Header Ads Widget

Episode 99: Inilah yang terlintas di benak Anda saat memikirkan musim dingin. Sepertinya semua orang punya gambaran musim dingin favoritnya, kan?

 


Musim Dingin di Victor: Inovasi di Tengah Kebekuan

Kecurigaan yang menyelimuti pembunuhan Putra Mahkota memaksa pihak akademi memajukan liburan musim dingin. Setelah penggeledahan paksa di gereja dan terungkapnya misteri kamera sihir, Randy dan Liz akhirnya kembali ke wilayah Victor. Meski mereka tiba lebih lambat dari siswa lainnya, pemandangan akrab kediaman Victor menyambut mereka.

"Rasanya baru kemarin kita merayakan festival panen..." gumam Randy.

Kenangan kemeriahan itu terasa jauh sekali. Sejak saat itu, rentetan peristiwa gila seolah tak berhenti: Menara Waktu, perburuan naga, skandal gereja, hingga rahasia kamera. Jika diingat kembali, Randy merasa satu-satunya memori sekolah yang "normal" hanyalah saat menjelajahi Tujuh Keajaiban Dunia.

Randy bertekad untuk lebih serius belajar di semester ketiga nanti, namun lamunannya terbuyar saat matanya menangkap siluet sebuah kereta kuda yang asing di halaman rumahnya.

"Apakah kita kedatangan tamu?" tanya Rita sambil memiringkan kepala.

Kereta kuda hitam yang anggun itu terlihat mencolok. Di pintunya, terpahat sebuah lambang yang sangat dikenali Randy: naga yang melilit sebilah pedang.

"Itu lambang Persekutuan Petualang (Adventurer’s Guild)," jawab Randy pendek.

Keadaan Rumah yang Menggigil

"Selamat datang kembali. Udara hari ini benar-benar menusuk," sapa Harrison. Desahan napasnya berubah menjadi kabut putih tebal. Musim dingin di wilayah Utara memang tidak main-main.

"Aku tidak tahu ada urusan apa pejabat serikat kemari. Nanti aku akan bertanya pada Ayah," sahut Randy, yang napasnya pun ikut beruap di udara terbuka.

Liz dan Rita tampak merapatkan jubah, bahu mereka gemetar kecil. Bagi mereka yang berasal dari Brauberg di wilayah Selatan, musim dingin di kerajaan utara seperti Victor adalah siksaan fisik yang nyata.

"Mari masuk, kita hangatkan diri di dekat perapian," ajak Randy sambil menyelimutkan jaketnya ke bahu Liz, membimbing mereka masuk ke dalam rumah.

Namun, harapan akan kehangatan sirna seketika saat mereka melintasi pintu besar mansion. Di dalam rumah, suhu terasa nyaris sama dinginnya dengan di luar. Rumah besar itu, meski megah, terasa seperti kotak es raksasa.

"Astaga, ini lebih parah dari yang kubayangkan," keluh Liz, melihat napasnya sendiri masih beruap meski sudah di dalam ruangan.

"Tuan Muda, ini keterlaluan! Aku bisa membeku!" Rita ikut protes.

Randy tertegun. Ia sudah terbiasa dengan suhu ini sejak kecil, tapi melihat reaksi Liz, ia mulai sadar ada yang salah. Ia segera memanggil para pelayan untuk bertanya, dan jawabannya seragam:

"Di sini bahkan lebih dingin daripada di rumah kami di desa, Tuan Muda." "Benar, setidaknya di rumah rakyat biasa, ruangannya kecil sehingga cepat hangat."

Randy tersadar. Masalahnya bukan hanya cuaca, tapi sistem insulasi mansion ini sangat buruk. Ketidaknyamanan adalah ibu dari penemuan. Sebuah ide mulai berputar di kepalanya.

"Karena liburan kita kali ini lebih panjang, sepertinya kita harus membangun sistem pemanas baru," cetus Randy.


Krisis Anggaran dan Provokasi Tetangga

Randy memutuskan untuk menghadap ayahnya, Alan. Di depan ruang kerja, Keith berdiri dengan sikap siaga yang luar biasa kaku, menandakan ada tamu penting di dalam. Tak lama, pintu terbuka dan seorang pria tua dengan mata setajam elang melangkah keluar.

Pria itu sempat berhenti, menatap Randy dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang tidak sopan.

"Jadi kau Randolph? Cucu Volkan... putra Lord Victor," gumamnya dengan seringai tipis. "Darah memang tidak bisa berbohong. Kalian mirip sekali."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu pergi berlalu. Randy mendengus kesal, merasa seperti barang dagangan yang baru saja diperiksa kualitasnya.

Di dalam ruangan, Alan duduk terkubur di antara tumpukan dokumen. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua.

"Ayah, kau terlihat menyedihkan," sapa Randy tanpa basa-basi.

"Sambutan yang sangat kasar, Nak," balas Alan sambil memijat pelipisnya. Ia lalu mempersilakan Randy dan Liz duduk.

Alan langsung menyodorkan setumpuk kertas. "Ini bukan sekadar masalah rumah yang dingin, Randy. Ini masalah wilayah."

Randy membaca dokumen itu. Isinya adalah keluhan masif. Para insinyur kurcaci yang disewa dari selatan mengancam akan mogok kerja karena tidak tahan dengan suhu Victor. Pembangunan kota pelabuhan melambat, dan produksi komoditas ekspor—termasuk serum kecantikan—terhambat karena para pekerja menggigil di bengkel yang hanya dibangun seadanya.

Belum lagi permintaan dari Persekutuan Petualang. Pria bermata elang tadi meminta Victor membangun "jalur aman" di Hutan Terkutuk agar para petualang bisa tetap berburu material di musim dingin tanpa mati membeku.

"Kenapa kita tidak beli saja bijih sihir pemanas dalam jumlah besar?" tanya Randy.

Alan mendesah berat dan menyerahkan selembar nota harga. Mata Randy membelalak.

"Harganya naik dua kali lipat?!"

"Keluarga Shadler," jawab Alan pendek. "Earl tetangga kita itu menimbun stok dan memainkan harga karena mereka tahu kita sedang butuh banyak untuk proyek pembangunan pelabuhan. Itu cara mereka menyabotase kemajuan kita."

Randy mengepalkan tangan. "Licik sekali."


Lahirnya Inovasi: Heat-Tech Dunia Lain

"Kita tidak bisa terus bergantung pada bijih sihir yang harganya dipermainkan Shadler," ujar Randy tegas. "Kita butuh sesuatu yang efisien, ringan, dan murah."

Alan mengangkat alis. "Pemanas tangan?"

"Bukan. Sesuatu yang bisa dipakai di balik baju. Pakaian musim dingin yang tipis namun mampu memerangkap panas tubuh dengan sempurna."

Liz dan Alan saling berpandangan, bingung. "Tipis tapi hangat? Itu mustahil. Pakaian musim dingin selalu tebal dan berat."

Randy tersenyum tipis, teringat pada teknologi pakaian dalam termal dari dunia asalnya. "Jika kita bisa memproduksi serat kain yang mampu memantulkan panas tubuh kembali ke kulit, kita tidak perlu membakar ribuan bijih sihir hanya untuk menghangatkan lorong atau hutan."

Ia berdiri dengan semangat baru.

"Ayah, biarkan Liz membantumu mengaudit anggaran dan mencari celah hukum untuk menekan Shadler. Sementara itu, aku akan pergi ke laboratorium. Aku akan membuat 'pakaian ajaib' yang akan membuat monopoli bijih sihir mereka menjadi sampah tidak berguna."

Dengan langkah mantap, Randy meninggalkan ruangan. Musim dingin di Victor mungkin keras, tapi bagi Randy, ini adalah waktu yang tepat untuk membakar semangat inovasi.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments