Header Ads Widget

Tekad Paula

 

Bayang-Bayang di Istana dan Hutan

Sementara Hikaru bersiap menembus pegunungan demi memburu monster legendaris, istana kerajaan tetap menjadi sarang bagi para bangsawan yang sibuk berkicau tentang kesetiaan demi keselamatan diri sendiri. Namun, usulan Margrave Grugschilt untuk membagi tugas raja antara pangeran dan putri telah menyulut bisikan-bisikan pengkhianatan.

Intrik Takhta: Kartu As Sang Bendahara

Pangeran Austrin mengamuk, memecahkan piala keramik ke dinding hingga anggur memercik layaknya darah. Ia merasa terhina dengan ide harus bekerja sama dengan Kujastria. Namun, Bendahara Agung menenangkannya dengan senyum licik.

"Pangeran, Duke Nightblaze tidak akan pernah berpihak pada Kujastria," bisik sang Bendahara. "Karena kita memegang nyawa putranya."

Terungkaplah sebuah fakta mengerikan: kutukan Purgatory Wedge yang menimpa Galeicrada bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Sang Bendahara mengaku telah mengetahui bahwa seorang penyihir istana adalah pelakunya. Dengan memegang informasi ini—dan "janji" penyembuhan—mereka menyandera kesetiaan Keluarga Nightblaze. Austrin, meski merasa ngeri, akhirnya menyetujui rencana kotor tersebut. "Sudah terlanjur basah, sekalian saja mandi," pikirnya.


Di Rumah Brinkra: Kecemburuan dan Keberangkatan

Pagi harinya, kabut tipis menyelimuti hutan. Hikaru memutuskan untuk pergi berburu Ravine Serpent hanya bersama Lavia.

"Jaga Flower Face untukku," pesan Hikaru pada Brinkra.

"Cih, pergi sana. Aku akan menyiapkan ritual pencabutan kutukannya," jawab Brinkra ketus.

Paula (Flower Face) hanya bisa melambai dengan perasaan gundah. Brinkra, dengan ketajamannya sebagai Man Gnome, menyadari kecanggungan Paula.

"Kau merasa ditinggalkan? Jika kau terus menjaga jarak karena merasa 'tidak berguna', kau tidak akan pernah bisa mengejar mereka," tegur Brinkra.

Paula terdiam. Ia menyadari bahwa meski ia adalah seorang Healer, ia belum memiliki "rahasia bersama" yang mengikat Hikaru dan Lavia sekuat baja. Ia merasa hanya menjadi orang asing di antara ikatan emosional mereka yang mendalam.


Perburuan Ravine Serpent: Ikatan di Bawah Langit Malam

Hikaru dan Lavia menempuh perjalanan berat selama dua jam. Menyadari stamina Lavia yang terbatas, Hikaru melakukan penyesuaian pada Soul Board gadis itu:

【Soul Board Update: Lavia】

  • Vitality - Stamina: 1 (Meningkatkan daya tahan fisik sebesar 20%).

Di depan api unggun malam itu, Lavia mencurahkan kegelisahannya. Ia merasa menjadi beban bagi Hikaru. Namun, Hikaru menenangkan gadis itu dengan menariknya ke pelukannya.


"Aku menyelamatkanmu bukan hanya untuk membayar hutang budi pada Roland," bisik Hikaru sambil menatap topeng peraknya. "Aku melakukannya karena aku ingin membangun masa depan bersamamu. Aku ingin kau bisa berjalan di toko buku tanpa topeng, memakan hotdog pedas dengan bebas, dan hidup normal. Kau bukan beban."

Lavia juga meminta Hikaru untuk lebih mempercayai Paula dari lubuk hatinya. Hikaru terdiam; baginya, kepercayaan adalah sesuatu yang mahal dan tidak bisa dibangun dalam semalam, terutama bagi pria yang datang dari dunia lain dengan penuh kecurigaan.

Tiba-tiba, pembicaraan mereka terputus. Mana Detection Hikaru yang sudah mencapai level maksimal menangkap pergerakan liar.

"Ada sesuatu di luar sana."

Hikaru segera menendang pasir untuk memadamkan api. Kegelapan total menyelimuti mereka. Di kejauhan, sekitar sembilan puluh meter, sesuatu bergerak melata dengan suara desisan yang mematikan.

"Itu ularnya. Ravine Serpent."


Data Teknis: Ravine Serpent (Peringkat A)

Ciri KhasBahaya UtamaTitik Lemah
Kulit konduktif tinggi.Mampu melepaskan gelombang listrik statis.Atribut Api (Kelemahan alami).
Kamuflase tingkat tinggi.Sulit dideteksi dengan mata telanjang.Panas/Mana yang tidak stabil.

Strategi Pertempuran

Hikaru akan menggunakan Stealth untuk mendekat tanpa memicu reaksi listrik sang ular, sementara Lavia menyiapkan Atonement Flame untuk serangan kejutan yang bersifat menghancurkan.


Kilat Biru dan Rahasia Sang Healer

Lavia menegang. Di hadapannya, seekor ular raksasa melata di antara tumpukan daun kering. Makhluk itu setebal 40 sentimeter dengan panjang lebih dari sepuluh meter. Sisik abu-abu gelapnya menyatu dengan kegelapan, namun matanya memancarkan cahaya biru keputihan yang dingin—inilah Ravine Serpent.

Ular ini memiliki dua organ sensorik yang mematikan: Organ Jacobson untuk melacak aroma mangsa, dan Pit Organ di dekat lubang hidung untuk mendeteksi radiasi inframerah (panas tubuh). Meski api unggun telah dipadamkan, sisa panas dan aroma makanan telah mengarahkan sang predator pada Hikaru dan Lavia.

Eksekusi: Flame Gospel

Sssssss!

Kilat biru memercik dari mata sang ular, menerangi hutan sesaat saat ia melepaskan gelombang listrik ke tanah. Namun, ia tidak menemukan makhluk hidup apa pun. Hikaru telah menggunakan Stealth tingkat maksimal untuk menyembunyikan hawa keberadaan dan panas tubuh mereka.

"Flame Gospel!"

Sebuah suara terdengar dari atas pohon. Lavia, yang berada dalam dekapan Hikaru di dahan tinggi, melepaskan massa api yang berputar. Dengan kontrol yang presisi, api itu melahap kepala sang ular hingga menjadi abu tanpa merusak bagian tubuh lainnya.

"Kontrol yang bagus," puji Hikaru sambil melompat turun membawa Lavia.

Hikaru segera menusuk sisik keras ular itu menggunakan Dagger of Strength dan mengumpulkan darahnya ke dalam kantong kulit. Darah dengan konduktivitas mana tinggi ini adalah bahan utama untuk mematahkan kutukan Galeicrada.


Pencarian Sophie: Mengejar Sosok "Paula"

Sementara itu, di wilayah Nightblaze, Sophie dan Sara dari Four Eastern Stars sedang menuju rumah Petapa Perbatasan. Sophie, sang Healer suci, memiliki misi pribadi: ia ingin memastikan identitas di balik Flower Face.

"Aku curiga gadis dari Cotton-elka itu, Paula, memiliki sihir penyembuhan tingkat legenda yang mampu meregenerasi anggota tubuh," ungkap Sophie pada Sara.

Sophie teringat kejadian di Cotton-elka saat teman Paula, Pia, menderita luka fatal akibat Naga Putih namun secara ajaib selamat. Sophie curiga Paula menyembunyikan kekuatannya dan berpura-pura menjadi pemula agar bisa hidup tenang.

"Jika benar itu dia, aku akan mengajaknya bergabung untuk menyelamatkan banyak orang," ujar Sophie dengan mata berbinar penuh dedikasi religius.

Sara hanya bisa mendesah. Ia tahu betapa keras kepalanya Sophie jika sudah menyangkut ajaran gereja. Namun, saat mereka melihat sebuah rumah batu di balik pepohonan, suasana berubah tegang.

"Sophie! Itu rumah sang Petapa!" seru Sara. "Dan menurut Duke, kelompok Silver Face ada di sana."


Analisis Karakter & Teknis

1. Statistik Lavia (Optimasi Soul Board)

Berkat tambahan poin pada Stamina, Lavia mampu menjaga konsentrasi saat merapalkan Flame Gospel dalam situasi tekanan tinggi. Kontrol api ini krusial agar darah monster tidak menguap akibat panas berlebih.

2. Teori Sophie tentang Paula

Sophie adalah seorang fundamentalis yang percaya bahwa bakat luar biasa adalah titipan Tuhan yang harus digunakan untuk pelayanan publik. Ia melihat Paula bukan sebagai kawan, melainkan sebagai "aset suci" yang harus dibawa kembali ke jalan Gereja.

3. Ravine Serpent (Data Perburuan)

  • Hasil: 3 Kantong Kulit Darah + 1 Botol Air Darah.

  • Status Kutukan: Bahan kedua (Darah) telah diamankan. Tersisa proses ritual bersama Brinkra.

Kesetiaan yang Berdarah

Di dapur rumah Brinkra, Paula sedang memasak sup sambil menggumamkan mantra kecil agar masakannya lezat. Ia merasa tenang, hingga sebuah suara lembut memanggil namanya dari arah pintu.

"Paula."

Paula menoleh. Tubuhnya seketika kaku. Di hadapannya berdiri Sophie Bloomfield dan Sara dari Four Eastern Stars. Sosok Healer agung yang pernah menolong desanya itu kini menatapnya dengan senyum tenang.

"Kau adalah Paula dari Cotton-elka, bukan?" tanya Sophie.

Seketika, dunia Paula serasa runtuh. Ia menyadari kesalahannya: ia merespons panggilan itu meski sedang mengenakan topeng. Pikiran Paula diliputi kepanikan ekstrem. Jika identitasnya terbongkar, maka identitas "Silver Face" sebagai Hikaru juga akan terungkap. Baginya, menjadi beban atau merusak rencana Hikaru adalah dosa yang lebih besar daripada kematian.

Keputusan Nekat sang Flower Face

"Tolong tenanglah, aku ingin bertanya tentang sihirmu—" ucap Sophie.

Namun, Paula tidak mendengar lagi. Dengan gerakan yang lebih cepat dari antisipasi Sara, Paula menyambar pisau dapur dan menggorok lehernya sendiri.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Sara histeris. Darah menyembur, membasahi pakaian dan lantai dapur.

Sara segera melumpuhkan Paula dan menekan lukanya, sementara Sophie mencoba merapalkan sihir penyembuhan dengan tangan gemetar. Namun, terjadi keanehan: Sihir Sophie ditolak.

"Dia menolak sihir penyembuhanku! Karena dia sendiri seorang Healer, dia tahu cara menutup sirkuit mana miliknya agar tidak menerima energi dari luar!" tangis Sophie frustrasi. Ia menyadari bahwa ambisi pribadinya untuk "merekrut" Paula telah mendorong gadis itu ke ambang maut.


Kembalinya Sang Amukan Perak

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

Sebuah suara dingin yang menusuk tulang terdengar dari pintu. Silver Face (Hikaru) berdiri di sana dengan pakaian kotor setelah perjalanan panjang memburu ular. Auranya memancarkan haus darah yang begitu pekat hingga membuat jantung Sophie seakan berhenti berdetak.

"Ini kesalahpahaman! Dia memotong lehernya sendiri!" seru Sara membela diri.

"Kalau begitu sembuhkan dia!" raung Hikaru. "Jika dia mati, kalian akan membayar harganya."

Di lantai, Paula berbisik lirih dengan sisa tenaganya, "Maafkan aku... Tuan Hikaru... aku akan membayar... kesalahanku... dengan kematianku..."

Mendengar itu, kemarahan Hikaru meledak. Ia mendekat dan membentak dengan otoritas absolut:



"KAU TIDAK BOLEH MATI! TERIMA SIHIR PENYEMBUHANNYA, PAULA!"

Mendengar perintah langsung dari Hikaru, pertahanan mental Paula runtuh. Air mata mengalir dari balik topengnya, dan ia akhirnya membiarkan mana emas milik Sophie masuk ke tubuhnya. Dalam satu menit, luka di lehernya menutup, meski wajahnya tetap sepucat kertas karena kehilangan banyak darah.

Hikaru mendorong Sophie dan Sara menjauh, lalu menggendong Paula yang sudah sangat lemah.

"Tidurlah," ucap Hikaru, mencoba meredam amarahnya demi menenangkan Paula.

Hikaru pergi meninggalkan dapur tanpa sepatah kata pun lagi kepada Sophie dan Sara, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekam dan rasa bersalah yang mendalam.


Analisis Karakter: Psikologi Paula

AspekDetail
Motivasi Bunuh DiriMelindungi rahasia Hikaru. Ia lebih takut dibuang oleh Hikaru daripada mati.
Kemampuan TeknisMampu menolak sihir penyembuhan orang lain (sebuah teknik tingkat tinggi yang dilakukan secara insting).
Hubungan dengan HikaruPengabdian mutlak yang cenderung tidak sehat (Self-sacrificial devotion).

Dampak Politik & Hubungan

  • Sophie & Sara: Mereka kini berada di posisi yang sangat sulit. Mereka menyadari bahwa Silver Face bukan sekadar petualang biasa, melainkan seseorang yang sangat protektif dan berbahaya.

  • Hikaru: Kejadian ini kemungkinan akan mengubah cara Hikaru memandang Paula. Ia menyadari bahwa "kepercayaan" yang ia anggap remeh ternyata dijaga oleh Paula dengan nyawanya sendiri.

Tanggung Jawab dan Pengalihan Peran

Setelah kegaduhan mereda, Brinkra akhirnya muncul. Ia terkejut melihat dua wanita asing, bau darah yang menyengat, dan fakta bahwa Paula terluka parah. Paula kini dibaringkan di ruang dalam; meski tak sadarkan diri, napasnya sudah stabil.

"Hikaru, aku akan menjaganya di sini," ucap Lavia lembut. "Kau harus bicara dengan mereka, bukan? Jangan salahkan dirimu."

Hikaru hanya mengangguk dalam diam. Namun, di dalam hatinya, ia merasa hancur. Ini salahku, pikirnya.

Ia menyadari bahwa keputusannya memberikan Paula Healing Magic level 8 tanpa membekali mentalitas yang cukup telah menyudutkan gadis itu. Paula merasa satu-satunya cara untuk membuktikan kesetiaan dan menebus "kesalahannya" karena telah membocorkan identitas adalah dengan kematian. Hikaru merasa seolah dirinya selama ini sedang "menguji" Paula, dan ujian itu hampir merenggut nyawa gadis tersebut.

Konfrontasi dengan Sophie dan Sara

Hikaru kembali ke ruang tamu menemui Sophie dan Sara. Ia segera menanyakan bagaimana mereka bisa mengetahui nama aslinya.

Sara menjelaskan bahwa saat turnamen Ruler’s Rumble, Selyse mendengar Hikaru memanggil nama Paula di tengah kekacauan. Ditambah kecurigaan Sophie tentang kesembuhan ajaib Pia di Cotton-elka, mereka memutuskan untuk memverifikasi identitas sang gadis bertopeng.

"Aku yang hampir membunuhnya," isak Sophie penuh penyesalan. "Aku hanya ingin mengajaknya kembali ke jalan iman... membawanya ke Gereja."

Hikaru mendongak ke langit-langit. Hanya karena itu? Paula hampir menggorok lehernya sendiri hanya karena tawaran masuk Gereja?

"Dia di bawah perlindunganku," tegas Hikaru dingin. "Aku tidak akan membiarkannya menempuh jalan yang salah. Aku percaya kalian tidak keberatan dengan hal itu."

Sophie akhirnya menyerah, meski ia meminta agar suatu saat nanti Paula diizinkan beribadah di Gereja jika ia mau.

Strategi Baru: Melepas Sorotan

Hikaru menyadari bahwa dirinya sudah terlalu sering menjadi pusat perhatian—mulai dari menghadapi Panglima Lawrence hingga memenangkan hati Putri Kujastria. Ia butuh cara untuk "menghilang" dari radar para bangsawan.

"Sebenarnya, ada sesuatu yang bisa kalian lakukan," ujar Hikaru, memecah ketegangan. "Kalian datang ke sini untuk menyelamatkan putra Duke, kan? Kami sudah memiliki semua bahan untuk mematahkan kutukannya."

Hikaru mengajukan sebuah kesepakatan:

  1. Four Eastern Stars akan mengambil seluruh kredit (nama baik) atas penyembuhan Galeicrada G. Nightblaze.

  2. Hikaru akan memberikan bahan-bahannya, namun Sophie-lah yang akan memimpin ritual tersebut menggunakan atribut Suci (Holy) miliknya.

Sara segera menangkap maksud Hikaru. "Aku mengerti. Kau tidak ingin menarik perhatian para bangsawan atau terjebak dalam politik mereka."

Hikaru memeriksa Soul Board Sophie untuk memastikan:

【Soul Board: Sophie Bloomfield】

  • Rank: 36

  • Mana Capacity: 7

  • Holy Affinity: 6

  • Healing Magic: 5

Kapasitas mana dan atribut suci Sophie lebih dari cukup untuk menjalankan ritual pemutusan kutukan Purgatory Wedge. Dengan cara ini, Hikaru tetap bisa menyelamatkan putra Duke tanpa harus muncul di depan publik, sementara Sophie bisa menebus rasa bersalahnya terhadap Paula.


Cahaya yang Pulih dan Rahasia Terakhir

Keesokan harinya, saat senja tiba di kediaman Duke Nightblaze. Ruangan dibersihkan dari orang-orang kecuali sang Duke dan kepala pelayan setianya. Sophie dan Sara memulai ritual pembersihan kutukan dengan persiapan yang matang.

Ritual Pemutusan Purgatory Wedge

"Duke, tolong pegang rahang Tuan Galeicrada agar mulutnya tetap terbuka," instruksi Sophie dengan nada serius.

Ritual ini berlangsung mengerikan. Sophie menuangkan cairan merah pekat—darah Ravine Serpent—ke dada dan mulut Galeicrada. Begitu perkamen sihir ditempelkan, sang pemuda mengerang keras dengan suara yang tidak menyerupai manusia. Mana milik Sophie terkuras drastis untuk mengonversi formula sihir menjadi energi penghancur kutukan.

Suhu ruangan melonjak panas. Sophie bertahan meski mual dan lemas melanda tubuhnya. Tiba-tiba, terdengar suara retakan kecil, dan cahaya menyilaukan mulai memudar. Sophie jatuh pingsan setelah menghabiskan seluruh mananya, namun pengorbanannya membuahkan hasil.

"Ayah... apa yang terjadi?" bisik Galeicrada dengan suara serak.

Kutukan telah angkat. Air mata kebahagiaan tumpah di seluruh mansion. Duke memeluk putranya erat, sementara Sara menggendong Sophie keluar ruangan agar mereka bisa beristirahat dengan tenang sebagai "pahlawan" yang telah menyelamatkan pewaris Nightblaze.


Rekonsiliasi di Rumah Brinkra

Di rumah Petapa Perbatasan, Hikaru sedang mempersiapkan keberangkatan. Brinkra memberinya nasihat terakhir yang menyentil hati.

"Bicaralah padanya (Paula) secara langsung, Silver Face. Sebelum semuanya terlambat," ujar Brinkra, yang menyesal karena tidak pernah benar-benar mencoba memahami Brunkvan hingga saudaranya itu meninggal.

Hikaru mengajak Paula berbicara di luar rumah saat senja yang dingin. Keduanya melepas topeng mereka. Sejak percobaan bunuh diri tempo hari, sebuah celah besar terbentuk di antara mereka. Paula terus menghindari kontak mata, merasa dirinya adalah beban yang tak layak diampuni.

Pengakuan Terlarang Hikaru



Hikaru menyadari bahwa selama ini ia pengecut. Ia memberikan kekuatan besar pada Paula namun tetap menjaga jarak psikologis agar tetap memegang kendali. Demi menghormati tekad Paula, Hikaru akhirnya membagikan rahasia tergelapnya—rahasia yang bahkan belum ia ceritakan pada dunia.

"Paula... Akulah yang membunuh ayah Lavia (Count Morgstadt)."

Paula terbelalak. Hikaru melanjutkan, menjelaskan bagaimana Lavia membantunya melarikan diri dan bagaimana ia menyelamatkan Lavia sebagai balas budi.

"Kau sekarang tahu apa yang kulakukan. Jika kau masih bisa menerimanya, maukah kau tetap berada di kelompok kami? Bukan sebagai pelayan atau orang yang berhutang budi... tapi sebagai rekan sejati?"

Paula menangis tersedu-sedu. "Tuan Hikaru... itu tidak adil. Anda terlalu baik."

Bagi Paula, kejujuran Hikaru adalah hadiah yang jauh lebih besar daripada nyawa. Ia berlutut, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena pengabdian yang kini tulus. Ia setuju untuk membuang segala formalitas dan berjanji akan menjadi anggota kelompok yang setia.

"Mulai sekarang, panggil saja namaku tanpa embel-embel," pinta Paula sambil tersenyum melalui air matanya.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments