu.

"Jika ini terjadi sebelum Raja mendapatkan seorang pahlawan, mungkin keadaannya akan berbeda. Tapi Yang Mulia sudah mendapatkan pahlawannya sendiri melalui kekuatannya. Dalam situasi seperti itu, memberi tahu orang-orang bahwa pahlawan lain telah muncul sama saja dengan menyuruh mereka membunuh pahlawan yang asli—pahlawan yang dikirim Dewa untuk kita."

"Tapi... dia adalah pahlawan utusan Dewa. Jika orang lain diumumkan sebagai pahlawan..."

"Tidak apa-apa." Kepala Pendeta tersenyum tipis. "Kau mungkin tidak tahu ini, tapi sejujurnya, pahlawan panggilan hanyalah orang dari dunia lain yang kita panggil ke sini dengan meminjam kekuatan Dewa karena kita menginginkannya. Mereka hanyalah manusia dengan kekuatan besar."

"Apa...?"

"Ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh pendeta tingkat tinggi. Jika orang biasa mengetahuinya, ini hanya akan menimbulkan kekacauan, dan itulah sebabnya hal ini tidak pernah dibicarakan. Alasan Yang Mulia memperlakukan pahlawan sebagai sesuatu yang tidak terlalu sakral adalah karena dia memahami sifat asli pemanggilan pahlawan lebih baik dari siapa pun."

"Tapi aku benar-benar mendengar suara Dewa..."

Saat Pendeta Tertinggi berbicara dengan ekspresi kebingungan, Kepala Pendeta menatap wajahnya dengan tenang.

"Aku tahu kau benar-benar bertemu Dewa. Aku tidak berpikir itu bohong. Namun justru karena itulah semuanya akan baik-baik saja. Tidak peduli seberapa keras Raja menampilkan pahlawan lain sebagai pahlawan sejati, orang itu tidak akan pernah menjadi pahlawan kita."

"Jika dia adalah pahlawan yang diutus langsung oleh Dewa, maka dia bukan sekadar orang dari dunia lain. Dia adalah utusan Dewa. Saat waktunya tiba, semua orang akan tahu. Jadi, jangan khawatir."

Ia masih tidak mengerti. Bukankah Kepala Pendeta hanya sekadar menoleransi dan menerima kebohongan ini? Ini menjijikkan.

Kepala Pendeta terkekeh pelan dan memalingkan pandangannya ke luar jendela.

"Kau tetaplah menjadi dirimu yang sekarang. Tidak perlu bagimu untuk dinodai oleh kotornya dunia. Cukup beberapa dari kami saja yang menjadi kotor."

Setelah itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Hanya ada satu kalimat yang digumamkan pelan oleh Kepala Pendeta.

"Mungkin ini pun adalah bagian dari rencana Dewa."

Setelah kembali ke kuil, Pendeta Tertinggi langsung menuju ruang doa. Rasa bersalah karena membiarkan firman Dewa dinodai terasa menghancurkan hatinya.

Runtuh ke lantai seolah-olah tubuhnya hancur, Pendeta Tertinggi memohon ampunan kepada Dewa. Namun, tak peduli berapa kali ia berdoa—puluhan, ratusan kali—firman Dewa tidak turun lagi. Hanya waktu doa biasa yang kembali, sama seperti sebelumnya.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments