Pembicaraan Pertunangan
Phil Salemabart tertarik pada lawan jenis.
Tentu saja, tidak perlu menggali lebih dalam soal masalah itu sekarang. Fakta bahwa dia pergi ke rumah bordil demi menuruti hasratnya dan menerima bimbingan dari para wanita yang lebih tua dan berpengalaman sudah cukup menjadi bukti.
Namun, kebiasaan Phil bermain-main tidak serta merta bersumber sepenuhnya dari ketertarikannya pada lawan jenis. Bagaimanapun, Phil adalah putra sulung keluarga count—seorang bangsawan.
Jika kau seorang bangsawan, kau harus berurusan dengan lawan jenis dengan situasi dan kewajiban yang sesuai. Dengan kata lain, tunangan yang lahir dari janji antar orang tua, pertunangan yang dikenalkan melalui koneksi, pernikahan politik yang berawal dari cinta sepihak atau intrik, dan sebagainya.
Menjadi bangsawan itu sangat merepotkan. Karena begitu banyak niat berbeda bercampur dalam satu kisah asmara.
Namun, Phil tidak terlalu peduli dengan masalah ini.
Jika ia adalah penyihir yang mengidealkan dan mengejar "kebebasan", kau mungkin berharap ia akan mengatakan sesuatu seperti "Kebebasan dalam cinta!" Tapi tunggu sebentar. Phil diejek oleh masyarakat umum sebagai "putra sampah".
Oleh karena itu, pandangan Phil adalah para wanita toh tidak akan mendekatinya. Bahkan Phil sepenuhnya memahami bahaya jika pewaris keluarga bangsawan tidak memiliki istri.
Jadi, jika ada orang yang bersedia menikahi "putra sampah" ini, ia akan dengan senang hati menganggukkan kepala—atau begitulah pikirnya.
...Begitulah yang ia pikirkan, tapi...
"Ini sama sekaliiiii tak benaaar, kan!?"
Seperti biasa, di mansion Count Salemabart.
Teriakan sedih Phil bergema di mana-mana.
Seperti biasa pula, tidak ada pelayan yang bereaksi terhadap teriakan itu. Mereka hanya akan meninggalkan gumaman, "Ah, dia mulai lagi," lalu kembali ke tugas mereka masing-masing.
Hanya pelayan yang berdiri di sisinya yang akan menghela napas dan memberikan balasan tajam.
"Cih."
"Itu salah! Reaksi pelayan kita beda dari biasanya!"
Gadis berambut merah yang sedang merawat vas bunga itu mendecakkan lidahnya sambil membuang muka dari sang majikan. Omong-omong, decakan lidahnya sudah lebih dari sepuluh kali hari ini.
"Apa, kau mau pamer? Kalau pembicaraan pertunangan itu masuk... Kau lagi pamer ke aku? Mau kucungkil matamu?"
"Tentu saja tidak! Apa reaksi ini kelihatan seperti aku lagi menyombongkan diri!? Kalau ada, bukannya ini lebih mirip reaksi orang yang membasahi bantalnya dengan air mata setiap malam!? Tapi tolong lepaskan mataku yang mau nangis ini!"
"Cih."
"Makanya kubilang salah, kan!? Kalau kau tidak mendengarkan omongan orang dengan benar, kau bakal jadi berandalan di masa depan lho!"
Kahlua Scarlet, penyihir yang mengidealkan kedekatan.
Hari ini, ia sedang bad mood luar biasa.
Alasannya adalah—
"Kenapa suratnya ditujukan buat si [Pahlawan Bayangan], sialaaaaaaan!!"
—Setelah insiden sebelumnya, saat Phil pergi ke medan tempur dengan wajah aslinya demi menyelamatkan gadis suci bernama Milis, banyak lamaran pernikahan dan pembicaraan pertunangan membanjiri Phil.
Itu karena rumor tersebut meningkat statusnya jadi fakta.
Karena semua orang jadi yakin kalau identitas [Pahlawan Bayangan] yang dihormati itu adalah Phil Salemabart, putra sulung keluarga count.
Dalam hal ini, tindakan yang diambil para bangsawan lumayan umum: mereka mau menyimpannya di saku mereka.
Pernikahan menciptakan ikatan kuat bukan cuma antarpribadi tapi juga antarkeluarga. Oleh karena itu, bahkan kalau mereka tidak punya hubungan dengan Phil, kalau mereka bisa menciptakan koneksi melalui putri mereka, itu sama saja dengan menyimpannya di saku mereka.
Itulah sebabnya lamaran pernikahan dan pembicaraan pertunangan membanjiri Phil seperti ini. Namun, seperti yang disebutkan di awal, ada aspek yang disambut baik oleh Phil.
"Aku pengin populer! Ya, aku jelas pengin populer! Bukannya itu wajar? Aku kan cowok! Aku bukan orang tua keriput yang umurnya mendekati enam puluh—aku lagi di masa puber!"
"Terus?"
"Setidaknya sembunyikan niat terselubung kalian dan panggil pakai namaku, dasar idiot-idiot berotak bungaaaaaaaaaa!!"
Nah, sekarang ini pertanyaannya.
Kenapa Phil, yang menyambut lawan jenis dan dengan senang hati menerima ini dan itu, memegangi kepalanya?
Jawabannya adalah—
"Kalau kau membalas surat ini, kau dan orang lain bakal mengakui kalau Phil adalah si [Pahlawan Bayangan], kan?"
"Tepat sekaliiiiiii!!"
Sejujurnya, mungkin terasa seperti sudah terlambat, tapi ada perbedaan besar dalam makna antara apa yang diakui orang itu sendiri dengan apa yang orang lain putuskan sendiri.
Dalam hal pemulihan dari ini, selama masih cuma orang lain yang bikin ribut, mungkin masih bisa diatasi entah bagaimana caranya.
Tapi bagaimana kalau dia sendiri yang mengakuinya? Maka Phil Salemabart harus hidup sebagai si [Pahlawan Bayangan].
Urusan merepotkan yang sudah ia hindari ke sana ke mari bakal membanjir sampai ia tidak bisa menghindar lagi. Kalau itu terjadi, ia bakal makin jauh dari kebebasan yang diidealkannya.
"Apa enggak ada jalan keluar dari ini!? Aku sama sekali menolak cara populer kayak gini... Cowok-cowok di dunia pasti menganggap ini terlalu tidak terhormat sampai-sampai mulai demonstrasi dan bikin perubahan rezim!"
"Cowok-cowok di dunia mungkin bakal senang-senang saja jadi si [Pahlawan Bayangan] sih."
"Kau ini di pihak siapa sih!?"
"Tentu saja pihakmu, Phil. Sekarang, mari kita serius cari jalan keluarnya. Mari kita selesaikan secara hitam di atas putih cara mengatasi pembicaraan pertunangan ini."
"...Hah? Mana orang lurusnya? Susah lho staf bikin acara jalan dengan dua orang lucu, tahu?" (Catatan: referensi komedi Jepang "boke" dan "tsukkomi")
Walaupun begitu, bisa dimaklumi kalau Kahlua bakal berlagak bodoh. Lagipula, pertunangan Phil adalah masalah besar yang mengguncang idealisme cewek itu.
"Y-yah, terserah lah... Terus, apa kau punya ide bagus yang spesifik?"
"Kukira kita harus membakarnya."
"Bakar!?"
Gadis-gadis yang tidak ia kenal sudah repot-repot ambil pena untuknya, dan ini yang Kahlua usulkan. Phil terkejut dengan solusi yang tidak biasa itu.
"Orang-orang yang mengirim surat-surat ini cuma gagak yang matanya berbinar-binar lihat harta di depan mereka. Kalau apinya tidak cukup, kupinjamkan korek apiku."
"Aku tidak kaget karena kekurangannya di api! Berhenti deh, apa kau lupa ada tanda dilarang menyalakan api di dalam ruangan, Nona Pelayan!?"
"Aku belum pernah lihat tanda itu tuh."
"...B-baiklah kalau begitu, dalam hal ini, sebagai kepala keluarga sementara, aku dengan enggan akan menghias satu dan menulisnya sekarang."
"Ngerti, jadi aku harus nyobeknya ya."
"Taruh saja, oke!?"
Sebesar apa dendam Kahlua sebenarnya? Phil menghela napas seraya melihat Kahlua mengumpulkan surat-surat itu.
"...Kalau dipikir-pikir, dari tadi aku sudah penasaran soal ini—"
Phil melirik sudut ruangan. Di sana, berdiri seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut cokelat, yang mengenakan pakaian pelayan sama dengan Kahlua.
"Siapa cewek itu?"
"Baru nanya sekarang!? Kurang ajar banget kau!"
Kenapa ada gadis yang tak ia kenal di sini? Dan yang mengenakan baju pelayan pula? Mungkinkah dia perempuan yang dibawa Zan?
Berbagai pertanyaan melayang di benak Phil.
"Ah, dia itu tawanan perang."
"Tawanan perang?"
"Ya, cewek yang kulumpuhkan di perang kemarin."
Dan dengan santainya Kahlua mengungkap identitas gadis tersebut.
"Katanya sih namanya Ilya. Dia berasal dari negara musuh—seorang penyihir."
Ilya Iladen.
Penyihir sewaan yang berafiliasi dengan Negara Demokratik Argaus.
Rambut cokelat berkilau sebatas pinggang, tubuh mungil, wajah manis yang penuh pesona, dan mata biru. Bukan hanya penampilannya yang menonjol, kemampuannya tidak diragukan lagi cukup baik hingga mampu menempatkannya di jajaran para penyihir papan atas kelas dunia.
Dan gadis ini—
"Kenapa malah aku disuruh jadi pelayaaaaaaaaaaan!!"
Pekerjaan Ilya yang tiba-tiba ini secara mengejutkan diterima dengan baik oleh para pelayan mansion.
Meskipun ia bersikap sombong layaknya penyihir pada umumnya, namun wajah mungil dan manisnya membuat ia malah dianggap sebagai "anak kecil yang berusaha berlagak dewasa."
Para pelayan mansion sebenarnya tahu kalau Ilya, sama seperti Kahlua, adalah seorang penyihir. Tapi mereka tetap berpikir seperti itu karena Ilya toh tidak sungguh-sungguh marah, dan karena kelucuannya yang luar biasa.
Gadis yang mengomel sambil menikmati permen manis yang diberikan mungkin memberikan kesan mendalam. Sejak datang ke wilayah Salemabart, ia sepenuhnya menjadi maskot.
"Nih, Ilya. Makan kuenya."
"A-Aku tebak aku enggak punya pilihan... Kuterima."
Di ruang kerja, Phil memberikan kue pada Ilya, yang bertengger di kursi di sebelahnya. Menerimanya, Ilya berkata dengan nada meremehkan sambil menikmati kue itu dengan riang.
Karena sebelumnya ada gadis imut bernama Milis, Ilya, yang mengisi kesepian itu, juga memberikan kesan baik pada Phil. Walaupun pada awalnya ia bingung, setelah waktu berlalu, ia sepenuhnya memanjakan Ilya dan malah menjinakkannya dengan makanan.
"Bukannya kau harusnya kerja? Phil Salemabart kan master di rumah ini?"
"Ah... Tepatnya, aku belum mewarisi posisi kepala keluarga. Aku cuma kerja saat orang tuaku enggak ada. Dan sekarang aku lagi istirahat."
"Kalau dipikir-pikir, kudengar dari pelayan ada anggota keluarga lainnya. Babi dekil yang mondar-mandir. Bukannya di rumah ini ada kandang babinya?"
"Rumah ini kan enggak dibangun dengan premis buat miara babi. Kalau ada kandang pembiakan, aku juga bakal bawa balik babi yang mondar-mandir itu ke kandangnya."
Betapa banyak hinaan untuk sang adik satu-satunya. Makin menakutkan lagi kalau ada orang yang bisa dikenali bukan dengan nama aslinya tapi malah dengan nama binatang.
"...Phil Salemabart enggak peduli apa pun soal aku, kan?"
"Aku sih ngerasa kau luar biasa imut. Aku pengin punya satu buat di rumah."
"Bukannya anak babi itu udah cukup buat jadi maskot?"
"Kurang pesona dan keimutan."
Phil, menolak mentah-mentah dengan raut sangat serius, memberikan sepotong kue lagi.
Ilya, bagai tupai kecil, terus mengunyah nikmat dengan kedua tangan memegangi makanannya.
"Yah, bicara serius, kalau Kahlua yang membawamu, aku tidak berhak komplain."
Phil menyandarkan dirinya ke belakang kursinya dan mengembuskan napas pelan.
"Kau sangat memercayai wanita itu, kan?"
"Dia rekanku. Mungkin, aku lebih memercayai dan yakin pada Kahlua melebihi keluargaku sendiri. Meskipun aku terlalu malu untuk mengatakannya."
"Namun meskipun begitu, aku bisa saja membunuh Phil Salemabart di sini sekarang juga, tahu? Aku bisa gampang mengubahmu jadi bahan hamburger."
"Itu bakal sangat mengerikan. Kalau kau sadis dan punya ide aneh, pelayan kita pasti sudah hilang dan hamburger bakal tersaji di meja makan."
Namun hal itu tidak terjadi. Yang artinya, dengan kata lain—
"Kau ngomong ini-itu, tapi pada akhirnya, Ilya juga anak yang baik. Aku tidak bisa menahan rasa sukaku pada orang-orang yang tidak dibutakan oleh kekuasaan dan mau mempertimbangkan orang lain."
Lagi pula, fakta bahwa ia melontarkan pertanyaan ini memperlihatkan bahwa Ilya tidak berniat buruk. Kalau dia mau membunuh, dia bisa saja menunggu waktu yang pas tanpa mengatakannya.
"............Sok suci. Apa itu yang namanya [Pahlawan Bayangan]?"
"Jadi aku bukan [Pahlawan Bayangan]... Yah, terserah. Ngomong-ngomong, seperti yang kubilang, Ilya berhak melakukan apa pun yang dia mau. Kalau kau ingin pergi, bakal kubujuk Kahlua demi dirimu."
"Kau jauh lebih dermawan daripada cewek itu."
"Itulah idealku. Untuk sungguh-sungguh hidup bebas, menghargai kebebasan orang lain adalah adab yang tepat."
Aneh sekali, itulah perasaan Ilya. Penyihir cenderung nyentrik karena mengejar ideal mereka. Dengan kata lain, mereka hanyalah gumpalan ego belaka.
Namun penyihir di hadapannya saat ini jauh berbeda dengan dirinya maupun yang lainnya... Egonya tidaklah terasa tak enak.
"...Di sini nyaman, jadi aku bakal tinggal beberapa saat."
"Baguslah buatku. Cuma ada dua penyihir di mansion ini."
"Apa rumah gede dengan tiga penyihir ngumpul itu wajar? Apa kau berencana mau mulai perang?"
"Jangan gila, aku ini pecinta damai yang memuja kebebasan. Siapa juga yang mau mengundang seseorang ke permainan yang bikin tambah masalah, entah dia menang ataupun kalah?"
"Ya, ya, kita anggap gitu aja~"
Mengatakan hal tersebut, Ilya berdiri dari samping Phil.
Lalu, karena sudah puas makan kue, tangannya diletakkan di pintu ruang kerja tersebut.
"Nah kalau gitu, aku mau mundur dulu sebelum hamanya nyampe."
"Iya, sebelum hamanya nemuin kau~"
Ketika Ilya tersenyum manis, wujud gadis mungil itu pun langsung lenyap dari ruangan tersebut.
Hanya gara-gara itu, ia merasa sepi seakan ada sekumpulan bunga telah dihilangkan dari ruangan.
Lalu, sebagai gantinya, gadis dengan rambut merah panjang yang menawan pun berjalan masuk ke dalam ruang.
"Hah, Ilya udah pergi ya?"
"Dia bilang soal mau kabur sebelum iblisnya muncul."
"Lain kali aku harus langsung menekankan pelan-pelan dan pakai fisik arti dari kata 'iblis' pada anak itu."
Maaf, lidahku kepeleset. Phil segera meminta maaf di hatinya kepada Ilya. Ia jadi khawatir sejauh apa ke arah mana makna "pelan-pelan dan pakai fisik" tersebut akan diwujudkan Kahlua.
"Yang lebih penting, apa bakal baik-baik aja?"
"Hm? Soal apa?"
"Yah, tadi aku papasan sama Zan, jadi aku kepikiran kalau saja mereka berdua ketemu..."
"A... apa...!?"
Raut panik langsung tercetak jelas di wajah Phil.
Kalau si anak babi yang doyan menggoda tiap gadis yang pas dengan seleranya itu sampai bertemu dengan sang maskot malaikat imut ini, apa jadinya?
Phil lekas berdiri dan meletakkan tangan di depan pintu ruang kerjanya.
"Ayo cepat! Nyawa adikku dalam bahaya!"
"Kau tidak khawatirin si Ilya?"
Kekhawatiran yang sia-sia, karena—
"............"
"............"
Phil, yang bergegas terbang ke luar dari ruangan, dan Kahlua yang mengekornya, disajikan pemandangan mengejutkan.
"Jangan rayu aku ya, babi dekil."
Tepatnya—
Ilya yang memasang muka jelek dan pipi yang digembungkan ← Zan, tertancap ke dalam dinding tanpa bergerak sedikit pun ←
"Z-Zaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!??"
Phil tergopoh-gopoh mendatangi Zan.
Sang adik yang tertancap di dinding, tidak sanggup menggerakkan otot sedikit pun. Di sampingnya, Ilya memasang raut jengkel dan menatap Zan seakan melihat seonggok sampah menjijikkan.
Sungguh menyedihkan bahwasanya ia paham garis besar peristiwa dan serangkaian urutan dari kejadian tersebut lewat pemandangan ini.
"Zan! Hei, kau baik-baik aja!?"
Phil memanggilnya, namun tidak mendapat balasan. Mungkin saja kesadaran adiknya telah diundang pergi ke semesta putih terang oleh dua orang bidadari.
"Sialan, gimana mungkin ini... Dinding ini kan bukan oven buat manggang babi hidup-hidup, kenapa jadi ada babi di sini!"
"Phil, bisa kau milih mau ngolok-ngolok atau khawatir sama adikmu?"
"Dasar babi!"
"Aku sih lumayan mengerti rasa frustrasimu itu."
Tidak ada cinta kakak beradik nan indah, di mana sang kakak harus khawatir mengenai nasib saudaranya. Jujur saja, pemandangan luar biasa ini pastilah hasil rentetan kondisi "siapa menabur, dia menuai", sehingga sangat wajar rasanya memilih buat mengoloknya ketimbang peduli padanya.
"Ada apa sih dengan babi yang satu ini? Aku pengin nengok wajah pengasuh yang ngelatih dia."
"Si pengasuh sih bilang melepasnya bebas merupakan rahasia buat anak yang tumbuh sehat bugar. Berkat teori itulah, adikku memang beneran tumbuh besar bugar."
"Jadi cowok caper yang gampangnya ngomong [Jadilah milikku!] padahal baru kenal?"
"Adikku kelewatan kasarnya...!"
Mendengar frasa tak familier yang sebelumnya sempat hinggap di rungunya, Phil hampir-hampir menumpahkan tangisnya.
"Tapi tetep aja, dia sukses ketancep bersih loh. Kau juga yang ngelakuin ini ya?"
Alih-alih menolong pria gempal itu, Kahlua hanya menatap lekat Zan yang terbenam dengan penuh kekaguman.
Fisik Zan jelas begitu masuk dalam kategori "pengidap obesitas" dan memiliki massa berat tubuh yang lumayan menakjubkan. Terasa mustahil kalau dilihat dari ukuran mungil menggemaskan cewek itu bisa saja memberikannya cukup energi buat mendorong pria tambun ini hingga ke dinding. Ya, jikalau ia memang secantik dan selemah penampilannya saja.
"Tema sihirku itu [Gravitasi]. Hal semacam ini udah biasa banget."
"Gak apa nih rahasianya dibongkar gini?"
"Gak apa. Toh si cewek itu pasti juga udah paham jurus andalanku. Aku nggak niat buat terus-terusan nutup-nutupi kemampuanku cuma karena aku kalah adu kuat di pertempuran."
Kahlua sudah menyaksikannya sendiri. Betapa gilanya kerusakan yang Ilya buat di medan tempur.
Jadi mau disembunyikan sekarang juga pastinya bakal diberitahukan kemudian hari. Singkatnya, semua cuma perkara cepat atau lambatnya informasi terbuka.
"Haah... Paham deh. Memang benar penyihir itu kuatnya bukan kepalang."
"Kalau aku cuma disanjung gara-gara masukin anak babi ke dalam oven padahal belum dinyalakan sama sekali, bakal aku lakuin berapa kalipun kemauanmu."
"Enggak, tolong hentikanlah. Biaya renovasi bangunan ternyata sama sekali tidak bisa diremehin."
Pengeluaran sewaktu Milis menumpang di sini juga membengkak pesat.
Rata-rata, dana darurat sukar dikeruk dari tabungan Keluarga Count Salemabart, jadi Phil sangat berharap kalau ia bisa menyingkirkan segala urusan ini dengan beres dan apik.
"Kahlua, mending kita apakan sekarang ini? Ditarik lagi kah?"
"Dibiarkan saja juga tidak masalah kan? Toh orang-orang udah puas kan ngeliatin tabiatnya yang kurang ajar, makanya mereka tidak bakalan heran kalau dia diubah sekalian jadi ornamen dinding lucu-lucuan."
"Oke, mending gitu aja deh. Lagipula repot sendiri kan kalau nanti dia bangun dan mulai nangis merengek."
Phil lantas mendirikan tubuhnya dan benar-benar melangkah menjauh, persis dengan omongannya tadi, menelantarkan Zan.
Kahlua maupun Ilya lantas berjalan di belakang menemaninya.
"Moga-moga saja ini bikin dia jadi anteng ya... Karena kalau sesi malam Ayah sama Ibu jadi bubar gegara khawatir, ya murni dia biang kerok semuanya."
"Kalau begitu Phil Salemabart harus gantiin mereka. Bukannya hal kek gitu merupakan salah satu hukum pasti para kaum biru? Sekalipun kau mau cobain sama aku, bakal aku libas kau sampai habis ya."
"Oh? Barusan kau denger itu, Kahlua? Itu tandanya kalau aku mestinya datengin si rumah bordil—"
"Aku habisin nyawamu kalau berani loh."
"...Cewek-cewek sekelilingku kok punya statement jauh di luar dari tipikal cewek normal pada lazimnya ya, apa mungkin kelakuan cewek memang begini di masa kini? Beda zaman?"
Sangat disayangkan sekali, karena umur mereka sepadan dalam angkatan tahun lahir yang serupa.
"Ah, baru inget deh."
Seketika langkah Ilya berhenti. Apa cewek ini melupakan sesuatu? Menyadari pergerakan yang berhenti mendadak, Phil dan Kahlua turut menyela.
"Kenapa emangnya?"
"Gak apa, cuman kupikir aku sampai bener-bener pikun murni karena asyik ngemil kue plus ngehadapi si anak babi tadi itu loh."
"Udah kubilang juga buat ngerem acara njinakin piaraanmu. Gak kayak Si Gadis Suci, cewek ini punya jobdesk dia sendiri."
"Gak dong, gak. Meskipun emang ngasih makanan, aku kan nggak pake sedia anak babi kok tadi, paham? Selain itu, dia itu kan masih ijo banget, wajar ajalah kita ngasih kelonggaran buat staf yang lupa-lupa sama kerjaannya sedikit—"
"Tadi dia titip pesan buat nyampein ke elu perihal Putri Ketiga lagi dateng buat nemuin di ruang penerimaan tamu."
"Phil..."
"Udah ketebak, kita nggak bisa ngebiarin manjain bawahan walau dia baru sekali pun ya," tandas Phil sembari memahami prinsip dasar membimbing karyawan yang seakan hukum besi saja.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments