Hari itu panas menyengat, pertanda musim panas akan segera tiba. Sebuah kereta kuda terparkir di depan kediaman Morgstadt. Kuda yang menariknya bukanlah kuda biasa, melainkan peranakan hibrida dengan vitalitas tinggi yang mampu berlari jarak jauh tanpa lelah.
Kereta itu sendiri dirancang khusus; rangkanya berbahan logam dengan atap ungu kebiruan yang terbuat dari material monster. Pintunya dilengkapi jeruji besi dan disegel dengan gembok raksasa dari luar. Sebuah penjara berjalan.
"..." "Ayolah, East. Ceria sedikit. Kita akhirnya bisa kembali ke ibu kota." "Ada sesuatu yang terasa salah bagiku." "Masih soal itu? Investigasi apakah Nona Lavia benar-benar membunuh ayahnya akan dilakukan di ibu kota. Itu sudah cukup." "Penyidik bahkan belum tiba, tapi mereka sudah menetapkannya sebagai tersangka utama," bantah East keras kepala.
Rekannya hanya menghela napas panjang. Mereka adalah ksatria, dan tugas ksatria adalah mematuhi perintah, bukan mempertanyakannya.
Sementara itu, di lantai bawah tanah kediaman Count, ksatria yang sebelumnya hampir ditusuk oleh seorang pelayan tiba di depan sel bersama seorang pria tua.
"Sudah waktunya, Nona." "Aku akan melepaskan segelnya."
Master Guild Alkemis mengulurkan tangan dan merapalkan mantera. Cincin di jarinya memancarkan cahaya aneh, membuat pendar biru di jeruji besi meredup dan menghilang.
"Nona Lavia, tolong julurkan kedua tanganmu." Lavia menurut dalam diam. Ksatria itu menelan ludah saat memasangkan borgol baja berat pada pergelangan tangan gadis itu. Lavia tampak begitu rapuh, seolah-olah satu sentuhan kasar saja bisa menghancurkannya. Namun, di dalam matanya yang sebiru danau mistis, masih ada binar kehidupan yang redup.
Setelah Master Guild merapalkan mantera pengunci pada borgol tersebut, ia berpamitan. Ksatria itu membuka pintu sel. "Mari jalan, Nona Lavia."
Tiba-tiba, ksatria itu merasakan embusan angin, padahal mereka berada di ruang bawah tanah yang tertutup rapat. "Angin?" gumamnya heran, namun ia mengabaikan kecurigaannya dan menuntun Lavia keluar.
Saat melangkah keluar mansion, Lavia terpejam, silau oleh sinar matahari yang menyengat. Berhari-hari di bawah tanah membuat tubuhnya tak siap menerima cahaya langsung. Ksatria di sampingnya mengerutkan kening, mencoba memapahnya dengan sopan.
Namun, perhatian sang ksatria segera teralih pada kereta pengawal. Di sana berdiri enam pria. Dua ksatria rekannya, dan empat pria asing.
"Apa maksudnya ini? Mereka bukan petualang yang ditugaskan untuk pekerjaan ini," protes East yang sudah berada di luar. "Terkadang petualang tidak tersedia sesuai permintaan," jawab perwakilan Guild—si Wakil Master—dengan santai. "Instruksinya adalah party berisi empat wanita Rank B! Kenapa yang datang malah tiga pria pemabuk ini?!"
Tiga petualang itu memang tampak kacau karena pengaruh alkohol. "Sudahlah, ayo berangkat. Aku punya janji malam ini," gerutu salah satu petualang sambil menatap Lavia dengan pandangan cabul. "Lagipula, gadis ini tidak punya kerabat atau sekutu bangsawan lagi. Tidak akan ada yang datang menyelamatkannya."
East menggeretakkan gigi, namun ia tak punya kuasa untuk membantah perintah atasan. Ia membantu Lavia naik ke dalam kereta penjara yang sempit namun berperabot mewah itu.
"Kusir, kemari," panggil ksatria playboy rekan East. "Hanya kau yang pegang kuncinya, kan? Jika para petualang itu merengek ingin membuka pintu, jangan pernah lakukan. Mereka tidak punya pengendalian diri, dan jika terjadi sesuatu pada nona bangsawan ini, kepalamu taruhannya." "M-Mengerti, Tuan!" jawab kusir itu gemetar.
Kereta pun mulai bergerak meninggalkan kediaman Count.
East berdiri terpaku, menatap kereta yang menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Saat ia berbalik masuk ke dalam mansion sambil mengutuk pelan, sebuah suara menghentikannya.
"Kau sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk, East."
East terkesiap. Itu bukan suara rekannya. Ia berbalik dan melihat sosok pria raksasa dengan otot-otot yang menonjol seperti akar pohon. Wajahnya tegas dengan bekas luka di pipi, namun matanya memancarkan ketenangan yang aneh.
"K-K-Komandan!" Semua ksatria di sana seketika membungkuk hormat. Pria itu adalah Lawrence D. Falcon, sang "Sword Saint", Panglima Ksatria Ponsonia. Sebuah legenda hidup.
"Gagal melindungi Count adalah masalah besar, tapi kalian melakukannya dengan baik dalam mengamankan tersangka utama," ujar Lawrence.
East mencoba memohon agar ia diizinkan menyusul untuk mengawal Lavia karena ia tidak mempercayai para petualang Rank C tersebut. Namun, Lawrence menolak dengan tegas.
"Tidak. Raja mengawasi kasus ini secara pribadi. Kita akan mengikuti prosedur hukum dengan kehadiran penyidik." "Tapi Komandan..." "Tidak ada tapi, East."
Melihat ketegasan sang Panglima, para ksatria lain merasa lega karena East tidak akan bisa bertindak nekat sendirian. Lawrence kemudian meminta laporan detail mengenai malam pembunuhan tersebut sembari menunggu penyidik tiba.
Status Hikaru (Tersembunyi):
Posisi: Di sekitar area (sebelumnya dirasakan sebagai 'embusan angin' oleh ksatria).
Target: Kereta penjara yang baru saja berangkat.
Keuntungan: Komandan ksatria (Sword Saint) berada di mansion, menjauh dari target utama (Lavia).
Kereta telah bergerak menuju jalan keluar kota. Apakah Hikaru akan melakukan penyergapan saat kereta melewati hutan sunyi di perbatasan, atau ia punya cara lain untuk menghentikan kereta tanpa memicu alarm dari para petualang?
Bab: Pelarian Tak Terlihat
Kusir kereta itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Awalnya ia tergiur dengan bayaran besar tanpa tahu bahwa ia harus membawa seorang bangsawan tersangka pembunuhan. Ditambah lagi, ancaman dari ksatria Pond agar ia tidak memercayai para petualang pendampingnya membuat nyalinya ciut.
Saat melewati gerbang Pond, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Kuda-kudanya terasa sedikit lebih berat. Sebagai kusir berpengalaman selama dua puluh tahun, ia peka terhadap perubahan sekecil apa pun. Namun, ia hanya menghela napas, mengira itu karena kondisi jalanan yang tidak rata.
Sementara itu, Nogusa Garage, sang petualang Rank C, sedang merasa berada di puncak dunia. Ia merasa hebat setelah merebut tugas pengawalan ini dari kelompok Four Eastern Stars. Baginya, tugas ini hanyalah perjalanan santai selama enam jam menuju ibu kota.
Setelah istirahat pertama, Nogusa yang mulai sadar dari mabuknya mulai menunjukkan tabiat aslinya. Ia mendekati kusir dan menuntut kunci kereta. Namun, sebelum perdebatan memanas, seorang pria yang tampak seperti pengumpul herba muncul dari balik pohon, memohon air minum karena tersesat. Nogusa dengan angkuh memberikan minumannya dan menerima ucapan terima kasih yang berlebihan, merasa dirinya adalah calon legenda yang dermawan.
Namun, drama sebenarnya terjadi pada istirahat kedua. Nogusa memukul sang kusir hingga jatuh dan merampas kunci kereta. Dengan seringai cabul, ia membuka pintu kereta, berharap bisa "menyapa" sang gadis bangsawan.
"Tunggu... apa-apaan ini?!"
Bukannya seorang gadis, Nogusa hanya menemukan tumpukan kain dan bantal yang disusun menyerupai orang yang sedang tidur. Lavia D. Morgstadt telah menghilang tanpa jejak dari kereta yang terus diawasi itu.
Waktu Mundur: Di Dalam Kereta
Lavia duduk dengan tangan terborgol, menatap kosong ke pangkuannya. Ia mulai berpikir bahwa pemuda bernama Hikaru itu hanya memberinya harapan palsu. Namun, sebuah suara tiba-tiba memecah kesunyian di dalam kereta yang tertutup rapat.
"Di tempat asalku, ada pepatah bahwa menghela napas akan menjauhkan keberuntungan."
Lavia tersentak. Di sampingnya, duduk seorang pemuda berambut hitam dengan tatapan tenang. "Ssst... pelankan suaramu. Kita tidak ingin mereka sadar."
Hikaru telah memikirkan segala skenario terburuk. Ia sudah memastikan jadwal Master Guild Alkemis agar tidak ikut dalam konvoi. Ia juga telah memantau di mana kunci kereta disimpan.
Strategi Hikaru sangat efisien:
Saat pemeriksaan di gerbang kota, ia melompat ke atas atap kereta dan berbaring diam. Berat tubuhnya sempat membuat kuda curiga, namun kusir mengabaikannya.
Setelah istirahat pertama, saat kereta mulai bergerak kembali, Hikaru merangkak turun ke arah kursi kusir. Menggunakan kemampuan [Stealth] di bawah perlindungan Berkat Stealth God, ia mencuri kunci dari pinggang kusir tanpa memicu kecurigaan.
Ia membuka pintu kereta dari luar saat sebuah karavan lewat untuk menyamarkan suara, masuk ke dalam, lalu mengembalikan kunci itu ke tempat semula.
"Cepat gunakan selimut ini agar kau tampak seperti sedang tidur," perintah Hikaru. "Pakai jubah cokelat ini juga untuk menyembunyikan borgolmu."
Hikaru mengeluarkan perlengkapan penyamaran dari tasnya. Tujuannya adalah membuat ilusi bahwa Lavia masih ada di dalam hingga istirahat berikutnya, memberikan mereka cukup waktu untuk menjauh.
Kini, bagian yang paling krusial dari operasi ini dimulai.
Status Operasi:
Lavia: Berhasil dikeluarkan dari sel kereta tanpa merusak gembok.
Hikaru: Menggunakan poin [Stealth] maksimal untuk menyembunyikan keberadaan mereka berdua.
Kondisi Musuh: Nogusa baru saja menyadari hilangnya target pada istirahat kedua.
Apakah Hikaru akan membawa Lavia kembali ke Pond melalui jalur hutan, atau ia akan menggunakan rute memutar untuk mengecoh para pengejar dari ibu kota?
Bab: Pelarian Tak Terlihat – Rencana B
Ada satu masalah besar sebelum mereka melompat keluar: Lavia tidak memiliki kemampuan [Stealth].
"Lavia, aku akan melakukan apa pun untuk membebaskanmu. Kau mengerti?" "Ya..." jawab Lavia pelan, tanpa bertanya apa maksud dari "apa pun" itu.
Hikaru segera membuka Soul Board milik Lavia.
Lavia (Usia 14, Rank 6)
Mana Capacity: 11
Fire Affinity: 5
Magic Principle: 2
Hikaru nyaris mendesah. Statistik yang sangat tidak seimbang. Angka 11 dan 5 adalah angka monster yang bahkan jarang dimiliki petualang veteran. Pantas saja raja begitu menginginkan kekuatannya. Namun, poin Lavia sudah habis; ia tidak bisa mempelajari Stealth.
Hikaru beralih ke Soul Board-nya sendiri. Ia memiliki 10 poin yang tersisa. Ia mengalokasikan masing-masing satu poin ke [Life Cloaking] dan [Mana Cloaking]. Seketika, sebuah kemampuan baru muncul:
[Group Cloaking]: Memberikan efek Life Cloaking, Mana Cloaking, dan Imperceptibility kepada siapa pun yang bersentuhan langsung dengan tubuh pengguna. (Maksimal: 5).
Hikaru menghitung dengan cepat. Efek Group Cloaking dibatasi oleh level Skill individu miliknya. Ia segera menaikkan Life dan Mana Cloaking ke level 2, lalu mengisi [Group Cloaking] hingga level 3. Dengan ini, Lavia akan mendapatkan perlindungan Stealth level 3 selama ia menyentuh Hikaru.
"Persiapkan mentalmu," bisik Hikaru. "Apa rencananya?" "Aku buka pintu, kita keluar, aku kunci kembali, kita melompat, lalu bersembunyi di semak-semak." "Tapi ada penjaga di sisi kereta..." Hikaru menarik napas panjang, sedikit malu. "Selama kita bergerak, pegang tanganku dan jangan pernah lepaskan."
Lavia tersipu melihat telinga Hikaru memerah, namun ia menggenggam tangan itu dengan erat. Tangannya terasa begitu lembut dan rapuh.
Tepat saat itu, gangguan yang direncanakan Hikaru dimulai. Di luar, pria sewaan dari Thieves Guild (yang dibayar Hikaru 20.000 Gilan) berpura-pura pingsan untuk mengalihkan perhatian Nogusa dan kawan-kawannya.
"Ayo!"
Hikaru membuka gembok, menarik Lavia ke pijakan kereta, dan mengunci pintunya kembali dalam satu gerakan cepat. Para petualang berada tepat di samping mereka, namun berkat [Group Cloaking], Hikaru dan Lavia seolah-olah menjadi hantu di siang bolong.
Mereka melompat. Kereta terus melaju menjauh. Nogusa sibuk menginterogasi pria yang "pingsan" itu sementara Hikaru dan Lavia mendarat dengan mulus dan menyelinap ke semak-semak di seberang jalan.
Lavia terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak percaya mereka baru saja melewati para petualang Rank C tanpa terdeteksi sama sekali.
"Jangan santai dulu," peringat Hikaru. "Kita akan menumpang karavan yang lewat secara diam-diam menuju Pond." "Ke Pond? Tapi kenapa kembali ke sana? Mereka pasti akan mencariku di sana!" "Itu tujuannya. Para pengejar akan berpikir kau dibawa oleh bangsawan ke wilayah kekuasaan mereka atau ke luar kerajaan. Pond berada di bawah kendali langsung raja; tak ada bangsawan waras yang akan menyembunyikan buronan di sana. Karena itulah, Pond justru akan menjadi tempat paling aman setelah pencarian awal selesai."
Tiba-tiba, Hikaru membeku. Ia menarik Lavia jatuh ke tanah dan menutup mulutnya. "Ssst..."
Mereka meringkuk di balik pohon kecil. Sesuatu sedang mendekat dari arah jalan raya.
Status Hikaru & Lavia:
Kemampuan Aktif: [Group Cloaking] Lv.3 (Lavia harus terus menyentuh Hikaru).
Poin Tersisa: 3.
Lokasi: Pinggir jalan raya menuju Pond.
Siapakah yang datang? Apakah Nogusa yang menyadari ada yang aneh, ataukah ada pihak ketiga yang memiliki kemampuan deteksi lebih tinggi dari para petualang Rank C tersebut?
Bab: Menghadapi Sang Legenda – Ksatria Pedang Suci
Hikaru menahan napas. Dari kejauhan, sebuah titik kecil melesat cepat ke arah mereka. Titik itu membesar hingga menampakkan sosok penunggang kuda dengan tubuh yang begitu perkasa, sampai-sampai kuda perang yang ia tunggangi terlihat kecil di bawahnya.
Aku tidak melihat orang ini tadi di mansion, batin Hikaru. Ia menyadari sebuah kesalahan fatal dalam perhitungannya: ia tidak tahu siapa yang ditemui East setelah Lavia dibawa keluar.
Dilihat dari ukurannya, pria ini jauh lebih kuat dari East. Jika ia mengejar kereta dan melakukan pemeriksaan, pelarian Lavia akan terdeteksi dalam hitungan menit. Seluruh kota akan ditutup sebelum Hikaru bisa kembali ke Guild. Satu-satunya pilihan adalah menghentikannya di sini.
"Tetap di sini dan jangan bergerak," bisik Hikaru pada Lavia. "Siapa dia?" "Pengejar."
Hikaru mengenakan topeng peraknya. Ia segera memanggil Soul Board. Tiga poin sisa yang ia simpan menjadi penentu hidup dan mati. Ia membuka kategori [Strength], menghabiskan satu poin untuk membuka [Weapon Mastery], dan dua poin untuk [Projectile].
Projectile Lv. 2: Dengan kemampuan ini, Hikaru setara dengan ahli pelempar senjata. Apapun bisa menjadi peluru di tangannya—bahkan batu kerikil di bawah kakinya.
Lawrence D. Falcon, sang Panglima Ksatria, memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Ia berniat menyusul konvoi karena tidak tenang membiarkan petualang mabuk mengawal tersangka sepenting Lavia.
Tiba-tiba, mata kanan kudanya meledak bersimbah darah.
Kuda itu meringkik kesakitan, terpelanting dan jatuh tersungkur. Lawrence terlempar ke tanah dengan kecepatan tinggi, namun tubuhnya yang terlindungi "baju besi" otot hanya menderita beberapa goresan. Ia bangkit dengan sigap dan menghunus pedang panjangnya.
"Siapa di sana?!" raungnya. "Namaku adalah Lawrence D. Falcon! Aku adalah bangsawan dan panglima ksatria kerajaan ini. Menyerangku berarti hukuman mati!"
Hikaru tertegun di balik semak-semak. Lawrence? Si Ksatria Pedang Suci?! Ia teringat legenda tentang ahli pedang besar terkuat di kerajaan. Meskipun Lawrence saat ini hanya membawa pedang panjang biasa, aura yang dipancarkannya begitu menyesakkan.
Tenang. Sehebat apa pun dia, selama dia sendirian, Stealth-ku masih unggul. Aku butuh informasi.
Hikaru merayap mendekat. Setiap langkah terasa berat. Tekanan mental yang dipancarkan Lawrence membuat Hikaru berkeringat dingin. Ketika ia mencapai jarak lima meter, ia memanggil Soul Board milik sang Panglima.
Lawrence D. Falcon (Usia 35, Rank 48)
Muscle Strength: 16 (Angka yang mustahil bagi manusia biasa).
Greatsword: 6 | Heaven Sword: 1 (Skill turunan tingkat tinggi).
Stamina: 11 | Natural Recovery: 8.
Gila... dia benar-benar monster, batin Hikaru ngeri. Total poin yang dialokasikan Lawrence mencapai 83 poin, sementara Hikaru hanya memiliki 31. Dengan stamina dan pemulihan seperti itu, jika Hikaru membiarkannya, Lawrence bisa berlari mengejar kereta lebih cepat dari seekor kuda.
Hikaru meremas batu di tangannya. Ia sempat menyesal hanya mengambil Skill pelempar, namun ia segera menepisnya. Tanpa itu, ia takkan bisa menjatuhkan kuda tadi. Kini, ia harus menang dengan kartu yang ia miliki.
Namun, Lawrence tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arah hutan tempat Lavia bersembunyi.
"Di sana ya..." gumam Lawrence dengan mata tajam. "Mengawasi dari jauh, rupanya."
Jantung Hikaru berhenti berdetak. Lawrence tidak melihatnya, tapi insting ksatria itu mengarah tepat ke tempat Lavia berada. Jika Lawrence bergerak sekarang, semuanya berakhir.
Status Pertempuran:
Hikaru: Tersembunyi (Stealth aktif), memegang batu kerikil.
Lawrence: Waspada, kehilangan kuda, namun siap bertempur tanpa senjata utama.
Lavia: Bersembunyi 100 meter di belakang Hikaru.
Apa yang akan dilakukan Hikaru? Mengarahkan serangan ke kaki Lawrence untuk melumpuhkannya, atau mencoba melakukan serangan kejutan [Assassination] yang sangat berisiko terhadap target dengan Rank setinggi itu?
Bab: Pertaruhan Nyawa – Munculnya Si Wajah Perak
"Gila! Dia bisa merasakannya dari jarak sejauh ini?!" batin Hikaru panik. Lavia setidaknya berjarak lima ratus meter di dalam hutan. Apakah ini kekuatan dari 6 poin [Instinct] milik Lawrence?
Lawrence tidak memberi waktu bagi Hikaru untuk berpikir. Sang ksatria merunduk, bersiap melesat lurus ke arah posisi Lavia.
Tidak akan kubiarkan!
Hikaru bergerak lebih cepat dari logika. Ia melemparkan batu dengan teknik lemparan samping yang presisi. Berkat Soul Board, kekuatan dan akurasinya meningkat tajam—serangan itu mengincar titik buta di belakang kepala Lawrence.
Namun... Ting!
Dengan satu geraman, Lawrence memutar tubuhnya secepat kilat. Pedang panjangnya membelah batu kecil itu menjadi dua di udara.
"Jadi kau di sana," ujar Lawrence dingin. Ia mengangkat pedangnya dengan satu tangan.
Insting bertahan hidup Hikaru berteriak. Ia melompat sekuat tenaga menggunakan [Power Burst]. Sring! Tebasan Lawrence membelah udara, tekanan anginnya saja sanggup membabat rumput tinggi hingga rata. Lengan kiri Hikaru tergores, darah menyembur. Jika bukan karena Power Burst, tubuhnya pasti sudah terbelah dua.
Hikaru bersembunyi di balik semak-semak, menahan napas sambil mengikat lukanya dengan sapu tangan menggunakan mulut. Ia harus tenang.
Bagaimana dia bisa menangkis batuku tadi? Hikaru menyadari sesuatu. Lawrence tidak bisa melihatnya saat ia berada dalam jarak lima meter karena [Stealth]. Namun, saat batu itu dilempar, batu tersebut keluar dari area pengaruh Stealth miliknya. Lawrence mendengar gesekan angin dari batu itu, bukan merasakan keberadaan Hikaru.
Tiba-tiba, semak-semak bergoyang. "Hikaru? Kau di mana?" Itu Lavia, dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kau keluar?!" Hikaru menariknya masuk ke dalam pengaruh [Group Cloaking]. "Aku tahu... kau tidak bisa menang sendirian," isak Lavia. "Ayo lari saja, kita tidak perlu kembali ke kota."
Hikaru goyah. Namun, ia melihat tangannya yang berdarah. Tanpa pengobatan di kota, luka ini bisa berakibat fatal. Dan selama Lawrence masih mengejar, mereka tidak akan pernah aman.
"Aku tidak akan pergi tanpa hasil," tegas Hikaru. "Lavia, maukah kau membantuku? Kita akan menjatuhkan monster itu bersama-sama." Lavia menatap mata Hikaru, lalu tersenyum tipis. "Bahaya ini tidak ada apa-apanya dibanding apa yang telah kau lakukan untukku."
Lawrence mengikuti jejak darah dengan waspada. Ia heran, jejak kaki yang ditinggalkan tampak amatir, namun keberadaan pelakunya benar-benar tak terdeteksi. Ia sampai di jalan raya, lalu terdiam.
Mereka menghilang?
Lawrence menduga lawannya sudah menyerah. Ia memutuskan untuk tidak membuang waktu lagi. Ia menarik napas dalam, otot-ototnya membengkak. Ia bersiap lari secepat kilat untuk menyusul kereta tahanan.
Namun, saat ia mulai melangkah, sebuah aura magis yang luar biasa masif meledak dari arah hutan.
Lawrence terpaku. Di hadapannya, sebuah lingkaran sihir raksasa melayang di udara. Radiusnya mencapai lima meter—sebuah pencapaian yang hanya bisa dilakukan oleh penyihir tingkat tinggi di istana kerajaan. Dari pusat lingkaran itu, sebuah bola api raksasa mulai terbentuk, panasnya menjilat udara.
"Penyihirnya... di sana!" Lawrence melihat sebuah tangan mungil terjulur ke langit dari balik semak. "Takkan kubiarkan kau merapalkannya—"
Saat Lawrence bersiap melompat, sensasi dingin mencengkeram lehernya. Seolah-olah sabit Malaikat Maut baru saja menyentuh kulitnya.
"Kau merasakannya, ya? [Instinct] memang merepotkan," sebuah suara berbisik tepat di telinganya.
Detik berikutnya, cairan hangat menyembur dari tenggorokan Lawrence. Ia mencengkeram lehernya; darah segar membasahi tangannya. Vena jugularisnya telah disayat dengan presisi yang mengerikan.
Lawrence berbalik dan melihat seorang pemuda berdiri memunggunginya. Di tangan kanannya, sebuah belati meneteskan darah merah pekat. Wajah pemuda itu tertutup oleh topeng perak.
"Jangan banyak bergerak jika tidak ingin mati kehabisan darah. Orang biasa pasti akan mati, tapi kau... kau monster, kau akan selamat," ujar pemuda itu datar.
"Tunggu! Siapa kau sebenarnya?!" raung Lawrence sambil menahan luka di lehernya.
Pemuda itu terdiam sejenak, lalu menoleh sedikit. "Panggil aku... Silver Face (Si Wajah Perak)."
Hikaru kemudian melangkah masuk ke dalam rimbunnya rumput dan menghilang seketika. Lingkaran sihir raksasa tadi ikut lenyap. Lawrence jatuh terduduk, menyadari satu hal: ia baru saja diampuni oleh seseorang yang mampu membunuhnya tanpa pernah ia lihat.
Status Akhir Konfrontasi:
Lawrence: Terluka parah di leher, namun selamat berkat stamina monster (Rank 48). Kuda mati. Gagal menyusul kereta tepat waktu.
Hikaru: Mendapatkan nama samaran baru "Silver Face". Luka di lengan perlu segera diobati.
Lavia: Menunjukkan potensi sihir penghancur (Lingkaran sihir 5 meter).
Kini Lawrence tertahan di jalan raya, sementara konvoi petualang akan segera menyadari hilangnya Lavia. Hikaru harus bergerak cepat sebelum seluruh wilayah disisir oleh militer. Kemana tujuan mereka selanjutnya?
Hikaru meminta Lavia untuk mengikat lukanya dengan kencang. Pendarahan memang sudah mereda, namun ia harus segera mendapatkan pengobatan sebelum terlambat.
Cih, andai aku punya poin Pemulihan Alami level 8 seperti monster itu, batinnya kesal.
Beruntung, setibanya di pemukiman terdekat, mereka menemukan sebuah karavan yang sedang beristirahat. Hikaru tidak ingin mencuri, maka ia meninggalkan sekeping koin emas sebagai ganti sebotol ramuan penyembuh—cairan berisi katalis sihir yang mampu menutup luka dalam sekejap. Setelah lukanya menutup, mereka menyelinap ke belakang gerobak dagang untuk menumpang kembali ke Pond.
Semua rencana yang telah ia simulasikan berkali-kali di kepala akhirnya membuahkan hasil, meski kemunculan Lawrence nyaris merusak segalanya.
Begitu tiba di Pond, Lavia terperangah. Para penjaga gerbang sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka yang berjalan tepat di depan mata.
"Oh," Lavia tersentak kecil. "Ada apa?" tanya Hikaru. "Borgolnya..."
Sihir pada borgol itu ternyata luntur lebih cepat dari perkiraan. Karena tidak ada tempat untuk membuangnya di jalan, mereka terpaksa membawanya terlebih dahulu. Hikaru segera menuju hotel, menambah durasi menginapnya, dan mengunci Lavia di dalam kamar.
"Tetaplah di sini. Aku punya urusan terakhir, tidak lama."
Hikaru pergi ke Guild Petualang untuk membangun alibi. Ia menemui Freya, berpura-pura baru saja bangun tidur, dan bahkan secara tidak sengaja mengajaknya minum lain waktu demi menutupi kecurigaan. Setelah merasa alibinya cukup kuat, ia kembali ke hotel dengan membawa stok makanan dan ramuan penyembuh tambahan.
Begitu pintu kamar tertutup, Hikaru menghela napas panjang hingga seluruh tubuhnya lemas. Ia hampir jatuh tersungkur jika Lavia tidak segera berlari dan memeluknya erat.
"O-Aduh! Sakit!" "M-Maaf... kau pergi tadi, dan aku sangat takut," isak Lavia. "Maaf. Aku hanya menyelesaikan detail terakhir. Sekarang kita sudah aman."
Hikaru mulai mengobati dirinya sendiri dengan sisa ramuan. Rasa perihnya luar biasa hingga air mata hampir menetes saat jaringan dagingnya mulai menyatu kembali. Cairan itu juga terasa gatal dan pahit saat diminum untuk memulihkan darah.
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Hikaru menoleh dan melihat Lavia membelakanginya dengan wajah dan telinga yang memerah.
"Lavia?" "E-Em, aku ingin bertanya," suara Lavia bergetar. "Apakah aku bisa benar-benar 'hilang' hanya dengan memegang tanganmu? Bagaimana dengan suara?" "Kurang lebih begitu. Suara tersamar sampai batas tertentu, tapi tidak untuk suara keras. Orang di kamar sebelah mungkin tidak akan dengar jika kita tidak berisik." "Begitu... Kalau begitu, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk diam." "Maksudku, kau masih bisa berbisik—hngh?!"
Lavia tiba-tiba menarik kepala Hikaru dan menciumnya. Sebuah ciuman yang terasa panas, jauh lebih panas dari suhu tubuh Hikaru saat ini.
"Sudah kukatakan, aku akan memberikan segalanya jika kau menyelamatkanku," bisik Lavia dengan tatapan yang dalam. "Kau tidak takut padaku?" tanya Hikaru ragu. "Aku muncul tiba-tiba di kereta, aku membuat kita menghilang, aku melukai ksatria hebat itu... aku tidak normal." "Tidak normal? Mungkin saja. Lalu kenapa?" Lavia tersenyum tipis. "Bahkan jika kau adalah mayat hidup yang busuk atau monster yang menyamar jadi manusia, aku tidak akan menarik kata-kataku."
Hikaru merasa dunianya jungkir balik. Gadis ini menerima segala kegilaan yang ada pada dirinya—kekuatan Soul Board yang selama ini ia takuti akan membuatnya kehilangan jati diri.
"Kau yakin ingin memberikan segalanya?" Lavia menatapnya dengan mata sayu, wajahnya merah padam. "K-Kudengar yang pertama itu sakit... tapi aku akan mencoba diam. Dan jika boleh, aku ingin kita terus berpegangan tangan."
Malam itu, dalam kegelapan kamar hotel di kota Pond, mereka menyatu. Penyamaran, kejaran ksatria, dan bau darah terlupakan oleh kehangatan satu sama lain.
Mimpi dan Kenangan
Dalam tidurnya, Hikaru kembali melihat sosok Hazuki-senpai. "Hidupmu akan sulit. Kau pintar, tapi ceroboh. Suatu hari, kau mungkin akan mati tiba-tiba." Hikaru tersenyum dalam mimpi itu. "Senpai... aku memang sudah mati, persis seperti katamu. Tapi di dunia ini, aku bertahan hidup."
Hazuki hanya menatap kosong, lalu membisikkan sesuatu yang tak jelas. "Kau harus menemukan..." "Apa? Aku tidak dengar." "Kau harus..."
Hikaru terjaga saat fajar menyingsing. Ia menoleh ke samping, melihat Lavia yang tertidur lelap dengan damai.
Bagi Lavia, dunia sebelumnya hanyalah sebuah mansion mewah yang terasa seperti penjara. Membaca buku adalah satu-satunya cara baginya untuk melihat gunung dan samudera. Namun kini, pahlawannya telah datang. Seorang pemuda yang membunuh ayahnya di malam hujan, lalu membebaskannya dari belenggu besi.
Dunia Lavia yang tadinya hitam putih kini penuh dengan warna. Ia tahu Hikaru menyimpan rahasia besar, namun ia tidak peduli. Hikaru adalah penyelamatnya, pahlawannya, dan orang pertama yang ia cintai.
Dan ia telah menyerahkan seluruh hidupnya ke tangan pemuda itu.