Bab 028: Di Manakah sang Pahlawan?
Memotong kayu untuk membuat kandang kelinci membutuhkan waktu yang terlalu lama. Oleh karena itu, aku terpikir untuk memanfaatkan bambu, dan secara tak terduga, hasilnya sangat memuaskan. Dengan menyusun bilah-bilah bambu secara rapat, sebuah kandang yang sangat kokoh berhasil tercipta.
Untuk bagian atap dan pintu masuk, aku membuatnya dengan cara menganyam bambu menggunakan tali. Sebenarnya ada beberapa paku di dalam kotak perkakas, tetapi jumlahnya tidak banyak. Jauh lebih baik untuk menghemat dan menyimpannya demi keperluan mendesak di masa mendatang.
Pintunya sendiri dibuat dengan melubangi bagian bambu lalu memasangnya hingga pas. Memang terasa agak seret saat digeser, tetapi untuk sebuah proyek pertama, ini sudah terasa cukup baik. Presisi pintunya tidak sempurna hingga menyisakan celah kecil, tetapi sebagai seorang pemula, hal seperti ini tidak dapat dihindari. Bisa menyelesaikan kandang hingga ke tahap ini saja sudah merupakan sebuah keahlian tingkat dewa.
Juhwan mengagumi kandang kelinci hasil buatannya sendiri sembari meregangkan punggungnya yang pegal. Langit di atas sana telah diwarnai oleh rona merah keunguan khas senja yang mulai temaram.
Di luar kabin, sebuah tiang obor yang terbuat dari tongkat kayu berselimut kain berlumur getah pohon telah terpancang tegak. Tampaknya Liz yang sudah menyiapkannya saat hari mulai menggelap.
Juhwan menyalakan api kecil di ujung jarinya lalu memindahkannya ke sumbu obor. Ukuran percikan apinya hampir sama seperti biasanya, tetapi entah bagaimana, jilatan api itu terasa sedikit lebih kuat kali ini. Hawa panas yang dipancarkannya pun terasa lebih intens. Tampaknya latihan sihir yang dilakukannya selama ini membuahkan hasil.
Namun, kapan ukuran api ini bisa membesar? Hingga saat ini, wujudnya masih belum lebih dari sekadar nyala api pemantik rokok. Apa gunanya api sekecil ini meskipun intensitas panasnya bertambah kuat? Sebuah helaan napas panjang lolos dari bibirnya tanpa disadari.
Dengan mengandalkan pencahayaan dari obor, kali ini dia mulai membangun pagar bambu untuk mengelilingi rumah. Berbeda dengan kandang kelinci sebelumnya, pagar yang mengitari rumah ini dirancang setinggi tubuh manusia. Juhwan memulainya dengan menggali tanah cukup dalam, lalu menyusun beberapa bilah bambu secara tumpang-tindih untuk membentuk dinding pagar.
Karena tidak mungkin menyelesaikannya sekaligus dalam satu waktu, dia hanya mengerjakan sebagian kecil di area depan rumah sebelum memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya hari itu. Mengingat dia harus mengerjakannya di sela-sela rutinitas pekerjaan lain, proyek membangun pagar rumah ini pasti akan memakan waktu beberapa hari.
Tanpa terasa, kegelapan pekat telah menyelimuti sekeliling mereka. Suara rintihan burung hantu yang terdengar pilu bergema beberapa kali dari balik rimbunnya hutan yang dalam.
Kegembiraan Dorothy dan Keajaiban Sihir
Ketika Juhwan melangkah masuk ke dalam rumah, Dorothy tampak sedang berlarian kian kemari dengan penuh semangat. Begitu mata kecilnya menangkap sosok sang ayah, wajah bocah itu langsung berbinar cerah. Dia berlari menghampiri Juhwan sembari berseru dengan lantang.
"Mata bayinya! Ayah, mata bayi kelincinya sudah terbuka! Lucu banget!"
Namun, sebelum langkahnya benar-benar mencapai Juhwan, Dorothy mendadak menghentikan gerakannya dengan ekspresi wajah seolah teringat sesuatu. Sembari terus berseru, "Kelinci, kelinci!" bocah itu memutar tubuhnya.
Rambut halusnya yang mengembang tampak membal-mambal ke atas dan ke bawah seiring dengan ayunan langkahnya menuju keranjang. Dengan sepasang kaki pendeknya, Dorothy bergegas kembali ke tempat keranjang kelinci itu diletakkan. Sembari mencengkeram erat keranjang tersebut dengan kedua tangan mungilnya, kali ini dia melangkah dengan sangat hati-hati.
Lizzy, yang sedang berada di dekat tungku masak, menghela napas pelan melihat tingkah anaknya. Kemungkinan besar bocah itu sudah berlarian sepanjang hari hanya untuk memamerkan kelinci tersebut kepada Lizzy.
Khawatir anak itu akan tersandung lalu jatuh saat membawa keranjang, Juhwan segera mendekati Dorothy dan bertumpu pada salah satu lututnya. Di dalam keranjang kecil itu, si bayi kelinci tampak sedang meringkuk di sudut wadah. Sepasang mata hitamnya yang bulat terlihat berbinar jernih.
"Kamu sudah bangun, ya?"
Saat Juhwan menggumamkan kalimat itu, Dorothy memiringkan kepalanya. Bocah itu selalu merasa asing dan heran setiap kali mendengar rentetan kata dari mulut ayahnya yang tidak dapat dia pahami maknanya.
Juhwan menyentuh tubuh mungil bayi kelinci tersebut dan mulai menyalurkan sedikit energi sihirnya. Setidaknya, itulah yang dia coba lakukan. Dia sendiri tidak bisa memastikan dengan jelas apakah ada sesuatu yang benar-benar mengalir keluar dari tubuhnya, tetapi setiap kali dia memikirkan kata 'sihir' dan 'penyembuhan', selalu ada perubahan nyata yang terjadi. Jadi, sihir itu pasti bekerja.
Mungkin karena pengaruh energi sihir tersebut, tubuh bayi kelinci itu tampak bergetar pelan. Rona merah pekat pada luka robeknya—yang tampak seperti akibat terkoyak oleh sesuatu yang tajam—perlahan-lahan mulai memudar, dan jalinan dagingnya perlahan menyatu kembali. Pemandangan itu sekilas terlihat seperti daging kerang yang sedang menggeliat bergerak. Agak menggelikan bagi orang dewasa, tetapi kesan yang ditangkap oleh sang anak ternyata jauh berbeda.
"Hebat..." gumam Dorothy takjub.
Setelah mengamati bayi kelinci itu dalam diam selama beberapa saat, Dorothy mendongak untuk menatap Juhwan. Sepasang matanya dipenuhi oleh binar kekaguman dan rasa hormat yang mendalam.
"Ayah hebat sekali. Benar-benar hebat."
"...."
Juhwan merasakan letupan kebahagiaan kecil di dalam hatinya, sekaligus rasa canggung yang membuatnya tersipu malu.
Keranjang tempat bayi kelinci itu kemudian dikembalikan ke posisi semula, sedangkan kelinci liar yang sebelumnya dikurung di dalam bak kayu dipindahkan ke kandang bambu yang baru selesai dibangun di luar. Dengan tergesa-gesa, Juhwan memasukkan dedaunan bambu dan segenggam jerami yang diambilnya dari kolong tempat tidur ke sudut kandang. Akibatnya, jerami yang berfungsi sebagai matras tidur mereka kini menjadi semakin kempes.
Kehangatan Malam di Dalam Kabin
Seusai makan malam, suasana di dalam rumah berangsur-angsur menjadi sunyi setelah Dorothy terlelap. Bocah itu pasti merasa sangat kelelahan setelah seharian penuh bergulat dengan kelinci dan berlarian menyelesaikan berbagai tugas kecilnya. Ketika Juhwan mengangkat tubuhnya untuk dipindahkan ke atas ranjang, kepala anak itu tampak terkulai lemas di pundaknya.
Di tengah suara gemeretak pelan dari kayu bakar yang hangus di dalam tungku, Lizzy tampak sedang sibuk mengikis sisa lemak dari kulit kelinci dengan menggunakan sebilah pisau kecil.
Itu adalah metode pengerjaan yang dia pelajari dari Gus. Konon, kunci utama untuk menghasilkan kualitas kulit penyamakan yang baik adalah dengan mengikis lapisan lemaknya setipis mungkin. Ekspresi wajah Lizzy tampak luar biasa serius saat melakukannya.
Di sampingnya, Juhwan sedang menatap sebuah papan kayu yang dipenuhi pahatan huruf, berusaha keras untuk menghafal karakter-karakter dasar dari bahasa dunia ini. Ketika dia pertama kali menunjukkan papan huruf tersebut, anak dan istrinya sempat memperlihatkan sedikit ketertarikan. Namun, baik Dorothy maupun Lizzy dengan cepat kehilangan minat mereka. Perhatian keduanya telah teralih sepenuhnya kepada para kelinci—Dorothy sibuk dengan si bayi kelinci, sedangkan Lizzy fokus pada kelinci liar tangkapan mereka.
Bagaimanapun juga, urusan perut memang yang paling utama.
Setelah berhasil menghafal bentuk karakternya, dia beralih menatap papan kayu yang berisi susunan kata, lalu mencoba menirukan cara pelafalannya satu per satu. Belajar dengan serius di usia sepertinya saat ini benar-benar membuat kepalanya berdenyut pening. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain.
Setiap kali dia membacakan suatu pelafalan kepada Lizzy dan menanyakan maknanya, wanita itu akan meletakkan kulit kelincinya sejenak, lalu menggunakan gerakan tubuh dan isyarat untuk menjelaskan artinya. Bahasa tersebut memiliki kosakata penunjuk makna seperti banyak, sedikit, semua, tidak, dan seperti.
Juhwan berpikir, kemungkinan besar jumlah papan huruf seperti ini awalnya ada lebih banyak. Jika saja dia bisa memiliki sekitar seratus papan lagi, pembendaharaan kosakatanya pasti akan bertambah dengan sangat pesat. Memikirkan hal itu membuat Juhwan merasa agak menyayangkan kekurangannya.
Manusia memang makhluk yang serakah. Padahal, dia seharusnya sudah merasa sangat bersyukur karena telah terbebas dari belenggu kereta kuda yang menyeretnya layaknya seekor hewan ternak dulu. Namun, begitu dia berhasil memiliki rumah dan keluarga seperti sekarang, ambisinya justru berkembang dan ingin pergi ke kota besar demi mempelajari lebih banyak huruf. Sungguh, tampaknya karena keberadaan sifat manusia yang seperti inilah sosok Iblis itu sampai ada.
Secara mendadak, bayangan wajah Santa melintas di dalam benaknya sebelum akhirnya memudar begitu saja. Apakah Santa itu masih berdiri di dekat pintu masuk stasiun kereta bawah tanah untuk mencari seseorang hingga saat ini?
Lizzy telah selesai menguliti lapisan lemak dan kini mulai menjahit. Kain yang sebelumnya diberikan oleh istri kepala desa telah disulap menjadi sepotong celana untuk Juhwan dan selembar rok untuk Dorothy.
Meskipun ada beberapa lembar kain tambahan yang didapatkan setelah momen itu, Lizzy sama sekali tidak berniat untuk menggunakannya demi membuat pakaian bagi dirinya sendiri. Baru setelah Juhwan mendesaknya berkali-kali, wanita itu akhirnya bersedia mulai menjahit pakaian untuknya sendiri, itu pun dengan memilih jenis kain yang tampilannya paling usang dan kusam.
Wanita itu seolah tidak pernah mengizinkan tubuhnya beristirahat bahkan untuk satu detik pun. Juhwan tidak tahu apakah seluruh wanita di dunia ini memiliki tabiat yang sama, ataukah memang Lizzy yang tingkat kegigihannya berada di atas rata-rata. Dengan bentuk tubuhnya yang ramping dan ringkih, dia selalu saja sibuk melakukan sesuatu. Juhwan merasa sedikit khawatir jika istrinya itu sampai kelelahan atau melukai dirinya sendiri.
Setidaknya, demi menjaga agar tubuh istrinya tetap hangat, Juhwan menambahkan beberapa bilah kayu bakar lagi ke dalam tungku pemanas. Nyala api tidak boleh sampai padam sepanjang malam. Saat memasukkan kayu bakar, dia juga mempertimbangkan hal ini dengan sengaja memilih batangan kayu yang ukurannya jauh lebih besar khusus untuk penggunaan di malam hari.
Setelah menyelesaikan urusan penyamakan kulit dan menjahit, Lizzy memiringkan kepalanya sembari meregangkan bagian pinggangnya, seolah-olah otot bahunya terasa sangat kaku. Dia menggerakkan wajahnya maju dan mundur beberapa kali. Gerakannya itu terlihat sangat menggemaskan, persis seperti seekor tupai kecil yang sedang bergerak lincah.
Ketika Juhwan melangkah ke belakang tubuhnya dan mulai memijat bahunya dengan lembut, Lizzy tampak tersentak kaget dan refleks menarik lehernya ke dalam. Tampaknya dia merasa kegelian. Sembari menggeser-geser tubuhnya ke sana kemari, Lizzy tampak menciut pasrah di bawah cengkeraman tangan Juhwan.
Pada awalnya, dia hanya berniat untuk meredakan rasa pegal pada bahu istrinya yang kelelahan, tetapi lama-kelamaan sentuhan tangan Juhwan berubah menjadi semakin berani. Kulit Lizzy yang biasanya tampak putih bersih perlahan-lahan mulai berubah warna menjadi kemerahan.
Di bawah pendaran cahaya api tungku yang menari-nari memantulkan bayangan, selembar demi selembar pakaian wanita itu mulai terlepas dari tubuhnya. Juhwan kerap bertanya-tanya, di manakah letak kehangatan manis yang begitu memabukkan itu tersembunyi di dalam siluet tubuh istrinya yang ramping; bentuk tubuh Lizzy benar-benar terasa manis di setiap jengkalnya.
Setitik rona basah yang samar tampak merembes di sudut mata sang istri. Terkadang, wanita itu akan mengeluarkan suara rintihan manja yang terdengar sangat menggemaskan, persis seperti lenguhan seekor anak anjing. Istrinya yang selalu dikenal sebagai sosok pekerja keras di siang hari, rupanya terbukti sama rajinnya saat malam telah tiba.
Sudut Pandang Lain: Perjalanan sang Kepala Desa
"Selamat datang! Silakan, saya akan mengantarkan Anda semua menuju tempat bermalam."
Orang-orang melangkah mengikuti arahan seorang bocah laki-laki yang penampilannya tampak berusia sekitar sepuluh tahun, menuntun rombongan tersebut menuju ke sebuah lumbung tua yang tampak reyot. Fasilitas penginapan ini sudah termasuk ke dalam biaya sewa kereta kuda reguler yang mereka bayar.
Kondisi di dalam lumbung yang beralaskan jerami kering itu rupanya sudah sangat padat dan penuh sesak oleh orang-orang. Beberapa di antaranya tampak sedang tidur dengan posisi meringkuk saling berdempetan demi menghalau hawa dingin. Beberapa orang lainnya terlihat sedang berjongkok di sudut ruangan sembari menyantap sesuatu.
"Kami menyediakan sup hangat yang baru dimasak. Ada juga roti dan minuman anggur. Apakah ada di antara Anda sekalian yang membutuhkan sesuatu?" bocah itu menawarkan jasanya kepada para pendatang yang baru tiba.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menyahut atau memesan sesuatu. Meskipun bocah itu mengklaim bahwa supnya masih hangat, kemungkinan besar hidangan itu sudah mendingin saat ini. Melihat tidak ada seorang pun yang memberikan respons, bocah laki-laki itu tampak memperlihatkan gurat kekecewaan di wajahnya.
Sembari berbaring dengan mata terpejam di dalam lumbung yang pengap itu, sayup-sayup terdengar suara bisikan dari orang-orang di sekitarnya.
Seseorang yang berada di sudut ruangan tampaknya memiliki informasi mengenai sosok pahlawan dari negara musuh. Awalnya mereka mengira hanya ada satu pahlawan yang berhasil dipanggil, tetapi rupanya kenyataan menunjukkan bahwa ada dua pahlawan yang eksis di sana.
Mendengar penuturan itu, seseorang yang lain menyahut dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan, "Lalu, bagaimana nasib kita selanjutnya? Bukankah negara kita juga seharusnya segera melakukan ritual pemanggilan pahlawan?"
Lokasi tempat mereka berada saat ini memang terhitung sangat dekat dengan wilayah kekuasaan negara musuh. Beberapa desa yang terletak di sepanjang garis perbatasan bahkan tercatat sudah berkali-kali digerebek atau berubah fungsi menjadi medan pertempuran yang berdarah.
Desa tempat sang kepala desa bernaung memang belum sampai tergilas oleh pusaran roda perang, tetapi posisinya berada di garis yang teramat dekat dengan batas negara. Secara alami, perhatian kepala desa langsung tersedot sepenuhnya pada topik pembicaraan orang-orang tersebut.
Pria yang mengawali pembicaraan mengenai pahlawan musuh itu kembali menyahut, kali ini dengan nada suara yang terdengar ragu dan tidak pasti.
"Yah, siapa yang tahu. Tampaknya pihak kerajaan dari negara kita juga sudah mencoba untuk melakukan ritual pemanggilan pahlawan selama beberapa kali. Kebetulan salah seorang kerabatku bekerja di kuil agung, dan dia menceritakan bahwa mereka telah mengusahakan ritual pemanggilan itu berkali-kali. Namun, sepertinya usaha tersebut tidak pernah membuahkan hasil sama sekali."
Volume suara pria itu perlahan-lahan merendah, berubah menjadi bisikan yang samar.
"Kerabatku itu juga membisikkan bahwa ada sebuah rumor yang beredar di kalangan internal kuil bahwa sebenarnya seorang pahlawan sudah berhasil dipanggil. Tapi ya, siapa yang bisa menjamin kebenarannya? Kerabatku itu kan hanya bertugas di sebuah kuil cabang daerah."
Mendengar penuturan pria tersebut, seseorang tiba-tiba menimpali dengan nada skeptis.
"Aku pribadi menganggap pahlawan yang muncul di negara musuh itu hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Jujur saja, kita bahkan tidak tahu pasti apakah sosok pahlawan itu benar-benar ada atau tidak di dunia nyata. Bagaimana mungkin kita bisa memercayai sesuatu yang katanya hanya pernah ada ratusan tahun yang lalu? Lagipula, tidak ada satu pun dari kita yang pernah melihat wujud mereka secara langsung."
"Aku setuju. Kalau dipikir secara logis, hal semacam itu memang sangat sulit untuk dipercayai."
"Tapi, bagaimana jika berita itu ternyata memang benar?"
"Kabar yang beredar mengatakan bahwa pahlawan memiliki karakteristik fisik yang berbeda dari kita. Jika pahlawan milik negara musuh itu memang palsu, kedoknya pasti akan segera terbongkar dalam waktu dekat."
Orang-orang yang didera rasa cemas itu terus saling berbisik dan bertukar pendapat satu sama lain. Di sudut lain, sang kepala desa juga merasakan firasat buruk dan kegelisahan yang mendalam di dalam hatinya.
Aku harus bisa menjual informasi ini dengan secepat mungkin, mendapatkan uangnya, lalu segera angkat kaki dari desa itu. Kita tidak akan pernah tahu kapan pasukan musuh akan melancarkan serangan dadakan.
Bukan hanya sekadar uang yang dia butuhkan saat ini, melainkan dia juga memerlukan selembar surat izin resmi agar bisa bermigrasi menuju ke wilayah teritori lain yang jauh lebih aman. Seorang bangsawan tinggi pasti akan mampu mengatur dan menyediakan dokumen penting tersebut untuknya.
Kepala desa melewatkan malam yang panjang itu di atas lantai lumbung yang keras dan dingin, berusaha sekuat tenaga untuk meredam letupan kecemasan yang terus bergejolak di dalam dadanya.
Sebelum fajar menyingsing di ufuk timur, bocah laki-laki kemarin kembali datang untuk membangunkan dan memanggil orang-orang. Mereka semua bergegas keluar dari lumbung dengan terburu-buru, lalu segera menaiki kereta kuda reguler yang telah dijadwalkan untuk mereka masing-masing.
Kepala desa pun ikut membaur di tengah kerumunan massa dan naik ke atas kereta. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, rombongan mereka akhirnya tiba di kota yang menjadi tujuan utama tepat saat matahari mulai tenggelam di balik cakrawala.
0 Comments