Bab 113: Menuju Wilayah dengan Pohon-Pohon Tropis
"Kenapa?" Pola pada tanaman rambat itu tidak hanya ditemukan pada tumbuhan. Tanda yang sama tergambar di cakar beruang yang berubah menjadi monster. Ada kemungkinan bahwa pola itu sendiri yang menyebabkan beruang tersebut berubah menjadi monster sejak awal.
Kenapa sesuatu seperti itu berhubungan dengan makam orang tuanya? Kalau memang ada hubungannya, hubungan macam apa itu? Dan apakah itu berdampak pada rumah yang mereka tinggali sekarang? Ada terlalu banyak hal yang tidak ia ketahui.
Tapi Yeonhwa tidak tahu apa-apa selain itu. Setiap kali Juhwan terus melontarkan pertanyaan, kepala Yeonhwa semakin menunduk. Sepertinya ia menjadi murung karena ingin menjawab dengan benar, tetapi tidak bisa. Juhwan mengelus belakang leher Yeonhwa dengan lembut. "Tidak apa-apa. Kalau bukan karenamu, aku mungkin sudah mengira tanaman rambat itu berbahaya. Aku mungkin malah sudah mencoba pergi dari tempat ini. Tapi kamu yang membuatnya, dan itu tidak berbahaya, kan?"
Seolah-olah itu sudah jelas, Yeonhwa menggosokkan kepalanya pada Juhwan. Walaupun ia tidak tahu apa-apa lagi, sepertinya ia yakin bahwa tanaman rambat ini tidak akan mendatangkan bahaya apa pun bagi Juhwan atau keluarganya. "Itu sudah cukup. Kita akan mencari tahu apa arti pola ini sedikit demi sedikit." Ketika Juhwan menekan dahinya ke wajah panjang Yeonhwa dengan lembut, tanduk putih kuda itu berkilauan. Apakah karena ia bahagia? Tanduknya tidak memancarkan cahaya sendiri, namun permukaannya berkilauan seolah tetesan air menangkap sinar matahari.
Juhwan menatap pepohonan tinggi di sekitar makam. Tanaman rambat bermotif siput yang menggantung di sana bergoyang pelan tertiup angin, seperti buah yang matang. Pemandangan itu hampir terlihat seolah mereka melambai kepadanya, menyuruhnya cepat datang. Seakan tanaman rambat bulat yang melengkung itu memintanya untuk memperhatikan makna yang mereka bawa.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Juhwan tiba-tiba teringat wilayah di mana pohon-pohon tropis tumbuh. Ia bertanya kepada Yeonhwa apakah Yeonhwa pernah ke sana, tapi jawabannya tidak. Tempat itu cukup jauh. Tampaknya Yeonhwa tidak pernah pergi jauh dari rumah ini atau makam orang tuanya. ‘Apakah dia ada di sini sendirian selama ini, melindungi Ayah dan Ibu?’
Mungkin satu-satunya waktu ia pergi jauh adalah ketika ia mengejar ketua guild dan datang ke desa. Juhwan tertawa pelan. Ia ingat bagaimana Yeonhwa, saat masih dalam wujud seorang gadis, terus mengendusnya. Waktu itu, ia mengira Yeonhwa adalah gadis yang aneh dan mencurigakan. Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, Yeonhwa mungkin sedang memeriksa apakah Juhwan adalah orang yang selama ini dicarinya. Mungkin ia merasakan jejak mana atau aroma orang tuanya pada Juhwan. Jika ia mengikuti aroma samar Juhwan yang tertinggal di tubuh ketua guild dan pergi ke desa...
"Terima kasih sudah menemukanku." Ketika Juhwan menepuk punggung Yeonhwa beberapa kali, ekornya mengibas kegirangan. Yeonhwa tampak sangat senang.
Ketika mereka kembali ke rumah, Dorothy baru saja bangun dari tidur siangnya. Rambutnya, yang telah tumbuh jauh lebih panjang daripada saat ia pertama kali melihatnya, mencuat awut-awutan ke udara. Sementara Lizzie membasahi tangannya dan mencoba merapikan rambut anak itu, tubuh Dorothy terus menggeliat. Ia tampak gelisah, seolah sangat ingin bergerak. Juhwan menjatuhkan diri di dekat anak itu dan menatap wajahnya.
Mata Dorothy berbinar-binar. Saat tatapannya bertemu dengan Juhwan, matanya melengkung seperti bulan sabit dan ia tersenyum cerah. Akhir-akhir ini, Dorothy selalu tersenyum seperti ini setiap kali mata mereka bertemu. Semenjak datang ke sini, setiap hari terasa menyenangkan baginya. Wajahnya terlihat begitu bahagia sampai-sampai siapa pun yang melihatnya akan merasa hati mereka ikut melayang tanpa sadar. Anak itu mempesona.
Juhwan tersenyum lembut dan melirik ke sekeliling anak itu. "Tumben Oz tidak ada di sampingmu." Oz, yang biasanya berada di atas kepala Dorothy atau tepat di sebelahnya, tidak terlihat di mana pun. Ketika Juhwan menanyakannya, Dorothy mencondongkan kepalanya ke arah Juhwan dan berkata, "Oz lagi jaga kelinci. Pelihara kelinci itu kan tugas Dorothy sama Oz. Gawat banget kalau kelincinya kabur, Ayah."
Setelah kemarin menemukan jejak kelinci-kelinci itu mencoba menggali jalan keluar, sepertinya Oz dan Dorothy bergiliran menjaga mereka. Setiap kali Dorothy berbicara, kepala, bahu, dan tangannya selalu bergerak bersamaan. Apakah berbicara dan bergerak selalu sepaket untuk anak kecil? Atau cuma Dorothy yang begitu? Ia menggeliat dan gelisah begitu banyak sampai membuat mata yang melihatnya pusing.
"Dorothy, kalau kamu gerak-gerak, rambutmu nanti berantakan lagi." Sambil Lizzie mengumpulkan rambut Dorothy yang mekar ke segala arah seperti kembang gula dan mengikatnya dengan pita panjang, ia memberinya peringatan. Dorothy langsung duduk diam. Tapi sedetik kemudian, ia sudah gelisah lagi. Lizzie tertawa seolah tidak ada pilihan lain, lalu menggerakkan tangannya dengan terampil dan menata rambut Dorothy lagi, mengikat semuanya. Masih ada beberapa helai yang mencuat di sana-sini, tapi...
Oh. Melihatnya seperti ini, dia benar-benar terlihat seperti gadis kecil. Ketika Dorothy melihat mata Juhwan terbelalak, ia tertawa geli. "Wajah Ayah kelihatan aneh." "Itu karena Dorothy jadi cantik banget. Kamu mirip nona besar betulan." "Masa sih?" Ia tampak penasaran dengan penampilannya.
Saat Lizzie melepaskan tangannya dari rambut Dorothy, Dorothy langsung melompat berdiri. Ia berlari ke dapur dan melihat bayangannya di ember air. "Wah, Dorothy cantik banget." Ia mengagumi penampilannya sendiri. Lizzie terkekeh.
Cermin juga ada di dunia ini, tapi sebagian besar terbuat dari perak atau perunggu. Bahkan di antara cermin perunggu, yang cantik harganya jauh lebih mahal dari yang dibayangkan, sedangkan yang sederhana dan kasar agak lebih murah. Namun, jika mempertimbangkan biaya hidup, semuanya lebih mahal daripada cermin di Bumi. Sebelum datang ke sini, ketika membeli segala macam kebutuhan, Lizzie sempat beberapa kali mengambil dan menatap cermin, tapi pada akhirnya, ia tidak membelinya. Ia pasti berpikir harganya terlalu mahal untuk sesuatu yang tidak terlalu mereka butuhkan saat ini. Ujung-ujungnya, kalau ada orang di rumah ini yang ingin melihat bayangannya, tidak ada pilihan lain selain melihat ke dalam ember air atau mata air.
Dorothy menatap wajahnya di ember air sejenak, lalu tiba-tiba seolah teringat sesuatu dan melompat tegak. "Ibu, Ayah, aku mau cek apa semua kelincinya masih ada. Aku harus tukaran jaga sama Oz. Sekarang waktunya Oz tidur siang." Dorothy berlari kecil ke luar.
Lizzie menghela napas, terlihat sedikit khawatir. "Kalau jumlah kelincinya sudah cukup banyak, kita harus memotong beberapa ekor. Aku penasaran apa dia bakal tidak apa-apa kalau saatnya tiba. Aku khawatir dia akan menangis tersedu-sedu."
Yah. Mungkin bukan Dorothy saja masalahnya. Juhwan belum pernah memelihara hewan sebelumnya, jadi ia tidak pernah berpikir ia akan merasa terikat dengan hewan peliharaan. Namun di luar dugaan, perlahan-lahan ia sudah mulai terikat dengan kelinci-kelinci itu. Dorothy memang yang paling banyak mengurus mereka, tapi Juhwan tetap melihat mereka hampir setiap hari. Merasa sayang itu tidak butuh waktu lama.
Ia sudah terbiasa membunuh hewan yang tidak ada hubungannya dengannya, tapi hewan yang sudah ia sukai itu beda cerita. Ia tidak yakin apakah ia akan sanggup membunuh mereka dengan tangannya sendiri ketika saatnya tiba. Ketika Juhwan tidak menjawab, Lizzie tiba-tiba menatapnya. Juhwan menyeringai dan mengubah topik pembicaraan.
"Kalau kelincinya sudah lumayan terbiasa dengan tempat ini, kurasa kita bisa biarkan pintu kandangnya terbuka. Biarpun mereka kabur, mereka akan kembali." Kelinci punya kebiasaan kembali ke tempat yang pernah mereka kunjungi. Jerat kelinci juga dipasang menggunakan kebiasaan itu. Kalau mereka terus tinggal di sini dan diberi makan, mereka akan terbiasa dengan tempat ini. Sekalipun mereka lari, kemungkinan besar mereka akan kembali. Itu juga hal yang kebetulan ia dengar di guild. "Benarkah? Aku juga pernah dengar yang seperti itu." Tapi bagaimana kalau mereka tidak kembali? Lizzie mengucapkan itu dengan senyum cerah.
Menjelang malam, Juhwan kembali menambahkan mana ke dalam air ajaib. Saat ia periksa, sebagian besar mana di dalamnya sudah menghilang. Ketika air ajaib tidak dicampur bahan lain, efeknya tidak bertahan lama. Karena mana sendiri muncul saat sihir digunakan dan kemudian menghilang, wajar saja kalau dilarutkan ke dalam air pun akan lenyap setelah waktu yang singkat. Jika seseorang tidak bisa menuangkan mana dalam jumlah besar seperti Juhwan, mungkin bertahannya tidak sampai satu jam.
Setelah ia mengisi ulang mana, Lizzie menghabiskan beberapa waktu untuk membongkar dan memeriksa kulit monster tersebut. Karena ini pengalaman pertamanya mengolah kulit monster, ia tampak sangat berhati-hati.
Setelah mereka memburu monster beruang itu, tidak ada jejak kaki yang terlalu mencolok lagi. Hari-hari yang damai pun berlanjut. Saat Juhwan pulang berburu, ia menebang pohon-pohon di sekitar rumah. Begitu kayu terkumpul cukup banyak, ia mulai membangun gudang penyimpanan baru. Ia mendirikan pilar-pilar dan menyusun dinding kayu selapis demi selapis. Ada beberapa kesalahan kecil, tapi membangun gudang itu tidak butuh waktu lama. Dibandingkan keterampilan ayahnya, tangan Juhwan bisa dibilang sangat terampil. Sebuah gudang yang lumayan mengesankan berhasil diselesaikan.
Setelah gudang selesai, kecepatan penebangan pohon semakin meningkat. Setiap kali ia memotong dan menumpuk kayu dengan rapi, ia merasa kaya di dalam hatinya. Kebahagiaan memang tidak selalu soal hal-hal yang mewah. Ia mulai mencari kayu yang bagus bahkan di tempat yang agak jauh dari rumah. Kayu yang ia kumpulkan mulai sekarang akan digunakan untuk memperluas rumah. Karena itu, ia mulai memperhatikan pohon dengan lebih cermat.
Sekitar waktu saat semua es mencair, ia mulai menggemburkan tanah yang telanjang setelah penebangan pohon. Meskipun tanpa cangkul, membalik tanah sangat mudah jika ia menggunakan mana angin. Begitu musim semi tiba, ia berencana menanam sesuatu di tanah yang sudah gembur itu. Ia harus membeli bibit saat pergi ke desa nanti.
Ketika cuaca mulai terasa hangat, pepohonan dan rerumputan mengenakan pakaian musim semi sebelum manusia. Tunas-tunas hijau segar bermunculan, dan bunga-bunga kecil tanpa nama mulai mekar. Di pagi hari, kicauan burung terdengar dari segala arah, dan serangga-serangga menyerbu masuk ke dalam rumah. Berkat semua itu, ia bisa merasakan dengan seluruh tubuhnya bahwa musim semi benar-benar telah tiba.
Ia juga baru tahu bahwa serangga yang dulu ia lihat di militer hanyalah makhluk kecil yang imut jika dibandingkan dengan di sini. Serangga gunung di sini adalah monster. Bahkan Lizzie dan Dorothy, yang biasanya tidak takut serangga biasa, terkadang menjerit dan lari terbirit-birit keluar rumah. Ia tidak melebih-lebihkan. Ada laba-laba sebesar dua kepalan tangan dan kecoak sebesar telapak kaki orang dewasa. Kalau makhluk-makhluk itu bukan monster, lalu apa di dunia ini yang pantas disebut monster?
Bahkan bagi Juhwan, membunuh makhluk-makhluk seperti itu meninggalkan sensasi yang mengerikan di tangannya. Sejujurnya, serangga lebih menakutkan daripada binatang buas. Untungnya, Oz sangat ahli menangkap serangga. Selain tanduknya, Oz tampak seperti bayi kelinci yang imut. Namun anehnya, setiap kali Oz melihat serangga, ia akan menerkam, menangkap, dan terkadang bahkan memakan mereka.
Agak lucu melihat Dorothy, yang selalu bersama Oz, menolak berada di dekatnya selama beberapa jam pada hari-hari seperti itu. Kalau mulut Oz sedikit saja menyentuh tubuhnya, wajah Dorothy akan berkerut seperti mau menangis.
Lalu kelinci-kelinci di halaman mulai melahirkan. Ternyata ada lebih dari sepuluh kelinci betina dari yang mereka tangkap. Mereka telah membuka pintu kandang kelinci sebelum anak-anaknya lahir. Ketika satu kelinci betina mulai melahirkan di tempat yang ia sukai, yang lain juga berturut-turut mulai memilih tempat untuk diri mereka sendiri. Pada akhirnya, area sekitar rumah dengan cepat dipenuhi anak-anak kelinci kecil. Tempat itu sepertinya telah menjadi kerajaan kelinci yang selalu dibicarakan Dorothy.
Dorothy sangat senang, tapi Lizzie dan Juhwan mulai merasa agak khawatir. Jumlah anak kelinci yang lahir lebih banyak dari perkiraan, dan mereka muncul lebih cepat dari yang diduga. Masa kehamilannya cuma sekitar satu bulan. Begitu anak-anak ini besar, mereka akan melahirkan anak lagi. Dan begitu anak-anak itu melahirkan lagi... Bukankah jumlah yang lahir akan lebih banyak dari yang sanggup mereka potong?
Entah kenapa, kepalanya mulai terasa pusing. Akhirnya, mereka terpaksa memotong dan menguliti sejumlah kelinci. Di hari saat mereka menyembelih kelinci pertama, Dorothy menangis tersedu-sedu dengan kencang, dan sungguh menyayat hati melihatnya. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kalau dibiarkan begitu saja, kelinci-kelinci itu tampaknya siap melahap semua rumput di sekitar kabin kecil mereka. Mereka bahkan tidak akan bisa memikirkan soal berkebun karena kelinci-kelinci itu.
Selain itu, semuanya berjalan lancar. Mereka sudah agak familier dengan medan di sekitar rumah, dan berkat Oz serta Yeonhwa, beberapa binatang buas maupun monster yang awalnya mendekat, kini tidak pernah muncul lagi.
Begitu rasa cemasnya hilang, Juhwan akhirnya merasa siap untuk menyelidiki wilayah tempat tumbuhnya pohon-pohon tropis itu. Itu terjadi pada suatu hari setelah akhir bulan Maret. Atau mungkin sekitar masa peralihan dari awal April menuju pertengahan April.
Kalau tinggal di kota, seseorang bisa mengetahui tanggal dengan cukup akurat. Tapi di desa terpencil, orang tidak terlalu mempedulikan hal-hal semacam itu. Kebanyakan orang hanya membagi tahun secara kasar berdasarkan musim, seperti musim tanam dan musim panen. Bagi seseorang yang tinggal jauh di dalam hutan seperti ini, hal itu malah lebih berlaku lagi. Karena terbiasa memikirkan waktu berdasarkan musim seperti itu, Juhwan pun meninggalkan rumah bersama Yeonhwa di musim di mana pepohonan makin menghijau.
Sebuah pelana yang hanya terbuat dari kulit dan tali pengikat telah dipasang di punggung Yeonhwa. Itu adalah sesuatu yang dibuat sedikit demi sedikit oleh Lizzie setelah mereka menetap di kabin. Karena Yeonhwa bisa mengerti bahasa manusia dan mengambil keputusan sendiri, pelana itu tidak perlu dibuat rumit atau sulit dikendalikan. Cukup untuk menjaga agar penunggangnya tidak jatuh.
‘Tetap saja, menunggang di punggungnya menakutkan...’ Juhwan menatap punggung Yeonhwa, yang rasanya terlihat sangat tinggi hari ini. Ukuran tubuh Yeonhwa dua kali lipat kuda biasa, sehingga tinggi punggungnya pun jauh lebih tinggi. Sepintar apa pun dia, memanjat sampai ketinggian itu tetaplah cukup menyeramkan. "Haa." Juhwan menghela napas dan mengangkat tubuhnya ke udara. Dengan menggunakan mana angin, tubuhnya yang melayang ringan mendarat mulus di punggung Yeonhwa.
Ketika ia menatap ke bawah dari punggungnya, tanah terasa sangat jauh. Rasanya sangat berbeda dengan memanjat pohon. Pohon tidak bergerak. Sedangkan kuda bisa berlari kencang. Tentu saja, itu membuatnya jauh lebih menakutkan.
Tapi kalau ia berjalan kaki sampai ke area pohon tropis, mustahil ia akan tiba dalam satu hari. Ia tidak tahu pasti, tapi kemungkinan butuh waktu beberapa hari. Gunung memang tampak dekat dari kejauhan, tapi saat benar-benar didaki, jaraknya ternyata sangat jauh. Dan jika sekilas terlihat butuh beberapa hari, kenyataannya mungkin bisa lebih lama lagi. Ia tidak punya pilihan lain selain mengandalkan Yeonhwa.
"Yeonhwa, tolong jalan hati-hati dan usahakan jangan terlalu kencang guncangannya. Aku mengandalkanmu." Meskipun wajahnya sangar dan tampak tangguh, Juhwan yang besar di Bumi sebenarnya menjalani hidup yang cukup santai dibandingkan orang-orang di dunia ini. Tolong, ingat hal itu, dan berhati-hatilah. Saat ia menggumamkan hal itu dalam hati, Yeonhwa meringkik nyaring seolah menyuruhnya menyerahkan segalanya padanya.
Tidak. Tolong jangan menggelengkan kepalamu. Saat Juhwan duduk mematung kaku, Yeonhwa mulai berlari dengan suara hantaman kuku yang kuat membelah tanah. Dia sangat cepat. Tidak bisa dipercaya. Angin berderu menyapu wajah Juhwan dengan suara seperti mesin jet. Juhwan menekan tubuhnya rata di punggung Yeonhwa dan menjadi kaku sepenuhnya, seperti patung batu. Tolong. Jangan jatuhkan aku.
0 Comments