"Lihat, itu desa kami! Cotton-elka!"
Dua jam sebelum senja menyapa, kelompok Paula dan tim Four Eastern Stars tiba di tujuan. Pia tampak sangat bersemangat duduk di belakang Selyse di atas kuda putihnya, sementara Paula dan Priscilla membonceng anggota tim lainnya.
Cotton-elka hanyalah desa kecil berpenduduk 120 jiwa. Pagar kayunya yang mulai lapuk dan berlubang di sana-sini tampak sangat tidak memadai untuk menahan serangan monster. Desa ini dijepit oleh pegunungan di utara dan timur, sementara di barat membentang hutan lebat tempat Hutan Penyesatan—sang dungeon—berada.
"Petualang! Petualang telah datang!" teriak seorang warga, memicu kegemparan kecil.
Paula turun dari kuda dengan perasaan campur aduk. Ia menghela napas melihat Pia yang terus-menerus memuja Selyse. Padahal Tuan Hikaru yang menyelamatkan kita dan mengirim bantuan, tapi Pia hanya peduli pada Selyse, batinnya masygul.
"Angkat kepalamu. Kami di sini untuk membantu desa ini," ujar wanita yang membonceng Paula tadi. Rambut abu-abunya yang lebat diikat ke samping, jatuh menutupi dadanya yang bidang. Wanita ini adalah Sophie Bloomfield, seorang Healer ternama yang namanya sering disebut-sebut di gereja tempat Paula tumbuh besar sebagai "Orang Suci yang Baik Hati."
Sementara itu, Priscilla membonceng Sara, seorang Rogue bertubuh ramping dengan rambut ungu pendek yang sekilas tampak seperti pria. Sara hanya membawa busur dan dua belati di pinggang, memberikan kesan lincah dan santai. Anggota terakhir tim adalah seorang penyihir berjubah tertutup yang wajahnya tersembunyi di balik tudung—sosok yang paling misterius di antara mereka.
Malam di Balik Bayang-Bayang
Satu kilometer dari desa, Hikaru dan Lavia mendirikan kemah rahasia. Berkat [Group Cloaking], mereka bisa tidur dengan tenang tanpa terdeteksi predator hutan. Lavia kini memiliki berkat baru: [Imperceptibility God: Fading Remnant], yang membuatnya nyaris mustahil terlihat oleh mata manusia maupun monster.
"Seperti apa tim Four Eastern Stars itu?" tanya Lavia di depan api unggun.
"Aku tidak tahu pasti," jawab Hikaru. "Tapi mereka punya aura yang berbeda. Cara bicara mereka singkat dan setiap gerakannya sangat efisien. Mereka berada di level yang jauh berbeda dari petualang biasa."
Lavia mengerutkan kening. "Benarkah?"
"Ya, kita harus sangat waspada di sekitar mereka. Tunggu, ada apa?"
Lavia menunduk, wajahnya memerah karena cahaya api. "Ini pertama kalinya aku mendengarmu memuji wanita lain setinggi itu. Rasanya... sesak sekali."
Hikaru tertawa kecil. "Kau cemburu?"
"I-iya! Aku juga tidak ingin merasa begini, tapi kau yang memaksaku mengatakannya!"
"Maafkan aku," ujar Hikaru lembut. "Kalau begitu, aku juga akan jujur. Alasan aku menghindari masuk ke desa bukan hanya karena Selyse, tapi karena aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu tanpa ada yang mengganggu."
Lavia bersandar di bahu Hikaru. Di bawah langit malam yang sunyi, mereka berbagi kehangatan sebelum badai yang sebenarnya datang esok hari.
Misi Pengintaian
Keesokan paginya, Hikaru dan Lavia menyelinap ke dalam desa menggunakan [Stealth]. Mereka menuju rumah kepala desa, satu-satunya bangunan dua lantai di sana. Di depan rumah, Pia tampak sibuk menghalau warga yang penasaran.
Hikaru menyelinap melalui pintu belakang dan berdiri tepat di balik pintu ruang rapat. Di dalam, Selyse sedang bernegosiasi dengan kepala desa—ayah Paula.
"Hanya ada empat dari kami. Menyerang Hutan Penyesatan yang memuntahkan ribuan monster tanpa peta lantai bawah adalah misi bunuh diri," suara Selyse terdengar tegas. "Kami di sini untuk mencegah jatuhnya korban. Kalian harus segera evakuasi."
"Evakuasi? Tapi sekarang musim panen tomat!" protes kepala desa. "Tomat adalah nyawa kami!"
"Nyawa kalian jauh lebih penting daripada ladang itu," balas Selyse dingin. "Kami akan mengulur waktu sampai tim peringkat tinggi lainnya tiba. Selain itu, Dungeon Master—tunggu, ada apa Sara?"
"Ada yang menguping," bisik Sara tajam.
Hikaru tersentak. Detik berikutnya, pintu terbuka lebar.
"Hmm? Tidak ada siapa-siapa." Sara melongok ke lorong.
"Instingmu jarang meleset, Sara. Mungkin hanya imajinasimu?" sahut Selyse.
Hikaru dan Lavia berhasil menyelinap ke kamar seberang tepat sebelum pintu terbuka. Gerakan mereka begitu cepat dan senyap hingga tak meninggalkan suara sekecil pun.
Nyaris saja, batin Hikaru. Ia segera memfokuskan matanya, mengaktifkan kemampuan untuk memeriksa status Sara yang baru saja hampir membongkar posisi mereka.
Bab: Tamu dari Dunia Lain dan Rencana Pembunuhan Sunyi
Hikaru menahan napas saat memeriksa Soul Board anggota terakhir tim Four Eastern Stars yang baru saja membuka pintu.
【Soul Board】 Sara Insting-nya yang mencapai level 5 adalah alasan mengapa ia bisa merasakan kehadiran Hikaru meski tidak bisa melihatnya. Namun, bukan Sara yang membuat jantung Hikaru hampir berhenti detak, melainkan sosok yang berdiri di sampingnya.
【Soul Board】 Serika Tanoue Usia: 17 | Rank: 104
Magical Power: Mana Capacity 19
Elemental Affinity: Fire 5, Air 5, Earth 5, Water 5 (MAX)
Magic Resistance: 5 (MAX)
Serika Tanoue. Dia orang Jepang.
Hikaru tertegun melihat statistik yang tidak masuk akal itu. Rank 104 adalah angka yang berada di luar nalar petualang biasa. Beruntung, teknik [Stealth] dan [Imperceptibility: MAX] milik Hikaru tetap membuatnya tak terlihat saat ia dan Lavia berdesakan di sudut ruangan, hingga akhirnya mereka berhasil menyelinap keluar menuju perkebunan tomat di pinggiran desa.
Cemburu dan Tekad
Di bawah pohon poplar besar, Hikaru menjelaskan temuannya kepada Lavia.
"Gadis berambut hitam itu... kemungkinan besar dia berasal dari duniaku," bisik Hikaru. "Dunia asalmu? Kalau begitu, bukankah ini kesempatan bagus untuk berteman?" tanya Lavia khawatir. "Tidak. Risiko terlalu besar. Dia anggota Bintang Timur; bergerak terlalu dekat dengannya sama saja menyerahkan diri pada radar kerajaan."
Hikaru kemudian menjelaskan rencananya. Sementara tim Bintang Timur fokus pada evakuasi warga yang keras kepala, Hikaru memilih jalan yang paling ekstrem.
"Melindungi desa bukan satu-satunya pilihan. Cara tercepat mengakhiri ancaman ini adalah dengan membunuh Dungeon Master di dasar Hutan Penyesatan."
Lavia tersentak. "Itu terlalu berbahaya! Biarkan aku ikut!" "Tidak, Lavia. Sihir apimu akan menarik perhatian ribuan monster. Menyelinap sendirian adalah keahlianku. Aku akan masuk, membunuh target tanpa suara, lalu keluar."
Setelah negosiasi panjang—dan janji bahwa Hikaru akan segera mundur jika situasinya tidak memungkinkan—Lavia akhirnya setuju untuk menunggu di desa sebagai titik jangkar bagi Hikaru.
Penitipan Rahasia
Hikaru menemui Paula di kapel gereja saat desa sedang kacau oleh kedatangan petualang dari Pond.
"Paula, aku akan meninggalkan desa sebentar untuk urusan mendesak," ujar Hikaru sambil memperkenalkan Lavia. "Bisakah kau memberinya makan dan tempat tinggal selama beberapa hari? Tolong, jangan beritahukan keberadaannya pada siapa pun."
Lavia segera memasang wajah sedih dan menunduk. "A-aku trauma pada pria... Hikaru adalah satu-satunya yang bisa kuajak bicara."
Melihat akting Lavia yang luar biasa, Paula langsung merasa iba. "Tentu! Aku akan menjaganya seperti adikku sendiri. Kau tidak perlu khawatir, Tuan Hikaru."
Hikaru menyerahkan kantong berisi 10.000 Gilan sebagai "donasi" untuk gereja, yang sebenarnya lebih dari cukup untuk biaya hidup Lavia. Dengan [Imperceptibility] level 3, Lavia seharusnya bisa bersembunyi di lingkungan gereja tanpa menarik perhatian Selyse maupun Sophie.
"Aku mengandalkanmu, Paula."
Baru saja kesepakatan itu tercapai, sebuah kegaduhan besar pecah dari arah alun-alun desa. Suara teriakan warga dan denting senjata mulai bersahutan.
Bencana telah dimulai. Monster dari Hutan Penyesatan akhirnya mencapai batas desa.
Bab: Gelombang Pertama dan Keangkuhan yang Berbahaya
Hutan Penyesatan adalah bagian dari rimba luas yang membentang di barat Cotton-elka. Biasanya, monster di sana hanya berkeliaran secara acak, namun kali ini mereka bergerak dalam kelompok terorganisir menuju desa.
"Ada sekitar seratus ekor. Lebih dari separuhnya hanya kroco: Branch Men, Leaf Monsters, Forest Rats, dan Rogue Bees," lapor Sara dari tim Four Eastern Stars setelah melakukan pengintaian cepat.
Di alun-alun desa, para petualang berkumpul sementara warga desa memperhatikan dari kejauhan dengan wajah putus asa. Hikaru dan Lavia mengamati dari bayang-bayang rumah terdekat, tetap tak terlihat berkat [Group Cloaking].
"Lavia, monster-monster itu hanya peringkat F dan G," bisik Hikaru.
Sara benar menyebut mereka kroco, tapi itu hanya berlaku jika mereka dilawan satu per satu. Dalam jumlah besar, ceritanya berbeda. Selain kroco, Sara juga melaporkan adanya Lesser Basilisk, Woody Bats (Rank E), serta masing-masing satu ekor Treant dan Lost Man yang merupakan monster Rank D.
"Serahkan Treant dan Lost Man pada kami!" seru seorang pria dari kelompok Wild Horn, sebuah party Rank D asal kota Pond. Mereka tampak tersinggung saat Selyse menawarkan bantuan. "Kami di sini menjalankan komisi resmi. Kalian hanya sukarelawan, jangan ikut campur."
Selyse mengalah dengan tenang. Ia justru meminta Paula, Pia, dan Priscilla untuk membantu menenangkan warga desa.
Perselisihan di Balik Garis Depan
Saat menuju pinggiran desa, Pia masih menggerutu. "Laki-laki memang menyebalkan. Sok kuat padahal jauh lebih lemah dari Nona Selyse."
"Jangan pukul rata begitu, Pia," sahut Paula. "Kenapa? Kau membela 'Tuan Hikaru' kesayanganmu itu? Apa hebatnya bocah kering kerontang itu?" "Apa katamu?! Dia menyelamatkan nyawa kita!" "Dia itu mencurigakan, Paula. Bagaimana mungkin gerombolan Goblin lari hanya karena lemparan batu beracun? Dan di gubuk kemarin, bagaimana dia bisa masuk tanpa terlihat? Jangan-jangan dia bersekongkol dengan para bandit itu!"
Wajah Paula memerah padam karena marah, namun Priscilla segera menengahi sebelum mereka terlibat perkelahian fisik. Sementara itu, Hikaru yang mendengar percakapan itu hanya bisa menghela napas.
"Wah, dia benar-benar membenciku," gumam Hikaru. "Kurang ajar sekali," desis Lavia, tampak lebih marah daripada Hikaru sendiri.
Pertempuran di Perbatasan Hutan
Tujuh belas petualang menghadapi gelombang monster di kaki bukit. Tim Wild Horn pamer kekuatan; tiga petarung depan mereka menebas Branch Men dan Leaf Monsters dengan mudah. Abu dari tubuh monster—yang menyisakan kristal sihir kecil—bertebaran di mana-mana.
"Hahaha! Lemah! Ini seperti memungut uang di jalan!" teriak anggota Wild Horn.
Penyihir mereka merapalkan [Flame Wall], menciptakan dinding api setinggi dua meter yang membakar habis monster-monster tumbuhan yang mencoba menyelinap. Hikaru mengakui koordinasi mereka cukup solid untuk ukuran petualang lokal.
Namun, situasi berubah saat mereka memasuki hutan. Sebuah lengan kayu raksasa menghantam keluar—itu adalah Treant. Dari dahan-dahannya, puluhan Woody Bats menyerbu keluar, disusul oleh sepuluh ekor Lesser Basilisk yang mematikan.
"Sial! Mereka terlalu banyak!" maki pemimpin Wild Horn.
Meski terdesak, mereka mencoba taktik serangan balik. Dua petarung menahan gerombolan kecil, sementara penyihir mereka menyiapkan mantra tingkat tinggi.
"Mereka mengulur waktu untuk sihir besar. Tidak buruk," komentar Hikaru. "Apa mereka bisa menang?" tanya Lavia. "Salah langkah. Bukan Treant yang harus mereka waspadai, tapi yang satunya."
[Flame Lance!] sebuah tombak api raksasa meluncur dan menembus Treant hingga terbakar hebat. Anggota Wild Horn bersorak, menurunkan kewaspadaan mereka tepat saat ruang di sekitar mereka mulai terdistorsi.
Tiba-tiba, kaki salah satu petarung ditarik oleh sesosok makhluk ungu raksasa yang seolah muncul dari udara kosong. Itu adalah Lost Man.
Jleg! Sebuah anak panah menancap tepat di lengan makhluk itu, memaksanya melepaskan mangsanya. Itu adalah tembakan presisi dari Sara.
"Hampir saja. Keberuntunganmu besar sekali, ya?" sindir Sara.
Tim Four Eastern Stars akhirnya turun tangan. Sihir angin Serika menyapu bersih Woody Bats, Selyse menangani Lesser Basilisk dengan gerakan pedang yang menyilaukan, sementara Sophie menyembuhkan petualang yang terluka.
"K-Kami di sini menjalankan tugas resmi!" protes anggota Wild Horn yang masih keras kepala. "Tentu, asalkan kalian tidak mati konyol dan membahayakan petualang lain," balas Sara ketus. "Omong-omong, Lost Man itu melarikan diri menggunakan kamuflase setelah terkena panahku. Tetap waspada."
Ronde pertama pertahanan desa berakhir, namun Hikaru tahu ini hanyalah permulaan. Ancaman yang sebenarnya masih bersembunyi jauh di dalam jantung Hutan Penyesatan.
Bab: Penetrasi Sunyi ke Jantung Hutan Penyesatan
Setelah menggunakan kamuflasenya, Lost Man itu bersembunyi di balik batang pohon besar dekat pintu masuk hutan. Ia menunggu dengan sabar. Dua meter di depannya, sebuah kristal elemen berkilau di balik tumpukan abu, sengaja dibiarkan sebagai umpan bagi petualang yang tamak.
Namun, sebelum mangsanya datang, kesadaran makhluk itu terenggut seketika. Sebuah Dagger of Strength menembus punggungnya tepat di titik vital.
"Kamuflase, ya? Lebih mirip manipulasi visual tingkat rendah," gumam Hikaru saat tubuh monster itu luruh menjadi abu. "Aku masih bisa merasakannya dengan jelas lewat [Life] dan [Mana Detection]. Apa benar ini monster Rank D?"
Hikaru memungut kristal biru transparan dari sisa abu tersebut dan memasukkannya ke saku. Ia harus bergegas. Berdasarkan informasi dari Paula, ada jalan setapak yang menghubungkan Cotton-elka langsung ke mulut dungeon.
Tiga jam perjalanan membawanya menembus rimba lebat hingga ia berhadapan dengan dinding dahan yang saling melilit. Inilah pintu masuk Hutan Penyesatan. Lorong selebar lima meter itu menurun landai dengan pencahayaan yang aneh; meski berada di bawah tanah, dedaunan di langit-langit memancarkan pendar cahaya yang menyerupai sinar matahari.
"Dungeon... Akhirnya, dungeon pertamaku!"
Hikaru tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Sebagai mantan pemain gim, melangkah ke dalam labirin nyata seperti ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Namun, ia segera tersadar akan bahayanya. Dinding lorong yang terbuat dari dahan semi-transparan membuat persepsi jaraknya terganggu—sebuah efek tipu daya yang sesuai dengan nama tempat ini.
Uji Coba Senjata Baru
Hikaru memeriksa perlengkapan barunya dari bengkel Leniwood. Ia memiliki 2 poin pada [Projectile]. Untuk memaksimalkannya, ia menyimpan dua belas pisau lempar tersembunyi di balik jubahnya. Pisau-pisau itu seukuran pulpen, didesain menyerupai suntetsu agar ringan namun tetap memiliki daya tembus yang mematikan.
Tepat saat itu, segerombolan Lesser Basilisk berlari melintasi lorong. Hikaru melempar pisaunya dengan presisi.
Jleg! Pisau itu menembus mata sang Basilisk hingga tembus ke belakang kepala. Monster itu langsung tumbang dan berubah menjadi abu.
"Serangan kritikal?"
Hikaru menganalisis kemampuannya. Poin [Assassination] miliknya sudah maksimal (level 3), yang memberikan efek letal pada serangan kejutan. Namun, ia menyadari bahwa buff Assassination mungkin tidak berlaku untuk serangan jarak jauh karena ada skill terpisah bernama [Sharpshooter] yang belum ia ambil. Artinya, kekuatan lemparannya barusan murni hasil dari kombinasi poin [Projectile] dan [Muscle Strength].
Selain pisau lempar dan belati kekuatan, Hikaru memegang satu senjata "khusus" di pinggangnya. Sebuah senjata buatan Leniwood yang bentuknya lebih mirip granat tangan dengan pegangan lebar dan pin pengaman, namun sebenarnya berfungsi sebagai pisau mekanis.
Anomali di Kedalaman
Hikaru terus turun ke lantai dua. Pencahayaan masih terang benderang. Ia teringat bahwa dungeon pada dasarnya adalah tanaman pemakan manusia; ia menciptakan lingkungan yang nyaman agar para petualang terpikat masuk ke dalamnya. Terang hingga lantai empat, namun gelap total di lantai lima—tempat para petualang biasanya tewas karena monster memiliki keunggulan di dalam kegelapan.
"Kenapa jumlah monsternya sedikit sekali? Apa mereka benar-benar sudah keluar semua?"
Sepanjang jalan, Hikaru menghabisi beberapa Lost Man dan Treant yang ia temui, namun ia menghindari kerumunan Evil Eye agar kehadirannya tetap rahasia. Ia juga menyadari sesuatu yang aneh saat memeriksa Soul Board-nya.
"Peringkat jiwaku tidak naik sama sekali sejak masuk ke sini. Apakah membunuh monster buatan dungeon tidak memberikan poin pengalaman?"
Pertanyaan itu menggantung di benaknya. Jika benar begitu, maka melakukan grinding di dalam sini adalah kesia-siaan. Saat ia sedang menimbang langkah selanjutnya, tiba-tiba...
BUM!
Tanah di bawah kakinya bergetar hebat. Sebuah guncangan besar melanda seluruh struktur dungeon, seolah ada sesuatu yang sangat masif sedang bangkit dari kegelapan terdalam.
Bab: Teror dari Langit dan Koridor Akar yang Sunyi
Hikaru mematung, matanya menyisir sekeliling dengan waspada. Sebuah kehadiran masif dan mengerikan—sesuatu yang belum pernah ia temui sebelumnya—mulai mengusik insting dasarnya. Ini bukan sekadar deteksi teknis; ini adalah alarm purba yang berteriak di dalam kepalanya. Aura itu begitu menyesakkan, seolah-olah oksigen di sekitarnya tersedot habis.
Tiba-tiba, suara deru yang memekakkan telinga terdengar, mirip mesin pesawat tempur yang melintas rendah. Sebuah entitas melesat dari kedalaman tanah, menembus lantai dua tempat Hikaru berada, dan meluncur lurus ke angkasa luar.
"Fuuuh..." Hikaru menyeka keringat dingin di dahinya.
Monster itu berada di level yang sama sekali berbeda dari Lost Man atau Treant. Yang lebih buruk, monster itu telah lepas dari dungeon dan kini menguasai langit. Tanpa alat komunikasi untuk memperingatkan Lavia, Hikaru hanya bisa berharap desa tidak menjadi sasarannya. Targetnya kini jelas: Dungeon Master harus mati secepat mungkin.
Vonis Mati untuk Wyvern
Belum sempat ia mengatur napas, tanah kembali bergetar. Sesosok monster setinggi lima meter muncul, kepalanya nyaris menyentuh langit-langit lorong. Perutnya belang merah-kuning dengan punggung bersisik cokelat keras.
[Lesser Wyvern] — Peringkat C.
Meski menyandang nama "Lesser", monster ini adalah mimpi buruk bagi petualang biasa. Sisiknya sekeras baja dan ia mampu menyemburkan bola api. Namun, Hikaru tetap tenang. Ia sudah melihat gaya bertarung tim Bintang Timur, dan itu memberinya gambaran tentang batas kekuatan peringkat C.
Wyvern itu meraung, namun tiba-tiba tersungkur hebat. Pergelangan kakinya robek bersimbah darah. Sebelum ia sempat bangkit, sebuah belati sudah tertancap dalam menembus otaknya.
Jika dia bisa jatuh, bilahku bisa menjangkaunya. Dan jika aku bisa menjangkaunya, [Assassination] akan menyelesaikan sisanya.
Tubuh raksasa itu luruh menjadi abu, menyisakan sebuah permata merah seukuran jempol di tumpukan sisa jasadnya.
"Jadi, membunuh monster dungeon tetap menaikkan Soul Rank. Hanya butuh kuantitas yang lebih besar," gumam Hikaru saat merasakan aliran kekuatan baru meresap ke jiwanya.
Kekhawatiran sang Resepsionis
Di kota Pond, malam telah larut. Freya berdiri sendirian di balik meja konter guild yang sudah tutup. Pikirannya tertuju pada bocah berambut hitam yang baru saja memulai debutnya sebagai petualang Rank G.
"Dia tidak muncul hari ini... Hikaru tidak datang."
Freya tahu Hikaru mengenal Paula dan pernah menyelamatkannya. Ketakutan bahwa bocah itu nekat menyusul ke Cotton-elka terus menghantuinya. Meski tim legendaris Four Eastern Stars sudah menuju ke sana, firasat buruk Freya tetap tidak bisa diredam.
Lantai Keempat: Eksekutor dalam Bayangan
Hikaru terus memacu langkahnya menembus malam. Di lantai tiga dan empat yang disebut Wood Floors, ia bertemu dengan [Executioner], monster Rank C setinggi tiga meter dengan lengan berupa bilah pedang yang sangat tajam. Rambutnya yang gimbal dan berantakan memberikan kesan horor yang pekat.
Namun, di depan [Stealth] level maksimal, si Eksekutor hanyalah patung bernapas. Hikaru menusuk tepat di pusat mana yang terdeteksi di dadanya. Satu serangan, satu nyawa.
Setelah membantai beberapa Wyvern dan Eksekutor, peringkat jiwanya kembali naik. Hikaru segera mengalokasikan poinnya:
[Life Cloaking]: 4 Poin
[Mana Cloaking]: 4 Poin
Keamanan adalah prioritas utama. Ia harus memastikan keberadaannya benar-benar tidak terdeteksi oleh radar mana apa pun.
Lantai Kelima: Makam yang Terlupakan
Akhirnya, Hikaru tiba di lantai kelima—Root Floor. Ini adalah titik terdalam yang pernah dicapai petualang sejauh ini. Lorongnya gelap gulita, memaksa Hikaru menyalakan lampu ajaib.
Cahaya lampu itu mengungkap sebuah pemandangan pilu: dua kerangka petualang yang bersandar di dinding tanah. Salah satunya mengenakan baju besi, yang lain jubah kulit. Mereka tampak sudah mati bertahun-tahun yang lalu, tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain.
"Mereka berhasil kembali sampai ke sini, tapi kehabisan tenaga tepat sebelum mencapai tangga naik..."
Melihat dua jasad yang tak pernah ditemukan itu, Hikaru teringat akan dirinya dan Lavia. Jika ia gagal, mungkinkah mereka akan berakhir seperti ini? Tanpa mengambil barang-barang milik jenazah tersebut, Hikaru mempercepat langkahnya, menembus kegelapan menuju jantung terdalam yang belum pernah dijamah manusia.
Bab: Dilema di Cotton-elka — Ladang Tomat atau Nyawa?
Strategi pertahanan di Cotton-elka telah bergeser. Tim Four Eastern Stars mengambil alih komando, memerintahkan para petualang untuk membabat dan membakar rumput tinggi di sekitar desa demi memperluas jarak pandang. Namun, upaya itu hanya meredam kecemasan sesaat.
Serangan monster kini terjadi setiap jam. Sara terus melaporkan pergerakan Lost Men dan Treant yang merangkak keluar dari kegelapan hutan. Selyse, yang biasanya melempar senyum tenang, kini memasang wajah kaku. Gemuruh bumi dan raungan dari kejauhan menandakan bahwa sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang mendekat.
Pia dan Ambisi yang Salah Arah
Di tengah ketegangan itu, Paula mengamati kedua temannya. Pia terus bersikeras ingin membantu di garis depan, namun Selyse tak pernah mengizinkannya. Sebaliknya, Priscilla sesekali dipanggil untuk membantu karena keahlian memanahnya sangat dibutuhkan.
"Pia... dia tidak mengerti," batin Paula sedih. Pia tak menyadari bahwa Selyse hanya ingin melindunginya dari maut. Lebih buruk lagi, motivasi Pia telah bergeser; ia bukan lagi ingin menyelamatkan desa, melainkan haus akan pengakuan dari sang idola, Selyse.
"Hanya luka kecil," cetus Pia bangga saat Paula menatap perban di lengannya. Paula menghela napas, curiga apakah Pia sengaja membiarkan dirinya terluka hanya agar Selyse memberikan perhatian.
Benturan Ego di Alun-Alun Desa
"Kita harus segera evakuasi," ajak Paula pada Pia dan Priscilla. Setelah mereka setuju, mereka menemui kepala desa—ayah Pia—yang sedang berdiri di depan gereja.
"Ayah! Kita harus evakuasi sekarang!" seru Pia tanpa basa-basi.
Paula memijat pelipisnya. Salah besar, Pia! Cara itu tidak akan berhasil pada pria sekeras batu sepertinya.
Benar saja, sang kepala desa mendengus sinis. "Kaukira kau sudah pintar setelah merantau? Sekarang kau pulang hanya untuk menyuruh kami membuang desa ini? Dunia pasti sudah gila."
"Tapi monster-monster itu terus berdatangan!" Pia membalas dengan nada tinggi. "Kalau kalian tetap di sini, kalian hanya akan menjadi beban bagi Nona Selyse!"
"Jadi begitu? Selyse yang agung itu menganggap kami beban?" suara kepala desa meninggi. "Kalian bicara seolah membunuh monster adalah cara mudah mencari uang. Panggil saja petualang lain yang haus koin ke sini!"
Paula mencoba menengahi. "Kepala desa, tolong dengarkan. Kerajaan dan militer tidak akan datang membantu. Kita tidak bisa terus bertarung selamanya tanpa akhir."
Tatapan pria tua itu meredup, penuh kepahitan. Pajak Kerajaan Ponsonia mencapai 55%, sangat mencekik untuk desa terpencil yang hanya mengandalkan tomat kering. Pemerintah mengabaikan mereka, namun warga tetap terikat pada tanah leluhur.
"Bagaimana mungkin kami meninggalkan ladang yang telah diolah kakek dan nenek kami selama turun-temurun? Kami ini petani tomat. Inilah hidup kami."
Sang kepala desa berbalik pergi, menutup pintu diskusi.
Keputusasaan yang Pecah
"Dasar keras kepala!" gerutu Pia. "Aku tidak sudi mati di tempat ini."
"Pia!" Paula mencengkeram lengan Pia dengan kuat. "Bagaimana bisa kau bicara begitu?! Ayahmu sedang hancur hatinya! Kau tahu dia sedang bicara tentang kematian, bukan sekadar ladang!"
"Paula... itu sakit..."
"Kita harus menghadapi kenyataan! Kita adalah petualang, kita harus memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk tempat ini, bukan hanya memikirkan harga diri!"
Priscilla menyentuh tangan Paula. "Kau meremas lukanya."
Paula tersentak dan melepaskan cengkeramannya saat melihat cairan merembes dari balik perban Pia. Air mata Paula jatuh. Rasa frustrasi, kelelahan, dan rasa takut tumpah seketika.
"M-maaf... aku perlu mendinginkan kepala."
Tanpa memedulikan panggilan Pia, Paula berlari menuju pintu belakang gereja—rumahnya sendiri. Namun, langkahnya terhenti sesaat saat menyadari pintu belakang yang biasanya terkunci kini sedikit terbuka. Mengabaikan firasat buruknya, ia terus berlari masuk ke dalam kamarnya untuk menumpahkan tangisnya.
Bab: Percikan Api Rahasia dan Bayang-Bayang Keputusasaan
"Apa yang telah kulakukan?"
Paula merutuki dirinya sendiri. Ia yang meminta Pia membujuk ayahnya, namun ia juga yang lepas kendali saat rencana itu gagal. Ia merasa menjadi teman yang buruk. Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Sarapan sudah siap," suara lembut ayahnya memanggil. "Ayo ke ruang makan."
Paula merasa bersalah karena telah menjadi petualang tanpa izin, namun ayahnya menyambutnya seolah ia hanya pergi ke pasar. Saat keluar kamar, ayahnya menatap mata Paula yang sembab.
"Ini bukan apa-apa, Ayah," kilah Paula.
Ayahnya, seorang pastor kurus dengan rambut hijau yang mulai memutih, tersenyum hingga kerutan di matanya mendalam. "Kau tampak jauh lebih dewasa sejak meninggalkan desa ini beberapa bulan lalu. Apa kau bertemu seseorang yang istimewa?"
Wajah Hikaru terlintas seketika. "Apa?! Itu... maksudku..."
"Ah, dugaanku benar," ayahnya mendorong pelan pundak Paula menuju dapur. "Sup tomatnya akan dingin. Ayo makan."
Tanpa mereka sadari, Lavia mengawasi interaksi hangat itu dari balik sudut lorong dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rahasia di Sisi Timur
Di tenda khusus milik tim Four Eastern Stars, Sara baru saja melepaskan seluruh perlengkapannya dan melompat ke tumpukan selimut hanya dengan pakaian dalam. Serika, sang penyihir berambut hitam, menatapnya dengan kesal.
"Sara! Kau bilang kau lelah, tapi kau bisa terjaga tiga hari tiga malam!" "Itu kalau terpaksa. Sekarang aku mengantuk," gumam Sara.
"Dan pakai bajumu! Payudaramu memang kecil, tapi lekukan pinggulmu itu... menyebalkan untuk dilihat!" seru Serika, yang merasa kalah secara fisik.
Namun, pembicaraan berubah serius saat Sara menceritakan hasil pengintaiannya di sisi timur desa yang selama ini terabaikan karena dianggap berlawanan arah dengan dungeon.
"Ada bekas pembakaran besar di sana. Setidaknya ada lima titik. Tumpukan abunya sebesar Treant," ujar Sara, kini terduduk tegak. "Apa?! Aku tidak pergi ke timur! Dan aku tidak akan memakai sihir api jika tidak diminta, apalagi angin sedang bertiup ke arah desa!" balas Serika panik.
Keduanya saling pandang. Mereka segera berlari menuju perbatasan timur dan menemukan lingkaran hangus berdiameter sepuluh meter.
"Ini jelas sihir elemen api," analisis Serika. "Kekuatannya setara penyihir Rank D, atau bahkan Rank B jika dia bisa merapalkannya berturut-turut tanpa jeda."
"Ada Penyihir Elemen rahasia di desa ini," bisik Sara waspada. "Dia membunuh monster-monster yang mencoba menyelinap dari belakang. Dia sekutu kita... tapi kenapa dia bersembunyi?"
Misi Mandiri Lavia
Dari balik sebuah batu besar, Lavia mengawasi kepulangan Sara dan Serika. Mereka akhirnya sadar, pikirnya.
Ternyata, selama dua malam terakhir, Lavialah yang berpatroli sendirian di sisi selatan dan timur desa. Menggunakan [Stealth], ia membakar setiap monster yang mendekat sebelum mereka sempat menyadari keberadaannya. Ia bahkan mengumpulkan kristal sihir mereka sebagai tambahan modal untuk Hikaru.
Lavia menguap lebar. Kelelahan mulai menyerangnya. Karena Sara sudah menyadari celah di sisi timur, ia merasa bisa beristirahat sejenak. Ia menyelinap kembali ke kamarnya di gereja dan tertidur lelap tepat saat matahari mencapai puncaknya.
Kedatangan Sang Penguasa Langit
Siang itu, suasana desa tampak tenang namun mencekam. Para petualang makan siang sambil menghitung jatah pembagian harta dari hasil buruan Wyvern. Namun, ketenangan itu hancur dalam sekejap.
DUUAARR!
Udara seolah meledak. Suara menderu yang jauh lebih keras dari badai mana pun jatuh dari langit. Sebuah bayangan raksasa menutupi seluruh desa Cotton-elka, membuat monster-monster yang mereka lawan sebelumnya tampak seperti mainan belaka.
Selyse menatap ke langit dengan wajah pucat. Sophie, Sara, dan Serika segera berdiri di sampingnya dalam formasi tempur penuh. Paula, Pia, dan Priscilla keluar dari rumah dengan tubuh bergetar. Bahkan Lavia yang baru saja terlelap langsung melompat bangun dan berlari ke pintu belakang gereja.
Warga desa mematung. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Di hadapan teror yang begitu absolut, manusia kehilangan kemampuan untuk bersuara.
Ini bukan lagi pertahanan desa. Ini adalah Keputusasaan.
0 Comments