Kota Hopestadt bukanlah tempat yang terawat, kecuali jalan protokolnya yang membelah arah mata angin. Bangunan dengan berbagai ukuran dan gaya arsitektur tersebar tak beraturan. Karena tanah merah melimpah dan murah di sana, mayoritas bangunan menggunakan material tersebut, menyelimuti seluruh kota dengan nuansa cokelat kemerahan. Iklimnya hangat dan kering sepanjang tahun tanpa ancaman bencana alam, sehingga rumah tanah yang sederhana pun sudah cukup nyaman untuk ditinggali.
Hanya ada segelintir bangunan berbahan batu putih atau kayu, yang biasanya merupakan toko untuk menarik perhatian pelanggan.
Kediaman pemimpin konfederasi terletak tepat di jantung Hopestadt, bersisian dengan oasis yang menjadi urat nadi kehidupan kota. Gemericik air dari oasis memberikan atmosfer menyegarkan—sebuah kemewahan mutlak di kota yang gersang. Air dialirkan ke setiap rumah melalui pipa-pipa yang bermuara dari kediaman sang pemimpin. Upaya penggalian sumur selalu sia-sia; mata air di sana rupanya berasal dari vena air bawah tanah yang sangat dalam. Hal inilah yang menjadikan penguasa pasokan air sebagai simbol otoritas tertinggi.
Saat ini, Hopestadt sedang berdenyut dengan kegembiraan. Turnamen Ruler’s Rumble, ajang enam tahunan untuk menentukan pemimpin konfederasi berikutnya, akan segera dimulai. Berbagai ras dari pelosok Einbiest membanjiri kota. Meski penginapan penuh sesak, Hikaru dan kelompoknya berhasil mendapatkan tempat berkat bantuan kaum Ratmen (Manusia Tikus).
"Kita bisa makan, dan mereka menyediakan satu bak air bersih setiap hari untuk membasuh diri," ujar Hikaru. "Itu sudah termasuk kemewahan di sini."
Kelimpahan sumur di Ponsonia selama ini membuat mereka menganggap remeh ketersediaan air.
"Matahari sangat terik di siang hari, tapi malamnya terasa menggigit," sahut Lavia sambil membolak-balik buku tentang Hopestadt.
"Bagaimana dengan keamanan publik?" tanya Paula.
"Tidak terlalu bagus, tapi masih dalam batas wajar."
Tiba-tiba, pintu diketuk.
"Silver Face," panggil Jillarte. "Ayo daftar." Suaranya terdengar tegang.
"Oke. Mari berangkat."
"Lho? Kau meninggalkan mereka berdua di sini?" tanya Jillarte heran.
"Mereka kelelahan karena perjalanan jauh," jawab Hikaru. "Mereka butuh istirahat."
"B-begitu ya. J-jadi hanya kita berdua?"
"Ya, kurasa begitu."
Dengan kegugupan yang aneh, Jillarte meninggalkan penginapan bersama Hikaru.
Hikaru telah mengenakan masker dan tudungnya sejak awal. Kini, Jillarte pun mengenakan jubah serupa dengan kain yang menutupi mulutnya. Karena banyak orang memakai masker untuk berlindung dari debu, ia tidak terlalu mencolok. Sebagai sosok yang cukup terkenal, Jillarte memang harus menghindari perhatian.
"Itu Arena Hopestadt, lokasi Ruler’s Rumble," tunjuk Jillarte.
"Besar sekali."
"Benar, kan? Ada renovasi besar-besaran saat ayahku masih menjadi pemimpin."
Hikaru terkekeh.
"Apa yang lucu?"
"Hanya saja... kau terlihat sangat bahagia saat membicarakan ayahmu."
Wajah Jillarte yang terlihat memerah. "J-jadi, apa hubunganmu dengan mereka berdua?"
"Sulit dijelaskan. Bisa dibilang kami adalah rekan konspirator yang berbagi rahasia."
Bagi Hikaru, mereka memang berbagi banyak rahasia. Namun, ia tahu tanpa rahasia pun, Lavia dan Paula akan tetap memilih bersamanya.
"Pasti rahasia besar," gumam Jillarte lesu.
"Mungkin."
"Hubungan yang dibangun di atas kepercayaan yang teguh..." lanjut Jillarte dengan nada muram.
"Kurasa kita juga berbagi rahasia sekarang," potong Hikaru.
"Apa?!"
"Aku mengeluarkanmu dari penjara, dan sekarang kita bekerja sama untuk memenangkan turnamen. Kedengarannya seperti rahasia besar bagiku."
"B-benar! Bukan rahasia pribadi antara kita berdua, tapi tetap saja itu rahasia besar!"
Jillarte melanjutkan langkah dengan riang. Hikaru tidak mengerti mengapa suasana hatinya mendadak berubah, tapi ia bersyukur Jillarte merasa lebih baik.
Arena tersebut terletak di timur laut kota, sebuah struktur melingkar dari batu yang megah, mengingatkan pada Colosseum Romawi namun lebih lebar. Turnamen ini akan menampung maksimal 32 peserta. Pendaftaran masih dibuka hingga empat hari ke depan sebelum acara utama dimulai.
Di pintu masuk, dua Beastmen tipe harimau menghadang.
"Hanya personel berwenang. Pergi sana!"
"Kami di sini untuk mendaftar."
"Oh, ternyata para Half-Dragon (Setengah Naga)."
"Apa mereka ingin dibantai lagi oleh Tuan Gerhardt?!"
Hikaru mengabaikan tatapan sinis mereka dan masuk. Proses pendaftaran berjalan lancar, namun resepsionis sempat terperangah saat melihat nama Jillarte tertulis sebagai perwakilan kaum Dragonfolk dan Ogrekin. Kabar partisipasi putri mantan pemimpin itu pun segera menyebar cepat, membuat identitas "Silver Face" yang mewakili Ratmen dan Sinners nyaris tak diperhatikan.
Beberapa hari kemudian, saat bagan turnamen diumumkan, Hikaru, Lavia, dan Paula berjalan-jalan di pusat kota dengan pakaian petualang biasa tanpa masker perak. Hikaru mengaktifkan Group Cloaking agar mereka tidak mencolok.
Sambil bergandengan tangan untuk menjaga efek sihir—meski sedikit memalukan—mereka menuju Adventurers’ Guild untuk menyelesaikan komisi pengiriman barang. Namun, tepat sebelum masuk, mereka berpapasan dengan empat wanita yang keluar dari gedung.
Itu adalah Four Eastern Stars, salah satu kelompok petualang terkuat di Kerajaan Ponsonia.
Sial! Apa yang mereka lakukan di sini?! batin Hikaru.
Beruntung sihir penghilangnya aktif. Namun, tiba-tiba salah satu dari mereka, Sara, berhenti dan menatap tajam ke arah posisi Hikaru.
Insting Sang Pemburu
【Soul Board】 Sara Usia: 18 | Rank: 39 | Poin Tersisa: 9
【Vitalitas】 - Pemulihan Alami: 2
Stamina: 3
【Kekuatan】 - Kekuatan Otot: 1
【Penguasaan Senjata】 - Pedang Pendek: 2 | Busur: 4 | Senjata Lempar: 1
【Kelincahan】 - Power Burst: 3 | Fleksibilitas: 3 | Keseimbangan: 4
【Stealth】 - Life Cloaking: 2 | Mana Cloaking: 1 | Imperceptibility: 1
【Ketangkasan】 - Ketangkasan: 5
【Insting】 - Insting: 5
【Deteksi】 - Deteksi Kehidupan: 1
Sara hanya memiliki 1 poin pada Life Detection, yang memungkinkannya merasakan tanda kehidupan dalam radius sepuluh meter. Namun, Hikaru memiliki 3 poin pada Group Cloaking, yang memberinya efektivitas setara dengan 3 poin Life Cloaking. Seharusnya ia aman.
"..."
Sara mematung. Serika ikut menatap ke arah yang sama—tepat ke posisi Hikaru berada.
"Ada apa, Sara? Cemberut begitu tidak cocok untukmu!" tegur salah satu rekannya.
"Ada sesuatu yang mengusikku..."
Jantung Hikaru berdegup kencang. Benar, Insting! Kemampuan itu sempat menyulitkannya saat melawan ksatria dulu. Ternyata dalam situasi ini pun, poin tinggi pada Insting milik Sara bisa merasakan keberadaannya meski secara visual ia tak terlihat.
"Maaf. Mungkin hanya imajinasiku saja," ucap Sara akhirnya sambil tersenyum.
Begitu keempat wanita itu pergi, Hikaru mengembuskan napas lega. Lavia dan Paula melakukan hal yang sama; mereka sedari tadi menahan napas tanpa sadar.
"T-tadi itu benar-benar menegangkan," bisik Lavia.
"Mereka benar-benar tidak melihat kita," tambah Paula kagum.
"Efek sihir ini akan hilang begitu mereka menyadari kehadiran kita secara sadar," jelas Hikaru. "Ini berhasil karena mereka memang tidak melihat kita sejak awal."
"Tunggu, bagaimana dengan turnamen nanti?" tanya Lavia cemas. Pertarungan itu bersifat publik; Hikaru akan langsung terlihat begitu melangkah ke arena.
"Aku punya rencana," jawab Hikaru tenang. "Aku cukup lelah, ayo selesaikan komisi ini lalu kita cari makan."
Perubahan Status dan Pendaftaran Guild
Setelah menyelesaikan komisi pengiriman, Hikaru naik ke Rank F. Lavia, yang kini jauh dari jangkauan kerajaan, memutuskan untuk mendaftar menjadi petualang.
【Kartu Guild Petualang】 Nama: Lavia
Pendaftaran: Guild Petualang Hopestadt, Konfederasi Einbiest
Rank: G
Blessing: Flame Elemental Magic God: Flame Magus
Resepsionis yang merupakan seorang wanita bertelinga kucing awalnya ragu karena Lavia baru berusia 14 tahun. Namun, sikapnya berubah drastis menjadi hormat setelah melihat Blessing tingkat tinggi yang dimiliki Lavia. Di dunia ini, Blessing adalah segalanya.
Bagan Turnamen: Nama-Nama yang Tak Terduga
Saat tiba di depan arena, kerumunan besar berkumpul di depan papan kayu setinggi 20 meter yang memuat bagan turnamen. Sebanyak 32 peserta telah terdaftar, memenuhi seluruh slot yang tersedia.
Dua nama paling mencolok berada di sisi yang berseberangan: Jillarte Kostenlos Jäger di sisi paling kiri, dan pemimpin saat ini, Gerhardt Vatex Anchor, di sisi paling kanan. Namun, ada nama lain yang membuat Hikaru tertegun:
Selyse Lande: Jika Jillarte terus menang, ia akan menghadapi Selyse di perempat final.
East: Nama yang sangat familiar bagi Hikaru. Kemungkinan besar adalah East F. Garuda, ksatria bangsawan dari Ponsonia yang mengetahui wajah Lavia.
Apakah kerajaan mengirim mereka untuk mengacaukan konfederasi? pikir Hikaru. Turnamen ini memang terbuka bagi pihak luar selama mereka mendapat dukungan dari salah satu ras di Einbiest.
Ketegangan memuncak saat rombongan Beastman bersenjata lengkap yang mewakili Gerhardt mendatangi Jillarte. Beruntung, konfrontasi fisik tidak terjadi saat itu, meski suasana kota semakin memanas. Nama Silver Face juga tertera di sana; jika sesuai rencana, ia akan berhadapan dengan Jillarte di babak semifinal.
Statistik Demografi & Distribusi Ras (Data Einbiest)
Berdasarkan konteks narasi dan distribusi populasi di kota Hopestadt, berikut adalah gambaran statistik mengenai ras-ras yang ada:
1. Komposisi Ras di Hopestadt (Estimasi)
| Ras | Persentase Populasi | Peran Dominan |
| Beastman (Manusia Binatang) | ~50% | Militer, Keamanan, Pedagang |
| Dragonfolk (Kaum Naga) | ~15% | Pendukung pemimpin lama (Kouga) |
| Ogrekin (Kaum Ogre) | ~10% | Tenaga kasar, Penjaga |
| Ratmen (Manusia Tikus) | ~8% | Informasi, Penginapan, Logistik |
| Lain-lain (Elf, Dwarf, Manusia) | ~17% | Petualang, Pengrajin, Pedagang lintas negara |
2. Peserta Turnamen Ruler’s Rumble
Total Peserta: 32 orang.
Representasi Ras: Kali ini mencakup seluruh ras yang diakui di Einbiest (sebelumnya seringkali kurang dari 30 peserta karena ras minoritas tidak ikut serta).
Unggulan: Gerhardt (Beastman) dan Jillarte (Half-Dragon).
3. Ekonomi & Mata Uang
Einbiest tidak memiliki mata uang sendiri karena keterbatasan teknologi ekonomi. Berikut adalah statistik penggunaan mata uang di wilayah tersebut:
Mata Uang Utama: Gilans (Kerajaan Ponsonia).
Mata Uang Alternatif: Terbitan Teokrasi Bios dan Negara Maritim Vireocean.
Nilai Komisi: Pengiriman standar antar kota dihargai sekitar 10.000 Gilans.
Ambisi di Balik Arena
"Kau sudah memeriksa bagannya, kan? Sekarang yang harus kau lakukan hanyalah menang. Jika kau terus melaju, kita akan berhadapan di perempat final. Saat itu terjadi, kumohon mundurlah."
"Mundur? Bukankah seharusnya yang terkuat yang bertahan di turnamen?" tanya Selyse heran.
"Aku tidak meragukan kemampuanmu, Nona Selyse, tapi aku telah berlatih di bawah bimbingan sang Sword Saint (Santo Pedang). Mustahil bagiku untuk kalah melawan petualang," jawab East dengan kepercayaan diri mutlak.
Mereka duduk di lobi hotel paling mewah di Hopestadt. Suasana remang dan tenang di sana kontras dengan teriknya matahari di luar. Anggota Four Eastern Stars lainnya sedang menikmati teh di meja sebelah. Tawa mereka sesekali terdengar, membuat East melirik gugup.
"Kau akan menghadapi Jillarte di babak kedua—putri pemimpin terdahulu dan secercah harapan kaum Dragonfolk. Kau yakin bisa mengalahkannya?" tanya Selyse lagi.
"Pertanyaan bodoh. Kudengar dia hanya petualang Rank C."
Setelah East pergi, Serika dan yang lainnya bergabung dengan Selyse. Mereka mendiskusikan betapa kaku dan sombongnya ksatria itu. Sara mengungkapkan sebuah rumor yang menjadi alasan mengapa East begitu menggebu-gebu: Silver Face. Pria bertopeng perak itu adalah sosok yang pernah mengalahkan Lawrence, Panglima Ksatria Ponsonia sekaligus sang Santo Pedang. Sebagai ksatria yang setia, East merasa harus membalas harga diri pemimpinnya yang terluka.
Singa dari Einbiest: Gerhardt Vatex Anchor
Di balkon kemegahannya, Gerhardt berdiri menatap malam. Dengan tinggi lebih dari dua meter dan otot yang kokoh, ia adalah perwujudan kekuatan. Surai emas dan taring tajam menunjukkan dominasi genetik singa yang kuat dalam dirinya.
Gerhardt bukanlah pemimpin yang kejam, namun ia memuja kompetisi. Jika pemimpin sebelumnya mengedepankan kesetaraan bagi kaum minoritas, Gerhardt menambahkan unsur persaingan di atasnya. Ia membiarkan Dragonfolk menyelamatkan Jillarte dari penjara Ponsonia bukan karena lemah, melainkan karena ia haus akan lawan yang tangguh. Insting singanya mendambakan pertempuran yang sesungguhnya.
Hari Pertama: Ruler's Rumble Dimulai
Matahari terbit menyinari dinding arena dengan warna kemerahan. Penonton menyemut, teriakan semangat membahana saat gerbang dibuka. Hikaru berangkat menggunakan kereta terbuka, mengenakan jubah dan masker peraknya. Berbeda dengan Jillarte yang disambut sorak-sorai bak pahlawan, Hikaru hanya menerima bisikan-bisikan sinis yang bingung dengan penampilannya.
Gemuruh Pembukaan di Einbiest
Ruang tunggu bagi para kandidat dibuat terpisah dan berjauhan demi menghindari bentrokan tak terduga sebelum kompetisi dimulai. Keriuhan yang merembes dari arah arena menandakan upacara pembukaan telah dimulai. Sorak-sorai yang menggetarkan seluruh stadion pecah saat Gerhardt, sang juara bertahan, menampakkan diri.
Di dalam ruang tunggunya, Hikaru—yang tetap mengenakan topeng dan tudung—sedang mendengarkan pengarahan aturan dari seorang staf Beastman tipe sapi. Staf tersebut menatapnya penuh curiga.
"Sebelum turnamen dimulai, harap mendaftar di sini," ujar si petugas sambil menyodorkan sebuah lempengan logam persegi berbingkai batu. "Ini adalah magic item untuk merekam pola mana, guna memastikan tidak ada kecurangan seperti pemalsuan identitas."
Hikaru meletakkan tangannya di atas alat itu. Seketika, alat itu berpendar putih bersih.
"Apa? Putih?" gumam staf itu heran. "Sudah sepuluh tahun aku menggunakan alat ini, tapi baru kali ini aku melihat warnanya menjadi putih. Biasanya merah atau biru yang pekat."
Meskipun bingung, ia menyerahkan alat verifikasi kedua kepada Hikaru sebagai bukti identitas untuk pertandingan berikutnya. Ia menjelaskan bahwa hampir tidak ada aturan khusus: segala senjata dan alat diperbolehkan selama merupakan kekuatan sendiri. Kemenangan ditentukan jika lawan menyerah, pingsan, tidak mampu bangkit, atau keluar arena selama sepuluh detik.
"Bagaimana jika aku membunuh lawan?" tanya Hikaru datar.
Staf itu tersentak. "Tujuan utama Ruler’s Rumble adalah mempromosikan pemahaman antar-ras. Namun... ini adalah turnamen tingkat tinggi dengan risiko kematian yang nyata. Setiap peserta dianggap telah menyetujui risiko tersebut."
Tak lama kemudian, Hikaru dipanggil menuju arena. Ia melewati lorong sempit dan remang sebelum akhirnya disambut cahaya matahari yang menyilaukan dan gemuruh massa.
"Kandidat berikutnya adalah Silver Face, yang dicalonkan oleh kaum Sinners dan Ratmen!"
Di tengah arena yang luasnya setara stadion sepak bola, terdapat empat panggung batu setinggi lutut yang diberi nama elemen: Api (merah), Angin (hijau), Air (biru), dan Tanah (abu-abu). Hikaru melangkah menuju panggung utama tempat para peserta lain telah berbaris.
Luar biasa... isinya mayoritas pria-pria berotot, batin Hikaru.
Jillarte berdiri di sana, mengenakan pelindung dada logam yang ringkas—menunjukkan gaya bertarung yang mengutamakan kecepatan dengan pedang ganda di punggungnya. Mata Jillarte berbinar saat melihat Hikaru, meski ia menahan diri untuk tidak melambai.
Namun, perhatian Hikaru teralih pada sosok lain. East benar-benar ada di sana. Mengenakan baju zirah rantai (chainmail), ksatria itu menatap Hikaru dengan tatapan yang seolah ingin membunuhnya. Kenapa dia menatapku setajam itu? Aku kan tidak pernah berhubungan langsung dengannya, pikir Hikaru heran.
Ketegangan semakin memuncak saat peserta terakhir diperkenalkan.
"Selanjutnya, petualang Rank A dari kelompok Rising Falls... Sang Pemanah, Ryver!"
Seorang pria berambut merah panjang dengan tatapan mata yang sangat tajam melangkah maju. Dia adalah sosok dengan odds taruhan yang lebih tinggi (lebih difavoritkan) daripada Selyse. Hikaru ingin memeriksa Soul Board-nya, namun Ryver berhenti tepat di luar jangkauan lima meter deteksinya.
Dan akhirnya, sang penguasa muncul. Gerhardt Vatex Anchor. Raksasa setinggi dua meter dengan jubah merah yang berkibar. Meski tubuhnya besar, langkah kakinya terasa ringan dan presisi bak predator puncak. Menariknya, mata Gerhardt hanya tertuju pada satu orang: Jillarte.
Di tribun penonton, Lavia dan Paula memperhatikan dengan cemas sambil menikmati kudapan. Bunyi gong menggema, menandakan dimulainya empat pertandingan pertama secara simultan. Jillarte dan East memulai debut mereka di panggung yang berbeda.
Strategi di Tengah Kabut
Di ring biru, lawan Selyse adalah seorang Chelonian (Manusia Kura-kura). Selain kulit yang mengeras dan cangkang besar di punggung, mereka tidak jauh berbeda dengan manusia. Menggunakan cangkangnya sebagai perisai dan tombak pendek di tangan kanan, sang Chelonian menunggu Selyse menyerang.
Selyse hanya membawa pedang besi dengan ujung tumpul; ia sengaja meninggalkan White Ray Blade miliknya karena terlalu mematikan untuk turnamen ini. Saat sang Chelonian meluncurkan tusukan tombak yang kuat, Selyse bergerak dengan presisi luar biasa. Alih-alih menghindar, ia membelokkan ujung tombak lawan dengan pedangnya. Sebelum lawan menyadari apa yang terjadi, Selyse sudah berada di sampingnya dengan ujung pedang menempel di leher.
"Aku... aku menyerah," gumam sang Chelonian.
Sementara itu, Jillarte harus berjuang lebih keras melawan seorang Dwarf. Dwarfs di Einbiest dikenal karena kekuatan fisik dan keahlian menempa, namun lawan Jillarte kali ini bermain curang—ia menggunakan Support Magic (Sihir Pendukung) untuk meningkatkan kekuatan ototnya.
Meski sempat terdesak oleh ayunan bola besi lawan, Jillarte tetap tenang. Ia teringat betapa Hikaru pernah menghadapi situasi yang jauh lebih berbahaya. Dalam sebuah gerakan berisiko, Jillarte melepaskan kedua pedangnya saat bentrokan senjata terjadi. Ketika sang Dwarf kehilangan keseimbangan karena dorongan yang tiba-tiba hilang, Jillarte menghantamkan lututnya ke wajah lawan dan menodongkan pisau dapur ke hidungnya.
"Tidakkah kau tahu? Bagi petualang, pisau multifungsi adalah hal yang wajib dibawa," ucap Jillarte bangga.
Debut Sang Topeng Perak
Setelah East juga memenangkan pertandingannya dengan teknik pedang ortodoks, tibalah giliran Hikaru di ring merah. Lawannya adalah seorang Lycanthrope (Manusia Serigala).
"Kau terlihat seperti amatir," ejek sang werewolf. Ia bertarung dengan tangan kosong, mengandalkan kecepatan dan kekuatan insting predator.
Begitu gong berbunyi, sang werewolf melesat secepat kilat. Namun, Hikaru melepaskan sebuah bola kecil. Bola itu mendesis, menyemburkan asap putih pekat yang tidak hanya menutupi pandangan, tetapi juga menetralisir indra penciuman tajam sang werewolf dengan aroma bubuk yang menyengat.
Sang werewolf mencoba mengandalkan pendengarannya. Ia yakin Hikaru tidak bergerak. Ia mengayunkan cakar kuatnya ke arah posisi terakhir Hikaru, namun serangannya hanya menembus udara kosong. Tiba-tiba, sebuah tendangan menghantam punggungnya. Meski terlihat seperti tendangan biasa, serangan itu diperkuat dengan buff dari Skill Assassination, yang mengguncang otak dan kesadaran sang predator hingga pingsan seketika.
"Apa yang terjadi?! Pemenangnya adalah Silver Face!" teriak pembawa acara di tengah gemuruh ejekan penonton yang menganggap Hikaru bermain curang.
Statistik & Analisis Kekuatan Ras (Babak I)
Pertandingan ini memberikan gambaran jelas mengenai hierarki kekuatan dan distribusi ras di Einbiest. Berikut adalah data teknis terkait:
1. Perbandingan Kekuatan Fisik & Atribut Ras
| Ras | Atribut Utama | Pertahanan | Kelemahan |
| Chelonian | Kekuatan Tombak | Sangat Tinggi (Cangkang Alami) | Mobilitas Rendah |
| Dwarf | Ketahanan & Kerajinan | Tinggi | Jangkauan Serangan Pendek |
| Lycanthrope | Kecepatan & Indra | Menengah | Terlalu Bergantung pada Insting |
| Greenmen | Manipulasi Alam | Menengah | Rentan terhadap Teknik Pedang Cepat |
2. Data Pelanggaran & Sihir Pendukung
Meskipun Support Magic tidak dilarang secara eksplisit dalam aturan "menggunakan kekuatan sendiri", hal ini dianggap tabu secara sosial di Einbiest.
Kasus Dwarf: Menggunakan penguatan otot tingkat rendah (sekitar 15-20% peningkatan kekuatan) agar tidak terdeteksi oleh wasit dari jarak jauh.
Risiko: Jika ketahuan, odds taruhan peserta tersebut biasanya akan anjlok drastis karena hilangnya kepercayaan publik.
3. Analisis Kemenangan Silver Face
Hikaru memenangkan pertandingan dalam waktu kurang dari 15 detik.
Alat: Bom Asap (Smokescreen).
Skill Aktif: Stealth (untuk menghilangkan keberadaan di dalam asap) dan Assassination (untuk memberikan dampak kerusakan saraf yang besar tanpa harus membunuh).
Reaksi Publik: Ejekan "Penipu" dan "Pengatur Skor" muncul karena penonton di Einbiest (terutama Beastmen) lebih menghargai adu kekuatan fisik secara terbuka (brute force) daripada taktik subversif.
4. Hierarki Ancaman (Versi Hikaru)
Hikaru membandingkan kekuatan lawannya dengan entitas yang pernah ia hadapi sebelumnya:
Fire Drakon (Ancaman Bencana) - Paling Berbahaya
Black/White Dragon (Legenda)
Lycanthrope (Kandidat Turnamen) - Tingkat Menengah
Kemenangan ini menempatkan Hikaru di babak kedua, di mana ia kemungkinan besar akan menghadapi Ryver, pemanah misterius yang memiliki odds kemenangan sangat tinggi. Apakah Anda ingin melihat bagaimana Hikaru mempersiapkan diri menghadapi Ryver yang memiliki jangkauan serangan jauh?
Bayang-Bayang di Balik Sorak-Sorai
"Menggunakan bom asap untuk serangan mendadak. Benar-benar licik."
Begitu keluar dari ruang tunggu, Hikaru berpapasan dengan East. Ksatria itu menatapnya tajam. "Apakah itu caramu mengalahkan sang Panglima?"
Hikaru mencoba berpura-pura tidak tahu, namun East sudah menduga identitasnya sebagai sosok yang mengalahkan Lawrence sang Santo Pedang. Bagi East, kekalahan pemimpinnya adalah penghinaan yang hanya bisa dihapus dengan membuktikan bahwa Silver Face hanyalah penipu yang menggunakan taktik kotor.
Ketegangan itu mereda sesaat ketika sang Lycanthrope yang baru saja dikalahkan Hikaru muncul. Alih-alih mendendam, sang manusia serigala justru membela strategi Hikaru di depan East, meski tujuannya adalah memancing East agar waspada terhadap teknik persepsi Hikaru.
Dominasi Mutlak Sang Singa: Gerhardt
Pertandingan terakhir hari itu menampilkan Gerhardt Vatex Anchor. Lawannya adalah seorang Vampir, ras dengan fisik kuat yang mampu bergerak di bawah sinar matahari. Namun, perbedaan kekuatan mereka sangat mencolok.
Vampir itu mengayunkan gada raksasanya berkali-kali, namun Gerhardt menahannya hanya dengan satu tangan tanpa bergeming sedikit pun. Dengan wajah bosan, Gerhardt meluncurkan satu tusukan malas yang menerbangkan senjata lawan, lalu mengeluarkan raungan (roar) yang begitu dahsyat hingga membuat sang Vampir pingsan seketika dengan mulut berbusa.
"Dia terlalu kuat, Hikaru," bisik Lavia cemas. "Ya. Jillarte tidak akan bisa menang melawannya secara langsung," jawab Hikaru.
Percakapan di Senja Hari
Malamnya, Jillarte mengunjungi penginapan Hikaru secara sembunyi-sembunyi. Di lantai bawah yang sepi, mereka berbagi teh. Jillarte, yang selama ini merasa minder karena penampilannya yang dianggap "terkutuk" sebagai kaum Half-Dragon, mencoba memberanikan diri untuk mengenal sosok di balik topeng perak itu.
"Apa makanan favoritmu?" tanya Jillarte ragu. "Makanan kaki lima (street food)," jawab Hikaru santai. "Sederhana, bervariasi, dan jujur."
Mendengar itu, Jillarte tertawa kecil. Untuk sejenak, ia terlihat seperti remaja biasa, meski sisik kusam di wajahnya tetap menjadi pengingat akan diskriminasi yang ia alami.
Plot Gelap di Balik Turnamen: Upaya Pembunuhan Jillarte
"Bisa ceritakan lebih banyak tentang kaum Setengah Naga?" tanya Hikaru. Ia penasaran tentang legenda pengkhianatan leluhur Jillarte terhadap seekor Naga. Hikaru curiga Naga yang dikhianati adalah Naga Api yang pernah ia temui di Forest of Deception.
Namun, sebelum Jillarte sempat menjawab, sebuah benda melesat cepat menembus jendela—dan menghujam tepat di dada Jillarte.
"Apa...?"
Tubuh Jillarte miring dan jatuh ke belakang. Ia tertembak oleh penembak jitu. Hikaru segera menghampirinya; wajah Jillarte pucat pasi, ia memuntahkan darah hitam. Luka itu beracun.
Hikaru mengintip ke luar jendela. Jauh di sebuah pohon besar, sekitar seratus meter jauhnya, ia melihat sesosok bayangan melompat turun dari dahan.
Menembak dari jarak sejauh itu tepat di jantung? batin Hikaru geram.
Hikaru segera menggendong Jillarte ke kamarnya dan mendobrak pintu.
"Paula! Gunakan Sihir Penyembuhan sekarang! Kerahkan semua kemampuanmu!"
Identitas Sang Penembak
Berkat sihir Paula dan vitalitas Jillarte yang kuat, nyawanya berhasil terselamatkan. Tak lama kemudian, Garan (kaum Ogre) dan Utekko (kaum Naga) datang dengan panik.
"Aku melihat siapa pelakunya," ucap Hikaru saat suasana mulai tenang. "Dia adalah Ryver, petualang itu."
Ruangan mendadak hening. Ryver bukan petualang sembarangan. Dia adalah anggota Rising Falls, kelompok petualang Rank A yang sangat terkenal. Utekko menjelaskan bahwa menuduh Ryver tanpa bukti fisik (karena luka Jillarte sudah sembuh total oleh sihir) hanya akan membuat Hikaru dianggap memfitnah lawan demi memenangkan turnamen.
"Aku akan menghancurkannya secara jantan di turnamen nanti," ujar Hikaru dengan aura kemarahan yang membuat Utekko bergidik. "Dia akan membayar mahal karena telah membuatku marah."
Babak Kedua: Jillarte vs East
Keesokan harinya, jadwal pertandingan mengalami sedikit perubahan. Pertandingan Jillarte melawan East (Ksatria Ponsonia) diletakkan di sesi pertama, sedangkan pertandingan Hikaru melawan Ryver dipindahkan ke sesi kedua.
Hikaru mengunjungi Jillarte di ruang tunggunya untuk memberikan dukungan.
"Lady Jillarte, waktunya bertanding," panggil staf.
Jillarte bangkit. Sebelum pergi, Hikaru memberikan nasihat terakhir, "Tetaplah tenang. Kau bisa mengalahkannya jika kepala tetap dingin."
Jillarte tersenyum, melakukan high-five kecil dengan Hikaru, dan melangkah menuju arena dengan percaya diri. Ketegangan yang sebelumnya menyelimutinya seolah sirna.
Analisis Teknis: Tingkatan Petualang & Kelompok
Untuk memahami mengapa posisi Ryver begitu sulit disentuh, perhatikan perbedaan struktur peringkat petualang berikut:
Peringkat Individu vs Kelompok: Seorang petualang Rank B bisa tergabung dalam Kelompok Rank A jika kelompok tersebut secara konsisten menyelesaikan misi tingkat tinggi.
Rising Falls: Kelompok ini sangat berbahaya karena dari 4 anggotanya, 3 di antaranya adalah individu Rank A. Ini setara dengan memiliki pasukan kecil yang sangat elit.
Implikasi Politik: Karena Ryver dicalonkan oleh kaum Beastmen (faksi penguasa saat ini), upaya pembunuhan ini kemungkinan besar diperintahkan untuk menyingkirkan Jillarte sebelum ia sempat merebut kursi kepemimpinan.
Peta Pertandingan Hari Kedua
| Sesi | Panggung | Peserta | Status |
| Sesi 1 | Air (Biru) | Jillarte vs East | Sedang Berlangsung |
| Sesi 1 | Api (Merah) | Selyse vs Lawannya | Sedang Berlangsung |
| Sesi 2 | Tanah (Abu) | Hikaru vs Ryver | Akan Datang |
Hikaru menyadari ada sesuatu yang janggal. Jika Gerhardt (pemimpin saat ini) yang memesan pembunuhan itu, ia akan dicap pengecut. Ada pihak lain yang sedang bermain di balik layar, memicu konflik antar-ras di Einbiest.
Rahasia di Balik Kekalahan Sang Ksatria
Saat Ryver melihat sosok yang muncul di arena, ia hampir tidak mempercayai matanya. "Apa?! Aku yakin panah beracunku mengenai tepat di dekat jantungnya. Bagaimana dia masih hidup?!"
Di area kursi cadangan yang sepi, tak ada yang mendengar gumamannya kecuali rekan setimnya dari kelompok Rising Falls.
"Kau gagal membunuh target? Itu jarang terjadi," sindir seorang pemuda berambut pirang ikal dengan senyum misterius. Namanya Igru Fullblood, pemimpin kelompok mereka. Di sampingnya ada Caddie, gadis mungil yang sebelumnya gagal mengendalikan Stone Golem, dan seorang raksasa berjuluk Mobile Fortress yang membawa perisai setinggi tubuhnya.
Igru menegaskan bahwa misi pembunuhan Jillarte adalah pekerjaan sampingan pribadi Ryver, bukan misi resmi kelompok. Namun, sebagai pemimpin, ia membiarkan Caddie membantu karena Stone Golem tidak meninggalkan jejak pengguna, berbeda dengan panah.
Sambil pergi, Igru sempat melirik Selyse yang sedang bertanding di ring sebelah. "Dia terlalu cantik untuk menjadi petualang," gumamnya dengan tatapan lapar.
Kemenangan Jillarte dan East yang Terpukul
Di arena, Jillarte tampil lebih lincah dari kemarin. Ia mendominasi East dengan teknik pedang gandanya hingga ksatria itu menyerah. East meninggalkan arena dengan wajah hancur; ia gagal memulihkan kehormatan Panglima Lawrence maupun menjalankan misi rahasia kerajaannya.
Hikaru, yang juga memenangkan pertandingannya dengan mudah hanya menggunakan pisau lempar, segera menghampiri Jillarte. Ia merasakan tatapan dingin dari Ryver di seberang arena. Hikaru membalas tatapan itu, seolah memberi pesan: "Akulah yang menyelamatkannya."
Strategi Persembunyian: "Rumah Rahasia"
Untuk melindungi Jillarte dari serangan pengejar selanjutnya, Hikaru memutuskan untuk tidak kembali ke penginapan lama.
"Jillarte, gandeng tanganku," ajak Hikaru. "A-apa?! Bergandengan tangan?!" Jillarte tersipu malu, mengira ada maksud lain, padahal Hikaru hanya ingin mengaktifkan sihir penghilang agar mereka bisa berpindah tanpa terlihat oleh mata-mata Ryver.
Hikaru membawa Jillarte ke sebuah rumah tua yang terbengkalai di gang sempit. Rumah ini ia sewa melalui jaringan Thieves' Guild (Serikat Pencuri) cabang Hopestadt—sebuah bantuan yang ia dapatkan berkat surat rekomendasi dari Kelbeck.
"Kita akan tinggal di sini sementara. Bahkan Utekko atau Garan tidak tahu tempat ini agar tidak ada kebocoran informasi," jelas Hikaru.
Jillarte merasa lega sekaligus berdebar. Di satu sisi, ia kagum pada kesigapan Hikaru. Di sisi lain, ia merasa canggung karena harus menghabiskan malam di rumah yang sama dengan seorang pria. Namun, bagi Hikaru, ini hanyalah langkah taktis agar Jillarte bisa tidur nyenyak tanpa bayang-bayang panah beracun.
Malam Terakhir: Hidangan dan Sumpah di Balik Bayang-Bayang
Kemampuan memasak Jillarte ternyata cukup lumayan berkat pengalamannya sebagai petualang. Ia mahir menggunakan pisau dan memahami karakteristik sayuran lebih baik dari Hikaru. Namun, ada satu masalah: ia hanya menggunakan garam batu sebagai bumbu.
"Biarkan aku yang tangani bumbunya," ujar Hikaru sambil menyingsingkan lengan baju. Meski tetap mengenakan topeng, ia melepas jubahnya, memperlihatkan rambut biru (yang sebenarnya adalah wig untuk menyembunyikan rambut hitam aslinya).
Hikaru mengolah daging domba itu dengan teknik yang lebih rumit—merebusnya dulu dengan herba untuk menghilangkan bau prengus, lalu mencampurnya dengan kaldu yang kaya rasa. Hasilnya, sebuah sup yang hangat dan menggugah selera.
"Luar biasa," puji Jillarte tulus. Hikaru hanya memberi skor 45 untuk masakannya sendiri, tapi bagi Jillarte, itu adalah hidangan termewah yang pernah ia rasakan.
Strategi Melawan Selyse Lande
Sambil menikmati makan malam berupa roti gandum dan sup, pembicaraan beralih ke pertandingan babak perempat final besok. Lawan Jillarte adalah Selyse Lande, petualang Rank B yang sangat tangguh.
"Selyse belum mengeluarkan kemampuan aslinya," analisis Hikaru. "Dia menggunakan pedang satu tangan dan perisai kecil untuk menangkis, bukan menahan serangan. Dia mengandalkan kecepatan untuk memberikan luka-luka kecil secara bertubi-tubi."
Jillarte tampak ragu. "Aku punya dua pedang, sementara dia hanya satu. Harusnya aku unggul dalam jumlah serangan, kan?"
"Masalahnya, dia jauh lebih cepat darimu. Jika kau bertarung dengan cara yang sama, kau akan kalah dalam teknik pedang," jawab Hikaru jujur.
Hikaru sempat menimbang-nimbang untuk memanipulasi Soul Board milik Jillarte. Jillarte memiliki 4 poin tersisa. Jika Hikaru menambahkan poin ke Power Burst (Ledakan Kekuatan) dan Sword Mastery (Kemahiran Pedang), Jillarte bisa setara dengan ksatria legendaris. Namun, Hikaru ragu. Kekuatan instan seperti itu bisa menjadi beban bagi gadis berusia 18 tahun itu di masa depan.
Pengorbanan yang Ditolak
Jillarte menyadari Hikaru sedang memikirkan sesuatu yang berat demi dirinya. "Cukup, Silver Face. Kau sudah melakukan terlalu banyak. Aku tidak bisa membiarkanmu menanggung beban lebih besar lagi."
Suasana mendadak emosional. Jillarte merasa sangat berhutang budi, namun ia merasa tidak punya apa-apa untuk membalasnya—baik uang maupun kecantikan karena kutukan sisik kaumnya.
"S-Silver Face... aku tahu kau tidak meminta imbalan. Tapi hanya ini yang bisa kuberikan," ucap Jillarte pelan. Ia mulai melepas kancing pakaian luarnya, memperlihatkan perutnya yang dihiasi sisik kusam, berniat menyerahkan dirinya kepada Hikaru karena mengira besok adalah hari terakhirnya hidup.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan?!" Hikaru segera menangkap tangannya.
"Ini mungkin terakhir kalinya aku bisa bersamamu..." bisik Jillarte.
"Dasar bodoh!" bentak Hikaru, seolah tersiram air es. "Ini bukan turnamen terakhir. Masih ada enam atau dua belas tahun lagi. Jangan berani-berani menganggap besok adalah akhir hidupmu. Mati itu sama saja dengan melarikan diri!"
Hikaru membetulkan pakaian Jillarte dan menyentil keningnya. Ia menasihati Jillarte bahwa perjuangan melawan diskriminasi adalah perang jangka panjang yang membutuhkan hati dan semangat, bukan sekadar kekuatan fisik sesaat.
0 Comments