Header Ads Widget

Malaikat Kehancuran dan Pedang Bayangan

 

Ilmuwan Gila dan Prediksi Sang Penjilat

Staf Kompleks Riset Lanjutan memeriksa gudang penyimpanan penawar Racun Terkutuk dengan sangat teliti. Hasil investigasi mengungkapkan bahwa sekitar satu setengah peti penawar telah raib dicuri.

Para ksatria telah dipulangkan, menyisakan staf berjas putih yang berkerumun dan berbisik cemas tentang si penyusup. Tak lama kemudian, seorang wanita bertubuh pendek dengan jas putih kusam masuk ke area tersebut. Meski wajahnya tampak sangat muda, ada aura otoritas yang menipu di sekelilingnya.

“Nona Ranna!”

Semua staf segera berdiri tegak dan memberi hormat.

Ranna memiliki rambut merah tua yang berantakan, dikepang asal-asalan di kedua sisi dengan poni yang tidak rata. Kacamata bulat besar bertengger di hidungnya yang berbintik-bintik. Ia memelototi stafnya dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan kurang tidur kronis.

“Kudengar sebagian penawar kita dicuri,” suaranya terdengar dingin dan menusuk tulang.

“K-Ksatria melaporkan mendengar suara gaduh saat malam, dan mereka menduga pencurian terjadi saat itu,” jawab staf paling senior dengan gugup. “Tapi tidak ada yang melihat sosok penyusupnya.”

Ranna menatap mereka tajam. “Suara gaduh, ya... Suara, suara... Apa kalian pikir seseorang yang mampu menyelinap sejauh ini akan membuat suara bodoh secara tidak sengaja?”

“Saya, anu...”

“Apa kalian tidak bisa memahami hal sesederhana itu? Kalian semua benar-benar tidak berguna. Penyusup itu menggunakan suara gaduh untuk memancing para ksatria menjauh, lalu melarikan diri melalui pintu masuk staf.”

“Apa?!”

“Demi para dewa, kalian jauh lebih tolol dari dugaanku.”

“Cukup, Nona Ranna.” Imam Agung Luvain, ajudan dekat Paus, tiba di lokasi. “Bukankah Anda sendiri yang bersikeras agar tempat ini tidak dijaga manusia saat malam? Anda bilang lebih efisien mengandalkan jebakan untuk keamanan.”

“Jebakan itu berhasil sekali,” balas Ranna ketus.

“Tapi gagal untuk kedua kalinya.”

Ranna mengertakkan gigi dan memelototi Luvain.

“Tidak ada gunanya berdebat,” lanjut Luvain. “Menurut Anda, apakah ini ulah mata-mata Kekaisaran Quinbrand?”

Ranna terdiam sejenak, tenggelam dalam pikirannya. “Aku tidak tahu. Tidak ada seorang pun di Kekaisaran atau di antara ras Man Gnome yang memiliki nyali dan keahlian setinggi ini. Kita memperbarui dan menambah jumlah jebakan setiap hari, tapi mereka melewatinya dengan sangat mudah.”

“Lady Ranna, Imam Agung. Kami menemukan ini terkubur tepat di luar tembok kompleks.” Salah satu staf menyodorkan sebuah tombak pendek dengan cincin logam di pangkalnya—tombak yang ditanam oleh Hikaru.

Ranna memeriksanya dengan saksama. “Mereka melompat dari atap ke tembok dan menggunakan tali yang dimasukkan ke cincin tombak ini untuk turun. Metode ini... tidak terasa seperti sesuatu yang akan digunakan oleh Man Gnome.”

“Ngomong-ngomong,” lanjut Ranna tak acuh, “sampaikan pada Paus bahwa dengan Kekaisaran yang mulai mengambil tindakan serius, kita tidak bisa lagi bersantai melawan Einbiest. Jika Kekaisaran tahu Bios adalah dalang di balik Racun Terkutuk, mereka akan datang menyerang meski harus menerobos Ponsonia sekalipun.”

“Nona Ranna,” tatapan Luvain berubah dingin. “Sebutlah Yang Mulia dengan rasa hormat. Ingatlah bahwa Bios-lah yang melindungimu. Dan jangan lupa teruskan risetmu. Beliau sangat menantikan penyelesaiannya.”

“Ya, ya,” Ranna melambaikan tangan sambil berjalan pergi. “Aku mau ke laboratorium. Komandan Ksatria Templar meminta Racun Terkutuk dalam jumlah besar. Dia sepertinya berencana menggunakan para 'Malaikat' untuk menyiramkan racun itu ke seluruh pasukan Beastmen.”

“Apa?! Taktik kotor seperti itu bisa membuat pasukan kita sendiri terinfeksi!” seru Luvain.

“Jangan tanya aku. Itu keputusan Komandan. Bukan masalahku,” sahut Ranna sambil menghilang di balik pintu.


Pertemuan dengan Sang Pemenang yang Egois

Produksi massal Racun Terkutuk? Itu terlalu berbahaya, pikir Luvain cemas. Ia berjalan menyusuri koridor Menara. Statusnya yang tinggi membuat siapa pun yang berpapasan dengannya membungkuk hormat—kecuali satu orang.

“Berhenti merengut. Kau merusak wajah tampanmu itu.”

Hanya ada sedikit orang yang berani bicara sesantai itu kepada seorang Imam Agung. Luvain menoleh dan melihat seorang pemuda tampan yang sedang menyisir rambut pirang bergelombangnya dengan jari. Pemuda itu memiliki mata biru besar yang memikat, mengenakan jaket dari kulit monster berkualitas tinggi, dan sebuah pedang panjang terikat di punggungnya. Jelas, dia adalah seorang petualang.

“Tuan Igloo. Mengapa Anda masih di sini?”

Igloo Fulblood. Petualang Peringkat A dan pemimpin kelompok Rising Falls. Ia dikirim ke turnamen Ruler’s Rumble di Einbiest untuk membunuh Gerhardt dan Jillarte, namun gagal. Seluruh anggotanya ditangkap, kecuali dirinya sendiri.

“Panggil saja Igloo. Kita seumuran, dan kau adalah salah satu petinggi di sini. Bicara santai saja padaku,” ujar Igloo narsis.

“Itu tidak pantas.”

“Kau adalah Imam Agung dari organisasi yang menguasai benua, dan aku adalah petualang Peringkat A. Bersama-sama, kita bisa mendatangi pesta mana pun dan memilih wanita mana pun yang kita inginkan.”

Luvain tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Di tengah krisis ini, pria ini masih memikirkan pesta dan wanita, padahal adik perempuannya sendiri masih ditawan di Einbiest.



“Oh, ngomong-ngomong,” kata Igloo seolah teringat sesuatu. “Aku yakin mereka akan mengincar pabrik racun itu selanjutnya. Bagaimana keamanannya? Cukup ketat?”

Luvain tersentak. Riset Racun Terkutuk oleh Ranna adalah rahasia tingkat tinggi. Tidak mungkin seorang petualang luar bisa mengetahuinya.

“Hah? Kenapa terkejut begitu? Ah, aku mengerti. Kau adalah orang suci yang tidak tahu cara bergaul. Bagaimana kalau aku membantumu?”

“Anu, aku... aku tidak mengerti maksud Anda.”

“Jangan pura-pura bodoh. Aku akan membereskan siapa pun yang mencoba mengincar pabrik itu, dan sebagai imbalannya, kau harus ikut denganku ke sebuah pesta. Bagaimana? Setuju? Bagus.”

“Eh, tapi...”

“Selama aku yang menangani kasus ini, kau bisa tidur nyenyak. Sampai jumpa!” Igloo melambaikan tangan dan melenggang pergi.

Luvain tertegun. Ia menyadari bahwa informasi rahasia ini pasti dibocorkan oleh seseorang dengan pangkat tinggi di dalam Menara, kemungkinan Imam Agung lainnya. Perasaan ngeri menyelimuti dirinya; apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam jantung Gereja ini?


Pesan dari Bayangan dan Tekad Sang Ratu Pelarian

Sinar matahari pagi menyiram padang rumput dengan cahaya hangatnya. Namun, kehangatan itu tidak mampu mengusir kelelahan yang menggelayuti pasukan Einbiest. Sihir penyembuhan dan pengobatan medis sudah mencapai batasnya; prajurit yang terbalut perban tampak tidur di mana-mana.

Wakil Pemimpin Jillarte tidak kalah penatnya. Jubah merahnya kini kusam oleh debu dan noda darah. Di dalam tendanya, ia terpaku menatap peta taktis yang dipenuhi pin tanda pertempuran.

“Permisi. Apakah Anda Wakil Pemimpin Jillarte?” Sebuah suara muncul tanpa peringatan.

Jillarte melompat berdiri, tangannya langsung menyambar gagang pedang di pinggangnya.

“Ah, tunggu, tunggu. Aku bukan musuh, hanya pembawa pesan. Kau mengenali ini?”

Pria itu menyodorkan sesuatu yang membuat Jillarte tersentak. “Itu... senjata milik Silver Face!”

“Benar. Dia memintaku menyampaikan pesan padamu.”

Pria itu, Unken, mengenakan topeng yang menutupi mulut dan tudung dalam yang hanya menyisakan matanya. Meski Jillarte tetap waspada, Unken dengan santai menarik kursi dan duduk. Ia tampak tidak terganggu sama sekali setelah menyelinap melewati indra tajam para Beastmen.

“Aku haus sekali. Silver Face benar-benar tidak punya rasa hormat pada seniornya, mengirim orang tua sepertiku dalam perjalanan jauh begini. Punya teh?”

Jillarte menuangkan secangkir teh dingin. Unken menyesapnya dengan nikmat, membuat Jillarte merasa sedikit konyol karena sempat merasa begitu terancam.

“Ah, segar sekali. Jadi, apa hubunganmu dengan bocah itu?” tanya Unken tiba-tiba. “Dia sedang bertindak gegabah demi kalian semua. Kadang aku khawatir, tapi aku juga punya harapan aneh kalau dia akan berhasil.”

Unken kemudian menjelaskan tentang ancaman Racun Terkutuk yang akan dijatuhkan dari langit. Ia memberitahu Jillarte bahwa Hikaru—sang Silver Face—sedang dalam misi untuk menghancurkan pabrik pembuatan racun tersebut.

Mendengar itu, Jillarte memejamkan mata erat-erat, mengepalkan tinjunya di depan dada seolah sedang berdoa. “Dia... melakukannya lagi.”

Unken tersenyum tipis. “Kau sepertinya punya perasaan khusus padanya.”

“Lalu Anda sendiri?” balas Jillarte.

“Aku? Kami hanya rekanan demi kenyamanan saja,” jawab Unken sinis, meski Jillarte bisa merasakan ikatan yang jauh lebih dalam di sana.

Sebelum pergi, Unken menyerahkan Suntetsu (besi kecil senjata Hikaru) kepada Jillarte. Gadis itu menerimanya dengan binar bahagia di matanya. Sepotong besi kasar bukanlah hadiah yang umum bagi seorang wanita, tapi bagi Jillarte, itu adalah benda paling berharga saat ini.


Misi Penghancuran: Hikaru dan Lavia

Di sebuah penginapan sederhana di Agiapole, Hikaru dan Lavia baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Hikaru tidak lagi menyembunyikan apa pun dari Lavia. Ia telah memilih untuk hidup di dunia ini bersama gadis itu, dan itu berarti membagi bahaya bersama.

“Aku butuh bantuanmu, Lavia,” ujar Hikaru.

“Tak perlu bicara lagi. Aku ikut,” jawab Lavia dengan senyum lembut.

Setelah beristirahat sejenak, mereka berangkat. Tujuan mereka adalah sebuah pabrik yang tersembunyi di dalam hutan di pinggiran Agiapole. Dengan kemampuan Stealth yang aktif, mereka membaur dengan kerumunan saat keluar gerbang kota, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki agar tidak mencolok.

Setelah tiga jam berjalan, mereka memasuki hutan yang lebat. Meski hari masih sore, rimbunnya pepohonan membuat suasana di dalam hutan terasa gelap dan lembap.

“Phew... jauh juga ya,” keluh Hikaru.

“Wajar saja, mereka tidak mungkin membangun pabrik racun di tengah kota,” sahut Lavia sambil menggandeng erat lengan Hikaru. “Aku tidak takut, asalkan bersamamu.”

Hikaru tersenyum tipis. Ia tahu sihir api Lavia akan sangat krusial untuk menghancurkan pabrik itu nanti. Sambil berjalan, mereka mendiskusikan tentang pengkhianat bernama Ranna dan keterkaitan ras Man Gnome dengan teknologi terlarang ini.

“Apakah Man Gnome memang ahli soal kutukan?” tanya Lavia penasaran.

“Entahlah. Brinkra, si Petapa Perbatasan, juga seorang Man Gnome dan dia tahu cara melepas kutukan. Sepertinya ada rahasia besar di ras mereka yang belum diungkap Unken,” jawab Hikaru.

Setelah dua jam menembus hutan—dan berkat Stealth, mereka berhasil menghindari monster—indra Deteksi Mana milik Hikaru tiba-tiba menangkap banyak tanda kehidupan di depan.

“Kita sampai,” bisik Hikaru.

Di depan mereka, tersembunyi di balik kegelapan hutan, pabrik maut itu berdiri.


Kemurkaan sang Peneliti dan Api Sabotase

“Ugh, memikirkannya saja membuat darahku mendidih! Kenapa tidak ada satu pun orang di sini yang bisa memanfaatkan hasil risetku dengan benar?!”

Ranna melemparkan cangkir logam ke dinding, membuat sisa anggur di dalamnya memercik ke mana-mana.

“Eek!” pelayan yang sedang bertugas memekik kaget.

“Pergi! Tinggalkan aku sendiri!” bentak Ranna.

“M-m-maaf!” Pelayan itu lari terbirit-birit keluar ruangan bahkan tanpa sempat membungkuk hormat. Di lorong tanpa jendela itu, udara terasa mati, hanya diterangi oleh deretan lampu sihir yang bersinar statis.

“Bagaimana keadaannya?” tanya pelayan lain di luar. “Dia mengamuk. Benar-benar mengerikan.” “Biarkan saja dia.”

Di dalam kamar, Ranna terengah-engah. Kamar pribadinya adalah kekacauan yang terorganisir: tempat tidur berantakan, rak buku setengah kosong, dan sebuah meja kerja raksasa yang dipenuhi coretan serta katalis sihir yang mencurigakan. Di atas meja makan kayu tanpa taplak, potongan roti berserakan di samping semangkuk sup oranye yang masih mengepul.

“Sudah kubilang mereka tidak perlu membuat penawar untuk Racun Terkutuk, apalagi konsentrat seratus kali lipat! Sekarang Kekaisaran pasti akan menyerang kita habis-habisan.”

Ranna memasukkan potongan roti ke mulutnya dengan kasar. Pikirannya melayang pada sosok penyusup itu. Mungkinkah 'Pedang Hitam' dari Kekaisaran? Tapi bukankah si tua Unken itu sudah pensiun?

“Arsiparis bodoh! Bilang butuh alasan valid untuk mengerahkan ksatria? Nah, gara-gara ksatria bodohmu itu, penawarnya dicuri!” teriaknya lagi sambil menendang kaki meja. Tubuhnya yang mungil hanya membuat meja itu bergeser sedikit, namun bekas tendangannya menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia meluapkan emosi pada furnitur tersebut.


Masa Lalu yang Mengekang

Ranna menenggak anggur langsung dari botolnya. Kepalanya mulai terasa pening. Ingatan tentang desa Man Gnome kembali muncul—desa yang lebih mirip biara pertapaan dengan aturan-aturan yang mencekik.

“Kau boleh melakukan riset, tapi jangan pernah menyentuh hal yang terlarang.” “Melawan takdir adalah hal yang dilarang.”

Ranna mendengus sinis. “Terlarang? Aku hanya membuat ramuan penumbuh rambut! Banyak orang yang menginginkannya, mulai dari orang tua di kedai hingga tabib di apotek!”

Bagi para tetua Man Gnome, kestabilan dan kedamaian adalah segalanya. Namun bagi Ranna, itu adalah penjara. Sebelum mereka benar-benar mengusirnya karena dianggap menyentuh tabu, Ranna sudah lebih dulu mengemasi semua hasil riset dan katalis berharganya, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang. Bahkan orang tuanya sendiri pun memilih diam dan memihak desa.

“Persetan dengan mereka semua.”

Ranna terbangun dari kantuknya yang singkat. Lengan bajunya basah karena air liur. “Sial, ini tidak bagus. Aku harus merancang sistem produksi massal hari ini.”


Api di Jantung Pabrik

Ranna melangkah keluar menuju fasilitas pabrik di tengah malam yang sunyi. Begitu ia masuk, puluhan lampu sihir menyala otomatis, menyinari ruangan seluas seratus meter persegi tersebut.

Di tengah ruangan terdapat sebuah Altar yang diukir dengan sirkuit sihir rumit. Di atasnya, botol-botol racun memancarkan cahaya ungu yang berpendar aneh. Altar inilah yang memasukkan "kutukan" ke dalam racun cair tersebut.

“Kapasitas altar ini hanya dua puluh vial dalam delapan jam. Jika aku menambah stasiun pencampuran dan menjalankan altar dalam tiga giliran kerja... outputnya bisa tiga kali lipat,” gumam Ranna. Ide tentang pembagian jam kerja (shift) adalah konsep modern yang asing bagi orang-orang di dunia ini.

Blaaarrr!

Tiba-tiba, sebuah bola api raksasa muncul entah dari mana dan menghantam tepat ke arah Altar. Racun yang sedang dalam proses produksi langsung tersulut api, menciptakan kobaran besar yang melahap sirkuit sihir di sana.

“Hah? Apa? Apa-apaan ini?!”

Alarm sihir berbunyi nyaring, memekakkan telinga dengan suara denting logam yang parau. Dalam sekejap, Ranna sempat melihat dua sosok bayangan yang melesat keluar dari pabrik, namun ia tidak punya waktu untuk mengejar.

“Seseorang! Tolong! Siapa saja!”

Api itu bukan api biasa; itu adalah sihir api yang sangat kuat. Altar—komponen paling krusial untuk menciptakan Racun Terkutuk—kini hancur dan keseimbangan energinya kacau balau.

Sambil mengertakkan gigi karena marah, Ranna berlari menuju pintu yang terkunci rapat di bagian terdalam fasilitas tersebut. Bau binatang yang sangat tajam menyengat hidungnya saat ia membuka pintu itu.

Masih ada cara lain, batinnya gelap.

Sabotase di Balik Bayangan dan Hadirnya Sang Pedang Suci

Sesaat sebelum kejadian itu, Hikaru sempat melihat dua pelayan keluar dari pabrik.

“Fiuuh. Aku tidak menyangka akan kebagian shift malam,” keluh salah satunya. “Tinggal di sini, makan tiga kali sehari, dan gaji yang lumayan memang enak, tapi kerja malam benar-benar melelahkan.”

“Kau benar,” timpal yang lain. “Apalagi kita tidak bisa bangun siang. Kita tetap harus bangun pagi-pagi sekali.”

“Ya. Ngomong-ngomong, sebenarnya pabrik apa ini? Orang-orang berjas putih itu selalu terlihat murung dan bekerja sampai larut malam.”

“Lalu kita yang harus membersihkan kekacauan mereka. Tidak bisakah mereka sedikit berempati?”

Kedua pelayan itu berlalu sambil terus menggerutu. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang diproduksi di sana. Jika tahu, mungkin tidak akan ada yang mau bekerja di tempat ini.

Hikaru dan Lavia menunggu sampai mereka menjauh sebelum menyelinap masuk. Meskipun banyak jebakan terpasang, hal itu tidak menjadi masalah bagi Hikaru yang memiliki kemampuan Deteksi Mana maksimal. Pengalamannya di Menara sebelumnya telah melatihnya dengan baik.

Di dalam, pabrik itu tampak sepi, kecuali satu orang yang tampak tertidur—Ranna.

“Bagaimana kita menghancurkan tempat ini?” bisik Hikaru sambil mengamati fasilitas produksi.

Membakar seluruh gedung terlalu berisiko karena bisa merembet ke asrama pelayan. Pilihan terbaik adalah menghancurkan Altar, komponen kunci yang memasukkan kutukan ke dalam racun. Hikaru mendengar gumaman Ranna dan menyadari bahwa altar itu adalah jantung dari segalanya.

“Lavia, hancurkan altar itu.”

“Dimengerti.”

Lavia melepaskan sihir api yang kuat, menghanguskan altar hingga menjadi abu. Panas yang menyengat memaksa mereka segera keluar. Alarm sihir mulai meraung di belakang mereka.

“Bukankah lebih baik melakukannya setelah wanita itu pergi?” tanya Lavia saat mereka melesat keluar.

“Kita tidak punya kemewahan itu,” jawab Hikaru cepat. “Kita harus kabur secepatnya—”

Tiba-tiba, Hikaru menarik Lavia dan melompat ke samping.

Sreeeet!



Sebuah tebasan menghantam tanah tepat di posisi mereka berdiri sesaat sebelumnya. Tebasan itu lebih mirip gelombang angin tajam yang mampu membelah bumi, memotong pintu, dan menghancurkan dinding bangunan dengan mudah. Cahayanya putih terang seperti kilat yang menyisakan aliran listrik di udara.

Seorang pria muncul dari kegelapan, menyisir rambut pirangnya dengan angkuh.

“Eh? Kupikir aku sudah kena. Agak sulit melihat dalam kegelapan ini ya.”

Pedang itu berbahaya, batin Hikaru.


Konfrontasi dengan Igloo Fullblood

Pria itu memegang sebuah claymore sepanjang satu meter lebih. Pedang itu dihiasi ukiran kuno yang asing, memancarkan energi magis yang sangat besar, seolah-olah ada raksasa yang berdiri di sana.

“Tuan Igloo, apa yang terjadi?!” para pelayan yang ketakutan mulai berdatangan dari asrama.

“Semua baik-baik saja. Hanya sedang menangkap beberapa pencuri... Kembalilah tidur,” ujar pria itu sambil terkikik narsis.

Igloo? Igloo... Igloo Fullblood! Ingatan Hikaru kembali ke turnamen di Einbiest. Pria ini adalah pemimpin kelompok Rising Falls, atasan dari pemanah Ryver yang pernah ia lawan. Sebagai petualang Peringkat A, Hikaru tahu orang ini jauh lebih berbahaya.

Masalah utamanya adalah: meski Hikaru menggunakan Stealth, pria ini sepertinya bisa merasakan keberadaan mereka secara samar.

“Apa yang harus kita lakukan, Hikaru?” bisik Lavia cemas. “Kita harus pergi dari sini sekarang juga.”

Hikaru menggunakan Group Cloaking untuk menutupi Lavia, namun Igloo terus mengikuti pergerakan mereka dengan tatapannya, meski matanya tidak tepat fokus ke arah mereka.

“Hmm... Kalian tidak akan lolos semudah itu.”

Igloo mengayunkan pedangnya. Cahaya putih terkumpul di bilah pedang dan melesat membentuk tebasan melengkung. Hikaru menekan kepala Lavia hingga mereka merunduk di tanah. Tebasan itu lewat tepat di atas mereka, membelah pepohonan di belakang mereka menjadi dua bagian dengan rapi.

Senjata apa itu?! Jangkauan serangannya tidak masuk akal!

Tiba-tiba, pasukan Ksatria Templar muncul dari segala arah, mengepung hutan. Sekitar seratus ksatria dengan lampu sihir mulai mempersempit ruang gerak mereka.


Pengepungan di Hutan Gelap

“Tuan Igloo Fullblood! Serahkan pada kami, Unit ke-6 Ksatria Templar!” seru sang kapten ksatria.

Igloo menghela napas. Sebagai petualang yang haus prestasi, ia sebenarnya ingin membereskan ini sendiri. Namun, ia juga pragmatis. Jika ia membiarkan penyusup itu lolos, reputasinya akan hancur.

“Baiklah. Aku akan tunjukkan posisi mereka. Ikuti arah pedangku. Di balik pepohonan itu, sekitar lima puluh meter di depan.”

Pasukan ksatria segera bergerak melingkar, mengepung posisi Hikaru dan Lavia.

“Hikaru, haruskah aku menggunakan sihir?” tanya Lavia.

Secara logika, sihir Flame Gospel milik Lavia bisa menghanguskan puluhan ksatria seketika. Namun, Hikaru ragu. Ia waspada terhadap Igloo. Pria itu mungkin sengaja memancing mereka untuk melepaskan sihir agar posisinya terungkap sepenuhnya.

Dia ingin aku bergerak lebih dulu...

Hikaru ingin memeriksa Papan Jiwa Igloo, tapi jaraknya terlalu jauh. Namun, waktu mereka habis.

“Lavia, mulailah merapal. Gunakan Atonement Flame.”

Atonement Flame adalah sihir hibrida antara api dan atribut suci yang tidak mematikan bagi manusia namun memberikan efek kejut yang besar. Hikaru berharap ini bisa menjadi celah bagi mereka untuk kabur.

Lavia mulai merapal, tubuhnya memancarkan cahaya mana yang tertutupi oleh kemampuan Group Cloaking. Hikaru merasa cemas; instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah.

Krak, krak, krak!

“Lavia, berhenti!” teriak Hikaru tiba-tiba.

Tepat saat mantra Lavia hampir selesai, sebagian dari bangunan pabrik di belakang mereka runtuh dengan suara kayu yang hancur berkeping-keping.

Teror Chimera dan Kebangkitan Sang Bayangan

Para ksatria sama sekali tidak waspada ke arah itu. Mereka tidak pernah menduga akan ada kekacauan di pabrik produksi racun.

Sang kapten segera meneriakkan perintah. “Unit 1, 2, dan 3, tetap jaga pengepungan! Unit 4, periksa pabrik!”

Lebih dari dua puluh ksatria terlatih berpencar dalam kegelapan menuju bangunan yang baru saja runtuh itu. Pabrik yang tadinya bising kini sunyi mencekam. Di bawah sinar bulan yang pucat, puing-gedung yang hancur mengirimkan awan debu ke udara. Para ksatria mendekat dengan pedang terhunus yang berkilauan.

Para pelayan yang keluar dari asrama menonton dengan napas tertahan. Igloo, yang tadinya mengawasi hutan, kini ikut menoleh ke arah pabrik.

“Ada orang di sana?! Kalian baik-baik saja?! Jawab!” teriak pemimpin ksatria yang mendekati reruntuhan atap. “Hei, apa ada si—”

Tiba-tiba, sesuatu yang berwarna merah muda melilit tubuh ksatria itu secepat pecut dan menyentaknya masuk ke dalam kegelapan pabrik. Kejadian itu begitu cepat hingga tidak ada satu pun teriakan yang sempat lolos. Dari dalam reruntuhan, terdengar suara geraman tertahan, diikuti bunyi logam yang remuk dan cairan yang menetes.

Para ksatria lainnya menelan ludah. Mereka teringat bahwa bangunan ini adalah pabrik racun yang dijalankan oleh peneliti mencurigakan. Rasa takut mulai merayapi keberanian mereka.

“Gyaaaaaaaaaah!”

Pekikan melengking menyapu area itu seperti gelombang kejut, melumpuhkan saraf para ksatria. Sesaat kemudian, dinding pabrik meledak hancur, dan sesuatu melompat keluar.

Makhluk itu berdiri di atas kaki setebal kaki gajah, namun tubuh bagian atasnya memiliki kulit bersisik seperti kadal, menjulang setinggi sepuluh meter. Kepalanya yang mirip reptil tertutup debu tebal. Yang paling mengerikan adalah tiga pasang lengannya: satu pasang memiliki cakar tajam, sepasang lagi berbulu lebat seperti gorila, dan sepasang terakhir menyerupai lengan manusia berwarna keunguan—masing-masing setebal batang pohon besar.

Itulah Chimera. Monster hasil rekayasa teknologi yang sama dengan para "Malaikat". Darah yang memercik di wajah dan tubuhnya pastilah berasal dari ksatria yang baru saja ia seret tadi.


Pedang Suci yang Terlahap

Para pelayan menjerit histeris dan berlari menuju asrama. Chimera itu bergerak, setiap langkah kakinya membuat bumi bergetar.

“Ah—”

Salah satu pelayan tersandung dan jatuh tersungkur. Tidak ada rekannya yang berhenti untuk menolong. Pelayan itu adalah wanita yang sama yang dilihat Hikaru sebelumnya. Ia berbalik dengan mata penuh keputusasaan. Chimera itu sudah berada tepat di belakangnya, mulut kadalnya terbuka lebar, menjulurkan lidah pink yang berlendir.

Sreeet!

Sebuah tebasan putih membelah udara dan menghantam punggung Chimera tersebut. Makhluk itu menjerit kesakitan.

“Sial, cuma lecet sedikit,” gerutu Igloo.

Chimera itu berputar menghadap Igloo dengan mata merah membara. Tebasan tadi memang melukai punggungnya, tapi lukanya dangkal.

“Sa... kit... kau... baji... ngan...!”

Chimera itu mengucapkan kata-kata manusia. Igloo tertegun sejenak, tidak menyangka makhluk itu bisa bicara. Perhatiannya teralih ke tonjolan aneh di perut Chimera—sesuatu yang menyerupai tubuh manusia yang menyatu secara paksa di sana.

“Tuan Igloo!” teriak seorang ksatria.

Igloo tersadar dan melompat menghindar saat Chimera itu merangsek maju. Gerakan monster itu lambat, namun matanya terkunci pada Igloo. Seketika, mulutnya terbuka dan lidahnya melesat keluar. Igloo mencoba mengayunkan pedang besarnya, namun lidah itu melilit bilah pedangnya dan merenggut senjata itu dari genggamannya.

“A-apa?!”

Lidah itu berdarah karena terkena tajamnya pedang, namun sang Chimera tidak peduli dan langsung menelan pedang suci tersebut ke dalam perutnya.


Kegelisahan Lavia dan Aksi Sang Bayangan

Tersembunyi di balik semak-semak, Hikaru menyadari formasi ksatria telah hancur. “Lavia, tetap di sini.”

Hikaru tidak peduli pada Igloo yang kehilangan senjatanya. Fokusnya adalah pelayan yang membeku ketakutan. Mereka adalah warga sipil yang tidak tahu apa-apa tentang racun ini.

“Aku akan segera kembali,” bisik Hikaru sambil mengaktifkan Stealth-nya secara maksimal. Lavia, yang terus memantau gerakannya, dengan cepat kehilangan jejak Hikaru dalam kegelapan malam.

Aku... tidak berguna, batin Lavia pahit sambil bersembunyi. Perasaannya sekelam malam. Hikaru bilang sihirku dibutuhkan. Dia mengandalkanku. Tapi sihirku tidak sempurna.

Sihir api miliknya sulit dikendalikan. Ia tidak bisa mengatur kekuatan Flame Gospel agar tidak mengenai kawan. Baginya, menghancurkan altar tadi bisa dilakukan dengan bubuk mesiu atau item sihir sederhana. Ia merasa belum bisa memenuhi ekspektasi Hikaru sebagai partner yang setara.

Sementara itu, Hikaru sudah sampai di dekat para pelayan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Hikaru sambil mengulurkan tangan. “Ayo, lari dari sini.”

Pelayan itu tidak tahu siapa sosok bertopeng ini, tapi ia tahu orang ini datang membantunya. Saat mereka mencoba pergi, Hikaru merasakan keberadaan berbahaya di belakangnya.

“Gyiiihh!”

Lidah pink Chimera melesat ke arah mereka. Hikaru mendorong pelayan itu hingga terhindar, lalu mencabut Belati Kekuatan miliknya dan menebas lidah tersebut dengan presisi tinggi. Darah menyembur dari lidah yang terpotong itu.

Namun, aksinya menarik perhatian para ksatria.

“Hei, siapa orang berpakaian hitam itu?!” “Dia mendorong pelayan!” “Apakah dia penyusupnya?!”

Beberapa ksatria berlari ke arahnya. Bertarung melawan Chimera dan ksatria sekaligus sangat tidak menguntungkan. Hikaru segera menghilang kembali ke dalam kegelapan menggunakan Stealth.


Keputusan Berisiko

Chimera yang kehilangan sasarannya mengamuk membabi buta. Para ksatria mencoba menahannya dengan perisai besar, namun satu ayunan lengan raksasa monster itu mampu membuat mereka terpental seperti mainan.

“Ksatria Templar! Kenapa kalian tidak membunuh monster itu?! Pedangku ada di dalam perutnya!” teriak Igloo panik dari barisan belakang.

“Tuan Igloo, pedang itu milik Yang Mulia Paus. Anda hanya meminjamnya!” balas sang kapten gusar.

Hikaru mengamati dari kejauhan. Pria ini sepertinya hanya mengandalkan peralatan magisnya. Status Peringkat A miliknya benar-benar meragukan. Igloo tidak memiliki kelincahan seperti Ryver. Dia bahkan tidak berani mengambil risiko untuk menyelamatkan adik atau senjatanya sendiri.

Masalahnya, para ksatria mulai kewalahan. Jika mereka habis, target berikutnya adalah para pelayan di asrama.

Sial, baiklah.

Hikaru menonaktifkan Stealth-nya. Satu-satunya pilihan adalah membuat manusia-manusia di sini bekerja sama mengalahkan Chimera.

“Hei, Ksatria Templar! Evakuasi para pelayan dari asrama sekarang juga! Selagi masih ada yang bisa bergerak!”

Kemunculan sosok hitam itu kembali membuat para ksatria heboh.

“Apa katamu?! Bukankah kau yang menciptakan monster ini?!” teriak sang kapten.

“Bukan!” bantah Hikaru. “Kalian tahu sendiri tentang riset penggabungan manusia dan hewan ini. Pelakunya adalah Ranna yang—”

Hikaru tercekat. Ia baru menyadari sesuatu. Di mana Ranna?


Racun Maut dan Amukan Sang Bayangan

Lavia mengikuti suara langkah kaki itu. Berkat kemampuan Ketidakterlihatan (Imperceptibility) miliknya, sosok di depan tidak menyadari kehadirannya. Namun, medan hutan yang rimbun membuatnya sulit untuk mengejar dengan cepat.

Tiba-tiba, sosok itu bersandar pada pohon untuk mengatur napas. Cahaya bulan yang menembus dahan mengungkapkan wajah Ranna, sang dalang di balik semua kekacauan ini.

Aku berhasil mengejarnya... Tapi, apa sekarang? batin Lavia ragu.

Selama ini, pertarungan jarak dekat adalah domain Hikaru. Jika ia merapalkan sihir di sini, risikonya adalah membakar Ranna hingga tewas. Lavia mencoba berpikir; apa yang akan dilakukan Hikaru? Ia teringat saat di Pulau Southleaf, Hikaru fokus mengulur waktu karena percaya bahwa Lavia dan Paula akan datang membantu.

Lavia menonaktifkan kemampuannya dan menyapa Ranna. “Ke mana kau akan pergi setelah menyebabkan kekacauan sebesar ini?”

Ranna tersentak dan berbalik. Ia melihat siluet hitam berjubah dengan kilasan samar wajah perak. “Kau pasti penyusup yang membakar pabrikku! Apa salahku padamu?!” teriak Ranna dengan tatapan tajam.

“Kau tidak mengerti? Ini adalah konsekuensi karena racun dan Chimera ciptaanmu telah melukai negara lain tanpa alasan yang jelas,” jawab Lavia tegas.

“Aku hanya menciptakan senjata! Negaralah yang memutuskan cara menggunakannya!” bantah Ranna. Ia kemudian menyeringai saat menyadari sesuatu. “Kau sedang mengulur waktu, ya? Menunggumu teman-mu datang. Sikapmu yang terbuka itu meneriakkan bahwa kau adalah amatir. Gadis kecil sepertimu tidak bisa melakukan apa-apa, kan?”

Ranna berbalik untuk lari, namun Lavia dengan cepat merapal mantra.

Flame Wall!

Dinding api meledak tepat di depan Ranna, membuatnya terjatuh lemas. “Aku bisa membakarmu kapan saja aku mau,” ujar Lavia mendekat. Ia merasa bangga karena berhasil melumpuhkan Ranna. Namun, saat ia hendak mengambil tali untuk mengikatnya, ia tidak menyadari senyum tipis di wajah Ranna.


Malaapetaka di Balik Cahaya Api

Hikaru sudah merasakan keberadaan Lavia dan Ranna melalui Deteksi Mana. Ia mengutuk kecerobohannya sendiri karena baru menyadari pelarian Ranna sekarang. Tiba-tiba, semburat sihir api menerangi hutan.

Itu Flame Wall. Lavia sedang menahan Ranna.

Hikaru berlari sekuat tenaga. Ia tahu kemampuan fisik Lavia sangat lemah. Melalui celah pepohonan, ia melihat Lavia mendekati Ranna, namun saat itulah Ranna merogoh sakunya.

“Berhenti!” teriak Hikaru.

Peringatan itu terlambat. Ranna melemparkan sesuatu tepat ke wajah Lavia. Gadis itu membeku dan mulai terjatuh ke belakang.

“Lavia... Laviaaa!”

Hikaru melesat maju, menonaktifkan Stealth, dan langsung mengonfrontasi Ranna. “Apa yang kau lakukan padanya?!”

“Oho, kau pasti rekannya,” sahut Ranna santai. Ia terkekeh saat melihat Hikaru mengangkat tubuh Lavia. “Itu adalah versi yang diperkuat dari Racun Terkutuk. Aku, peneliti jenius Ranna, tidak hanya berhenti pada racun biasa. Yang satu ini dijalin dengan sihir yang lebih kompleks, dan aku tidak membuat penawarnya. Sama seperti aslinya, ini tidak bisa disembuhkan dengan sihir. Gadis itu hanya punya waktu beberapa menit.”

Hikaru menyapu cairan dari mulut Lavia dengan kain. Deteksi Mananya melihat rune sihir yang sangat mirip dengan racun sebelumnya, namun menyebar dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Amarah Hikaru memuncak, memancarkan niat membunuh yang membuat Ranna gemetar.

“Ja-jangan urusi aku! Lihat di belakangmu!” Ranna menunjuk ke arah kegelapan dan langsung melarikan diri.


Papan Jiwa: Pertaruhan Nyawa

Hikaru sudah merasakannya. Langkah kaki berat yang mendekat. Sang Chimera sedang menuju ke arah mereka.

“...Maafkan aku, Hikaru...” bisik Lavia lemah. Napasnya tersengal, bintik hitam mulai muncul di kulitnya dengan sangat cepat.

Hikaru segera memanggil Papan Jiwa milik Lavia.

[Soul Board] Lavia

  • Usia: 14 | Rank: 22 | Poin Tersisa: 4

  • Mana Capacity: 11

  • Fire Affinity: 5

  • Imperceptibility: 3

Pangkat Jiwa Lavia telah naik dua tingkat sejak pertempuran di Pulau Southleaf, memberinya empat poin yang belum terpakai. Tanpa ragu, Hikaru membuka kategori Kekebalan (Immunity) dan memasukkan tiga poin ke dalam Kekebalan Racun (Toxin Immunity).

Seketika, napas Lavia menjadi lebih stabil. Ini akan memberi mereka waktu.


Penghakiman Sang Bayangan

“Gyuoaaaaaaaah!”

Chimera itu muncul. Makhluk itu sepertinya telah menyerap kecerdasan ksatria yang ia makan, karena ia mulai bisa menggeramkan kata-kata manusia: “Kau... berbahaya...!”

“...Diamlah.” Hikaru tidak lagi peduli.

Bagi si Chimera, Hikaru tiba-tiba menghilang. Menggunakan Kamuflase Kelompok (Group Cloaking), Hikaru menyandarkan Lavia di pohon besar dan mengaktifkan Stealth maksimalnya sendiri. Ia mulai menyerang.

Menggunakan atlatl (pelontar tombak) dalam jarak dekat, Hikaru menghujamkan tombak ke kaki kiri Chimera yang setebal gajah. Makhluk itu menjerit. Karena ukuran tubuhnya yang masif, Hikaru tidak bisa memberikan satu serangan mematikan instan, namun ia punya cara lain.

Hikaru bergerak seperti hantu di antara pepohonan. Satu tombak lagi menembus kaki kanan Chimera. Tubuh raksasa itu jatuh berdebum, menggetarkan tanah. Hikaru mendekat, menghujamkan sisa tombak dan Suntetsu-nya ke punggung, paha, dan perut monster itu.

Terakhir, ia mencabut Belati Kekuatan dan menghujamkannya tepat ke jantung makhluk itu.

“Gggh?!” Chimera itu kejang-kejang hebat.

“Aku kasihan padamu karena dipermainkan manusia. Tapi aku punya seseorang yang harus kulindungi,” bisik Hikaru dingin sebelum sosoknya kembali menghilang ke dalam kegelapan.

Chimera itu belum mati, tapi kondisinya sangat kritis. Dengan lima puluh ksatria yang masih tersisa di sekitar pabrik, mereka seharusnya bisa menghabisinya. Hikaru tidak punya waktu lagi untuk monster itu; fokusnya sekarang adalah menyelamatkan Lavia sepenuhnya.


Bangkai Monster dan Cahaya di Pemukiman Kumuh

“Unit pertama, lima belas terluka! Terlalu sulit untuk melanjutkan pertempuran!” “Unit kedua, tidak ada korban, kami siap lanjut!” “Unit ketiga, beberapa terluka, kami masih bisa bertarung!” “Tidak ada respons dari unit keempat!”

“Cepat cari pedangku!”

Para ksatria berkumpul di depan reruntuhan pabrik, mendata kerusakan yang terjadi. Unit keempat mengalami dampak terburuk karena mereka yang pertama kali merangsek masuk. Komandan mereka, yang berhadapan langsung dengan Chimera, menderita patah tulang lengan kiri, namun tetap bertahan berkat sihir penyembuhan dasar.

Sementara itu, Igloo terus merengek dan membuat keributan, menuntut pengembalian pedangnya yang tertelan ke dalam perut Chimera.

“Unit pertama, urus yang terluka. Unit ketiga, cari unit keempat. Unit kedua, ikuti aku untuk melacak monster itu!” perintah sang kapten.

“Cepatlah! Jika pedangku larut dalam asam lambung makhluk itu, kalian semua akan menanggung akibatnya!” teriak Igloo.

Sang kapten mengabaikan Igloo sebisa mungkin, memimpin dua puluh ksatria masuk ke dalam hutan.

“Kapten, aku mencium bau asap dan darah dari arah depan,” lapor seorang ksatria.

Pikiran sang kapten melayang pada sosok hitam misterius yang ia lihat sebelumnya. Apakah orang itu yang melakukannya? Atau justru orang itu telah tewas dikalahkan sang monster?

“Kapten!” seorang ksatria di barisan depan berseru. “Monsternya... dia sudah tumbang!”

Satu menit kemudian, mereka melihat sang Chimera. Makhluk itu masih hidup, namun bersimbah darah. Tubuhnya dipenuhi luka tusukan dari berbagai senjata kecil—bilah hitam, objek mirip tombak, dan belati—semuanya menancap dalam, berkilauan di bawah cahaya bulan meski tertutup darah pekat.

Dalam sepuluh menit berikutnya, Ksatria Templar menghabisi Chimera tersebut secara sistematis. Senjata Igloo ditemukan di dalam perut monster itu, berdampingan dengan sisa-sisa ksatria yang mulai melarikan diri. Pegangan pedangnya sudah meleleh, namun bilahnya tetap utuh tak bercela.


Diakon Tersembunyi: Luvain

Agiapole dikenal sebagai kota yang murni, namun ia tetap memiliki sisi gelap—distrik-distrik kumuh tempat warga biasa bertahan hidup. Di sinilah, di sebuah gereja tua yang dindingnya sudah kusam dan atapnya bocor, Luvain berada. Ia mengenakan pakaian diakon sederhana, bukan jubah archpriest-nya yang megah, untuk menghindari perhatian. Jika orang tahu seorang archpriest memberikan pengobatan gratis, tempat ini akan langsung diserbu lautan manusia.

Luvain baru saja memasuki ruang istirahat untuk menarik napas sejenak. Ia tampak sangat kelelahan meski hari masih pagi. Reputasinya sebagai penyembuh yang tulus telah menarik banyak pasien dari berbagai penjuru.

“Apakah kau Luvain?”

Sebuah suara terdengar di ruangan yang seharusnya kosong itu. Luvain berputar dan melihat sosok berjubah dengan topeng perak yang menyembunyikan wajahnya. Di atas tempat tidur di dekat sana, terbaring seorang gadis muda.

“Anak itu...!”

Mata Luvain membelalak. Ia melihat bintik-bintik hitam samar di tangan gadis itu—tanda pasti dari Racun Terkutuk.

“I-mustahil. Orang yang terinfeksi di Agiapole? Tidak, yang lebih penting, kondisinya tidak bisa disembuhkan dengan sihir biasa. Ada penawar khusus di Menara, jadi jika kau—”

Pria bertopeng perak itu menggeleng. “Ini tidak bisa disembuhkan dengan penawar itu. Ini adalah versi racun yang telah diperkuat.”

“Diperkuat?! Apa maksudmu—tunggu, siapa kau sebenarnya...?”

Luvain tersentak. Jubah itu, topeng perak itu, dan kemampuan menghapus keberadaan yang luar biasa... Ini adalah sosok yang muncul di turnamen Ruler’s Rumble.

Silver Face?”

Pakaian Hikaru tampak kotor, tercium bau darah dan aroma hutan yang tajam pada dirinya.

“Aku merasa terhormat kau mengenalku. Sekarang, cepat sembuhkan dia.”

“T-tapi ini tidak bisa diobati dengan sihir...”

“Jika kau bisa mengobatinya, kau bisa menyelamatkan orang lain,” tegas Hikaru. “Gunakan Spellbreak Antidote sekarang.”

Luvain tertegun. Itu adalah mantra yang sangat sulit dan hampir tidak pernah digunakan dalam sesi penyembuhan resmi Gereja. Ia hanya tahu teori dasarnya.

“A-aku belum pernah berhasil menggunakan sihir itu sebelumnya.”

“Kau bisa. Pasien yang menderita ada tepat di depanmu. Apa kau akan membiarkannya mati?”

Luvain terdiam. Ia menyadari bahwa Silver Face tahu dia adalah seorang penyembuh yang tulus, sebuah kelangkaan di antara anggota Gereja di Agiapole. Luvain merasa muak dengan arah kebijakan Paus yang sudah melenceng dari ajaran orang suci masa lalu. Jika ia tidak bisa melawan Paus sendirian, mungkin ia harus memercayai pria ini—pria yang berani menentang doktrin Bios.

Luvain memutuskan untuk bertaruh. Ia tidak akan bertanya tentang identitas mereka. Ia hanya seorang penyembuh yang menjalankan tugasnya.

“Baiklah,” ujar Luvain. “Aku akan mencoba Spellbreak Antidote. Tapi aku tidak menjamin ini akan berhasil.”

“Ini akan berhasil.”

Kepercayaan diri Hikaru yang tak tergoyahkan membuat Luvain terdorong. Ia mengambil buku doa dan berdiri di samping Lavia yang napasnya mulai dangkal.

Demi perjanjian yang diwariskan dari zaman kuno, permohonan dikabulkan, kontrak terpenuhi. Wahai Dewa yang berada di surga, dengan cahaya penyucimu, berikanlah napas kehidupan sekali lagi kepada jiwa ini. Spellbreak Antidote!

Luvain merasakan mana-nya mengalir deras. Cahaya berbentuk spiral bergerak dari ujung jarinya masuk ke dalam tubuh Lavia. Bintik-bintik hitam di tangan gadis itu memudar dan lenyap seketika. Cahaya itu seolah memecah racun di dalam darahnya secara mekanis.


Peringatan Sang Bayangan

Hikaru segera menggendong Lavia kembali setelah sihir itu selesai.

“Terima kasih,” ujar Hikaru dengan nada lega yang sangat jelas.

“Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau mencampuri urusan Gereja?” tanya Luvain.

“Aku tidak mencampuri urusan Gereja. Aku hanya tidak bisa mentoleransi perbuatan jahat,” jawab Hikaru dingin. “Tanyalah pada atasanmu. Apakah Gereja benar-benar mengajarkan untuk menggabungkan hewan dan manusia demi menciptakan kehidupan baru?”

Luvain tersentak. Hikaru jelas merujuk pada proyek Malaikatisasi.



“Aku akan pergi sekarang. Sisakan sedikit mana-mu; kau mungkin akan segera membutuhkannya. Anggap itu sebagai imbalan atas penyembuhan ini.”

“Tunggu, aku belum selesai—”

Hikaru melesat keluar ruangan sambil membawa Lavia. Saat Luvain mengejarnya ke luar, sosok itu sudah lenyap tertelan kegelapan pagi, seolah-olah ia tidak pernah ada di sana.



Previous Chapter | LIST | Next Chapter



Post a Comment

0 Comments