Tekanan di Balik Topeng
Setelah istirahat malam yang cukup, Jillarte menyambut Hikaru dengan senyum cerah keesokan paginya. Mereka menikmati sisa makanan semalam sebelum berangkat ke arena. Jika kemarin Jillarte tampak sangat tegang, hari ini ia dengan mantap menggandeng tangan Hikaru.
"Mari kita tinjau pertandingan hari ini," buka Hikaru. "Selyse memang lebih cepat dan teknik pedangnya lebih unggul, tapi kau punya kelebihan dalam kekuatan murni. Manfaatkan itu."
Berdasarkan analisis Hikaru, Jillarte memiliki 5 poin dalam Muscle Strength, sementara Selyse hanya 3 poin. Angka ini memengaruhi kualitas otot secara langsung; meski tubuh Jillarte terlihat ramping, ia jauh lebih bertenaga secara fisik.
"...Baiklah," jawab Jillarte datar. Bagaimana bisa dia mengatakan pada seorang gadis bahwa kelebihannya adalah 'kekuatan otot'? batinnya sedikit kesal.
Pertemuan Tak Terduga di Gerbang Staf
Keriuhan di sekitar arena jauh lebih padat dibanding hari sebelumnya. Saat mereka mencoba masuk melalui pintu khusus staf, mereka berpapasan dengan Selyse Lande.
Selyse menatap mereka dengan tatapan curiga, terutama pada tangan mereka yang masih bertautan. Hikaru segera melepaskannya, namun Selyse sudah terlanjur tersenyum penuh arti.
"Aku tidak tahu kalian sedekat itu," goda Selyse.
Setelah perdebatan kecil yang membuat wajah Jillarte memerah, Selyse tiba-tiba membungkuk dalam. Ia meminta maaf kepada Jillarte karena sebagai sesama petualang, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat Jillarte dipenjara di ibu kota. Jillarte terkejut dan merasa tersentuh mengetahui bahwa banyak cabang guild petualang yang sebenarnya memprotes penangkapannya.
Namun, sebelum berpisah, Selyse melemparkan pertanyaan yang membuat jantung Hikaru berdegap kencang: "Silver Face, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Hikaru menjawab dengan nada formal dan datar untuk menutupi kegugupannya, lalu segera menarik Jillarte pergi. Sial! Padahal poin instingnya tidak seberapa, tapi kenapa dia setajam itu?!
Resuplai Lavia: Sang Penenang Jiwa
Sesampainya di ruang tunggu, Hikaru menghela napas panjang. Beban mental karena terus mengenakan topeng dan memikul rahasia mulai terasa sangat berat. Tiba-tiba, indra Life and Mana Detection-nya menangkap keberadaan seseorang yang menggunakan sihir penghilang.
"Lavia."
Lavia menampakkan dirinya. Ia menyelinap masuk sendirian untuk memastikan keadaan Hikaru setelah bermalam bersama Jillarte. Tanpa kata, Hikaru langsung memeluk Lavia dengan erat.
"Apa yang terjadi?" tanya Lavia lembut. "Aku butuh 'resuplai' Lavia," gumam Hikaru sambil menghirup aroma Lavia yang menenangkan. "Kau wangi sekali."
Wajah Lavia memerah, namun ia membiarkan Hikaru bersandar padanya. Hikaru mencurahkan kegundahannya mengenai nasib Jillarte. Ia tahu Jillarte akan kalah, tapi ia takut menggunakan kekuatan Soul Board untuk mengubah takdir seseorang secara drastis. Ia takut kekuatannya akan disalahgunakan di masa depan.
Lavia memegang wajah Hikaru dan menatap matanya dengan penuh keyakinan.
"Jangan takut untuk mengubah takdir seseorang," ucap Lavia sebelum mengecup bibir Hikaru dengan lembut. "Aku percaya jalan yang kau pilih adalah jalan yang benar. Jika kau hampir membuat kesalahan, aku akan menghentikanmu. Jika kau tetap melakukan kesalahan, maka kita akan menghadapi api penghakiman itu bersama-sama."
Kata-kata Lavia yang penuh penerimaan itu mengisi hati Hikaru dengan kehangatan. Ia melangkah keluar dari ruang tunggu dengan tekad yang baru.
Perangkap di Balik Kabut dan Angin
"Hanya tersisa delapan kandidat di Turnamen Ruler’s Rumble! Seperti biasa, setiap pertandingan mulai dari sini akan berlangsung jauh lebih lama!" suara pembawa acara membahana, memanaskan suasana saat para petarung mulai memasuki empat ring secara bersamaan.
Hikaru melangkah ke arena di bawah guyuran ejekan penonton. Baginya, dicap sebagai "penipu licik" bukanlah masalah selama identitas aslinya terjaga. Di seberangnya, di ring merah, berdiri Ryver. Pemanah Rank A itu membawa busur raksasa di punggungnya dan menatap Hikaru dengan kebencian yang tertahan.
"Jangan harap bisa menggunakan trik kotor lagi!" seru Ryver.
Hikaru tetap tenang. Ia sengaja memprovokasi Ryver dengan menyebutkan bahwa ia tahu Ryver-lah yang menembak Jillarte dengan panah beracun. "Rahasia kenapa dia masih hidup adalah kalung di lehernya," bohong Hikaru.
Ryver terpancing. Ia melirik ke arah Jillarte selama sepersekian detik. Detik itulah yang dibutuhkan Hikaru. Begitu Ryver memalingkan wajah, Hikaru langsung mengaktifkan Stealth.
Adu Taktik: Asap vs Angin
Gong berbunyi. Ryver kehilangan jejak Hikaru dan segera menarik busurnya. Hikaru melesat ke samping dan melemparkan bom asap ke kaki Ryver. Penonton bersorak kecewa, mengira Hikaru akan mengulangi taktik pengecutnya.
Namun, Ryver sudah bersiap. Tiba-tiba, angin puyuh berputar di sekitar Ryver, meniup habis kabut asap dalam sekejap.
"Ketemu," desis Ryver, busurnya kini membidik tepat ke arah Hikaru. "Sudah kubilang, tidak ada trik lagi."
Ryver menggunakan magic item manipulasi angin untuk menetralisir bom asap. Meski Hikaru masih dalam mode Stealth, Ryver mampu merasakan keberadaannya.
Analisis Soul Board: Ryver (Rank 49)
Begitu berada dalam jarak lima meter, Hikaru segera membedah kemampuan lawannya:
| Kategori | Skill Utama | Poin | Analisis |
| Detection | Life Detection / Expansion | 3 / 1 | Sangat berbahaya bagi pengguna Stealth. |
| Instinct | Instinct | 6 | Setara dengan Lawrence; memiliki indra keenam yang tajam. |
| Weapon | Bow Mastery | 5 | Kemampuan memanah tingkat tinggi. |
| Strength | Muscle Strength | 8 | Kekuatan fisik yang luar biasa untuk ukuran pemanah. |
Kesimpulan Strategis:
Ryver adalah lawan yang sangat tangguh karena ia memiliki kombinasi Instinct 6 dan Detection. Ia tidak melihat Hikaru dengan mata, melainkan merasakan "kehadiran" hidupnya. Namun, Hikaru menyadari satu kelemahan: Ryver sangat terobsesi pada magic item.
Kesepakatan Gelap di Tengah Laga
"Berikan magic item yang menyembunyikan keberadaanmu itu padaku, maka aku akan mengampuni nyawamu," bisik Ryver agar tidak terdengar penonton. Ia menyangka kemampuan Stealth Hikaru berasal dari alat sihir.
Hikaru langsung menangkap peluang ini. "Baiklah. Alatnya adalah belati di punggungku ini. Ia memiliki 'Berkat Dewa Stealth'."
Ryver menyeringai, merasa kemenangan sudah di tangan. Ia menyuruh Hikaru memasang bom asap lagi dan meninggalkan belati itu di dalamnya, lalu Hikaru harus keluar dari ring sebagai tanda menyerah. Hikaru setuju, namun di balik topengnya, ia sedang menyiapkan serangan balik yang tidak akan disangka oleh sang Rank A.
Ledakan Ambisi dan Kabut Kematian
Ryver, sang petualang kawakan, sebenarnya tidak menyangka Silver Face akan menyetujui kesepakatan itu dengan mudah. Namun, keserakahan telah membutakannya. Sesuai instruksi, Hikaru melemparkan bom asap, sementara Ryver sengaja menembakkan panah gertakan yang nyaris mengenai tangan Hikaru.
Di dalam kabut, Ryver menggunakan Life Detection untuk memantau posisi Hikaru. Ia melihat belati yang dijanjikan tergeletak di tanah—sebuah belati dengan pegangan lebar yang aneh.
Insting-nya sempat memberikan sinyal bahaya, namun Ryver mengabaikannya karena terobsesi pada magic item tersebut. Begitu tangannya menyentuh belati itu, alarm di kepalanya berteriak terlambat.
BOOM!
Belati itu meledak tepat di wajahnya. Itu adalah belati modifikasi yang digunakan Hikaru untuk meledakkan jantung Naga Hitam, namun kali ini diatur dengan jeda waktu lima detik. Tubuh Ryver terpental hebat, sementara kabut asap pun lenyap tersapu ledakan.
Sihir Cinta: Rahasia Kekuatan Jillarte
Di ring sebelah, Jillarte sedang berhadapan dengan Selyse Lande. Sebelum pertandingan, Hikaru telah mengunjungi ruang tunggunya dan melakukan sesuatu yang ia sebut sebagai "mantra kemenangan".
Hikaru sebenarnya menggunakan Soul Board Jillarte dan memasukkan seluruh 4 poin miliknya ke dalam satu stat: Instinct. Kini, Jillarte memiliki Instinct 6, setara dengan ksatria elit.
"Aku bisa melihatnya!" seru Jillarte dalam hati.
Serangan Selyse yang biasanya secepat kilat kini terasa bisa diprediksi. Jillarte bukan lagi sekadar melihat gerakan, ia merasakan ke mana pedang Selyse akan mengarah sebelum serangan itu diluncurkan. Selyse pun terkejut; ia terpaksa mengakui kehebatan Jillarte dan memutuskan untuk bertarung dengan kekuatan penuh.
Sambil bertukar serangan, Jillarte menyadari sesuatu yang lebih kuat dari sihir mana pun: ia telah jatuh cinta pada Silver Face. Tekadnya untuk menang semakin membara; ia ingin memenangkan turnamen ini agar Silver Face tetap berada di sisinya.
Invasi Mayat Hidup (Undead)
Tepat saat Hikaru hendak menginterogasi Ryver yang terkapar, sebuah kabut tebal tiba-tiba menyelimuti seluruh arena. Dari dalam tanah, muncul tangan-tangan tulang yang mengerikan—Skeleton dan Wraith.
Kekacauan pecah. Penonton menjerit histeris saat monster-monster mayat hidup mulai merangkak ke tribun. Hikaru menyadari ini bukan fenomena alam. Melalui indra pendeteksinya, ia melihat sesosok gadis kecil di kursi cadangan yang sedang merapal mantra sambil memegang tongkat sihir: Caddie Fullblood dari Rising Falls.
Apakah Rising Falls melakukan ini karena Ryver kalah? pikir Hikaru.
Namun, ia melakukan satu kesalahan fatal. Ryver, dengan Instinct 6 miliknya, ternyata berhasil melindungi diri dari ledakan belati tadi. Di tengah kabut dan kekacauan mayat hidup, Ryver bangkit perlahan dan mengambil kembali busur raksasanya.
Kini, Ryver memiliki "layar kabut" yang sempurna untuk melakukan pembalasan tanpa terlihat oleh siapa pun.
Analisis Statistik: Kebangkitan Insting
Berikut adalah perubahan status krusial yang terjadi di tengah pertandingan:
| Karakter | Skill yang Berubah | Level Baru | Dampak |
| Jillarte | Instinct | 6 | Mampu memprediksi serangan Selyse secara presisi (Precognition). |
| Ryver | Instinct | 6 | Bertahan dari ledakan berkat refleks bawah sadar; kini berburu dalam kabut. |
Profil Ancaman Baru: Caddie Fullblood
Peran: Necromancer / Summoner.
Tujuan: Menciptakan kekacauan massal (Mass Distraction).
Kemampuan: Memanggil pasukan Undead yang kekuatannya bervariasi, dari Skeleton lemah hingga monster tanah yang dirasuki roh.
Situasi Saat Ini:
Jillarte: Menunjukkan kepemimpinan dengan memerintahkan penjaga untuk melindungi warga sipil terlebih dahulu.
Hikaru: Dalam posisi berbahaya karena musuhnya (Ryver) kini menggunakan kekacauan untuk menyerang balik.
Gerhardt: Belum terlihat reaksinya terhadap invasi Undead ini.
"Para penjaga, lindungi warga sipil dulu, bukan kami para kandidat!" teriak Jillarte, menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin sejati Einbiest.
Warisan Sang Ayah dan Api Kebenaran
Hikaru mencoba menarik senjatanya, namun panah Ryver telah melesat. Meskipun Jillarte memiliki Instinct 6, kecepatan panah itu terlalu mustahil untuk dihindari sepenuhnya. Panah itu seharusnya mengenai jantung Jillarte—jika saja sebuah sosok raksasa tidak muncul dan melindunginya.
"Kenapa..." gumam Jillarte tak percaya.
Gerhardt, sang pemimpin Einbiest, berdiri membelakanginya dengan panah menancap di punggung. Darah segar merembes keluar. Ryver telah melumuri panahnya dengan racun mematikan.
"Paula! Cepat kemari!" teriak Hikaru sambil melemparkan suntetsu (besi kecil tersembunyi) ke arah Ryver untuk menggagalkan tembakan kedua. Ryver merunduk dan mencoba melarikan diri, namun Selyse Lande segera memotong jalan keluarnya.
"Jangan harap kau bisa lari setelah melakukan itu," desis Selyse, menyerang Ryver bertubi-tubi dengan pedangnya.
Pesan Terakhir Kouga
Lavia dan Paula segera menghampiri Gerhardt yang mulai mendingin akibat racun. Sambil Paula merapal sihir penyembuhan tingkat tinggi, Gerhardt yang sekarat mencoba menyampaikan sesuatu kepada Jillarte.
"Jillarte... aku telah mencarimu ke mana-mana..." bisik sang Singa.
"Kenapa kau melindungiku?! Aku musuhmu!" seru Jillarte dengan air mata berlinang.
Gerhardt menceritakan kebenaran tentang duel maut dua belas tahun lalu. Ia membantah bahwa ia memburu Jillarte untuk mencelakainya. Sebaliknya, ia memegang pesan terakhir dari ayah Jillarte, Kouga, yang tewas di tangannya dalam turnamen tersebut.
"Akan ada saatnya kau harus menghadapi pertempuran yang mustahil kau menangkan. Tapi tolong, jangan pilih jalan hidup yang brutal itu. Hiduplah bahagia dengan pria yang kau cintai, bebas dari kutukan kaum Naga."
Mendengar wasiat ayahnya, Jillarte terisak. Namun, momen haru itu terputus saat kabut semakin pekat dan sesosok monster tanah muncul. Monster itu membawa dua pedang dan memiliki gaya bertarung yang sangat familiar.
"Bajingan... mereka bahkan menggunakan jiwa orang mati," geram Gerhardt. Sosok itu adalah Boneka Mayat Hidup (Undead) yang menyerupai Kouga.
Duel Melawan Bayang-Bayang Masa Lalu
Jillarte menghapus air matanya. Meskipun musuhnya adalah sisa-sisa ingatan ayahnya, ia tahu ia harus bertarung. "Aku adalah putri Kouga yang bangga. Aku akan menempuh jalan yang keras ini!"
Jillarte melesat menyerang boneka tanah Kouga. Hikaru membantu dari belakang, menggunakan Stealth maksimal untuk mengecoh deteksi sang Undead. Namun, boneka tanah itu tidak mengenal rasa sakit atau lelah. Setiap kali kakinya hancur terkena serangan Hikaru, tanah di sekitarnya akan segera merekonstruksi bagian tersebut dalam tujuh detik.
"Sial, dia tidak punya celah!" keluh Jillarte setelah nyaris terkena tebasan maut sang ayah.
"Tunggu, Jillarte! Dia bukan manusia, dia tidak akan panik meski dalam posisi terjatuh!" peringat Hikaru.
Analisis Strategi: Rencana Lavia
Hikaru menyadari serangan fisik tidak akan cukup. Ia melirik ke arah Lavia yang sedang merapal mantra panjang.
| Elemen Strategi | Pelaksana | Tugas |
| Umpan (Decoy) | Jillarte | Menahan serangan utama Kouga dengan Instinct 6. |
| Gangguan (Disruptor) | Hikaru | Menggunakan Stealth untuk merusak keseimbangan musuh secara berkala. |
| Serangan Pamungkas | Lavia | Merapal sihir penghancur Undead skala besar. |
Catatan Soul Board:
Boneka Kouga ini tidak memiliki kesadaran, namun mewarisi teknik tempur tingkat tinggi. Melawan Undead yang tidak memiliki titik vital fisik membuat poin Assassination Hikaru menjadi tidak berguna. Harapan terakhir ada pada Lavia.
"Cepat, Lavia...!" batin Hikaru.
Api Penebusan dan Runtuhnya Kutukan
Lavia menggenggam tongkat hitam pendek di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menyentuh batu sihir elemen merah di ujung tongkat tersebut.
"Inilah kebenaran, hukum ilahi, penunjuk jalan bagi para elemen. Melalui pengetahuan yang dianugerahkan di hadapan Yang Mahakuasa, biarlah kebenaran terungkap di dunia yang kacau ini!"
Percikan cahaya putih berkedip di sekitar tubuh Lavia. Berbeda dengan sihir biasanya, tidak ada lingkaran sihir yang muncul; tubuhnya hanya memancarkan kemilau putih yang suci. Tak ada yang tahu bahwa cahaya itu berasal dari bulu surai Fire Drakon yang melilit tongkatnya.
"Biarlah cahaya murni menyinari kehampaan abadi dan menerangi jalan yang gelap ini. Atonement Flame (Api Penebusan)!"
Perpisahan Terakhir Jillarte
Atas instruksi Hikaru, Jillarte dan Selyse bekerja sama menghancurkan kaki boneka tanah Kouga hingga ia terjatuh. Tepat saat itu, tornado api putih menyelimuti Kouga. Anehnya, api itu sama sekali tidak panas bagi Jillarte yang berdiri di dekatnya.
"Ayah..."
Di dalam nyala api suci, sosok Kouga tampak seolah sedang meminta maaf. Jillarte tidak bisa membendung emosinya. Ia berteriak, menangis, dan menumpahkan segala kemarahan serta rasa kesepian yang selama ini ia pendam.
"Kenapa Ayah harus mati?! Kenapa Ayah meninggalkanku sendirian?!"
Saat tubuh Kouga perlahan mengecil dan hancur, sebuah suara lembut—yang entah nyata atau hanya halusinasinya—terdengar di telinga Jillarte: "Maafkan aku, Jillarte. Kau sudah tumbuh begitu besar."
"Aku memaafkanmu, Ayah. Aku akan hidup demi Ayah... dan demi seluruh kaum Naga."
Tiba-tiba, sehelai bulu surai Naga dari tongkat Lavia terlepas dan tersedot ke dalam bara api. Sebuah suara berat menggema di seluruh arena—suara Fire Drakon: "Maka, Aku pun memaafkan."
Runtuhnya Kutukan Kaum Naga
Detik itu juga, sebuah keajaiban terjadi. Sisik-sisik kusam yang menutupi kulit Jillarte terkelupas satu per satu. Matanya yang kabur berubah menjadi kuning amber yang cemerlang, dan rambut merahnya berkilau indah. Transformasi ini terjadi pada seluruh kaum Naga di arena tersebut. Kutukan yang membelenggu ras mereka selama berabad-abad akhirnya sirna.
Pengejaran Hikaru: Jejak Mana Hitam
Hikaru tidak membiarkan dirinya larut dalam suasana haru. Ia segera bergerak mengejar dalang di balik kekacauan ini. Ryver sudah kabur, namun penyihir yang mengendalikan mayat hidup itu masih berada di sekitar tribun.
Hikaru membuka Soul Board-nya dan mengalokasikan poin yang ia dapatkan dari mengalahkan Naga Putih:
| Atribut | Perubahan Poin | Status Baru | Dampak |
| Mana Detection | +2 | 3 Poin | Jangkauan deteksi meningkat drastis dari 10m ke 50m. |
| Expanded Detection | Baru Muncul | 0 Poin | Membutuhkan poin tambahan untuk diaktifkan. |
Dengan Mana Detection 3, Hikaru melihat sesuatu yang mengerikan di tengah kerumunan: sebuah kobaran api hitam. Itulah mana milik sang penyihir—Caddie Fullblood.
Pertemuan Para "Rising Falls"
Hikaru mengikuti jejak mana tersebut ke sebuah gang sepi. Di sana, Caddie bertemu dengan Ryver yang terluka dan seorang pria kekar pembawa perisai raksasa (Mobile Fortress).
"Gerhardt harusnya sudah mati," ucap Ryver sambil mengobati luka bakarnya. "Aku menggunakan racun yang bisa membunuh orang normal seketika meski sudah diencerkan seratus kali."
Mereka mengobrol dengan santai, seolah-olah pembantaian dan penghinaan terhadap ingatan orang mati yang baru saja mereka lakukan hanyalah tugas harian biasa. Hikaru menyadari bahwa pemimpin mereka, Igru, tidak ada di sana, namun mereka bertindak atas perintah seseorang yang mereka sebut "Yang Mulia".
Kemarahan mendidih di balik topeng Hikaru. Mereka telah merusak momen suci Jillarte dan hampir membunuh orang-orang yang berharga baginya.
Jika hukum tidak bisa menyentuh kalian... maka aku sendiri yang akan menghancurkan kesombongan kalian sampai hancur berkeping-keping.
Hikaru memutuskan untuk tidak menyerang sekarang. Ia akan menunggu saat yang tepat untuk memberikan pembalasan yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kematian.
Analisis Strategis:
Status Hikaru: Kini memiliki jangkauan deteksi yang luas, memungkinkannya memantau pergerakan musuh dari jarak aman tanpa terdeteksi berkat Imperceptibility MAX.
Kondisi Musuh: Rising Falls merasa aman karena mengira Gerhardt telah tewas. Ini adalah celah bagi Hikaru untuk melancarkan serangan kejutan.
Jillarte: Dengan hilangnya kutukan, status fisiknya kemungkinan besar meningkat drastis. Ia bukan lagi "Half Dragon" yang lemah, melainkan petarung yang diberkati oleh Naga.
Runtuhnya Kesombongan Sang Peringkat A
Ryver sangat marah. Belum pernah ia merasa sefrustrasi ini dalam bertahun-tahun. Upaya pembunuhan Jillarte gagal, dan ia baru saja terkena ledakan dari jarak dekat.
"Kalau aku bertemu si topeng itu lagi, dia mati," sumpah Ryver.
Tiba-tiba, tawa terdengar dari balik gang. Ryver berbalik cepat dan menarik busurnya. Batros berdiri di belakangnya, melindungi Caddie dengan perisai raksasanya. Sebagai petualang Rank A, gerakan mereka sangat efisien.
"Silver Face!" desis Ryver saat melihat sosok bertopeng itu muncul. "Beraninya kau menampakkan diri sendirian?"
Ryver meremehkan Hikaru, menganggapnya sebagai amatir yang baru saja mendapatkan magic item langka dan menjadi sombong. Ia bahkan sempat mengancam akan menyiksa Hikaru dengan menembak tangan dan kakinya satu per satu. Namun, Ryver tidak menyadari bahwa Hikaru sengaja memancing mereka ke dalam perangkap mental.
Penyergapan dalam Bayang-Bayang
Hikaru melemparkan bom asap. Ryver segera menepisnya dengan sihir angin, namun Hikaru sudah menghilang dalam mode Stealth.
"Dia menghilang! Ryver!" teriak Caddie panik.
