Header Ads Widget

Sirnanya Kutukan dan Fajar Era Baru

 Meskipun insiden serangan Undead mengakibatkan banyak korban luka, tidak ada korban jiwa yang jatuh. Gerhardt menderita luka paling parah, namun berkat ketahanan fisiknya yang luar biasa dan pertolongan pertama dari Paula, nyawanya berhasil diselamatkan. Tanpa salah satu dari dua faktor itu, sang Singa pasti sudah tewas.

Turnamen Ruler’s Rumble dilanjutkan keesokan harinya, langsung menuju babak final.

Final di Atas Arena Tunggal

Hikaru menyaksikan dari bangku penonton dengan rasa takjub saat empat ring yang melambangkan api, air, angin, dan tanah bergerak menyatu menjadi satu arena raksasa yang megah.



Gerhardt melangkah masuk sebagai finalis pertama disambut tepuk tangan yang memekakkan telinga. Melalui pengeras suara, ia menyampaikan pesan yang menenangkan rakyatnya sekaligus mengumumkan pencarian terhadap "Healer bertopeng" (Paula) yang telah menyelamatkan nyawanya.

"Tolong lupakan aku!" gumam Paula panik di samping Hikaru. Berkat Group Cloaking, keberadaan mereka tetap tersembunyi dari pandangan publik.

Finalis kedua diperkenalkan: Jillarte Kostenlos Jäger. Kerumunan yang tadinya bersorak mendadak sunyi senyap. Jillarte muncul tanpa tudung, memperlihatkan kulit manusia yang mulus, mata amber yang bening, dan rambut merah yang berkilau.

Pembawa acara menjelaskan keajaiban yang terjadi kemarin: Jillarte telah mengalahkan bayang-bayang masa lalunya (Kouga), dan dengan itu, kutukan Naga yang selama berabad-abad membelenggu ras mereka telah runtuh. Seluruh kaum Half-Dragon di tribun serentak membuka tudung mereka, memamerkan identitas baru mereka sebagai manusia.

Sorak-sorai meledak. Kali ini bukan karena ketakutan, melainkan kekaguman terhadap kecantikan Jillarte dan keajaiban yang mereka saksikan.


Gejolak di Balik Layar: Keputusan Selyse



Di sebuah hotel, Selyse Lande dan Serika sedang berdiskusi dengan penuh kekesalan. Kerajaan Ponsonia secara sepihak membatalkan kontrak mereka setelah kota benteng Leather-elka berhasil direbut kembali melalui jalur lain.

"Mereka memotong hadiah kita hanya karena kita mundur di tengah jalan? Benar-benar tidak tahu terima kasih!" seru Serika geram.

Selyse memutuskan untuk tidak memaksakan diri memenangkan turnamen tanpa bayaran dan memilih mundur dengan alasan cedera. Namun, ada kecurigaan yang lebih besar: Ryver, yang masuk melalui slot kaum Beastmen, ternyata membawa surat-surat terenkripsi dari Teokrasi Bios (pusat agama benua). Hal ini mengindikasikan adanya konspirasi besar dari pihak gereja untuk mengadu domba faksi-faksi di Einbiest.


Dunia di Ambang Batas Logika

Sementara itu, di kota benteng Leather-elka, ksatria East melaporkan kekalahannya kepada sang Sword Saint, Lawrence D. Falcon.

Lawrence menerima laporan tentang kemunculan Silver Face dengan ketenangan yang menakutkan. Baginya, kekalahan East adalah hal wajar karena mereka sedang berhadapan dengan seorang "Rule Breaker"—seseorang yang bertarung di luar nalar konvensional.

"Istirahatlah, East. Einbiest akan segera dilanda kekacauan, tapi kita harus fokus untuk menjadi lebih kuat," ucap Lawrence.

Setelah East pergi, Lawrence menatap pedangnya. Di dalam Soul Board-nya, sebuah Skill misterius bernama Heaven Sword telah aktif (meskipun ia belum menyadarinya secara sadar). Ia bisa merasakan bahwa dunia sedang bergerak menuju sesuatu yang melampaui logika manusia.


Analisis Statistik & Fakta Dunia

Berikut adalah detail mengenai pergeseran kekuatan dan data rasial yang terungkap:

1. Statistik Demografi & Rasial (Pasca-Kutukan)

Kelompok RasStatus SebelumnyaStatus SekarangDampak Sosial
Half-DragonSisik kusam, mata keruh, terdiskriminasi.Kulit manusia, mata jernih, fisik meningkat.Integrasi penuh ke masyarakat Einbiest dimulai.
BeastmenFaksi dominan di Einbiest.Terpecah karena infiltrasi Bios.Stabilitas politik terancam oleh kecurigaan internal.

2. Detail Ekonomi Kontrak (Ponsonia)

  • Hadiah Awal: 10.000.000 Gilans.

  • Hadiah Penyelesaian (Dibatalkan): 100.000.000 Gilans.

  • Kompensasi Akhir: 10.000.000 Gilans (Hanya cukup untuk biaya perjalanan).

3. Analisis Soul Board: Lawrence D. Falcon

  • Skill Baru: Heaven Sword (1 Poin).

  • Klasifikasi: Rule Breaker / Outlier.

  • Status: Lawrence menyadari adanya "langit di atas langit" dan bersiap menghadapi era di mana kekuatan murni tidak lagi cukup untuk menang.

Awal dari Jalan Masing-Masing

Di kediaman pemimpin konfederasi, seorang gadis berambut merah dengan mata amber yang memesona melangkah masuk. Kecantikannya mampu menghentikan napas siapa pun yang melihatnya.

"Fuh, melelahkan sekali," keluh Jillarte. Ia baru saja selesai berbicara dengan Gerhardt.

"Kerja bagus, Jillarte. Mau teh?" sapa seorang pria tampan berusia awal tiga puluhan.

Jillarte terpaku. "Aku masih belum terbiasa. Kau benar-benar Utekko?"

Utekko, yang sebelumnya terlihat berusia empat puluhan dengan sisik kusam, kini tampak sepuluh tahun lebih muda setelah kutukan itu sirna. Keajaiban ini menyapu seluruh kaum Naga; mereka kembali menjadi manusia seutuhnya. Meskipun banyak yang percaya ini karena Jillarte mengalahkan Kouga, Jillarte tahu di dalam hatinya bahwa Silver Face adalah kunci di balik semua ini.

Gerhardt menawarkan posisi Wakil Pemimpin kepada Jillarte. Sang Singa ingin Jillarte menjadi jembatan bagi kaum minoritas dan memberikan perspektif baru demi keadilan di Einbiest. Meskipun memikul tanggung jawab berat, Jillarte menerima posisi itu demi mewujudkan impian mendiang ayahnya.

Pencarian yang Berakhir di Ambang Pintu

Jillarte segera berlari menuju penginapan, hatinya dipenuhi keinginan mendalam untuk bertemu Silver Face. Ia ingin berterima kasih, ingin dihibur atas kekalahannya di final, dan ingin mendengar kata-kata penyemangat darinya.

Namun, di penginapan, ia hanya menemukan kabar pahit dari Chi dan kawan-kawan: Silver Face, Star Face, dan Flower Face telah pergi sejak kemarin. Semua barang mereka sudah tidak ada.

Dengan cemas, Jillarte berlari ke rumah tempat mereka menghabiskan malam bersama. Pintu tidak terkunci, namun di dalamnya gelap dan sunyi.

"Kau sudah berjanji... Kau bilang akan mengatakan apa yang kau inginkan setelah turnamen selesai!" teriak Jillarte sambil memukul pintu.

Ia menyadari betapa sedikitnya ia tahu tentang pria itu. Di atas meja, ia menemukan secarik kertas. Jillarte membawanya keluar ke bawah cahaya lampu jalan dan membacanya dengan jari gemetar:

"Aku menonton finalnya. Kau luar biasa. Keinginanku hanya satu: Berjalanlah di atas jalanmu sendiri. Kutukan, masa depan konfederasi... lupakan semua itu jika itu membebanimu. Hidupmu adalah milikmu sendiri. Hiduplah sesukamu."

Air mata Jillarte tumpah. Pesan itu senada dengan wasiat ayahnya: Jangan memilih jalan yang brutal. Hiduplah bahagia. Jillarte menghapus air matanya dengan tekad baru. Ia akan hidup dengan caranya sendiri, sebagai pemimpin baru bagi rakyatnya.


Pertemuan Terakhir di Balik Kerumunan

Di Guild Petualang Hopestadt, suasana sangat riuh. Di satu sisi, Sara dan Sophie dari Four Eastern Stars sedang melayangkan protes keras kepada staf guild atas pembatalan kontrak sepihak oleh Kerajaan Ponsonia.

Hikaru berada di sana, tanpa topeng dan tudung, mengenakan pakaian petualang biasanya. Ia baru saja mengambil kontrak pengiriman barang ke kota Pond. Ia harus kembali ke sana untuk memulihkan status Lavia dan mengisi ulang persediaan suntetsu serta bom asapnya.

Saat hendak keluar, Sophie sempat melirik ke arahnya. Matanya sedikit melebar, tanda ia mengenali Hikaru dari pertemuan singkat mereka di masa lalu. Namun, Hikaru berpura-pura tidak menyadari tatapannya dan bergegas pergi.

Tepat di pintu keluar, seorang gadis dengan rambut merah berkilau masuk dengan terburu-buru.

"Permisi! Aku mencari seseorang!" seru Jillarte.

Jillarte melewati Hikaru begitu saja. Ia tidak mengenali pemuda berambut hitam itu sebagai pria bertopeng perak yang ia cintai. Hikaru menyipitkan mata, menatap punggung Jillarte untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar ke jalanan yang terang.

"Selamat tinggal, Jillarte."

Hikaru tahu ini adalah pilihan terbaik. Menetap akan membuat Jillarte bergantung padanya, sementara jalan mereka sangat berbeda. Hikaru adalah seorang pengembara yang terikat rahasia, sedangkan Jillarte adalah harapan baru bagi Einbiest.

Dengan perasaan yang sedikit sesak namun lega, Hikaru menghilang di antara kerumunan orang, menuju kereta kuda di mana Lavia dan Paula sudah menunggu untuk memulai petualangan baru mereka.


Analisis Data: Statistik Pasca-Turnamen

1. Status Sosial & Politik Einbiest

PosisiNamaRasPeran Strategis
Pemimpin TertinggiGerhardt V. AnchorBeastmen (Singa)Unifikasi militer dan stabilitas nasional.
Wakil PemimpinJillarte K. JägerManusia (Eks-Naga)Representasi minoritas dan reformasi sosial.

2. Dampak Penghapusan Kutukan (Numerical Estimates)

  • Populasi Terdampak: ~10-15% dari total penduduk Einbiest (Kaum Naga).

  • Perubahan Fisik: Penghilangan sisik (peningkatan Agility secara visual), pemulihan kejernihan mata, dan peremajaan sel tubuh (Utekko tampak 10 tahun lebih muda).

  • Sentimen Publik: Transformasi dari "kaum terkutuk" menjadi "pahlawan keajaiban" dalam semalam.



3. Rencana Perjalanan Hikaru (Logistik)

  • Tujuan Berikutnya: Kota Pond (Wilayah Kerajaan Ponsonia).

  • Target Utama: * Kliring status buronan Lavia.

    • Penyelidikan pembunuhan Count Morgstadt.

    • Restok persenjataan teknis (suntetsu & bom asap).

Catatan Pengamat: Pertemuan terakhir di pintu guild menunjukkan kontras antara identitas publik Jillarte yang baru bersinar dan identitas tersembunyi Hikaru yang tetap berada di bayang-bayang. Hikaru memilih untuk menjadi "katalis" yang mengubah dunia tanpa harus menjadi bagian dari struktur dunia tersebut.

Post a Comment

0 Comments