Ia tidak bisa mengingat momen tepatnya ia menyadari bahwa dirinya telah mati. Pikirannya berkabut, namun ingatan-ingatannya terasa sangat jernih, menciptakan sensasi seperti mimpi yang ganjil.
Hikaru teringat kata-kata seniornya di sekolah: "Semua orang mati menyeberangi Sungai Sanzu mengenakan pakaian putih. Mengapa kita harus tetap berkelompok bahkan setelah mati?"
Tarikan napas panjang membawa kesadarannya kembali. Udara dingin seolah meresap ke dalam otaknya. Dalam kondisi kurang tidur, ia merasa seolah sedang berada di bioskop, menonton cuplikan memorinya sendiri di layar perak. Namun saat ia tersadar sepenuhnya, ia baru menyadari bahwa kakinya sedang melangkah.
Ada antrean yang sangat panjang.
Semua orang mengenakan pakaian jinbei putih yang identik. Di sekelilingnya, gedung-gedung abu-abu menjulang seperti pencakar langit, namun tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tanpa jendela. Jika harus dideskripsikan, gedung-gedung itu tampak seperti nisan raksasa.
Jadi, aku benar-benar mati, ya…
Ingatan terakhirnya muncul kembali. Hikaru sedang menuju minimarket larut malam mengenakan hoodie hitam—alasan mengapa pengemudi itu mungkin tidak melihatnya. Malang tak dapat ditolak. Saat menyeberangi zebra cross tanpa lampu lalu lintas, ia melamun dan gagal menyadari truk yang melaju kencang. Ia terlalu terpaku pada ucapan seniornya tentang Sungai Sanzu. Ia nyaris tak ingat saat tabrakan terjadi. Hanya rasa mati rasa, lalu kegelapan.
Tempat ini mengerikan. Apakah ini sesudah atau sebelum menyeberangi Sungai Sanzu? Apakah sungai itu bahkan ada?
Antrean di depan mata Hikaru, dengan kata lain, adalah prosesi orang mati. Hikaru berada dalam kondisi linglung sampai beberapa saat lalu—seolah kondisi itu dipaksakan secara gaib. Melihat sekeliling, hampir semua orang tampak kosong dan tak bernyawa.
Tiba-tiba, Hikaru mendapatkan firasat bahwa ada "Hakim" di depan sana yang akan menentukan apakah ia akan ke surga atau neraka. Gagasan itu muncul begitu tidak alami, seolah makhluk supernatural menanamkannya langsung ke otaknya.
Ia bergidik. Ada keberadaan di sini yang menantang sains dan logika. Alam baka terasa terlalu tidak ilmiah baginya.
"Oh… Aaaahhh!"
Seseorang dalam antrean mulai berteriak histeris. Ada yang mencoba bicara pada orang di sampingnya namun diabaikan. Beberapa orang, seperti Hikaru, tampak mulai sadar, namun mereka adalah minoritas.
Di antara mereka yang linglung, ada beberapa orang yang menggenggam sesuatu seperti kantong kecil dengan cahaya yang merembes keluar. Ia tak tahu apa itu.
Apa yang harus kulakukan…
Kepala Hikaru sudah cukup jernih untuk berpikir bahwa ini adalah pengalaman langka. Ia memutuskan untuk keluar dari barisan sejenak dan berjalan-jalan di sekitar nisan raksasa tersebut.
Tak kusangka aku akan mati secepat ini…
Ia tewas secara prematur di usia lima belas tahun. Ia diberi nama Hikaru, yang berarti 'bersinar', dengan harapan ia tumbuh menjadi pemuda dengan masa depan cerah. Namun, ia selalu hidup dalam bayang-bayang. Atau mungkin lebih tepatnya, ia memilih untuk tetap di sana. Tidak berinteraksi dengan orang lain membuat hidup lebih mudah; ia tidak melihat keuntungan dari menjadi pusat perhatian.
Bahkan saat SD dan SMP, ketika kemampuan atletik bisa membuat seseorang menjadi bintang, Hikaru tetap rendah hati. Bukan berarti ia tidak berbakat; faktanya, ia cukup mahir dalam olahraga. Namun ia tidak memiliki hasrat untuk berdiri di bawah sorotan lampu atau mengejar gelar juara nasional. Ia hanya melakukan batas minimum, tidak lebih.
Mungkin orang tuanyalah yang memengaruhi ketidakpeduliannya terhadap interaksi sosial. Ia tidak membenci mereka, namun seiring mendinginnya hubungan kedua orang tuanya, Hikaru kian menjauh. Mereka tinggal di bawah satu atap, namun bertindak seperti orang asing.
Aku bahkan tidak merasakan apa pun tentang orang tuaku setelah mati… Apakah itu alasannya aku bisa sadar dengan cepat?
Jika orang mati memiliki kenangan manis, mereka akan menoleh ke belakang dengan rindu. Namun Hikaru tidak memiliki memori tentang orang tuanya yang ingin ia kenang kembali. Ia juga tidak peduli pada sang Hakim.
"Hmm?"
Saat Hikaru berjalan tanpa tujuan ke belakang sebuah nisan raksasa, ia merasakan kehadiran manusia.
"Ayo, gerak!" "Hehehe. Kami juga mati gara-gara kau." "Bocah kurang ajar. Kami akan menyiksamu selamanya, jadi bersiaplah."
Tiga pemuda sedang menendangi seorang remaja yang meringkuk ketakutan.
Perundungan bahkan setelah mati, ya? Kalian sudah terlalu tua untuk ini. Aku tidak suka melihatnya.
Mungkin mereka saling kenal saat masih hidup dan mati di waktu yang sama, namun penindasan itu terus berlanjut. Ini lebih buruk dari perundungan; ini adalah pengeroyokan.
Apa yang harus kulakukan?
Hikaru belum pernah berkelahi melawan tiga orang. Ia bahkan tidak ingat pernah terlibat duel satu lawan satu. Baginya, kekerasan adalah hal barbar dan sama sekali tidak efisien.
Pengamatan lebih dekat menunjukkan salah satu perundung itu bertubuh besar. Dua sisanya kurus dan gemuk—kemungkinan besar pesuruh si bos besar. Ia hanya perlu membereskan pemimpinnya.
Mata Hikaru bertemu dengan mata pemuda yang ditindas itu. Ada secercah kehidupan di matanya. Hikaru mengangguk. Terkejut, pemuda itu mendadak menjadi serius. Wajahnya seolah berkata, "Jika kau membantuku, aku juga akan bergerak."
Oke, mari kita lakukan.
Hikaru memutuskan untuk menggunakan kekerasan, sesuatu yang tidak akan pernah ia lakukan saat masih hidup. Ia mengambil keputusan itu dengan sangat mudah. Sebagian dirinya merasa bahwa "efisiensi" tidak lagi penting sekarang setelah ia mati, dan ia ingin mencoba sesuatu yang baru. Mungkin situasi abnormal ini menumpulkan rasa bahayanya.
Saat jarak mereka tinggal tiga meter, si pria besar menoleh.
"Hah?"
Hikaru melangkah maju dan menendang pantat pria besar itu sekuat tenaga. Kakinya agak goyah karena belum terbiasa, namun Hikaru adalah tipe orang yang cepat belajar.
"Aaaaaaahhh!" Pria besar itu jatuh tersungkur.
Satu detik kemudian, pemuda yang ditindas itu melompat berdiri. Si kurus dan si gemuk hanya melongo, tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Saat si pemimpin mencoba bangkit, pemuda itu menendang wajahnya hingga jatuh kembali dengan hidung berdarah.
Hikaru menoleh ke dua orang sisanya. "Kalian mau giliran berikutnya?"
"Wahh!" "L-Lari!"
Mereka kocar-kacir ke arah berbeda. Saat si pria besar bangkit kembali dengan amarah yang meledak, Hikaru menendang selangkangannya. Pria itu mematung, mulutnya megap-megap menahan sakit, lalu ambruk seperti ulat yang terguling.
"Ayo lari," ajak pemuda itu. "Mumpung ada kesempatan!"
Mereka berlari menjauh.
"Luka sembuh cepat di sini. Pria itu akan segera bangkit," kata si pemuda. "Sudah berapa lama mereka memukulimu?" tanya Hikaru. Pemuda itu tertawa pahit. "Mungkin beberapa hari? Atau minggu? Aku tidak yakin. Tempat ini benar-benar merusak indra waktu."
Rupanya, pemuda itu mati karena sengaja menabrakkan mobil yang dikemudikan geng perundung tersebut ke sungai. Ia muak dengan kejahatan penipuan yang mereka lakukan dan memutuskan untuk menebus dosanya dengan menyeret mereka semua ke kematian. Mereka semua berusia delapan belas tahun.
Setelah merasa aman, mereka berhenti.
"Berapa usiamu?" tanya pemuda itu. "Lima belas," jawab Hikaru. "Hah. Jadi bocah yang tiga tahun lebih muda dariku baru saja menyelamatkan nyawaku."
Pemuda itu terkekeh kering. "Ini. Ambillah." Ia mengeluarkan kantong kecil dari sakunya. Saat dibuka, cahaya merembes keluar.
"Aku melihat orang-orang di barisan memegang benda ini. Apa ini?" tanya Hikaru. "Entahlah. Aku hanya memilikinya saat aku terbangun. Aku tahu ini sesuatu yang penting, tapi aku tidak tahu tepatnya apa. Ambillah, kau telah memberiku keberanian."
Pemuda itu melambaikan tangan dan pergi menuju antrean penghakiman, bertekad untuk menebus dosanya secara jantan.
"Aku menyukaimu." Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang Hikaru. "Aku suka bagaimana kau tidak bisa mengabaikan orang yang butuh bantuan."
Hikaru berbalik cepat. "Siapa kau?!"
Di depannya berdiri seorang anak laki-laki seusia Hikaru. Rambutnya pirang keemasan dan matanya berwarna biru. Ia mengenakan pakaian beludru kuno dengan korsase di kerahnya, tampak seperti bangsawan dari lukisan minyak abad pertengahan.
Aneh. Seharusnya hanya ada orang Jepang di sini, pikir Hikaru. Semua orang di barisan memiliki rambut dan mata hitam.
"Aku ingin kau pergi ke duniaku dan hidup menggantikanku," kata anak itu. "Apa yang kau bicarakan? Itu tidak masuk akal." "Aku akan segera mati." Ia mengangkat kemejanya, memperlihatkan perut yang terluka parah. "Tapi aku sudah mati," balas Hikaru. "Dan aku diberitahu bahwa luka sembuh cepat di sini."
"Itu tidak berlaku bagiku. Aku dari dunia lain. Kau tahu di mana kau berada, bukan? Ini adalah pintu masuk alam surgawi, tempat jiwa diadili. Mantra pelintas duniaku hanya mampu menghubungkanku ke tempat ini."
Anak itu memohon Hikaru untuk bereinkarnasi ke dunianya dan mengabulkan satu permintaannya. Sebagai imbalannya, Hikaru bisa hidup kembali dalam tubuhnya.
"Apa syaratnya?" tanya Hikaru tajam. "Apa yang harus kulakukan setelah aku hidup kembali?" "Aku akan menjelaskannya setelah kau bangkit. Aku terburu-buru, waktuku di sini terbatas."
Sosok anak itu mulai memudar dan menjadi transparan. "Namaku Roland. Roland N. Zaracia. Tubuh fisikku adalah milikmu sekarang."
Pandangan Hikaru menjadi putih kabur. Dan jiwanya lenyap dari alam roh tersebut.
Kontrak Darah dan Soul Board
Hikaru menarik napas dalam. Oksigen mengalir masuk, membanjiri paru-parunya, lalu memacu jantung untuk memompa darah hangat ke seluruh pembuluh darah. Kehangatan raga yang memiliki aliran darah terasa begitu nyata—sesuatu yang hampir ia lupakan. Telinganya menangkap rintik hujan yang menderu, sementara hidungnya mencium aroma anyir darah yang tajam. Saat pandangannya fokus, ia menyadari dirinya berada di sebuah kamar hotel yang remang-remang.
Hikaru terkesiap oleh sensasi fisik yang begitu hidup; seolah-olah ini adalah pertama kalinya ia benar-benar "merasakan" tubuh. Dengan sisa tenaga, ia bangkit berdiri, menatap telapak tangannya yang bersimbah darah.
"Aku... benar-benar hidup kembali."
Sesaat kemudian, gelombang ingatan yang tak terhitung jumlahnya menghantam benaknya, beradu kacau dengan memorinya saat di Jepang. Cuplikan mengambil foto di sebuah festival, membaca riset tentang ramuan sihir, bermain di monkey bar sekolah, hingga menghadiri pesta dansa aristokrat. Rasa mual melanda, seolah-olah identitasnya baru saja dipaksa untuk berubah.
"Ugh..."
Lututnya lemas. Hikaru mencengkeram kepalanya yang terasa seperti terbakar. Rasanya seperti menyalin ribuan file data ke dalam komputer yang terorganisir, lalu memproses semuanya sekaligus secara paksa. Dua set ingatan kini mulai terpartisi di dalam benaknya.
"Jadi... begitu rupanya."
Hikaru tewas dihantam truk, dan Roland tewas ditikam oleh pembunuh bayaran. Setelah ingatan itu tertata rapi, Hikaru mengerti segalanya.
"Roland. Kau ada di sini, kan?"
"Aku di sini."
Suara itu bergema di dalam kepalanya. Itu adalah Roland N. Zaracia, sosok yang membawanya ke dunia ini. Tubuh ini milik Roland, namun jiwa Hikaru telah dipindahkan ke wadah ini. Jiwa Roland sendiri masih ada di dalam sana, meski perlahan memudar. Waktunya tidak lama lagi.
Luka tusukan di perutnya telah menutup sempurna. Proses perpindahan jiwa Hikaru ternyata membangkitkan energi kehidupan yang sangat besar, cukup untuk menyembuhkan luka fatal atau penyakit apa pun. Tanpa energi sekuat itu, mustahil untuk menanamkan jiwa asing ke dalam tubuh lain.
Hikaru berjalan gontai menuju cermin. Ia melihat sosok Roland yang ia temui di alam baka, namun ada yang sedikit berbeda. Warna rambut dan matanya kini lebih gelap, dan struktur wajahnya mengalami sedikit perubahan.
"Jadi, ini aku sekarang."
"Tubuhmu akan terus menyesuaikan diri dengan jiwamu," suara Roland menyahut.
Hikaru mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Interiornya mewah, mengingatkannya pada hotel-hotel kelas atas di Eropa yang pernah ia lihat di televisi.
"Roland." Hikaru tidak berniat menyembunyikan amarahnya. "Kau menjebakku."
Ya, menjebak. Itu kata yang paling tepat. Roland meminta bantuan Hikaru untuk mengabulkan sebuah keinginan, namun kini setelah Hikaru memiliki ingatan Roland, ia tahu niat sebenarnya.
"Aku tidak berbohong," bela Roland.
"Tapi kau tetap menjebakku! Kau ingin aku membunuh seseorang?!"
Permintaan Roland bukan sekadar bantuan biasa; ia menuntut sebuah nyawa. Ia ingin Count Morgstadt mati. Ia ingin pria yang menghancurkan keluarganya menerima ganjaran yang setimpal.
"Kau bilang tadi tidak punya banyak waktu."
"Benar. Aku hanya bisa bertahan paling lama satu jam. Sebagian besar jiwaku sudah lenyap setelah menggunakan Soul Drainer. Aku harus memastikan tujuan ini tercapai sebelum aku pergi selamanya."
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan setuju?!"
"Jika kau gagal membunuh Count dalam satu jam ke depan, jiwaku akan menolak jiwamu."
Penolakan Jiwa. Hikaru tahu persis artinya. Jiwa yang tidak memiliki raga untuk bernaung akan lenyap sepenuhnya ke dalam ketiadaan. Tidak ada surga, tidak ada neraka, hanya kehampaan abadi. Identitasnya akan dihapus dari semesta.
"Aku benci caramu ini."
"Tak ada jalan lain. Membiarkan monster itu hidup hanya akan menghancurkan kerajaan ini—juga dunia ini."
Kebencian Roland terhadap Count Morgstadt merambat ke dalam sanubari Hikaru. Entah karena pengaruh ingatan yang bercampur, Hikaru tidak merasa keberatan untuk melakukan pembunuhan ini.
"Jadi, aku tidak punya pilihan."
Menangis atau mengeluh tidak akan mengubah keadaan. Hikaru hanya punya satu jam. Ia harus membunuh untuk tetap hidup. Ia sudah pernah mati sekali, dan naluri bertahannya menolak untuk mati kedua kalinya.
"Baiklah. Aku akan mengambil nyawa baru ini dengan tanganku sendiri," tegas Hikaru.
"Senang mendengarnya. Kini aku bisa membantumu lebih mudah."
"Kau ingin aku membunuh seorang bangsawan, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Kau punya 'hadiah', bukan?"
"Hadiah?"
"Sebut saja itu anugerah Tuhan. Pemuda yang kau selamatkan di alam baka memberimu sesuatu yang bersinar."
Hikaru menggali ingatan Roland. Cahaya yang keluar dari kantong kecil itu—yang disebut Roland sebagai "hadiah"—adalah manifestasi dari catatan jiwa seseorang selama hidup. Mereka yang memiliki cahaya itu akan memiliki bakat luar biasa di kehidupan selanjutnya, entah itu sihir, teknik, atau kemampuan fisik.
"Energi jiwaku mulai menipis..." suara Roland kian mengecil. "Mulai sekarang, aku hanya akan menghitung mundur waktumu."
"Hei, Roland!"
Tak ada jawaban. Suara Roland menghilang, namun Hikaru masih bisa merasakan kehadirannya yang redup. Ia sadar tubuh ini hanyalah "sewaan".
"Sialan."
Kemampuan sihir dan talenta khusus, pikir Hikaru. Apakah aku benar-benar memilikinya? Ia mempertajam indranya, mencoba mencari sesuatu di dalam dirinya.
Tiba-tiba, ia merasakan sensasi hangat di dadanya. Detik berikutnya, sebuah lempengan batu bercahaya hijau pucat seukuran kertas A4 muncul di hadapannya.
[ Soul Board ] Nama: Hikaru Usia: 15 | Poin: 15
"A-apa ini?"
"Lima puluh lima menit," suara Roland bergema pendek.
"Sudah lima menit?!" Hikaru tersentak. Ia harus bergegas.
Soul Board ini tampak seperti sistem dalam permainan video. Permukaannya mulus seperti komputer tablet. Saat ia menyentuhnya, sebuah suara mekanis terdengar di kepalanya.
“Buka kunci Soul Board? Konsumsi 1 poin.”
Hikaru mengerti secara insting. Ini adalah Skill Tree. Karena ia berusia 15 tahun, ia memiliki 15 poin. Sebagai seorang "kutu buku efisiensi" yang ahli dalam mengoptimalkan statistik di game RPG, Hikaru tahu bahwa setiap poin sangat berharga.
"Buka kunci."
Kata-kata mulai muncul di permukaan Soul Board:
[Vitalitas]
Pemulihan Alami: 0
Stamina: 0
Imunitas: 0
[Persepsi]
"Sistem ini mirip RPG yang pernah kumainkan..."
Misinya adalah membunuh Count Morgstadt dalam waktu kurang dari satu jam. Pria itu pasti sedang waspada karena pembunuh bayarannya belum kembali—pembunuh yang kini tergeletak tak bernyawa di lantai kamar ini.
"Lima puluh menit," lapor Roland.
"Statistik apa yang harus kuambil? Pemulihan Alami? Tidak, aku tidak berencana bertarung dalam durasi lama. Stamina dan Imunitas juga tidak berguna untuk saat ini."
Pilihannya jatuh pada [Persepsi].
"Mempertajam indra... penglihatan dan pendengaran? Berguna, tapi bukankah biasanya ada kategori senjata atau sihir?"
Hikaru meneliti Soul Board lebih jauh. Ia menggeser layar ke arah kiri, dan di sana muncul sebuah layar baru yang hanya menampilkan simbol ◎ (lingkaran ganda).
Tujuannya jelas: Ia tidak butuh otot besar untuk membunuh. Ia butuh cara untuk menyelinap dan memberikan satu serangan fatal tanpa terdeteksi.
Apakah strategi "efisiensi maksimal" miliknya akan berhasil di dunia nyata ini? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Apa langkah selanjutnya yang ingin Hikaru ambil dengan poin persepsinya tersebut?
Seni Menghilang dan Langkah Sang Pembunuh
"Sudah kuduga! Simbol lingkaran ini adalah layar untuk Skill Tree Vitalitas."
Hikaru menggeser layar ke samping. Muncul simbol-simbol lain: segitiga, persegi, pentagon, dan heksagon, sementara yang terakhir tidak memiliki label. Ia kembali ke layar lingkaran ganda.
"Ada tujuh layar secara keseluruhan. Jika satu poin dibutuhkan untuk membuka satu layar, berarti aku butuh tujuh poin untuk membuka semuanya."
"Empat puluh lima menit," suara Roland mengingatkan.
Waktu kian menipis.
"Count Morgstadt pasti ada di kota ini... Di sana." Hikaru menggali memori Roland. Pemilik hotel pernah menyebutkan bahwa bangunan terbesar di kota ini adalah vila milik Count Morgstadt.
Ia tahu lokasinya, tapi ia butuh sepuluh menit untuk sampai ke sana. Mengingat persiapan yang diperlukan, Hikaru hanya punya sisa waktu sekitar lima belas menit untuk menentukan kemampuannya di sini.
"Sial. Aku tidak punya waktu untuk memeriksa semua Skill! Aku harus bertaruh pada satu layar sekarang."
Menyerahkan nasib pada keberuntungan—metode yang paling dibenci Hikaru. Namun, ia tidak punya pilihan.
“Buka kunci Soul Board? Konsumsi 1 poin.” "Ya."
Layar lingkaran ganda terbuka.
[Kekuatan Magis]
Kapasitas Mana: 0
Afinitas Elemen: 0
Sihir. Hikaru melihat memori Roland; semua pengetahuannya tentang sihir hanyalah teori dari buku atau pelajaran ibunya. Roland bukan seorang penyihir. Hikaru tidak yakin tubuh ini bisa merapal mantra dalam waktu singkat, jadi ia mengabaikannya.
Ia beralih ke layar berikutnya: simbol persegi. “Buka kunci Soul Board? Konsumsi 1 poin.” "Buka."
Layar persegi terbuka.
[Ketangkasan]
Ledakan Kekuatan (Power Burst): 0
Fleksibilitas: 0
Keseimbangan: 0
[Stealth] (Keheningan)
Satu kata itu menyalakan bohlam di kepala Hikaru. Stealth. Inilah kunci untuk mendekati Count Morgstadt tanpa terdeteksi.
“Buka kunci Stealth? Konsumsi 1 poin.”
Ternyata kategori ini pun harus dibuka kuncinya terlebih dahulu. Tanpa ragu, ia menekannya.
[Stealth]
Life Cloaking (Penyamaran Hawa Kehidupan) — Memblokir kemampuan pendeteksi nyawa. (Max: 5)
Mana Cloaking (Penyamaran Mana) — Memblokir kemampuan pendeteksi energi sihir. (Max: 5)
Imperceptibility (Ketakterlihatan) — Memblokir persepsi melalui penglihatan, pendengaran, dan penciuman. (Max: 5)
Hikaru mengerang. Ia punya sepuluh poin tersisa. Strategi efisiensinya mulai berputar. Di dunia ini, anjing penjaga memiliki indra penciuman jutaan kali lebih tajam dari manusia. Belum lagi para penjaga yang mungkin memiliki kemampuan deteksi gaib.
"Untuk sekarang: 1 poin untuk Life Cloaking, 1 poin untuk Mana Cloaking, dan 5 poin untuk Imperceptibility."
Ia memasukkan angka tersebut.
[ Stealth ]
Life Cloaking: 1
Mana Cloaking: 1
Imperceptibility: 5 (MAX)
Assassination (Pembunuhan): 0
Mata Hikaru terbelalak saat sebuah field baru muncul. "Pembunuhan..."
Kata itu terasa dingin di lidahnya. Kemampuan ini muncul setelah ia memaksimalkan Imperceptibility.
Assassination: Saat menyerang tanpa disadari target, serangan akan memberikan efek mematikan instan. (Max: 3)
Inilah potongan terakhir dari rencananya. Ia memiliki tiga poin tersisa. Seolah-olah takdir sedang menuntunnya untuk menjadi seorang algojo. Sebagai pemuda dari Jepang modern, ia belum pernah membunuh seekor hewan pun, tapi jika ia ingin bertahan hidup di dunia yang kejam ini, ia harus menarik pelatuknya.
"Tiga puluh lima menit... Cepat."
Hikaru mengalokasikan 3 poin terakhirnya ke Assassination (MAX). Sesaat kemudian, sebuah kemampuan baru bernama Sharpshooter (Penembak Jitu) muncul, namun ia tidak punya poin lagi.
"Cukup. Mari kita selesaikan ini."
Hikaru menggenggam belati perak yang tadi digunakan untuk membunuh Roland. Ia mengaktifkan seluruh kemampuan Stealth-nya. Cukup dengan memikirkannya, hawa panas tubuh, aroma, dan keberadaannya seolah menguap dari dunia. Ia merasa seperti menjadi hantu transparan.
Ia melangkah keluar melewati lobi hotel. Para staf yang bertugas sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang baru saja lewat tepat di depan hidung mereka.
Petir menyambar dan hujan mengguyur cobblestone, menciptakan cipratan putih. Hikaru berlari menembus badai, basah kuyup, hingga sampai di depan vila Count Morgstadt.
"Dua puluh lima menit," suara Roland berbisik.
Pintu depan tidak dikunci untuk memudahkan rotasi penjaga. Hikaru masuk ke dalam manor yang gelap. Meski ia berada dalam mode Stealth, ia tetap bergerak dalam bayang-bayang. Ia menaiki tangga menuju lantai tiga.
Dua orang ksatria penjaga berjalan ke arahnya. Salah satu dari mereka tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya ksatria satunya. "Sesuatu terasa aneh. Rasanya seperti ada penyusup." "Apa?!" Ksatria itu segera menghunus pedangnya. "Di mana?" Ksatria pertama berlutut dan menyentuh lantai. "Basah." "Yah, di luar memang sedang badai." "Apakah ada yang baru kembali dari luar?" "Oh, benar. Ada ksatria yang tadi pergi ke Alchemist Guild. Mungkin dia yang baru masuk."
Ksatria itu bangkit dengan wajah gusar. "Ayo cepat selesaikan patroli ini, aku mengantuk. Lagipula, meski kita benci Count itu, kita tetap harus bekerja, kan?"
Mereka berjalan menjauh.
"Fiuh..."
Hikaru, yang berdiri terpaku di balik pilar besar, mengembuskan napas lega. Jantungnya berdegup kencang. Ia hampir saja ketahuan, bukan karena sihir, melainkan karena jejak kaki basah yang ia tinggalkan di lantai kayu. Di dunia nyata, Skill sehebat apa pun tidak bisa menutupi kecerobohan fisik.
Ia harus lebih berhati-hati. Targetnya sudah dekat.
Apakah Hikaru akan berhasil menemukan kamar Count Morgstadt sebelum waktunya habis? Dan mampukah ia mengayunkan belati itu pada manusia sungguhan?
Keheningan Sang Algojo dan Perpisahan Jiwa
Kemampuan Stealth bekerja dengan sempurna. Keputusannya memaksimalkan Imperceptibility adalah langkah yang tepat. Para ksatria itu hanya mengandalkan indra alami—seperti aroma dan pergerakan udara—bukan sihir pendeteksi aktif. Keberuntungan pun berpihak padanya; saat para ksatria melirik ke arah tertentu ketika menyebut nama sang Count, mereka secara tidak langsung telah menunjuk arah kamar target.
"Sepuluh menit," suara Roland bergema.
Hikaru tersentak. Ia harus bergerak sekarang. Kegelapan koridor menjadi sekutu terbaiknya; ia bisa melihat berkas cahaya yang merembes dari bawah pintu satu-satunya ruangan yang masih menyala.
Hikaru menempelkan telinganya di depan pintu itu.
"Hmm? Baron bodoh yang keras kepala itu..."
Suara seorang pria tua terdengar dari dalam. Berdasarkan memori Roland, itu adalah suara Count Morgstadt. Targetnya ada di sini. Tangan Hikaru gemetar saat meraih kenop pintu, namun ia segera menguatkan cengkeramannya.
Tenanglah. Kau bisa melakukannya. Kau membunuhnya agar bisa terus hidup.
Ia membuka pintu secara perlahan. Count Morgstadt sedang duduk di meja kerjanya, membelakangi pintu sambil meneliti sebuah dokumen di bawah lampu meja.
"Hmm?" Sang Count menoleh, merasa pintu baru saja terbuka. "Siapa itu? Penjaga?"
Ia tidak melihat siapa pun. Ia mengira itu pelayannya, namun pintu tampak tertutup kembali. "Hanya halusinasiku saja rupanya," gumamnya. Ia kembali menatap dokumen yang berisi kode rahasia: “Api di perkebunan telah padam.” Itu adalah laporan bahwa pembunuh bayaran telah dikirim untuk menghabisi putra Zaracia.
"Zaracia sudah berakhir. Sekarang saatnya aku—"
"Kau salah."
Count Morgstadt terperanjat mendengar suara yang entah dari mana asalnya. "Siapa di sana?!"
Ia segera merogoh laci mejanya untuk mengambil sebuah lonceng perak ajaib—item darurat yang akan memanggil seluruh penjaga jika dibunyikan. Namun, sebelum tangannya menyentuh lonceng itu, sebilah belati menembus telapak tangannya hingga tertancap ke kayu laci.
"A-Aaaahhh!"
"Roland N. Zaracia. Atau setidaknya, penggantinya," bisik Hikaru tepat di samping telinganya. "Aku datang untuk mengambil nyawamu."
"B-Bagaimana mungkin?!"
Hikaru menarik belati itu. Tanpa memberi kesempatan, ia menghujamkan bilah tajam itu tepat ke jantung sang Count. Sang target terbatuk darah, tubuh tambunnya ambruk ke lantai, dan setelah beberapa sentakan kecil, ia berhenti bergerak.
Hikaru terengah-engah. Di depannya tergeletak mayat manusia—sesuatu yang baru saja bernapas beberapa detik lalu. Tubuh Hikaru terasa panas, jiwanya ingin berteriak dan lari, namun tiba-tiba ia merasa tubuhnya membeku.
Roland mencoba mengambil alih kendali di detik terakhir. Ia ingin menekan kemauan Hikaru dan menyelesaikan sisanya sendiri.
"Kau... kenapa kau menghentikanku?" suara Roland terdengar terkejut di kepala Hikaru.
Hikaru mengerti sekarang. Roland sebenarnya tidak ingin membebani Hikaru dengan dosa pembunuhan. Sepanjang waktu, Roland berencana untuk mengambil alih raga di saat terakhir agar ia yang menanggung tindakan tersebut.
"Roland," kata Hikaru pelan. "Bahkan jika aku menolak, kau tidak akan benar-benar menghancurkan jiwaku, kan?"
"...Tidak."
Roland, yang dibesarkan dengan kasih sayang oleh orang tua yang terhormat, tidak akan sanggup melakukan hal sekeji itu pada Hikaru. Kontrak itu adalah pertaruhan; jika Hikaru gagal, Roland sebenarnya berniat menyuruhnya lari dan menyelamatkan diri.
"Aku yang memutuskan untuk hidup di sini, Roland. Maka akulah yang akan menyelesaikannya."
"Terima kasih," bisik Roland. Suaranya terdengar hangat, campuran antara rasa sesal yang mendalam dan kelegaan. "Inilah akhir bagiku. Aku tak bisa memberimu kekayaan, tapi kau boleh memiliki tubuh ini. Siapa namamu yang sebenarnya?"
"Hikaru."
"Terima kasih, Hikaru. Penyelamat keluarga Zaracia... Aku berdoa untuk masa depanmu yang cerah."
Satu keping terakhir jiwa Roland pun lenyap. Hikaru merasa kosong. Rasa bersalah karena telah membunuh terasa jauh lebih berat daripada rasa puas karena telah membalaskan dendam.
"Apakah kau sudah membunuhnya?"
Hikaru terjingkat. Di ambang pintu, berdiri seorang gadis cantik luar biasa dengan rambut perak dan mata biru yang jernih.
"Loncengnya sempat berbunyi," kata gadis itu tenang. "Ksatria akan segera sampai di sini."
Ternyata saat Hikaru menarik belati dari tangan sang Count tadi, jari-jari pria itu sempat menyentuh lonceng dan membunyikannya secara tak sengaja. Suara langkah kaki yang menderu mulai terdengar dari koridor.
"Ada tangga tali di balkon. Kau bisa turun ke lantai satu lewat sana," tunjuk gadis itu.
"Kenapa kau membantuku?"
"Cepatlah."
Hikaru segera berlari ke balkon. Hujan telah berhenti, meski angin masih bertiup kencang. Ia menuruni tangga tali dengan tangan yang masih gemetar hebat. Di belakangnya, ia bisa mendengar para penjaga mendobrak masuk ke kamar.
"Nona Lavia, apa yang Anda lakukan di sini?" "T-Tuan Count tergeletak di lantai!"
Gadis bernama Lavia itu hanya menjawab singkat, "Dia sudah mati."
Pukul empat pagi. Cahaya fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Hikaru terduduk lemas di sebuah area pemakaman yang sepi di pinggiran kota. Ia tidak bisa kembali ke hotel karena kemungkinan besar mayat pembunuh kiriman Count sudah ditemukan.
Ia menatap bayangannya di genangan air. Rambut dan matanya yang cokelat mulai menggelap menuju hitam—tubuhnya perlahan beradaptasi dengan jiwanya.
"Melelahkan sekali..."
Hikaru menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon besar. Pikirannya masih melayang pada gadis perak bernama Lavia itu. Mengapa ia membantunya melarikan diri?
Sambil menutup mata, Hikaru pun tertidur untuk pertama kalinya di dunia baru ini. Tidur yang dalam tanpa satu pun mimpi.
Status Terkini:
Nama: Hikaru
Kondisi: Lelah Luar Biasa (Mental & Fisik)
Status: Buronan (Dugaan Pembunuhan Count Morgstadt)
Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya di dunia baru ini?
Guild Petualang dan Berkat Para Dewa
Saat Hikaru terbangun, matahari sudah tinggi di langit. Kerongkongannya terasa sangat kering. Ia mengamati sekeliling dan menyadari dirinya masih berada di pemakaman. Ingatan tentang kejadian semalam langsung membanjiri benaknya.
"Benar... aku sekarang berada di dunia lain."
Pemakaman itu sangat sunyi. Sisa-sisa hujan semalam telah menguap sepenuhnya. Hikaru menghela napas panjang. Rasanya tidak menyenangkan setelah baru saja mengambil nyawa seseorang, namun perutnya tidak peduli pada beban moral itu; ia lapar luar biasa.
"Ternyata membunuh orang tidak lantas menghentikan rasa lapar," gumamnya.
Ia bangkit gontai menuju sebuah sumur di dekat sana. Setelah menimba air dan minum secukupnya, rasa lapar itu sedikit teralihkan. Masalahnya sekarang: ia bebas, tapi ia jatuh miskin. Tidak ada barang berharga yang bisa dijual, dan pakaiannya pun bernoda darah.
Ia mencuci mantel dan kemejanya di sumur. Meski kemejanya kini berlubang dan menyisakan noda kecokelatan, mantelnya yang berwarna gelap cukup baik dalam menyamarkan noda tersebut.
"Aku harus mencari uang dan pergi dari kota ini tanpa dicurigai atas kematian Count Morgstadt."
Ia mencoba menggali memori Roland. Namun, ingatan itu mulai memudar—bukan pengetahuan teknisnya, melainkan emosi dan kenangan berharganya. Sosok Roland perlahan meninggalkan tubuh itu. Kini Hikaru benar-benar sendirian. Rasa takut dan cemas mulai merayap, namun ia segera menepisnya. Ia sudah memutuskan untuk hidup di dunia ini.
Berdasarkan sisa memori Roland, ia membutuhkan identitas resmi berupa Soul Card. Ada berbagai Guild yang bisa mengeluarkannya, namun hanya Guild Petualang yang memberikannya secara cuma-cuma bagi pendaftar pertama kali.
Hikaru berjalan menuju pusat kota. Menggunakan kemampuan Stealth, ia menghindari patroli penjaga dan menyelinap melalui gang-gang sempit. Di sebuah gang buntu, ia melihat seorang gadis kecil sedang menggambar di tembok dengan kapur.
"Permisi," panggil Hikaru. "Bisa minta waktunya sebentar?"
Gadis itu terlonjak. Hikaru tampak seperti bangsawan yang kotor dan kelelahan, namun wajahnya tidak terlihat mengancam. Setelah menanyakan arah, gadis itu memberinya rute menuju gedung besar di jalan utama.
"Pergilah ke sana. Bayar aku kalau kau sudah jadi orang sukses nanti," ucap gadis itu dengan semangat.
Hikaru sampai di sebuah bangunan batu raksasa yang dipenuhi suara tawa kasar pria-pria berotot. Itulah Guild Petualang. Di sana, ia melihat seorang resepsionis cantik dengan topi perak kecil dan seragam rapi. Namanya Freya.
Guild itu sangat ramai. Para petualang berkerumun di depan meja resepsionis, menggoda Freya yang tampak kewalahan. Hikaru mengaktifkan Stealth-nya, menyelinap di antara kerumunan tanpa ada yang menyadarinya. Begitu sampai tepat di depan meja, ia menonaktifkan kemampuannya.
"Tolong buatkan aku kartu guild."
"Hah?!" Freya terkejut.
"Dari mana bocah ini muncul?!" teriak para petualang di sekitarnya.
Hikaru hanya menyeringai tipis saat mereka mulai memaki karena ia dianggap menyerobot antrean. "Aku tidak melihat kalian sedang mengantre dengan rapi. Aku hanya meminta resepsionis melakukan tugasnya. Lagipula, kalian pria dewasa, kan? Masak tidak bisa menunggu sebentar?"
Para petualang itu memerah padam, namun mereka tidak berani berbuat onar di dalam gedung. Mereka memberikan tatapan mengancam dan pergi keluar, jelas berniat menunggu Hikaru di luar untuk memberinya "pelajaran".
"Um, apakah Anda yakin tidak apa-apa?" tanya Freya khawatir.
"Jangan khawatirkan aku. Tolong buatkan kartunya."
Freya mengeluarkan sebuah lempengan batu halus yang permukaannya seperti kaca. Saat Hikaru menempelkan telapak tangannya, alat itu memindai Catatan Jiwa (Soul Record) miliknya. Tak lama kemudian, sebuah kartu pun tercipta.
[ Kartu Guild Petualang ]
Nama: Hikaru
Registrasi: Guild Pond, Kerajaan Ponsonia
Rank: G
Blessing (Berkat): —————
"Berkat?" Hikaru bergumam.
"Anda tidak tahu?" Freya menjelaskan, "Sentuh kartu itu, dan Anda akan melihat daftar 'Berkat' yang tersedia berdasarkan Catatan Jiwa Anda. Memilih salah satunya akan meningkatkan kemampuan Anda secara drastis."
Freya menambahkan sebuah informasi penting: semakin pendek nama Tuhan dalam Berkat tersebut, semakin kuat kekuatannya. Jika memiliki nama Tuhan dengan empat karakter, maka ia sudah termasuk petualang kelas atas.
Hikaru menyentuh kartunya, dan sebuah daftar muncul di benaknya:
[Assassination God: Night Stalker] (2 Karakter)
[Stealth God: Bearer of Darkness] (2 Karakter)
[Common Chaos God: Eye of the Storm] (3 Karakter)
[Woods Strolling God: Forest Walker] (4 Karakter)
[Metropolitan Residents... Relief God: Civilian] (10 Karakter)
Hikaru terdiam. Banyak sekali pilihan yang terdengar menyeramkan di sini...
Berkat Sang Warga Sipil dan Langkah Pertama
"Kau bilang memiliki Berkat dengan empat karakter berarti sudah menjadi petualang kelas atas," ujar Hikaru. "Lalu, bagaimana dengan tiga karakter ke bawah?"
"Apa?! Kau punya satu?!" seru Freya kaget.
"Tidak. Hanya bertanya."
"T-Tentu saja... Maaf aku berteriak. Itu memalukan sekali." Freya menangkup pipinya dan menggeliat canggung. Hikaru membuang muka; pergerakan Freya yang ekspresif agak sulit untuk diabaikan, pantas saja para petualang di sini begitu tergila-gila padanya.
"Begini, tiga karakter itu sangat langka. Dua karakter adalah level legenda, dan satu karakter... itu sudah masuk tingkat mitos."
Hikaru terdiam. Ia memiliki dua Berkat dengan dua karakter.
"Dalam kasusmu," lanjut Freya, "kemungkinan besar kau memiliki sesuatu seperti Dewa Penolong Warga Kota dan Penduduk Desa: Warga Sipil, atau mungkin Dewa Keberuntungan Warga Kaya: Pencetak Uang. Benar, kan?"
"Sepertinya begitu."
Hikaru segera menyadari bahwa ia tidak boleh memperlihatkan Berkat aslinya kepada siapa pun. Ini pasti ada hubungannya dengan Skill Tree unik yang ia miliki. Ia pun memilih [Civilian] (Warga Sipil) dari daftar dan menunjukkannya pada Freya.
"Selanjutnya," kata Freya setelah melirik kartu itu sekilas. "Ada komisi yang ditempel di papan pengumuman. Pilih yang sesuai kemampuanmu, lalu tempelkan kartu guild-mu pada formulir tersebut untuk menerimanya. Untuk misi pencarian bahan, kau bisa cek perpustakaan guild. Dan juga—"
"Tunggu sebentar. Hanya dengan menempelkan kartu, aku langsung terdaftar?"
"Benar." Freya mengangguk santai.
Hikaru takjub. Teknologi apa ini? Apakah kartu ini memiliki IC chip atau semacamnya? Ternyata dunia ini mengembangkan teknologi berbasis sihir sebagai pengganti sains tingkat tinggi.
Freya menjelaskan sistem peringkat dari G hingga S, serta berbagai spesialisasi petualang seperti Plant Hunter hingga Explorer. Ia terkekeh saat menyebut bahwa petualang sekelas "Warga Sipil" seperti Hikaru masih punya jalan panjang sebelum bisa menjadi terkenal.
Setelah mendapatkan informasi dasar, termasuk perbedaan antara hewan biasa dan monster (yang memiliki mana dan bisa diolah menjadi bahan baku), Hikaru membungkuk kecil dan pamit. Ia menuju papan pengumuman dan menemukan misi yang cocok untuk pemula.
[Plant Hunter] Misi: Mengumpulkan Tanaman Beracun Berpendar (Glimmering Poisonous Herbs). Syarat: Pemula diperbolehkan. Bawa sebanyak mungkin. Hadiah: Pembayaran dasar 200 Gilan.
200 Gilan memang tidak banyak, hanya cukup untuk beberapa kali makan, tapi ini sangat krusial bagi Hikaru yang tidak punya uang sepeser pun. Begitu ia menempelkan kartu guild-nya, formulir itu bersinar redup dan menampilkan status "Kontraktor: 1".
Hikaru kemudian menuju perpustakaan. Ruangan itu berbau apek, seolah jarang dikunjungi. Ia menghafal bentuk tanaman yang ia cari dan lokasi panennya melalui peta yang tersedia, lalu mengambil sebuah karung goni di pojok ruangan.
Saat Hikaru pergi, Freya melihat nama Hikaru muncul secara otomatis di sistem administrasinya sebagai pengambil misi tanaman beracun itu.
"Tunggu, dia mengambil misi ini?!" Freya panik. Ia mencari sosok Hikaru di aula guild, namun tidak menemukannya karena Hikaru sudah mengaktifkan Stealth.
Freya cemas karena lokasi tanaman itu tumbuh merupakan wilayah kekuasaan Green Wolf, monster buas yang bergerak dalam kawanan. Petualang veteran sekalipun jarang mau ke sana secara langsung karena risikonya tidak sebanding dengan upahnya.
Di luar gedung guild, Hikaru menyadari dua petualang yang tadi menghinanya sedang menunggu di dekat pintu keluar.
"Bocah itu lama sekali." "Mungkin dia sudah dihajar orang lain di dalam."
Mereka tertawa kasar, tidak sadar bahwa Hikaru berdiri hanya tiga meter di depan mereka. Hikaru berjalan santai melewati mereka tanpa membuat suara sedikit pun.
Skill ini benar-benar tidak masuk akal, pikirnya. Di dalam game, kemampuan Stealth jarang sekuat ini, namun dengan memaksimalkan poin pada Imperceptibility, ia benar-benar menjadi sosok yang "tidak ada".
Hikaru berjalan menuju gerbang kota. Perutnya melilit karena lapar, tapi ia harus bekerja dulu sebelum bisa makan. Di gerbang, seorang penjaga memeriksa kartu guild-nya.
"Petualang baru?" tanya penjaga itu ramah. "Jangan bertindak bodoh. Selama kau masih hidup, segalanya bisa diperbaiki."
"Aku mengerti. Terima kasih," jawab Hikaru sambil membungkuk sopan. Penjaga itu terkejut melihat petualang muda yang begitu santun.
"Pastikan kau kembali sebelum matahari terbenam," ujar si penjaga dengan senyum tipis.
Hikaru pun melangkah keluar dari perlindungan dinding kota, menuju alam liar yang penuh bahaya namun menjanjikan kebebasan.
Status Pilihan:
Berkat Aktif: [Civilian] (Samaran)
Peralatan: Belati Perak (Milik Roland), Karung Goni.
Tujuan: Hutan di luar kota Pond.
Apakah Hikaru akan bertemu dengan kawanan Green Wolf yang ditakuti Freya? Dan bagaimana ia akan menggunakan Stealth-nya untuk memanen tanaman beracun tersebut?
Bab: Hutan Tanpa Jejak dan Rasa Lapar yang Terbayar
Setelah berjalan menyusuri jalan utama, Hikaru berbelok menuju hutan di sisi kiri.
"Ah, aku ingat. Dia bilang kartu guild bisa meningkatkan kemampuanku."
Kolom Blessing pada kartu bisa diubah kapan saja. Hikaru menyadari bahwa jika ia hanya mendapatkan satu poin Skill per tahun, ia harus memanfaatkan sistem Berkat ini semaksimal mungkin. Karena ia mengambil spesialisasi Stealth, ia memilih: [Stealth God: Bearer of Darkness].
Begitu Berkat itu diaktifkan, Hikaru merasa tubuhnya menjadi seringan udara. Ditambah dengan Life Cloaking, Mana Cloaking, dan Imperceptibility, ia benar-benar menghilang dari radar dunia. Burung-burung dan serangga yang biasanya diam saat manusia mendekat, tetap bernyanyi seolah ia tidak ada di sana.
"Luar biasa..."
Hikaru melangkah masuk ke dalam hutan. Sebagai remaja yang tumbuh di Tokyo, hutan rimba yang tak tersentuh manusia ini terasa seperti pemandangan dari video internet yang menjadi nyata. Sinar matahari yang menembus celah dedaunan dan aroma tanah basah membuatnya takjub.
Di kejauhan, ia melihat seekor serigala berbulu hijau lumut—Green Wolf. Monster itu berukuran tiga meter, tampak sangat buas. Hikaru bergerak dengan sangat hati-hati. Ia tidak tahu bahwa Green Wolf memiliki radius sensorik sejauh 200 meter. Sebenarnya, serigala itu sempat merasakan kehadiran Hikaru saat ia mendekati hutan, namun tiba-tiba hawa keberadaannya lenyap total, membuat predator itu bingung.
Hikaru menemukan tanaman beracun berpendar itu tumbuh subur. Bunganya berbentuk seperti lili dengan empat warna berbeda. Berkat video bertahan hidup yang sering ia tonton di dunianya, ia memanennya dengan teknik yang benar—hanya mengambil kuncup dan kelopak tanpa merusak batangnya agar bisa tumbuh kembali.
Malam harinya, di Guild Petualang, Freya duduk di balik konter dengan wajah letih. Ia harus lembur karena rekan kerjanya berhalangan hadir. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya: bocah bernama Hikaru yang pergi tadi pagi.
Ia merasa bersalah. Sebagai staf guild dengan intuisi tajam, ia merasa ada sesuatu yang unik pada Hikaru—seperti ada kegelapan sekaligus secercah cahaya di dalam dirinya. Ia berharap bocah itu setidaknya selamat, meskipun hanya dibawa kembali dengan tandu karena luka-luka.
"Dia tidak mati, kan? Hikaru..." gumam Freya cemas.
"Ya?"
"Aaah!" Freya memekik kaget. Hikaru tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
"H-Hikaru! Syukurlah kau selamat! Kau tidak seharusnya mengambil misi itu, hutan sangat berbahaya karena Green Wolf!"
"Kau bisa memantau misi yang kuambil, ya? Hebat juga," jawab Hikaru santai.
"Tentu saja! Tapi... tunggu, syukurlah kau tidak jadi masuk ke hutan."
"Aku masuk, kok. Melelahkan sekali," ujar Hikaru sambil meletakkan karung goni yang menggembung di atas konter.
Mata Freya terbelalak melihat kuncup tanaman beracun berpendar menyembul dari sana. Ia segera menyusun spekulasi di kepalanya: Hikaru pasti sangat beruntung karena Green Wolf entah bagaimana tidak melihatnya.
"Kau benar-benar beruntung," ujar Freya sambil mulai menghitung isi karung tersebut. Namun, ia kembali terkejut. Karung itu tidak berisi tanaman yang dicabut asal-asalan, melainkan hanya bagian kelopak dan kuncup terbaik—hasil kerja profesional.
"Berapa harga semuanya? Aku sudah hampir mati kelaparan," potong Hikaru.
Mendengar kata "mati kelaparan", Freya merasa sangat iba. Ia membayangkan Hikaru mencari tanaman itu dengan perut kosong sambil gemetar ketakutan menghindari monster (padahal kenyataannya Hikaru sempat tidur siang di hutan).
"Pembayaran dasar adalah 200 gilan," ujar Freya.
"Fiuuh... setidaknya itu cukup untuk makan dua atau tiga hari," gumam Hikaru lega.
Hati Freya semakin teriris melihat betapa rendahnya ekspektasi bocah itu. Ia segera menggenggam tangan Hikaru dengan penuh semangat. "Akan baik-baik saja, Hikaru!"
"...Oke?" Hikaru bingung dengan perubahan sikapnya.
"200 gilan itu hanya pembayaran dasar," jelas Freya semangat. "Kau membawa 19 ikat tanaman kualitas tinggi. Per ikat dihargai 1.000 gilan. Ditambah bonus karena jumlahnya banyak... totalnya aku bulatkan menjadi 20.000 gilan!"
Rahang Hikaru hampir jatuh. Seratus kali lipat dari dugaannya!
Hikaru meninggalkan guild dengan kantong berisi koin emas, perak, dan tembaga. Uang 20.000 gilan terasa sangat banyak. Di dunianya dulu, ia hobi bermain saham di internet; ia suka perasaan bertarung di dunia orang dewasa. Sekarang, ia merasakannya lagi secara nyata.
Matahari sudah terbenam. Langit merah berubah menjadi biru pucat. Sebagian besar kedai pinggir jalan sudah tutup. Hikaru panik; ia tidak ingin makan di dalam restoran mewah karena takut pakaian Roland dikenali.
"P-Permisi!" Hikaru berlari ke arah satu kedai yang sedang berkemas.
"Kami sudah tutup, Nak," ujar si pedagang.
Kruyuuuk.
Perut Hikaru berbunyi sangat keras. Pedagang itu tertawa terbahak-bahak. "Aduh, itu bunyi perut yang sangat menyedihkan! Sini, ambil ini, 10 gilan saja."
Pria itu memberikan sebungkus mi goreng sisa yang dibungkus daun lebar. Bagi Hikaru, itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Ia segera mencari gang sepi, duduk di balik sebuah tong, dan melahap mi itu dengan tangan kosong.
"Enak sekali..."
Rasa lapar adalah bumbu terbaik. Rasa rempah, lemak, dan sari daging meledak di mulutnya.
"Ini enak sekali, Roland," bisik Hikaru kepada pemilik tubuh yang kini hanya tinggal kenangan di memorinya.
Status Terkini:
Uang: 19.990 Gilan.
Kondisi: Kenyang dan Puas.
Penemuan: Stealth ternyata jauh lebih berbahaya (dan menguntungkan) daripada yang dibayangkan.
Hikaru kini memiliki modal yang cukup. Apakah ia akan segera meninggalkan kota Pond, atau menetap sebentar untuk meningkatkan Soul Rank-nya?
Previous Chapter | LIST | Next Chapter