Jantung dari Kerajaan Ponsonia adalah ibu kota G. Ponsonia. Di kota berpenduduk 250 ribu jiwa ini, mayoritas warga sipil menghuni Distrik Residensial Kedua, sementara Distrik Residensial Pertama yang berada di pusat kota dipenuhi oleh rumah-rumah megah para bangsawan. Dan tepat di tengah segalanya, berdiri angkuh kastil kerajaan yang begitu luas hingga butuh waktu tiga jam untuk mengelilinginya.
Di lapangan parade kecil dalam kastil, seorang pria telah mengayunkan pedang besar sepanjang dua meter sejak fajar menyingsing. Rambut pirang cepak, otot-otot yang mengeras, serta bekas luka yang menghiasi tubuhnya memberikan aura prajurit sejati, meski tatapannya tetap tenang. Ia adalah Lawrence D. Falcon, Panglima Ksatria Ponsonia.
"Apakah kau sudah merasa lebih baik?"
Seorang gadis berjalan menyusuri jalan setapak yang diterangi sinar matahari pagi. Lawrence segera meletakkan pedangnya dan berlutut satu kaki.
"Tetaplah pada posisimu," ujar gadis itu. "Saya tidak bisa menunjukkan penampilan yang tidak sopan di hadapan Anda." "Dan aku katakan, itu tidak apa-apa." "Sesuai perintah Anda."
Lawrence bangkit dan menatap sang gadis. Rambut oranyenya yang panjang dan bergelombang berkilau tertimpa cahaya pagi. Mata amatisnya memancarkan kecerdasan yang dalam. Gaun biru langit dengan renda pleat yang sedang tren tampak sangat serasi bagi sang gadis yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun.
"Aku senang melihatmu sudah bisa bergerak lagi," ucapnya. "Itu adalah satu-satunya anugerah bagi saya saat ini."
Hanya segelintir orang yang tahu tentang kekalahan Lawrence di tangan "bandit muda". Di mata publik, Lawrence adalah sang Sword Saint, simbol kekuatan militer Ponsonia. Pihak kerajaan percaya bahwa berita kekalahannya—terutama oleh seorang bocah—akan menghancurkan martabat bangsa.
"Anda sendiri tampak sehat, Putri Kujastria." "Aku hanya menjalani rutinitas yang membosankan setiap hari," jawabnya dengan senyum sarkastik.
Kujastria G. Ponsonia adalah seorang putri kerajaan. Karena kakaknya, Austrin, adalah putra mahkota, ia ditakdirkan untuk pernikahan politik. Faktanya, ia dianggap sudah "terlambat" menikah di usia tujuh belas tahun.
Intrik di Balik Pengabaian Dungeon
"Tinggalkan kami," perintah Kujastria kepada para pengawalnya. Setelah mereka menjaga jarak, ia menatap Lawrence dengan serius.
"Panglima, berita tentang Hutan Penyesatan tiba kemarin. Kau sudah mendengarnya?" "Benar, Putri. Dungeon Overflow. Apakah pasukan akan dikerahkan?" "Justru sebaliknya." "Apa...?"
"Tadi malam, Ayahanda memutuskan untuk mengabaikannya. Ia berpendapat bahwa monster yang keluar memang berbahaya, namun karena tidak ada kota besar di sekitarnya, jumlah mereka akan berkurang dengan sendirinya seiring waktu."
Lawrence mengerutkan kening. "Itu aneh. Saya dengar ada pemukiman warga di dekat sana." "Ya. Desa Cotton-elka." "Lalu apa yang akan terjadi pada mereka?" "Mereka hanya akan diminta untuk evakuasi mandiri."
Lawrence mengerang pelan. Ia paham mengapa Kujastria menemuinya secara pribadi. Sang Putri tidak setuju dengan keputusan ayahnya. Kujastria adalah gadis yang berhati emas; ia tahu rakyat adalah pilar negara, namun ia terpaksa bergerak di balik bayang-bayang agar tidak menyinggung putra mahkota dan memicu perang saudara.
"Jika ksatria tidak dikerahkan, apakah Guild Petualang yang akan menanganinya?" tanya Lawrence. "Tidak. Kita tidak bisa membiarkan petualang tingkat tinggi pergi ke sana. Ayahanda sedang mempersiapkan perang besar melawan Kekaisaran Quinbrand."
Inilah alasan sebenarnya. Raja berambisi menghancurkan Kekaisaran Quinbrand sepenuhnya saat waktunya tiba. Semua kekuatan militer dan petualang peringkat atas sedang ditahan untuk mobilisasi perang. Bahkan pernikahan Kujastria pun ditunda hingga aneksasi kekaisaran berhasil dilakukan demi meningkatkan nilai tawarnya.
"Ayahanda mulai bertindak aneh belakangan ini," bisik Kujastria. "Putri, Anda tidak seharusnya bicara begitu—" "Obsesinya pada putri Count Morgstadt, pengabaiannya terhadap rakyat kecil... apakah perang dengan Kekaisaran benar-benar akan membawa masa depan cerah?"
Lawrence tidak punya jawaban. Kujastria hanyalah burung dalam sangkar emas. Ia tidak diizinkan keluar kastil dan suaranya tidak akan didengar oleh siapa pun kecuali oleh sang Panglima yang setia.
Analisis Situasi Terkini
Keputusan Raja untuk mengabaikan Dungeon Overflow menciptakan celah besar:
Cotton-elka Terisolasi: Tanpa bantuan militer, desa tersebut hanya bergantung pada evakuasi yang terlambat atau bantuan petualang sukarela.
Lavia & Hikaru: Karena para petualang peringkat atas ditahan untuk persiapan perang, ini adalah kesempatan bagi petualang peringkat bawah atau individu "bayangan" seperti Hikaru untuk bergerak tanpa pengawasan ketat.
Ambisi Raja: Obsesi Raja terhadap Lavia (putri Count) menunjukkan bahwa pencarian terhadap Lavia tidak akan pernah berhenti.
Akankah Hikaru segera mendengar kabar tentang pengabaian desa Cotton-elka ini dari Freya? Dan apakah ia akan menggunakan kemampuannya untuk menyelamatkan penduduk desa sekaligus menaikkan levelnya di tengah kekosongan kekuasaan ini?
Satu hal yang pasti, keputusan politik di ibu kota baru saja menjatuhkan hukuman mati bagi warga Cotton-elka—kecuali jika ada "faktor tak terduga" yang datang membantu.
Bab: Keputusan Pahit dan Perburuan di Hutan Terlarang
"Raja kepala batu itu!" maki Unken.
"Astaga," gumam Gloria terkejut. "Saya rasa itu sedikit keterlaluan, Tuan Unken."
"Apa? Mereka mau menangkapku karena tidak menghormati bangsawan? Silakan saja. Kau hanya bisa menghormati seseorang yang layak dihormati. Ketidakefektifan macam apa ini?!"
Mereka berada di ruang khusus staf Guild. Unken mengetuk dokumen di meja dengan geram. Dokumen itu berisi keputusan resmi untuk mengabaikan desa Cotton-elka, yang dikirim melalui transmisi sihir jarak jauh. Keputusan kerajaan sudah bulat: militer tidak akan dikerahkan.
Pilihan Para Pemula
Di lantai satu, suasana mencekam. Pippin, Freya, Paula, Pia, dan Priscilla menunggu dengan cemas. Saat Unken turun dan mengumumkan bahwa militer tidak akan datang, tangis dan kemarahan pecah.
"Jadi mereka membuang kami begitu saja?!" bentak Pia. "Ladang tomat itu... butuh waktu puluhan tahun untuk menggarapnya!"
"Nyawa manusia lebih berharga daripada ladang," jawab Unken dingin.
"Aku tahu itu! Tapi kenapa mereka tidak membantu?! Bukankah tentara ada untuk melindungi rakyat?!" Pia hampir saja melayangkan tinjunya jika tidak ditahan oleh Paula. "Kalau begitu, aku sendiri yang akan membunuh monster-monster itu."
"Pia, jangan gila! Kalian hanya Rank G!" seru Freya panik. "Hutan Penyesatan hanya boleh dimasuki oleh Rank E ke atas!"
"Aku tidak akan masuk ke dalam dungeon. Aku hanya akan melindungi Cotton-elka. Paula, Priscilla... bagaimana dengan kalian?"
Paula melihat jari-jari Pia gemetar. Sahabatnya itu ketakutan, namun matanya memancarkan tekad. "Aku ikut bersamamu," jawab Paula tanpa ragu. "Aku juga," tambah Priscilla pelan namun pasti.
Ketiganya melangkah keluar dari Guild, mengabaikan teriakan Freya. Unken hanya bisa menghela napas. Baginya, mereka hanyalah gadis-gadis yang sedang menuju bunuh diri, namun ia tidak punya hak hukum untuk menghentikan petualang yang ingin bertindak atas kemauan sendiri.
Unken segera memerintahkan Gloria untuk mengeluarkan komisi khusus: lima petualang untuk tempur dan sepuluh untuk pengawalan evakuasi. Hanya itu anggaran yang tersisa. Jumlah yang sangat tidak memadai untuk menghadapi sebuah Dungeon Overflow.
Grinding Level di Hutan Jauh
Di belahan hutan yang berbeda, sebuah sosok raksasa setinggi tiga meter tumbang dengan suara dentuman keras. Forest Barbarian—sang penjaga hutan berkulit hijau—tewas seketika.
"Bagaimana?" tanya Hikaru. Lavia menghela napas panjang, tangannya menyentuh dada. Ia merasakan sensasi geli yang meluap dari dalam dirinya, seolah kekuatannya baru saja meluap. "Kurasa... naik."
"Hmm... Rank 8. Kau mulai dari Rank 6, jadi sudah naik dua tingkat. Target kita adalah Rank 11, ayo lanjut," ujar Hikaru.
Selama dua hari, Hikaru membawa Lavia berburu di wilayah monster Rank D. Hikaru menggunakan [Stealth] untuk menyelinap ke belakang raksasa-raksasa itu dan menusuk tulang belakang mereka dengan satu serangan fatal. Lavia hanya perlu berdiri di dekatnya untuk menyerap energi kematian monster dan menaikkan Soul Rank-nya.
Hikaru sengaja tidak kembali ke Guild Petualang selama masa ini. Untuk menghindari kecurigaan Gloria dan Freya, ia menjual bagian-bagian monster kepada pedagang keliling di pinggir danau atau melalui Thieves Guild—organisasi bawah tanah di gorong-gorong kota Pond yang melayani transaksi pasar gelap tanpa banyak tanya.
Targetnya jelas: menaikkan Soul Rank Lavia hingga level 11 agar ia bisa mengalokasikan poin ke kemampuan [Stealth]. Hanya dengan begitu Lavia bisa berjalan di siang bolong tanpa terdeteksi oleh ksatria kerajaan atau informan Guild.
Status Terkini:
Lavia: Soul Rank 8 (Menuju target Rank 11).
Cotton-elka: Dalam kondisi kritis. Paula dan kawan-kawan sedang menuju desa yang terancam hancur.
Hikaru: Masih fokus pada penguatan Lavia, belum mengetahui bahwa teman-teman "kenalannya" sedang berada dalam bahaya maut.
Apa yang akan terjadi ketika Hikaru akhirnya kembali ke kota dan menyadari bahwa Paula—gadis yang pernah ia selamatkan—sedang menuju medan perang yang mustahil dimenangkan? Apakah poin yang ia kumpulkan untuk Lavia akan cukup untuk mengubah hasil di Cotton-elka?
Bab: Negosiasi Bawah Tanah dan Intuisi yang Tajam
"Ini lumayan juga," ujar Kelbeck, tampak puas melihat barang-barang yang dibawa Hikaru.
Kepala Thieves Guild (Serikat Pencuri) di kota Pond itu memiliki rambut merah cepak dan tato api besar di wajahnya. Tubuh kekarnya yang terbungkus kemeja tebal dan sepatu bot tinggi memberikan aura tentara bayaran veteran, namun Hikaru sama sekali tidak gentar.
"Berapa kau mau bayar?" tanya Hikaru langsung. "Mari kita lihat... 15.000 Gilan." "Kau bercanda. Aku tahu kuncup Black Moonflower saja laku 20.000 Gilan. Ditambah ramuan obat lain dan Honey Crystal dari sarang Rogue Bee, ini setidaknya bernilai 30.000 Gilan."
Negosiasi berlangsung alot. Kelbeck mencoba berdalih bahwa pasar sedang kelebihan stok, namun Hikaru membalas dengan informasi medis spesifik mengenai khasiat tanaman tersebut untuk penyakit ginjal. Akhirnya, mereka sepakat di angka 22.000 Gilan.
"Deal. Aku hanya tidak ingin menarik perhatian, bukan sedang melakukan sesuatu yang ilegal," ucap Hikaru. Kelbeck meletakkan kantong kulit berisi koin emas dan perak di meja. "Ambil ini. Ada bonus 2.000 Gilan karena kau memberitahuku khasiat bunga itu. Dari mana bocah sepertimu belajar hal-hal medis sespesifik itu?"
"Aku punya teman yang ahli sihir dan tanaman obat. Tapi dia sudah mati," jawab Hikaru dengan senyum kecut, merujuk pada memori Roland yang kini menyatu dengannya.
Goyahnya Kedok Sang Pencuri
Suasana mendingin saat Kelbeck tiba-tiba bertanya, "Ngomong-ngomong, bagaimana kinerja aktor yang kukirim?"
Hikaru terdiam. Kelbeck merujuk pada pria yang ia sewa untuk menghentikan kereta kuda saat misi penyelamatan Lavia. Itu adalah langkah pencegahan agar pelarian mereka benar-benar tanpa cela.
"Aku dengar ada gadis yang menghilang tanpa jejak dari kereta itu," lanjut Kelbeck. "Menarik. Bagaimana dia bisa kabur tanpa ada yang sadar? Mirip dengan seseorang yang pernah menyelinap ke kantorku tanpa anak buahku sadar. Kebetulan yang luar biasa, bukan?"
Hikaru menatap tajam Kelbeck. Ia sudah bersiap mengaktifkan [Stealth] dan menghunus belatinya. Kelbeck adalah satu-satunya orang yang bisa menghubungkan Hikaru dengan Lavia.
"Tenanglah. Jangan menatapku seolah ingin membunuhku. Aku hanya bercanda," Kelbeck mengangkat tangan, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia menyadari bahwa bocah di depannya ini jauh lebih berbahaya dari penampilannya.
Setelah ketegangan mereda, Kelbeck menawarkan beberapa Magic Item ilegal hasil karya muridnya: alat sihir tanah untuk melubangi dinding, peledak kombinasi api dan angin, hingga alat penyembuh hasil suap pada pendeta. Hikaru tertarik; ia butuh senjata ofensif setelah menyadari betapa lemahnya serangan fisiknya saat melawan Lawrence sang Sword Saint.
Kabar dari Hutan Penyesatan
Kesibukan mempersiapkan senjata baru dan berurusan dengan Leniwood—si Elf pembuat senjata—membuat Hikaru baru kembali ke Guild Petualang pada sore hari berikutnya. Ia terkejut melihat Guild yang jauh lebih sepi dari biasanya.
"Ke mana semua orang?" tanya Hikaru pada Freya. "Hikaru! Ke mana saja kau dua hari ini? Aku pikir kau ikut ke Cotton-elka." "Cotton-elka? Ada apa di sana?"
Freya menjelaskan tentang bencana Dungeon Overflow di Hutan Penyesatan. Hikaru mendengarkan dengan saksama, ingatannya tentang buku-buku yang ia baca segera terhubung.
"Begitu ya... Kerajaan memilih mengabaikan dungeon buatan Dungeon Master itu karena mereka sedang mengincar sesuatu yang lebih berharga: perang dengan Kekaisaran, kan?" "Aku tidak berkomentar soal itu!" seru Freya panik, yang justru mengonfirmasi tebakan Hikaru.
Namun, satu hal yang membuat Hikaru benar-benar terusik adalah kabar tentang teman-temannya. "Satu pertanyaan terakhir. Paula dan teman-temannya sudah berangkat?" "Iya. Mereka berangkat kemarin siang dengan kereta pos."
Hikaru terdiam. Paula, Pia, dan Priscilla—tiga gadis pemula Rank G—pergi menuju pusat bencana yang bahkan dihindari oleh militer kerajaan.
"Terima kasih, Freya."
Hikaru berbalik pergi dengan langkah cepat. Freya masih ingin menahannya agar tidak melakukan hal bodoh, namun Hikaru sudah menghilang di antara kerumunan. Bagi Hikaru, ini bukan lagi sekadar soal menaikkan level. Ini adalah soal membayar utang budi pada Paula yang pernah ia selamatkan, sekaligus melindungi satu-satunya "kenalan" yang ia miliki di dunia yang asing ini.
Status Hikaru:
Persediaan: 24.000 Gilan (dari penjualan material gelap) + pesanan senjata baru dari Leniwood.
Informasi: Tahu tentang rencana perang kerajaan dan pengabaian Cotton-elka.
Misi Baru: Menuju Cotton-elka untuk menyusul Paula dkk.
Akankah Hikaru membawa Lavia ikut serta dalam misi berbahaya ini? Ataukah ia akan menggunakan senjata barunya untuk menyapu bersih monster dungeon tanpa ada yang menyadari kehadirannya?
Bab: Kesalahpahaman Lavia dan Perjalanan Terjal Tiga Gadis
"Jadi, begitulah situasinya," ujar Hikaru setibanya di hotel. "Kau mendengarkan?"
Lavia perlahan menampakkan diri dari udara kosong—efek dari kemampuan [Stealth]. Berkat poin yang dialokasikan Hikaru ke dalam [Imperceptibility] level 3, Lavia kini bisa berjalan di keramaian tanpa disadari orang biasa.
"A-aku dengar," jawab Lavia pelan. "Rasanya aneh... tidak ada yang menyadari keberadaanku. Sedikit kesepian."
"Sembunyi-sembunyi memang jalan yang sunyi," balas Hikaru. "Tapi kau merasa lebih aman, kan?"
Lavia mengangguk, namun wajahnya tampak mendung. Hikaru mencoba mengalihkan pembicaraan ke masalah Hutan Penyesatan, tapi Lavia justru memberikan pertanyaan yang tak terduga.
"Apa kau... ingin membantu mereka? Apa kau menyukai gadis seperti Paula?"
Hikaru tertegun. "Apa?"
"A-aku sudah bilang akan memberikan segalanya padamu, tapi aku butuh persiapan mental. Maksudku, Paula itu cantik, jadi aku mengerti kalau kau—"
"Dia sama sekali bukan tipeku," potong Hikaru datar.
Hikaru akhirnya menyadari bahwa Lavia sedang merasa cemas. Setelah kehilangan segalanya dan kini bergantung sepenuhnya pada Hikaru, ia takut posisinya tergantikan. Hikaru berjongkok di samping Lavia yang sedang bersembunyi di balik telapak tangannya karena malu.
"Tenanglah. Aku mencintaimu. Aku peduli pada Paula murni sebagai sesama manusia. Aku akan melakukan hal yang sama meski dia seorang pria."
Lavia mengerang malu sambil berjongkok. Hikaru mengusap punggungnya pelan. Di dalam hatinya, ia berpikir bahwa Paula memang "berbeda"—ada sesuatu yang ganjil dari gadis itu yang membuatnya merasa tidak nyaman jika harus menjalin hubungan lebih jauh.
Realitas Pahit di Jalur Menuju Cotton-elka
"Hasyiii!" Paula bersin keras.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Priscilla.
Ketiga gadis itu sedang meringkuk di dalam kamar penginapan murah yang dingin dalam perjalanan pulang. Uang mereka hampir habis karena harus membayar kereta pos dan biaya hidup. Mereka yang awalnya meninggalkan desa dengan mimpi besar menjadi petualang hebat, kini harus pulang dalam kondisi darurat tanpa membawa hasil apa pun.
Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena tidak ada kereta yang menuju desa terpencil seperti Cotton-elka.
"Ada musuh di kiri," bisik Priscilla tajam. Sebagai putri pemburu, instingnya sangat kuat.
Pia segera mengangkat perisai besarnya dan menggenggam sebuah mace (gada). Ia tidak menggunakan pedang karena perawatan bilah jauh lebih mahal. Paula juga memegang gada, meski tugas utamanya adalah sebagai penyembuh.
Tiga ekor Forest Rat—tikus raksasa sepanjang 60 sentimeter—melompat dari semak-semak. Perkelahian berlangsung kacau. Pia sempat digigit di lengan dan kaki sebelum Priscilla berhasil menumbangkan tikus-tikus itu dengan panahnya.
"Pia, bertahanlah!" Paula segera merapalkan mantra penyembuhan. Cahaya emas redup menyelimuti luka Pia, menutup robekan daging dan menetralkan kuman yang dibawa tikus-tikus kotor itu.
Meski mereka menang, realitasnya terasa berat. Forest Rat tidak bisa dimakan dan bagian tubuhnya tidak laku dijual. Perjalanan ini hanyalah pengeluaran tenaga tanpa hasil finansial.
Malam itu, mereka berkemah di pinggir jalan. Pia merasa minder karena merasa hanya bisa terluka tanpa melakukan serangan berarti.
"Jangan bicara begitu," hibur Paula. "Kau adalah tameng kami. Berkat kau menarik perhatian mereka, Priscilla bisa membidik dengan tenang. Kita bertiga adalah petualang sejati sekarang."
Pia dan Priscilla mengangguk, mencoba saling menguatkan meski rasa takut akan monster yang lebih kuat di depan sana terus menghantui pikiran mereka.
Status Tim Paula (Rank G):
Paula: Mana hampir terkuras untuk penyembuhan ringan.
Pia: Mengalami kelelahan fisik karena menahan beban monster.
Priscilla: Persediaan anak panah mulai berkurang.
Lokasi: Satu hari perjalanan dari desa Cotton-elka.
Sementara itu, Hikaru sedang mempersiapkan "senjata baru" dari Leniwood yang ia rancang khusus untuk menutupi kelemahannya dalam serangan jarak jauh. Dengan Lavia yang kini memiliki kemampuan Stealth, apakah Hikaru akan menyusul mereka secara rahasia dan menjadi "malaikat maut" yang melindungi mereka dari balik bayang-bayang?
Apa yang akan terjadi saat mereka tiba di gubuk penebang kayu besok siang dan menemukan bahwa monster dari dungeon sudah sampai di sana lebih dulu?
Bab: Pengkhianatan di Persimpangan dan Bayangan yang Mendekat
Keesokan paginya, Paula dan kawan-kawan menyantap bekal terakhir mereka sebelum melanjutkan perjalanan ke Cotton-elka.
"Bekal ini sama sekali tidak mengenyangkan," keluh Pia. "Sabar, Pia. Jika kita punya kuda, kita pasti sudah sampai. Sore nanti kita akan tiba di desa dan mencicipi tomat terbaik kita," hibur Paula, meski ia tahu saat ini desa mereka pun sedang kesulitan finansial.
Mimpi mereka untuk menjadi petualang hebat demi mengangkat derajat keluarga seolah hancur. Selama setengah tahun merantau, mereka bahkan belum pernah mengirimkan satu gilan pun ke rumah. "Anak-anak tak tahu diuntung," gumam Priscilla tajam, meski ia pun merasakan kepedihan yang sama.
Tepat tengah hari, mereka tiba di sebuah gubuk penebang kayu di persimpangan jalan. Saat hendak beristirahat, insting Priscilla sebagai putri pemburu mendadak menegang.
"Tiarap!" teriak Priscilla sambil mendorong Paula. Srat! Sebuah anak panah menancap tepat di pintu gubuk. "Ada musuh! Manusia, bukan monster!"
Laporan Rahasia di Ibu Kota
Di Guild Petualang kota Pond, Freya tampak gelisah karena Hikaru tidak kunjung muncul. Gloria menyelinap di belakangnya dengan senyum misterius.
"Pikiranmu sedang melayang, Freya. Memikirkan kekasihmu?" goda Gloria. "G-Gloria! Kau mengejutkanku!" "Tenanglah. Tuan Unken baru saja memberitahuku kabar dari ibu kota. Sepertinya pihak kerajaan akan mulai bergerak. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan 'si dia' lagi."
Freya terbelalak. Jika kerajaan bergerak, artinya status pencarian Lavia mungkin akan berubah. Tanpa kata, ia segera berlari menuju perpustakaan untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Malaikat Maut di Balik Asap Hitam
Sementara itu, Hikaru dan Lavia sedang memacu kuda dengan kecepatan penuh menuju Cotton-elka. Mereka membonceng seorang mantan petualang yang memiliki tangan kiri yang lumpuh. Begitu melihat asap hitam mengepul dari gubuk di kejauhan, Hikaru segera melompat turun.
"Kalian gila?! Apa yang mau kalian lakukan?" seru si pengendara kuda. "Sembunyilah. Kembalilah tiga puluh menit lagi, semuanya akan selesai saat itu," jawab Hikaru dingin.
Begitu kuda itu menjauh, Hikaru dan Lavia mengaktifkan [Group Cloaking]. Mereka menyelinap di antara pepohonan, mendekati gubuk yang kini dikepung oleh enam orang.
"Mereka tidak mau keluar juga?" "Apa mereka lebih memilih mati terpanggang?" "W-Woi, kita benar-benar akan membunuh mereka? Mereka kan teman kita dulu," suara seorang pemuda terdengar gemetar.
Hikaru mengenali suara itu. Mereka adalah para petualang veteran yang dulu mengorbankan Paula ke gerombolan Goblin, ditambah dua pemuda pengecut dari desa tetangga yang mengkhianati rekan mereka sendiri.
Dasar sampah, batin Hikaru. Ia melirik status Soul Board-nya. Meski ia bukan tipe petarung baris depan, kombinasi [Imperceptibility: MAX] dan [Assassination: MAX] miliknya adalah vonis mati bagi siapa pun yang tidak bisa melihatnya.
"Lavia, bersiaplah. Saat aku beri aba-aba, lepaskan sihir api ke arah gubuk. Kita hanya perlu mengejutkan mereka agar perhatian mereka teralih," perintah Hikaru. Ia tidak ingin Lavia melihat genangan darah yang akan ia buat.
Detik-Detik Terakhir di Dalam Gubuk
Di dalam gubuk, asap hitam mulai menyesakkan paru-paru. Paula sudah lemas, sementara Pia bersiap menerjang keluar dengan sisa tenaganya.
"Kita serang saat atapnya runtuh. Saat itu perhatian mereka akan teralih," bisik Priscilla tajam, meski matanya pedih karena asap. "Tapi kita tidak akan bertahan sampai saat itu!" Pia terbatuk-batuk hebat. "Priscilla!"
"Sial... baiklah. Kita terjang mereka dari depan!" seru Priscilla putus asa.
Namun, sebuah suara yang sangat mereka kenal berbisik tepat di telinga mereka—sebuah suara yang seolah muncul dari udara hampa.
"Jangan lewat depan. Lompatlah lewat jendela timur. Tidak ada siapa pun di sana."
Paula tersentak. Itu adalah suara "pahlawan" yang dulu menyelamatkannya di hutan. Sang penyelamat telah datang kembali, sebagai bayangan yang tak terlihat.
Analisis Kekuatan Hikaru:
Stealth Status: Terlindungi sempurna oleh Group Cloaking.
Offense: Siap melakukan Assassination pada para pengkhianat.
Target: Menyelamatkan Paula tanpa mengungkap identitas Lavia.
Akankah serangan api Lavia memberikan celah bagi Hikaru untuk menghabisi para pengkhianat itu dalam satu kedipan mata? Dan bagaimana reaksi Paula saat menyadari bahwa "Tuan Hikaru" mengejarnya hingga ke tempat terpencil ini?
Bab: Kilau Bintang Timur dan Kecurigaan Hikaru
"Hah?" "Hah?" "H-Hikaru-sama?! Kenapa Anda ada di sini?!" seru Paula terperanjat.
"Nanti kujelaskan. Gubuk ini akan runtuh. Cepat lari!" perintah Hikaru tegas.
Meski Pia dan Paula masih didera kebingungan, Priscilla segera mengikuti gerak Hikaru. Mereka melompat keluar melalui jendela setinggi pinggang dan menemukan salah satu petualang veteran sudah tergeletak tak berdaya di tanah.
"Ini perbuatanmu?" tanya Paula tak percaya. "Ya. Sekarang masuk ke hutan, cepat!"
Hikaru berniat menyuruh Lavia melepaskan sihir api ke gubuk itu sebagai pengalih perhatian. Ia yakin para bandit itu akan panik dan kabur jika melihat ledakan sihir besar tanpa sempat memeriksa isi gubuk. Namun, rencana itu terhenti oleh teriakan Pia.
"Sialan kalian!" raung Pia. "Kami tidak akan lari begitu saja! Mereka pikir kami masih di dalam, ini kesempatan kita untuk—" Hikaru menepuk jidatnya. Bodoh sekali, batinnya. Benar saja, suara Pia langsung membongkar posisi mereka.
"Heii! Mereka keluar dari gubuk!" teriak para bandit.
Hikaru sudah bersiap mencabut belati, namun tiba-tiba sebuah ledakan keras terdengar dari arah para bandit, disusul jeritan kesakitan. Dari kejauhan, sesosok penunggang kuda putih muncul—pemandangan yang tampak nyata seperti keluar dari buku dongeng.
Kemunculan Selyse Lande
Penunggangnya adalah seorang wanita muda dengan rambut pirang yang disanggul rapi dan mata biru yang tajam. Ia mengenakan pelindung dada perak yang berkilau sempurna, dihiasi ukiran ornamental yang indah. Jubah dan pakaian dalamnya berwarna krem elegan—pilihan warna yang sangat tidak praktis di dunia yang penuh debu dan darah, kecuali jika pemiliknya sangat kaya atau berpangkat tinggi.
"Kalian yang di dalam gubuk tadi?" tanyanya dengan suara jernih.
Wanita itu melayangkan tali dari pinggangnya dengan gerakan anggun, menjerat lengan pemimpin bandit yang hendak kabur, lalu menariknya hingga tersungkur. Ia turun dari kuda, menghunus pedang, dan menempelkan ujung bilahnya tepat di depan hidung pria itu.
"Kalian tidak terlihat seperti bandit biasa, tapi membakar gubuk berisi orang di dalamnya adalah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Aku, Selyse Lande dari Four Eastern Stars (Empat Bintang Timur), menyatakan kalian ditahan."
Hikaru baru teringat nama itu. Four Eastern Stars adalah tim petualang wanita Rank B yang sangat terkenal. Selyse memiliki kemampuan pedang yang mengerikan. Lewat Soul Board, Hikaru melihat poin [Sword] milik Selyse berada di level 5—hanya selisih satu poin di bawah Lawrence sang Sword Saint.
Alibi yang Goyah
Pia tampak sangat mengagumi Selyse, sementara Paula berusaha menjelaskan pengkhianatan yang mereka alami di hutan Pond. Selyse mendengarkan dengan tatapan sedingin es sebelum beralih menatap Hikaru.
"Lalu, siapa bocah ini?" tanya Selyse penasaran. "Dia Tuan Hikaru! Pahlawan yang—" "Hanya kebetulan lewat," potong Hikaru cepat, mencoba meredam antusiasme Paula.
Hikaru merasa terdesak. Tim Selyse sebenarnya adalah tim yang seharusnya mengawal Lavia ke ibu kota sebelum tugas itu dialihkan ke tim Nogusa. Jika Selyse sudah melihat potret Lavia, keberadaan Lavia di semak-semak sana akan menjadi bencana.
"Kau juga mau ke Cotton-elka?" tanya Selyse. "Antara kau sangat percaya diri dengan kemampuanmu, atau kau memang bodoh." "Aku ke sana karena... ingin saja," jawab Hikaru datar. Ia tidak mungkin mengaku bahwa ia datang untuk memastikan Paula tidak mati konyol.
Pelarian dari Kepungan Wanita
"Dengan adanya tim Bintang Timur, desa pasti aman!" seru Pia bersemangat. "Tuan Hikaru, tinggallah di rumah kami di desa nanti. Rumah ayahku yang paling besar!" "I-iya, Anda bisa menginap di tempat kami, Tuan Hika—"
"Aku lebih suka bergerak sendiri," tolak Hikaru tegas. Ia tahu Lavia masih bersembunyi di dekat sini, dan ia tidak mungkin meninggalkan gadis itu.
Selyse mencoba menahan Hikaru. "Kenapa buru-buru? Tunggu teman-temanku datang agar kita bisa menyerahkan para bandit ini bersama-sama." "Aku gugup jika dikelilingi banyak wanita. Aku sangat pemalu, kau tahu sendiri," ujar Hikaru sambil menghindar dari jangkauan tangan Selyse.
Tanpa menunggu jawaban, Hikaru berbalik dan segera berlari kembali ke arah datangnya kuda tadi, meninggalkan Selyse yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu dan Paula yang tampak kecewa. Hikaru harus segera menemui Lavia dan menjauh dari deteksi tim Rank B ini sebelum rahasia besarnya terbongkar.
Status Hikaru:
Kewaspadaan: Sangat Tinggi (Selyse adalah ancaman deteksi yang nyata).
Strategi: Memilih untuk tidak menggunakan kekuatan Lavia demi menjaga kerahasiaan.
Tujuan Berikutnya: Memasuki Cotton-elka sebelum rombongan Selyse tiba, atau bergerak dari balik bayang-bayang.
Hikaru menyadari satu hal: jika Selyse dan timnya yang kuat berada di Cotton-elka, pertempuran melawan monster dungeon akan menjadi jauh lebih mudah, namun ruang geraknya untuk melakukan "grinding" level secara rahasia akan menjadi jauh lebih sulit.
0 Comments