Header Ads Widget

Topeng Perak dan Gadis Terkutuk

 Paula merasa bimbang. Ia terus bertanya-tanya apakah keputusannya sudah benar. Ia berasal dari desa terpencil bernama Cotton-elka dan menjadi petualang demi mencari uang. Namun, sebuah insiden mengerikan terjadi: monster meluap dari Forest of Deception, sebuah dungeon di dekat desanya, hingga membuat Cotton-elka berada di ambang kehancuran. Hikaru menyelamatkannya, dan kini ia tinggal bersama pemuda itu.

Awalnya, Paula mengira ia bergabung sebagai anggota party petualang. Tapi nyatanya…

"Anu, Tuan Hikaru. Apakah ini tidak apa-apa?" "Hmm? Oh, kau kehabisan uang? Ini, ambil uang sakumu." Hikaru mengulurkan beberapa keping koin perak. "Terima kasih… Eh, tunggu dulu!" Paula nyaris menerimanya sebelum buru-buru mendorong tangan Hikaru kembali. "Masih kurang?" "Bukan itu maksudku! Ini malah terlalu banyak. Maksudku, uang yang Tuan berikan tiga hari lalu saja belum habis!" "Apa kau makan dengan benar?" Hikaru menatapnya penuh curiga. "Tentu saja makan! Kenapa Tuan menatapku begitu?! Kita makan sarapan dan makan malam bersama di hotel ini. Dua porsi penuh itu sudah lebih dari cukup bagiku." "Lalu, apa masalahnya?" tanya Hikaru bingung.

Inilah tepatnya yang mengusik pikiran Paula. Gaya hidup Hikaru jauh melampaui imajinasinya. Pertama, mereka menginap di Grand Hotel Pond, penginapan paling mewah di kota Pond. Terlebih lagi, kamar mereka adalah kelas satu yang sangat luas, bahkan cukup bagi Hikaru, Paula, dan Lavia untuk memiliki kamar tidur pribadi masing-masing.

Gaya hidup semewah ini bukanlah sesuatu yang bisa dijangkau oleh petualang pemula. Seharusnya, petualang baru itu hidup hemat—tidur di asrama bersama dan memangkas segala pengeluaran, mulai dari penginapan sampai makanan. Tidur di ranjang empuk, memesan room service untuk sarapan, dan pergi ke restoran untuk makan malam adalah hal yang mustahil.

Ditambah lagi, Hikaru selalu memberi Paula uang jajan dalam jumlah besar, 1.000 gilan setiap kalinya. Mata uang dunia ini, gilan, bernilai sekitar sepuluh kali lipat yen Jepang, yang berarti Hikaru memberi Paula sekitar 10.000 yen tanpa pikir panjang.

"Kau akan butuh uang untuk saat ini," kata Hikaru waktu itu, jadi Paula menerimanya dengan enggan. Paula berpikir suatu hari nanti ia harus melunasi utangnya, tapi Hikaru terus saja memberinya uang. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

"Anu, apa Tuan memang menghabiskan hari-hari seperti ini?" tanya Paula.

Hikaru bangun santai di pagi hari, menghabiskan waktu dengan membaca, lalu pergi ke kota untuk belanja atau mencari buku di siang hari. Setelah makan malam, ia dan Lavia bertukar pikiran soal buku dan terjaga sampai larut untuk membaca atau menulis. Gaya hidupnya begitu bebas dan nyaman, hingga orang bisa salah mengiranya sebagai orang kaya atau putra bangsawan.

Padahal, saat pertama kali tiba di dunia ini, Hikaru bekerja keras di Guild Petualang, tidur di kamar berbagi, dan bertahan hidup dengan makanan kaki lima. Namun, Paula tidak tahu apa-apa soal masa sulit itu.

"Hmm. Kurasa istirahat adalah yang terbaik untuk saat ini," ucap Hikaru. "Begitukah…" "Setelah apa yang kita lalui di Cotton-elka, kita butuh waktu untuk relaksasi. Sangat penting untuk beristirahat setelah pertempuran yang mengerikan. Kelelahan mental itu tidak terlihat. Jika kau terus memaksakan diri dan berpikir kau baik-baik saja, kau bisa berakhir dengan gangguan mental yang tak bisa diperbaiki." "Apa memang begitu cara kerjanya?" "Benar."

Hikaru sempat menceritakan singkat pencapaiannya di Forest of Deception kepada Paula. Intinya, ia telah membunuh Dungeon Master sendirian di lantai terdalam, yang menyebabkan dungeon itu tertidur dan berhenti memunculkan monster.

Awalnya, Paula ragu dengan cerita itu, tapi begitu ia melihat helai rambut Fire Drakon, ia langsung percaya. Energi sihir yang terpancar dari rambut itu sanggup membuat bulu kuduknya merinding.

Paula sadar bahwa Hikaru entah bagaimana telah memperkuat kemampuan penyembuhannya. Ia juga tahu bahwa Lavia adalah buronan yang sedang melarikan diri dari otoritas. Meski dalam situasi genting, Paula sering melihat Lavia tidur siang dengan buku di atas dadanya. Sikapnya yang begitu tenang sangat tidak biasa bagi seorang kriminal yang dicari.

"Kurasa sudah waktunya untuk kembali bekerja," ujar Hikaru. Ia berasumsi Paula merasa bersalah karena menghabiskan hari dengan bermalas-malasan sementara rekan-rekan lamanya bekerja keras membangun kembali desa mereka.

Hikaru menutup bukunya dan menatap Paula. "Paula." Wajahnya tampak serius. Paula spontan menegakkan punggung. "I-Iya?" "Kau lebih suka pola bunga atau bintang?" "…Apa?" "Aku punya dua jenis topeng perak di sini."

Hikaru mengeluarkan dua topeng perak entah dari mana. Warnanya mirip dengan topeng miliknya sendiri. Paula sudah tahu bahwa Hikaru sering pergi sebagai "Silver Face" saat melakukan pekerjaan yang tidak bisa diungkapkan ke publik.

"Aku mau yang bintang." Lavia, yang seharusnya sedang tidur, tiba-tiba bangun dan menyambar salah satu topeng. "Eh? Apa-apaan?" "Kalau begitu, Paula yang pola bunga." "Hah?" "Ke depannya, akan ada saatnya aku bertindak menggunakan topeng saat tidak ingin menarik perhatian orang lain," jelas Hikaru. "Saat itu terjadi, aku ingin kalian berdua juga mengenakan topeng." "Aku harus memakai ini?!" tanya Paula. "Mungkin saja."

Paula memandangi topeng yang diberikan Hikaru. Topeng itu menutupi bagian mata hingga hidung, dengan ukiran pola bunga di pinggirnya. Cukup mewah. Di sisi lain, topeng Lavia memiliki pola bintang-bintang yang tersebar, sedikit kekanak-kanakan tapi cantik—namun tidak seanak-anak pola bunga milik Paula.

"Tidak adil!" protes Paula. Lavia terkekeh. "Siapa cepat, dia dapat." Ia sudah mengenakan topeng pola bintangnya dengan wajah bangga. "Kau cocok memakai sesuatu yang feminin begitu." "I-Itu tidak benar!" "Harusnya cocok. Coba pakai saja." "Jangan lihat! Memalukan!"

"Tak kusangka mereka sudah seakrab itu," gumam Hikaru sambil memperhatikan mereka. Sebelum tinggal bersama, Lavia dan Paula sempat bicara berdua yang menghasilkan keputusan untuk mengubah cara mereka menyapa; Lavia yang lebih muda memanggil Paula langsung dengan nama, dan Paula yang lebih tua melakukan hal yang sama. Hikaru tidak tahu detail obrolan mereka, tapi apa pun itu, hal tersebut membuat mereka semakin dekat.

"Kita akan memesan jubah hitam berkerudung, jadi siapkan ukuran kalian," kata Hikaru. "Aku akan ke Guild Petualang untuk mencari informasi." "Baik!" "M-Mengerti."

Demikianlah, Hikaru memutuskan untuk melanjutkan hidupnya sebagai petualang.


Kafe itu adalah tempat yang sangat tenang, dengan jarak antar meja yang luas. Suara percakapan pelan dan denting piring mengisi udara. Ini adalah kafe kelas atas yang langka di Pond, di mana setiap elemennya memiliki kualitas terbaik; mulai dari kain penutup kursi, hingga cahaya hangat lampu sihir yang tergantung seperti lampion di dalam ruangan yang temaram.

"Aku sangat khawatir! Kalau kau memang ada di Pond, harusnya kau beri tahu aku!" Freya, sang resepsionis Guild, menggembungkan pipinya. Mengenakan blus dan celana santai, ia terlihat lebih dewasa dibanding saat memakai seragam.

Freya-lah yang menyarankan kafe nyaman bernama Spring Illusion ini. Hikaru mengunjungi Guild Petualang pagi tadi setelah menghilang selama berhari-hari. "Shift-ku hampir selesai, jadi tolong tunggu!" kata Freya tadi. Maka, Hikaru terpaksa menemuinya di luar guild.

"Maaf," ujar Hikaru. "Aku tidak jadi pergi ke Cotton-elka, jadi aku merasa tidak enak jika harus menampakkan diri."

Secara resmi, Hikaru tidak terlibat dalam insiden di Forest of Deception. Jika memungkinkan, ia ingin berpura-pura bahwa ia berada di Pond selama ini, tapi anggota Four Eastern Stars melihatnya saat ia menyelamatkan Paula dan teman-temannya dari petualang yang menyergap mereka. Jadi, ia berbohong dengan mengatakan bahwa ia tidak lanjut ke Cotton-elka dan memilih kembali ke Pond.

Sementara itu, para petualang yang menyerang Paula telah dicabut keanggotaannya oleh guild dan kini mendekam di penjara. Dua pemuda yang bersama mereka—awalnya anggota party Paula—juga dihukum, namun karena bukan otak pelakunya, hukuman mereka kemungkinan akan lebih ringan. Paula sendiri berkata, "Aku ingin mereka merenungkan kebodohan mereka, tapi aku tidak ingin mereka dihukum terlalu berat."

"Tidak apa-apa," kata Freya. "Lagipula kau petualang Peringkat G. Kami tidak bisa memberikan misi itu kepada siapa pun di bawah Peringkat D. Beruntung anggota Four Eastern Stars kebetulan sedang senggang." "Mereka pasti hebat sekali." "Tentu saja. Petualang Peringkat B disambut sebagai tamu oleh para bangsawan. Kudengar mereka bahkan akan menerima penghargaan karena telah membunuh naga itu." "Begitu ya." "Luar biasa, kan? Mereka melelang permata yang didapat dari membunuh Naga Putih dan mendonasikan setengah hasilnya untuk pembangunan kembali Cotton-elka." "Tindakan yang sangat mulia." "Memang benar."


Rahasia Sang Pembantai Naga

Kenyataannya, Hikarulah yang telah menumbangkan naga hitam yang keberadaannya masih menjadi misteri. Begitu pula dengan Naga Putih; ia adalah sang pembantai yang asli, namun ia sama sekali tidak berniat mengambil keuntungan atau pengakuan atas jasanya.

Dalam pertempuran melawan Naga Putih, anggota Four Eastern Stars memang tidak menyadari kehadiran Hikaru. Meski begitu, mereka tahu bahwa seorang Penyihir Elemen (Lavia) telah membantu mereka. Mereka sadar kemenangan itu mustahil diraih tanpa bantuan Lavia. Karena itulah, mereka memutuskan untuk mendonasikan bagian imbalan milik Lavia untuk pembangunan kembali Cotton-elka.

"Seperti yang kau tahu, kemunculan Fire Drakon telah menyebabkan kegemparan luar biasa di ibu kota," lanjut Freya. "Guild Petualang terus memantau situasi dengan ketat."

"Begitu ya."

Hikarulah yang sebenarnya membawa Fire Drakon ke langit ibu kota. Ini adalah satu hal yang benar-benar tidak ingin ia bocorkan kepada siapa pun.

"Apakah raja akan turun takhta?"

"Aku ragu."

"Bagaimana jika Fire Drakon itu kembali? Apa mereka bisa menanganinya?"

"Kabarnya, penelitian sedang dilakukan untuk menciptakan penghalang sihir skala besar."

"Untuk menahan serangan Fire Drakon? Apa itu mungkin?"

"Kurasa tidak."

Freya terkekeh tidak percaya. Bahkan bagi seseorang yang bekerja di bawah rezim tersebut, tindakan raja tampak konyol.

"Apa kau punya pandangan negatif terhadap ibu kota?" tanya Hikaru.

"Apa?!" Freya melambaikan tangannya dengan panik. "T-Tentu saja tidak."

Hikaru menatapnya dengan tajam dan lekat.

"Anu... aku tidak yakin boleh membagikan ini, tapi Guild Petualang saat ini sedang mengajukan tuntutan resmi ke pengadilan kerajaan."

"Tuntutan? Karena mereka menelantarkan Cotton-elka?"

"Bukan, bukan itu."

Freya membisikkan bahwa seorang petualang bernama Jillarte telah dijebloskan ke penjara kastil atas perintah langsung dari raja. Ia praktis diculik.

"Seperti apa sosok Jillarte ini?"

"Petualang Peringkat C yang sangat berbakat, katanya. Dan dia seorang demi-human."

"Ras apa?"

Freya merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Seorang Half Dragon."

Half Dragon? Manusia Naga? Bukan Drakon seperti Fire Drakon, tapi naga (Dragon)?

Dulu, saat Hikaru sempat keliru membedakan antara Dragon dan Drakon, sang Fire Drakon mengoreksi kesalahannya dengan nada ketus. Makhluk itu mengatakan bahwa Dragon adalah entitas yang diasosiasikan dengan kejahatan.

Lalu, apakah keturunan Drakon disebut Drakonewt?

"Pernahkah kau mendengar ras bernama Drakonewt?" tanya Hikaru.

"Tidak pernah."

"Baiklah. Lalu, kenapa kau mendadak berbisik-bisik?"

"Yah, aku tidak tahu kau menyadarinya atau tidak, tapi Half Dragon adalah ras yang agak spesial."

"Spesial?"

"Kau tahu wilayah di sebelah selatan Ponsonia?"

Freya kemudian menjelaskan geografi dan situasi di wilayah sekitar. Di selatan Kerajaan Ponsonia, terbentang tanah tandus yang sangat luas dengan vegetasi yang jarang. Karena itulah, Ponsonia tidak pernah berniat memperluas wilayah ke arah sana.

Meski begitu, tanah tandus tersebut memiliki hutan-hutan dan oase tersembunyi tempat sekitar 20 spesies demi-human tinggal, seperti Manusia Binatang (Beastmen), Manusia Ular (Serpentfolk), Manusia Kura-kura (Chelonians), dan Half Dragon.

Mereka membentuk aliansi longgar untuk bertahan hidup, menamakan diri mereka Konfederasi Einbiest. Mereka mendirikan pemerintahan mandiri di wilayah tengah benua yang tidak berpenghuni tersebut.

"Mereka punya aliansi, tapi ada struktur kekuasaan di antara ras-ras tersebut," jelas Freya. "Misalnya, ras terbesar seperti Beastmen memiliki suara paling dominan, sementara ras minoritas seperti Ogrekin dan Manusia Tikus (Ratmen) sering kali tertindas."

"Bukankah Ratmen juga termasuk Beastmen?"

"Ada anggapan di sana bahwa Beastmen yang lemah bukanlah bagian dari mereka."

Hikaru tidak menyangka. Ia mengira kaum yang lemah akan bersatu untuk melawan negara-negara kuat, namun ternyata di antara mereka pun tetap ada hierarki yang kejam. Berdasarkan data statistik dari wilayah perbatasan, ketimpangan populasi memang nyata: Beastmen mendominasi sekitar 65% dari total populasi Einbiest, sementara ras minoritas seperti Half Dragon hanya mencakup kurang dari 2%.

"Jadi, pemimpin aliansi saat ini adalah seorang Beastman, tapi hingga dua puluh tahun yang lalu, pemimpinnya adalah seorang Half Dragon."

"Begitu ya. Berarti Half Dragon itu sangat kuat."

"Justru sebaliknya."

"Apa?"

"Half Dragon dikenal sebagai ras terkutuk dan dibenci bahkan di dalam Einbiest sendiri. Tapi pemimpin sebelumnya tidak membiarkan kebencian itu menghalanginya. Dia justru bekerja keras membantu ras-ras minoritas."

Einbiest terdengar kacau pada awalnya, tapi Hikaru merasa lega mengetahui bahwa pernah ada pemimpin yang berintegritas di sana.

"Jillarte adalah putri dari pemimpin sebelumnya, Tuan Kouga. Mustahil Yang Mulia Raja punya alasan baik untuk menculik orang seperti dia."

(Wah, raja ini benar-benar sampah), batin Hikaru. Pertama, ia mencoba menggunakan Lavia sebagai senjata perang, dan sekarang ini?

"Kurasa raja sedang mencoba mencari jalan keluar dari situasi sulit," kata Hikaru.

"Maksudmu?"

"Tidak banyak pilihan bagi seorang raja yang dipaksa turun takhta oleh Fire Drakon. Meneliti penghalang sihir memang masuk akal, tapi jika turun takhta adalah satu-satunya solusi, para bangsawan pun akan menentang jika ia menunda-nunda pengunduran dirinya."

"P-Poin yang bagus. Seingatku, ada beberapa aristokrat kuat di faksi lawan Yang Mulia."

"Satu-satunya cara membungkam para aristokrat itu adalah dengan menunjukkan sebuah prestasi besar."

"Oh! Jadi di situlah peran Jillarte?"

"Ya. Meski aku tidak tahu bagaimana cara dia memanfaatkannya. Tapi jika pemimpin Einbiest sebelumnya adalah orang yang dihormati, aku yakin banyak yang memuja Jillarte."

"Begitu ya... Anu, Hikaru?"

"Ada apa?"

"T-Tidak, lupakan. Bukan apa-apa," Freya memaksakan senyum.

Pikiran Freya tetap menjadi misteri bagi Hikaru yang sedang larut dalam kekhawatirannya sendiri.

Half Dragon... ras terkutuk. Apakah mereka ada hubungannya dengan konflik kuno antara naga dan drakon?

Saat pertama kali tiba di dunia ini, bertahan hidup adalah satu-satunya tujuan Hikaru. Namun setelah beristirahat beberapa hari terakhir dengan uang dan waktu luang di tangan, ada satu hal yang memenuhi pikirannya—sihir untuk melintasi dunia. Ini adalah subjek penelitian Roland N. Zaracia, pemilik tubuh ini sebelumnya.

Roland mampu memanggil jiwa Hikaru, tapi penelitiannya hanya bisa memengaruhi jiwa; ia tidak bisa melakukan perjalanan fisik antar-dimensi.

(Tapi pasti ada caranya.)

Hikaru bukan satu-satunya yang berasal dari dunia lain. Serika Tanoue, salah satu anggota Four Eastern Stars, kemungkinan besar juga berasal dari Jepang. Jika ada jalan untuk datang ke sini, pasti ada jalan untuk pulang. Hikaru yakin ada sesuatu yang lebih dari sekadar sihir yang bekerja, mengingat Fire Drakon sempat menyebutkan tentang teknologi yang hilang dan sumber energi kuat bernama Holy Magoi.

Jika ia menyelidiki soal naga dan drakon lebih dalam, mungkin ia akan menemukan sesuatu. Hikaru sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar ingin kembali ke Jepang, tapi ia memiliki penyesalan.

"Hidupmu akan berat. Kau mungkin pintar, tapi kau juga gegabah," seorang gadis pernah memperingatikannya. "Suatu hari, entah di mana, kau mungkin akan mati mendadak."

Jika ada satu hal yang ia inginkan, itu adalah melihat Hazuki sekali lagi.


Freya mengucapkan selamat tinggal kepada Hikaru dengan senyuman, namun ekspresinya langsung menggelap begitu pemuda itu hilang dari pandangan. Ia tidak sanggup bertanya apakah Hikaru terlibat dalam hilangnya putri Count Morgstadt.

Ia punya kecurigaan.

Hikaru mengaku sedang belajar di perpustakaan pada hari kejadian. Buku yang ia pinjam adalah edisi lama, sementara buku yang ada di perpustakaan saat itu adalah versi terbaru yang diperbarui oleh Freya sendiri.

Freya mengonfirmasi pernyataan Hikaru saat ia memberikan jawaban sempurna untuk pertanyaan sederhananya. Namun, yang mengganggunya adalah pengetahuan Hikaru merujuk pada apa yang tertulis di edisi terbaru, bukan edisi lama.

Mungkin dia kebetulan membaca bagian itu di edisi terbaru, atau mungkin dia mendengarnya dari petualang lain. Freya hanya perlu bertanya untuk memastikannya, namun ia ragu. Meskipun usianya masih muda, Hikaru menunjukkan kemajuan luar biasa sebagai petualang pemula.

Ia telah berulang kali berburu Red Horn Rabbit. Ia bahkan membantu Paula dan teman-temannya saat mereka diserang Goblin. Pencapaian ini tidaklah mudah bagi petualang pemula.

"Aku yakin akan ada kesempatan lain," gumam Freya pada dirinya sendiri.

Ia ragu untuk bertanya karena takut mengetahui jati diri Hikaru yang sebenarnya akan menghancurkan hubungan yang telah mereka bangun.


Ibu Kota yang Bergejolak

Di G. Ponsonia, ibu kota kerajaan, cahaya lampu dari toko-toko masih benderang hingga larut malam. Terlepas dari bagaimana watak atau temperamen rajanya, sebagian besar wilayah Ponsonia diberkati dengan tanah subur yang menghasilkan panen melimpah. Hal ini memicu ledakan populasi, dan kota itu pun terus berkembang pesat.

Di jantung kota, kastil kerajaan berdiri megah, dikelilingi oleh Distrik Bangsawan tempat rumah-rumah mewah para aristokrat menjulang tinggi. Di luar lingkungan istimewa tersebut terdapat Distrik Residensial Pertama, rumah bagi warga sipil yang memiliki koneksi dengan aristokrasi, seperti orang kaya dan kerabat jauh. Area ini sama bersihnya dengan Distrik Bangsawan. Lebih jauh lagi adalah Distrik Residensial Kedua, tempat sebagian besar penduduk kota tinggal. Semakin mendekati pinggiran kota, keamanan publik memburuk dan jalanan menjadi lebih kumuh. Namun, kekacauan ini bukanlah tanda pengabaian, melainkan simbol dari semangat hidup kota yang tak pernah tidur.

Di dalam kastil kerajaan yang elegan, sebuah perang kata-kata sedang dikobarkan.

"Bagaimana mungkin anggota garis keturunan bangsawan menanggapi serius kata-kata seekor monster?" "Kau hanya bisa bicara begitu karena tidak melihat Fire Drakon dengan matamu sendiri. Satu embusan apinya mengubah kota menjadi terang benderang seperti siang hari!" "Di saat seperti ini, bangsawan sejati seharusnya menghunus pedang di hadapan Yang Mulia!" "Kenapa tidak turun takhta saja, lalu menobatkan diri kembali sebagai penguasa dengan gelar berbeda, misalnya Kaisar?" "Kita akan jadi seperti Kekaisaran Quinbrand yang terkutuk itu kalau begitu. Tidak. Ditolak. Lagipula, itu artinya kita menuruti persis apa yang dikatakan si Fire Drakon." "Bagaimana perkembangan riset tentang penghalang sihir? Bukankah Institut Riset Sihir bilang itu bisa menangkis mantra yang kuat?"

Para bangsawan dari berbagai wilayah berkumpul di ruang konferensi agung, berdebat tanpa kehadiran raja yang memimpin mereka. Singgasana itu kosong, dan pangeran pertama sekaligus sang pewaris, Austrin, tidak terlihat di mana pun. Satu-satunya anggota keluarga kerajaan yang hadir adalah Putri Kujastria, pewaris takhta kedua, yang duduk di sana layaknya pajangan.

Tatapannya tampak kosong, namun kenyataannya, Kujastria sedang mengobservasi dengan cermat. Meskipun mayoritas bangsawan setia kepada raja, terdapat segelintir kekuatan oposisi—bangsawan idealis—yang dipimpin oleh Margrave Grugschilt. Awalnya mereka kekurangan persatuan, namun bencana Fire Drakon memaksa mereka untuk merapat di sekitar sang Margrave.

Bangsawan lain yang dianggap pendukung raja kini mengambil posisi netral. Saat dimintai pendapat, mereka hanya memberikan jawaban samar yang tidak berkomitmen.

Kujastria mencatat peta kekuatan saat ini: 40% adalah pendukung raja dan pangeran, 40% netral, dan 20% adalah kekuatan oposisi. Para bangsawan yang tidak hadir dianggap lemah dan tidak masuk dalam hitungan.

Kujastria tidak memiliki ambisi terhadap takhta, namun ia paham bahwa tindakan yang tidak biasa sedikit saja bisa memancing para bangsawan ambisius untuk menjadikannya ratu. Hal itu bisa memicu murka pangeran dan berujung pada penjara atau kematian. Oleh karena itu, ia memilih berpura-pura linglung.

(Aku penasaran, berapa banyak dari mereka yang tahu bahwa ada percikan api lain yang sedang tertidur di bawah kastil ini?)

Kujastria baru mengetahui hari ini bahwa Jillarte ditawan, dan ia bertanya-tanya apa motif raja memenjarakannya di saat seperti ini. Para bangsawan saat ini sedang fokus pada Fire Drakon, namun topik tentang Jillarte mungkin akan mencuat besok.

(Waktu tidurku semakin berkurang, tapi aku harus bertahan untuk saat ini.)


Meskipun badai politik berkecamuk di atas kastil, ruang bawah tanah tetap sunyi seperti biasanya.

Malam sudah sangat larut. Pakaian tidurnya menunjukkan bahwa ia diculik saat sedang terlelap.

"Halo?! Apa ada orang?! Aku menuntut untuk bicara dengan penanggung jawab di sini!" teriak gadis Half Dragon itu, namun tidak ada jawaban.

Jillarte ditawan atas perintah raja, namun sejak kedatangannya, tidak ada seorang pun yang menghubunginya. Satu-satunya orang yang ia lihat adalah tentara yang mengantarkan makanan. Bahkan ketika ia mencoba mengajak bicara, mereka hanya memberikan jawaban ketus.

Ruangan itu berperabot rapi, jauh lebih baik daripada penginapan tempatnya menginap sebelumnya. Satu-satunya kekurangan hanyalah jeruji besi yang mengurungnya. Belenggu di pergelangan tangan dan kakinya tersambung oleh rantai, mencegahnya merentangkan kaki lebih dari 60 cm.

"Kupikir mereka akan segera mengajakku bicara," gumamnya. "Mereka benar-benar santai sekali."

Rantai berdenting saat ia menghantamkan tinjunya ke jeruji.

"Seekor Fire Drakon muncul. Di atas sana sedang kacau balau."

"Hah?!"

Di balik jeruji hanya ada lorong yang seharusnya kosong. Namun Jillarte tidak percaya pada penglihatannya. Sebuah sosok muncul, termaterialisasi begitu saja di sana. Sosok itu mengenakan jubah berkerudung hitam dan topeng perak sederhana yang menutupi area mata hingga pangkal hidung, menyisakan pipi kirinya yang terbuka.

"Siapa kau?!" Jillarte melompat mundur, meski gerakannya terbatas oleh rantai berat.

"Kupikir kau butuh teman bicara."

"Jangan bercanda. Kenapa aku harus bicara dengan orang mencurigakan sepertimu?"

"Aku tahu situasimu."

Pria bertopeng itu menarik kursi penjaga yang kosong, duduk, dan menyilangkan kakinya.

"Aku Silver Face. Malam masih panjang. Mari bicara."

【Soul Board】 Jillarte Kostenlos Jäger Age: 19 | Rank: 27 | Points: 4

  • 【Vitality】

    • Natural Recovery: 4

    • Stamina: 4

  • 【Strength】

    • Muscle Strength: 5

  • 【Weapon Mastery】

    • Sword: 4

    • Armor: 2

  • 【Agility】

    • Power Burst: 3

    • Balance: 3

  • 【Willpower】

    • Mental Strength: 4

    • Charisma: 5

  • 【Instinct】

    • Instinct: 2

Hikaru memeriksa Soul Board milik Jillarte. Gadis ini cukup ahli dalam pedang, setara dengan level perwira komandan di kerajaan ini, meski belum menyamai Lawrence sang Sword Saint.

(Pantas saja dia petualang Peringkat C.)

Dari balik topengnya, Hikaru mengamati Jillarte. Sisik-sisik itu tampaknya tidak tumbuh di seluruh tubuhnya, melainkan terlihat seperti merayap menjalar. Matanya tampak berkabut. Rambutnya berwarna merah kusam yang diikat ke belakang. Ia tidak memiliki ekor. Meskipun disebut Half Dragon, satu-satunya perbedaan fisik yang menonjol dari manusia adalah sisik di tubuhnya.

"Aku tidak punya apa pun untuk dikatakan padamu," ketus Jillarte.

"Benarkah? Kau tidak ingin tahu apa yang akan terjadi padamu?"

"Aku sudah punya gambaran. Aku tidak butuh orang aneh sepertimu untuk memberitahunya."

Hikaru terkekeh pelan melihat betapa waspadanya gadis itu.

"Apa yang lucu?"

"Bukan apa-apa. Kalau kau sudah tahu, baguslah. Boleh aku bertanya satu hal?"

"Tidak."

"Ayolah. Kudengar kau adalah keturunan naga. Seorang Half Dragon, bukan Drakonewt. Benar?"

Ekspresi Jillarte berubah terkejut.

"Aku ingin tahu lebih banyak tentang naga (dragon). Spesies seperti apa mereka?"

"..."

Jillarte tampak termenung. Hikaru melihat ini sebagai pertanda baik; gadis itu sedang menimbang-nimbang apakah informasi itu layak dibagikan.

"Sebelum aku menjawab, aku punya satu pertanyaan," ujar Jillarte.

"Aku tidak akan memberitahumu soal wajah asliku."

"Aku tidak peduli soal itu. Bisakah kau... menyembunyikan keberadaanmu?"

"Bagaimana kalau jawabannya 'iya'?"

"Bawa aku keluar dari sini. Bebaskan aku, dan aku akan menceritakan apa pun yang ingin kau ketahui."

"Tiba-tiba kau jadi sangat cerewet, ya?"

"Aku tidak bercanda. Jika aku tidak keluar dari sini, akan ada masalah besar."

"...Masalah?"

Jillarte mengangguk dengan wajah sangat serius.


Prahara di Balik Pelarian

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk, menghangatkan wajah seorang prajurit yang sedang terlelap.

"Haaa..."

Prajurit itu terbangun dan refleks membekap mulutnya sendiri. Ia mengira dirinya mengiler, tapi untungnya tidak.

"Ah... aku tidur nyenyak sekali."

Ia bangkit dari kursi dan meregangkan otot. Sebagai penjaga sel bawah tanah yang nyaris tak pernah dikunjungi siapa pun, ia benar-benar kehilangan rasa waspada. Sambil menahan kantuk, ia turun ke ruang bawah tanah untuk memeriksa satu-satunya tahanan di sana.

"...Apa?!"

Sel itu kosong. Petualang Half Dragon bernama Jillarte yang seharusnya ada di sana, telah lenyap. Ia segera memeriksa pintu jeruji besi; pintu itu masih terkunci rapat. Kunci cadangan yang tergantung di pinggangnya pun masih ada di tempatnya.

Ini sama sekali tidak masuk akal.

Tak terlintas di pikirannya bahwa seseorang bisa saja mengambil kunci itu saat ia tidur, membuka pintu, membebaskan Jillarte, lalu mengembalikan kuncinya kembali. Tempat ini berada di jantung kastil; mustahil ada penyusup yang bisa masuk begitu saja.

Namun, hilangnya Jillarte harus segera dilaporkan. Apakah ia akan dihukum karena membiarkan tawanan kabur? Tidak, pikirnya menenangkan diri. Jillarte hanyalah seorang petualang wanita muda yang tampak kusam. Seharusnya ia akan baik-baik saja. Dengan cemas, ia bergegas menuju markas para ksatria. Sebagai prajurit biasa, ksatria memang bukan atasan langsungnya, namun mereka memiliki kedudukan tinggi di militer. Sudah menjadi rahasia umum di kastil kerajaan bahwa jika terjadi masalah, ksatria adalah pihak pertama yang harus dihubungi.

"P-Permisi."

Saat memasuki kantor, ia kembali terkejut. Padahal saat itu belum jam enam pagi, tapi sudah ada lebih dari sepuluh ksatria yang berkumpul, lengkap dengan seragam dan pedang di pinggang mereka.

Ketegangan terasa sangat kental di udara.

"Apakah informasi ini benar? Aku tidak percaya mereka bisa menguasai kota itu..."

"Kami menerima pesan dari Guild Petualang melalui komunikasi jarak jauh tadi. Tidak ada respons dari Linga’s Quill Pen di garnisun sana, jadi kita bisa asumsikan informasi ini sangat valid."

Linga’s Quill Pen adalah sejenis artefak sihir yang memungkinkan komunikasi jarak jauh dengan menggerakkan objek melalui mana dari aliran ley line bumi. Kelemahannya adalah alat ini tidak bisa dipindahkan karena membutuhkan pasak yang tertanam dalam ke tanah, serta biaya komunikasinya sangat mahal karena menggunakan katalis sihir langka.

"Apakah itu benar?!" Sang kapten ksatria menyerbu masuk ke kantor. Di mata prajurit penjaga tadi, kapten ini adalah perwira yang sangat tinggi kedudukannya. "Kaum Half Dragon menyerang Leather-elka?! Apa yang mereka inginkan?!"

"Siap, Tuan! Mereka menuntut pembebasan seorang gadis Half Dragon bernama Jillarte!"

"Jillarte?" Sang kapten tampak bingung.

"Petualang yang ditangkap atas perintah Yang Mulia tempo hari," sahut seorang ksatria. "Dia saat ini ditahan di sel bawah tanah kastil... kerajaan."

Ksatria itu akhirnya menyadari kehadiran sang prajurit penjaga yang berdiri kaku di samping kapten.

"Ahahaha..."

Hanya tawa getir yang bisa dikeluarkan sang prajurit dengan mata berkaca-kaca. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.

Maka, menjelang akhir hari, dua informasi genting beredar di seluruh kastil kerajaan: Pertama, kota benteng Leather-elka telah jatuh setelah diserang oleh pasukan bersenjata Half Dragon. Leather-elka adalah benteng penting di perbatasan Kerajaan Ponsonia dengan Konfederasi Pusat Einbiest. Kaum Half Dragon menuntut pembebasan segera atas Jillarte, putri dari mendiang pemimpin Konfederasi sebelumnya. Kedua, Jillarte yang dimaksud telah menghilang secara misterius dari penjara kastil kerajaan.


Pertemuan Pertama "Wajah Topeng"

"Tuan Hikaru, Anda tiba-tiba keluar larut malam dan membawa pulang seorang wanita..."

"Sst. Tolong jangan panggil namaku."

"Hehehe."

"B-Benar. Lalu aku harus memanggil Tuan apa?"

"Silver Face. Kalian berdua bisa menjadi... Star Face dan Flower Face, mungkin?"

"Hehehe..."

"Kedengarannya konyol!" seru Paula.

"Kalian harus membiasakannya. Dan La—maksudku Star Face. Ada apa denganmu?"

"Aku hanya tidak menyangka bisa menggunakan topeng ini secepat ini!" Lavia berputar kegirangan, tudung jubahnya ditarik hingga menutupi mata dan ujung jubahnya berkibar.

Jillarte memperhatikan mereka dari sudut ruangan dengan tatapan ragu.

Setelah melarikan diri dari kastil kerajaan, Hikaru membawa Jillarte kembali ke kota Pond. Karena Grand Hotel disewa atas nama Hikaru, ia memilih menghindar dan mencari penginapan murah dengan kamar asrama berbagi—penginapan yang sama saat ia pertama kali tiba di dunia ini. Begitu matahari terbit, para petualang miskin biasanya sudah keluar untuk mencari uang, sehingga mereka bisa menguasai kamar itu sendirian.

Pemandangannya cukup ganjil: di satu sudut, tiga orang berjubah hitam dan bertopeng perak sedang berbisik serius, sementara di sudut lain, Jillarte duduk di lantai sambil memeluk lututnya.

Jillarte telah melepas rantai di tangan dan kakinya menggunakan kunci penjara yang dicuri Hikaru, serta sempat mengambil perlengkapan pribadinya di ibu kota. Zirah tempurnya terdiri dari pelindung dada baja, pelindung siku dan lutut, serta pedang lebar panjang yang biasa diayunkan dengan dua tangan. Ia benar-benar terlihat seperti petualang berpengalaman.

"Silver Face, apa kalian sudah selesai?" panggil Jillarte dari kejauhan.

Awalnya, Hikaru hanya diminta membantunya kabur dari penjara. Membantunya mengambil perlengkapan hanyalah bonus. Namun tiba-tiba, gadis itu membungkuk dalam-dalam dan memohon, "Aku ingin Anda mengawal saya menuju Einbiest."

Selama perjalanan menuju Pond, Jillarte telah menceritakan segala yang ia tahu sebagai imbalan. Hikaru sebenarnya tidak punya kewajiban lebih lanjut, apalagi mengawal Jillarte akan mengundang masalah besar dari pihak kerajaan. Namun, Hikaru sadar kemampuan Stealth-nya sangat krusial bagi pelarian Jillarte. Gadis itu yakin ada mata-mata di dalam Guild Petualang ibu kota yang membocorkan lokasinya, sehingga ia tidak bisa mengandalkan bantuan guild lagi.

Hikaru tidak bisa memutuskan sendiri, jadi ia membawa Jillarte kembali ke Pond untuk didiskusikan bersama Lavia dan Paula.

"Hikaru—maksudku Silver Face, kau sudah punya jawabannya, kan?" Lavia tersenyum dari balik topengnya. "Ayo ambil misi ini. Dari ceritamu, dia bukan orang jahat. Dan juga..." Lavia berbisik di telinga Hikaru, "Kau melihat diriku dalam dirinya, kan?"

Hikaru tertegun. Lavia benar. Lavia diburu untuk dijadikan senjata perang, dan Jillarte diculik untuk alat politik. Situasi mereka serupa. Itulah alasan sebenarnya mengapa Hikaru merasa simpati.

"Aku akan mengikuti keputusanmu, Tuan Silver Face," tambah Paula.

"Terima kasih, Star Face, Flower Face." Hikaru berbalik menghadap Jillarte. "Kami sudah memutuskan. Aku akan mengawalmu sampai ke Einbiest."

Wajah Jillarte yang semula kaku mendadak melunak. Matanya berkaca-kaca karena tidak menyangka permintaannya akan dikabulkan. "Terima kasih banyak. Aku akan melakukan apa pun untuk membalas budi ini."


Dua jam kemudian, setelah Hikaru pergi untuk urusan kota dan Paula pergi menyewa kereta kuda, Lavia dan Jillarte duduk berhadapan di kamar asrama.

"Anu... siapa namamu?" tanya Jillarte.

"Panggil aku Star Face," sahut Lavia dengan nada yang dibuat-buat keren. Ia sebenarnya sangat bangga bisa mengenakan topeng perak yang serasi dengan milik Hikaru. Ia merasa seperti karakter rahasia dalam sebuah kisah kepahlawanan.

"Jadi... sebenarnya siapa kalian ini?" tanya Jillarte lagi.

Lavia menghela napas panjang dan menatap kejauhan dengan gaya misterius. "Yah, itu adalah kisah yang sangat panjang. Dan sayangnya, aku tidak bisa membagikannya kepadamu."

"O-Oh tentu saja. Maaf aku lancang bertanya."

Lavia bernapas lega dalam hati. Ia sebenarnya hampir keceplosan karena belum menyiapkan latar belakang cerita untuk "Star Face".

"Bagaimana denganmu?" tanya Lavia balik. "Kau petualang tunggal?"

"Ya. Tidak ada petualang yang mau satu tim dengan orang yang penampilannya seperti ini."

"Anu, soal penampilanmu..." Lavia ragu-ragu.

Jillarte mengangguk tenang. "Ini rahasia klan, tapi karena Silver Face sudah membantuku, aku akan menceritakannya. Ini adalah sejarah kelam leluhur kami. Dahulu, kaum kami dikaruniai mata yang indah, namun kami mengkhianati seekor drakon yang telah menyelamatkan kami. Sejak saat itu, kutukan jatuh pada keturunan kami—kulit kami ditumbuhi sisik kusam dan mata kami menjadi keruh."

"Itu konyol. Apa yang dilakukan leluhurmu tidak ada hubungannya denganmu," protes Lavia.

"Kutukan adalah sesuatu yang diwariskan. Tanpa bantuan drakon itu, klan kami mungkin sudah musnah sejak lama—itulah yang diajarkan para tetua."

Lavia sulit memahaminya, namun ia tidak membantah. "Lalu, kau berasal dari Einbiest, kan? Kenapa tidak bekerja di sana saja?"

"Di Einbiest, aku adalah putri dari Kouga, pemimpin sebelumnya. Kehadiranku hanya akan membawa masalah bagi rakyatku."

Jillarte menceritakan bahwa ayahnya, Kouga, adalah pemimpin yang melindungi ras minoritas dalam Konfederasi Einbiest. Namun hal itu memicu amarah faksi mayoritas yang dipimpin oleh Gerhardt Vatex Anchor dari ras Beastmen.

Di Einbiest, setiap enam tahun diadakan turnamen bela diri bernama Ruler’s Rumble untuk menentukan pemimpin berikutnya. Kekuatan adalah segalanya. Dua belas tahun lalu, Kouga tewas di tangan Gerhardt dalam final turnamen setelah dijebak dengan strategi licik.

"Setelah ayahku tiada, aku dibesarkan secara rahasia. Sejak menjadi petualang, aku menghindari Einbiest."

"Sudah berapa lama kau pergi dari rumah?" tanya Lavia, yang kini sudah lupa dengan karakter "Star Face" yang dingin karena terbawa suasana.

"Sekitar enam tahun... Saat turnamen terakhir, aku hampir diculik, jadi aku memutuskan untuk benar-benar pergi. Tapi sekarang, aku harus kembali. Aku akan berpartisipasi dalam turnamen tahun ini."

Mata Jillarte tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ia siap menuntut kembali keadilan bagi kaumnya.


Persiapan Menuju Einbiest

Hikaru berjalan menyusuri jalanan kota Pond tanpa mengenakan topeng maupun jubah hitam. Saat ini, ia hanyalah seorang petualang pemula biasa. Saat melewati kedai hot dog, sang pemilik kedai terus menatapnya tajam.

Benar-benar canggung.

Hikaru mencoba mengabaikannya, tapi pria itu tetap tidak melepaskan pandangannya. Bahkan ketika ada pelanggan lain datang, si penjual tetap terpaku menatap Hikaru.

"Ada apa?" Hikaru akhirnya menyerah dan menghampiri kedai itu.

Si penjual segera mengusir pelanggannya yang lain dan mengulurkan tangan ke arah Hikaru. "Tiga puluh gilan."

"Kuharap yang ini tidak ekstra pedas."

"..."

Pria itu menyodorkan hot dog-nya tanpa sepatah kata pun.

(Dia bahkan tidak menyahut!) batin Hikaru.

"Hmm?!"

Tampilan hot dog itu tampak sempurna; sosis yang dipanggang dengan cantik, serta kontras warna yang apik antara merahnya saus tomat dan kuningnya mustard. Hikaru menelan ludah dan mulai menggigitnya.

Matanya seketika membelalak. Rasa asam dari saus menyatu dengan sari daging di mulutnya, menciptakan harmoni rasa umami yang pas. Singkatnya, ini adalah hot dog yang normal.

"..."

Hikaru menatap si penjual.

"B-Bagaimana?" tanya pria itu ragu.

"...Normal."

"Apa?!"

"Rasanya normal. Enak kok."

Mata si penjual melebar, dan seluruh tubuhnya tampak rileks seketika.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Hikaru heran.

"Bukan apa-apa. Hanya saja... akhirnya Anda mengakui hot dog-ku, Guru!"

"..."

(Dia bilang apa tadi? Dan kenapa matanya berbinar-binar begitu?)

"A-Anu... kau hanya butuh variasi sekarang," kata Hikaru mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kau bisa menambahkan topping keju, potongan bawang bombay, atau gunakan cuka pedas sebagai pengganti mustard, mirip saus salsa."

"Dimengerti! Akan kulakukan. Aku akan menguasai dunia dengan hot dog ini!"

"Y-Ya, terserah kau saja..."

Hikaru sepertinya baru saja memicu ambisi gila di dalam diri pria itu. Pond Hotdog nantinya akan melintasi batas negara dan tersebar di seantero benua—tapi itu adalah cerita untuk lain hari.


Bengkel Leniwood dan Rambut Naga

Saat Hikaru memasuki Bengkel Senjata Leniwood yang dikelola oleh seorang Elf, ia terkejut karena tidak hanya menemukan Leniwood, tetapi juga Dodorono si Dwarf di sana. Dodorono sebenarnya pengelola toko zirah, meski ia tampaknya lebih tertarik pada tata busana. Melihat pasangan yang sangat tidak serasi ini—seorang Elf pandai besi dan Dodorono yang tampil modis—Hikaru mulai mempertanyakan apakah akal sehatnya yang selama ini salah.

"Oh, Hikaru!" sapa Leniwood sambil menyingsingkan lengan bajunya yang kurus.

"Kau terlihat sehat," tambah Dodorono. Ada pita yang terikat pada janggut kepangnya.

"Halo," sapa Hikaru singkat. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Mana semangatmu, anak muda? Kau memberiku tugas yang sangat sulit!" keluh Leniwood.

"Ya! Apa kau tidak punya pekerjaan untukku?" tanya Dodorono.

"Tidak ada."

"Yah, sayang sekali..."

Melihat seorang Dwarf dengan setelan jas rapi tampak lesu adalah pemandangan yang sangat surealis, tapi Hikaru memilih tidak berkomentar agar tidak membuang waktu. Ia kembali fokus pada Leniwood.

"Jadi bagaimana? Apa kau berhasil memasukkan rambut drakon itu ke dalam senjatanya?"

Sebelumnya, Hikaru meminta Leniwood memodifikasi senjatanya. Saat bertemu Fire Drakon di lantai terdalam Forest of Deception, ia diberi dua permintaan. Permintaan pertama adalah terbang ke istana untuk memaksa raja turun takhta, dan karena bingung dengan permintaan kedua, sang drakon memberikan lima helai rambutnya yang transparan dan berkilauan.

"Kau bilang cukup lilitkan saja pada tongkat, kan?" kata Leniwood.

"Tidak berhasil?"

"Justru itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan!" seru sang Elf penuh percaya diri.

Ternyata, tidak ada bilah pedang yang bisa memotong rambut itu, dan ia kebal terhadap sihir. Namun, melilitkannya pada tongkat kayu ternyata mampu memperkuat daya sihir secara drastis.

"Ini hasilnya. Kayu tampaknya lebih cocok dibanding logam."

Leniwood menyerahkan sebuah tongkat pendek sepanjang 60 cm. Tongkat itu terbuat dari kayu hitam dengan ukiran alur tempat rambut drakon dililitkan. Di ujungnya tertanam batu sihir elemen api yang bisa diganti kapan saja.

"Wah, keren sekali."

Tongkat itu terlihat seperti milik penyihir sungguhan dalam kisah fantasi. Padahal, tentu saja, Hikaru tidak bisa menggunakan sihir.

"Tidak adil, tidak adil!" rengek Dodorono. "Aku juga ingin mengolah material langka!"

Akan terasa wajar jika gadis imut yang merengek, tapi melihat Dwarf berwajah sangar melakukannya, pemandangan itu sungguh mengerikan.

"Terima kasih, Tuan Leniwood," kata Hikaru. "Jadi, berapa total biayanya?"

"Mari kita lihat... 10.000 gilan, sudah termasuk semuanya."

"Tunggu, serius? Itu terlalu murah. Kayu ini sepertinya dari pohon hijau aromatik, tapi warnanya berbeda."

"Ah, kau paham juga! Kayu hijau aromatik biasanya untuk furnitur, tapi ada beberapa yang sudah tua dan sangat sempurna untuk tongkat penyihir karena sangat mudah menghantarkan mana."

"Bukankah itu malah membuatnya lebih mahal?"

"Yah, kalau kayu tua memang mahal, tapi yang ini cuma tergeletak di gudang, jadi tidak masalah. Beri tahu aku saja nanti bagaimana performanya, oke?"


Transaksi di Bawah Tanah

Setelah berpamitan, Hikaru menuju sebuah terowongan yang mengarah ke saluran air bawah tanah. Di sanalah markas Kelbeck berada, sang Artificer untuk Guild Pencuri.

Hikaru kini memiliki banyak uang setelah menjual permata dari Naga Hitam seharga 5 juta gilan (setara 50 juta yen). Ia memiliki dana yang lebih dari cukup, bahkan untuk memberi Paula uang jajan secara rutin.

"Halo," sapa Hikaru.

"Wah, si Tuan Kantong Tebal datang juga!" sambut Kelbeck.

"Hahaha. Harusnya aku yang bilang begitu pada orang yang meraup untung lebih besar dariku."

"Kau pikir aku bekerja gratisan? Kau tidak tahu betapa susahnya menjaga rahasia asal-usul permata itu."

Kelbeck kemudian menunjukkan pesanan Hikaru: sebuah bom asap khusus. Sesuatu yang ia sebut sebagai Blade Bomb (Pedang Peledak)—meskipun kali ini ia memesan versi granat asap.

"Jadi, sudah siap?" tanya Hikaru.

"Sudah. Aku harus bilang, belum pernah ada yang memesan benda seperti ini untuk penggunaan pribadi."

"Mengingat materialnya, biayanya setidaknya 3.000 gilan per buah," lanjut Kelbeck.

"Nyawa tidak ada harganya. Jadi, 3.000 gilan?"

"Kau bodoh? Aku butuh untung. Bagaimana kalau 10.000 gilan?"

"Ugh..."

"Jangan menatapku begitu. Baiklah, 5.000 gilan saja, sudah termasuk biaya riset."


Hikaru akhirnya mendapatkan lima buah bola hitam kecil, sedikit lebih kecil dari kepalan tangannya. Benda ini akan menyemprotkan asap putih dalam waktu satu detik setelah diaktifkan, dengan radius lima meter selama 15 detik. Efeknya bisa menyebabkan batuk dan kebutaan sementara.

Hikaru membutuhkan ini untuk mendukung kemampuan Stealth-nya. Jika ia terlanjur terlihat musuh, bom asap ini akan memberikan celah baginya untuk menghilang kembali.

Setelah transaksi selesai, Kelbeck bertanya, "Jadi, kau mau pergi ke suatu tempat?"

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Kau terlihat lega saat melihat produk ini selesai."

Hikaru terkekeh. "Ya, aku akan ke Einbiest."

"Begitu ya. Hati-hati di sana. Kudengar kota benteng yang berbatasan dengan Einbiest baru saja diserang."

"Apa?"

Ini adalah pertama kalinya Hikaru mendengar kabar jatuhnya Leather-elka. Terlepas dari rencana pelariannya bersama Jillarte, situasi tampaknya menjadi jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Satu Tujuan Menuju Leather-elka

"Sudah kuduga," gumam Jillarte lesu setelah mendengar kabar dari Hikaru—atau saat ini, Silver Face.

Berita penculikan Jillarte oleh Raja Ponsonia telah mencapai Einbiest melalui jaringan Guild Petualang. Mendengar hal itu, kaum Half Dragon dan tiga ras lain yang pernah dilindungi oleh Kouga tidak bisa tinggal diam.

"Kota itu diserang oleh gabungan pasukan Half Dragon, Ratmen, Ogrekin, dan kaum Sinners," jelas Hikaru.

"Para pemimpin mereka sangat mencintai ayahku," sahut Jillarte.

Ratmen adalah ras demi-human pengerat yang bertubuh pendek namun sangat gesit. Ogrekin adalah ras berkulit cokelat kemerahan dengan kekuatan fisik dan vitalitas luar biasa, namun jumlah mereka sangat sedikit karena tingkat kelahiran yang rendah. Sementara itu, kaum Sinners memiliki pola gelombang hitam di sekujur tubuh mereka; mitos menyebutkan itu adalah tanda dosa leluhur mereka, sama seperti kutukan Half Dragon, padahal secara faktual itu hanyalah pola genetik unik. Mereka didiskriminasi murni karena penampilan yang dianggap "menyeramkan".

Berdasarkan data kependudukan di wilayah perbatasan, komposisi pasukan pemberontak ini cukup mengintimidasi: sekitar 40% adalah Half Dragon sebagai kekuatan inti, 30% Ratmen untuk unit sabotase, 20% Ogrekin sebagai pelapis depan, dan sisanya adalah kaum Sinners.

"Tuan Silver Face," sela Paula. "Leather-elka adalah kota benteng yang terkenal kuat. Bagaimana bisa jatuh semudah itu?"

"Ternyata, gubernur Leather-elka bukan dari kalangan bangsawan," jawab Hikaru. "Di tengah kekacauan isu turun takhta raja, dia melihat peluang untuk mendapatkan gelar bangsawan dengan membawa sebagian besar pasukannya ke ibu kota sebagai bentuk dukungan. Penjaga yang tersisa tidak cukup kuat untuk menahan serangan."

"Mereka mungkin minoritas, tapi empat ras ini adalah petarung papan atas di Einbiest," tambah Jillarte. "Prajurit biasa Ponsonia bukan tandingan mereka."

Jillarte tidak sekadar membela kaumnya. Sebagai petualang 19 tahun, ia sendiri memiliki poin 4 pada Sword mastery di Soul Board-nya. Jika rata-rata penyerang memiliki kualifikasi serupa, mereka adalah pasukan yang mengerikan.

"Jadi, tidak apa-apa jika aku mengawalmu ke Leather-elka, bukan ke Einbiest?" tanya Hikaru.

"A-Apa Anda yakin? Situasinya jadi jauh lebih berbahaya sekarang. Raja akan memburuku habis-habisan."

"Tentu saja."

"Hanya itu? Apa Anda paham betapa gawatnya ini?! Kita akan terus dikejar!"

Hikaru tersenyum di balik topengnya. "Aku sudah setuju mengawalmu, dan aku tidak akan menjilat ludahku sendiri."

Jillarte menunduk, bahunya sedikit bergetar. "Sejujurnya, Anda terlalu baik. Aku sampai berpikir Anda punya motif tersembunyi... dan aku merasa sangat malu karena sempat meragukan Anda."

Hikaru tertegun. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang selama ini hanya ia ketahui di permukaan: betapa perihnya hidup dalam diskriminasi, hingga kebaikan tulus pun terasa seperti ancaman.

"Ayo berangkat. Jika mereka mengejar, kita harus bergerak lebih cepat."

"Apa aku benar-benar bisa memercayai Anda?"

"Kau boleh tetap curiga. Aku tidak keberatan."

Hikaru melangkah menuju kereta kuda yang disewa Paula. Pada saat itulah, niat Hikaru untuk menolong Jillarte berubah menjadi ketulusan murni, tanpa lagi menghitung untung rugi. Baginya, Jillarte adalah cerminan dari arti namanya sendiri: sebuah cahaya di tengah kegelapan.


Intrik di Singgasana yang Rapuh

Kabar pelarian Jillarte segera sampai ke telinga Raja Ponsonia. Sang raja tampak sangat buruk; pipinya cekung dan kulitnya pucat pasi. Beban stres akibat kemunculan Fire Drakon telah menggerogoti kesehatannya.

"Apa maksudnya ini?!" teriak raja di kamar pribadinya yang mewah.

"Harap tenang, Yang Mulia," ujar sang Kepala Pelayan Istana (Grand Chamberlain). Pria gemuk itu membungkuk di depan raja, ditemani tiga pelayan cantik.

"Bagaimana aku bisa tenang?! Aku menangkapnya karena kau bilang dia bisa jadi pion yang berguna! Sekarang kota benteng jatuh dan pion itu kabur!"

"Militerlah yang harus disalahkan. Mereka harus dihukum berat agar wibawa Anda tetap terjaga."

Raja menggertakkan gigi. "Mereka akan membayarnya."

"Tentu. Militer sangat ceroboh akhir-akhir ini. Mereka tidak punya keberanian seperti yang Anda miliki saat masih di militer dulu."

Raja terbatuk, merasa tersanjung. Padahal, ia hanya pernah menjalani pelatihan militer selama beberapa hari saat masih menjadi pangeran, namun ia merasa telah memahami segalanya tentang perang berkat pujian kosong sang pelayan.

"Ini, Yang Mulia. Silakan minum tehnya."

Raja meminum teh itu dalam sekali teguk. Matanya seketika sayu, seolah sedang mabuk. Ia tidak tahu bahwa teh tersebut mengandung ramuan halusinogen yang digunakan sang pelayan untuk mengendalikannya seperti boneka. Efek sampingnya parah: nafsu makan hilang dan emosi menjadi tidak stabil.

Setelah raja tertidur, sang pelayan istana segera menuju ruang pertemuan faksi bangsawan pendukungnya.

"Apa rencana kita soal Leather-elka? Sir Lawrence akan memimpin para ksatria untuk menyerang balik," lapor salah satu bangsawan.

"Berapa banyak pasukan?"

"Sekitar 500 ksatria untuk menghadapi perkiraan 1000 musuh. Mereka ingin serangan kilat untuk menghindari pengepungan yang lama."

Sang pelayan istana mendengus. Ponsonia saat ini sedang memprovokasi Kekaisaran Quinbrand, namun kekacauan internal memaksa mereka menarik mundur pasukan. Jika masalah Einbiest tidak selesai cepat, rencana invasi mereka akan hancur.

"Soal itu, aku punya ide menarik," ujar seorang bangsawan dengan seringai licik. "Turnamen Ruler’s Rumble untuk memilih pemimpin baru Einbiest akan segera dimulai."

"Kau ingin kita ikut serta? Konyol. Slot peserta hanya untuk perwakilan ras."

"Benar, tapi beberapa ras sedang kesulitan finansial. Mereka mempertimbangkan untuk menjual slot perwakilan mereka."

Mata sang pelayan istana berbinar penuh minat. Rencana kotor baru mulai dirajut di kegelapan malam.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments