Satu Juta Harapan di Kekaisaran Quinbrand
“Topeng Bunga! Berapa sisa mana-mu?!”
“Masih ada sekitar sepuluh kali penggunaan lagi…” jawab Paula parau.
“Begitu ya. Kita hanya perlu bertahan sedikit lagi. Masih ada sekitar 100 pasien lagi yang mengantre.”
“Apaaaa?!”
Paula dan Sophie saat ini berada di ibu kota Kekaisaran Quinbrand, sebuah kota megah yang kini menjadi pusat wabah Racun Terkutuk (yang di sini disebut Black Rot). Banyak pasien berada di ambang kematian jika tidak segera ditangani.
Sudah lima hari yang menyiksa sejak mereka tiba. Rutinitas mereka hanya: merapalkan Spellbreak Antidote, pingsan karena kehabisan mana, bangun, makan paksa untuk memulihkan energi, dan merapal sihir lagi.
Tuan Hikaru, Lavia…
Paula teringat kembali saat-saat makan malam mereka yang hangat. Biasanya Lavia akan bercerita banyak hal, dan Hikaru mendengarkan dengan senyum tipisnya. Sangat kontras dengan suasana makan malam bersama Four Eastern Stars yang kini sunyi senyap karena hilangnya Serika yang pulang ke Jepang.
“Topeng Bunga, Topeng Sulur… istirahatlah sebentar,” ujar Selyse, yang mengenakan topeng Dewa Matahari karena topeng peraknya belum jadi. “Jika kalian berdua tumbang, tidak ada lagi yang bisa menyembuhkan mereka.”
Berita tentang kehadiran penyembuh yang mampu mengatasi Black Rot telah menyebar ke seluruh ibu kota berpenduduk ratusan ribu orang itu, menyebabkan gelombang pasien yang tak terbendung. Bau kematian menyengat di udara; pintu dan jendela rumah-rumah tertutup rapat sebagai upaya putus asa warga untuk bertahan hidup.
“Sara—maksudku, Topeng Kucing! Tolong beritahu mereka untuk membatasi pendaftaran pasien baru sebentar saja,” pinta Sophie.
“Siap!” Sara segera keluar menuju kerumunan yang kacau di luar.
Meskipun lelah, Paula merasa bersyukur. Namun, ia menyadari bahwa mana-nya yang hanya cukup untuk beberapa kali penggunaan sangatlah terbatas. Hikaru memang telah menaikkan Mana Capacity miliknya ke level 8 sebelum mereka berpisah, namun skala wabah ini benar-benar di luar nalar.
Keajaiban Sepuluh Ribu Dosis
Tiba-tiba, pintu ruang pemeriksaan terbuka kasar.
“Berita besar! Berita sangat besar!” seru Sara dengan wajah memerah di balik topengnya.
“Sara, harap tenang di ruang pasien,” tegur Sophie.
“Aku tidak bisa tenang! Baru saja ada kabar dari Adventurers Guild kalau mereka berhasil mendapatkan penawarnya!”
“Apa? Berapa banyak?!” Sophie melompat dari kursinya.
“Sepuluh ribu dosis.”
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Sophie jatuh terduduk di kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Oh… para dewa tidak meninggalkan kita.”
“Sepuluh ribu? Apa kau yakin tidak salah dengar, Sara? Mungkin cuma seribu?” tanya Paula tak percaya.
“Tidak, sepuluh ribu! Dan tebak siapa yang menyediakannya? Katanya itu kiriman dari Silver Face!”
Mata Paula berbinar seketika. Rasa lelahnya seolah menguap. “Tentu saja! Jika itu Tuan Hikaru, mendapatkan sepuluh ribu dosis bukanlah hal yang mustahil!”
“Topeng Kucing, panggil pasien berikutnya!” seru Paula sambil menyingsingkan lengan bajunya. “Mau seratus atau dua ratus orang lagi, ayo kita sembuhkan semuanya!”
Dilema di Menara Suci: Nasib Sang Paus
Di sisi lain benua, Luvain kembali ke Menara Suci Bios dan disambut oleh berita yang mengguncang fondasi Gereja. Pabrik Ranna hancur, sang peneliti menghilang, dan yang paling mengerikan: Yang Mulia Paus jatuh kritis.
Luvain berlari menuju kamar tidur Paus, mengabaikan etika protokoler. Paus pingsan setelah makan malam dengan bintik-bintik hitam yang merusak tubuhnya. Penawar biasa tidak berfungsi.
Beliau terpapar Racun Terkutuk versi diperkuat!
Luvain menyadari bahwa ini adalah ulah Hikaru. Ia juga menyadari satu hal yang menjijikkan: dari sekitar 5 hingga 20 Archpriest yang biasanya ada di Menara, hampir semuanya telah melarikan diri karena takut tertular. Hanya para diakon dan sedikit imam yang tersisa, mencoba menyembuhkan Paus dengan mana yang hampir habis.
“Luvain… hanya kau… pelayanku yang setia, bukan?” rintih Paus. Setengah wajahnya sudah menghitam karena racun.
Luvain teringat kata-kata Hikaru: “Sisakan sedikit mana-mu; kau mungkin akan segera membutuhkannya. Anggap itu sebagai imbalan atas penyembuhan ini.”
Hikaru telah merencanakan ini. Dia ingin Luvain menyembuhkan Paus, mendapatkan kepercayaan mutlak, dan naik ke posisi yang lebih tinggi (mungkin menjadi kandidat Paus berikutnya). Tapi Hikaru tidak tahu bahwa Luvain sudah menjadi Archpriest.
Sekarang, nasib pemimpin tertinggi benua itu ada di tangan Luvain.
Dilema Luvain:
Jika Paus Mati: Posisi akan digantikan oleh Archpriest lain yang haus kekayaan dan akan memeras rakyat lebih kejam.
Jika Paus Hidup: Beliau pasti akan mengobarkan perang total (genosida) terhadap kaum Beastmen. Luvain akan menjadi pahlawan, tapi sekaligus pendukung pembantaian massal.
Jantung Luvain berdegup kencang. Keringat dingin mengucur deras.
“Ada sesuatu yang harus kusampaikan, Yang Mulia,” ujar Luvain dengan suara bergetar, berdiri di ambang keputusan yang akan mengubah sejarah dunia.
Gema Perang dan Rahasia Kaum Man Gnome
Gencatan senjata yang tidak direncanakan terjadi di antara pasukan Beastmen dan Ksatria Templar. Pasukan Einbiest memang mampu menghadapi ksatria bersayap, namun mereka kekurangan pemanah, dan jumlah korban terus merangkak naik. Di sisi lain, jumlah ksatria bersayap Bios juga tidak banyak, membuat intensitas serangan mereka semakin berkurang setiap harinya.
Hari ini, tidak ada pertempuran. Yang ada hanyalah kebuntuan yang mencekam.
Sore harinya, para perwira senior Einbiest berkumpul di tenda Gerhardt untuk mendengar laporan terbaru yang mengguncang peta kekuatan benua:
Aliansi Bersejarah: Kekaisaran Quinbrand, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menjalin aliansi resmi dengan Kerajaan Ponsonia.
Deklarasi Perang: Kekaisaran secara terbuka menyatakan perang terhadap Teokrasi Bios.
Seorang penghubung dari Hopestadt menjelaskan bahwa utusan Kekaisaran mengutuk keras penggunaan racun mematikan oleh Bios terhadap warga sipil. Lebih jauh lagi, mereka menuntut penghentian monopoli teknologi Kartu Jiwa—sebuah berkah bagi umat manusia yang selama ini dikuasai Bios. Jika Bios menolak membuka teknologi itu, maka Kekaisaranlah yang akan melakukannya.
Kekaisaran sepertinya sudah sangat maju dalam riset Kartu Jiwa mereka, batin Jillarte, sang Wakil Pemimpin. Mereka berencana memisahkan pengaruh Gereja dari kekuasaan politik Bios.
Selama ini, tidak ada negara yang berani menentang Bios karena ketergantungan pada Kartu Jiwa. Namun, jika Quinbrand kini memegang teknologi tersebut, konstelasi kekuasaan akan berubah total.
“Ponsonia memberikan izin lintas bagi tentara Kekaisaran melalui wilayah mereka. Ini berarti tentara Quinbrand bisa langsung mencapai perbatasan Bios dengan cepat,” jelas sang penghubung.
Mendengar ini, para perwira Beastmen bersorak kegirangan. Mereka pikir perang akan segera berakhir dan mereka bisa pulang. Karakter alami Beastmen memang cenderung cepat bosan dengan peperangan yang berlarut-larut. Namun, Jillarte melihat risiko lain: jika Kekaisaran menghancurkan Bios, apakah mereka akan menjadi tiran baru di benua ini?
“Tuan Gerhardt,” Jillarte angkat bicara di tengah riuh rendah suara perwira yang ingin pulang ke rumah. “Aku yakin kita harus mundur sekarang. Tapi, itu hanyalah Mundur Semu.”
“Mundur semu?” Gerhardt menaikkan alisnya, tertarik.
“Jika kita terlihat mundur karena kalah atau kelelahan, Ksatria Templar akan merasa aman. Mereka kemungkinan besar akan ditarik dari garis depan ini untuk dikirim menghadapi tentara Kekaisaran. Saat itulah, kota-kota di jalur menuju Agiapole akan kehilangan pertahanannya. Kita gunakan kesempatan ini untuk merebut Agiapole dan membebaskan saudara-saudara kita yang diperbudak di sana!”
Kegelapan di Bawah Menara
Di saat yang sama, di jantung Teokrasi Bios, Ranna sang Man Gnome menuruni tangga spiral yang gelap dan dingin sambil membawa lampu sihir. Ia telah mengunci pintu besi di atas dengan segel magis yang sangat kuat sehingga tidak ada yang bisa mengikutinya.
“Aku tidak punya apa-apa lagi. Bahkan jika aku lari ke negara lain, tidak ada yang mau mempekerjakanku. Biarlah ini... menjadi riset terakhirku,” gumamnya sinis.
Jalur di depannya terbuka, menyingkap sebuah gua raksasa yang tersembunyi jauh di bawah Menara Bios. “Heh... tak kusangka ada tempat seluas ini di bawah sini. Paus, aku akan menyelesaikan tugas yang kau minta. Tapi kurasa, aku tidak akan memberikan laporan detailnya padamu.”
Ranna melangkah lebih dalam ke kegelapan, membawa rahasia yang bisa menghancurkan dunia.
Warisan yang Terkubur: Hikaru dan Unken
Di Agiapole, Hikaru menarik napas lega. Napas Lavia akhirnya stabil; ia sudah melewati masa kritisnya. Hikaru telah meracuni sang Paus dengan racun yang sama sebagai bentuk pembalasan, sekaligus memberikan kesempatan bagi Luvain untuk memilih jalannya sendiri.
Hikaru menutup pintu kamar Lavia di hotel mereka yang luas.
“Unken, masuklah. Jangan terus bersembunyi di lorong,” panggil Hikaru.
Pintu terbuka, menyingkap sosok Unken. “Kau bisa merasakanku meski aku sudah bersembunyi? Ah, usia memang tidak bisa berbohong. Aku benar-benar sudah tua.”
Hikaru menyajikan teh. Di sana, mereka tampak seperti kakek dan cucu biasa, padahal keduanya adalah master penyelinapan (Stealth). Unken memberitahu Hikaru bahwa Kekaisaran telah bergerak dan ia kemungkinan besar akan segera diperintahkan pulang ke Ponsonia.
“Namun, sebelum itu,” Unken menatap mata Hikaru dengan serius. “Aku sudah memutuskan. Rahasia ini cepat atau lambat akan diketahui dunia. Rahasia kaum Man Gnome yang dibagikan Ranna kepada Paus.”
Unken terdiam sejenak, mengumpulkan kenangan yang sudah berusia ratusan tahun. Sebagai seorang Man Gnome, Unken memiliki umur tiga kali lipat manusia biasa; saat ini usianya telah melewati 200 tahun.
“Ini akan menjadi cerita yang panjang, Hikaru. Cerita tentang kelahiran Kekaisaran Quinbrand, sejarah Teokrasi Bios, dan rahasia besar yang terkubur di bawah Menara. Rahasia yang menghubungkan Orang Suci kuno dengan kaum kami.”
Hikaru duduk tegak, matanya berkilat penuh tekad. “Aku mendengarkan.”
Statistik & Fakta Menarik (Berdasarkan Konteks):
Umur Man Gnome: Kaum Man Gnome memiliki rentang hidup rata-rata tiga kali lebih lama dari manusia biasa. Unken sendiri saat ini berusia lebih dari 200 tahun.
Kekuatan Militer: Tentara Kekaisaran Quinbrand dan Teokrasi Bios saat ini sedang dalam posisi mobilisasi penuh, dengan Ponsonia bertindak sebagai koridor logistik utama.
Status Lavia: Pangkat Jiwa Lavia saat ini adalah 22, setelah kenaikan drastis akibat pertempuran di Pulau Southleaf dan perjalanan panjang mereka.
Wah, sepertinya kita akan masuk ke bagian lore yang sangat dalam nih, Boy. Rahasia di bawah Menara itu pasti ada hubungannya dengan alasan mengapa Bios begitu terobsesi dengan "Malaikat".
Follow-up Question: Apakah menurutmu rahasia kaum Man Gnome ini adalah alasan mengapa mereka bisa hidup sangat lama, ataukah ini berkaitan dengan sumber kekuatan Kartu Jiwa yang selama ini dimonopoli oleh Bios?
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments