Prolog
Akhir-akhir ini, adik perempuanku... agak aneh.
Itulah yang terus mengganjal di pikiran Nicola—putri kedua Kerajaan Lilac. Di antara tiga bersaudari, dialah yang paling dipuja karena [kecerdasan]-nya. Ia juga memiliki seorang adik laki-laki, yang menempatkannya tepat di tengah-tengah tangga silsilah persaudaraan: cukup dekat untuk bisa memahami mereka yang berada di posisi atas maupun di bawahnya.
Mungkin karena itulah, Nicola tumbuh sedikit lebih peka dalam menyadari perubahan getaran sekecil apa pun di dalam suasana keluarganya.
Suatu hari, ia menyusuri koridor panjang berkarpet dan berhenti di depan sebuah pintu yang dijaga oleh dua orang pelayan.
"Apa Lilly ada di dalam?" "Ya, Putri Nicola."
Mendengar jawaban mereka, Nicola mengetuk pintu dan menunggu. Tak lama kemudian, terdengar sahutan, "Masuklah."
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi oleh perabotan berenda dan ornamen yang rumit. Di sudut tempat tidur berkanopi, duduklah seorang gadis kecil. Nicola menghampirinya lalu duduk di sebelahnya.
Rambut merah mudanya sama seperti warna rambut Nicola. Wajah mungil dan menggemaskan yang—tidak peduli berapa kali pun ia melihatnya—selalu sukses memaksa kata 'imut' keluar dari dalam hatinya.
"...Akhir-akhir ini kau kelihatan murung. Ada apa?"
Yang memenuhi benak Nicola bukanlah rasa ingin tahu; melainkan rasa cemas yang dalam.
Condong ke depan, ia menatap lekat-lekat wajah adiknya. Lilly menjawab dengan senyuman kecil yang terlihat suram.
"Aku baik-baik saja, Kak."
Setelah sekian tahun hidup bersama, Nicola tahu betul kalau senyum itu hanyalah pura-pura tegar.
Sebagian dari kecemasannya berasal dari ketakutan akan, "Apa aku boleh terus mencecarnya dengan pertanyaan?"—takut jika ia mendesaknya terlalu jauh, takut adiknya akan malah menjauh, takut menyakitinya atau ujung-ujungnya malah memojokkannya.
Dan karena itulah, kata-kata yang canggung mulai meluncur dari mulut seorang gadis yang terkenal tak pernah salah dalam memilih ucapan.
"B-Benarkah? Oh, ngomong-ngomong, ada toko kue baru yang baru saja buka di ibukota! Kalau kau mau, bagaimana kalau kita pergi ke sana sama-sama?"
"...Mm, ayo." "............"
Tak peduli kata-kata mana pun yang ia pilih, semuanya terasa salah. Sang putri yang selalu membanggakan kemampuannya dalam membaca pikiran dan mengarahkan percakapan layaknya nakhoda kapal emas, kini sama sekali tak bisa menggunakan kemampuannya itu pada sosok mungil di sebelahnya.
Tidak heran. Kalau akarnya saja sudah membusuk, kau tidak akan pernah bisa menemukan bagian yang bersih untuk dipotong.
"Kak Nicola itu hebat ya," kata Lilly di saat Nicola tengah kelabakan mencari topik di dalam hati. "Di perang terakhir kemarin, Kakak bernegosiasi dan berhasil meraup banyak keuntungan, kan?"
"Y-Yah... itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan kok."
"Dan Kak Sakuya juga melakukan semua hal heroik di medan perang kemarin..."
Ah, itu dia. Benang merahnya akhirnya tersambung.
Nicola sangat ahli dalam memanipulasi bidak di atas meja perjanjian. Dalam perang Utara-Selatan baru-baru ini, ia berhasil menemukan celah paling tipis untuk mencegah Republik Argaus jatuh ke dalam kehancuran absolut, lalu membawa pulang pampasan perang yang menggemukkan dompet Kerajaan Lilac.
Sebaliknya, kakak tertua mereka dipuja karena [kekuatan tempur]-nya: ia berhasil membalikkan keadaan di medan perang sampai menumbangkan dua kepala jenderal musuh ke pangkuannya.
Lalu, bagaimana dengan gadis mungil di depannya ini? Tepat sekali. Itulah letak masalahnya.
"Lilly, kau juga luar biasa! Kau berhasil menyatukan rakyat, memadamkan percikan kerusuhan bahkan sebelum itu terjadi—"
"Tapi tidak ada satu orang pun yang melihat semua itu, kan?" "—!?"
"Hanya sekadar dipuja... siapa pun bisa melakukannya kalau mereka cuma duduk diam manis."
Itu tidak benar. Dihormati dan dikagumi oleh banyak orang itu jauh lebih sulit daripada sekadar meraup keuntungan jangka pendek.
Lagipula, menggunakan isi kepalamu untuk membaca niat seseorang dan mengecoh mereka adalah sesuatu yang masih bisa dicapai dalam batas perhitungan matematis. Namun kebajikan—karakter dan integritas moral—hanya bisa diraih dengan mengguncang seseorang hingga ke lubuk hatinya yang terdalam dan membangun kepercayaan dari sana.
Tak peduli seberapa dalam kau membaca pikiran seseorang, kau takkan pernah bisa menggerakkan hati mereka.
Itulah sebabnya—apa yang bisa dilakukan oleh gadis mungil ini, yang sangat ahli dalam merangkul hati rakyat, adalah... sesuatu yang mustahil bisa dicapai oleh sembarang orang. Kecuali kalau ada seseorang yang mengatakannya dengan lantang dan mengakuinya.
Dan karena itulah Nicola membuka mulutnya.
"Bukan begitu, Lily. Maksudku—"
"Putri Nicola, Yang Mulia Raja memanggil Anda."
Namun, tepat sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, namanya dipanggil dari balik pintu.
Sebenarnya ia ingin meluruskan sedikit kesalahpahaman di hati adiknya itu, tapi jika sang orang tua sekaligus pemimpin tertinggi yang memanggil, ia tak punya pilihan lain selain segera menghadap.
Karena itu, Nicola dengan enggan bangkit berdiri.
"...Kalau begitu, nanti aku akan kembali lagi."
Dengan janji itu, Nicola meninggalkan ruangan yang didekorasi mewah tersebut.
Meninggalkan seorang gadis belia yang tampak rapuh sendirian di sana.
Begitu ia menyadari dirinya sudah sendirian di kamar, ia diam-diam membuka liontin yang menggantung di lehernya.
Di dalamnya, tersimpan sebuah foto seorang gadis kecil yang tersenyum polos tanpa beban... serta seorang anak laki-laki di sebelahnya yang sedang berpose peace (dua jari) yang sama.
"...Kak Abi, apa yang harus kulakukan...?" gadis itu bergumam lirih.
"Kenapa Kakak harus menghilang...? Aku kesepian sekali tanpamu..."
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments