Header Ads Widget

Naga Hitam dan Naga Putih

"Siapa yang bilang dungeon ini cuma punya lima lantai?!" gerutu Hikaru.

Tanpa peta, lantai enam menjadi labirin yang menguras waktu. Ia merasa sudah lewat tengah hari, namun di bawah tanah, waktu adalah konsep yang kabur. Hikaru menuruni tangga spiral batu yang jauh lebih rapi dari lantai-lantai sebelumnya—seolah tangga ini dibuat untuk menyambut tamu agung.

Begitu sampai di dasar, ia tertegun. Ruangan itu seluas stadion bisbol, dengan cahaya yang menembus dahan-dahan di langit-langit tinggi. Di tengah ruangan, melingkar seperti kucing raksasa, sesosok entitas legendaris sedang beristirahat.

Sisiknya sehitam jelaga, tubuhnya begitu masif hingga membuat Lesser Wyvern tampak seperti kadal kecil. Naga Hitam.

"Kau bercanda... dari nol langsung ke seratus. Apa ini Dungeon Master-nya?"

Tepat saat Hikaru melangkah, Naga Hitam membuka mata.

"Siapa di sana?"

BOOM! Gelombang tekanan suara menghantam Hikaru seperti pukulan raksasa. Tubuhnya terlempar ke dinding, napasnya sesak, dan kulitnya terasa terbakar hanya karena suara itu. Hikaru panik—seharusnya ia dalam kondisi [Stealth].

Tenang, Hikaru. Kendalikan dirimu atau Stealth-mu akan lepas.

Ia menyadari sesuatu lewat [Mana Detection]. Ada benang-benang mana tipis yang merayap di lantai seperti jaring laba-laba. Naga itu tidak melihatnya, tapi ia merasakan getaran saat Hikaru menginjak benang tersebut. Hikaru terjebak; satu langkah salah lagi, dan ia akan dipanggang oleh api naga di ruangan tanpa jalan keluar ini.


Teror Naga Putih di Cotton-elka

Sementara itu, di alun-alun Cotton-elka, Naga Putih mendarat dengan dentuman yang menghancurkan atap rumah-rumah warga. Sisiknya yang putih berkilau mistis di bawah sinar matahari, namun matanya memancarkan haus darah yang murni.

Naga itu mendongak dan melepaskan raungan yang mengguncang bumi. Warga desa pingsan seketika, dan toko satu-satunya di desa itu runtuh. Tim Four Eastern Stars segera bereaksi. Selyse berdiri di depan dengan perisai sihir, melindungi Serika dan Sara.

"Evakuasi warga! Sekarang!" perintah Selyse kepada para petualang yang masih sadar. Pemimpin Wild Horn mencoba berdiri, namun kakinya gemetar hebat hingga ia jatuh terduduk kembali. Tidak ada yang tertawa; semua orang dicekam ketakutan absolut.

"Manusia... pembunuh massal yang berlindung di balik nama dewa," suara naga itu menggetarkan udara.

"Kau bisa bicara?" Selyse bertanya, mencoba mengulur waktu.

"Aku adalah Naga Putih, perwujudan kehendak Sang Master. Aku adalah saudara dari Naga Hitam, puncak dari segala kekuatan."

Selyse tersenyum tipis, meski batinnya terguncang mengetahui ada naga lain. "Pedang di pinggangku ini bukan sekadar hiasan. Ia sudah meminum banyak darah naga."

Naga Putih menyemburkan api raksasa. Selyse menghunus pedang tipisnya yang bersinar perak—White Ray Blade. Dengan satu tebasan presisi, ia membelah lautan api itu menjadi dua.


"Luar biasa..." gumam para petualang. Selyse, sang Sun Maiden, akhirnya mengeluarkan senjata aslinya. Pedang sihir itu mampu memotong apa pun selama dialiri mana.

Namun, Selyse tahu ia tidak bisa menang dalam pertarungan langsung. Ukuran musuhnya terlalu besar. Ia mencoba memprovokasi naga itu untuk tetap fokus padanya.

"Kau hanya ingin mengulur waktu," ucap naga itu dingin. "Aku benci keras kepala, jadi aku akan melakukan ini sebagai gantinya."

Naga Putih tidak lagi menyembur ke arah Selyse. Ia mengarahkan kepalanya ke sebuah rumah warga dan melepaskan napas api. Dalam sekejap, rumah itu runtuh dilahap api. Jeritan singkat terdengar sebelum akhirnya sunyi senyap.

Darah Paula berdesir hebat. Orang-orang mati. Kematian nyata baru saja terjadi di depan matanya.


Bab: Kebangkitan Jiwa Cotton-elka

"Lemah! Terlalu lemah!" Naga Putih meraung kegirangan di atas puing-puing.

"Kenapa... Kenapa kau melakukan ini?!" seru Selyse dengan napas terengah. "Makhluk hidup membunuh untuk makan, atau untuk membela diri. Hanya anak kecil yang tak tahu aturan yang membunuh demi kesenangan!"

"Sentimen bodoh," balas naga itu. "Tugasku hanya membantai. Master telah membuka segel dungeon, maka aku datang untuk memanen nyawa."

Naga itu mengibaskan ekornya, menghancurkan rumah kepala desa, gereja, dan toko dalam satu sapuan. Selyse sadar, taktik mengulur waktu sudah tidak berguna. Jika ia terus menjaga jarak, naga itu akan beralih membantai warga yang bersembunyi. Satu-satunya cara adalah menyeret perhatian monster itu sepenuhnya kepada dirinya.


Pertaruhan Sang Maiden

Selyse melangkah maju, menurunkan pedangnya dengan tenang namun memancarkan aura yang membuat Naga Putih waspada. Saat naga itu menerjang dan mengayunkan cakar raksasanya, Selyse tidak menghindar.

SLASH!

Darah ungu menyembur. Pedang White Ray Blade berhasil memotong kaki depan naga itu hingga putus. Namun, kemenangan itu dibayar mahal. Raungan kesakitan naga itu melepaskan tekanan suara yang mementalkan Selyse sejauh sepuluh meter.

Sial... manaku nyaris ludes, batin Selyse sambil berusaha bangkit dengan kaki gemetar. Ia meremehkan kekerasan sisik naga itu. Pedang peraknya memang bisa memotong apa pun, tapi semakin keras objeknya, semakin besar mana yang dikuras. Ia tahu ia tidak bisa menang, namun setidaknya kini Naga Putih hanya melihatnya sebagai musuh tunggal.


Debat di Ambang Kematian

Di sebuah lapangan terbuka di pinggiran desa, para pengungsi berkumpul. Pia bersikeras ingin kembali ke pusat desa untuk membantu Selyse, namun langkahnya terhenti oleh kedatangan Sara yang muncul tanpa suara.

"Selyse memilih untuk mundur. Rencana B; larilah ke hutan, cari tempat bersembunyi," lapor Sara singkat.

"Mundur? Tapi Nona Selyse..." Pia tertunduk lesu.

Kepala desa—ayah Pia—hanya duduk diam, tampak pasrah. "Sudah kubilang, meskipun kita lari dari sini, yang ada hanya kematian. Lebih baik mati di tanah sendiri."

"Ayah pengecut! Aku tidak peduli jika aku tidak bisa melakukan apa pun, aku tidak akan meninggalkan orang yang mempertaruhkan nyawa demi desa ini!" teriak Pia sambil berlari kembali menuju pusat desa dengan air mata berlinang.


Pidato Paula: Desa Bukanlah Tanah

Kepala desa terisak saat melihat putrinya pergi. "Paula... tolong bawa dia lari. Biarlah kami binasa di sini bersama Cotton-elka."

Paula menatap ayahnya, sang pastor, lalu menatap para penduduk desa yang sudah kehilangan harapan. Ia teringat kata-kata ayahnya bahwa manusia tidak bisa mengubah jati diri mereka.

"Paman, Paman salah," ujar Paula lantang, membuat kepala desa menoleh. "Aku setuju bahwa kita tidak bisa mengubah siapa diri kita. Tapi kenapa tidak berpikir begini: Cotton-elka adalah diri kita."

"Apa maksudmu?"

"Tempat ini bukanlah Cotton-elka! Dulu tempat ini hanya hutan belantara sampai nenek moyang kita membukanya. Ke mana pun kita pergi, selama kita bersama, di situlah Cotton-elka berada! Apa kita benar-benar hanya bisa menanam tomat di ladang ini? Jangan bilang paman tidak bisa memulai dari nol, bahkan aku yang cengeng ini pun bisa bertarung melawan monster!"

Keheningan menyelimuti lapangan itu. Hanya suara rumah yang runtuh di kejauhan yang terdengar. Tiba-tiba, suara tepuk tangan memecah kesunyian. Priscilla bertepuk tangan, diikuti oleh ayah Paula.

"Ah, mereka tumbuh begitu cepat," ujar sang pastor bangga. "Ketua, dengarkan dia. Mereka menjadi petualang untuk menyelamatkan desa ini, bukan untuk melihat kita menyerah di sini."

Kepala desa berdiri, martabatnya sebagai pemimpin kembali terpancar di matanya. "Jika kita memang harus mati, kita akan mati sambil melawan! Semuanya, dengarkan! Kita evakuasi sekarang! Para pria, cari warga yang tertinggal. Wanita, anak-anak, dan lansia, segera bergerak!"

Semangat membara kembali menyulut jiwa warga desa. Mereka bangkit serempak, bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai sebuah bangsa yang sedang berpindah.


Bab: Pertaruhan Nyawa dan Senjata Rahasia Leniwood

Hikaru berdiri mematung di ambang pintu sarang Naga Hitam. Kembali ke lantai lima untuk grinding poin terlalu tidak efisien, namun maju berarti maut. Bayangan Lavia melintas di benaknya—Lavia memintanya pulang jika situasi tidak aman.

"Maaf, Lavia. Aku tidak bisa lari tanpa mencoba lebih dulu."

Hikaru memanggil [Soul Board] miliknya. Hanya ada satu cara untuk melewati jaring benang mana di lantai tanpa terdeteksi: ia mengalokasikan satu-satunya poin tersisa ke dalam stat [Balance] di bawah kategori [Agility].

Jaring itu hanya menutupi area pintu masuk. Di baliknya, terdapat celah sempit—cukup untuk satu pijakan. Hikaru mengambil ancang-ancang. Dengan bantuan poin pada [Power Burst], ia melompat sekuat tenaga dan mendarat tepat di titik aman menggunakan ujung kakinya. Tubuhnya sempat bergoyang, namun stat [Balance] yang baru ia ambil segera menstabilkan posisinya.

Luar biasa. Baru 1 poin saja sudah seimbang begini. Apa jadinya kalau 20 poin? Mungkin aku bisa berjalan dengan satu tangan di atas kabel pencakar langit.


Anatomi Sang Naga

Hikaru merayap semakin dekat. Wajah Naga Hitam itu sebesar mobil, napasnya berbau belerang yang pekat. Hikaru memutar otak. Monster di dungeon ini adalah tiruan makhluk hidup. Jika mereka meniru kadal, maka jantungnya tidak sempurna, namun tetap menjadi pusat kehidupan. Mana mengalir seperti darah di tubuhnya.

Lewat [Mana Detection], ia melihat konsentrasi mana terbesar ada di pusat dada dan otak. Namun, jantung naga itu terlalu dalam untuk dijangkau belati biasa, dan kepalanya berada sepuluh meter di atas tanah.

Pilihan terbaik adalah arteri di lehernya.

Hikaru melompat. Dengan dorongan [Power Burst], ia mencapai pangkal leher naga itu dan menghujamkan [Dagger of Strength] sekuat tenaga.

KRETAK!

Sisik naga itu pecah seperti kaca, dan belati itu amblas sedalam lima puluh sentimeter. Namun, serangannya terhenti oleh otot yang sekeras kayu. Darah ungu menyembur, namun belati itu tersangkut, tak bisa ditarik kembali. Naga itu meraung dahsyat. Tekanan suaranya mementalkan Hikaru hingga ia terbanting keras di lantai batu.

Agh! Telinga Hikaru berdarah, gendang telinganya pecah. Sensasi dunianya bergoyang, namun ia segera bangkit. Naga itu tidak bisa melihatnya, tapi gerakannya yang panik menyentuh benang mana di lantai. Semburan api neraka langsung melalap tempat Hikaru berdiri sedetik sebelumnya.


Blade Bomb: Proyeksi Kematian

Hikaru menyeka darah di mulutnya. Tubuhnya memar hebat, tapi belum ada tulang yang patah. Ia kehilangan senjata utamanya yang masih menancap di leher naga, tapi ia masih memiliki satu kartu as: prototipe rahasia dari bengkel Leniwood.

"Gunakan ini hanya pada target yang jauh lebih besar darimu," bisik kata-kata Leniwood di ingatannya.

Senjata itu terlihat seperti belati biasa, namun bilahnya berbentuk segitiga panjang dan ramping—khusus untuk menusuk. Di bawah gagangnya terdapat tombol mekanis dan pin pengaman seperti granat.

Hikaru menyelinap kembali. Ia harus bergerak cepat. Naga itu bergumam tentang "Putih" yang pergi ke permukaan. Hikaru menyadari: Ada naga kedua yang menuju desa! Lavia dalam bahaya!

Naga Hitam mulai mengumpulkan api di tenggorokannya, berniat membakar seluruh ruangan. Di saat itulah, Hikaru menerjang sisi tubuh sang naga.

[Assassination] aktif kembali karena naga itu belum mendeteksi posisinya yang baru. Dalam 0,3 detik, Hikaru membenamkan bilah prototipe itu hingga ke pangkalnya. Ia menekan tombol di gagang, dan bagian bilah itu meluncur lepas, masuk lebih dalam ke rongga dada sang naga.

"Benda ini meluncur sangat cepat, tapi jangan harap terbang lurus," kata Leniwood. Namun dalam jarak nol, presisi bukanlah masalah. Bilah itu melesat menembus organ tanpa hambatan otot, langsung menuju jantung.

Satu detik kemudian...

BOOM!

Sebuah ledakan internal terjadi tepat di jantung Naga Hitam. Itu bukan sihir biasa; itu adalah Blade Bomb. Item sihir dari Kelbeck yang tertanam di bilah itu melepaskan ledakan api tingkat menengah langsung di dalam organ vital.

Naga Hitam itu gemetar hebat, matanya melotot karena syok, lalu perlahan seluruh tubuh raksasanya luruh menjadi gunungan abu.


Pintu Menuju Sang Master

Hikaru jatuh terduduk, napasnya memburu. Peringkat jiwanya naik drastis, namun ia terlalu lelah untuk berpikir. Di balik tumpukan abu naga, ia menemukan belati kekuatannya kembali dan sebuah permata hitam transparan seukuran kepalan tangan.

Pandangannya tertuju ke ujung ruangan. Di sana, terdapat sebuah pintu ganda yang sebelumnya tersembunyi oleh mana sang naga.

"Naga tadi menyebut tentang seorang tuan... berarti dia bukan Dungeon Master-nya," gumam Hikaru sambil mengumpulkan sisa tenaganya.

Ia memungut permata hitam itu, melangkahi abu sang legenda yang baru saja ia bunuh, dan melangkah menuju pintu terakhir. Di baliknya, kebenaran tentang Hutan Penyesatan telah menanti.


Bab: Cahaya di Tengah Abu dan Keputusan Fatal

Kekacauan pecah sepenuhnya. Kedatangan Naga Putih sudah cukup buruk, namun lonceng peringatan dari pinggiran desa menandakan malapetaka baru: serbuan monster dari luar telah tiba.

"K-k-kita harus bagaimana?!" teriak seorang petualang.

"Jangan tanya aku! Tugas kita mengawal warga, tapi mereka menolak pergi. Lebih baik kita selamatkan diri sendiri!"

"Diam kalian semua!" bentak pemimpin Wild Horns. "Seorang wanita sedang bertaruh nyawa melawan naga di sana! Kita tidak bisa hanya merengek di sini. Ayo bergerak!"

Dengan tekad yang dipaksakan, para petualang bergegas ke batas desa. Namun, nyali mereka menciut seketika. Di hadapan mereka, tiga ekor Lesser Wyvern—monster Peringkat C—berjalan angkuh, meremehkan para petualang yang mayoritas hanya Peringkat F dan G.

"Sudah berakhir..." Gumam mereka sambil jatuh berlutut.

"Jadi, tiga makhluk itu yang paling berbahaya?" Sebuah suara lembut bertanya.

Pemimpin Wild Horns menoleh. Di sampingnya berdiri seorang gadis berjubah yang wajahnya tertutup rapat oleh tudung. "Tentu saja! Jika mereka lenyap, sisanya mungkin bisa kami tangani, tapi—"

"Aku mengerti. Tolong urus sisanya," potong gadis itu. "Aku lebih mengkhawatirkan Naga Putih di pusat desa."

Gadis itu, Lavia, mengangkat tangannya ke udara. Mana mulai bergejolak dahsyat. Cahaya berpendar di bawah kakinya dengan radius tiga meter—sebuah pemanggilan sihir elemen yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Bernyanyilah, Elemen! Ambillah manaku dan bakarlah segalanya hingga menjadi abu!"

Sebuah lingkaran sihir raksasa berdiameter sepuluh meter muncul di langit. Dari dalamnya, bukan bola api biasa yang keluar, melainkan lidah api yang meliuk-liuk menyerupai ular raksasa.

"Flame Gospel!"

Lidah api itu menyambar ketiga Wyvern tersebut. Jeritan monster membelah udara saat api itu melilit tubuh mereka, melompat dari satu target ke target lainnya hingga ketiganya luruh menjadi abu dalam sekejap. Lavia segera menghilang sebelum para petualang sempat berterima kasih.



Tarian Maut di Alun-Alun

Sementara itu, pusat desa Cotton-elka telah menjadi neraka. Selyse bertarung dengan fokus yang luar biasa. Dari sudut pandang Pia, Selyse tampak bertarung sendirian seperti pahlawan dalam dongeng. Namun kenyataannya, tim Four Eastern Stars sedang melakukan koordinasi tingkat tinggi.

Sara menembakkan anak panah dari bayangan untuk membingungkan naga, sementara Serika memancing perhatian naga dengan rafalan sihir yang sengaja ia batalkan untuk menciptakan celah. Selyse memanfaatkan setiap detik pembukaan itu untuk menyayat tubuh naga dengan White Ray Blade.

Masih belum cukup... batin Selyse. Luka-luka di tubuh naga itu menutup dengan sangat cepat. Stamina makhluk itu seolah tak terbatas, sementara Selyse mulai kelelahan.

Tiba-tiba, di seberang alun-alun yang penuh puing, sosok Paula muncul. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membentuk simbol lingkaran. Selyse bernapas lega. Kerja bagus, Paula! Isyarat itu berarti Paula telah berhasil membujuk seluruh warga untuk mengevakuasi diri.

Sekarang, rencana mundur bisa dieksekusi. Mereka hanya perlu bertahan hingga matahari terbenam, lalu melarikan diri ke hutan.

Namun, naga itu menyadari arah pandangan Selyse. Ia melihat Paula yang berdiri tanpa perlindungan. Naga Putih segera melesat ke arah gadis itu. Selyse mencoba menebas kaki naga untuk menarik perhatiannya kembali, namun naga itu mengabaikannya. Makhluk itu menyadari bahwa serangan Selyse barusan hanyalah gertakan untuk mundur.

Paula mematung, wajahnya pucat pasi melihat maut mendekat.

"Haaaaahhh!"

Tiba-tiba, Pia melompat ke depan Paula. Dengan tangan gemetar, ia menggenggam pedang panjang dan berlari canggung menghadang sang naga. Itu adalah gerakan bunuh diri. Selyse memejamkan mata sesaat; instingnya berkata bahwa Pia akan mati dalam hitungan detik.


Bab: Janji, Doa, dan Sang Penyelamat yang Kembali

"Aku akan melindungimu, Paula!" Kalimat itu telah diucapkan Pia ribuan kali.

Pia, yang paling ambisius menjadi petualang, selalu ingin menghalau ketakutan sahabatnya. Namun, keinginan tidak selalu sejalan dengan kemampuan. Sebagai petualang pemula, Pia sering membiarkan dirinya digigit monster demi menghentikan mereka. Paula, yang kemampuannya meningkat karena terus mengobati Pia, diam-diam berharap mereka berhenti bertualang. Ia ingin mereka menjadi gadis biasa—jatuh cinta, menikah, dan memiliki kulit yang mulus tanpa bekas luka pertempuran.

Namun kini, di depan Naga Putih, Pia membuktikan janjinya dengan cara yang paling fatal.

"Aaaaaaaah!"

Pia menerjang dengan nekat. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat naga itu sempat terhenti. Di saat yang sama, Priscilla menembakkan panah tepat ke arah mata naga dari atas reruntuhan rumah. Meski panah itu terpental oleh sisik kelopak mata, itu cukup untuk mengalihkan fokus sang naga.

"Hiyaaaah!" Pia mengayunkan pedang panjangnya ke kaki naga. Namun, sisik itu terlalu keras. Naga Putih, yang sempat waspada, menyadari bahwa gadis di depannya bukanlah ancaman. Dengan gerakan malas, ia menyentakkan kakinya.

BRAKK!

Pia terlempar, menghantam tanah dengan keras. Armornya hancur, tulang-tulangnya patah, dan organ dalamnya remuk hanya dalam satu serangan.


Keputusasaan di Bawah Bayang Raksasa

"Pia!" Paula berlari memeluk sahabatnya. Tangannya gemetar saat mencoba merapalkan sihir penyembuh.

Selyse mencoba menyerang dari belakang, namun raungan naga mementalkannya. Naga itu kemudian menyemburkan api ke arah Serika dan Priscilla yang mencoba memancing perhatian. Mereka terjebak, api menjilat kaki dan tangan mereka.

Paula tidak peduli lagi pada sekitarnya. "Kau akan baik-baik saja, Pia... Sihirku akan menyembuhkanmu. Wahai Tuhan di surga, demi nama-Mu aku memohon mukjizat..."

"P-Paula..." Mata Pia terbuka sedikit, namun tatapannya kosong. Suaranya tenggelam oleh langkah berat Naga Putih yang mendekat dengan tenang—sebuah gestur keangkuhan yang absolut.

"L-lari... Paula..."

"Manaku... kuberikan padamu..." Paula menyelesaikan mantranya, namun hanya cahaya redup yang muncul. Wajah Pia tetap pucat pasi. Luka-lukanya terlalu dalam.

"Tidak! Seharusnya ini berhasil! Aku sudah menyembuhkanmu ribuan kali!" Paula terisak, air matanya jatuh ke pipi Pia.

"Paula... kau adalah sahabat... terbaikku..." bisik Pia lemah.

Paula memeluk kepala sahabatnya erat-erat. Ia tahu naga itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Air liur naga menetes dari taringnya yang mengerikan. Paula tidak akan lari. Jika harus mati, ia akan mati memeluk sahabatnya.


Flame Gospel dan Strategi Terakhir

Tiba-tiba, sebuah suara dingin memecah udara: "Ambillah kembali dunia yang murni, dan bakarlah segalanya menjadi abu."

Lavia muncul di balik reruntuhan. Sebuah lingkaran sihir raksasa terbentuk di atas kepalanya. Naga Putih yang merasakan ancaman segera berbalik untuk menyembur Lavia, namun gerakannya terkunci.

Selyse terkekeh di bawah kaki naga. "Kau pikir raungan tadi cukup untuk menghabisiku?"

Dengan sisa tenaganya, Selyse menghujamkan White Ray Blade menembus kaki naga, memakukannya ke tanah. Selyse telah menunggu momen ini—momen saat sang naga lengah karena merasa mangsanya sudah tak berdaya.

"Flame Gospel!"

Ular api raksasa meluncur dari tangan Lavia. Naga Putih mencoba menghindar, namun kakinya tertahan oleh pedang Selyse. Naga itu melepaskan raungan memekakkan telinga dalam keputusasaan. Ledakan api menghanguskan sebagian wajah dan lehernya, sementara tekanan suaranya mementalkan Selyse, Paula, dan Pia menjauh.

Paula berusaha bangkit dengan telinga yang berdenging hebat. Ia melihat Naga Putih masih berdiri. Luka bakar di wajahnya mulai berbuih, tanda bahwa kemampuan regenerasinya sedang bekerja.

"Tuhan... tolong kami..." Paula berdoa. Selyse tergeletak lemas. Harapan terakhir hanya ada pada gadis asing (Lavia) yang kembali merapalkan mantra.



Keajaiban di Detik Terakhir

Naga Putih mencabut pedang yang menancap di kakinya. Ia bersiap menerjang Lavia yang berjarak tiga puluh meter. Lavia berhenti merapal dan menurunkan tangannya. Paula mengira semuanya sudah berakhir.

"Tuhan...!" Paula memejamkan mata.

ZING—!

Naga Putih tersentak. Sebuah garis diagonal muncul secara misterius di lehernya. Detik berikutnya, kepala raksasa itu merosot jatuh ke tanah, menimbulkan debu dan semburan darah yang segera berubah menjadi abu.

"Fuuuh... nyaris saja."

Paula membuka matanya dan terpaku. Ia melihat sesosok pemuda berdiri di sana, menggenggam pedang panjang milik warga yang tadi terjatuh.

"Sisik yang sudah hangus ternyata jauh lebih mudah dipotong," ujar pemuda itu dengan tenang.

Itu adalah Hikaru. Pemuda yang dulu menyelamatkan nyawanya dari Goblin, kini kembali berdiri di tengah abu naga, seperti jawaban atas doa yang paling mustahil.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments