Malam di Ambang Festival
Sorak-Sorai dan Para Pembuat Onar
Matahari telah benar-benar tenggelam di balik cakrawala, digantikan oleh cahaya obor yang berjajar di sepanjang jalan raya menuju kediaman Victor. Perayaan pra-festival telah dimulai. Di setiap sudut, para ksatria menyembelih hewan buruan dan menyajikannya secara cuma-cuma kepada penduduk desa. Aroma daging panggang dan alkohol murah memenuhi udara.
Tahun ini, suasana hati penduduk jauh lebih gembira. Berkat kebijakan Randy, perut mereka kenyang dan stok musim dingin mereka melimpah.
"Terima kasih, Tuan Muda!" "Kau sudah tumbuh jadi pria yang hebat, Nak!"
Randy berjalan menyusuri jalan utama, membalas sapaan para tetua dengan lambaian tangan canggung dan senyum malu-malu. Namun, kemeriahan itu sedikit terusik ketika ia tiba di area para petualang.
"Apa kau bilang, bajingan?!" "Akan kuulangi sampai kau paham!"
Dua petualang bertubuh tegap saling mencengkeram kerah baju, mengabaikan ketakutan penduduk desa di sekitar mereka. Randy menghela napas dan melangkah masuk ke tengah lingkaran.
"Ya, ya. Ada apa ini?" tanyanya santai.
"Siapa kau?! Minggir, Bocah!" bentak salah satu petualang yang sudah bau alkohol. Penduduk desa menahan napas; mereka tahu apa yang bisa dilakukan "Iblis Merah" ini jika marah.
Tepat sebelum Randy bertindak, Ian—si "Singa Baja"—muncul dengan wajah pucat pasi. "Tunggu! Hentikan!" Ia segera menjelaskan pada kedua petualang itu bahwa pemuda di depan mereka adalah putra mahkota wilayah ini.
"Cih, memangnya kenapa kalau dia bangsawan?" ejek mereka. "Petualang sejati tidak takut pada gelar!"
Ian menggigil. Ia merasakan aura dingin yang mulai menguar dari balik punggung Randy. "Randolph-sama... tolong beri saya waktu sebentar untuk menjernihkan otak mereka—"
"Tidak perlu, Ian," Randy memotong dengan senyum lebar yang terlihat... mencurigakan. Ia menatap kedua petualang itu. "Hei, kalian punya nyali juga. Bagaimana kalau bergabung di acaraku besok?"
"Acara?"
"Ya. Acara di mana kalian bisa memukul bangsawan sepertiku secara legal di atas panggung besar. Tertarik?"
Mata kedua petualang itu berbinar liar. "Boleh juga! Jangan kabur besok, Nak!" Mereka pergi dengan tawa mengejek menuju meja pendaftaran.
Ceramah Keith dan Simbol Harapan
"Tuan Muda, apa yang sedang Anda rencanakan?" tanya Ian heran.
"Hanya mencari peserta tambahan untuk 'pertandingan ekshibisi'," jawab Randy sambil mengedipkan mata. Namun, ketenangannya buyar saat sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari belakang.
"Tuan Muda, jadi di sini Anda membuang-buang waktu?"
Keith muncul tanpa suara, seperti bayangan yang membawa beban moral. Ia memulai ceramah panjangnya tentang tugas keluarga Victor sebagai pelayan rakyat, sementara Alan, Grace, bahkan Cecil kecil sedang menjalankan peran mereka masing-masing dalam festival ini.
"Oke, oke, Keith," potong Randy, "Langsung saja ke intinya. Kau tidak akan datang ke sini hanya untuk kuliah etiket. Ada masalah, kan?"
Keith terdiam sejenak, lalu berbisik, "Ini keadaan darurat. Ada masalah dengan kendaraan hias... jumlah anak-anak tahun ini membludak. Konstruksinya tidak akan kuat menahan beban mereka."
Kendaraan hias adalah simbol suci festival Victor—perlambang doa agar anak-anak tumbuh sehat. Jika kendaraan itu roboh, itu akan dianggap sebagai pertanda buruk.
"Liz sedang memperbaikinya, tapi kita butuh material penguat yang luar biasa dalam waktu singkat," lanjut Keith.
"Jadi kau mau aku berburu monster di tengah malam?" Randy menyeringai. "Bilang saja dari tadi."
Randy berlari secepat angin menuju Hutan Terkutuk. Keith memperhatikan punggung tuan mudanya yang menjauh dengan senyum tipis. Dia bukan lagi anak manja yang hanya bisa memberontak, pikirnya bangga.
Kadal Raksasa dan Kereta Naga
Di dalam tenda besar dekat gerbang kota, Liz sedang berkutat dengan cetak biru di bawah cahaya lampu sihir. Cecil duduk di sampingnya dengan wajah cemas.
"Kak Liza, apa keretanya akan selesai?"
"Jangan khawatir, Cecil. Kakakmu pasti akan membawa kembali 'bahan' yang paling kuat," jawab Liz tenang.
Tak lama kemudian, kegaduhan terdengar di luar. "Tuan Muda kembali!" teriak para ksatria. Randy muncul sambil menyeret bangkai raksasa Terragon—kadal purba yang kulitnya sekeras baja.
"Maaf membuat kalian menunggu. Aku membawa sesuatu yang sedikit 'mewah' untuk kereta Cecil," ujar Randy sambil mengusap kepala adiknya.
Bersama Liz, Randy membedah bangkai itu dengan presisi. Mereka tidak mengubah bentuk dasar kendaraan hias yang dibuat warga, melainkan memperkuat fondasi bawahnya dengan tulang dan kulit Terragon. Hasilnya, kendaraan hias itu kini terlihat lebih gagah, dengan detail sisik monster yang berkilau di sela-sela hiasan hasil panen.
Saat pawai dimulai, sorak-sorai rakyat membahana. Cecil duduk dengan bangga di atas kendaraan hias utama yang ditarik perlahan menyusuri bukit menuju kediaman Victor.
"Terima kasih sudah membantuku, Randy," bisik Liz sambil menyeka keringat di dahinya.
"Sama-sama. Bagaimanapun, aku adalah pelayan masyarakat Victor, kan?"
Randy dan Liz berjalan beriringan di belakang iring-iringan, mengikuti cahaya obor dan musik rakyat yang membahana. Festival panen baru saja dimulai, dan malam ini, wilayah Victor benar-benar terasa seperti satu keluarga besar.
Single Follow-up Question: Apakah Anda ingin adegan selanjutnya fokus pada "Acara Utama" besok di mana para petualang mencoba menyerang Randy di atas panggung, atau lebih ke interaksi hangat keluarga Victor di sela-sela perayaan festival?
0 Comments