Setelah menerima pembayaran dari Freya, Hikaru menanyakan beberapa hal, termasuk tempat menginap yang layak bagi petualang pemula.
Ia sampai di tempat yang direkomendasikan Freya: sebuah bangunan kotak sederhana dengan papan nama kecil di depannya. Di dalam, ia menunjukkan kartu guild-nya kepada petugas di konter.
"100 Gilan semalam," ujar petugas itu pendek.
Hikaru menyerahkan sekeping koin perak, lalu menuju lantai dua. Kamarnya sangat luas, berupa lantai kayu yang hanya dilapisi tikar jerami. Sepertinya ia memang harus tidur di lantai. Ada beberapa petualang lain di sana—beberapa masih muda, sisanya tampak mencurigakan. Tak ada yang menyadari kehadiran Hikaru karena ia tetap mengaktifkan Stealth.
Ia tidak berniat berbasa-basi dengan petualang seumurannya, apalagi dengan tipe-tipe yang mencurigakan. Dengan perut yang masih kenyang berkat mi goreng tadi, Hikaru pun terlelap.
Keesokan paginya, seluruh tubuhnya terasa kaku. Namun, tidur di dalam ruangan ternyata memulihkan tenaganya lebih baik dari dugaan; kepalanya terasa jernih. Hikaru turun ke bawah. Bahkan dengan Stealth yang dimatikan, petugas konter tidak sudi meliriknya sedikit pun. Aku suka tempat ini, pikirnya.
Ia sebenarnya ingin mi goreng semalam, tapi kedai itu belum buka. Terlalu pagi. Namun, dompet yang tebal membuatnya tenang. Ia menyusuri jalanan yang mulai terang, melihat berbagai kedai yang menjual buah-buahan, roti goreng, hingga mi mirip ramen.
"Oh, mereka juga punya ini."
Perhatian Hikaru tertuju pada hotdog. Sosis yang dijepit roti kehitaman. Ia mengangkat satu jari.
"Hei, Nak. 30 Gilan satunya."
Penjualnya adalah pria berotot usia dua puluhan—yang sepertinya lebih cocok jadi petualang. Ia menyiapkan pesanan dengan sangat efisien. Hikaru menggigitnya. Si penjual memperhatikannya dengan tatapan penuh harap, seolah bertanya, "Bagaimana? Enak, kan?"
Ekspresi Hikaru berubah. Tepatnya, ia menjadi datar.
Rasanya... aneh.
Sosisnya lembut, rotinya keras, sebenarnya tidak terlalu buruk. Masalahnya adalah sausnya. Rasanya manis dan ada aroma rumput. Kenapa? Siapa target pasar orang ini?
"Hotdog itu seharusnya pakai saus tomat (ketchup)..." gumam Hikaru sambil berlalu.
Si penjual melongo. Ia mengira Hikaru akan berteriak "Enak!" seperti anak kecil lainnya. "Ada apa dengan bocah itu? Tunggu, dia tadi bilang apa? Ketchup? Apa maksudnya saus ini?"
Pria itu berdiri terpaku, memikirkan kata asing itu sambil bergumam sendiri.
Hikaru terus berjalan mengitari kota, menggambar peta di dalam kepalanya. Saat melewati Guild Petualang, ia mengintip ke dalam. Masih sepi. Ia melihat Freya sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja konter.
...Ada apa dengannya? Tidur? Sudahlah.
Rencana utamanya hari ini adalah membeli perlengkapan. Cek misi nanti saja, pikir Hikaru sambil berbalik pergi. Namun tiba-tiba Freya tegak berdiri.
"Hikaru!"
"Apa?"
"Aku, uhh..." Freya tampak ingin mengatakan sesuatu. Hikaru merasakan firasat buruk. "Selamat pagi," sapanya pendek sambil hendak kabur. Tapi, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Freya tersenyum lebar. "Selamat pagi juga, Hikaru."
Gawat... Dia memang punya aset yang 'besar', tapi senyum dari wanita cantik itu benar-benar bisa merusak fokus.
Beberapa petualang di guild mulai berbisik gempar. "Hei, apa Freya baru saja..." "Dia tersenyum! Benar-benar tersenyum tulus, bukan senyum palsu!" "Siapa sebenarnya bocah itu?!"
Freya sepertinya punya reputasi tinggi di sini. Ia memberi isyarat agar Hikaru mendekat. Hikaru tidak punya pilihan selain menuruti permintaannya.
"Terima kasih sudah datang," ujar Freya. "Kukira kau tidak akan kembali."
"Kenapa begitu?"
"Aku gagal memberitahumu soal Green Wolf. Aku melakukan kesalahan sebagai resepsionis."
"Oh... tidak apa-apa. Tapi mungkin lebih baik jika komisi diterima langsung melalui resepsionis, agar tidak banyak petualang yang gagal menjalankan misi secara konyol."
"Aku tahu! Tapi jumlah resepsionis sangat sedikit. Kau tahu apa saja tugas kami?"
"Uh... registrasi petualang dan menilai barang?"
Freya menyuruhnya mendekat hingga mereka berhadapan di depan konter. "Seperti yang kau bilang, kami mengurus registrasi, kartu guild, dan menilai hadiah. Kami juga bertanggung jawab menerima komisi dan menjawab pertanyaan."
"Lalu?"
"Selain itu, kami harus mengatur pembentukan party, mengidentifikasi petualang peringkat tinggi untuk misi darurat, memproses misi yang gagal, mengelola peringkat, hingga mengurus papan pengumuman. Semuanya cukup rumit, kan?"
"Memangnya tidak ada staf lain selain resepsionis?"
"Pertanyaan bagus! Tidak ada."
Ugh, tempat apa ini? Perusahaan 'hitam' (toxic)? pikir Hikaru.
"Kami juga harus mengelola dana guild dan mengirim barang pasokan ke Guild Dagang. Banyak sekali pekerjaannya!"
"Pantas saja penerimaan misi dibuat otomatis."
"Benar. Tapi tetap saja, kau tadi dalam bahaya. Maafkan aku."
"Sudahlah, aku tidak butuh permintaan maaf lagi. Apalagi para petualang itu menatapku seperti ingin menusukku dengan mata mereka."
Hikaru bertanya, "Lagipula kenapa kau begitu peduli padaku? Kau biasanya terlihat... acuh tak acuh pada petualang lain."
"B-Benarkah? Mungkin karena kau terlihat... tulus?"
"Tulus?"
"Yang lain... agak menakutkan bagi kami."
Hikaru terdiam. Dikerumuni pria-pria kasar setiap hari pasti membuatnya merasa tertekan. "Tapi kau tetap memilih pekerjaan ini, kan?"
"Ya..." Awan mendung seolah menggantung di atas kepala Freya. Ternyata dari empat resepsionis, satu sedang dinas luar, satu cuti tahunan, dan satu lagi sedang sakit. Freya bekerja sendirian dalam kondisi kelelahan.
"Begitu rupanya. Pantas saja kau sampai kelelahan. Istirahatlah, meskipun ucapanku tidak akan mengubah beban kerjamu."
"Kau baik sekali," mata Freya sedikit berkaca-kaca. "Ah, tapi kau itu hanya 'Warga Sipil', jadi jangan memaksakan diri, oke? Shift-ku berakhir siang ini. Besok akan kucarikkan misi yang bagus untukmu."
"Maksudnya?"
"Banyak misi yang terlihat menggiurkan bagi pemula, tapi sebenarnya itu hanya 'umpan' berbahaya di mata resepsionis profesional sepertiku."
"Oh... terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama," Freya tersenyum bangga.
Apakah dia menganggapku adiknya? Entahlah, pikir Hikaru.
"Aku akan kembali lagi nanti," ujar Hikaru. "Eh, tunggu sebentar."
"Hmm? Ada apa?"
"Aku mendengar selentingan di pusat kota. Katanya ada orang penting yang dibunuh. Apakah Guild Petualang ada hubungannya dengan itu?"
Mata Freya membelalak. "Berita itu sangat rahasia! Hanya segelintir orang yang tahu. Dari mana kau mendengarnya?"
Gawat. Ternyata itu rahasia negara. Sepertinya kematian Count Morgstadt ditekan jauh lebih ketat dari dugaannya.
"Aku mendengarnya saat sedang kelaparan dan linglung, jadi ingatanku agak samar. Kau bilang rahasia, tapi kau juga tahu. Apa itu artinya ada petualang yang terlibat?"
"Tidak mungkin petualang." Freya terdengar sangat yakin. "Pihak berwenang datang ke sini hanya untuk menanyakan apakah ada petualang dengan Berkat Pembunuhan (Assassination Blessing) yang sangat kuat. Sepertinya mereka juga tidak berharap banyak dari penyelidikan di guild."
Freya menutup mulutnya dengan tangan. "Jangan bilang siapa-siapa soal ini, oke?"
"Tentu."
Jadi mereka tidak mencurigaiku. Bagus.
"Jangan mencampuri urusan yang bukan bagianmu," ujar Freya dengan gaya seperti senior. "Itu aturan besi seorang petualang."
Hikaru hanya bisa membatin; ia tidak hanya mencampuri urusan itu, dialah pelakunya.
Status Pilihan:
Pengetahuan Baru: Guild sedang kekurangan staf, Kematian Count Morgstadt dianggap rahasia tingkat tinggi.
Tujuan Selanjutnya: Membeli perlengkapan (Gear) dan menunggu rekomendasi misi dari Freya.
Apakah Hikaru akan menemukan perlengkapan yang cocok untuk gaya bertarung Stealth-nya, atau akankah identitas Roland mulai terendus pihak berwenang?
Bab: Perlengkapan Baru dan Kecemburuan di Balik Meja Resepsionis
Setelah meninggalkan guild, Hikaru membeli kebutuhan harian: pakaian dalam cadangan, sabun, handuk kecil, sikat gigi, batu pemantik sihir, tali, dan sebuah ransel untuk menyimpan semuanya. Total belanjaannya mencapai 500 Gilan.
"Sekarang... pakaian dan zirah," gumamnya.
Ia ingin segera menanggalkan pakaian Roland. Berdasarkan petunjuk Freya, ia mendatangi Dodorono’s Armor Workshop. Sesuai tradisi dunia ini, nama bengkel biasanya diambil dari nama sang pengrajin.
Begitu melangkah masuk, Hikaru terpaku. Manekin-manekin kayu di sana mengenakan pakaian yang sangat modis, berenda, bahkan ada gaun ala Gothic Lolita. Pemiliknya pasti punya selera yang... unik, pikirnya.
"Selamat datang!" sebuah suara berat menggelegar. "Terima kasih sudah mampir ke bengkelku, Nak!"
Seorang Dwarf. Pria cebol dengan janggut kepang yang lebat dan kasar. Hikaru tertegun. Bukankah Dwarf biasanya identik dengan menempa besi sambil menenggak minuman keras? Mengapa yang satu ini malah terjun ke dunia fashion?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan! Bagaimana mungkin seorang Dwarf bisa se-modis ini, kan?!" Dodorono menghentakkan kaki lalu tertawa lebar. "Kau anak yang jujur! Aku suka orang jujur!"
Meski sedikit aneh, Dodorono sangat profesional. Ia memilihkan set pakaian berdasarkan anggaran Hikaru. Pakaian ini memang terlihat seperti kain biasa, namun terbuat dari bahan monster yang jauh lebih kuat dari besi.
Perlengkapan Baru Hikaru:
Night Wolf Coat: Jaket setelan dari kulit serigala malam yang hitam pekat. Ringan namun sangat tangguh, mampu membantu pemakainya menyatu dengan kegelapan.
Night Wolf Boots: Sepatu bot senada dengan tali dari benang perak khas gaya Dodorono.
Cloak (Jubah): Jubah bertudung untuk menangkal sinar matahari langsung (karena kulit Night Wolf terasa gerah di bawah terik matahari).
Hikaru membayar 9.500 Gilan. Mahal bagi pemula, namun sebenarnya itu adalah harga miring. Dodorono sering memberikan diskon besar karena bengkelnya sepi akibat prasangka orang-orang bahwa "Dwarf tidak bisa menjahit".
Setelah itu, Hikaru segera mencari tempat pembuangan sampah dan membakar pakaian lama Roland. Saat api melahap kain itu, ia merasa benar-benar bebas. Identitas Roland Zaracia kini telah menjadi abu; yang tersisa hanyalah tubuhnya yang kini dihuni oleh Hikaru.
Selanjutnya adalah senjata. Hikaru mendatangi Leniwood’s Weapon Workshop. Jika sebelumnya ia bertemu Dwarf penjahit, kali ini ia bertemu Elf pandai besi bernama Leniwood.
"Menempa adalah seni, dan seni adalah kekuatan!" seru si Elf pirang itu sambil memamerkan otot lengannya yang ramping.
Leniwood menawarkan berbagai senjata dengan "efek spesial" yang aneh. Sebuah Claymore yang meningkatkan sihir elemen (padahal itu pedang fisik) dan sebuah busur panjang yang memberikan "angin sejuk" setelah anak panah dilepaskan.
"Maksudmu... setelah memanah, udaranya jadi dingin? Begitu saja?" tanya Hikaru sangsi.
"Tepat sekali!" jawab Leniwood bangga.
Hikaru menghela napas. Untungnya, Leniwood bersikap serius setelah mengetahui Hikaru adalah kenalan Freya dan Dodorono. Ia memilihkan Dagger of Strength seharga 5.000 Gilan. Belati sepanjang 25 cm ini meningkatkan kekuatan lengan pemakainya dan sangat cocok dengan gaya bertarung jarak pendek yang didukung Stealth.
Dalam satu hari, sisa uang Hikaru menyusut drastis menjadi 4.860 Gilan. "Tapi setidaknya, sekarang aku sudah siap bertualang," bisiknya.
Sementara itu, di konter Guild Petualang...
"Hmm~ hmmm~!" Freya bersenandung kecil sambil bekerja dengan sangat cepat.
"Wah, suasana hatimu bagus sekali ya?" sapa seorang resepsionis lain dengan nada lembut.
Dia adalah Gloria. Rambut ungu panjangnya dikuncir dua, matanya sayu namun memikat, dan ia dikenal sebagai "Resepsionis Penyejuk Hati" oleh para petualang. Freya selalu merasa tidak nyaman di dekat Gloria; intuisi tajamnya menangkap adanya percikan sinisme di balik suara lembut wanita itu.
"Kudengar ada petualang yang berhasil mencuri hatimu," goda Gloria.
"A-Apa?! Tidak seperti itu!" seru Freya panik.
"Siapa namanya?" tanya Gloria lagi, memancing keributan di antara para petualang yang mulai cemburu.
"Namanya Hikaru! Tapi aku tidak punya perasaan khusus padanya!" Freya tanpa sadar terjebak dalam jebakan pertanyaan Gloria. Wajahnya memerah padam. Karena tidak tahan digoda, Freya segera membereskan mejanya dan kabur karena shift-nya sudah berakhir.
Gloria melihat kepergian Freya dengan senyum yang perlahan menghilang. Matanya yang ungu berkilat tajam di balik kelopak mata yang menyipit.
"Freya benar-benar bersemangat ya..." bisik Gloria dingin.
Status Hikaru:
Set Perlengkapan: Full Night Wolf Set & Dagger of Strength.
Sisa Uang: 4.860 Gilan.
Kondisi: Siap untuk misi berikutnya.
Hikaru telah bertransformasi sepenuhnya. Namun, perhatian yang ia dapatkan dari Freya tanpa sadar telah menarik perhatian sosok "berbahaya" seperti Gloria. Apa yang akan terjadi saat Hikaru kembali ke guild besok?
Bab: Penyelidikan Sang Mata-Mata dan Rahasia Papan Jiwa
Hikaru, yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di konter guild tadi, melangkah masuk ke gedung setelah makan siang singkat di kedai jalanan. Meski sudah berganti pakaian dan bisa saja masuk ke restoran mewah, ia mulai menyukai makanan kaki lima—kali ini berupa perpaduan antara quiche dan okonomiyaki.
Di konter, ia melihat seorang wanita asing yang tak kalah cantik dari Freya, juga dikerumuni para petualang.
"Apa Guild ini sengaja mengumpulkan wanita cantik untuk meningkatkan angka keselamatan petualang?" batin Hikaru. "Atau mungkin karena gajinya tinggi, makanya hanya wanita terpilih yang bisa masuk?"
Hikaru merasa lega Freya tidak ada di sana. Gadis itu terlihat sangat kelelahan tadi pagi; setidaknya sekarang ia punya waktu untuk beristirahat.
Karena Freya tidak ada, Hikaru yakin tidak akan ada yang memanggilnya. Ia langsung menuju papan pengumuman. Kategori misi yang paling sedikit peminatnya adalah Bodyguard (Pengawal), karena rata-rata membutuhkan sepuluh orang petualang atau lebih. Untuk peringkat G seperti dirinya, pilihannya terbatas pada misi kebersihan atau belanja.
"Sedang mencari komisi?"
Sesosok wanita berambut ungu yang tadi berada di konter tiba-tiba berdiri di sampingnya. Aroma parfumnya tercium manis. Hikaru menyadari wanita itu—Gloria—sedang membawa tumpukan formulir misi baru.
"Hei, kenapa Gloria bicara dengan bocah itu?" "Bukannya itu bocah yang membuat Freya menangis?" "Kudengar dia mengancam Freya agar mau tidur dengannya setiap malam!"
Bisikan-bisikan sampah mulai terdengar. Gloria tampak bingung. Ia memperhatikan Hikaru—bocah yang selalu ada di pikiran Freya—tapi tidak merasakan aura istimewa apa pun darinya. Ia memutuskan untuk memancing sedikit.
"Aku punya misi yang mungkin cocok untukmu," ujar Gloria. "Berapa peringkatmu?"
Hikaru menunjukkan kartu guild-nya. Benar, namanya Hikaru. Tanpa nama keluarga. Berarti bukan bangsawan, batin Gloria.
Hanya sesaat, alis halus Gloria berkerut. Berkat yang tertera di kartu itu hanyalah [Civilian] (Warga Sipil).
"Tuan Hikaru," tanya Gloria lagi, "apa Berkatmu yang lain selain Civilian?"
Pria muda biasanya suka pamer, apalagi di depan wanita cantik. Gloria yakin jika Hikaru punya Berkat unik, ia pasti ingin menyombongkannya. Namun, Hikaru hanya menggeleng tenang. "Aku tidak punya Berkat lain."
Hanya Warga Sipil? Tidak mungkin. Freya pasti sudah menyuruhnya menyembunyikannya. Dia selangkah di depanku, pikir Gloria. Rasa penasarannya justru semakin memuncak. Ia menduga Hikaru punya Berkat 3 atau 4 karakter yang luar biasa.
"Bagaimana kalau misi ini?" Gloria menyodorkan selembar kertas. "Hanya pengantaran barang, sempurna untuk 'Warga Sipil' sepertimu."
Hikaru mempelajari formulir itu. "Tidak buruk. Sepertinya bisa selesai hari ini."
[Quest Hunter] Misi: Mengantarkan surat kepada Kelbeck, seorang pengrajin (Artificer) di Pond. Hadiah: 200 Gilan.
Gloria menunjukkan peta detail kota Pond untuk memandunya. Hikaru merasa wanita ini sedang merencanakan sesuatu. Meski Gloria menyembunyikannya dengan baik, indra Hikaru yang tajam bisa merasakan aura dingin dan menyelidik dari matanya.
"Wanita itu sepertinya punya maksud lain," gumam Hikaru setelah keluar dari Guild. Ia merasa kasihan pada Freya yang harus bekerja dengan orang seperti itu.
Sambil berjalan menuju alamat tujuan, Hikaru memutuskan untuk menguji efektivitas kemampuan Stealth-nya secara mendetail.
Pertama, ia mematikan semua kemampuan. Penjual buah langsung menyapanya. Kemudian, ia mengaktifkan Life Cloaking dan Mana Cloaking. Hasilnya? Penjual bunga masih menyapanya dengan ramah. Ia menyimpulkan bahwa dua Skill ini hanya berguna untuk menghindari deteksi sihir atau radar kehidupan, bukan pandangan mata manusia.
Namun, saat ia mengaktifkan Imperceptibility (Ketidakterlihatan)... Orang-orang mulai mengabaikannya. Ia harus melambaikan tangan atau bertepuk tangan tepat di depan mereka agar diperhatikan. Begitu mereka berpaling sedetik saja, mereka langsung kehilangan jejaknya lagi.
Puncaknya adalah saat ia mengaktifkan kombinasi Stealth + Blessing [Stealth God: Bearer of Darkness]. Ia benar-benar menjadi "tak terlihat". Bertepuk tangan di dekat telinga orang pun tidak memancing reaksi apa pun. Ia merasa seperti hantu. Namun, ia tahu kemampuannya punya kelemahan: jebakan fisik. Ia bisa bersembunyi dari mata, tapi tidak dari jebakan lantai atau alarm mekanis.
Aku tidak boleh jemawa. Lagipula, di kehidupan sebelumnya aku mati karena kecelakaan, ia mengingatkan dirinya sendiri.
Terakhir, ia ingin memeriksa Soul Board. Apakah alat ini hanya untuk mengisi poin Skill, atau ada fungsi lain?
Secara kebetulan, ia bertemu lagi dengan gadis kecil yang memberinya petunjuk arah kemarin. Hikaru memanggil Soul Board-nya di depan gadis itu.
"Apa kau melihat sesuatu di sini?" tanya Hikaru.
"Melihat apa?" gadis itu balik bertanya. Dia tidak bisa melihatnya.
Papan itu tetap melayang di udara bahkan saat Hikaru melepaskan tangannya. Tiba-tiba, saat Hikaru memfokuskan pandangannya pada inti keberadaan gadis kecil itu, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sebuah jendela muncul di hadapannya:
[ Soul Board ] Rana Valcon Usia: 4 | Peringkat Jiwa (Rank): 4
"Apa?"
Hikaru tertegun. Ternyata ia tidak hanya bisa melihat miliknya sendiri, tapi ia juga bisa melihat Soul Board milik orang lain. Kemampuan ini jauh lebih berbahaya dan luar biasa daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
Status Pilihan:
Penemuan: Imperceptibility adalah kamuflase aktif; Berkat Dewa menjadikannya absolut.
Kemampuan Baru: Mampu melihat Soul Board orang lain.
Tujuan Selanjutnya: Mengantarkan surat ke pengrajin bernama Kelbeck.
Rahasia apa yang akan Hikaru temukan di Soul Board para petualang kuat atau pejabat kota nanti?
Bab: Peringkat Jiwa dan Sarang Para Pencuri
"Tuan?" "B-Beri aku waktu sebentar. Aku perlu menenangkan diri."
Hikaru menjauh dari gadis itu sekitar lima meter, dan Soul Board tersebut menghilang dari pandangannya.
"Siapa namamu?" tanya Hikaru. "Kenapa kau bertanya?" Gadis itu tampak sangat waspada.
"Ah, maksudku, kau sudah membantuku memberi arah ke guild kemarin. Aku berhasil sampai di sana dan mendapatkan kartu guild. Aku ingin berterima kasih, dan rasanya tidak sopan jika aku tidak tahu namamu." "Hmm... namaku Rana."
Aha! Jadi itu benar-benar Papan Jiwa miliknya!
"Begitu rupanya. Terima kasih, Rana. Ini sesuatu sebagai tanda terima kasihku." Hikaru menyerahkan sekeping koin perak. Gadis itu langsung bersorak kegirangan melihat uang perak yang berkilau.
Maaf, Rana. Ini demi eksperimen sains.
Hikaru kembali membuka Soul Board Rana. Muncul notifikasi: "Buka kunci Soul Board? Konsumsi 1 poin." Hikaru memilih "Ya". Layar [Vitality] pun terbuka, menampilkan status seperti Natural Recovery, Stamina, dan Immunity yang semuanya masih di angka nol.
Jadi aku tidak hanya bisa melihat, tapi juga bisa menghabiskan poin orang lain.
Hikaru bergidik. Ia memiliki akses penuh ke Skill Tree siapa pun. Jika ia menemukan sekutu yang bisa dipercaya, ia bisa "membangun" kemampuan mereka dari balik layar. Namun, ia segera sadar bahwa itu terlalu berisiko; poin yang habis tidak bisa kembali, dan sekutu bisa saja berbalik menjadi musuh.
"Terima kasih untuk segalanya, Rana. Jika kau dalam kesulitan, aku akan membantumu," ujar Hikaru sambil memberikan satu koin perak lagi sebagai kompensasi tersembunyi karena telah menggunakan poin jiwanya.
Sambil melanjutkan perjalanan, Hikaru memeriksa Soul Board-nya sendiri dan menyadari sesuatu yang mengejutkan.
[ Soul Board ] Hikaru Usia: 15 | Peringkat (Rank): 4 | Poin: 4
Poinnya bertambah. Peringkat jiwanya naik dari 1 menjadi 4. Kapan peringkatku naik? Seingatku Rank hanya naik jika membunuh monster.
Lalu sebuah kesadaran pahit muncul. Definisi "monster" di dunia ini sangat samar—segala makhluk yang membawa celaka bagi manusia. Dengan kata lain, membunuh manusia dengan level kekuatan tertentu juga memberikan poin jiwa. Ia naik peringkat karena telah membunuh Count Morgstadt.
Hikaru merasa dilematis; ia bersyukur mendapatkan poin, tapi cara mendapatkannya lewat pembunuhan meninggalkan rasa hambar di hatinya.
Hikaru mengikuti rute yang diberikan Gloria menuju sebuah saluran irigasi. Ia menuruni tangga yang runtuh dan mencium bau busuk yang menyengat. Di sana terdapat terowongan bawah tanah—sistem pembuangan limbah kota.
Mengaktifkan Stealth, Hikaru berjalan melewati kelelawar dan tikus tanpa memicu reaksi mereka. Berdasarkan memori Roland, limbah kota biasanya diolah oleh monster bernama Chaos Slime yang memurnikan air.
Saat sedang berjalan di jalan setapak yang sempit, ia mendengar suara langkah kaki. Dua pria dengan luka parut di wajah—jelas-jelas preman—berjalan sambil membawa lampu. Hikaru segera bersembunyi di ceruk dinding sedalam tiga meter.
"Footprint ini terlihat kecil," gumam salah satu preman saat melihat jejak kaki Hikaru di lumpur. "Mungkin anak yatim piatu yang tersesat ke sini," timpal temannya.
Mereka pun berlalu. Hikaru menyadari bahwa Stealth tidak berguna jika ia meninggalkan jejak fisik. Ia pun mengikuti mereka dengan lebih hati-hati hingga sampai di sebuah area pemukiman bawah tanah yang tersembunyi dari otoritas kota.
Di sebuah ruangan yang mewah namun pengap, seorang pria dengan tato merah seperti api duduk dengan kaki di atas meja. Dialah Kelbeck.
Kedua preman tadi melapor padanya lalu pergi. Saat mereka keluar, si pria bertato berbalik dan langsung membeku. Seorang bocah sudah duduk dengan santai di atas mejanya.
"Halo." "Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk?!" Kelbeck menghunus belatinya dengan waspada.
"Aku hanya mengantarkan surat," ujar Hikaru sambil menyodorkan kertas dari guild.
Kelbeck tertegun. Ia memiliki penjaga di tiga ruangan sebelumnya, namun tidak ada satu pun yang menyadari kehadiran bocah ini. Ia mengambil surat itu dengan geram, membacanya, lalu menatap Hikaru dengan tajam.
"Mari bicara. Siapa yang membiarkanmu masuk?" "Tidak ada. Aku masuk sendiri."
Kelbeck memeriksa keluar dan menyadari Hikaru jujur. Ia kemudian memperhatikan perlengkapan Hikaru. "Ah, kulihat kau memakai kulit Night Wolf. Pantas saja kau pandai menyelinap. Kau punya nyali, Nak."
Kelbeck menandatangani formulir misi tersebut menggunakan kartu jiwa miliknya sebagai verifikasi. "Nah, sekarang pergilah."
"Tunggu," ujar Hikaru sambil menyeringai. "Kau terdaftar sebagai Artificer (Pengrajin), tapi sebenarnya kau adalah pemimpin organisasi bawah tanah, kan?"
Kelbeck terdiam. Tebakan itu tepat sasaran. "Di permukaan, kami disebut Thieves Guild (Guild Pencuri). Tapi kami tidak menargetkan orang miskin."
"Aku tahu. Kalau tidak, kau pasti sudah menyerangku sejak tadi," sahut Hikaru santai.
"Jika kau dalam masalah, sebut namaku. Aku akan membantumu, tentu saja dengan imbalan," ujar Kelbeck.
"Berdoalah agar aku tidak malah menyebabkan masalah bagi Guild Pencurimu," balas Hikaru sebelum berbalik pergi.
"Bocah yang mengerikan," gumam Kelbeck setelah Hikaru hilang dari pandangan. "Tapi dia punya potensi."
Status Hikaru:
Poin Jiwa: 4 (Belum dialokasikan).
Hubungan Baru: Mendapat kontak dengan dunia bawah tanah (Thieves Guild).
Wawasan: Membunuh manusia "kuat" memberikan kenaikan Rank.
Apakah Hikaru akan mengalokasikan 4 poin barunya ke Stealth agar menjadi benar-benar tak tersentuh, atau ia akan mulai memperkuat Vitality-nya untuk bertahan hidup?
Bab: Strategi di Balik Senyuman dan Papan Jiwa yang Tersembunyi
Misi itu sebenarnya sederhana, namun berbagai pengujian yang dilakukan Hikaru di sepanjang jalan memakan waktu cukup lama. Matahari mulai tenggelam, membilas langit dengan warna merah tua yang pekat.
Saat Hikaru kembali ke guild, suasana sudah sepi. Hanya ada beberapa petualang yang tersisa, padahal hari belum sepenuhnya gelap. Hikaru segera menyadari alasannya.
"Nah, sudah selesai. Sebaiknya kau pulang lebih awal dan istirahat yang cukup, ya?" "Apa kau ada waktu setelah ini? Bagaimana kalau makan mal—" "Sebaiknya kau pulang lebih awal dan istirahat yang cukup, ya?" Gloria mengulang kalimat yang sama persis dengan senyum radiasi yang tidak luntur.
Petualang itu akhirnya menyerah dan pergi dengan bahu lesu. Gloria memproses setiap laporan dengan efisiensi yang menakutkan. Begitu tiba giliran Hikaru, mata Gloria sedikit melebar.
Malam itu, setelah menutup gerbang guild, Gloria tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kelbeck adalah tokoh besar di Thieves Guild. Tidak mungkin bocah itu menemuinya semudah itu. Seharusnya, begitu dia melangkah ke saluran pembuangan, anak buah Kelbeck akan meringkusnya.
Rencana Gloria sebenarnya licik: Hikaru ditahan, lalu Gloria datang sebagai "penyelamat" dari pihak guild untuk menegosiasikan pembebasannya. Dengan begitu, Hikaru akan berhutang budi besar padanya, dan Gloria bisa mengorek semua informasi darinya. Namun, rencana itu gagal total. Hikaru kembali dengan santai seolah baru saja pulang dari jalan-jalan sore.
"Aku hanya menemuinya secara normal," jawab Hikaru singkat saat ditanya. Gloria tersenyum dalam kegelapan. Senyum yang kelam. Aku semakin penasaran padamu, Hikaru.
Di sisi lain, Hikaru kembali merebahkan diri di lantai penginapan murah yang sama. Sisa uangnya kini 4.890 Gilan. Imbalan 200 Gilan dari misi pengantaran tadi terasa sangat tidak efisien di matanya.
Pertama, aku butuh uang besar untuk hidup nyaman. Kedua, mencari jalan pulang. Ketiga, hobi... tapi aku tidak punya hobi khusus.
Hikaru sadar ia bukan tipe orang yang ingin menjadi nomor satu di bidang olahraga atau organisasi. Baginya, bekerja keras untuk sesuatu yang tidak memberikan hasil maksimal adalah "tidak efisien". Namun, sebuah pemikiran baru muncul: ia ingin melihat dunia ini dengan matanya sendiri sebelum memutuskan apa yang ingin ia lakukan.
Untuk itu, aku butuh dana! Dan untuk mendapatkan dana, aku butuh efisiensi maksimal dari Soul Board!
Eksperimen Stealth hari ini sukses, tapi ia menyadari satu kelemahan fatal: ia bisa bersembunyi, tapi tidak bisa mendeteksi. Infiltrasinya ke kantor Kelbeck berhasil hanya karena keberuntungan, sebab ia sama sekali tidak menyadari adanya para penjaga tersembunyi.
Ia memanggil Soul Board-nya.
[ Vitality ]
Natural Recovery: 0 (Meningkatkan pemulihan luka luar. Max: 20)
Stamina: 0 (Daya tahan fisik dan pemulihan lelah. Max: 20)
Mana Capacity: 0 (Kapasitas Mana. Max: 30)
Muscle Strength: 0 (Kekuatan otot dasar. Max: 30)
...
Hikaru terkejut melihat batas maksimal poin. Jika Stealth hanya butuh 5 poin untuk dikuasai, atribut dasar seperti Strength membutuhkan hingga 30 poin. Apa jadinya jika aku menaruh 30 poin di kekuatan otot? Apa aku bisa menghancurkan batu besar dengan tangan kosong?
Namun, rasa penasarannya tertuju pada tiga papan yang masih terkunci: Pentagon, Hexagon, dan satu papan tanpa label. Ia memutuskan menggunakan 1 dari 4 poinnya untuk membuka papan tanpa label tersebut.
"Buka kunci Soul Board? Konsumsi 1 poin." "Ya."
Layar baru muncul: [ Instinct ] (Insting).
Instinct: 0 (Mempertajam indra untuk mendapatkan 'wahyu' yang mendekati ramalan masa depan. Max: 20)
Memory: 0 (Meningkatkan fungsi otak dalam mengingat. Max: 10)
Detection: (Masih terkunci)
Insting! Ini yang kubutuhkan! pikirnya. Namun, ia masih punya 3 poin tersisa. Hikaru menatap papan itu lama sebelum akhirnya matanya terasa berat dan ia tertidur.
Di dalam mimpinya, cahaya sore menembus tirai putih yang menyilaukan. Seorang gadis, setahun lebih tua darinya, berdiri membelakangi cahaya sambil tersenyum tipis.
"Aku bertaruh orang-orang pasti menyebutmu sombong," suara gadis itu lembut namun menusuk. "Hidupmu akan berat, Hikaru. Kau mungkin cerdas, tapi kau juga gegabah. Suatu hari nanti, di suatu tempat, kau mungkin akan mati tiba-tiba."
Gadis itu cantik, dengan rambut hitam panjang yang indah. Hikaru hanya bisa membalas dengan senyum sinis yang kekanak-kanakan.
"Terima kasih atas ramalan yang mengerikan itu, Hazuki."
Status Hikaru:
Poin Tersisa: 3 (Tersimpan).
Skill Baru Terdeteksi: Papan Instinct (Mencakup Memori dan Deteksi).
Misi Besok: Menunggu rekomendasi "umpan balik" dari Freya.
Akankah Hikaru mengalokasikan poinnya ke Detection untuk menutupi kelemahannya, atau ke Memory untuk menyerap lebih banyak ilmu dari dunia baru ini? Dan siapa sebenarnya Hazuki dalam ingatan masa lalunya?
Bab: Deteksi Kehidupan dan Saran Sang "Kakak"
Saat Hikaru membuka mata, matahari baru saja mulai merayap naik. Cahaya remang menyusup melalui jendela penginapan yang reot.
Hanya mimpi...
Ia terbangun di pojok ruangan besar penginapan itu. Ini bukan Jepang; ini dunia lain. Hikaru menghela napas panjang. Sejak tiba di sini, ia tidak pernah bermimpi. Dan sekalinya bermimpi, subjeknya bukanlah orang tua atau sekolahnya, melainkan seorang senior yang sudah dua tahun tidak ia temui.
Hikaru memang sombong. Meskipun hanya belajar di waktu luang, ia selalu masuk lima besar di angkatannya. Ia tidak bermaksud meremehkan orang lain, tapi ia memang malas berurusan dengan orang bodoh. Sifat itu mungkin terpancar keluar.
"Suatu hari nanti, kau mungkin akan mati tiba-tiba, ya..."
Ironisnya, ramalan Hazuki terbukti benar. Hikaru mati secara tragis, dan hanya karena keberuntungan murni ia bisa hidup kembali di tubuh ini. Namun, tidak ada jaminan keberuntungan itu akan datang dua kali.
Aku harus memprioritaskan keselamatan.
Hikaru memanggil Soul Board-nya dan membuka kunci [Detection] (Deteksi).
Life Detection: 1 (Mendeteksi keberadaan makhluk hidup di sekitar. Max: 5)
Mana Detection: 1 (Mendeteksi keberadaan melalui aliran mana. Max: 5)
Begitu poin dialokasikan, sebuah indra baru lahir dalam tubuhnya—mirip seperti pendengaran atau penciuman. Saat ia fokus, ia bisa merasakan "kehidupan" para petualang yang sedang tidur di tengah ruangan sebagai pendaran cahaya oranye yang lembut. Ketika ia beralih ke Mana Detection, cahaya itu berubah menjadi biru.
Ia menyadari bahwa Life Detection tidak peduli seberapa besar mana targetnya; selama target memiliki massa fisik, ia bisa merasakannya. Sebaliknya, Mana Detection sangat bergantung pada kekuatan sihir. Di kegelapan atau di balik dinding, kemampuan ini sangat absolut, meski jangkauannya saat ini baru sepuluh meter.
Sebelum ke Guild, Hikaru mampir ke kedai hotdog kemarin. Bukan karena suka, tapi karena aroma hari ini berbeda. Namun, sausnya ternyata tetap aneh—terbuat dari kecap ikan.
"Jujur saja, rasanya mengerikan," cetus Hikaru datar. Si penjual mengertakkan gigi. "Ini saus spesial berbahan dasar ikan!" "Hotdog itu pasangannya saus tomat (ketchup) dan mustard. Itu aturan dasarnya!" seru Hikaru. Ia mencoba menjelaskan cara pembuatan saus tomat secara singkat kepada si pedagang yang kebingungan sebelum akhirnya melangkah masuk ke Guild.
Begitu masuk, ia langsung disambut tatapan tajam dari para petualang pria. "Itu bocah yang kemarin..." "Bocah ingusan yang dapat perlakuan istimewa dari Freya dan Gloria."
Namun, Hikaru tidak punya waktu untuk mereka. Tiba-tiba, Freya berlari dari balik konter dan langsung menyambar tangannya. "Hikaru! Kau tidak apa-apa?!"
Tangan Freya yang lembut dan hangat, ditambah aroma tubuhnya yang harum dari jarak dekat, membuat konsentrasi Hikaru sedikit buyar. Di Jepang, satu-satunya wanita yang pernah bicara sedekat ini dengannya hanyalah Hazuki.
Freya menariknya ke dalam bilik konsultasi—tempat yang sama dengan Gloria kemarin. "Aku terkejut saat tahu kau mengambil misi dari Gloria. Itu misi berbahaya, Hikaru! Kau tidak seharusnya mengantarkan surat ke petinggi Thieves Guild sendirian."
"Aku hanya mengantarkannya secara normal," jawab Hikaru tenang. Freya menghela napas panjang. "Kau pasti sangat beruntung. Sebaiknya kau menjauhi Gloria. Dia... sulit ditebak."
Hikaru terkejut melihat Freya bisa bicara sejujur itu tentang rekannya sendiri. Ia merasa senang karena Freya begitu peduli padanya. "Baiklah, aku akan menuruti saranmu."
"Bagus! Ini, aku punya misi-misi yang sempurna untukmu!" Freya menyodorkan setumpuk kertas: Membersihkan selokan, belanja untuk Gereja, memperbaiki atap, menemani lansia mengobrol.
"Tidak, terima kasih," tolak Hikaru cepat. "Kenapa?! Ini misi penting untuk kota!" "Aku ingin mencari uang dengan efisien."
Wajah Freya langsung lesu seperti anak anjing yang dimarahi. Hikaru merasa tidak enak. Akhirnya, Freya menunjukkan misi permanen yang sulit.
[ Monster Hunter ] [ Permanen ] Target: Red-Horned Rabbit (Kelinci Bertanduk Merah). Hadiah: 10.000 Gilan per ekor.
"Kelinci ini sangat cepat, tapi tidak menakutkan. Kau bisa membunuhnya hanya dengan pisau," jelas Freya. "Masalahnya, mereka hampir mustahil ditangkap. Petualang biasanya hanya bisa menangkap satu ekor dalam sepuluh hari, bahkan ada yang tidak dapat apa pun dalam sebulan."
Hikaru tersenyum. Bagi orang lain, menangkap kelinci secepat kilat adalah masalah keberuntungan atau ketangkasan. Tapi bagi Hikaru yang punya Stealth level dewa dan Life Detection, kelinci itu tidak akan pernah tahu apa yang menyerang mereka.
"Aku mengerti. Terima kasih." "Hati-hati di luar sana. Jangan berkemah di luar kota; pintu gerbang tutup saat senja. Dengarkan kata kakakmu ini, oke?" ujar Freya sebelum kembali ke konter.
"Kakak, ya?" Hikaru tertawa kecil. Freya seumuran dengan Hazuki, tapi sifatnya yang sok dewasa justru membuatnya terlihat lebih muda. Saat ia berbalik untuk pergi, ia kembali menyadari tatapan-tatapan penuh kebencian dari para petualang di sekelilingnya.
Status Hikaru:
Skill Baru: Life Detection (Lvl 1), Mana Detection (Lvl 1).
Target: Red-Horned Rabbit.
Potensi Pendapatan: 10.000 Gilan per ekor (Sangat Efisien).
Dengan kemampuannya yang sekarang, apakah berburu kelinci akan semudah membalikkan telapak tangan, ataukah ada ancaman lain yang mengintai di padang rumput luar kota?
Bab: Eksperimen Soul Board dan Pelajaran bagi Para Perundung
Begitu memasuki perpustakaan, Hikaru segera menempel di dinding. Ia mengaktifkan Life Detection untuk memeriksa lobi. Benar saja, salah satu petualang yang tadi melotot padanya sedang menunggu tepat di luar pintu.
"Apa yang dilakukan bocah itu di perpustakaan?" "Entahlah. Aku sudah tidak sabar dia keluar agar kita bisa 'bersosialisasi' dengannya." "Kalau maksudmu 'bersosialisasi' adalah menghajarnya sampai babak belur, aku setuju. Salah sendiri dia berani mendekati gadis-gadisku." "Hah? Freya itu milikku!"
Sangat kekanak-kanakan. Dasar bodoh, batin Hikaru. Ia menggunakan Life Detection untuk mengukur jarak; mereka berada tepat dalam radius lima meter. Kesempatan yang sempurna. Ia segera memanggil Soul Board milik pria yang bernama Zelnenko Rigalow itu.
[ Soul Board ] Zelnenko Rigalow Usia: 22 | Rank: 11 | Poin Tersedia: 18
Hikaru terkejut melihat status Zelnenko. Ternyata papan [Immunity] milik pria itu sudah terbuka, mencakup kekebalan sihir, penyakit, dan racun. Hikaru juga melihat papan [Strength] yang memiliki sembilan jenis penguasaan senjata (Weapon Mastery), namun tidak ada kapak atau pemukul di sana.
Satu hal yang menarik adalah papan pentagon yang bernama [Dexterity] (Ketangkasan). Di bawahnya terdapat Tool Mastery (Penguasaan Alat) yang tampaknya berkaitan dengan manufaktur atau kerajinan.
Zelnenko memiliki total 33 poin (Usia 22 + Rank 11), di mana 15 sudah teralokasi otomatis dan 18 masih tersisa. Hikaru menyimpulkan bahwa bagi manusia biasa, poin ini terisi secara otomatis berdasarkan latihan keras mereka, bukan dialokasikan secara sadar seperti yang ia lakukan.
"Kau ingin menghajarku, Zelnenko? Baiklah, mari kita bereksperimen," gumam Hikaru dengan senyum tipis.
Hikaru bisa mengalokasikan poin orang lain dengan bebas. Biasanya ini akan menguntungkan si pemilik, tapi Hikaru punya rencana lain: ia akan menggunakan sisa 18 poin Zelnenko hanya untuk membuka kunci (unlock) semua papan dan kategori yang ada tanpa mengisi poin levelnya. Dengan begitu, poin Zelnenko akan habis tanpa memberikan peningkatan kekuatan yang nyata.
Sambil tersenyum, Hikaru membuka papan heksagon: [Willpower] (Kemauan). Ia melihat kategori Charisma dan Appeal di sana bernilai nol. "Ternyata poin Soul Board ini hanyalah bonus tambahan. Meskipun nilainya nol, bukan berarti dia tidak punya otot atau kepribadian, hanya saja dia tidak punya 'bonus ilahi' di bidang itu," analisis Hikaru.
Ia terus membuka semua kunci kategori pada papan Zelnenko dan kedua temannya—mulai dari Magical Power (Fire, Earth, Water, dsb), Instinct (Invention, Fine Arts), hingga Intelligence (Computation, Language). Hikaru mendapati bahwa rata-rata petualang tingkat menengah hanya memiliki maksimal satu poin pada kategori tertentu. Memaksimalkan satu statistik hingga penuh seperti yang ia lakukan pada Stealth adalah hal yang sangat tidak lazim.
Setelah menguras poin para perundungnya untuk "biaya informasi", Hikaru mempelajari tentang Red-Horned Rabbit di perpustakaan lalu bersiap berangkat. Ia membeli roti lapis seharga 30 Gilan dan mengisi botol minumnya.
Tanpa ia sadari, jumlah orang yang membuntutinya bertambah dari tiga menjadi enam. Mereka mengikuti Hikaru saat ia keluar gerbang kota menuju alam liar.
"Hati-hati di luar sana, Nak. Menjadi takut itu tidak buruk bagi petualang," pesan sang penjaga gerbang yang baik hati.
Begitu sampai di luar, Hikaru disambut oleh pemandangan alam yang megah. Padang rumput yang bergelombang seperti ombak perak ditiup angin, sungai kecil yang jernih, dan pegunungan biru di kejauhan. Hikaru merasakan adrenalinnya naik.
"Ayo kita kepung dia... Hah?!" Zelnenko dan kawan-kawannya ternganga. Mereka mengira Hikaru bersembunyi di balik semak tinggi, namun saat diperiksa, bocah itu telah lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada seorang pun di Kerajaan Ponsonia yang bisa mendeteksi Hikaru saat ia mengaktifkan kombinasi Stealth dan Berkat Dewa Kegelapan.
Namun, di gerbang kota, sang penjaga gerbang merasa curiga melihat enam petualang yang membuntuti Hikaru. Ia memanggil rekannya dan segera mengejar mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya sang penjaga dengan tegas saat mendapati keenam petualang itu sedang kebingungan. "I-Itu... bukan apa-apa, Pak!" "Ikut aku ke pos penjagaan. Sekarang!" perintah sang penjaga.
Di pos penjagaan, setelah diinterogasi oleh tentara-tentara berotot, mereka akhirnya mengaku ingin "memberi pelajaran" pada Hikaru karena merasa cemburu. "Kalian ini pria dewasa! Pantas saja tidak ada wanita yang mau melirik kalian!" bentak sang penjaga.
Insiden ini segera dilaporkan ke Guild Petualang. Freya, yang mendengar bahwa Hikaru hampir saja dikeroyok oleh enam orang, berteriak histeris karena khawatir. Ia kini punya alasan lebih kuat untuk terus mengawasi petualang mudanya yang misterius itu.
Status Hikaru:
Kondisi: Berhasil menyelinap ke wilayah perburuan tanpa jejak.
Hasil Eksperimen: Mengonfirmasi bahwa ia bisa menguras poin orang lain untuk membuka informasi Soul Board.
Tujuan: Berburu Red-Horned Rabbit (10.000 Gilan/ekor).
Sementara enam petualang itu sibuk dihukum, Hikaru kini berada di padang rumput luas, siap memulai perburuan efisiennya. Berapa banyak kelinci yang bisa ia tangkap sebelum senja?
Bab: Perburuan Pertama dan Keberuntungan yang "Mencurigakan"
Tanpa menyadari keributan yang terjadi di gerbang kota, Hikaru melangkah santai menyusuri padang rumput. Ia yakin para petualang yang membuntutinya tadi sudah kehilangan jejak.
Kelinci Bertanduk Merah biasanya hidup di dekat kota karena predator buas jarang mendekat ke sini, batin Hikaru, mengingat informasi dari perpustakaan.
Tak lama kemudian, Hikaru melihat targetnya di balik semak-semak. Ukurannya lumayan besar untuk seekor kelinci, kira-kira seukuran kotak kardus jeruk. Di kepalanya terdapat tanduk merah cerah. Semakin panjang tanduknya, semakin mahal harganya. Namun, kelinci yang ini memiliki tanduk yang patah.
Hikaru melakukan eksperimen. Ia mematikan Stealth dan Berkatnya pada jarak 100 meter. Seketika, kelinci itu menegakkan kepala, waspada. Ia menyalakan kembali kemampuannya dan mendekat hingga jarak 30 meter. Tiba-tiba, kelinci itu menoleh tepat ke arahnya dan melesat pergi dengan kecepatan luar biasa.
Ternyata 30 meter adalah batas maksimal Stealth jika tanpa Berkat. Kelinci ini pasti punya Life atau Mana Detection yang tajam, analisis Hikaru.
Ia mencoba lagi. Kali ini dengan Berkat [Stealth God: Bearer of Darkness] aktif. Hasilnya luar biasa; ia berhasil berdiri tepat di belakang seekor kelinci besar tanpa memicu kecurigaan sedikit pun. Kelinci itu sedang asyik makan, dan tanduknya masih utuh sempurna.
Saatnya membunuhnya.
Hikaru menggenggam Dagger of Strength miliknya. Tangannya sedikit gemetar. Bodoh sekali. Aku sudah membunuh manusia, tapi sekarang aku ragu membunuh binatang. Ia tahu Morgstadt pantas mati demi Roland, tapi kelinci ini tidak bersalah padanya. Namun, demi kelangsungan hidup, ia memantapkan hati.
Dengan satu gerakan cepat, ia menghujamkan belatinya menembus punggung hingga ke jantung. Berkat Skill [Assassination], belati itu masuk tanpa hambatan. Kelinci itu kejang sejenak lalu terkulai. Setelah berdoa singkat—meski ia tahu Buddha tidak ada di dunia ini—ia segera membawa bangkainya ke sungai kecil untuk dikuliti dan dibersihkan organ dalamnya agar dagingnya tetap segar dan ringan dibawa.
Saat kembali ke kota, penjaga gerbang menepuk bahunya dengan tatapan penuh simpati. "Segeralah ke Guild," pesannya.
Di Guild, suasana terasa tegang. Freya dan Gloria sedang berada di konter. Begitu melihat Hikaru, Freya hampir melompat keluar, namun ia menahan diri karena ada Gloria di sampingnya. Matanya seolah berteriak: "Kemari! Jangan bicara pada Gloria!"
Karena desakan Freya, Hikaru akhirnya masuk ke bilik konsultasi. Di sana, Freya langsung membungkuk dalam-dalam.
"Aku minta maaf!" serunya. "Maaf untuk apa?" tanya Hikaru bingung.
"Kau dibuntuti oleh enam petualang. Mereka adalah fanku yang cemburu karena kupikir aku memberimu perlakuan istimewa. Aku benar-benar merasa bersalah."
"Oh, itu. Aku tahu kok," jawab Hikaru santai. "Kau tahu?!" "Iya. Gerakan mereka terlalu kentara. Menurutku, petualang di kota ini sedikit kurang kompeten."
Freya terbelalak. "Itu tidak benar! Zelnenko adalah petualang berbakat meski masih peringkat E. Dia punya Berkat [One-handed Sword Technician God: Technical Swordsman]—Berkat lima karakter!"
Hikaru tertegun. Berkat lima karakter saja sudah dianggap hebat? Lalu bagaimana dengan Berkat dua karakterku dan Soul Board ini? Ia mencatat dalam hati untuk terus merahasiakan kekuatannya.
"Hikaru, kau pasti ketakutan, kan? Tapi tenang saja! Mereka sudah diperingatkan oleh penjaga dan akan diawasi ketat!" Freya membusungkan dadanya dengan bangga.
Hikaru memalingkan wajah, merasa agak rikuh. Ia tidak takut sama sekali, tapi ia menghargai perhatian Freya. "Terima kasih, Freya. Ngomong-ngomong, aku ingin menyerahkan hasil buruan."
"Hasil buruan? Kami belum butuh tanaman obat lagi untuk sementara..." "Bukan tanaman obat. Aku dapat ini," Hikaru membuka tasnya.
Bau darah segar menyeruak. Freya mematung melihat bangkai Red-Horned Rabbit dengan tanduk utuh di dalam tas itu.
"H-Hikaru..." suara Freya bergetar karena takjub. "Kau... kau benar-benar pria yang sangat beruntung!"
Status Hikaru:
Hasil Buruan: 1 ekor Red-Horned Rabbit (Tanduk Utuh).
Reputasi: Dianggap sebagai "Si Beruntung" oleh Freya.
Wawasan Baru: Berkat 5 karakter sudah dianggap sebagai talenta elit di mata publik.
Bagi Freya, ini adalah keberuntungan murni. Bagi Hikaru, ini adalah efisiensi. Berapa lama lagi ia bisa menyembunyikan fakta bahwa ia adalah predator paling mematikan di padang rumput itu?
Bab: Sang Penilai Tua dan Rahasia Ras Man Gnome
Freya menganggap Hikaru mendapatkan kelinci itu murni karena keberuntungan. Hikaru tidak keberatan, jadi ia tidak membantahnya.
Penilaian harga kelinci itu dilakukan oleh seorang ahli, bukan Freya. Gadis itu membunyikan lonceng, dan seorang pria tua muncul dari ruangan dalam. Rambutnya panjang dan abu-abu, diikat sanggul di atas sementara sisanya dibiarkan terurai. Kumis dan jenggotnya menyatu, membuat kepalanya tampak seperti gumpalan bulu perak. Tingginya hanya sekitar 150 cm—setengah kepala lebih pendek dari Hikaru.
"Gnome?" gumam Hikaru. "Tuan Unken berasal dari ras Man Gnome," bisik Freya. "Jangan membahasnya, dia bisa marah."
"Ada apa, Freya? Aku sibuk! Tamu dari ibu kota kerajaan akan segera datang," gerutu Unken. Pandangannya beralih ke Hikaru. "Oh."
Unken menatap Hikaru dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan saksama, lalu memberi isyarat agar ia mengikuti ke area penjagalan di belakang gedung. Di sana, deretan rantai dan kait besi tergantung untuk memotong monster besar.
"Keluarkan," perintah Unken. Hikaru meletakkan buruannya di meja batu.
Sambil Unken memeriksa hewan itu, Hikaru memanggil Soul Board sang kakek tua karena merasa ada yang aneh dengan auranya. Benar saja, dugaannya tepat.
[ Soul Board ] Unken F. Balzack Usia: 211 | Rank: 51 | Poin Tersedia: 53
Apa?! batin Hikaru terperanjat. "Apa maksudmu dengan 'apa'?" tanya Unken curiga. "Eh, bukan apa-apa." "Kau melakukan sesuatu tadi? Aku merasakan semacam sihir baru saja diaktifkan."
Hikaru berkeringat dingin. Hampir saja! Dia menyadari aku sedang melihat Papan Jiwanya?
Hikaru segera melakukan perhitungan cepat. Total poin Unken adalah 121 (poin terpakai 68 + poin sisa 53). Jika Rank-nya 51, berarti poin dari usianya adalah 70. Karena usianya 211 tahun, berarti untuk ras Man Gnome, mereka mendapatkan 1 poin setiap 3 tahun. Ras yang berbeda memiliki kecepatan perolehan poin yang berbeda.
Yang lebih mengejutkan adalah skillset Unken. Dia memiliki [Group Cloaking]—kemampuan menyembunyikan kelompok yang membutuhkan level tinggi pada Life Cloaking, Mana Cloaking, dan Imperceptibility. Unken adalah tipe Rogue (Pencuri/Penyelinap) tingkat tinggi.
"Nak, apa asyiknya menatapku seperti itu?" tanya Unken lagi. Hikaru tersentak. Apa ini efek dari 4 poin di [Instinct]-nya?
"Hanya saja aku belum pernah melihatmu di Guild sebelumnya," kilah Hikaru. Ia berhasil mengalihkan pembicaraan, meski Unken tetap menatapnya sinis.
"Bicara soal kelinci ini... kau belum pernah menjagal daging sebelumnya, kan?" tanya Unken sambil menunjuk luka di bangkai itu. "Belum." "Cara memotongmu mengerikan. Apa yang kau gunakan?"
Hikaru mengeluarkan Dagger of Strength-nya. Unken menghela napas panjang. "Bodoh. Jangan gunakan senjata untuk memotong daging. Kau merusak seratnya dan membuat darah merembes ke daging. Rasanya jadi rusak."
Unken juga mengkritik Hikaru yang membelah perut kelinci itu di lapangan. Menurutnya, kelinci itu akan jauh lebih mahal jika dibawa utuh, asalkan bisa sampai dalam 3 jam. "Tapi dengan otot sepertimu, kurasa membawa kelinci utuh sambil berlari itu mustahil."
"Ya, satu saja sudah cukup berat," jawab Hikaru jujur. "Hmm? Kau bicara seolah-olah bisa menangkap sebanyak yang kau mau jika kau mampu membawanya."
Hikaru hanya mengedikkan bahu. Unken menatapnya ragu. "Aku ingin menyarankanmu mencari kelompok, tapi dengan kemampuan menyelinapmu, kau tidak akan bisa maksimal jika bersama orang lain. Kau tipe penyendiri."
Hikaru terdiam. Unken melanjutkan penyelidikannya. "Kelinci ini sangat tajam indranya. Meski kau pakai kulit Night Wolf, seharusnya dia tetap menyadarimu. Bagaimana kau menangkapnya?"
"Kelinci itu lari lalu tersandung tunggul pohon," jawab Hikaru berbohong, menggunakan referensi cerita kuno Bumi. "Hah? Jadi kau hanya beruntung?" "Iya. Lagipula, bukankah tidak sopan menanyakan rahasia kemampuan petualang? Kecuali jika Tuan Master Guild sangat ingin tahu?"
Unken mendengus. "Kau mencoba memancingku? Dasar bocah."
Unken akhirnya memberi harga 7.000 Gilan untuk dagingnya dan 500 Gilan untuk kulitnya. Namun, Hikaru tidak beranjak. "Lalu... bagaimana dengan tanduknya?" tanya Hikaru.
Unken tersenyum tipis untuk pertama kalinya. "Jadi kau tahu soal itu." "Aku membacanya di perpustakaan. Tanduk utuh sangat langka dan punya khasiat obat." "Kukira kau hanya bocah sombong, ternyata kau rajin belajar. Datanglah besok malam, aku akan mengajari cara memotong daging yang benar. Dan soal harga tanduk, aku harus menghubungi Guild Alkemis dulu. Besok akan kuberikan total pembayarannya."
"Baiklah. Dan Tuan Unken... tolong jangan mencoba menipuku lagi," sindir Hikaru. "Itu balasan untuk bocah yang berbohong soal kelinci tersandung tunggul pohon. Aku pernah mendengar cerita itu dari tetuaku dulu."
Hikaru tertegun. Unken tahu cerita itu? Apa ada orang lain yang bereinkarnasi ke dunia ini sebelum aku?
Hikaru meninggalkan Guild sambil memikirkan kemungkinan adanya reinkarnator lain. Roland memanggilnya menggunakan sihir pemanggil yang dikembangkan dari riset kuno, jadi tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang pernah menyeberang dunia.
Sambil memakan roti lapisnya di pinggir jalan, Hikaru memantapkan tujuannya hari ini. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini. Tapi sebelum itu..." ia menelan suapan terakhirnya. "Mari cari tempat menginap yang lebih layak. Aku butuh kasur yang sebenarnya."
Status Hikaru:
Tabungan: 4.890 Gilan (Belum termasuk pembayaran kelinci besok).
Koneksi Baru: Menjadi murid informal Unken dalam hal penjagalan.
Misi Pribadi: Mencari penginapan kelas menengah ke atas yang nyaman.
Akankah Hikaru menemukan penginapan yang tenang untuk melakukan riset lebih dalam pada Soul Board-nya, ataukah statusnya sebagai "si beruntung" akan menarik perhatian yang tidak diinginkan lagi?
Bab: Kuil Sembilan Dogma dan Tebusan yang Salah
Meskipun penginapan dengan pelayan cantik terdengar menggoda, Hikaru menepis ide itu. Ia tidak berencana tinggal lama di kota ini; membangun hubungan hanya akan menumpulkan penilaiannya dan membuatnya sulit untuk pergi.
Ia akhirnya memilih sebuah hotel bertarif menengah—sebuah gedung lima lantai yang tampak seperti kotak korek api. Di dunia ini, bangunan lima lantai sudah dianggap kelas atas. Dengan 1.000 Gilan per malam, ia mendapatkan kamar pribadi kedap suara dan akses ke sauna.
"Anda benar-benar ingin menginap di sini, Tuan?" Resepsionis di lantai satu adalah seorang gadis kucing (catgirl)—elemen fantasi yang sangat klise. Rambut hijaunya diikat ekor kuda, dan telinganya terus bergerak-gerak mengikuti setiap gerakannya.
"1.000 Gilan semalam, kan? Aku ambil tiga malam." Hikaru membayar 3.000 Gilan. Gadis itu menatapnya penuh minat. "Anda pasti punya banyak uang. Pakaian Anda juga sangat bagus."
"Terima kasih." "Oh ya, ada aturan di sini. Anda boleh membawa tamu ke kamar, tapi mereka tidak boleh menginap. Anda mengerti maksudku, kan?" gadis itu berbisik menggoda. "Bahkan jika Anda mengundangku, aku mungkin akan berkata ya."
Hikaru bergegas pergi setelah menaruh barang-barangnya. Ia bersumpah untuk tidak lengah di sekitar resepsionis itu.
Tujuan Hikaru selanjutnya adalah Kuil Besar di pusat kota. Ia ingin mencari tahu tentang dewa-dewa yang tertulis di kartu guildnya. Kuil itu berbentuk kubah raksasa yang unik, perpaduan fondasi batu, rangka baja, dan kayu.
Di dalam, ia melihat patung Dewa Kebijaksanaan setinggi lima meter. Seorang pengkhotbah menjelaskan bahwa sistem Soul Card (Kartu Jiwa) diciptakan oleh seorang peneliti kuno yang menerima berkat dari dewa tersebut.
Namun, yang paling menarik perhatian Hikaru adalah patung Dewa Bela Diri. Di sampingnya terpahat sembilan jenis senjata: Pedang, Pedang Besar, Belati, Tombak Pendek, Tombak Panjang, Busur, Pisau Lempar, Perisai, dan Zirah. "Sembilan Dogma," jelas sang pengkhotbah saat Hikaru bertanya. "Dewa Bela Diri menetapkan sembilan senjata ini sebagai standar utama. Di luar itu, senjata lain dianggap tidak ortodoks dan jarang sekali memicu Berkat."
Hikaru menyadari bahwa sembilan senjata ini persis sama dengan yang ada di pohon keterampilan Weapon Mastery pada Soul Board-nya. Ini bukan kebetulan. Sepertinya Soul Board bekerja sesuai dengan "aturan dunia" yang ditetapkan oleh para dewa ini. Dewa-dewa di sini tidak memiliki kehendak bebas; mereka bertindak sebagai pengelola hukum alam.
Saat Hikaru hendak meninggalkan kuil, ia mendengar percakapan dua pria yang suaranya sangat ia kenali. Mereka adalah ksatria patroli dari kediaman Count Morgstadt!
"Benarkah kasusnya sudah ditutup?" "Sepertinya begitu. Itu berarti kita juga dipecat." "Sangat konyol. Mereka menyebut itu penyelidikan? Mereka menangkap orang yang pertama kali menemukan mayatnya sebagai pelaku."
Hikaru membeku. Ia segera membuntuti mereka secara diam-diam. "Menangkap gadis itu sebagai pembunuhnya... Mereka telah mengeksekusi orang penting," bisik salah satu ksatria.
Lutut Hikaru terasa lemas. Gadis itu? Gadis berkulit pucat dengan rambut perak dan mata biru yang ia temui di malam pembunuhan itu—gadis yang secara tidak langsung membantunya melarikan diri—kini dituduh melakukan pembunuhan yang sebenarnya ia lakukan.
Di dunia ini, hukuman untuk pembunuh bangsawan sudah pasti hukuman mati.
Ini tidak bisa diterima.
Hikaru mengepalkan tangannya. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada rasa takut akan tertangkap. Gadis itu menjadi kambing hitam atas perbuatannya, dan Hikaru tidak bisa membiarkan nyawa tak berdosa melayang demi keselamatannya.
"Aku akan menyelamatkannya," tekad Hikaru bulat.
Status Hikaru:
Tabungan: 1.890 Gilan (Setelah membayar hotel).
Lokasi: Area Kuil Pusat Kota.
Target Baru: Menyelamatkan gadis rambut perak dari hukuman mati.
Efisiensi bukan lagi prioritas utamanya. Hikaru harus menggunakan segala kemampuannya—Stealth, Detection, dan Soul Board—untuk menyusup ke tempat yang jauh lebih berbahaya daripada saluran pembuangan: Penjara Kerajaan.
Seberapa jauh Hikaru bersedia mengambil risiko untuk menebus dosanya?