"Diam! Aku bisa merasakannya!" balas Ryver.
Hikaru melemparkan sebuah objek berkilau. Batros segera memasang perisainya untuk menahan serangan itu. Namun, detik berikutnya... BOOM! Itu adalah bom belati yang sama yang meledakkan wajah Ryver tadi.
Di tengah kekacauan ledakan, Hikaru bergerak secepat kilat.
"Satu jatuh!" seru Hikaru. Ia melayangkan tendangan bertenaga penuh ke arah Caddie. Penyihir muda itu terpental dan jatuh pingsan seketika. Hikaru sengaja melumpuhkannya lebih dulu karena dialah yang paling berbahaya jika dibiarkan merapal mantra.
Kejatuhan Sang Benteng Tak Terkalahkan
Ryver dan Batros kini berdiri saling memunggungi. Ryver mengandalkan Instinct 6 miliknya untuk menembak ke arah mana pun Hikaru muncul, sementara Batros menjadi perisai mutlak di belakangnya.
Hikaru telah menganalisis Soul Board mereka:
| Nama | Rank | Keunggulan Utama | Status Vital |
| Batros | 37 | Stamina 15, Muscle Strength 16 | Benteng fisik murni. |
| Caddie | 50 | Mana 15, Accursed Magic 5 | Bakat jenius yang mengerikan. |
"Oh, jadi ini pertahanan kebanggaan kalian?" gumam Hikaru. "Akan kuhancurkan sepenuhnya."
Ryver terus menggunakan sihir angin untuk mengusir asap, yakin bahwa Hikaru tidak bisa mendekat dalam radius lima meter. Namun, ia lupa bahwa Batros tidak memiliki kemampuan deteksi sehebat dirinya.
Tiba-tiba, suara gedebuk terdengar di belakang Ryver.
"Batros?" panggil Ryver. Tidak ada jawaban. "Batros!"
Ryver tidak berani berbalik. Baginya, Batros adalah benteng yang mustahil ditembus. Pria itu pernah bertahan dari serangan lima Lesser Wyvern dan lilitan King Anaconda tanpa goyah. Namun kini, sang benteng telah runtuh tanpa suara.
"Kalau kau sangat mengkhawatirkannya, kenapa tidak berbalik saja?" bisik sebuah suara tepat di telinga Ryver.
Kekalahan yang Memalukan
Ryver tersentak hebat. Ia mencoba melarikan diri, namun tersandung tubuh Batros yang terkapar dan jatuh tersungkur. Saat ia hendak menarik tali busurnya, ia baru menyadari bahwa talinya telah dipotong bersih—sesuatu yang dilakukan Hikaru dengan Imperceptibility tingkat tinggi sehingga suaranya pun tak terdengar.
"Kau berurusan dengan orang yang salah, Tuan Peringkat A," ucap Silver Face dingin.
Ketakutan yang luar biasa melanda Ryver. Melihat rekan-rekannya tumbang begitu mudah oleh satu orang, mentalnya hancur. Ryver pingsan di tempat dengan mata mendelik dan mulut berbusa—sebuah akhir yang memalukan bagi seorang petualang elit.
Hikaru menatap tiga anggota Rising Falls yang terkapar di gang sempit itu. Batros tumbang karena serangan Assassination yang diarahkan ke belakang kepalanya, diperkuat dengan Stealth yang membisukan suara hantaman.
"Aku juga harus tetap waspada," gumam Hikaru pada dirinya sendiri. Mereka kalah bukan karena lemah, tapi karena terlalu sombong dan meremehkan lawan.
Hikaru berbalik dan menghilang kembali ke dalam kegelapan kota Hopestadt.
Analisis Akhir:
Efektivitas Stealth: Hikaru membuktikan bahwa kombinasi Imperceptibility MAX dan Assassination bisa menjatuhkan petualang Rank A secara efisien jika digunakan untuk menyerang titik lemah mental dan fisik.
Nasib Rising Falls: Dengan pingsannya tiga anggota utama, rencana mereka di Einbiest berantakan.
Pelajaran: Hikaru mencatat untuk tidak pernah menjadi sombong seperti lawan-lawannya.
0 Comments