Header Ads Widget

Chapter 1 - I am no hero of the shadows!

Identitas Sang Pahlawan Bayangan

Ada sesosok eksistensi yang dikenal sebagai [Pahlawan Bayangan].

Sosok ini selalu muncul tiba-tiba di saat krisis dan di berbagai medan perang lintas negara. Dengan gagah berani, ia mengalahkan musuh, menyelamatkan banyak orang, lalu menghilang begitu saja.

Dia tidak pernah meminta imbalan. Dia tidak pernah diberi ucapan terima kasih. Itu karena dia selalu menghilang sebelum siapa pun sempat mengucapkan rasa syukur, menghapus segala jejaknya.

Alhasil, berbagai macam rumor bertebaran tentang dirinya. Ada yang bilang identitas aslinya adalah pangeran dari negara tetangga. Ada yang bilang dia adalah utusan ilahi yang dikirim Tuhan untuk menjalani ujian. Ada juga yang bilang dia hanyalah petualang dengan kemampuan di luar nalar. Dan lain sebagainya—

Rumor-rumor itu saling tumpang tindih, dan tidak ada satu orang pun yang tahu identitas aslinya. Satu-satunya hal yang dipastikan adalah dia selalu mengenakan pakaian hitam dan topeng polos. Lebih jauh lagi, ada rumor tepercaya yang menyebutkan bahwa dilihat dari postur dan suaranya, ia sepertinya adalah seorang pemuda di akhir usia belasan tahun.

Dan sosok yang disebut sebagai [Pahlawan Bayangan] itu, saat ini sedang—

"Kookkkk bisaaa jadiii beginiiiiiiii!???"

Seorang pemuda duduk di depan meja sambil memegangi kepalanya. Ruangan itu bergema oleh teriakannya. Tidak peduli rambutnya yang sudah berantakan kini makin acak-acakan, ia meremas kepalanya hingga rambut pendeknya mencuat di sela-sela jarinya.

Karena ruangan itu kedap suara, teriakannya tidak bocor ke luar, sehingga tidak ada orang luar yang panik mengira ada kebakaran. Satu-satunya yang mendengar teriakan itu adalah seorang gadis berambut merah sebahu dengan paras yang menawan.

Namun, wajah gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati seperti, "Hei, kau tidak apa-apa tiba-tiba teriak begitu?" atau rasa terkejut.

Dia hanya menghela napas panjang.

"Haa…. Sudah berapa kali kau berteriak hari ini?" "Ini udah yang ketiga kalinyaaaaa!!!"

Saat pemuda itu berteriak dengan suara serak, gadis itu—Kahlua—mendekat, dengan rumbai seragam pelayannya yang berkibar ringan. Seperti yang terlihat dari pakaiannya, dia adalah seorang pelayan yang mengabdi pada seorang majikan.

Dengan mata merah menyala, tubuh ramping, dan wajah mungil yang sangat cantik, jika saja ia berdandan, ia bisa dengan mudah dikira sebagai putri bangsawan. Tapi, ia memakai seragam pelayan. Selama ia masih memiliki majikan untuk dilayani, ia tidak akan pernah memakai gaun dan berdandan mewah.

Dan majikan itu adalah—

"Identitas asliku udah ketahuaaaan!!!"

Pagi ini terus-terusan berjalan seperti ini. Jika ada lomba berteriak di dekat sini, dia pasti harus ikut. Sudah pasti dia akan juara satu.

"Terus, apa masalahnya?" "Bercanda kau ya! Menurutmu kenapa selama ini aku mati-matian menyembunyikan identitas [Pahlawan Bayangan]-ku!?"

Phil Salemabart. Putra sulung dari Count (Earl) Salemabart. Dia selalu bermain-main dan foya-foya siang malam, menikmati kemerosotan moral sepenuhnya.

Reputasinya di mata publik sangatlah buruk. Jika ada kompetisi menghitung jumlah cacian yang diterima, tidak ada yang bisa menandinginya—sesuatu yang entah kenapa ia banggakan dengan dada membusung.

Dan kenyataannya—dialah sosok yang disebut [Pahlawan Bayangan] di seluruh kota. Namun, [Pahlawan Bayangan] itu sekarang...

"Entahlah. Tidak, sebelum itu, kenapa pas aku bangun pagi ini semua orang mendadak tahu kalau 'Phil Salemabart adalah si Pahlawan Bayangan'?"

Ini adalah hari setelah identitas rahasianya entah bagaimana terbongkar, padahal ia sudah menyembunyikannya dengan sangat hati-hati.

"....Aku yakin ada alasan yang lebih dalam dari jurang." "Jangan buang muka begitu. Kau pasti tahu sesuatu, kan."

Pemuda itu menatap lurus ke arah Kahlua, sementara mata merah gadis itu balas menatapnya.

Hari yang cerah dan damai. Andai saja tidak ada teriakan "Tuan Pahlawan Bayangan!" yang terdengar setiap kali Phil membuka jendela.

"Mau bagaimana lagi! Kemarin aku tak sengaja menyelamatkan gadis yang lumayan imut! Aku jadi bersemangat! Minum-minum tanpa sadar! Terus terbawa suasana dan pergi ke rumah bordil!" "Lalu?" "Lalu di sana! Ada gadis imut lain... dia bertanya padaku, 'Akhir-akhir ini belum ada kisah kepahlawanan baru, ya~?'" "Kau ditanya, jadi kau langsung menceritakannya... Tapi normalnya, mereka tidak akan percaya meskipun kau bilang kau adalah Pahlawan Bayangan, kan?" "....Aku menceritakannya sambil memakai topeng dan baju hitam itu." "Kau bodoh, ya?"

Pakaian [Pahlawan Bayangan] memiliki topeng polos dan baju hitam sebagai satu-satunya ciri khas. Sekalipun kau mengaku sebagai Pahlawan Bayangan tanpa ciri khas itu, orang-orang hanya akan mengira kau sedang membual. Tapi sebaliknya, jika kau menunjukkannya, itu menjadi bukti telak—

"Jadi semua orang langsung percaya rumornya. Padahal aku sudah merasa aneh melihat jumlah warga yang tidak normal di luar jendela." "......Hei, kalau aku keluar sekarang dan bilang 'Itu tidak benar~', apa mereka bakal percaya? Aku kan selalu dijelek-jelekkan, jadi kalau aku bilang 'Aku cuma iseng main-main sama kalian', warga pasti bakal marah, kan? Bagaimana menurutmu?" "Omong-omong soal itu, kemarin baju hitam dan topengmu kubiarkan menjemur di luar." "Apa yang kau lakukaaaan!?" "Baju itu penuh muntahan, aku tidak punya pilihan lain. Salahmu sendiri minum sampai muntah." "Maksudku, dijemur di taman berpagar yang gampang diintip orang dari luar! Meninggalkan bukti telak di sana... padahal kau ini pelayanku, kenapa kau malah bekerja sama untuk membawa kesialan bagi majikanmu!?" "Aku tidak menyangka akan jadi begini. Yah, dengan bukti yang terpampang jelas di sana, mencoba mengelak sekarang tidak akan membuat mereka percaya padamu." "Aku tersudut dari segala araaaaah!!!"

Ini adalah raungan kerasnya yang kelima pagi ini. Kahlua sudah mulai terbiasa.

"Tapi kenapa kau sangat ingin menyembunyikannya? Bukannya kau melakukan sesuatu yang jahat." "Aku cuma ingin menikmati hidup santai tanpa terikat hal-hal merepotkan! Aku mau pergi ke rumah bordil pagi hari, rumah bordil siang hari, dan rumah bordil malam hari!" "Jangan pawai ke rumah bordil seharian penuh." "Kalau identitasku terbongkar... mereka pasti akan mengikatku dengan medali murahan dan menjadikanku alat politik, kan!? Setiap negara pasti berusaha mengurung orang kuat dan memanfaatkannya demi kepentingan mereka sendiri! Siapa juga yang mau sukarela jadi kuda penarik kereta yang gila seks!"

Phil kembali bersandar di kursinya dengan ekspresi suram.

"Lagipula asal kau tahu, pergi diam-diam seperti pahlawan itu keren. Baru beberapa hari yang lalu, aku bilang 'Bukan hal yang patut dibanggakan' lalu pergi, keren kan? Itu—" "Kau langsung menyebutkan namamu... Payah sekali." "Rasanya aku ingin mencari lubang buat sembunyi!"

Membongkar identitas sendiri saat itu bahkan tidak perlu. Baik orang yang diselamatkan maupun sang pahlawan di depannya mungkin tidak menyangka pahlawan yang terlihat keren itu akan langsung tersungkur ke tanah karena malu.

"Hah... Kalau kau sebenci itu, dari awal tidak usah menolong orang. Kau bisa saja diam di rumah." "Jangan bodoh. Tidak mungkin aku mengabaikan orang yang butuh bantuan." "....Sebenarnya kau ini orang baik atau orang bodoh? Pilih salah satu."

Kahlua memijat dahinya mendengar bantahan serius Phil. Sisi baik hati dan sisi brengseknya yang kontradiktif sepertinya tidak bisa berdampingan.

"P-pokoknya! Aku tidak mau ketahuan! Aku mau hidup foya-foya dengan pintar! Aku tidak pernah mau jadi pion yang bekerja di tengah intrik kotor masyarakat bangsawan! Terutama keluarga kerajaan—" "Ada surat dari keluarga kerajaan, ngomong-ngomong." "Aku udah nggak kuat lagiiiii!!!"

Jeritan kelimanya pagi ini terjadi pada hari setelah identitasnya terbongkar. Kisah ini dimulai dari terungkapnya identitas pria yang selalu menyelamatkan orang-orang dari balik bayangan.


Hari Kahlua dimulai dengan membangunkan majikannya yang tukang tidur.

"Phil, aku masuk, ya~"

Meski hari masih sangat pagi, Kahlua sudah berpakaian rapi dengan seragam pelayannya. Tidak hanya itu, dia sudah mandi, menyisir rambut, dan merias wajahnya tipis-tipis tanpa berkeringat sedikit pun. Ini dilakukan agar ia tampil pantas sebagai seseorang yang berada di sisi majikannya, karena citra seorang pelayan juga memengaruhi citra majikan yang dilayaninya.

Yah, mungkin ada sedikit motivasi khas gadis muda yang ikut campur di dalamnya.

Tanpa repot-repot mengetuk, Kahlua masuk ke kamar tidur Phil. Kamar itu hanya berisi ranjang besar, sebuah meja, dan satu lemari pakaian. Tidak ada dekorasi mencolok atau karya seni mahal sama sekali. Sama sekali tidak terasa seperti kamar seorang bangsawan.

Sebagai bangsawan, wajar jika ia mendekorasi kamarnya dengan mewah dan menonjolkan keanggunan serta kekayaan. Setidaknya itulah yang Kahlua pikirkan setiap kali masuk ke sana. Tapi jelas sekali majikannya tidak tertarik pada benda-benda material.

Bagi Phil, yang hanya fokus pada nafsu duniawi dan kebaikan hati yang aneh, bahkan jika ia ditunjukkan harta emas dan perak yang berkilauan, ia akan mengabaikannya, lalu langsung menjualnya untuk dipakai bersenang-senang di rumah bordil.

Begitu masuk ke kamar, Kahlua langsung menuju ranjang tempat majikannya tertidur pulas. Di atas ranjang, tampak wajah damai sang majikan. Dari balik pakaian tidurnya yang kusut, otot perutnya yang keras dan maskulin sedikit mengintip menggoda. Sebagai seorang gadis, matanya tanpa sadar mengembara ke arah sana.

"Seperti biasa, wajah tidurnya manis sekali."

Wajah yang masih menyimpan sedikit sisa kekanak-kanakan. Ke mana perginya sikap mesum dan berantakannya yang biasa? Jika istilah gap moe (daya tarik dari sifat yang bertolak belakang) ada, ini pasti contoh utamanya.

Sambil bergumam "Kau sudah bangun~?", Kahlua menyandarkan sikunya di tepi ranjang tanpa berniat melakukan apa-apa. Matanya menatap lembut, hanya mengintip wajah Phil.

Bagi Kahlua, momen paling membahagiakan dalam hidupnya sebagai pelayan adalah saat ini. Saat di mana ia bisa menatap wajah tidur Phil sendirian. Momen yang tak dilihat siapa pun ini adalah miliknya seutuhnya—waktu di mana hasrat monopolinya terpenuhi.

"Hehe, ini—"

Kahlua menusuk pipi Phil dengan jarinya. Melihat mulut pemuda itu berkedut imut setiap kali ditusuk, rasanya benar-benar menggemaskan.

Namun—

"Payudara... besaaar... emang... yang terbaik..." "............"

Seketika kata-kata igauan itu mencapai telinganya, sebuah urat menonjol di dahi Kahlua. Tanpa ragu, ia menusukkan dua jarinya tepat ke mata Phil yang terpejam.

Jlebbb.

"Mataaaakuuu, mataaaakuuuuu!!?!?!"

Orang yang susah bangun tidur adalah masalah universal di seluruh dunia. Oleh karena itu, metode membangunkan ini mungkin bisa dibilang revolusioner. Sebuah teknik luar biasa untuk membangunkan orang tidur dalam sekejap. Meskipun tidak perlu diragukan lagi, dampaknya terhadap tubuh si korban sangat fatal.

"Selamat pagi, Phil." "Uh, selamat pagi juga untukmu, Nona Kahlua!? Cara yang sangat membuka mata untuk mengusir rasa kantuk yang kau berikan padaku!" "Hmph, tidak ada hadiah karena sudah memujiku." "Kalau kau tidak tahu apa itu sarkasme, kembali ke sekolah sana, sialaaaan!!!"

Sambil menggosok matanya yang merah, Phil duduk.

"Aduh... kau ini... punya dendam kesumat padaku atau bagaimana!?" "Hmm, yah... sebagai seorang gadis, menurutku kau itu [Pria Brengsek] sejati." "Padahal aku tidak melakukan apa-apa..."

Saat Phil mencoba meredakan rasa sakit dengan menggosok kelopak matanya, Kahlua menunduk menatap dadanya sendiri. Di sana, buah yang ranum itu nyaris tidak bisa dibilang besar sama sekali.

"...Yang penting itu bentuknya." "Hah?" "T-tidak ada apa-apa!"

Saat penglihatan Phil perlahan pulih, yang pertama kali terlihat buram di depannya adalah Kahlua yang sedang memasang wajah merajuk. Gadis yang terlihat imut saat merajuk tentu saja menjadi kelemahan alami bagi pria mana pun. Tapi itu tidak berlaku jika sumber rasa sakit di matanya adalah gadis yang merajuk di depannya ini.

"Ah sudahlah... pokoknya, aku tidak mau bangun."

Mengabaikan reaksi Kahlua yang misterius, Phil kembali merebahkan diri di kasur dengan wajah suram.

"Tidak bisa, bangun. Sarapan juga sudah hampir siap." "Tapi bukannya sudah jelas tidak ada hal yang lebih membuat depresi saat ini? Kuharap kemarin itu cuma mimpi... tapi nyatanya realitas kejam tak kenal ampun datang untuk membuat pemuda jujur ini menangis."

Berbicara soal kemarin, identitasnya sebagai [Pahlawan Bayangan] telah terbongkar. Takut keluar rumah setelah kejadian itu, Phil kini dihadapkan pada hari kedua tanpa solusi apa pun.

"....Bagaimana keadaan semua orang?" "Tidak ada yang berubah." "Begitu ya! Semuanya sama seperti biasa! Lagi pula kemarin pasti cuma mimpi dan sekarang semua orang sedang menikmati hari normal mereka—!" "Semuanya sama seperti kemarin, masih heboh." "....Membiarkanku bermimpi sedikit saja kan tidak ada ruginya."

Phil bangkit dan perlahan membuka jendelanya sedikit. Seketika terdengar suara, "Tuan Pahlawan Bayangan sudah bangun!", "Kyaa! Tatap sebelah sini dong~!", dan sejenisnya—

"....Aku mau mengurung diri."

—Jadi, ia kembali menutup jendelanya rapat-rapat.

"....Aku yakin kalau aku tidur lagi, Nona Privasi bakal kembali padaku." "Nona Privasi sedang pergi dinas." "Aku ingin dia kembaliiiii...!"

Phil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis pilu dalam kesepian. Ya ampun, saking populernya sampai bikin heboh sebelum pagi datang. Betapa [menyebalkannya] diriku sebagai Pahlawan Bayangan, keluhnya pada diri sendiri.

"Tapi kenapa kau menolaknya sampai sebegitunya? Kau harusnya melambai dengan gagah. Mereka cuma berisik dan tidak berbahaya." "Oh ya? Terus maksudmu aku harus melambai ceria kayak lagi pawai sambil senyum lebar pas aku pergi ke rumah bordil? Belum pernah ada ceritanya, sebuah rombongan mengantarku pergi ke rumah bordil!" "Kalau begitu berhenti ke rumah bordil." "Terus ke mana aku harus menyalurkan semua libido yang meluap-luap ini!?" "Tembok kamar kan bisa." "Hei... apa untungnya sih bikin mental majikanmu hancur?" "Entahlah."

Kahlua menggembungkan pipinya sambil membuang muka. Kenapa dia memasang wajah begitu? Bagi Phil itu adalah misteri, tapi ia hanya bisa menghela napas pasrah.

"Hah sudahlah... mau bagaimana lagi. Yang lebih penting..." "Apa yang akan kau lakukan?" "Tentu saja, mengelak dengan sekuat tenaga! Aku bisa bilang 'Aku kebetulan punya topeng yang sama karena aku cuma penggemarnya!' soal topeng itu. Itu pasti entah bagaimana bakal berhasil!" "K-kalau kau bisa menutupinya ya baguslah."

Kahlua berjalan di belakang Phil saat ia bangkit untuk keluar dari kamar.

"Kau kedinginan, Kahlua?" "Karena aku tahu mereka toh tidak akan percaya padamu." "Hah! Jangan remehkan teknik bertahan hidupku! Aku ini masih bangsawan bejat tingkat tinggi yang selalu berhasil kabur dari masalah merepotkan, meskipun aku adalah pewaris keluarga Count!"

Memang benar dia hidup bebas dan sembrono selama ini. Tanpa terikat kewajiban sebagai bangsawan, tapi juga belum hancur sepenuhnya sebagai putra yang gagal. Tapi tetap saja—

"Namun pada akhirnya kau tetap saja menolong orang, kan...?"

Pada akhirnya, tak peduli seberapa keras dia mengelak, dia tetap akan menjadi [Pahlawan Bayangan]. Tak peduli seberapa ngotot dia bilang dia cuma penggemar, faktor-faktor yang tidak bisa ditutupi hanya akan terus bertambah mulai sekarang, jadi tidak akan ada yang berubah.

"Aku akan melakukan yang terbaik untuk bergerak secara diam-diam tanpa ketahuan seperti biasa..." "Kalau begitu pastikan untuk menahan diri minum alkohol mulai sekarang."

Menghadapi pelayannya yang mendadak bersikap sangat tegas, sang majikan lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang.


Wilayah Salemabart terletak di sebelah barat daya dari ibu kota kerajaan di pusat Kerajaan Lilac. Dikelilingi oleh pegunungan, pedesaan yang damai ini menanam sayuran dan biji-bijian yang melimpah, yang dikirim untuk memasok daerah lain sebagai roda perputaran ekonomi. Meski dianggap pedesaan, kota pusat di wilayah tersebut cukup makmur dan hidup.

Mansion keluarga Count Salemabart, tempat tinggal Phil, dibangun di kota pusat ini dan memiliki air mancur raksasa serta taman yang sangat luas untuk melengkapi bangunannya yang megah. Yah, meskipun putra bermasalah yang dijuluki 'Sampah' tinggal di sana, setidaknya sebuah keluarga Count pasti memiliki harta sebesar ini.

Di dalam mansion, Phil berjalan menyusuri lorong panjang menuju ruang makan bersama pelayannya, Kahlua.

"Yah, sepertinya aku bakal terkurung di sini selamanya, jadi bagaimana kalau kita bekerja keras saja hari ini?" "Ya ampun, tumben sekali kau mau bekerja? Haruskah aku menyeduhkan teh hitam spesial buatanku? Mungkin sekalian paket pijat juga? Bagaimana?" "Hei, yang biasanya mengerjakan urusan wilayah ini sebenarnya aku, kan? Ini bukan hal yang aneh... meskipun aku memang mau kombo pijat dan bantal paha itu!" "Ya, ya."

Meskipun dijuluki pemalas, sampah, dan playboy, pada akhirnya dia tetaplah seorang bangsawan. Dengan kedua orang tuanya yang sudah tidak ada, tugas mengelola wilayah pada dasarnya jatuh ke tangan Phil. Dia ingin mengabaikannya dan pergi ke rumah bordil, tapi jika dia lepas tangan, wilayah ini tidak akan berfungsi.

Jadi memang agak jarang baginya untuk bekerja secara sukarela—atau lebih tepatnya, mengambil inisiatif. Ada keraguan tersendiri jika ia harus mengayunkan lengan dan melenggang ke rumah bordil di bawah tatapan tajam para warganya.

"Tidak peduli seberapa sering kau pergi ke rumah bordil, kau tetap merindukan bantal pahaku. Hmph, kau benar-benar tidak jujur pada dirimu sendiri." "Entah kenapa kalimatmu barusan terdengar seperti pelecehan seksual... jadi kenapa kau malah senang?" "Oh? Bagaimana kalau kau belajar sedikit?" "Pelajaran apa?" "[Hati Seorang Gadis]."

Phil yang semakin kebingungan hanya bisa mengangkat bahu melihat pelayan di sebelahnya yang tersenyum riang, sementara ia iseng menusuk-nusuk pipinya yang menggembung seperti marshmallow. Kesal, Kahlua menginjak tumit Phil dengan keras, membuat pemuda itu memekik dan melompat-lompat kesakitan sambil memegangi kakinya.

"Aw aw aw aw!!!"

Pada saat itu—

"Wah, wah, kupikir aku mencium bau sampah, ternyata Kakak!"

Sebuah hinaan instan. Melihat ke depan, Phil melihat seorang pemuda bertubuh tambun yang berjalan perlahan ke arah mereka. Di sampingnya, beberapa pelayan, dengan pakaian yang mirip seperti Kahlua, mengerumuninya bak rombongan elit. Cara mereka berjalan entah bagaimana terlihat sangat arogan, dan Phil kesulitan mencari kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

"Ya ampun, kupikir aku mendengar suara babi berderit, ternyata adikku sendiri!" "Hei, Phil..." "K-Kau...!"

Saat Phil membalas, wajah pemuda itu berubah merah padam sambil menggertakkan giginya.



(Adegan beralih)

Melihat ini, Kahlua memijat keningnya dengan telapak tangan. Sebagai pelayan, ia sepertinya butuh obat sakit kepala lagi hari ini.

Zan Salemabart. Putra kedua dari keluarga Count Salemabart, usianya satu tahun lebih muda dari Phil. Tidak seperti Phil, ia memelihara perut yang luar biasa buncit, dan tidak seperti Phil, ia dikenal karena sikap arogannya yang tak tertahankan.

Oh ya, sama seperti Phil... reputasi publiknya juga sangat buruk.

"Hmph, sudahlah... hei Kakak, bukankah akhir-akhir ini di luar terdengar berisik?" "Kupikir juga begitu... mungkin ada penyair pengelana yang membuat puisi baru atau semacamnya." "Mereka harusnya punya sopan santun! Begitu kan, Kakak?" "Oh? Jadi, benar warga sedang heboh?" "Yah, itu sudah jelas!"

Zan menatap Phil dengan ekspresi mengejek lalu berkata.

"Si playboy dan kakak laki-laki yang tidak berguna ini adalah 'Pahlawan Bayangan'? Hah! Kuharap dia menyimpan igauannya untuk dirinya sendiri! Tidak punya bakat, tidak bisa bekerja, tidak diberkahi kemampuan bela diri... Bagaimana bisa ada elemen heroik pada orang seperti ini!"

Pernyataan yang cukup provokatif. Meskipun ia seharusnya adalah adik kandungnya sendiri, cara bicaranya sangat kasar.

Para pelayan di sekitarnya tidak berusaha menghentikannya. Mungkin mereka menganggap perkataan Zan benar sehingga tidak sopan untuk menegurnya, atau mungkin mereka takut melawan Zan.

Dan sang target hinaan sendiri—

(Dia sangat memahamiku, bukan, adik kecilku ini! Angka kesukaanku padanya naik untuk pertama kalinya setelah sekian lama! Spesifiknya, ada di level di mana aku rela memberikan semua asetku padanya, kecuali uang untuk main di rumah bordil!) (Kau tidak mengerti karena kau yang mengatakannya. Lagipula, Phil-lah yang mengerjakan semua pekerjaannya meskipun kau bilang kau tidak bisa.) (Apakah kau tidak marah soal ini, Nona Kahlua?) (Tentu saja aku marah, normalnya begitu.)

Menyadari kekesalan Kahlua, Phil menoleh padanya. Pipi Kahlua yang menggembung menunjukkan ketidakpuasannya, tapi Phil hanya menusuk-nusuk pipi itu layaknya marshmallow tanpa menelaah lebih jauh.

Kesal, Kahlua kembali menginjak tumitnya dengan keras, menyebabkan Phil lagi-lagi memekik dan melompat-lompat kesakitan.

(Meskipun punya saudara seperti itu dan aku... Keluarga bangsawan tanpa pewaris yang benar adalah contoh sempurna kehancuran keluarga, kau tahu?) (Kalau begitu, Phil sendiri harusnya lebih bisa diandalkan. Aku tahu kau bisa melakukannya karena aku sudah pernah melihatmu bekerja sebelumnya) (Katakan padaku Nona Kahlua, sebenarnya di mana posisimu ini? Apakah kau figur ibu?)

Kakak laki-laki yang kotor dan adik kelas yang kasar serta tidak punya sopan santun. Tentu saja, kau tidak bisa menyalahkan para pelayan itu jika mereka mengkhawatirkan masa depan keluarga ini. Tapi jika... identitas Phil sebagai [Pahlawan Bayangan] diakui, mungkin kesan mereka akan berbeda.

(Dan bahkan jika dia tidak berusaha menyembunyikannya dan terang-terangan membanggakannya...)

Kahlua melirik wajah para pelayan yang menunggu di dekat mereka. Keraguan, keterkejutan, serta sedikit harapan dan rasa hormat melintas di wajah masing-masing dari mereka. Selama ini, Phil si playboy tidak pernah memancing ekspresi semacam itu dari para pelayan.

Kahlua berpikir, ini semua karena identitas asli Phil telah terbongkar.

"Dan kau harus cepat-cepat menjadi milikku, Kahlua!"

Di tengah lamunannya, Zan tiba-tiba mengatakan sesuatu yang konyol.

"Itu tidak akan terjadi, jangan membuatku mengulanginya." "Kau cuma pelayan, jaga nada bicaramu!" "Majikanku hanyalah orang ini. Aku sudah memilih siapa yang akan kuhormati dan kulayani." "Aduh, aduh, Kahlua, jangan tarik telingaku."

Seolah menegaskan posisinya, Kahlua mencubit telinga Phil di sebelahnya. Phil yang tidak tahu apa-apa cuma bisa meringis, "Sakit."

"Lagipula, meskipun aku bekerja sukarela sebagai pelayan... kau belum lupa kan, secara posisi, kau di sini hanyalah tamu?" "Tutup mulutmu! Meskipun begitu, itu tidak mengubah fakta bahwa kau ini pelayan!" "....haah."

Mendengar perkataan Zan, Kahlua menghela napas panjang. Tanpa menyembunyikan rasa jijiknya, reaksi ini menegaskan bahwa Kahlua sama sekali tidak melihat dirinya sebagai pelayan pada umumnya. Tapi tidak masalah. Fakta bahwa tidak ada seorang pun selain Zan yang mengkritik sikap Kahlua sebagai staf baru sudah menjelaskan semuanya.

"Kubilang padamu, jadilah milikku! Melayani pria tak berguna sepertinya hanya buang-buang waktu! Kau akan jauh lebih baik bersamaku!"

Kedut. Alis Kahlua bergerak. Menyadari sesuatu akan terjadi, Phil segera menjaga jarak dari Kahlua dan sedikit berjongkok.

"Kalau kau menjadi milikku, aku janji kau akan mendapat perlakuan yang jauh lebih baik dari orang normal...!"

Saat Zan mengatakan itu—

Kaki Kahlua bergerak secepat kilat, mengincar rahang Zan bagaikan sudah diprogram. Dengan suara hantaman benda tumpul, Kahlua menendang rahang bawah Zan ke atas tanpa ragu sedikit pun.

Kecepatan tendangan itu sangat luar biasa hingga Zan tidak sempat bereaksi.

"Guh!?"

Menerima tendangan itu telak, tubuh Zan terpental ke belakang dengan kasar sebelum akhirnya jatuh terlentang dengan kaku ke lantai.

—-Dan di sinilah masalahnya bermula.

Kahlua mengenakan seragam pelayan yang sama dengan pelayan lainnya. Panjang roknya tepat di atas lutut, dipadukan dengan kaus kaki putih dan garter belt (sabuk pengikat kaus kaki) yang mencapai paha, dengan bangga memamerkan kulit mulusnya yang disebut sebagai Kawasan Mutlak (Zettai Ryouiki / ZR).

Kawasan Mutlak ini eksis karena, baik berdiri maupun berjongkok, area itu selalu berada dalam kondisi [terlihat jelas tapi tidak sepenuhnya].

Tapi menendang ke atas untuk menghajar rahang Zan jelas membutuhkan angkatan kaki yang tinggi, jadi...!!!

"Oh, merah muda..."

Jlebb.

"M-mataaakuuu, mataaakuuuuu..."

Baru saja berjongkok untuk memandangi Tanah Suci itu, hukuman ilahi langsung menghujam mata Phil. Meski baru saja menendang Zan, Kahlua tanpa ampun langsung berbalik menyerang Phil, membuat pemuda itu tidak punya pilihan selain mengagumi kehebatan fisik pelayannya.

"Oh iya..."

Seolah mengingat sesuatu, Kahlua berbicara pada Phil yang sedang kesakitan. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Zan yang terkapar tak bergerak, posturnya jelas-jelas menunjukkan betapa ia tak peduli pada pria gempal itu.

Lalu...

"Kudengar sang Orang Suci (Saintess) akan datang menemuimu besok pagi, dengan undangan khusus atas nama Phil." "Harusnya kau bilang dari tadi, tapi sebelumnya tolong obati mataku dulu...!"

Dan begitulah, sebuah bom dijatuhkan dengan sangat santai pagi itu.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter



Post a Comment

0 Comments