02 Farathiana yang Dirasuki Roh
Norn, yang telah disekap sebagai budak selama hampir enam bulan, berjuang menuruni jalan pegunungan yang berbatu. Otot-ototnya melemah meskipun telah menerima pengobatan untuk luka-lukanya. Carlos menemaninya, secara perlahan memberikan dukungannya hingga akhirnya pria itu menggendongnya kembali ke Roguebelt. Walaupun Norn masih memendam ketakutan yang mendalam terhadap laki-laki, ia mulai menurunkan kewaspadaannya berkat sikap Carlos yang lembut dan perhatiannya yang konstan padanya.
Sambil digendong, Norn menatap lekat-lekat wajah Carlos, yang ditandai dengan banyak kerutan dan kumis yang tercukur rapi.
"Maafkan saya karena telah merepotkan Anda..." gumamnya pelan.
Carlos tersenyum ramah padanya.
"Merepotkan apa? Ini bukan apa-apa dibanding apa yang telah kau lalui. Lihatlah, kita sudah sampai."
Di hadapan mereka terbentang kota Roguebelt, dan di baliknya, lautan luas. Aroma pantai yang tak asing dan jeritan burung camar memenuhi udara.
Air mata menggenang di pelupuk mata Norn saat ia menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia duga akan ia lihat lagi. Carlos menurunkannya, dan meskipun langkahnya pelan, ia mulai melangkah maju dengan tenaganya sendiri. Di Roguebelt, para penduduk sibuk berlalu lalang, membersihkan sisa-sisa perayaan semalam.
Salah satu penduduk kota menyadari kepulangan Norn dan menjatuhkan peti kayu yang dibawanya.
"Hei, bukankah itu Norn...?"
"Itu benar-benar dia! Norn yang diculik itu! Dia sudah kembali!"
Penduduk lainnya menanggapi, berkumpul mendengar berita tersebut.
"Norn!"
Membelah kerumunan itu adalah Lilia, putri pemilik penginapan, yang bergegas maju dan memeluk Norn. Norn menerima pelukan itu dan membalasnya.
"Lama tak jumpa, Lilia."
"Apa kau baik-baik saja? Apa mereka memperlakukanmu dengan buruk?"
"Rofus membantuku melarikan diri."
"...Begitu ya. Kau jadi kurus sekali."
Norn tidak menyangkalnya, dan Lilia secara naluriah mengencangkan pelukannya.
Sementara itu, penduduk kota yang berkumpul menyibak layaknya ombak, membuka jalan bagi seseorang yang berdiri di depan—Fol yang tercengang.
*
Sekitar enam bulan yang lalu, Norn, teman masa kecil Fol, diculik oleh prajurit pribadi Clinton. Pada masa itu, monster menjadi semakin beringas, menyebabkan kerusakan pada kapal nelayan, mendorong Fol dan para pelaut muda berbakat lainnya, termasuk Log, untuk berkumpul dan mengatasi situasi tersebut. Penculikan Norn terjadi di tengah-tengah rentetan peristiwa ini, menjadikannya penduduk Roguebelt pertama yang diculik. Saat pembayaran pajak tidak memenuhi target akibat serangan monster, para prajurit pribadi mengabaikan permohonan penduduk kota.
Fol, yang baru kembali dari membasmi monster, tentu saja sangat murka. Ia menyerbu masuk ke kediaman Clinton di kota pelabuhan, menuntut agar Norn dikembalikan, namun tuntutannya tidak digubris. Buntutnya, beberapa rumah di Roguebelt dibakar.
Kenyataan bahwa setiap tindakannya dapat membahayakan orang lain sudah cukup untuk mengekang pergerakan Fol. Penculikan penduduk terus berlanjut, terutama menyasar wanita dan anak-anak, sementara populasi Roguebelt menyusut karena banyak yang melarikan diri. Selama masa yang seperti neraka ini, Fol hanya bisa merutuki ketidakberdayaannya sendiri.
Kini, setengah tahun telah berlalu sejak penculikan Norn, dan Fol sudah lama pasrah dengan keyakinan bahwa ia takkan pernah melihatnya lagi. Ia hampir menyerah pada harapan untuk menyelamatkannya. Namun, di sinilah dia, berdiri di hadapannya, telah kembali ke desa pada pagi hari setelah perayaan itu.
"Norn...?"
Fol menggumamkan namanya, nama yang ia pikir takkan pernah ia panggil lagi.
Mendengarnya, Norn tersenyum di sela air matanya.
"...Aku pulang. Lama tak berjumpa, Fol."
Fol perlahan mendekat, mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Norn yang lembut dan pucat. Terasa nyata, bukan mimpi atau ilusi. Norn tersenyum.
"Ada apa dengan bandana itu? Kau jadi seperti anak laki-laki, itu tidak cocok untukmu."
Melihat Norn tertawa seperti biasanya sebelum ia diculik, air mata pun mengalir deras di wajah Fol.
"Norn!"
Fol memeluknya dengan lembut, dan Norn membalas pelukannya.
"Norn... Norn!"
Saat ia terus menyebut namanya, Fol menangis layaknya anak kecil, air matanya mengalir tak terkendali, tumpah dari lubuk jiwanya. Itu adalah air mata dari sebuah cerita, air mata Farathiana.
Dalam ceritanya, ia tidak diselamatkan. Tidak, ia tidak mampu menyelamatkannya. Kebencian yang dipendamnya terhadap Rofus, yang telah mengakar dalam jiwanya, terasa seolah-olah tersapu bersih. Saat Fol terisak, Norn dengan lembut membelai kepalanya dan berbisik pelan di telinganya agar hanya ia yang bisa mendengarnya.
"Rofus menolongku."
Mendengar nama itu disebut, Fol langsung mengangkat kepalanya.
"Rofus...?"
"Iya. Apa kau mengenalnya?"
Fol mengalihkan pandangannya, merasa sulit untuk menjawab.
"...Ah, iya. Ia adalah dermawan bagi Roguebelt. Ia seorang bangsawan, tapi ia bukan orang jahat."
"Begitu ya? Mungkinkah ia teman baikmu?"
Norn teringat perkataan Carlos sebelumnya tentang kemungkinan Rofus menjadi calon istri masa depannya, dan Fol tampak jelas tersentak mendengar pertanyaannya.
"A-apa? Apa si Rofus itu mengatakan sesuatu...?"
Norn menggelengkan kepalanya.
"Ia sama sekali tidak menyebutkan tentangmu. Ia cuma memarahiku karena menangis dan menyuruhku agar tak jadi lemah—mengatakan bahwa aku punya seseorang yang menungguku di rumah. Ia benar-benar marah dan menyebutkan namamu saat itu."
"Sialan Rofus itu..."
Fol menghela napas, campuran antara rasa kesal dan pasrah. Saat Norn diselamatkan dari penculiknya dan hendak kembali ke Roguebelt setelah mendapat perawatan dari Yurika, ia menangis dan menolak untuk pergi. Ia merasakan rasa malu yang luar biasa untuk menghadapi penduduk kota setelah apa yang menimpanya.
Setelah martabatnya sebagai manusia direnggut habis-habisan, ia kehilangan seluruh harapannya dan bahkan menginginkan kematian. Tapi alih-alih menghiburnya, Rofus justru memarahinya.
Walaupun nadanya kasar, mendengar nama Fol entah bagaimana memberi Norn secercah harapan. Ia membayangkan bagaimana hidupnya jika ia tak diselamatkan dan takkan pernah bisa melihat Roguebelt atau Fol lagi... Pikiran itu membuatnya merinding.
"Rofus itu orang yang baik. Ia menolongku."
"Mustahil, ia pasti tidak baik..."
Fol membalas dengan serius, tapi Norn terkikik pelan. Lalu ia menyadari kemerahan di sekitar matanya.
"Fol, ada apa dengan matamu? Kau terlihat seperti habis menangis semalaman."
Fol memalingkan wajahnya.
"...Bukan apa-apa."
"Apa terjadi sesuatu? ...Apa ini tentang Rofus?"
"Bukan apa-apa!"
Tepat saat itu, Log, yang sedari tadi mengawasi Fol dan Norn bersama warga kota, membelalakkan matanya saat menyadari sesuatu. Apa dia menguping pembicaraan kita dengan Rofus tadi malam? Keringat dingin mulai menetes di punggungnya.
"...Fol, mengenai kejadian kemarin—"
Sebelum Log sempat merampungkan kalimatnya, Carlos melangkah maju.
"Maaf saya menyela reuni ini."
"Tunggu, kau kepala pelayan itu...?"
Mata Fol membelalak kaget.
"Tolong, panggil saja saya Carlos. Senang bertemu dengan Anda, Nona Farathiana."
Fol menautkan alisnya, menyadari bahwa batang hidung Rofus tak terlihat di mana pun.
Carlos, masih menundukkan kepalanya, berbicara dengan tenang.
"Tuan Muda... tidak akan kembali. Ia kemungkinan tidak akan datang ke Roguebelt lagi."
"...Hah?"
Raut wajah Fol berubah pucat pasi.
*
Fol berlari, secara insting menyalurkan sihir ke kakinya, bergerak dengan kecepatan melampaui manusia biasa. Usai bersatu kembali dengan Norn, ucapan Carlos tadi terus terngiang di kepalanya.
Rofus tidak akan kembali. Saat mendengar hal itu, perasaan pertama Fol bukanlah kesedihan atau rasa sepi, melainkan amarah. Rofus telah menyelamatkan nyawanya, menyelamatkan Roguebelt, dan bahkan menyelamatkan Norn, sahabat masa kecilnya, yang ia kira takkan pernah ia temui lagi.
Rasa terima kasih yang dirasakannya tak terkira. Namun Rofus pergi begitu saja tanpa membiarkannya mengucapkan sepatah kata pun untuk berterima kasih atau sekadar mengakui jasanya. Betapa egois dan mementingkan dirinya sendiri Rofus itu?
Fol sadar bahwa ini adalah cara berpikir yang sama sekali tidak rasional. Bagaimanapun juga, ia telah diselamatkan, dan di sinilah ia melontarkan keluhannya. Akan tetapi, pikiran untuk berpisah tanpa bisa berbicara atau bahkan menatap wajah Rofus membuatnya diliputi ketakutan.
Lalu, seakan ingin memantapkan tekadnya, Norn tersenyum dan berkata, "Fol, kejarlah dia."
Mendengar kata-kata itu, Fol langsung lari, tak menghiraukan panggilan Log dan Craig dari belakang, langsung menuju pintu keluar desa. Ia berlari dan terus berlari, tanpa lelah memaksakan diri maju.
Ia bahkan belum sempat bertanya ke mana tujuan Rofus, namun Fol tak ragu sedikit pun bahwa Rofus ada di suatu tempat di depannya, seolah dipandu oleh suatu kekuatan tak kasat mata. Fol melintasi bukit-bukit berbatu dan hutan-hutan, hingga akhirnya tiba di sebuah bukit luas di mana sebuah kereta kuda sedang melaju. Kereta itu mengusung lambang Wilayah Tanpa Cahaya, yang pernah diceritakan Rofus padanya.
Dan sang kusir tak lain adalah Yurika, penyembuh berambut hitam yang merawat Rofus kemarin. Tak salah lagi, ini pasti kereta yang ditumpangi Rofus. Kegirangan karena berhasil menyusul, Fol bergegas ke arah kereta dengan napas terengah-engah.
Namun, Yurika menyadari kehadirannya dan mencegat langkahnya.
"Tunggu. Kau pasti dari Roguebelt... Apa kau ada urusan dengan tuan muda?"
"Aku perlu bicara dengan Rofus. Tolong izinkan aku lewat."
Yurika sedikit mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf, tapi saya sudah diperintahkan untuk tidak membiarkan siapa pun lewat. Saya tidak bisa membiarkanmu lewat."
"Kumohon... Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih..."
Saat Fol menundukkan kepalanya memohon, Yurika memalingkan wajahnya, tampak bersimpati.
"Maafkan saya, tapi saya tidak bisa membiarkanmu lewat. Saya pasti akan menyampaikan pesanmu pada tuan muda."
Penolakan itu sudah diduga. Fol membuang napas panjang, membalas tatapan Yurika dengan penuh tekad. Ia menghunus pedang cutlass dari pinggangnya, mengambil kuda-kuda.
"Kalau begitu, aku tak punya pilihan selain menerobos masuk."
Kendati ia belum menghunus senjatanya, Yurika menghela napas pelan melihat senjata yang diacungkan padanya. Dalam hati, ia mempertanyakan Carlos—apa benar ini "kandidat calon istri" tuan muda? Tabiatnya sepertinya terlalu garang untuk itu.
Yurika, yang kini bersiaga menghadapi konfrontasi, menarik tongkat sihir dari sabuknya.
"...Apa kau serius? Menodongkan senjata ke arah seorang ksatria berarti kau takkan mendapat belas kasihan."
"Kalau begitu minggirlah."
"Ini bukan ajakan ngobrol. Kalau kau pergi tanpa berbuat macam-macam, aku mungkin masih akan melepaskanmu."
Fol menanggapi tawaran itu dengan mengayunkan pedangnya. Yurika menangkisnya dengan tongkatnya, yang berujung pada kebuntuan. Dari pertukaran serangan ini, Yurika dengan cepat menyimpulkan bahwa Fol memiliki kekuatan sihir yang cukup tangguh.
Menyadari kesia-siaan dari perlawanan mereka, ia dengan cekatan menangkis bilah pedang itu.
"..."
Meski dengan gampang ditepis ke samping, Fol bersikeras, menyabetkan pedangnya sekali lagi. Berulang kali, serangannya ditepis dengan santai. Ketimpangan kemampuan yang mencolok semakin kentara di setiap benturan.
Walaupun Fol memiliki pengalaman tempur, itu terutama saat berhadapan dengan monster; ia nyaris tak punya pengalaman bertarung melawan manusia. Sebaliknya, Yurika adalah ahli dalam pertarungan antar manusia, seorang ksatria kegelapan. Ini merupakan pertarungan yang tak seimbang sejak awal.
"Kau kelewat tangguh... Kukira kau cuma seorang tabib."
"Meskipun begitu, secara teknis aku adalah ksatria kegelapan. Kalau aku mau, aku bisa menghabisi segerombolan orc hanya dengan tongkat sihir ini. Tapi, aku lebih suka tak melakukannya lagi."
Sambil melontarkan candaan, Yurika dengan enteng mementahkan pedang cutlass Fol hingga terbang ke udara. Pedang itu berputar sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Yurika mengarahkan tongkat sihirnya pada Fol.
"Kalau kau berniat kabur, aku takkan mengejarmu."
Di balik sikap dinginnya, Fol berdiri kokoh.
"Siapa yang mau kabur?"
"...Sebenarnya aku malas kalau harus membuat seorang wanita pingsan di sini, namun agaknya tak ada pilihan lain."
Tongkat itu terangkat tanpa belas kasihan.
"Takkan terasa sakit kok, aku janji."
Diselubungi nada kebaikan, Yurika menurunkan tongkatnya.
"..."
Mempersiapkan diri, Fol memejamkan matanya rapat-rapat. Namun, benturan yang dinanti tak kunjung datang. Sewaktu ia membuka matanya, ia melihat Yurika terperangkap di balik dinding air, tak kuasa menurunkan tongkatnya.
"Apa ini...?"
Mata Fol terbelalak diliputi keheranan. Air yang mengepung Yurika membangun perlindungan yang dirajut dengan aksara gaib tingkat lanjut.
"Apa-apaan...?"
Yurika, yang sama-sama terperangah oleh insiden tak terduga itu, menyapu pandangannya, bertanya-tanya apakah ada musuh yang menyergap. Meskipun demikian, tak tampak sosok lain di sekelilingnya. Saat Fol menengadah, matanya menangkap siluet kuda laut yang tak asing lagi, melayang anggun di angkasa.
Kuda laut berwarna biru pendar yang memesona—Lunamarl, roh agung penguasa elemen air, yang tersohor memandu arus samudera. Di dalam riwayatnya, ia senantiasa setia mengawal Farathiana.
"Sedang apa kau di sini...?"
Lunamarl sebelumnya pernah memandu Fol dan Rofus ke tempat yang aman dari laut yang ganas, kemudian raib. Ia belum pernah menampakkan dirinya lagi semenjak itu, tapi sekarang ia berada tepat di depannya.
"Apa ini ulahmu...?"
Menunjuk ke arah kubah air yang membungkus Yurika, Fol bertanya, dan Lunamarl dengan santai memalingkan wajahnya, merentangkan ekornya yang ikal menunjuk ke arah kereta Rofus, seolah mendesaknya agar lekas-lekas.
"...! Kau menyelamatkanku! Aku berutang satu padamu!"
Walaupun Fol gagal mencerna mengapa Lunamarl menolongnya lagi setelah pertemuan mereka sebelumnya, rasanya bagai tertimpa durian runtuh. Ia melesat melintasi Yurika yang terjebak dan berdiri tepat di depan kereta.
"Tunggu!"
Teriakan Yurika menggema, tapi Fol menulikan telinganya, menyentuhkan tangannya ke pintu kereta. Menghela napas sejenak guna menenangkan deru dadanya, ia menguak pintu lalu melangkahkan kaki ke dalam.
*
Terbelenggu di balik sekat air, Yurika berdecak kesal tatkala menyaksikan Fol menyusup ke dalam kereta. Diayunkannya tongkat sihir berulang kali untuk menjebol halangan itu, tapi ukiran aksara magis level tinggi yang menyelimutinya mementahkan seluruh serangannya tanpa ampun.
Yurika mengalihkan pandangannya pada kuda laut yang melayang di angkasa, tersangka kuat di balik tabir pelindung tersebut—Lunamarl.
"Seekor roh..."
Bahkan dari kacamatanya, tak terbantahkan lagi bahwa roh itu memendam kekuatan dahsyat. Dinding pelindung itu tak dipenuhi air, menandakan bahwa ia sama sekali tak ada niatan untuk menghabisi nyawanya.
Atas dasar apa roh sakti semacam itu turun tangan guna memuluskan jalan Fol? Telah jadi rahasia umum bahwa roh kondang akan wataknya yang gampang berubah haluan, terkadang menjadi dewa penolong bagi umat manusia, namun di lain waktu justru mendatangkan malapetaka. Biarpun begitu, ini sesuatu yang ganjil. Yurika tak sanggup menepis keraguan yang berkecamuk di benaknya. Tingkah polah roh itu terlampau overprotektif terhadap Fol. Walau kehendak yang tak tertebak itu hal yang lumrah, agak janggal rasanya mendapati roh air muncul di area yang nihil sumber air, sekalipun lautan tak terlampau jauh.
"Apa barangkali... Terikat-Roh?"
Yurika berspekulasi, curiga bahwa Fol mungkin adalah "Terikat-Roh", suatu istilah yang diperuntukkan bagi manusia yang dianugerahi keistimewaan dan dirasuki oleh roh tertentu. Akan tetapi, kala ia berpapasan dengan Fol di Roguebelt, tak ada hawa kehadiran roh di dekatnya.
Apa ia tak mengikat janji setianya sepanjang waktu? Yurika memiringkan kepalanya dilanda kebingungan.
"...Saya tidak begitu paham apakah analisis saya ini jitu."
Menimbang bahwa merenung adalah tindakan konyol belaka, Yurika mengalirkan energinya ke tongkat sihirnya. Ia melancarkan pukulan mahadahsyat yang sanggup meremukkan tameng sisik naga yang paling alot sekalipun.
Guncangan dahsyat dari tebasannya menggetarkan seluruh permukaan kubah pelindung air, namun tabir itu tak kunjung jebol.
"Apa upaya ini tak ada faedahnya juga...?"
Menyadari kekesalannya lantaran serangannya yang paling destruktif sekalipun gagal menorehkan luka pada pelindung itu, Yurika membuang napas panjang lalu mendongakkan kepalanya menatap langit. Setelah itu ia mencabut tongkat lain dari pinggangnya, menggenggam masing-masing satu di tiap tangannya seraya mulai memusatkan daya magis ke dalamnya.
"Saya paling antipati membuat diri saya lelah, tapi ya mau diapa lagi. Jika terus begini, andaikan saya menggempur dengan ribuan hantaman, cepat atau lambat pasti akan rontok juga."
Lunamarl pada akhirnya menolehkan tatapannya kepada Yurika. Tak berselang lama, rentetan gempuran pukulan bertubi-tubi yang memekakkan telinga meledak menghantam perisai air.
*
"Rofus...?"
Sewaktu Fol menguak pintu kereta lantas menjejakkan kakinya ke dalam, ia mendapati Rofus tengah terduduk di kursi, tertidur pulas. Ia mengulurkan tangannya hendak menggoyangkan bahu Rofus namun kemudian urung dan menarik tangannya kembali.
Lagipula, Rofus tak memejamkan matanya sejenak pun semalam suntuk. Baru beberapa saat yang lalu Norn diselamatkan lalu dikembalikan ke desa. Fakta ini mengisyaratkan bahwa seusai mengantarkan Fol tiba di rumah, Rofus meluncur langsung menyelamatkan Norn tanpa sempat mengistirahatkan raganya.
Menyusun kepingan fakta ini membuat Fol mafhum bahwa ia tak patut mengusiknya. Alih-alih, Fol menghenyakkan dirinya di kursi yang berhadapan persis dengan Rofus, yang menopang dagu dengan tangannya seraya ia memandangi pemuda itu tidur.
"Kenapa..."
Mulutnya terkunci rapat. Begitu bejibun rentetan hal yang ingin ia luapkan juga tanyakan hingga ia tak mampu merangkumnya dalam serangkai kalimat.
Atas alasan apa Rofus sudi mengorbankan segalanya buat Roguebelt? Kenapa ia mengorbankan tangan kirinya cuma untuk menyelamatkannya? Kenapa ia ikut-ikutan menolong Norn pula? Dan kenapa ia ngotot mau minggat tanpa mengucap sepatah kata pun? Mengapa, mengapa...
"..."
Relung hati Fol tumpah ruah akan dorongan menggebu untuk menumpahkan segalanya kepada Rofus manakala secara mendadak, getaran dahsyat menggoyang seluruh gerbong.
"Eh?"
Fol mencodongkan badannya demi mengintip lewat celah jendela kereta. Untunglah, nampaknya sangkar air yang memenjarakan Yurika tak koyak, kendati hantamannya luar biasa beringas. Fol menduga itu pastilah ulah Yurika yang sedang pontang-panting membebaskan diri.
"Gila, ksatria satu itu bukan kaleng-kaleng," Fol membatin, bergidik ngeri membayangkannya, sewaktu tiba-tiba ia menyadari deru napas Rofus tak lagi terdengar.
"Ah..."
Sepertinya guncangan itu merenggut Rofus dari alam mimpi, yang lantas menatap Fol dengan raut wajah datar sewaktu pandangan mereka bertaut.
"...S-Selamat pagi."
Sapaan pagi tanpa sadar terlontar dari mulut Fol, memancing Rofus melepaskan desahan napas kasar.
"...Ngapain kau ada di sini? Terjadi apa pada Yurika?"
"Dia di luar, sedang menyelesaikan... berbagai hal."
Terpancing ke mana rute pandangan Fol bermuara, Rofus ikut menengok ke luar jendela. Ia menangkap basah Yurika yang terkurung di dalam sekat air, membabi buta mengayunkan tongkatnya membentur sekat tersebut, sementara kuda laut pendar kebiruan mengambang cuek di sampingnya.
Rofus lekas-lekas mencerna pangkal persoalannya lalu mendengus pasrah lagi.
"Lunamarl... Begitu rupanya."
Menangkap pandangan kasihan Rofus yang tertuju pada Yurika, Fol memiringkan lehernya heran.
"Apa kau menaruh kenal padanya?"
"Justru aku yang mesti balik tanya, kenapa kau bisa tak kenal dia?"
"Astaga, mana mungkin aku punya wawasan soal kuda laut semacam itu?"
Rofus melayangkan tatapan jengkel, yang bikin Fol mencebik sebal. Biarpun jengkel, adu mulut jenaka bersama Rofus memekarkan lengkungan senyum di bibirnya. Akan tetapi, Rofus secepat kilat merubah haluan suasana.
"Lantas, apa maumu jauh-jauh kemari?"
"Apa maksudmu? Kenapa kau mau kabur tanpa pamit?"
"Kau ngotot ke sini sekadar buat tanya itu?"
"Diam. Cukup beri aku jawaban."
"........"
Rofus bungkam beberapa saat sebelum akhirnya angkat bicara, seakan-akan sedang menimbang pilihan katanya dengan cermat.
"Aku tak ada niatan buat bertemu lagi."
Fol mengatupkan rahangnya rapat-rapat mendapati intonasi suaranya yang seakan menampik. Ia menahan genangan air mata yang meronta-ronta ingin terjatuh lalu memelototi Rofus.
"...Apa kau membenciku?"
"Aku benci kau... Aku luar biasa membencimu."
Bantahan itu terucap bagai vonis absolut tanpa nurani dari mulut Rofus. Di tengah dorongan sesaat, Fol mencengkeram kerah Rofus, matanya menyorotkan amarah bersamaan dengan sebulir air mata menitik jatuh membasahi pipinya. Sejurus kemudian ia menelusupkan wajahnya ke dada Rofus, berusaha meredam wajahnya yang sembab diguyur air mata, lalu berbisik dengan desibel nyaris tak terdengar.
"...Aku menyukaimu, Rofus— Aku benar-benar jatuh hati padamu."
"—!"
Tatapan Rofus seketika oleng dilanda keheranan atas deklarasi perasaan yang sama sekali tak terduga.
"Jangan ngawur... Kita baru kenalan dua hari ini."
"Itu sama sekali tak relevan."
"Aku baru berusia dua belas."
"Itu sama sekali tak relevan."
"Aku darah biru, dan kau rakyat jelata..."
"Itu sama sekali tak relevan."
"Dunia yang kita pijak berbeda."
"—Itu sama sekali tak relevan!"
Fol memalingkan kepalanya ke atas, mempertemukan sepasang netranya yang membengkak bekas tangisan dengan sorot mata Rofus. Dengan kelembutan yang memabukkan ia menangkup pipi pemuda itu dengan kedua telapak tangannya.
"Cukup kuangsurkan tanganku, dan kau bisa kusentuh. Lihatlah, Rofus dan aku sedang menginjak dunia yang persis sama detiknya ini. Kita tak berada di alam yang berbeda."
Rofus membalas dengan intonasi statis, seolah sedang mengekang rapat-rapat luapan perasaannya.
"Poin utamanya bukan di situ."
"—Aku mengerti..."
Fol menenggelamkan wajahnya ke dada Rofus sekali lagi lalu melingkarkan tangannya memeluknya erat-erat.
"—Meski begitu aku tetap menyukaimu. Walau kau antipati padaku, aku tak bisa mengubah realita bahwasanya aku tergila-gila padamu, masa bodoh seberapa ekstrem jurang pemisah dunia kita."
Terhanyut oleh curahan kalbu Fol, dada Rofus serasa diaduk-aduk. Tangannya perlahan meraba lalu bertengger di bahu Fol sementara gadis itu memeluknya kencang.
"Fol, aku—"
Saat Rofus hampir menuturkan kalimatnya, pintu kereta dibanting kasar hingga terkuak. Yurika yang tergambar kehabisan napas melangkah masuk.
Kelihatannya kandang air itu telah robek dikoyak rentetan gebukan mematikan Yurika. Begitu kaki menginjak lantai kereta, Yurika menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Maaf saya terlambat! Tuan Muda—"
Saat Yurika mengangkat kepalanya, ia mematung begitu melihat Fol sedang memeluk Rofus di dalam kereta. Rofus, di sisi lain, menunjukkan ekspresi pasrah seolah menerima situasi tersebut. Wajah Fol seketika merona merah padam, sementara Rofus menatap Yurika dengan pandangan penuh kekecewaan. Yurika yang salah tingkah pun segera membuang muka.
"...Apa saya mengganggu...?"
Setelah hening yang cukup lama, Rofus menghela napas panjang dan berat.
"Ya, kau memang mengganggu. Tunggu di luar."
"...Mengerti."
Setelah jeda kesunyian yang panjang, bahu Yurika terlihat merosot lesu sebelum ia beranjak pergi. Pintu ditutup perlahan, meninggalkan Fol dan Rofus berduaan lagi di dalam kereta.
Menyadari apa yang baru saja dilakukannya, wajah Fol yang memerah seolah enggan mereda. Rofus dengan iseng mencubit pipi kirinya.
"—Aduh! Rofus!?!"
"Ternyata pipimu lumayan kenyal juga."
Menghentikan godaannya, Rofus tertawa lepas sementara Fol mengusap pipinya yang membengkak, memelototinya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang salah denganmu? Aku ini sedang serius..."
Rofus mengangkat bahu dengan nada kesal.
"Kau memeluk seseorang dan berulang kali menyatakan cintamu. Apanya yang serius dari itu?"
"A-Aku serius! Dan hei, kau tadi mau mengatakan sesuatu... Apa itu?"
Fol salah tingkah, tak sanggup membalas tatapannya. Rofus memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Entahlah. Aku lupa."
"Kau lupa? Tidak, tidak, kau harus ingat!"
"Pertama-tama, aku ini pewaris keluarga marquis. Mustahil aku bisa membalas perasaan seorang rakyat jelata sepertimu."
"Lalu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini?"
"Entah itu menyerah sepenuhnya—"
"Aku tidak mau!"
"...Kalau begitu bercita-citalah untuk naik derajat dan jadilah seorang bangsawan."
Fol berkedip kaget.
"Bangsawan?"
Ia mengulang kata itu seolah sedang mencernanya, yang memancing senyuman Rofus.
"Bukannya kau tidak suka dengan gagasan menjadi bangsawan? Kalau begitu, menyerah saja. Sebagai rakyat jelata, tak mungkin kau bisa menjadi tunangan dari pewaris keluarga marquis."
"Tidak, aku akan menjadi bangsawan."
"Hah?"
"Aku akan menjadi seorang bangsawan."
"Apa kau... apa kau sadar apa yang sedang kau bicarakan?"
"Ya. Kalau aku menjadi bangsawan, maka Rofus akan membalas perasaanku, kan?"
"Tunggu, sebentar! Sekalipun kau menjadi bangsawan, bukan berarti aku akan membalas perasaanmu—"
"Tidak bisa, kau sudah mengatakannya! Kau bilang kalau aku jadi bangsawan, kau akan membalasnya! Kau harus bertanggung jawab atas ucapanmu! Kau ini bangsawan, kan?!"
"Fol, kau..."
Rofus menengadah ke langit-langit kereta dengan putus asa, sementara Fol tersenyum penuh percaya diri padanya.
"Lagi pula, apa kau tahu? Kakekku bukan sekadar pelaut; beliau adalah seorang bajak laut. Beliau adalah bajak laut yang cukup terkenal dan meneror perairan Roguebelt!"
"...Kenapa tiba-tiba membahas ini?"
"Karena aku punya darah bajak laut mengalir di tubuhku. Bajak laut mendapatkan apa yang mereka inginkan, tak peduli apa pun caranya."
Fol menatap Rofus lekat-lekat.
"Jadi, Rofus, jangan harap kau bisa kabur. Aku akan melakukan apa saja untuk menjadikanmu milikku."
Wajah Rofus berkedut melihat ekspresi Fol yang luar biasa serius.
"Hentikan! Itu terdengar seperti ancaman penculikan."
"Dan..."
Fol meraih tangan Rofus, menggenggamnya dengan lembut menggunakan kedua tangannya.
"Terima kasih."
"Ada apa ini tiba-tiba?"
Rofus mengerutkan kening kebingungan, namun Fol terus melanjutkan tanpa henti.
"Aku ingin berterima kasih karena kau telah menyelamatkan desaku—Roguebelt. Terima kasih telah bersukarela membasmi para monster. Terima kasih telah menolong para pelaut. Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku. Terima kasih telah mengalahkan paus itu. Terima kasih karena telah menyelamatkan Norn."
Kata-kata syukur Fol meluncur berulang-ulang. Setelah selesai, ia dengan lembut menyandarkan kepalanya ke dada Rofus.
"Terima kasih sudah mau mendengarkan. Aku sudah lama ingin mengatakan ini tapi tak pernah bisa."
"...Begitu ya."
Rofus menatap ke atas, meresapi kata-katanya, dan dengan lembut meletakkan tangannya di atas kepala Fol. Lalu, seolah mengumpulkan tekadnya, ia berbicara.
"...Saat aku terlempar ke perairan terkutuk itu, aku pasti sudah mati kalau kau tidak ada di sana. Aku bersyukur kau ikut bersamaku waktu itu."
Mata Fol membelalak kaget mendengar ungkapan terima kasih Rofus yang tak terduga. Wajahnya merona merah padam, diliputi emosi, dan ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Rofus.
"Rofus..."
"Ada apa?"
"...Bolehkah aku menciummu?"
"Tentu saja tidak!"
Rofus menolak dengan dingin, tapi Fol tak peduli. Ia mengalungkan lengannya ke leher Rofus dan menariknya mendekat. Wajah mereka nyaris bersentuhan.
Tepat saat bibir mereka hampir bertemu, sebuah perisai yang nyaris transparan menghentikan laju Fol. Itu adalah perisai sihir Rofus, yang ditenun dengan energi magis yang sangat padat.
Menarik diri secara perlahan, Fol mencerna apa yang baru saja terjadi, lalu mengeluarkan tawa yang mencela dirinya sendiri sebelum akhirnya berteriak.
"Aku tak percaya ini!!!"
Rofus, dengan satu tangan, menutup telinga kanannya. Di luar kereta, Yurika tersentak kaget. Di dalam, suara murka Fol bergema tak terkendali.
"Urat malu macam apa yang kau punya, Rofus, sampai-sampai kau menghentikannya tepat di situ?!"
"Apa yang kau pikir sedang kau lakukan pada seorang bangsawan? Itu praktis sebuah kejahatan!"
"Diam! Ini yang kedua kalinya buatku, jadi tak masalah! Ini sama sekali tidak merugikanmu!"
"Kedua kalinya?? Apa maksud ucapanmu itu?!"
"Lagi pula, kau sudah melihatku telanjang, jadi tanggung jawablah!"
"Itu kan untuk pertolongan pertama darurat!"
Adu mulut mereka yang riuh memenuhi seisi kereta. Memahami situasinya, Yurika menutup kedua telinganya dengan wajah datar, sadar betul bahwa perdebatan ini lebih baik tidak didengarkan. Untuk beberapa saat, suara mereka bergema hingga ke luar kereta—menggema melintasi bukit.
Nantinya, Rofus menjelaskan kepada penduduk Roguebelt bahwa orang-orang yang diselamatkan dari perbudakan sedang ditampung di gereja kota pelabuhan. Carlos, yang menyusul mereka, turun tangan untuk menengahi. Setelah berpisah dengan Fol, Rofus kembali menuju ibu kota dengan pembawaan yang sedikit murung.
*
Di kediaman utama keluarga Lightless, Rofus dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Ia duduk dengan ekspresi cemberut di hadapan seorang pria yang tatapan dingin dan tanpa belas kasihnya mampu mengintimidasi siapa saja.
Pria itu, yang sama-sama berambut hitam dengan mata gelap, mengenakan pakaian serba hitam yang melambangkan keluarga Lightless. Ia adalah kepala wilayah Marquisate Lightless saat ini—Rudens Ray Lightless, ayah kandung Rofus.
"Lama tak berjumpa, Rofus."
Meski nadanya tenang, ada hawa dingin yang menusuk di udara yang seolah mampu membekukan apa pun yang disentuhnya. Rofus mengernyit, menghindari kontak mata saat ia membalas dengan sapaan basa-basi.
"Lama tak berjumpa. Aku senang melihat Ayah baik-baik saja."
Rudens tidak menegur Rofus atas sikapnya, karena suasana seperti ini di antara mereka bukanlah hal yang baru.
"Kudengar kau baru dari perbatasan. Aku sudah membaca laporan dari Carlos."
"Begitu ya. Kalau begitu, tak banyak yang perlu kujelaskan."
"Aku ingin mendengarnya langsung darimu."
Tekanan dari Rudens semakin intens.
"Kudengar kau kehilangan lengan kirimu dan penglihatan di mata kirimu. Pengobatannya pasti sulit."
"Memang, yah..."
Jawaban singkat Rofus membuat dahi Rudens berkerut.
"...Apa itu bisa sembuh?"
"Aku akan mencari solusinya, tapi kalau tidak ada, kita bisa membuat lengan palsu."
"Apa kau sadar siapa dirimu? Kau kurang kesadaran bahwa kau adalah pewaris keluarga Lightless. Ini terlalu gegabah."
Walau suaranya tidak meninggi, kemarahan Rudens sangat kentara.
"...Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang."
Rudens terus mendesak.
"Lagipula, Rofus, penggunaan sihir terlarang di perairan perbatasan. Tagihan dalam jumlah besar telah diajukan dari serikat dagang kota pelabuhan untuk pembelian kapal, meriam, dan ramuan dalam jumlah banyak. Ditambah lagi, ada keluhan dari wilayah Steria tentang seorang saudagar terkemuka yang mengklaim kau menyerangnya. Ada juga masalah tentang ksatria kegelapan yang kau utus, yang kau salahgunakan tanpa izin. Dan lagi—"
Kewalahan oleh rentetan teguran Rudens, Rofus menghela napas panjang. Rudens menghentikan ucapannya, menatap tajam Rofus dengan ekspresi tegas.
"Rofus..."
"Kalau Ayah punya hal lain untuk dibahas, tolong tulis saja dan kirimkan ke Carlos."
Rofus membalikkan badan dan melangkah menuju pintu ruang kerja. Rudens berdiri dengan kesal.
"Kembali, Rofus. Pembicaraan ini belum selesai."
Dihentikan oleh perintah ayahnya, Rofus menoleh dengan tatapan menantang dan berkata.
"...Kalau begitu aku juga punya beberapa hal yang ingin kusampaikan."
"Apa...?"
"Korupsi para pejabat perbatasan... pajak berat yang ilegal, penculikan penduduk; pedagang budak merajalela di daerah sana. Sepertinya para pengawas juga sudah disuap—walau aku yakin Ayah sudah membaca ini di laporan."
"Aku tahu soal laporan itu. Apa yang mau kau katakan?"
"Aku ingin melihat tata kelola yang lebih baik. Rakyat sedang menderita."
Mata Rudens membelalak mendengar ucapan Rofus.
"Rofus..."
"Kalau begitu aku permisi. Aku tak ingin berlama-lama dan menakut-nakuti Ibu atau adikku yang bodoh itu."
"Tunggu, Rofus!"
Mengabaikan panggilan Rudens, Rofus keluar dari ruang kerja. Pintu tertutup dengan dingin di belakangnya. Sendirian di ruang kerja, Rudens tersungkur ke kursinya dan membuang napas panjang dan dalam.
"...Aku tak percaya Rofus peduli pada rakyat. Inikah perubahan yang dibicarakan Carlos?"
Tak ada seorang pun di sana untuk menjawab gumaman keraguannya.
*
"—Pada saat itu, aku bilang padanya, 'Rakyatlah yang menderita'. Ekspresi wajah Ayah benar-benar tak ternilai. Andai saja kau bisa melihatnya, Carlos."
Di kediaman terpisah keluarga Lightless, Rofus duduk sendirian di meja yang tertata mewah, berbicara dengan penuh semangat. Berdiri tak jauh darinya adalah Carlos, yang sedang tersenyum.
"Saya yakin Tuan Besar pasti terkejut dengan pertumbuhan Anda."
"Pertumbuhan? Apa maksudmu?"
"Selama ini, Anda tak pernah mempedulikan rakyat. Sepertinya Anda mendapatkan pengalaman yang luar biasa di Roguebelt..."
"Aku cuma berpikir kalau mengungkit soal rakyat jelata akan membuat Ayah bungkam. Lagipula siapa juga yang peduli dengan rakyat jelata?"
Rofus mendengus pada Carlos, yang berpura-pura mengusap air mata dengan lagak emosional. Melihat reaksi itu, Carlos mengangkat bahu dengan pasrah.
"Anda ini benar-benar tidak jujur, ya? Nona Farathiana juga bukan rakyat jelata, lho."
Penyebutan nama itu membawa bayangan yang lebih dalam ke ruangan yang terang benderang itu. Rofus diam-diam meletakkan pisau dan garpunya, menatap tajam Carlos dengan sepasang matanya yang berwarna hitam dan zamrud.
"...Kau tak memberitahu Ayah soal Fol, kan?"
"Tidak ada sepatah kata pun dari saya. Akan tetapi, saya memang memasukkan fakta-fakta tentang Roguebelt di dalam laporan. Tentu saja, itu termasuk urusan Nona Farathiana."
"...Kau tidak menulis hal-hal yang tidak perlu, kan?"
"Saya punya salinannya. Apa Anda mau melihatnya?"
Carlos mengeluarkan segulung laporan dari sakunya, seakan sudah menantikan momen ini. Rofus merebutnya dari tangan Carlos dan mulai membaca—amarahnya pun perlahan naik.
"...Detail tentang pembasmian monster dan korupsi Clinton didokumentasikan dengan akurat. Ini laporan yang sangat bagus."
"Terima kasih."
"Kecuali catatan terakhir tentang Fol! Apa-apaan ini!?!? Dari novel roman murahan mana tulisan ini berasal!?"
Rofus meneriaki Carlos, yang menundukkan kepalanya seolah meminta maaf. Bagian akhir yang merinci interaksi Rofus dan Farathiana dijabarkan dengan cermat dan, kadang kala, dengan detail yang menggebu-gebu, diakhiri dengan kalimat melodramatis tentang romansa membara yang menembus batas kelas sosial.
"Ini adalah sebuah mahakarya," ucap Carlos, membusungkan dadanya dengan bangga. Rofus menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
"...Harusnya aku memeriksa ini dulu sebelum menyerahkannya pada Ayah."
"Ya, itu tindakan yang agak ceroboh."
"Jangan berani-berani kau bilang begitu!"
Rofus membanting laporan itu dengan rasa frustrasi, tapi Carlos tetap tak bergeming, memasang ekspresi acuh tak acuh.
"Apa Ayah benar-benar membaca ini...?"
Rofus mendesah berat, menopang dagu dengan tangannya, tampak sangat kesal.
"...Yah, sejujurnya, bukan itu kekhawatiran utamaku saat ini."
"Memang, kita sedang menghadapi kekacauan yang sebenarnya."
Carlos mengamini keluhan Rofus. Di sebelah meja yang sarat dengan hidangan, terdapat dua tumpuk dokumen.
Satu adalah tagihan bernominal fantastis yang dikirim dari serikat dagang kota pelabuhan, dan yang lainnya berjudul "Keluhan dari Gilan, Direktur Serikat Dagang Steria."
*
Roguebelt. Di restoran yang berlokasi di belakang penginapan, putri pemilik penginapan, Lilia, sedang menjaga meja kasir. Namun, tak ada satupun pelanggan dan bagian dalam restoran itu kosong melompong. Saat jam makan siang, restoran ini akan dipenuhi oleh para pelaut yang baru saja selesai memancing di pagi hari, tapi begitu para pelaut itu pergi untuk memancing di sore hari, suasananya menjadi lengang.
Di dalam restoran kosong itu, tempat Lilia menjaga kasir, ada Norn dan Fol. Sejak diselamatkan, Norn menghabiskan sebagian besar waktunya di luar, dibantu oleh Lilia dan Fol. Di siang hari, ia terutama membantu Lilia melayani pelanggan di restoran.
Kekuatan fisiknya, yang sebelumnya hilang akibat penyekapannya, perlahan namun pasti mulai pulih. Dan ada satu orang lagi di restoran itu. Fol sering mampir ke restoran di sela-sela waktu memancingnya. Dan saat ini, Fol sedang berguling-guling di lantai, menjerit dan menggeliat kesakitan.
"Uwaaaaaah!"
Lilia, yang masih berdiri di meja kasir, menatapnya dengan pandangan dingin.
"...Dia kumat lagi. Dia selalu seperti ini sejak Tuan Rofus pergi."
Norn tersenyum kecut.
"Itu parah juga."
Lilia menghela napas.
"Kalau kau sebegitu menyukainya, harusnya kau terjang saja dia."
"Sepertinya kau melakukan sesuatu yang hampir mirip dengan menerjangnya. Kau menyatakan cinta, kau mencoba menciumnya, dan lalu..."
Perkataan Norn terputus dengan canggung, dan Lilia mengangguk seolah mengerti.
"Kalau kau sebegitu menyukainya, harusnya kau terjang saja dia."
"Ya, kau ditolak."
"—Aku tidak ditolak!"
Fol bangkit berdiri dan berteriak menyangkalnya. Norn terkekeh melihat tingkah Fol.
"Tapi umur Rofus kan masih dua belas tahun, kan? Pasti sulit untuk merespons perasaan Fol, bukan?"
"Iya, asal kau tahu saja... Aku menyatakan cinta pada anak umur dua belas tahun dan mencoba menciumnya–ahhh! Serius, apa yang kulakukan ini? Ahhh!?"
Fol kembali merosot dalam-dalam, lalu mulai menjerit seperti orang gila. Lilia mengangkat bahu dengan pasrah.
"Kau bukannya sedang tidak stabil secara emosional... Sebaiknya kau hentikan itu sebelum ada pelanggan yang datang."
"Usia Fol sudah empat belas tahun, jadi perbedaan umur sepertinya bukan masalah..."
Norn mencoba membelanya, tapi Lilia tak kenal ampun.
"Tapi kau ditolak, kan?"
"Aku tidak ditolak!"
Suara Fol bergema di seantero ruang makan yang kosong. Roguebelt kembali sibuk hari ini.
*
Sudah sekitar tiga bulan berlalu sejak Rofus kembali ke ibu kota dari Roguebelt. Di sebuah penjara bawah tanah tertentu di wilayah Steria. Seorang pemuda berambut pirang ditahan dengan tangan dan kaki yang dibelenggu oleh rantai yang kuat. Di dalam ceritanya, ia dianggap sebagai yang terkuat dari Empat Raja Langit dan juga dikenal dengan julukan sang «Penunggang Naga» - Valm Rio Draconis. Di penjara negeri bersalju itu, bahkan udara yang kau hembuskan pun membeku menjadi putih.
"Maaf Rofus, aku mengacaukannya..."
Gumaman frustrasi Valm meleleh perlahan dalam kegelapan penjara yang membekukan.
*
Matahari pagi menyusup lewat jendela, menerangi secangkir kopi pagi yang pekat. Hari yang baru telah tiba. Berdiri tak jauh dari sana, Carlos memberikan bungkukan hormat yang anggun.
"Selamat pagi, Tuan Rofus. Ada tamu yang memohon audiensi. Mereka sudah menunggu di ruang tamu."
"...Suruh mereka pergi. Mereka pikir ini jam berapa?"
Menanggapi dengan nada jengkel, aku melihat Carlos melirik arloji sakunya.
"Ini sudah lewat jam sembilan. Anda bangun sedikit terlambat hari ini."
"...Apa mereka dari serikat dagang kota pelabuhan itu lagi?"
"Benar, kali ini sepertinya para eksekutifnya."
Mendengar hal itu, aku membuang napas pelan. Sepertinya akhir-akhir ini aku semakin sering menghela napas.
"...Sarapannya nanti saja setelah pertemuan."
"Mengerti."
Aku mengenakan setelan hitam untuk pertemuan itu dan melangkah keluar dari kamar tidur menuju ruang tamu.
Tiga bulan telah berlalu sejak kepulanganku dari Roguebelt. Segala permasalahan yang menyelimuti kota pelabuhan itu—dan secara lebih luas lagi seluruh wilayah tersebut—belum juga tuntas sepenuhnya.
Banyak kota dan desa yang masih terpuruk dalam kemiskinan akibat kenaikan pajak ilegal yang diberlakukan oleh Clinton. Para penduduk yang diculik dan dijual sebagai budak belum semuanya berhasil diselamatkan. Meski kami telah menggulung dua kelompok pedagang budak, pasar budak gelap nyatanya masih mengakar kuat.
Terlebih lagi, dengan kematian Clinton dan ketiadaan sosok perwakilan, langkah-langkah tindak lanjut pun terpaksa tertunda.
Semuanya akan jauh lebih mudah kalau aku bisa mengisi posisi perwakilan itu sendiri, namun mengingat usiaku yang baru dua belas tahun, tak heran jika ayahku menolak gagasan itu. Untuk saat ini, aku berupaya memperketat kendali atas pelaksana tugas perwakilan yang diutus untuk menggantikanku, mengubahnya menjadi boneka yang akan patuh menjalankan perintahku untuk langkah-langkah tindak lanjut.
Sayangnya, belum ada titik terang untuk mengatasi kemiskinan di berbagai kota dan desa, dan proses perlindungan budak pun berjalan lamban. Andai saja aku bisa mengerahkan Ksatria Kegelapan, ceritanya pasti akan berbeda, namun mereka berada di bawah komando langsung ayahku, sehingga aku tak punya wewenang untuk menggerakkan mereka sesuka hati.
Sebagai langkah darurat, aku mengeluarkan pemberitahuan pembebasan pajak di beberapa area yang miskin, namun itu tak lebih dari setetes air di lautan. Kendati pembebasan pajak ini bisa memberikan sedikit kelonggaran, akar masalah kemiskinan ini sudah terlalu dalam dan butuh solusi yang mendasar.
Di samping itu, karena sumber daya finansial wilayah Lightless juga terbatas, aku tak bisa terus-menerus memberikan pembebasan pajak. Aku harus segera merumuskan solusi, tapi tampaknya si perwakilan boneka ini tak punya usulan yang berbobot sama sekali.
Dan sekarang, datang pula tuntutan dari serikat dagang kota pelabuhan. Clinton si brengsek itu telah memesan berbagai perlengkapan untuk pembasmian monster—kapal, meriam, ramuan, semuanya dengan sistem bayar belakangan, dan tagihannya dialamatkan padaku, Rofus Ray Lightless.
Pada umumnya, mustahil bagi serikat dagang untuk menyetujui pembayaran di belakang untuk pasokan semacam itu, tapi jabatan Clinton sebagai perwakilan memberikan kredibilitas yang meyakinkan. Benar-benar hadiah perpisahan yang sangat merepotkan.
Buntutnya, selama tiga bulan terakhir ini aku tenggelam dalam tumpukan dokumen untuk tindakan lanjutan serta rapat yang tak berkesudahan dengan anggota serikat dagang, sampai-sampai nyaris tak ada waktu untuk istirahat. Diskusi dengan serikat dagang kota pelabuhan pada awalnya selalu berujung buntu. Mereka ngotot menuntut agar aku melunasi tagihan sesuai yang tertera, tanpa mau berkompromi sedikit pun. Tanggapan kami adalah bahwa kami adalah pihak yang dirugikan, mengingat Clinton melakukan transaksi tersebut di luar persetujuan kami.
Terlebih lagi, karena tanda tanganku tidak tertera di kontrak, secara teknis bisa dibilang tak ada kesepakatan yang sah. Sialnya, Clinton menggunakan kontrak dengan cap lambang keluarga Lightless dalam transaksinya, yang membuat segalanya menjadi sangat rumit.
Sekalipun tak ada tanda tanganku, keberadaan lambang keluarga itu bisa menjadi dasar anggapan bahwa kontrak itu sah. Penggunaan lambang Lightless hanya diizinkan bagi anggota keluarga Lightless, kerabat mereka, dan mereka yang terlibat dalam pemerintahan wilayah Lightless. Clinton, selaku perwakilan, jelas memenuhi kriteria tersebut. Alhasil, negosiasi pun jalan di tempat.
Akan tetapi baru-baru ini, aku membagikan sebuah cerita kepada para anggota serikat yang mungkin tidak bisa dibilang sebagai kompromi, tapi bisa menjadi nilai tawar yang kuat. Aku menceritakan tentang perairan berbahaya—yang selama ini menjadi hambatan untuk perdagangan maritim—di mana aku telah sukses menaklukkan iblis pemakan manusia yang bersembunyi di sana dan kini berhasil mengendalikannya. Kenyataannya, aku sudah membunuhnya dan mengubahnya menjadi pelayan bayangan, tapi perbedaannya tidak terlalu penting.
Iblis ini hanya akan mematuhi perintahku dan tidak akan menyerang kapal-kapal yang kuizinkan lewat. Begitu aku menyampaikan informasi tersebut, ekspresi para saudagar yang hadir langsung berubah drastis.
Tentu saja. Perkembangan ini akan membuka jalur perdagangan langsung dengan wilayah Steria. Mengingat Steria berada di wilayah yang dingin, tempat itu menjadi habitat bagi makhluk magis unik, termasuk naga terbang. Bulu dan batu ajaib dari makhluk-makhluk ini punya nilai jual yang fantastis di wilayah lain. Di samping itu, kerajinan tangan khas Steria dan barang-barang mewahnya merupakan peluang emas yang sangat menggiurkan bagi para saudagar. Tak ada alasan bagi mereka untuk tidak antusias. Sejak saat itu, perdebatan soal tagihan menguap begitu saja, sepenuhnya bergeser menjadi pembahasan tentang perdagangan dengan Steria.
Fokus utamanya kemudian beralih ke hak komersial dan pajak perdagangan yang berlaku untuk bisnis ini. Saudagar-saudagar serakah itu hampir setiap hari muncul di kediamanku. Perjalanan dengan kereta kuda memakan waktu dua hari, jadi intensitas kunjungan mereka ini mengisyaratkan betapa besarnya ekspektasi keuntungan yang mereka bayangkan.
"—Diskusi hari ini benar-benar membuahkan hasil. Kita akan segera bertemu lagi, Tuan Besar."
"Tidak dalam waktu dekat. Kalian orang-orang bodoh seharusnya mengurangi intensitas kunjungan kalian."
Sekali lagi, rapat ditutup tanpa hambatan, dan para eksekutif serikat itu pulang dengan senyum yang merekah. Hasil dari perundingan kami adalah bahwa tagihan untuk kapal dan pasokan lainnya akan diselesaikan sebagai utang dari serikat dagang kepada keluarga Lightless.
Hutang tanpa bunga dan tanpa batas waktu—yang pada dasarnya berarti tak perlu kulunasi. Tentu saja, sebagai imbalannya aku harus memberikan serikat dagang ini hak istimewa tertentu terkait hak perdagangan.
Usai melakoni rapat panjang yang memakan waktu berjam-jam, aku benar-benar kehabisan tenaga. Aku merebahkan diri dengan malas di sofa ruang tamu yang baru saja ditinggalkan oleh para saudagar itu. Tepat saat itu, Carlos kembali setelah mengantar mereka keluar.
Di tangannya terdapat senampan kopi dan roti lapis ham dan telur—sarapan permintaanku sudah disiapkan.
"Ah, Anda kelihatan sangat lelah," komentarnya.
"Aku nyaris tak punya waktu untuk istirahat. Kalau bisa, aku ingin membuang semuanya."
"Itu adalah hal yang tak perlu Anda cemaskan. Bukankah lebih baik kalau urusan itu diserahkan kepada kepala keluarga?"
Menyerahkannya pada ayahku? Justru karena dia membiarkan Clinton bertindak semaunyalah kami terjerumus ke dalam situasi yang sangat menyebalkan ini. Sudah jelas dia akan mengulangi kesalahan yang sama kalau diberi kesempatan.
"Jangan harap. Ayah pasti sudah sangat kelelahan mengelola wilayah yang begitu luas, terutama setelah membiarkan orang seperti Clinton berkeliaran dengan bebas."
Aku melontarkannya dengan sarkasme yang tajam, dan Carlos menunduk dengan canggung.
"Itu... karena pengawas yang ditunjuk telah menerima suap..."
"Alasan semacam itu tak ada artinya bagi rakyat yang menderita."
Aku juga ikut menderita, nyaris terbunuh tak terhitung kalinya. Carlos terdiam, tak mampu membalas. Aku mendengus meremehkan, merenung sambil mengunyah roti lapis yang dibawakan Carlos.
Ancaman perairan berbahaya—bahayanya idealnya harus tetap ada. Kalau saja cuma kapal-kapal yang mengantongi izin Lightless yang bisa berlayar di perairan ini, keuntungan dari perdagangan dengan Steria akan sepenuhnya menjadi monopoli kami.
Itu artinya aku harus pergi ke Roguebelt dan melepaskan Strath. Namun, di luar tumpukan dokumen tindak lanjut, aku harus terus berkomunikasi dengan pejabat boneka yang kuangkat. Sama sekali tidak ada waktu. Mungkin memindahkan markas operasiku dari kediaman utama ke kota pelabuhan untuk sementara waktu akan lebih praktis?
...Tapi kalau aku melakukannya, ayahku mungkin akan memanggil Ksatria Kegelapan lagi. Semuanya terasa begitu menyebalkan. Tepat pada saat itu, Carlos buka suara, seolah teringat akan sesuatu.
"Ngomong-ngomong, keberangkatan Anda minggu depan sudah semakin dekat."
"...Apa?"
Minggu depan? Keberangkatan? Apa maksud perkataannya?
"Oh, apa Anda lupa? Sebelumnya Anda sangat antusias sampai-sampai sulit menahan diri. Pesta yang diselenggarakan oleh Duke Galleon."
"Ah, benar..."
Aku memang sudah menerima undangannya sejak tiga bulan yang lalu. Aku takkan bisa melupakan hari itu, hari yang membawa mimpi buruk akan pembunuhan yang tak terhitung jumlahnya bersamanya. Aku bukannya menantikan hal itu.
Duke Galleon adalah keluarga dari tokoh antagonis utama kedua di cerita ini, Raja Iblis Kedua, Raymond. Datang ke pesta itu berarti aku akan berhadapan langsung dengannya. Ini kemungkinan akan menjadi perjumpaan perdana kami di dalam jalan cerita ini.
Sejujurnya, aku merasa waswas—tidak, sangat cemas. Bagaimanapun juga, karena hubunganku dengan Raymond-lah aku menjadi salah satu dari Empat Raja Langit dan pada akhirnya menemui ajalku.
Kalau aku memilih untuk tidak datang ke pesta itu, mungkin aku bisa mengubah masa depan di mana aku menjadi pengikut Raymond. Kalau itu terjadi, tentu saja aku takkan menjadi salah satu dari Empat Raja Langit dan takkan menghadapi kematian.
Terlebih lagi, jarak perjalanan ke wilayah Galleon sangatlah jauh tak terhingga. Tanah kekuasaan Duke terletak di wilayah barat, tepat berseberangan dengan wilayah Lightless, yang berada di sebelah timur kerajaan.
Bahkan dengan menggunakan kereta kuda sekalipun, perjalanan satu arah akan memakan waktu setidaknya satu minggu. Meskipun menumpang kereta api melintasi ibu kota bisa sedikit memangkas waktu perjalanan, aku sedang sibuk-sibuknya mengurusi tindakan lanjutan dan negosiasi dengan serikat dagang, jadi kalau harus pergi selama lebih dari seminggu... Ya, kurasa aku memang harus melewatkan pesta itu.
"Carlos, kirimkan balasan kepada Duke Galleon, sampaikan bahwa aku tidak akan hadir di pesta itu."
"Hah?? Apa yang tiba-tiba merasuki Anda, memutuskan untuk tidak hadir di saat-saat terakhir begini...?"
Aku menunjukkan siku kiriku yang tak punya banyak masa depan lagi pada Carlos, membiarkannya menjuntai saat aku berbicara.
"Waktu itu sangat berharga. Lengan kiriku belum sembuh, jadi aku akan menjadikan penyakit sebagai alasanku."
"Itu... akan sangat sulit," sahut Carlos.
"Memangnya kenapa?"
"Yah, surat balasan yang menyatakan bahwa Anda akan hadir sudah terlanjur dikirim ke Duke Galleon, dan yang lebih penting, kepala keluarga juga akan hadir..."
Carlos mengalihkan pandangannya, jelas-jelas merasa serba salah dengan situasi ini. Ayahku akan hadir? Setelah dipikir-pikir lagi, itu masuk akal juga. Sangat tidak masuk akal jika mengundang seorang putra yang bahkan belum dewasa ke sebuah pesta. Wajar saja jika ayahku, sang kepala keluarga saat ini, yang akan hadir. Kalau begitu...
"Carlos."
"Ya, ada apa?"
Aku menyipitkan mataku dan menatap ke luar jendela.
"Kupikir minggu depan aku akan terserang sakit perut."
Carlos mendesah pasrah.
"...Saya harap Anda bisa mengelabui kepala keluarga."
Itulah tantangan yang sesungguhnya.
*
Singkat kata, aku tak bisa menolak untuk datang. Tiga kereta kuda berbaris di depan rumah besar itu pagi-pagi sekali. Aku mengenakan mantel luarku dan digiring menuju kereta.
"Ayah, aku merasa tidak enak badan..."
"Diam. Masuklah."
"Aku sudah memutuskan untuk tidak ikut kali ini..."
"Apa kau mencoba mempermalukan keluarga Lightless?"
"..."
Tatapan membunuh dari ayahku memperjelas bahwa aku tak punya hak untuk menolak. Memang, membatalkan secara sepihak di saat-saat terakhir setelah mengkonfirmasi kedatangan akan menjadi sebuah pelanggaran etika, bukan hanya sebagai bangsawan, tapi juga sebagai manusia.
Di lingkaran bangsawan di mana tata krama sangat dijunjung tinggi, kelakuan seperti itu hanya bisa dimaklumi jika terjadi keadaan darurat yang luar biasa. Andai aku mundur, hal itu mau tidak mau akan menodai pandangan keluarga Galleon. Merusak reputasi keluarga Galleon hanya akan membawa kerugian bagi marquisate Lightless. Aku tak punya pilihan selain masuk ke dalam kereta dengan patuh.
Namun, ayahku tampak tegang tak seperti biasanya, seolah-olah ia sedang terpojok, tak ada raut ketenangan sedikit pun darinya. Mungkin tatapan tajamnya itu adalah buntut dari insiden di ruang kerja tempo hari, ketika aku dengan berani menyatakan bahwa penderitaan rakyat adalah akibat dari kepemimpinannya. Tebakanku, ucapanku waktu itu telah meninggalkan kesan yang sangat buruk padanya. Ketika akhirnya ia menyusulku ke dalam kereta, ia duduk tepat di hadapanku.
Dengan posisi kami yang saling berhadapan, aku perlahan berdiri. Tatapan tajamnya menusukku.
"Mau ke mana kau?"
"...Ke kereta di belakang."
Ada tiga kereta yang bertolak menuju wilayah Galleon. Kereta pertama adalah kereta yang kami tumpangi, yang kedua khusus untuk para pelayan yang ikut, dan yang ketiga adalah gerobak yang memuat hadiah-hadiah untuk Duke Galleon.
Carlos berada di kereta kedua. Meski fasilitasnya sedikit di bawah kereta kami, itu sama sekali tak jadi masalah. Menghabiskan perjalanan panjang berduaan saja dengan ayahku sangatlah jauh dari kata ideal. Namun, ia mementahkan permintaanku dengan jawaban yang ketus.
"Tidak boleh."
"Tapi aku ingin bersama Carlos..."
"Ada pelayan-pelayan lain juga di sana. Kalau kau ke sana, semua orang akan merasa terintimidasi. Apa kau tidak bisa mengerti hal itu?"
Perkataan ayahku membuat darahku mendidih. Aku nyaris berdecak kesal tapi untungnya aku masih bisa menahannya di detik-detik terakhir. Namun, apa yang dikatakannya tidaklah salah, dan aku tak bisa membalasnya. Sungguh menyebalkan, namun pada akhirnya aku kembali duduk dalam diam.
"Ayo berangkat."
Perintah dingin ayahku bergema di dalam kereta, dan kami pun berangkat menuju wilayah Galleon. Demikianlah awal mula perjalanan panjang yang bagaikan neraka ini.
*
Di dalam kereta yang menuju wilayah Galleon, satu-satunya yang menyekat antara aku dan ayahku hanyalah keheningan yang menyesakkan. Kami bukanlah tipe orang tua dan anak yang suka mengobrol santai, jadi situasi ini sudah bisa ditebak.
Suasana tegang ini terasa seperti neraka. Kendati ini adalah hal yang lumrah, namun terjebak di ruangan tertutup yang sama dalam waktu selama ini adalah pengalaman pertamaku. Suasana hatiku benar-benar sangat buruk.
Aku memalingkan pandanganku dari ayahku dan menatap ke luar jendela. Setelah apa yang terasa seperti keabadian terguncang-guncang oleh laju kereta, ayahku tiba-tiba angkat bicara.
"...Apa benar kau menyukai seorang putri dari kalangan rakyat jelata?"
"..."
Pertanyaannya yang di luar dugaan membuatku terkejut, dan aku harus menahan tawa, memaksakan diriku untuk menjawab dengan setenang mungkin.
"...Apa ini dari laporan? Itu cuma imajinasi Carlos saja."
Ayahku menatapku lekat-lekat, seolah sedang mencoba menguliti kebenaran dariku.
"...Gadis itu dari desa nelayan. Kalau aku tidak salah, namanya Farathiana."
Mendengar namanya terucap dari bibir ayahku membuatku dipenuhi rasa kesal yang tak dapat dijelaskan.
"Aku akan sangat menghargainya kalau Ayah berhenti membahas ini. Aku sama sekali tidak berniat meladeni omong kosong semacam ini."
"Aku juga menerima laporan serupa dari Alba tentang seorang gadis."
"...Begitu ya?"
Alba, kapten ksatria... dia rupanya punya bakat untuk mengoceh soal hal-hal yang tidak penting. Dalam hati, aku mencatat untuk mengingat pria berambut perak itu.
"Sepertinya kita berdua punya bawahan yang gemar mengarang fantasi bodoh."
"Apa kau menyangkalnya? Kalau begitu, bawa gadis itu ke sini..."
Aku melepaskan lonjakan energi magis, melumat habis kata-kata yang menyusul usulan ayahku. Kendati diselimuti oleh niat membunuhku, ia tetap mempertahankan ketenangannya, meski bibirnya masih bergerak.
"Rofus... itu sama saja dengan pengakuan."
Aku memberinya tatapan penuh amarah.
"Sekarang, mari kita asumsikan, seandainya, itu memang benar. Memangnya apa yang akan terjadi?"
"Jangan terlalu waspada. Tidak akan terjadi apa-apa, dan aku juga takkan melakukan apa-apa. Kau belum punya tunangan. Kesepakatan dengan Vermei bisa diselesaikan sesukamu."
Vermei—sebuah janji yang dibuat antarkeluarga bahwa aku akan bertunangan jika ada seorang gadis yang lahir sebelum aku beranjak dewasa. Itu adalah kesepakatan yang lumrah di kalangan bangsawan.
"Lalu kenapa diungkit-ungkit?"
Menanggapi tatapan menyelidikku, ayahku hanya mengangkat bahu.
"Aku menyadari bahwa kita sudah lama tidak berbincang layaknya ayah dan anak, jadi kupikir aku akan mengajakmu mengobrol ringan."
Aku tak sanggup menahan kekehanku mendengar ucapannya.
"Berbincang layaknya ayah dan anak, katamu? Mengejutkan sekali; aku tak pernah menduga akan mendengar hal seperti itu dari Ayah."
"Apanya yang lucu? Ngomong-ngomong, kapan kau berencana kembali ke kediaman utama?"
"Kembali ke kediaman utama? Aku? Ayah pasti bercanda. Ayah pasti tak mungkin tidak tahu kalau Ibu dan adikku yang bodoh itu ketakutan padaku. Lagipula, bukankah Ayah sendiri yang memindahkanku ke kediaman terpisah?"
Ayahku telah memerintahkanku untuk pindah ke kediaman terpisah saat usiaku sepuluh tahun. Sebelumnya, saat aku masih kecil, aku sama sekali tak bisa mengendalikan kekuatan sihir dan mantra dahsyat yang kumiliki. Pernah suatu kali, karena kecerobohanku, sebuah mantra yang kurapal lepas kendali dan hampir mengenai adik laki-lakiku. Ibuku turun tangan untuk melindunginya, dan ayahku menghentikan sihirku yang mengamuk itu.
Insiden itu adalah kegagalan pertamaku usai selalu dipuja sebagai pengguna sihir terkuat dalam sejarah keluarga Lightless, reinkarnasi dari Kaisar pertama. Semenjak hari itu, aku mengabdikan diriku untuk belajar mengendalikan sihirku. Hari demi hari, aku berlatih tiada henti, bahkan mengorbankan waktu tidurku.
Hasilnya, aku akhirnya berhasil menguasai kendali sihir pada usia sepuluh tahun, namun ayahku malah memindahkanku ke kediaman terpisah. Ketakutan adik dan ibuku terhadapku telah tumbuh menjadi begitu luar biasa hingga mengganggu rutinitas keseharian kami. Aku tidak membenci keputusan pemindahan itu; kendati aku pernah mengalami fase di mana aku menjadi sangat sinis ketika usaha kerasku tak diakui dan justru diragukan, pada akhirnya aku menganggap semua itu sudah tak ada relevansinya lagi sekarang. Ayahku diam-diam memalingkan pandangannya.
"...Sudah dua tahun berlalu. Kau seharusnya sudah bisa mengendalikan sihirmu sekarang. Lagi pula, kalau kita terus hidup terpisah, hubungan keluarga kita akan tetap seperti ini selamanya."
"Sekarang Ayah memintaku untuk memperbaiki hubungan itu?"
"Saat aku menyuruhmu kembali ke kediaman utama setahun yang lalu, kenapa kau tidak mau kembali?"
"Aku takkan kembali. Kapan pun itu, aku sama sekali tak ada niatan untuk kembali."
Aku tak lagi merasa butuh untuk kembali.
"Rofus..."
Aku memalingkan wajah, enggan menatap ayahku saat ia menggumamkan namaku.
"Sekian dulu. Aku mau istirahat, jadi jangan pedulikan aku."
Aku memejamkan mata, menampik segala bentuk percakapan lebih lanjut. Hingga kami tiba di kota yang kami lewati, tak satu pun dari kami mengucapkan sepatah kata.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments