Prolog: Segalanya Bermula di Wilayah Terpencil Dekat Dungeon
Sering kali, orang-orang biasalah yang pertama kali menyadari adanya kejanggalan di tengah antah-berantah.
Seorang penduduk desa yang sedang memanen tomat—merah merona meski ukurannya agak mungil—mendongakkan kepala.
"Hmm? Suara apa itu?"
Bunyinya mirip tanah yang amblas. Tak pernah ada catatan gempa bumi di daerah ini. Meski sempat penasaran, karena tidak ada hal lain yang terjadi, ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Menjelang senja, sang penduduk desa pergi ke alun-alun Cotton-elka, sebuah desa kecil berpenduduk seratus dua puluh jiwa. Di sana, rumah kepala desa, gereja, dan satu-satunya toko di desa itu berdiri saling berhadapan.
"Kau bekerja keras hari ini," sapa sang Pastor. "Tentu saja, Pastor. Tomat kering Cotton-elka adalah kebanggaan kerajaan ini. Saya tidak boleh malas."
Percakapan beralih pada kabar Paula, putri sang Pastor, serta Pia dan Priscilla yang menghilang enam bulan lalu untuk menjadi petualang. Sang Pastor mencoba tersenyum, meski kekhawatiran terpancar jelas dari matanya.
Saat matahari terbenam di balik gunung arah kota benteng Leather-elka, sang Pastor menatap langit dengan cemas. Warna merah senja itu tampak lebih pekat dari biasanya, seolah bercampur dengan darah.
"Perasaanku tidak enak," gumamnya. Ketakutan sang Pastor segera menjadi kenyataan. Cotton-elka akan segera menjadi buah bibir di kalangan petualang akibat sebuah invasi monster.
Di kota Pond, pintu Guild Petualang terbuka. Seorang pemuda berambut dan bermata hitam masuk, menarik perhatian karena usianya yang masih muda di tengah kerumunan pria-pria kasar.
"Tuan Hikaru!" seru Paula. Ia bersama Pia dan Priscilla segera menghampirinya. Mereka adalah tiga gadis yang baru saja diselamatkan Hikaru dari gerombolan Goblin.
"Kemarin kau tidak kelihatan, kami khawatir terjadi sesuatu," ujar Paula. "Aku menghabiskan waktu seharian untuk membaca ini," jawab Hikaru sambil menunjukkan sebuah buku tua tentang cara menyembelih monster yang dipinjamnya dari Master Guild, Unken.
Sebenarnya, itu adalah alibi. Kemarin Hikaru sangat sibuk menyusup ke kereta tahanan untuk menyelamatkan Lavia dan menghadapi sang Sword Saint, Lawrence D. Falcon. Luka di lengannya memang sudah menutup, tapi kondisinya belum pulih seratus persen.
Freya, sang resepsionis idola, menghampiri mereka dan mengambil buku itu untuk dikembalikan. Ia memberikan kuis singkat untuk mengetes Hikaru.
"Bagaimana cara paling efektif membunuh Muddy Rock di rawa?" "Gunakan sihir elemen es. Mereka mudah dihancurkan setelah membeku." "Tanaman obat kuning bubuk gunanya untuk apa?" "Menyembuhkan kelumpuhan."
"Deskripsikan dungeon terdekat dari Pond!" lanjut Freya ceria. "Ada dua. Pertama, Kota Bawah Tanah Dewa Kuno, lima hari perjalanan ke utara. Hanya untuk Rank E ke atas. Yang kedua adalah—" "Hutan Penyesatan!" potong Paula antusias. "Dungeon yang diciptakan oleh seorang Dungeon Master. Monster yang terbunuh di sana akan berubah menjadi batu sihir."
Freya terkekeh, lalu pergi membawa buku itu sambil berbisik agar lain kali Hikaru membaca edisi terbaru. Hikaru tidak tahu bahwa edisi terbaru di perpustakaan adalah salinan yang ditulis tangan sendiri oleh Freya saat ujian resepsionis.
Malam harinya, di dalam kamar hotel.
Lavia berdiri di depan Hikaru, namun penampilannya telah berubah total. Ia mengenakan gaun hijau cerah dengan ikat pinggang, sepatu bot tinggi, dan kaus kaki selutut yang dibelikan Hikaru di toko barang bekas. Rambut peraknya diikat ke belakang, tertutup topi merah gelap. Ia kini tampak seperti gadis petualang yang lincah, bukan lagi putri bangsawan yang anggun.
"Kau terlihat sempurna," puji Hikaru. "..." Lavia merona. "Kau sepertinya ahli memilihkan baju untuk perempuan. Seperti sudah terbiasa saja." "T-Tentu saja tidak! Aku mencarinya sambil memikirkanmu seharian, jadi aku langsung tahu mana yang cocok."
Lavia mengerucutkan bibirnya, namun pipinya semakin merah. Hikaru merasa itu sangat menggemaskan.
Selain pakaian, Hikaru juga membeli perlengkapan krusial lainnya: Permata Kontrasepsi. Di dunia ini, permata yang dipenuhi sihir kegelapan ini berfungsi menekan kesuburan bagi pria yang membawanya. Meskipun harganya seribu Gilan, Hikaru menganggapnya investasi penting karena mereka belum siap membesarkan anak di tengah pelarian.
"Besok kita akan membeli perlengkapan lain, termasuk pakaian dalam yang tidak bisa kubeli sendiri," kata Hikaru. "Apa kau yakin? Orang-orang mungkin akan mengenaliku." "Jangan khawatir. Dengan kemampuanku, kau bisa pergi ke mana saja sekarang. Jadi, kau ingin pergi ke mana?" "Ke mana saja...? Kalau begitu, aku ingin pergi berpetualang!"
Hikaru tertawa. "Sudah kuduga kau akan bilang begitu."
Namun, percakapan mereka berubah menjadi canggung saat Lavia bertanya apakah Hikaru tertarik padanya meskipun tubuhnya masih tampak seperti anak-anak. Pertanyaan itu berujung pada malam yang panjang bagi mereka berdua.
Permata yang dibeli Hikaru langsung terpakai di hari pertama.
Catatan Lavia: Dunia yang Berwarna
Bagi Lavia, mansion keluarganya dulu adalah seluruh dunianya. Tempat itu terlalu besar untuk ditinggali sendirian, namun terlalu kecil untuk menghabiskan sisa umur. Buku adalah satu-satunya pelariannya—satu-satunya cara untuk membayangkan apa itu laut, gunung, dan sungai.
Namun, dunia yang membosankan itu hancur saat seorang pemuda menyusup dan membunuh ayahnya. Anehnya, ia tidak merasa takut. Pemuda itu kemudian membebaskannya dari belenggu besi dan memberinya kebebasan yang selama ini hanya ada dalam fantasi.
Dunia Lavia yang tadinya hitam putih kini penuh dengan warna. Ia tahu Hikaru menyembunyikan rahasia besar, namun ia tidak peduli. Hikaru adalah pahlawannya, dan ia siap memberikan segalanya untuk pemuda itu.
Status Hikaru & Lavia:
Lokasi: Hotel di Kota Pond.
Tujuan Selanjutnya: Membeli perlengkapan petualang dan mendaftarkan Lavia (dengan identitas baru).
Kondisi: Lavia telah sepenuhnya melepaskan identitas bangsawannya dan siap memulai hidup baru sebagai petualang.
Langkah apa yang akan diambil Hikaru untuk mendaftarkan Lavia di Guild tanpa memicu kecurigaan, mengingat Lavia memiliki kapasitas mana yang luar biasa tinggi (Lv. 11)?
Bab: Alibi dan Aroma Rempah yang Menyengat
"Ibu, Ayah, aku berangkat!" "Hati-hati! Kalau ada petualang yang macam-macam padamu, lapor Ayah. Akan kuhajar mereka sampai babak belur." "Astaga, Sayang. Apa kau harus mengatakannya setiap hari? Hati-hati, Freya. Kerjalah yang rajin."
Freya terkekeh mendengar omelan ayahnya. Ia meninggalkan toko roti keluarganya. Mencium aroma gandum panggang dan mentega manis setiap pagi sebelum berangkat ke Guild adalah rutinitas yang selalu ia cintai.
Namun, setibanya di Guild, suasana terasa berbeda. Rekan kerjanya, Aurora—seorang wanita cantik dengan tatapan yang selalu tampak muram—langsung menyambutnya dengan kabar serius.
"Tuan Unken ingin menemuimu di ruangannya, Freya."
Di dalam kantor Master Guild, Unken duduk dengan ekspresi yang jauh lebih pahit dari biasanya. Ia tidak basa-basi.
"Kita baru saja menerima pesan. Laporan dari ibu kota: lusa kemarin, kelompok Distant Glittering Stars yang dipimpin Nogusa gagal dalam misi pengawalan mereka." "Apa?!" Freya terkejut. "Apa mereka disergap bandit? Atau monster mutasi?" "Bukan. Nogusa melaporkan bahwa saat istirahat kedua, target—Nona Lavia—lenyap begitu saja dari dalam kereta yang terkunci."
Freya mencoba menyembunyikan senyumnya. Kegagalan Nogusa yang sombong itu sebenarnya terasa seperti berita bagus baginya, terutama karena ia tahu Hikaru sangat tertarik dengan kasus pembunuhan Count Morgstadt.
"Lalu, ada satu hal lagi yang membuat masalah ini semakin rumit," lanjut Unken. "Salah satu ksatria yang mencoba menyusul kereta itu dilaporkan disergap di tengah jalan." "Bandit? Di jalur utama menuju ibu kota?" "Ksatria itu adalah Panglima Lawrence D. Falcon. Sang Sword Saint."
Freya nyaris berteriak. "Tuan Lawrence?! Bagaimana mungkin ada bandit yang bisa mengalahkannya?!" "Lawrence bilang dia diserang oleh seorang bocah yang menyebut dirinya Silver Face."
Freya ternganga. "B-Bocah? Mengalahkan Sword Saint? Itu terdengar mustahil, sama konyolnya dengan laporan Nogusa tentang gadis yang menghilang."
Unken menatap Freya tajam. "Menurutmu, apakah dua kejadian ini saling berhubungan? Apakah kau tahu ada petualang muda yang sangat terampil di sekitar sini?"
Pikiran Freya sekilas melayang pada Hikaru. Namun, ia segera menepisnya. Kemarin Hikaru seharian berada di perpustakaan membaca buku bedah monster sebagai alibi. "Aku tidak terpikir siapa pun, Tuan."
Sementara itu, menggunakan [Group Cloaking], Hikaru menuntun Lavia menyusuri jalanan kota Pond. Ini adalah pertama kalinya Lavia berjalan di tengah hiruk-pikuk kota sebagai orang bebas. Ia menatap segalanya dengan mata berbinar—mulai dari ibu-ibu yang berkerumun di dekat sumur hingga gerobak dagang yang lewat.
"Hikaru... baunya enak sekali." Lavia menunjuk sebuah kedai hotdog. Sang pemilik kedai yang berotot sedang berdiri dengan tangan bersedekap, menatap tajam ke arah mereka (lebih tepatnya, ia merasa ada seseorang di sana meski tidak melihatnya jelas).
Hikaru menonaktifkan kemampuannya di tempat sepi, lalu menghampiri kedai itu. "Dua," ujar Hikaru sambil menyerahkan 60 Gilan.
Hikaru menggigit hotdog-nya dan seketika matanya membelalak. Wajahnya memerah, keringat mulai bercucuran. "Keparat! Ini pedas sekali! Kau bodoh atau apa?!" teriak Hikaru pada si penjual.
"Ini salahmu! Kemarin kau tidak datang! Aku mencoba bumbu baru dari pedagang keliling, dan pelanggan lain bilang ini kurang menendang!" balas sang penjual tak mau kalah.
Hikaru megap-megap kehabisan napas. "Lavia, jangan dimakan, ini terlalu—" Ia menoleh. Lavia sudah menghabiskan setengah rotinya dengan ekspresi datar yang tenang.
"Ini enak, kok." "..."
Hikaru menatap si penjual dengan curiga, namun pria itu hanya mengedikkan bahu. Ternyata, gadis bangsawan yang selama ini terkurung di mansion itu memiliki toleransi rasa pedas yang jauh di luar nalar manusia normal.
Status Saat Ini:
Alibi Hikaru: Berhasil (Freya dan Unken tidak mencurigainya karena laporan alibi buku).
Kondisi Lavia: Mulai terbiasa dengan kehidupan rakyat jelata (dan ternyata penyuka makanan pedas).
Risiko: Identitas "Silver Face" mulai dicari oleh pihak ksatria kerajaan.
Misi selanjutnya adalah mendaftarkan Lavia ke Guild. Dengan kapasitas Mana Lv. 11, bagaimana Hikaru akan memanipulasi hasil tes agar identitas aslinya tidak terbongkar oleh alat pengukur kekuatan?
Bab: Cahaya di Padang Rumput dan Rahasia Soul Card
Mereka mulai berjalan menyusuri kota. Karena hotdog tadi terlalu pedas, Hikaru mengembalikannya ke penjual, sementara Lavia sudah kenyang hanya dengan satu roti.
"Cuma begini saja menyerah! Lemah!" teriak si penjual sambil melahap sisa hotdog milik Hikaru dengan bangga.
"Akan kutunjukkan sekeliling kota," ujar Hikaru. Selama berjalan, ia sebisa mungkin mempertahankan [Group Cloaking]. Ia menunjukkan bengkel zirah Dodorono tempat ia membeli baju Lavia, serta bengkel senjata Leniwood tempat ia mendapatkan belatinya. Lavia tampak sangat antusias, terutama saat mendengar tentang pemilik toko yang berasal dari ras Dwarf dan Elf—meskipun Hikaru menyebut mereka berdua agak gila.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan megah. "Itu... Guild Petualang." "Lavia?" "Aku sering memimpikan tempat ini..." bisik Lavia pelan. "Aku sangat senang bisa hidup dan melihatnya langsung."
Melihat Lavia yang tampak seperti anak anjing yang lesu karena belum diizinkan masuk, Hikaru akhirnya berjanji akan membawanya ke sana beberapa hari lagi. Senyum lebar Lavia membuat Hikaru hampir luluh, namun ia tahu keamanan adalah prioritas utama.
Sore harinya, mereka keluar dari gerbang kota menuju padang rumput yang tenang, jauh dari pantauan jalan raya. Sinar matahari awal musim panas terasa menyengat di atas bukit yang landai.
"Apa kita akan berburu monster?" tanya Lavia waspada. "Bukan, ini persiapan. Aku ingin melihat seberapa kuat sihirmu."
Sebelum memulai, Hikaru meminta izin melihat Soul Card milik Lavia. Berbeda dengan kartu Guild miliknya, kartu Lavia adalah kartu kuil.
[Soul Card] Nama: Lavia Registrasi: Kuil Pongee-elka, Kerajaan Ponsonia Layanan Keagamaan: Festival Dewa Matahari (6) Berkat (Blessing): —————
Nama keluarga "Morgstadt" telah benar-benar hilang dari kartu itu. Lavia menatapnya dengan bangga; ia merasa benar-benar bebas sekarang. Hikaru juga baru menyadari bahwa "Layanan Keagamaan" hanyalah catatan jumlah donasi—sebuah skema pemerasan halus dari pihak gereja yang sudah busuk.
Lavia kemudian menuliskan daftar Berkat yang tersedia untuknya di atas tanah:
[Flame Magus]: Berkat Dewa Sihir Elemen Api.
[Challenger of Magic Principles]: Berkat Dewa Penciptaan Prinsip Sihir.
[Noblesse]: Berkat Dewa Pertolongan Darah Mulia.
Semakin pendek nama Berkatnya, semakin kuat kekuatannya. Berkat dengan empat karakter bahasa dunia ini sudah dikategorikan sebagai petualang tingkat tinggi.
"Apa itu 'Prinsip Sihir'?" tanya Hikaru penasaran. Di Soul Board Lavia, poin [Magic Principle] berada di angka 2. "Sejujurnya aku juga tidak terlalu paham," jawab Lavia. "Sihirku berkembang begitu saja secara alami. Sebelum aku menjelaskan, maukah kau melihat sihirku?"
Hikaru mengangguk. Lavia mulai merapalkan mantra kuno. "Wahai Elemental, dengarlah panggilanku. Dengan api primordial, hanguskan!"
Seketika, bola api berdiameter tiga meter tercipta di atas Lavia dan menghujam tanah di depan mereka. Panasnya begitu menyengat hingga Hikaru merasa kulitnya nyaris terpanggang. Saat menyentuh tanah, api itu meledak dan membentuk pusaran api setinggi lima meter yang melenyapkan segala rumput dan semak hingga menjadi abu.
"Ini adalah Fire Breath," kata Lavia dengan nada meminta maaf, seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar. "Ini cuma sihir api dasar."
"Luar biasa... Aku sudah membayangkan ini akan kuat, tapi melihatnya langsung tetap saja mengejutkan."
Lavia menatapnya ragu. "Kau... tidak takut padaku? Kau tidak membenciku setelah melihat kekuatan penghancur ini?" "Tentu saja tidak."
Lavia menghela napas lega dan menyandarkan kepalanya di dada Hikaru. "Syukurlah. Aku takut kau akan meninggalkanku jika tahu aku adalah monster." "Itu takkan terjadi. Kita berdua sama, Lavia. Kita memiliki kekuatan yang melampaui pemahaman manusia biasa."
Lavia menggenggam tangan Hikaru erat. Namun, momen syahdu itu terputus saat insting Hikaru menangkap pergerakan. "Ada yang datang. Mungkin mereka melihat ledakan sihirmu tadi. Ayo pergi."
Hikaru segera mengaktifkan [Group Cloaking], dan keduanya menghilang ke dalam pelukan angin padang rumput, meninggalkan kepulan asap yang masih membumbung di kejauhan.
Status Kekuatan Lavia:
Fire Affinity: Lv. 5 (Setara dengan level pahlawan nasional dalam hal spesialisasi elemen).
Efek Sihir: Skala serangan "dasar" miliknya sudah setara dengan sihir area tingkat menengah.
Langkah Selanjutnya: Hikaru menyadari bahwa kekuatan Lavia terlalu mencolok untuk ukuran petualang pemula. Ia harus mengajari Lavia cara menahan diri agar tidak menghancurkan seluruh area saat ujian Guild nanti. Selain itu, siapa sebenarnya "orang yang datang" tersebut? Pengejar dari ibu kota atau hanya petualang yang penasaran?
Apa yang akan dilakukan Hikaru untuk melatih kontrol mana Lavia agar ia bisa mendaftar Guild tanpa menimbulkan kehebohan besar?
Bab: Potensi Tersembunyi dan Kenangan Kelam
"Berapa kali kau bisa merapalkan sihir itu?" tanya Hikaru saat mereka menyusuri padang rumput. "Mari kita lihat... aku bisa menggunakannya tiga puluh kali tanpa henti." "Luar biasa. Aku jadi penasaran apakah aku juga bisa menggunakan sihir." "Setiap orang punya mana. Jika kau berlatih, kau pasti bisa."
Hikaru berhenti melangkah dan mencoba merapalkan mantra Fire Breath. "..." "..." "Tidak terjadi apa-apa," gumam Hikaru datar. "Normalnya, kau harus memperdalam hubunganmu dengan para Elemental dan berlatih melepaskan mana..." "Normalnya? Berarti kasusmu berbeda?"
Lavia terdiam sejenak. Ia baru berusia enam tahun saat bakat sihirnya bangkit. Kala itu, ia masih tinggal di kediaman utama sebagai putri dari istri kedua sang Count. Segalanya bermula saat seekor kuda mengamuk di dekatnya; karena terdesak, Lavia melepaskan gelombang mana yang tertidur di dalam dirinya.
Kuda itu pingsan, kusir dan pelayannya tumbang seketika. Hanya Lavia yang tetap berdiri. Sejak saat itu, Count Morgstadt menjadikan putrinya sendiri sebagai subjek eksperimen. Monster-monster dibawa ke hadapannya hanya untuk dibakar menjadi abu. Sang Count yang merasa bangga sekaligus takut, akhirnya mengisolasi Lavia dan menyewa ksatria khusus untuk menjaganya—bukan untuk melindunginya, tapi untuk memastikan "senjata" ini tidak lepas kendali.
Hikaru merasa dadanya sesak. Bagaimana bisa seorang ayah memperlakukan darah dagingnya sendiri sebagai alat perang? Namun, ia segera menepis pikiran itu. Lavia sudah bebas sekarang.
"Terima kasih sudah menceritakannya padaku," bisik Hikaru. "Tidak apa-apa. Aku memang ingin kau tahu."
Hikaru mulai menganalisis secara teknis. Lavia memiliki 5 poin pada [Fire Elemental Affinity]. Itu menjelaskan mengapa sihir "dasar" miliknya memiliki daya hancur yang tidak masuk akal. Meski konsumsi mananya tetap, output kekuatannya berlipat ganda karena bakat alaminya.
"Lavia, bisakah kau mengubah bentuk bola apinya? Misalnya memampatkannya agar lebih kecil namun lebih panas, atau meledakkannya di udara?" "Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan itu." "Kita akan mencobanya nanti. Tempat ini terlalu terbuka untuk tes berbahaya."
Lavia terkekeh. "Kau terdengar seperti seorang cendekiawan, Hikaru." "Benarkah? Mystery adalah hal yang menyenangkan untuk dipecahkan, Nona Lavia," jawab Hikaru sambil tersenyum.
Tiba-tiba, Hikaru membeku. "Ssst. Ada sesuatu di depan."
Seratus meter di depan mereka, seekor Red-Horned Rabbit (Kelinci Tanduk Merah) sedang sibuk menggali tanah. Itu adalah monster yang biasa Hikaru buru untuk membiayai operasinya.
"Ayo kita habisi. Itu bisa jadi uang tambahan." "Bolehkah aku ikut?" "Tentu. Jangan lepaskan tanganku."
Hikaru sempat ragu. Ia tidak ingin Lavia melihat sisi kejam dari perburuan, apalagi Lavia punya trauma dipaksa membunuh monster. Namun, jika Lavia ingin menjadi petualang, ia harus terbiasa dengan kematian makhluk hidup. Dunia luar terlalu keras untuk sekadar bermain rumah-rumahan.
Dengan [Group Cloaking], mereka merayap mendekat. Dalam satu gerakan sunyi, Hikaru menghunus belatinya dan menusuk jantung kelinci itu dari belakang. Hewan itu menegang sejenak, lalu lemas.
"Wah," gumam Lavia. Ia tampak terkejut, namun tidak terguncang seperti yang dikhawatirkan Hikaru. "Kemampuan [Stealth] milikmu jauh lebih hebat daripada sihirku," puji Lavia tulus.
Hikaru memperhatikan lubang yang digali kelinci tadi; hewan itu ternyata sedang memakan sesuatu yang mirip kentang. Info bagus untuk alibi berburuku nanti, pikirnya.
Hikaru kemudian mengalokasikan satu poin sisa ke [Muscle Strength] agar bisa memanggul hasil buruan itu dengan mudah. Lavia hanya bisa terbelalak saat melihat Hikaru memasukkan kelinci besar itu ke dalam karung dan membawanya seolah tanpa beban.
"Ayo, kita kembali ke kota sebelum matahari terbenam."
Analisis Soul Board Lavia:
Mana Capacity: 11 (Luar biasa tinggi untuk usia 14 tahun).
Fire Affinity: 5 (Menghasilkan firepower tingkat tinggi dengan konsumsi mana minimal).
Catatan: Poin Lavia teralokasi secara otomatis berdasarkan aktivitas yang dipaksakan padanya di masa lalu.
Tujuan Berikutnya: Hikaru berencana mendaftarkan Lavia ke Guild dengan nama baru. Namun, tantangan terbesarnya adalah melatih Lavia untuk melakukan "sihir gagal" atau sihir yang sangat lemah agar tidak memicu alarm di alat deteksi Mana milik Guild.
Bagaimana cara Hikaru mengajari Lavia cara memanipulasi output mananya agar terlihat seperti petualang Rank G biasa?
Bab: Pertemuan dengan Profesional dan Tatapan Tajam Gloria
Hikaru meminta Lavia menunggu di hotel sementara ia pergi ke Guild Petualang untuk menyetor hasil buruannya. Bolak-balik ke hotel begini sangat tidak efisien, batinnya. Ia harus segera memberikan Lavia kemampuan [Stealth] melalui Soul Board agar gadis itu bisa bergerak bebas di kota tanpa risiko tertangkap.
Di area penjagalan Guild, suasana sangat sibuk. Hikaru mulai menguliti kelinci tanduk merahnya dengan hati-hati. Beberapa petualang veteran di sana memperhatikannya.
"Wah, Kelinci Tanduk Merah! Beruntung sekali bocah ini!" seru salah satu pria berbandana. Melihat teknik Hikaru yang masih kaku, pria itu tidak segan memberikan bimbingan teknis. "Tangan kirimu salah posisi. Angkat sedikit begini supaya kulitnya tegang."
Hikaru mengangguk paham. Bertemu dengan petualang profesional seperti mereka—yang lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan daripada sekadar minum-minum di lobi—memberinya perspektif baru. Mereka berbagi informasi tentang cara menangani racun katak hingga teknik memanen tanaman obat.
Nanti akan kuceritakan pada Lavia. Dia pasti senang mendengarnya, pikir Hikaru sambil tersenyum tipis.
Setelah selesai, Hikaru mampir ke restoran Pasta Magic. Pemiliknya, seorang pria bertubuh besar seperti beruang, langsung keluar dengan langkah yang membuat lantai restoran bergetar. "Itu jeroannya?!" tanya si "Tuan Beruang" antusias. "Iya." "Bagus! Bayar belakangan ya!" teriaknya sambil membawa masuk kantong kulit berisi jeroan kelinci itu ke dapur dengan gembira.
Sekembalinya ke Guild, matahari sudah terbenam. Hikaru ingin menukar daging kelincinya menjadi uang. Sial baginya, meja Freya sedang dikerubungi petualang lain, sementara meja Gloria kosong melongpong.
Gloria, dengan rambut ungu yang diikat dua dan tatapan mata yang selalu menyipit, melambaikan tangan padanya. Hikaru tidak punya pilihan. "Penilaian, kan? Oh, Kelinci Tanduk Merah." Gloria bekerja dengan cepat. "9.000 Gilan. Kau mengulitinya sendiri? Kau cukup berbakat."
"Hanya bonus keberuntungan, kurasa," jawab Hikaru datar. "Bukan hanya keberuntungan. Aku dan Freya mengawasimu. Kau akan segera naik Rank." Gloria tersenyum tipis, lalu tiba-tiba nada suaranya berubah. "Ngomong-ngomong, kau ada di mana lusa kemarin?"
Jantung Hikaru serasa berhenti berdetak. Lusa kemarin adalah hari pelarian Lavia. Untungnya, Freya muncul di saat yang tepat. "Dia sedang belajar, kan?" potong Freya. "I-iya," Hikaru menyambung dengan cepat. "Aku membaca buku pengetahuan dasar petualang seharian."
Gloria hanya bergumam pelan, namun tatapannya seolah sedang membedah kebohongan Hikaru. Rasanya mustahil Gloria menanyakan hari spesifik itu secara kebetulan.
"Hikaru, kau ada waktu setelah ini?" tanya Freya setelah Gloria beranjak. "Kami hampir tutup. Temui aku di depan tiga puluh menit lagi." "Eh? Baiklah."
Hikaru bingung dengan ajakan tiba-tiba itu. Saat ia hendak pergi, Gloria memanggilnya sekali lagi. "Tuan Hikaru... apa benar Berkatmu hanya [Civilian] (Dewa Pertolongan Warga Sipil)?"
Hikaru berusaha tetap tenang. "Ya. Aku hanyalah petualang pemula yang harus bekerja keras dan banyak belajar." "Begitu ya... Berhati-hatilah. Freya itu bukan gadis yang mudah dihadapi."
Hikaru hanya tertawa kecil dan melangkah keluar, meski ia bisa merasakan tatapan Gloria masih menusuk punggungnya hingga ia hilang di kegelapan senja.
Status Hikaru:
Alibi: Mulai goyah di mata Gloria, namun didukung oleh Freya.
Keuangan: Tambahan 9.000 Gilan (Total tabungan meningkat).
Risiko: Gloria mulai mencurigai hubungan antara "bocah berbakat" dan insiden hilangnya Lavia.
Apa tujuan Freya mengajak Hikaru bertemu di luar jam kerja? Apakah ini murni ajakan berteman, atau Freya memiliki informasi rahasia mengenai penyelidikan Lawrence D. Falcon?
Bab: Alibi Roti dan Ancaman dari Hutan Penyesatan
Freya mengatakan urusannya tidak lama, jadi Hikaru memutuskan untuk mengantarnya pulang sambil berbincang. Langit sudah gelap, dan Hikaru ingin segera kembali ke pelukan Lavia secepat mungkin.
"Sebenarnya, hari ini Tuan Unken memanggilku ke kantornya."
Freya sudah mengganti seragam resepsionisnya dengan gaun merah marun yang modis—penampilan yang tidak disangka Hikaru. Meski Freya sering terlihat ceroboh, gaun itu tampak sangat cocok untuknya.
"Dia memberitahuku bahwa putri Count menghilang secara misterius dalam perjalanan ke ibu kota, dan seorang prajurit disergap oleh bandit muda," cerita Freya.
Freya sengaja merahasiakan identitas "prajurit" itu adalah sang Sword Saint. Berita kekalahan panglima ksatria bukanlah konsumsi publik. Hikaru berpura-pura tenang, meski hatinya lega mendengar Lawrence ternyata selamat.
"Menurutmu, apakah hilangnya gadis itu dan penyergapan tersebut saling berhubungan?" tanya Freya. "Entahlah. Berdasarkan logika umum, rasanya sulit menghubungkan keduanya," jawab Hikaru diplomatis.
Setelah berbincang singkat, mereka tiba di sebuah toko roti. "Rumahku di sini. Ayahku punya toko roti," ujar Freya bangga. "Aku baru saja membeli roti lapis di sini tadi siang." "Apa?! Benarkah?!" wajah Freya berseri-seri. "Kalau begitu... kapan-kapan kau boleh mengajakku makan malam!" "Hah?" "T-Tidakkah?! Lupakan! Sampai jumpa besok!" Freya berlari masuk ke toko dengan wajah merah padam.
Hikaru tertegun, lalu teringat alibi mabuknya tempo hari. Sial, ternyata aku tidak sengaja mengajaknya kencan saat aku sedang panik membangun alibi.
Keesokan paginya, Hikaru dan Lavia pergi ke luar kota untuk berburu level. Hikaru menyadari bahwa berburu dalam tim ternyata mengurangi efisiensi perolehan poin Soul Rank-nya hingga setengah dibandingkan saat ia bergerak sendiri.
Sementara itu, di aula Guild Petualang, Paula, Pia, dan Priscilla sedang mendiskusikan masa depan tim mereka. Mereka baru saja dikhianati oleh tim veteran dan diselamatkan oleh Hikaru.
"Kita butuh anggota tambahan yang bisa dipercaya," kata Paula. "Bagaimana kalau Tuan Hikaru?" "Paula, aku tahu kau tergila-gila padanya, tapi dia tipe penyendiri," goda Pia.
Tiba-tiba, pintu Guild terbuka kasar. Seorang pria bersimbah lumpur dan luka merangkak masuk. "Pippin?!" seru Paula mengenali pria dari desanya itu.
Pippin terbatuk, darah mengalir dari luka-lukanya. "M-Monster... monster mengalir keluar dari dungeon. Cotton-elka... desa kita dalam bahaya!"
Suasana Guild berubah tegang seketika. Unken, sang Master Guild, segera mengambil alih situasi. Pippin menjelaskan bahwa Cotton-elka—desa asal Paula—yang terletak paling dekat dengan dungeon Hutan Penyesatan, kini terancam hancur.
Seorang petualang yang terluka parah sempat mencapai desa sebelum tewas. Ia melaporkan bahwa jumlah monster di dalam dungeon melonjak sepuluh kali lipat dari biasanya.
"Freya, cek katalog monster level menengah!" perintah Unken dengan wajah kelam.
"Ada Lesser Basilisk dan Woody Bat (Rank E). Lalu ada Treant, Lost Man, dan Evil Eye (Rank D). Dan yang paling berbahaya... Executioner dan Lesser Wyvern (Rank C)," lapor Freya dengan suara bergetar.
Mendengar nama Executioner—raksasa tiga meter dengan lengan pedang—dan Lesser Wyvern—naga penyembur api—para petualang di lobi bergidik ngeri. Jika makhluk-makhluk Rank C itu keluar dari dungeon dan menyerang desa terpencil, Cotton-elka akan terhapus dari peta dalam semalam.
Unken memijat pelipisnya. Kasus monster yang keluar dari dungeon (Dungeon Overflow) adalah bencana besar yang jarang terjadi.
"Istirahatlah, Pippin. Kami akan menunggu keputusan dari kantor pusat di ibu kota. Esok hari, situasi ini akan menjadi jauh lebih buruk."
Situasi Terkini:
Bencana: Ancaman Dungeon Overflow di Hutan Penyesatan.
Target: Desa Cotton-elka (Kampung halaman Paula dan kawan-kawan).
Posisi Hikaru: Sedang berada di luar kota bersama Lavia untuk menaikkan level.
Hikaru berada dalam dilema: haruskah ia pergi menyelamatkan desa Cotton-elka demi Paula, atau tetap bersembunyi untuk menjaga keselamatan Lavia yang masih menjadi buronan? Satu hal yang pasti, monster-monster kuat yang keluar adalah sumber "Experience" yang sangat besar bagi Soul Board-nya.
Apakah Hikaru akan memanfaatkan kekacauan ini untuk menaikkan Rank-nya secara drastis?