“Aku pulang!”
Paula membuka pintu kamar hotel mereka di kota satelit, Pond. Lima hari telah berlalu sejak malam berdarah di istana. Selama waktu itu, dengan izin Hikaru—meski dengan syarat ketat hanya boleh digunakan di tempat yang "aman"—Paula sering keluar di malam hari mengenakan jubah hitam dan topeng.
Di sebuah gereja tua di sudut kota yang sepi, Paula dikenal sebagai Flower Face. Ia mengobati rakyat miskin yang tidak mampu membayar biaya medis. Pendeta di sana sangat bersyukur dan menganggapnya sebagai orang suci atau utusan dewa, selama Paula tetap merahasiakan identitas aslinya.
Kekhawatiran Paula dan Kepercayaan Lavia
“Di mana Tuan Hikaru?” tanya Paula cemas. “Dia masih tidur,” jawab Lavia yang sedang asyik membaca buku.
Sejak kembali ke Pond, Hikaru tampak sangat kelelahan. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan hanya bangun saat jam makan. Paula khawatir bahwa beban mental setelah membunuh Pangeran Austrin telah menghancurkan batin Hikaru.
“Lavia, apa kau tidak khawatir?” “Ini Hikaru yang kita bicarakan. Dia akan baik-baik saja,” jawab Lavia dengan senyum tenang.
Paula akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar Hikaru, namun tidak ada jawaban. Saat ia mengintip ke dalam, tempat tidur itu sudah kosong. Hikaru telah pergi keluar tanpa membawa topeng peraknya. Lavia hanya berkomentar bahwa itu pertanda baik; Hikaru sedang beristirahat dengan caranya sendiri sebelum mentalnya benar-benar rusak.
Reuni di Balkon Istana
Sementara itu, di istana kerajaan, Kujastria menghela napas panjang. Sejak pembunuhan Raja, istana disibukkan dengan pembersihan korupsi. Bendahara Agung telah ditangkap, dan banyak bangsawan faksi Austrin yang dicabut hak miliknya oleh tiga Adipati dan Margrave Grugschilt.
“Kurasa tidak baik bagi calon penguasa untuk terus menghela napas,” sebuah suara bergema dari kegelapan. “Silver Face,” sapa Kujastria. Ia tidak marah meski jalur rahasianya telah disegel, Hikaru tetap bisa menyelinap masuk.
Kujastria mengungkapkan kegelisahannya. Berkat intervensi Silver Face, rencana pernikahannya dengan Galeicrada batal karena Galeicrada justru jatuh cinta (dan melamar) Sophie dari Four Eastern Stars. Meskipun Sophie menolak, suksesi kini jatuh sepenuhnya ke pundak Kujastria sebagai calon ratu.
Godaan sang Calon Ratu
“Silver Face, kau punya tanggung jawab atas semua kekacauan ini, kau setuju kan?” tanya Kujastria sambil melangkah mendekat. “Tunggu... kenapa kau mendekat begitu?” Hikaru mulai waspada. “Bagaimana jika kau menjadi ayah dari raja masa depan?”
“Hah...?! Itu tidak lucu!” seru Hikaru dengan suara aslinya yang panik. Kujastria pun meledak dalam tawa.
Kujastria mengakui bahwa ia hanya setengah bercanda, namun ia menegaskan bahwa Hikaru adalah kandidat paling sempurna: ia paham urusan bangsawan, diakui oleh Saint Pedang, dan memiliki koneksi dengan para Adipati. Namun, Hikaru menolak dengan tegas karena ia ingin hidup bebas.
“Begitu rupanya diri yang aslimu,” ujar Kujastria lembut.
Misteri Dunia Lain
Sebelum Hikaru pergi, Kujastria mengungkapkan satu hal yang tetap ia pertahankan meski harus menjadi ratu. “Aku ingin melanjutkan penelitian tentang mantra untuk menyeberangi dunia.”
“Kau ingin meneruskan warisan Roland?” tanya Hikaru terkejut. “Itu salah satunya, tapi aku memiliki ide yang gagal dipertimbangkan olehnya. Jika aku bisa mengujinya, aku mungkin bisa menyempurnakan mantra itu.”
Hikaru membeku. Jika Kujastria benar, maka jalan untuk pulang ke dunianya sendiri—atau setidaknya memahami bagaimana ia bisa terlempar ke sini—mungkin benar-benar ada.
Kebenaran di Balik Topeng
Kujastria tertegun melihat ketertarikan Silver Face yang begitu besar terhadap mantra penyeberangan dunia. Ia tidak mengerti mengapa pria itu membutuhkannya, namun ia melihat sebuah peluang.
"Jika kau bersedia bekerja sama, aku akan berbagi pemikiran bersamamu," tawar Kujastria. "Aku butuh waktu untuk memikirkannya," jawab Hikaru. "Namun, aku punya satu permintaan."
Pengakuan Mengejutkan
Hikaru meminta Kujastria untuk menarik status buronan putri Count Morgstadt (Lavia). "Kenapa permintaan ini muncul sekarang?" tanya Kujastria heran. "Sederhana saja. Akulah yang membunuh Count Morgstadt. Tidak adil membiarkan putrinya yang menanggung tuduhan itu," ujar Hikaru dengan nada datar.
Kujastria terperanjat. Pria di hadapannya mengakui pembunuhan seorang Count seolah itu hal sepele. Hikaru bahkan menawarkan diri untuk menggantikan posisi Lavia di daftar buronan sebagai pertukaran atas bantuan Kujastria di masa depan.
"Dunia memang seperti itu," ucap Silver Face sambil tersenyum di balik topengnya. "Mungkin menjadi ratu akan terasa menyenangkan bagimu."
Four Eastern Stars: Resolusi dan Rahasia
Di apartemen mewah mereka di ibu kota, keempat anggota Four Eastern Stars berkumpul. Selyse merasa frustrasi karena Sophie dan Sara tampak sangat gigih menyembunyikan rahasia tentang siapa yang sebenarnya menyembuhkan Galeicrada.
"Sophie, Lord Galeicrada melamarmu lagi?" tanya Selyse. Sophie mengangguk canggung. Ia merasa bersalah karena mencuri kredit Hikaru, namun ia harus tetap diam sesuai kesepakatan.
Sementara itu, Serika terus mengoceh tentang penyihir api bertopeng (Lavia) yang ia temui di gudang. "Kapasitas mananya luar biasa! Aku ingin berdiskusi semalaman tentang keajaiban elemen bersamanya!" seru Serika. "Itu terdengar seperti siksaan bagi gadis itu," canda Sara.
Selyse menyimpulkan bahwa kejadian ini memberi mereka pelajaran berharga: mereka harus berlatih lebih keras, terutama dalam menghadapi taktik Anti-Mage dan kemampuan Stealth.
Unken: Sang Penjaga Rahasia Terakhir
Di kota Pond, Freya (resepsionis Guild) terkejut melihat Unken telah kembali ke mejanya setelah menghilang beberapa hari.
"Guildmaster! Anda kembali!" "Memangnya aneh kalau aku ada di kantorku sendiri?" jawab Unken sambil menatap tumpukan dokumen.
Unken memberi tahu Freya kabar terbaru dari ibu kota: Pelaku pembunuhan Count Morgstadt telah teridentifikasi sebagai seorang petualang bertopeng bernama Silver Face. Ia menjelaskan bahwa meski ada surat perintah penangkapan, para petinggi kerajaan (Kujastria, Grugschilt, dan para Adipati) kemungkinan besar tidak akan bertindak karena Silver Face memiliki koneksi dengan mereka.
"Jadi, lupakan saja masalah itu," pesan Unken.
Setelah Freya keluar, Unken menutup dokumennya dan mengambil daftar anggota terdaftar Guild Pond. Jarinya berhenti di satu nama: Hikaru.
Unken tahu betul identitas di balik topeng perak itu. Ia menyadari bahwa jika Hikaru tidak muncul malam itu untuk menghentikan Lawrence, peluangnya untuk selamat dari kejaran Saint Pedang tidak lebih dari 10%. Sebagai bentuk balas budi karena telah menyelamatkan nyawanya, Unken memutuskan untuk mengubur rahasia itu dalam-dalam.
0 Comments