Gemuruh di Arena Tanah Victor
Hiburan Baru: Ritual Kekuatan
"Rakyat Victor, mari kita mulai acara utama Festival Panen!"
Suara Randy menggelegar dari atas panggung, menarik perhatian massa yang semula hanya berlalu-lalang. Festival tahun ini berbeda. Randy membagi hari kedua menjadi dua sesi: festival budaya di siang hari dan pesta pora di malam hari. Alasannya sederhana: ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya dengan bersantai.
Di tengah alun-alun, berdiri sebuah panggung unik dengan gundukan tanah melingkar di tengahnya. Tiga kendaraan hias dari pawai kemarin diparkir mengelilingi panggung, menciptakan kesan arena yang megah.
Itu adalah arena Sumo. Randy, dengan jiwa Jepangnya yang tak terbendung, memperkenalkan ritual kekuatan ini sebagai hiburan rakyat. Harrison berdiri di sampingnya dengan megafon sihir di tangan.
"Aturannya sederhana!" teriak Harrison. "Satu lawan satu di dalam lingkaran suci ini. Siapa yang keluar atau menyentuh tanah dengan bagian tubuh selain telapak kaki, dia kalah! Tidak ada pukulan, tidak ada tendangan. Hanya kekuatan murni!"
Demi menambah keseruan, Randy melegalkan perjudian kecil. "Kalian bisa bertaruh hingga satu koin perak pada jagoan kalian. Pemenang taruhan akan membagi uang dari mereka yang kalah. Adil, bukan?"
Kerumunan meledak. Di wilayah terpencil yang minim hiburan, prospek menonton pria kekar bergulat sambil berpeluang mendapat uang adalah kombinasi yang mematikan.
Pertandingan Ekshibisi: Tuan Muda vs Petualang
Randy memanggil dua petualang yang sempat berulah semalam. "Mari kita selesaikan secara hukum di sini," tantang Randy sambil melepas jaketnya.
Sorak-sorai membahana. Tubuh Randy yang terlatih sempurna, hasil tempaan bertahun-tahun di hutan dan gunung, terpampang nyata. Para petualang itu pun tak mau kalah; mereka melepas baju, meski nyali mereka sedikit menciut melihat otot Randy yang tampak seperti pahatan batu.
Sebenarnya, Randy ingin mengenakan mawashi (cawat sumo), namun Liz telah melarangnya dengan wajah memerah padam sembari mengancam akan mogok bicara jika Randy berani tampil "seronok" di depan publik.
"Bersiap! Hakkiyoi..." Harrison memberi aba-aba.
Kedua petualang itu menerjang bersamaan dalam posisi rendah. Suara benturan otot terdengar keras. Namun, Randy tidak bergeming. Ia berdiri kokoh bagai tebing karang. Dengan setiap langkah maju Randy, kedua pria itu terseret mundur hingga kaki mereka menyentuh tali jerami di tepi arena.
Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, Randy mengangkat salah satu petualang dan membantingnya ke tengah arena, lalu melempar yang lainnya keluar ring dengan teknik lemparan pinggul yang sempurna.
"Bagaimana? Sederhana, kan?" tanya Randy pada penonton yang terpana.
Interupsi Sang Legenda: Volcan Victor
"Tunggu dulu!"
Sebuah teriakan parau menghentikan pidato kemenangan Randy. Dari kerumunan, muncul seorang pria tua raksasa dengan rambut putih dan penutup mata. Tubuhnya yang bertelanjang dada dipenuhi bekas luka perang—tanda dari seorang pejuang sejati.
"Itu Tuan Volcan! Penguasa lama telah kembali!" seru penduduk desa.
Volcan Victor, kakek Randy, melompat ke atas ring dengan sekali hentakan. "Randolph, masa kau menyebut ini ekshibisi tanpa mengajak kakekmu yang tampan ini?"
"Pulanglah, Pak Tua. Kau merusak suasana," gerutu Randy, meski ia tahu kakeknya tidak akan mendengarkan.
Harrison, yang tak punya pilihan lain, segera memberi aba-aba. "Hakkiyoi—Nokotta!"
Randy dan Volcan saling menerjang. Serangan dua tangan Randy disambut dengan dada membidang Volcan. Keduanya saling dorong hingga debu beterbangan dari tanah arena. Randy berhasil memojokkan Volcan ke tepi ring, namun sang kakek melakukan manuver licin dengan memutar tubuhnya.
"Cucuku... kau semakin kuat," bisik Volcan sambil memeluk pinggang Randy dengan erat.
"Tentu saja," balas Randy. Ia mencengkeram sabuk celana Volcan, mengangkat tubuh kakeknya tinggi-tinggi, lalu menjatuhkannya dengan teknik Brainbuster yang brutal.
DUAAMMM!
Tanah bergetar. Penonton terdiam sesaat sebelum Harrison berteriak, "Pemenangnya adalah... Lord Volcan!"
"Apa?! Jelas-jelas aku yang membantingnya!" protes Randy.
"Peraturannya adalah siapa yang menyentuh tanah duluan, Tuan Muda. Bahu Anda menyentuh tanah lebih dulu saat melakukan bantingan tadi," sahut Harrison tenang.
Warisan Victor dan Desa Nelayan
Meskipun kalah secara teknis, Randy puas. Penonton kini benar-benar terbakar semangatnya. Turnamen resmi segera dimulai dengan para petualang dan ksatria sebagai peserta.
Randy duduk di samping panggung, tempat Liz sudah menunggu untuk merapal sihir penyembuhan pada Volcan yang sedang meringis.
"Kau seharusnya lebih lembut pada kakekmu sendiri," tegur Liz lembut.
"Jangan tertipu, Liz. Dia itu monster," sahut Randy ketus. "Dia yang menyeretku ke gunung sejak kecil untuk 'bermain' yang lebih mirip penyiksaan."
Volcan tertawa terbahak-bahak. "Elizabeth, jangan dengarkan dia. Datanglah berkunjung ke desa nelayan tempatku beristirahat nanti. Aku akan menunggu!"
Pria tua itu mengambil sepatunya dan berlari pergi secepat kilat sebelum Randy sempat mengomel lebih jauh. Randy hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku kakeknya yang masih sangat lincah di usia senja.
"Dia memang unik," gumam Liz sambil tersenyum melihat kerumunan yang semakin riuh.
"Ya, dia merepotkan. Tapi setidaknya dia membuat festival ini jadi tidak terlupakan," Randy menatap langit biru. "Hakkiyoi—nokotta!" teriakan wasit kembali terdengar, menandai dimulainya babak pertama turnamen sesungguhnya.
"Ngomong-ngomong, ke mana Luke?" tanya Randy tiba-tiba.
"Katanya dia pergi jalan-jalan berdua dengan Cecil..." jawab Liz.
Randy mendengus. "Dasar pria mesum itu, menggunakan adikku untuk kencan..."
Single Follow-up Question: Turnamen Sumo perdana di Victor sedang memanas; apakah Anda ingin di babak final nanti muncul peserta misterius yang menantang juara bertahan, atau lebih baik kita beralih ke malam pesta pora di mana Randy harus menghadapi "hukuman" dari Liz karena taruhan festival?
0 Comments