Header Ads Widget

Hujan di Kegelapan Malam dan Mantra Pelintas Dunia

 


Cahaya dari lampu ajaib di atas meja cukup untuk menerangi ruangan, namun entah mengapa suasana terasa dingin mencekam. Pemuda itu berhenti menulis, lalu meregangkan otot-ototnya yang kaku.

Hujan yang turun sejak sore kian menderu. Hembusan angin kencang berulang kali menghantam daun jendela kayu, menciptakan suara berisik yang memecah keheningan.

"Hanya ini bahan terbaik yang bisa kukumpulkan," gumam pemuda itu pelan. "Tapi tetap saja, ini hanya memberiku celah kecil untuk menyeberang ke dunia lain."

Berbagai objek aneh tertata di atas meja: bongkahan bijih kristal, buah kering, potongan daging, botol-botol berisi cairan gelap, hingga sisik dan taring monster. Di sela-selanya, tersebar diagram rumit berisi teks kuno dan pola geometris.

Ia memungut salah satu kristal. "Mantranya belum sempurna. Untuk berpindah dunia, jiwa harus terlepas dari raga. Namun, mampukah jiwa itu diikat kembali setelah terpisah? Hanya Sihir Penyembuhan tingkat legendaris yang bisa melakukannya. Jika ini berhasil, aku mungkin bisa mengakses alam roh dunia ini... Aku mungkin bisa menemui Ayah dan Ibu."

Tiba-tiba, telinganya menangkap sebuah suara.

"...Siapa di sana?" serunya waspada.

Lampu ajaib itu hanya menerangi meja kayu di depannya, sementara sudut-sudut ruangan tetap tenggelam dalam bayang-bayang.

Ini bukan rumahnya, melainkan sebuah kamar hotel sederhana. Mungkin staf hotel, pikirnya. Ia melangkah menuju pintu dan membukanya, namun koridor di luar tampak gelap dan kosong melompati pandangan.

"Tidak ada siapa pun... Anginnya terlalu kencang. Mungkin ada sesuatu yang jatuh."

Ia berbalik untuk kembali ke mejanya, lalu mendadak terpaku. "Si-siapa kau?!"

Sesosok bayangan hitam berdiri di tengah ruangan. Seorang pria jangkung mengenakan jubah berkerudung yang basah kuyup oleh air hujan.

"Apakah kau Roland N. Zaracia?"

"Benar..."

"Kiriman dari Count Morgstadt."

Nama Morgstadt seketika menyulut api di benak Roland. Count Morgstadt adalah alasan mengapa ia kini luntang-lantung sendirian di hotel ini—alasan mengapa kedua orang tuanya tewas.

"A-apa yang kau inginkan dariku?!"

Jantung Roland berdegup kencang, diselimuti campuran antara amarah, ketakutan, dan kegelisahan.

Ayahnya telah membesarkannya dengan kasih sayang sekaligus ketegasan. Ibunya, seorang penyihir hebat, adalah sosok yang membimbing bakat sihirnya sejak kecil. Penelitian Roland tentang "Mantra Pelintas Dunia" adalah sebuah terobosan besar yang didukung penuh oleh mereka. Eksperimen skala kecilnya telah berhasil memanggil makhluk-makhluk yang tidak pernah ada di dunia ini, mengangkat nama keluarga Zaracia—Viscount di Kerajaan Ponsonia—menjadi pusat perhatian.

Fraksi bangsawan pimpinan Margrave Grugschilt, tempat keluarga Zaracia bernaung, mendapatkan momentum besar berkat penemuan ini. Mereka berusaha memberantas korupsi dan ketidakadilan yang merajalela di kalangan aristokrat, menyuarakan bahwa bangsawan sejati harus melayani rakyat.

Namun, upaya mereka justru memicu kebencian para bangsawan korup yang merasa terancam, terutama Count Morgstadt. Ia merencanakan skema keji untuk menghancurkan keluarga Zaracia.

Kemudian terjadilah skandal pencurian pusaka nasional. Dimension Dragon Box, barang berharga di perbendaharaan kerajaan, dinyatakan hilang. Viscount Zaracia dituduh sebagai satu-satunya orang yang memiliki akses pada hari pencurian. Meski ayahnya bersumpah tidak tahu-menahu, barang bukti ditemukan di kediaman mereka. Ayahnya dipaksa melakukan bunuh diri dengan racun.

Demi menyelamatkan nyawa Roland, kedua orang tuanya memohon pertukaran nyawa. Permintaan itu dikabulkan. Keluarga Zaracia runtuh, dan Roland kini dalam perjalanan menuju wilayah Margrave Grugschilt untuk berlindung.

Roland tahu orang tuanya dijebak. Ia melihat pelayan lama mereka kini bekerja untuk sekutu Morgstadt, dan seorang penjaga gudang tiba-tiba memiliki kekayaan yang tak wajar.

Didorong oleh hasrat balas dendam, Roland bertekad melanjutkan penelitiannya. Ia ingin memulihkan nama baik keluarganya dan, jika beruntung, berkomunikasi dengan arwah orang tuanya untuk mengungkap kejahatan Morgstadt.

"Bisa tebak apa yang kukirimkan?" Mulut di balik kerudung dalam itu menyeringai licik.

Saat Roland melihat kilatan perak dari sebilah belati di tangan pria itu, ia menyadari kesalahannya. Ia terlalu naif karena mengira Morgstadt akan membiarkannya hidup.

Roland mencoba melarikan diri, namun si pembunuh mencengkeram kerahnya dan membantingnya ke lantai. Kepalanya terbentur keras, membuat pandangannya kabur.

"Kebetulan sekali," kata pria itu. "Count sedang berada di kota ini sekarang dalam perjalanan ke ibu kota. Dia ingin memastikan urusannya selesai."

Bilah perak itu terayun ke bawah. Roland merasakan sensasi panas yang membakar di perutnya.

"Guh..."

Saat si pembunuh menarik belatinya untuk serangan terakhir, tubuh pria itu mendadak kaku dan ambruk ke lantai.

Roland memegang sebuah kristal yang memancarkan cahaya biru keputihan yang sangat terang, hingga sulit untuk dilihat langsung.

"A-aku salah," rintih Roland terengah-engah. "Dia bukan tipe pria... yang bisa dihadapi secara terang-terangan..."

Kristal itu adalah Soul Drainer, batu terlarang yang mampu menyedot jiwa siapa pun yang berada dalam jangkauan saat dialiri mana. Namun, alat ini memiliki efek samping fatal: ia menyedot jiwa target sekaligus penggunanya.

Jiwa Roland telah terkuras hampir habis. Ia hanya memiliki waktu sekitar satu hingga dua jam sebelum jiwanya lenyap sepenuhnya. Belum lagi pendarahan hebat di perutnya yang kian melemahkan fisiknya.

Dengan sisa kesadaran yang memudar, Roland merangkak di lantai. Gerakannya terasa sangat lambat. Dengan tangan bersimbah darah, ia menarik dirinya menuju kursi, lalu menyentak pinggiran meja hingga terguling.

Benda-benda berserakan di lantai. Tinta tumpah mengotori kayu, dan lembaran-lembaran kertas beterbangan di udara.

Salah satu kertas mendarat tepat di atas perutnya. Itu adalah kertas yang ia butuhkan.

"Bukalah pintu... menuju dunia lain..."

Mantra ini tidak membutuhkan ucapan, karena ini bukan sihir biasa, melainkan alkimia tingkat tinggi. Seluruh rangkaian kata dan rumus telah tersusun dalam lingkaran sihir yang tertulis di kertas tersebut.

Geometri sihir di seluruh ruangan mulai bercahaya redup, lalu kian terang. Di ambang kematiannya, sebuah pintu terbuka di depan mata Roland—sebuah gerbang menuju dunia yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.



Previous Chapter | LIST | Next Chapter