Header Ads Widget

Pertempuran di Istana Kerajaan

 

Bayang-Bayang Spionase dan Koalisi Adipati

Di tengah kemeriahan distrik perbelanjaan ibu kota G. Ponsonia, lampu-lampu sihir menerangi jalanan hingga larut malam. Namun, di sebuah gang sempit yang berbau sampah, dua pria bertubuh kecil (Man Gnome) bertemu dalam kerahasiaan yang pekat.

Kembalinya Sang "Black Blade"

"Lama tidak bertemu, Black Blade," sapa seorang pria misterius.

"Nama itu sudah kuno. Memalukan mendengarnya sekarang," jawab Unken, Guildmaster dari Pond.

Terungkap fakta mengejutkan bahwa Unken dulunya adalah agen intelijen elit dari Kekaisaran Quinbrand—musuh bebuyutan Kerajaan Ponsonia. Pria di hadapannya, seorang agen aktif Kekaisaran, membawa kabar buruk: Kerajaan Ponsonia sedang di ambang kehancuran dari dalam.

Kaisar Kagrai (kerabat jauh Unken) ingin menghindari perang, namun Raja Ponsonia yang sudah menjadi boneka bendahara istana kini sedang dicekoki obat-obatan terlarang. Sang Raja berencana mengambil alih komando militer secara langsung—sebuah langkah amatir yang bisa memicu perang total melawan Kekaisaran.

"Aku akan melakukan sesuatu," tegas Unken. "Sampaikan pada Kaisar, Black Blade akan beraksi."

Unken menyadari ini adalah tugas terakhirnya. Ia tidak bisa kembali ke Pond, namun demi mencegah perang yang akan menghancurkan rakyat jelata, sang mata-mata legendaris ini harus kembali menghunus pedangnya.


Pertemuan Tiga Adipati Agung

Di sisi lain, kediaman Duke Golbishop menjadi saksi sejarah. Kereta kuda mewah milik Duke Jackrune dan Duke Nightblaze terparkir di depan gerbang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern kerajaan, tiga Adipati Agung berkumpul di satu tempat.

Lawrence D. Falcon, sang Saint Pedang, hadir sebagai pengawal keamanan bersama Margrave Grugschilt. Suasana terasa optimis karena Galeicrada, putra Duke Nightblaze, telah sembuh total secara ajaib.

"Aku dengar rumor bahwa penyakit putra Anda telah sembuh," ujar Duke Jackrune.

"Ya, kami berhasil melaluinya," jawab Duke Nightblaze dengan senyum lega.

Kisah Cinta yang Canggung

Di luar mansion, terjadi keributan kecil. Galeicrada, yang kini sehat bugar, bersikap sangat agresif mengejar Sophie Bloomfield. Ia percaya Sophie adalah malaikat yang menyelamatkan nyawanya.

"Tuan Galeicrada, ini berlebihan! Tidak pantas petualang sepertiku masuk ke rumah Duke tanpa izin!" seru Sophie panik saat tangannya ditarik oleh sang bangsawan muda.

Sara hanya menonton dari belakang sambil menyeringai.

Sophie merasa bersalah karena ia sebenarnya mencuri kredit kesuksesan Hikaru (Silver Face), namun demi mematuhi instruksi Hikaru dan menebus kesalahannya pada Paula, ia harus memainkan peran sebagai "penyelamat" keluarga Nightblaze. Duke Nightblaze sendiri tidak keberatan jika putranya menikahi petualang tersebut, meski Sophie terlihat sangat tidak nyaman.


Momen Kebenaran

Duke Golbishop muncul dengan wajahnya yang pucat dan suram seperti hantu. Ia mempersilakan para tamu masuk ke ruang pertemuan rahasia.

"Nah, ini adalah saat penentuan," batin Margrave Grugschilt.

Di dalam ruangan itu, mereka akan membahas rencana besar: menggulingkan pengaruh bendahara korup, menstabilkan kondisi Raja yang sakit, dan kemungkinan mengangkat Putri Kujastria sebagai pemegang takhta sementara demi menyelamatkan Ponsonia dari kehancuran militer.


Analisis Situasi: Peta Kekuatan

PihakPeran / KepentinganStatus
Unken (Black Blade)Intelijen Kekaisaran Quinbrand.Akan menyusup ke istana untuk menghentikan kegilaan Raja.
Tiga Adipati AgungKekuatan politik tertinggi.Sedang merundingkan suksesi takhta Kujastria.
Sophie & SaraWajah publik penyembuhan Galeicrada.Menjadi tameng agar Hikaru tetap berada di bayang-bayang.
GaleicradaPewaris Nightblaze yang pulih.Menjadi aset politik baru bagi faksi Grugschilt.

Dadu Telah Dilempar

Malam semakin larut, namun di salah satu sudut tersembunyi istana, suasana justru memanas. Pangeran Mahkota Austrin menatap sang Bendahara Agung dengan tatapan iblis.

Kegilaan Pangeran Austrin

"Katakan sekali lagi," desis Austrin.

Bendahara Agung, dengan keringat dingin yang membanjiri dahi, melaporkan bahwa tiga Adipati Agung telah berkumpul atas undangan Duke Jackrune. Austrin meledak; sebuah piala perak melayang ke dada Bendahara, menumpahkan anggur merah ke pakaian mewahnya.

"Dasar idiot! Kau bilang Duke Nightblaze tidak akan bergerak karena putranya sakit! Tapi sekarang mereka bersatu!" raung Austrin.

Bendahara Agung menyadari situasinya telah berubah total. Rumor bahwa Galeicrada telah sembuh berarti kartu as mereka untuk menekan Nightblaze telah hangus. Jika rencana Grugschilt berhasil, besok Austrin bukan lagi calon Raja, melainkan hanya "saudara dari Sang Ratu".

Namun, di tengah kemarahannya, Austrin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak—sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Bendahara berdiri.

"Chamberlain, berapa banyak pasukan yang kita miliki di istana ini? Saint Pedang (Lawrence) sedang tidak ada di ibu kota, bukan?"

"Sekitar 300 orang, Yang Mulia," jawab Bendahara. Mereka adalah tentara bayaran kelas C yang disewa melalui Guild Petualang—orang-orang kasar yang haus darah.

"Mobilisasi semuanya. Kita akan 'mengunjungi' Ayahanda sekarang juga. Kita akan memintanya menunjukku sebagai satu-satunya wali tunggal kerajaan," perintah Austrin. Dadu telah dilempar; ini adalah upaya kudeta terselubung.


Di Kamar Putri Kujastria: Tamu Tak Terduga

Berbanding terbalik dengan suasana mencekam di faksi Austrin, di kamar pribadi Putri Kujastria, suasana terasa sedikit lebih ringan—meski tetap waspada. Dua anggota Four Eastern Stars, Selyse dan Serika, hadir di sana secara tidak resmi.

"Hmm! Enak sekali!" seru Serika, gadis berambut hitam yang sedang asyik menyantap kue pemberian sang Putri. "Serika, jaga sopan santunmu," tegur Selyse yang duduk dengan anggun, meski pedang tetap tergantung di pinggangnya.


Mereka ada di sana atas permintaan Sophie. Gereja khawatir jika terjadi perang saudara, para pejabat tinggi mereka di ibu kota akan terancam. Oleh karena itu, Selyse dan Serika ditugaskan untuk menjadi pelindung rahasia Kujastria, sang "mata badai" dalam konflik suksesi ini.

Membicarakan Sang "Lord" Silver Face

Kujastria, yang jarang tertawa, merasa terhibur dengan kepolosan Serika yang berani mengkritik Raja (ayahnya sendiri) sebagai "orang tua yang mengerikan". Namun, pembicaraan beralih ke topik yang lebih serius.

"Nona Selyse, apakah kau pernah bertemu dengan seseorang bernama Silver Face?" tanya Kujastria. Ia bahkan menggunakan gelar "Lord" (Tuan), sebuah tanda penghormatan yang tinggi.

Selyse dan Serika terkejut. Selyse menceritakan perte

Bayang-Bayang Penghianatan dan Takhta Berdarah

"Ini buruk."

Menyusup melalui kegelapan lorong rahasia, Hikaru bisa mendengar percakapan di dalam kamar Putri Kujastria. Ia tidak pernah menyangka Selyse dan Serika ada di sana, apalagi menjadikannya sebagai bahan gosip.

Kujastria rupanya belum sepenuhnya melepaskan kecurigaan bahwa Hikaru adalah Roland N. Zaracia. Di sudut lorong yang sempit, Lavia dan Paula juga bersamanya di bawah pengaruh Group Cloaking.

"Ternyata kau populer sekali ya, Hikaru," bisik Lavia ketus, menusuk tepat di titik lemah Hikaru. "I-itu hanya kebetulan..." jawab Hikaru, masih canggung saat mencoba berbicara santai dengan Paula.

Kejutan di Kamar Putri

Situasi semakin memalukan saat Selyse mulai bercerita betapa "mesranya" Silver Face saat melindungi petualang Jillarte di Einbiest. Tak tahan lagi, Hikaru membuka pintu rahasia dan muncul di tengah ruangan.

"Bisa berhenti membicarakan orang di belakang punggungnya?" potong Hikaru sambil melepaskan genggaman tangan Lavia dan Paula.

"Nah, muncul juga si Setan! Intuisi wanitaku memang tidak pernah meleset!" seru Selyse terbahak.

Suasana sempat mencair saat Lavia dan Paula secara protektif menarik lengan Hikaru di depan Kujastria, menegaskan bahwa "Silver Face adalah milik mereka." Namun, keceriaan itu sirna seketika saat Mana Detection Hikaru menangkap pergerakan masif di luar.

Mobilisasi 300 Pasukan

"Putri Kujastria, situasinya akan menjadi sangat serius," suara Hikaru berubah berat. "Austrin sudah tahu soal pertemuan para Adipati. Dia mengumpulkan sekitar 300 orang di sekitar istana."

Selyse segera mengambil komando pertahanan. Ia menyarankan untuk memindahkan Putri ke gudang di lantai bawah yang memiliki dinding tebal dan hanya satu akses masuk. Hikaru menitipkan keselamatan Kujastria pada Lavia (Star Face), Paula (Flower Face), dan para ksatria Four Eastern Stars.

"Star Face, jika terjadi sesuatu yang luar biasa, tembakkan sihir api ke langit," pesan Hikaru sebelum melesat kembali ke lorong rahasia. Ada satu hawa keberadaan asing yang ia deteksi—seseorang yang seharusnya tidak berada di istana ini.


Detik-Detik Terakhir Sang Raja

Sementara itu, Pangeran Austrin melangkah dengan angkuh menuju kamar pribadi Raja, diikuti oleh Bendahara Agung yang kehabisan napas. Penjaga pintu, yang semuanya adalah kaki tangan Bendahara, tidak berani menghalangi.

"Apakah semuanya sudah siap, Chamberlain?" tanya Austrin dengan nada seolah ia sudah mengenakan mahkota. "300 pasukan sudah mengepung titik-titik vital, Yang Mulia."

Mereka tiba di depan pintu kamar Raja. Austrin berniat memaksa ayahnya menandatangani dokumen penunjukkan wali tunggal. Namun, saat para penjaga masuk lebih dulu untuk memberi tahu kedatangan Pangeran, terdengar jeritan yang memecah keheningan malam.

"Yang Mulia! Y-Yang Mulia!"

Bendahara Agung sempat berharap Raja akhirnya mati karena kelelahan akibat narkoba yang ia suntikkan selama ini. Namun, saat pintu terbuka lebar, pemandangan yang tersaji jauh lebih mengerikan dari sekadar kematian alami.

Seprai putih bersih itu kini ternoda merah pekat. Di bawah selimut yang berantakan, sebuah gagang pedang tertancap dalam di dada sang Raja yang sudah tidak bernyawa. Raja telah dibunuh.

muan mereka di turnamen Ruler’s Rumble. "Intuisi wanitaku mengatakan aku pernah mengenalnya sebelumnya, tapi dia bersikeras bahwa itu pertemuan pertama kami," ujar Selyse.

Kujastria tersenyum misterius. Baginya, Silver Face adalah sosok kunci yang mungkin memegang masa depan kerajaan ini. Namun, pembicaraan mereka harus segera berakhir karena bayang-bayang pasukan pemberontak Austrin mulai bergerak di lorong-lorong gelap istana.

Suksesi Berdarah dan Sang Mata-Mata

"I-Ini adalah pembunuhan!"

Jeritan penjaga itu memecah keheningan, namun tak ada yang bergerak. Pangeran Austrin, sang Bendahara Agung, dan para bangsawan terpaku menatap tempat tidur Raja. Setelah beberapa saat, kesadaran menghantam Bendahara Agung. Ia segera memerintahkan pemanggilan Healer, meski di dalam hati ia tahu itu sudah terlambat.

Ambisi Austrin dan Vonis bagi Kujastria

Austrin memeriksa jasad ayahnya dan mengonfirmasi kematian sang Raja. Namun, alih-alih mencari pembunuhnya, Austrin justru mulai mencari kambing hitam. Penjaga gerbang bersumpah bahwa tidak ada pengunjung hari itu, kecuali sang Bendahara.

Melihat Pangeran yang mulai tersudut oleh fakta, Bendahara Agung membisikkan rencana licik untuk mengamankan takhta:

  1. Naik Takhta Segera: Austrin harus dinobatkan sebelum tiga Adipati tiba besok, agar posisi politiknya tak tergoyahkan.

  2. Menghapus Saingan: Bendahara menyarankan agar Putri Kujastria "dibuat" seolah-olah bunuh diri karena kesedihan yang mendalam atas kematian ayahnya.

"Baiklah. Aku serahkan padamu," jawab Austrin dingin.

Dengan kata-kata itu, Austrin resmi menyetujui pembunuhan adik tirinya sendiri. Bagi sang Bendahara, segalanya berjalan sesuai rencana. Ia telah berubah dari sekadar "parasit" menjadi "tangan kanan yang sangat diperlukan" untuk menangani pekerjaan kotor.


Pengejaran di Balik Tembok Istana

Sementara itu, Hikaru sedang berada di tengah pengejaran maut. Mana Detection miliknya menangkap satu sosok yang bergerak sangat cepat menuju gerbang samping istana. Hikaru menggunakan Stealth tingkat tinggi, namun sang penyusup tampaknya sangat mengenal medan.

Penjaga gerbang samping terlempar saat penyusup itu menerobos keluar. Hikaru menyusul tepat sebelum pintu besi ditutup rapat, bahkan sempat meminta maaf pada penjaga yang ia dorong agar tidak melukai mereka secara permanen.

Pengejaran berlanjut dari distrik bangsawan hingga ke pemukiman penduduk yang mulai sepi. Akhirnya, di sebuah gang yang gelap dan sunyi, Hikaru berhasil memojokkan targetnya.

Topeng yang Terbuka: Unken sang Black Blade

"Hei," panggil Hikaru.

Sosok kecil di hadapannya membeku. Hikaru tahu pria ini ingin segera keluar dari ibu kota. "Diam tidak akan membantu. Kau membuang-buang waktu, Unken."

Pria itu tersentak. Dengan gerakan cepat, ia membalikkan badan dan menghunus rapiernya, namun serangannya hanya menebas angin. Hikaru sudah berpindah posisi ke belakangnya tanpa terdeteksi sedikit pun.

"Jadi, memang kau... Unken," ujar Hikaru dingin. "Kenapa kau melakukan hal semacam ini? Kenapa kau membunuh Raja?"

Unken, sang Guildmaster dari Pond yang ternyata adalah mata-mata legendaris Kekaisaran, hanya berdiri diam dengan wajah pucat dalam kegelapan.


Penyesalan sang Mata-Mata dan Aliansi Darurat

Unken terus berlari hingga mencapai Distrik Perumahan Kedua, jauh dari bayang-bayang kastil. Sarafnya benar-benar tegang; membunuh seorang raja bukanlah perkara sepele. Namun, tepat saat ia merasa aman, suara seseorang memanggil namanya, membuat jantungnya hampir melompat keluar.

Pengejarnya bukan hanya tahu bahwa ia adalah pembunuhnya, tetapi juga tahu identitas aslinya. Dari balik topeng perak itu, Unken mengenali sosok yang sanggup mengalahkan Saint Pedang.

"Kau pasti Silver Face." "Jadi kau tahu tentang aku," jawab Hikaru dingin.

Interupsi sang Saint Pedang

Belum sempat Unken menjelaskan motifnya, Hikaru tiba-tiba berteriak, "Tunggu!" dan menyambar tubuh Unken tepat saat sebuah pedang raksasa membelah udara di tempat Unken berdiri tadi.

Lawrence D. Falcon, sang Komandan Ksatria, muncul dengan amarah yang meluap. "Minggir, Silver Face! Dia adalah pembunuh Raja!"

Hikaru berdiri di depan Unken, melindunginya. Lawrence, yang sudah kembali ke ibu kota lebih dulu untuk menyiapkan suksesi, secara insting mengenali Unken sebagai tersangka saat melihatnya berlari keluar istana.

"Komandan, tenanglah!" seru Hikaru. "Aku sedang menanyakan alasannya membunuh Raja." "Tidak perlu alasan! Hukuman mati sudah menantinya!" raung Lawrence.

Kebenaran yang Menyakitkan

Hikaru mencoba bernegosiasi dengan Lawrence menggunakan logika yang tajam. Ia mengingatkan Lawrence bahwa mereka semua sebenarnya adalah "pengkhianat" karena berencana menggulingkan Raja secara paksa melalui dukungan tiga Adipati.

"Raja memang akan digantikan! Kau hanya melakukannya di waktu yang sangat buruk, Unken!" ujar Hikaru.

Unken tersentak. "Tunggu... apa maksudmu? Kalian berencana melengserkan Raja?" "Ya," jawab Hikaru. "Dukungan tiga Adipati sudah terkumpul. Mereka sedang dalam perjalanan ke ibu kota malam ini juga untuk memaksa Raja turun takhta secara resmi."

Mendengar itu, suhu tubuh Unken merosot tajam. Seluruh alasan "pengabdiannya" pada bangsa untuk mencegah perang melalui pembunuhan raja ternyata sia-sia. Ia membunuh orang yang seharusnya bisa disingkirkan tanpa setetes pun darah melalui jalur politik. Unken telah melakukan kesalahan fatal.

Sinyal dari Menara Putih

"Chamberlain sedang mengumpulkan 300 pasukan. Mereka akan menyerang sebelum faksi Adipati tiba. Putri Kujastria dalam bahaya," peringat Hikaru.

Tepat saat itu, sebuah kobaran api raksasa melesat ke langit dari arah istana. Itu adalah sihir elemen tingkat tinggi—sinyal darurat dari Lavia (Star Face).

Lawrence menyadari kecerobohannya. Karena ia bergerak secara rahasia tanpa melibatkan Ordo Ksatria, para ksatria istana saat ini mungkin akan bersikap pasif atau justru dimanipulasi oleh Austrin.

"Hanya satu hal yang bisa kita lakukan," ujar Hikaru. "Sepertinya begitu. Tapi aku tidak akan melupakan soal pembunuhan ini," jawab Lawrence sambil menyarungkan pedang besarnya dan melesat kembali ke kastil dengan kecepatan luar biasa.

Hikaru menoleh ke arah Unken yang masih terguncang. "Ayo. Kau juga harus kembali ke kastil." "Kembali? Apa yang bisa kulakukan?" "Kau tidak ingin selamanya dicap sebagai pembunuh raja yang gagal, kan? Aku dan Komandan akan menyelamatkan Kujastria. Kau... lakukanlah apa yang bisa kau lakukan dengan keahlianmu."

Unken terdiam sejenak. Darah mulai mengalir kembali ke otaknya. Ia harus menebus kesalahan besar ini. "Kau benar, Silver Face. Mari kita kembali."

Keduanya pun berbalik dan berlari kencang menuju istana, menuju pusat badai yang baru saja dimulai.


Barikade Gudang dan Intuisi Sang Putri

Begitu Lavia kembali setelah menembakkan sinyal sihir ke langit, langkah kaki berat bergema di koridor kamar Putri Kujastria. Para tentara bayaran mendobrak pintu, namun mereka hanya menemukan ruangan yang kosong melompong.

Lavia, Paula, Kujastria, Selyse, dan Serika telah berpindah ke gudang penyimpanan furnitur di lantai bawah. Di tengah tumpukan kabinet tua dan peti kayu, Kujastria terduduk lemas saat mendengar kabar bahwa ayahnya, sang Raja, telah dibunuh.

Spekulasi dan Tekanan Politik

"Siapa lagi di istana ini yang berani memobilisasi pasukan selain Pangeran Austrin?" ujar Selyse dingin. "Jika Raja benar-benar tewas, Austrin pasti sedang panik karena pertemuan tiga Adipati. Dia akan menyerang Anda, Putri, dengan tuduhan terlibat dalam pembunuhan ayah Anda sendiri."

Kujastria gemetar, namun Selyse mengingatkannya bahwa seorang calon penguasa harus mampu membuat penilaian di tengah krisis. Kujastria akhirnya membulatkan tekad untuk bertahan di gudang tersebut hingga Komandan Lawrence kembali.

"Perang Dingin" Dua Wanita

Di tengah suasana mencekam, sebuah percakapan tak terduga terjadi. Kujastria menatap Lavia (Star Face) dengan tatapan tajam.

"Nona Star Face... apakah Anda, secara kebetulan... adalah kekasih Silver Face?" tanya Kujastria tiba-tiba.

Lavia tersentak. Pertanyaan itu lebih mengejutkan daripada ancaman 300 tentara bayaran. Setelah menenangkan diri, Lavia membusungkan dadanya yang mungil. "Ya, tentu saja."

"Anda berbohong!" bantah Kujastria seketika. "Sebut saja itu intuisi seorang wanita. Menurutku, wanita sepertimu tidak cocok untuk Silver Face."



Lavia yang kesal segera membalas, "Hah? Enak saja! Dia memang kekasihku!" Ia bahkan mengguncang bahu sang Putri hingga Selyse harus melerai mereka. Serika hanya menonton dengan mata berbinar, "Wah, ada pertengkaran kucing (catfight)!"

Pertempuran Gudang Dimulai

Drama itu terhenti saat para tentara bayaran tiba di depan pintu gudang. Serika segera bersiap di depan pintu yang telah dibarikade dengan lemari besar.

"Kenapa Putri memanggilku 'Nona' tapi memanggil Silver Face tanpa embel-embel kehormatan?" bisik Lavia, masih tidak terima dengan perasaan Kujastria terhadap Hikaru. "Apakah ini waktunya membicarakan itu?!" bentak Selyse.

Pintu didobrak dengan kapak. Begitu celah terbuka, Serika merapal sihirnya: "Nyanyian perjalanan abadi, wahai pengembara angin, pinjamkan aku kekuatan... Air Wall!"

Tekanan udara yang dahsyat meluncur melalui koridor, memukul mundur para tentara bayaran. Meskipun tidak mematikan, sihir angin Serika sangat efektif di lorong sempit. Musuh mencoba membalas dengan panah, namun Selyse dengan cekatan menebas anak panah yang melesat ke arah mereka.

Lavia mengeluarkan tongkat pendeknya yang dibalut rambut Fire Drakon, siap melepaskan sihir api jika situasi memburuk. Pertahanan gudang bawah tanah resmi menjadi medan laga penentuan nasib sang Putri.

Takhta Ilegal dan Amarah sang Margrave

Di dalam aula pertemuan, Pangeran Austrin duduk dengan angkuh di singgasana Raja. Di hadapannya, sekitar dua puluh bangsawan penjilat berkumpul, berebut memberikan pujian seolah-olah mahkota sudah resmi melingkar di kepalanya.

Promosi Berdarah Bendahara Agung

Bendahara Agung menyeruak di antara kerumunan bangsawan dan menyapa Austrin sebagai "Yang Mulia". Ia melaporkan bahwa istana hampir sepenuhnya terkendali dan Putri Kujastria—yang ia fitnah sebagai otak pembunuhan Raja—sedang terkepung di gudang bawah tanah.

Sebagai imbalan atas "kesetiaannya", Austrin mengangkat sang Bendahara menjadi Administrator Kepala Istana Kerajaan, posisi yang memberinya kendali atas seluruh sektor rumah tangga istana.

"Yang Mulia, ada satu hal lagi," lapor Bendahara. "Para Adipati telah tiba lebih awal dari perkiraan. Ada kemungkinan mereka terlibat dalam pembunuhan Raja."

Austrin, yang kini merasa memiliki segalanya, menjawab dengan sombong: "Apalagi yang harus dilakukan? Tangkap mereka semua."

Bendahara Agung tersenyum puas. Inilah raja yang ia inginkan: angkuh, egois, dan mudah dikendalikan. Baginya, fajar esok hari akan menandai dimulainya dinasti baru di atas reruntuhan faksi Kujastria.


Konfrontasi di Gerbang Istana

Di luar gerbang kastil, suasana mencekam. Empat kereta kuda para Adipati dikepung oleh lima puluh tentara bayaran bersenjata. Sepuluh ksatria pengawal Adipati bersiap dengan tangan pada hulu pedang, mencoba menahan massa agar tidak mendekat.

Margrave Grugschilt keluar dari kereta Duke Jackrune dengan raut wajah tidak senang. Ia melihat para penjaga gerbang bukanlah ksatria resmi, melainkan tentara bayaran kasar yang tampak seperti preman jalanan.

"Siapa kalian?" tanya Grugschilt dengan tatapan yang mengintimidasi.

"Kami melayani Raja baru! Kalian semua adalah penjahat!" teriak seorang pria kekar bernama Doriges, petualang Peringkat C yang memimpin unit tersebut.

Grugschilt melirik ke arah menara gerbang. Para ksatria resmi kerajaan ada di sana, namun mereka hanya diam membeku karena kebingungan atas rantai komando yang kacau setelah absennya Lawrence.

"Doriges, ya? Petualang Peringkat C..." gumam Grugschilt sambil menghunus pedang tipisnya yang tampak seperti pedang upacara.

"Hahaha! Lihat pedang mainan itu!" ejek Doriges sambil mengayunkan kapak tempur raksasanya.

Instruksi sang Veteran

Slash!

Tanpa sempat terlihat oleh mata telanjang, gagang baja kapak Doriges terpotong menjadi dua. Sebelum pria kekar itu sempat memproses apa yang terjadi, pedang Grugschilt telah menembus tenggorokannya hingga ke belakang leher.

Doriges tumbang seketika. Saraf tulang belakangnya putus, mematikan segala gerakannya. Keheningan horor menyelimuti area tersebut. Mereka menyadari bahwa pedang "hiasan" di tangan Grugschilt adalah senjata mematikan yang diasah untuk pertempuran sungguhan.

"Kalian butuh latihan," ujar Grugschilt sambil menyapu pandangan ke arah sisa tentara bayaran yang mulai memucat.

Di kereta paling belakang, Sara (dari Four Eastern Stars) bersiap untuk melompat keluar. "Wah, orang tua itu kuat sekali!" puji Sara. "Dia adalah orang yang melatih Saint Pedang saat masih muda," bisik Galeicrada dengan wajah serius. "Tapi dia sudah tua. Dia tidak akan bertahan lama melawan jumlah sebanyak itu sendirian."

"Tenanglah," sahut Sara sambil menggenggam belati di kedua tangannya. "Bertarung adalah pekerjaan kami."


Dominasi sang Penyihir Api

"Tunggu sebentar! Tidak ada yang memberitahuku mereka punya Anti-Mage!" seru Serika panik.

Sihir elemen yang menjadi andalannya kini mentah. Musuh membawa Tobido Westernland, seorang petualang spesialis anti-sihir yang dikenal licik. Tobido menggunakan pil khusus yang mampu mengacaukan struktur mana, membuat sihir angin Serika lenyap sebelum sempat menyentuh lawan.

Kejatuhan White Ray Blade

Tobido bukan hanya menetralkan sihir, tapi juga membawa peralatan yang mampu mengganggu magic item. Saat Selyse merjang maju dengan pedang White Ray Blade-nya, Tobido melemparkan bubuk anti-sihir yang membuat pedang legendaris itu kehilangan daya potongnya.

Selyse yang terkejut kehilangan momentum. Ia ditabrak dan ditendang hingga pedangnya terlepas. Para tentara bayaran mulai mengepungnya di dinding gudang.

"Lepaskan dia!" teriak Serika, namun Paula justru menahannya. "Tunggu sebentar lagi, kumohon!" bisik Paula.

Artileri Sihir Lavia

Tiba-tiba, suhu di dalam gudang meningkat drastis. Cahaya mana yang sangat pekat memenuhi ruangan. Lavia mulai merapalkan mantra yang belum pernah didengar Serika sebelumnya.

"Kembalikan dunia kita yang dulu murni, dan bakarlah segalanya hingga menjadi abu..."

Tobido menyadari ada serangan datang. Ia segera melemparkan pil penetral api. "Flame Gospel!" seru Lavia.

Sebuah bola api raksasa meluncur, jauh lebih besar dari standar sihir api mana pun. Tobido harus membuang banyak pil untuk mengecilkan ukurannya hingga lenyap. "Hampir saja... Pasti mana penyihir itu sudah habis!" ejek Tobido.

Namun, ia salah besar.



"Kembalikan dunia kita yang dulu murni..." Cahaya yang sama kembali bersinar. "Flame Gospel."

Bola api kedua muncul dengan intensitas yang sama. Tobido panik dan melemparkan seluruh kantong pilnya ke arah bola api tersebut. "S-Sial! Aku tidak menyangka dia bisa mengeluarkan dua serangan seperti itu—"

"Kembalikan dunia kita yang dulu murni..." "Gyaaaaaaah?! Lari! Kita kehabisan pil anti-sihir!" teriak Tobido.

Jebakan di Lorong Gelap

Bola api ketiga meluncur mengejar para tentara bayaran yang kocar-kacir. Di tengah kepanikan itu, seorang sosok yang bersembunyi di bayang-bayang menarik seutas tali yang terbentang di koridor.

"Kena kau."

Brak! Gedubrak! Para tentara bayaran tersandung dan jatuh bertumpukan. Tepat sebelum bola api menghantam mereka, arah sihir itu dibelokkan ke langit-langit, menyebabkan ledakan yang meruntuhkan puing-batuan berat tepat di atas pasukan Austrin, melumpuhkan mereka seketika tanpa perlu membakar mereka hidup-hidup.


Runtuhnya Ambisi sang Pangeran

Pertempuran di gerbang kastil memasuki babak akhir. Margrave Grugschilt bertarung dengan gagah berani, namun jumlah musuh terlalu besar. Satu per satu pengawalnya tumbang, dan tubuh sang veteran mulai dipenuhi luka-luka kecil.

Tepat saat para tentara bayaran hendak merangsek maju menuju kereta kuda, keadaan berbalik. Beberapa musuh terlempar ke parit kastil oleh kekuatan dahsyat yang tak terduga.

"Ksatria! Lumpuhkan para tentara bayaran!"

Komandan Lawrence telah kembali. Dengan ayunan pedang besarnya, ia memimpin para ksatria yang sebelumnya ragu-ragu untuk mulai bertindak. Kehadiran Lawrence memulihkan rantai komando; kemenangan kini berada di depan mata.

Dilema sang Saint Pedang

Di dalam kereta kuda menuju pusat istana, Lawrence duduk bersama Duke Jackrune dan Margrave Grugschilt. Lawrence tampak tertunduk lesu, bukan hanya karena kelelahan, tapi karena beban moral yang berat.

"Duke Jackrune, aku tidak bisa menerima pujian Anda. Silver Face ada di lokasi saat pembunuhan terjadi. Aku yakin dia tahu identitas pembunuhnya," ujar Lawrence. "Aku ingin menangkapnya dan memaksanya bicara—"

"Aku tidak mengizinkannya, Count Falcon," potong Duke Jackrune tegas. "Ini perintah resmi dari seorang Adipati. Kau tidak boleh mengejar Silver Face."

Lawrence mengertakkan gigi. Ia tahu Duke Jackrune mencoba melindunginya karena sang Duke sadar bahwa Lawrence telah dikalahkan oleh Silver Face sebelumnya. Bagi Lawrence, perlindungan ini justru terasa seperti penghinaan terhadap kekuatannya. Namun, bagi para veteran seperti Grugschilt dan Jackrune, menjaga nyawa Lawrence—aset militer terpenting kerajaan—jauh lebih berharga daripada mengungkap identitas pembunuh Raja.


Pelarian para Penjilat

Sementara itu, di aula takhta, Pangeran Mahkota Austrin mulai kehilangan kendali. Laporan bahwa para ksatria telah berbalik menyerang pasukannya membuat Austrin nyaris jatuh dari singgasana.

Melihat situasi yang berbalik, para bangsawan yang tadinya menjilat Austrin mulai mencoba menyelinap keluar. "Mau ke mana kalian?!" raung Austrin sambil menghunus pedangnya. "I-Ini tirani!" seru salah satu bangsawan, namun mereka terdiam saat melihat kilatan amarah di mata sang Pangeran.

Tiba-tiba, sebuah suara asing bergema di ruangan itu.

"Inikah kandidat takhta kita? Kau lebih bodoh dari sebongkah batu. Ah, tapi mungkin lebih mudah mengendalikan boneka yang kepalanya kosong."

"Siapa itu?!" teriak Austrin panik.

Seorang pria bermasker perak dengan jubah bertudung muncul dari balik bayang-bayang. "Aku Silver Face. Anggap saja aku punya sedikit peran dalam kekacauan ini."

Konfrontasi Terakhir

"Bunuh orang ini!" perintah Austrin, namun tidak ada satu pun pengawal yang masuk melalui pintu. "Oh, kalau kau mencari penjaga, mereka semua sudah pingsan di luar," ujar Hikaru santai.

Pangeran Austrin yang kehilangan akal sehatnya menerjang Hikaru dengan membabi buta. Hikaru, dengan gerakan yang begitu lincah hingga terlihat seperti sedang berdansa, menghindar dengan mudah. Austrin justru tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur di lantai yang dingin.

"Jadi, apakah semua bangsawan di sini adalah faksi Pangeran Mahkota?" tanya Hikaru, matanya berkilat di balik topeng perak saat ia menatap para oportunis yang gemetar ketakutan.

Drama suksesi yang berdarah ini tampaknya akan segera berakhir dengan cara yang sangat memalukan bagi sang calon raja.


 Duel Terakhir sang Pangeran Terbuang

Austrin bangkit dengan susah payah. "Kau... aku mengerti sekarang. Kaulah yang membunuh ayahku!" tuduhnya membabi buta. Para bangsawan oportunis di sekitarnya segera menyambar tuduhan itu untuk mengalihkan kesalahan dari diri mereka sendiri.

"Kalau aku pembunuhnya, kau sudah mati dari tadi alih-alih terus menatapku," balas Hikaru dingin. Tekanan keberadaan (Soul Rank) Hikaru yang tinggi membuat Austrin gemetar dan jatuh terduduk kembali.

Bukti yang Tak Terbantahkan

Pintu aula terbuka lebar, menampakkan sosok bermasker lainnya—Unken. Ia menyeret Bendahara Agung yang gemuk itu masuk ke ruangan. Unken mengungkapkan bahwa ia telah menemukan obat-obatan terlarang (narkotika) di kamar pribadi Bendahara, zat yang sama dengan yang digunakan untuk melemahkan Raja perlahan-lahan.

Kekacauan pecah saat Bendahara mulai membongkar borok para bangsawan. "Jangan sok suci! Berapa banyak uang yang kalian terima dariku untuk berkonspirasi melawan Raja?! Aku punya semua tanda terimanya!"

Para ksatria di bawah komando Lawrence segera merangsek masuk, mengamankan ruangan dan menangkap para bangsawan yang mencoba melarikan diri lewat jendela. Di tengah kerumunan itu, Putri Kujastria berdiri bersama faksi Adipati.

Harga Sebuah Martabat

"Jadi ini semua perbuatanmu, Margrave?" tanya Austrin dengan suara lesu.

"Tidak, Yang Mulia," jawab Grugschilt jujur. "Semua variabel tak terduga ini—menyakinkan Putri, membongkar skema Bendahara, hingga meredam kekacauan malam ini—adalah berkat pria itu, Silver Face."

Austrin menatap Hikaru. Ia sadar fajar esok akan membawanya pada kehinaan: penjara, pengasingan, atau hidup sebagai pendeta tanpa kuasa. Bagi pria yang bermimpi menjadi raja, masa depan itu lebih buruk daripada kematian.

"Silver Face, aku Austrin G. Ponsonia. Aku menantangmu berduel sekarang juga."

Hikaru terdiam. Ia tahu Austrin sedang mencari algojo untuk mengakhiri hidupnya dengan sisa martabat terakhir. Awalnya Hikaru ingin pergi begitu saja menggunakan Stealth, namun ia merasa memiliki tanggung jawab moral karena dialah yang menghancurkan semua rencana Austrin.

"Baiklah," jawab Hikaru singkat. "Ambil pedangmu."

Fajar bagi Era Baru

Austrin menerjang dengan teriakan. Di mata Hikaru, gerakan itu rapuh dan menyedihkan. Namun, untuk pertama kalinya, mata Austrin tidak lagi sayu karena alkohol atau kemalasan; matanya menunjukkan tekad yang murni.

Andai saja kau memiliki tatapan tulus untuk membangun kerajaan ini sejak awal... mungkin kau benar-benar bisa menjadi raja, batin Hikaru.

Thud.



Tubuh Austrin terhenti. Pedangnya jatuh ke karpet tanpa suara. Belati Hikaru menembus jantungnya dari belakang dengan presisi yang mematikan. Hikaru menarik senjatanya, dan jasad sang Pangeran ambruk bersimbah darah.

Hikaru menyeka darah di belatinya dengan selembar kain, lalu membuangnya begitu saja. Ini adalah kali kedua Hikaru mencabut nyawa manusia. Tidak ada rasa bangga, hanya kekosongan yang samar di dadanya—seolah ia baru saja membantu seseorang menyelesaikan "perpisahan" yang tragis.

Dengan gugurnya Austrin, pewaris takhta Kerajaan Ponsonia kini hanya tersisa satu orang. Cahaya fajar mulai menyingsing di cakrawala istana, menandai berakhirnya malam terpanjang dalam sejarah kerajaan dan dimulainya era baru di bawah kepemimpinan Putri Kujastria.


Ringkasan Akhir: Peta Politik Pasca-Kudeta

TokohStatus AkhirPeran Masa Depan
Putri KujastriaCalon Ratu Tunggal.Memimpin restorasi kerajaan.
AustrinGugur dalam duel.Dikenang sebagai pangeran yang jatuh dalam konspirasi.
Bendahara AgungDitahan.Menjadi saksi kunci untuk membersihkan korupsi istana.
Hikaru (Silver Face)Menghilang dalam bayangan.Tetap menjadi pelindung rahasia dari balik layar.
Lavia & PaulaSelamat dan aman.Kembali ke sisi Hikaru untuk petualangan selanjutnya.




Post a Comment

0 Comments