Episode 96: Tiba di Kuil Agung Ibukota
Kereta kuda yang membawa Reina dan Clael terus melaju menuju Ibukota Kerajaan setelah melewati berbagai macam "keajaiban".
Sepanjang perjalanan, mereka sebenarnya dihadapkan pada banyak rintangan: mulai dari jembatan yang hanyut diterjang banjir, serangan monster buas, kawanan bandit gunung, hingga insiden bertemu dengan bangsawan korup yang sedang menyiksa budaknya. Namun... berkat mukjizat instan dari Reina, semua masalah itu diselesaikan (atau lebih tepatnya, dilenyapkan) dalam sekejap mata. Sungguh, tidak ada satu pun rintangan di dunia ini yang mampu menghentikan laju Sang Saintess. Hasilnya, mereka tiba di Ibukota Kerajaan jauh lebih cepat dari jadwal semula.
"Ibukota Kerajaan... Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di sini," gumam Clael menatap ke luar jendela. "Clael dulu tinggal di Ibukota, kan?" "Ya... Tapi setelah lulus dari akademi, aku langsung pindah ke Eggbell. Dulu aku tinggal di kediaman utama Marquis Byrne."
Karena mereka akan tinggal di Ibukota untuk sementara waktu, Clael berpikir mungkin ada baiknya ia mampir mengunjungi rumah orang tuanya sesekali. Kereta mereka terus melaju membelah jalanan Ibukota dan akhirnya tiba di depan Kuil Agung. Awalnya, Clael berencana mengajak Reina bersantai di kafe, tapi mereka tidak mungkin jalan-jalan sambil membawa koper besar. Jadi, mereka memutuskan untuk mampir ke Kuil Agung terlebih dahulu untuk menitipkan barang.
"Selamat datang kembali, Saintess Reina! Dan selamat datang, Pastor Clael!" "Selamat datang, Saintess!"
Namun... begitu turun dari kereta di depan gerbang Kuil Agung, mereka disambut oleh pemandangan yang luar biasa. Ratusan pendeta, puluhan Ksatria Templar, dan Kardinal Diret Horst secara pribadi berdiri berbaris rapi menunggu kedatangan mereka. Bangunan Kuil Agung itu sendiri sangat masif dan terbuat dari pualam putih bersih. Skalanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kuil kecil yang dikelola Clael di desa. Melihat sambutan berlebihan itu, Clael buru-buru turun dan menunduk hormat pada sang Kardinal.
"Y-Yang Mulia Kardinal... Terima kasih banyak telah menyempatkan diri menyambut kami. Saya sangat terkejut Anda bisa tahu persis kapan kami akan tiba." "Ah... Aku sudah tahu sejak awal kalau kalian akan datang hari ini." "...Seperti yang diharapkan dari otoritas tertinggi agama ini. Apakah Anda menerima ramalan langsung dari Sang Dewi?" "...Bisa dibilang begitu," Kardinal Diret tersenyum kecut dan perlahan mendongak ke atas langit.
Penasaran, Clael ikut mendongak. Di sana, ia melihat "Sesuatu" yang memancarkan cahaya suci sedang terbang melayang tepat di atas kereta kuda mereka. "Eh..." Itu adalah sosok malaikat... tapi dengan wajah boneka beruang. Malaikat macho berwajah beruang itu bertelanjang dada, memamerkan otot-otot binaraganya, dan melayang sambil memegang tombak suci, mengawasi sekeliling dengan tatapan waspada layaknya sniper elit.
"B-Beruang...!" desis Clael. Menyadari Clael sedang menatapnya, malaikat beruang itu langsung berkedip dan menghilang dari pandangan.
"Kami menerima laporan dari prajurit penjaga gerbang kota..." jelas Diret memijat pelipisnya. "A-Ah, begitu ya... Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini." "Tidak apa-apa... Kebetulan saja prajurit yang berjaga memiliki afinitas sihir sehingga bisa melihat 'mereka'. Bagi orang biasa, malaikat-malaikat itu tidak terlihat. Yang lebih merepotkan justru... bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan raya itu."
"Ah..." Clael berkeringat dingin. Berkat mukjizat Reina, jalan raya antar kota yang dilewati kereta mereka kini ditumbuhi pagar bunga abadi di kedua sisinya. Hal itu pasti akan memicu kehebohan besar di seluruh penjuru negeri bahwa Sang Saintess kembali menciptakan mukjizat besar.
"Meskipun itu hanya bunga, tapi menakutkan rasanya membayangkan apa yang akan terjadi kalau ada orang bodoh yang mencoba memetik atau merusak bunga suci ciptaan Saintess itu..." gumam Kardinal bergidik. "Saya yakin... semuanya akan baik-baik saja," jawab Clael ragu. Tentu saja secara teori memetik bunga tidak akan mendatangkan hukuman dewa, tapi mengingat track record perlindungan mutlak Reina, Clael tidak berani menjamin keselamatan pelakunya.
"Mari kita masuk ke dalam Kuil Agung. Aku akan mengantar kalian," ajak Diret. Clael dan Reina pun dipandu masuk. Di tengah jalan, Diret menginformasikan bahwa upacara penobatan "Santo" untuk Clael akan dilaksanakan lusa. Karena besok Clael harus melakukan berbagai persiapan seperti fitting baju dan gladi bersih, rencana jalan-jalan keliling Ibukota terpaksa ditunda.
"Sayang sekali... tapi mau bagaimana lagi. Kita pergi ke kafenya lain kali saja ya, Clael," ucap Reina sedikit kecewa. Meski ia sangat ingin segera berkencan menjelajahi Ibukota, Reina tidak mau egois dan merusak momen penting ayah angkatnya.
"Malam ini Pastor Clael akan menginap di kamar tamu Kuil Agung. Besok, aku akan mengurus pengiriman barang-barang Anda ke asrama staf Akademi Kerajaan," tambah Kardinal. "Terima kasih banyak, Yang Mulia." "Kalau begitu, Clael, aku mau kembali ke kamarku untuk ganti baju. Sampai jumpa nanti..." pamit Reina melangkah pergi menuju area asrama biarawati.
Setelah Reina pergi, Kardinal Diret mengundang Clael masuk ke ruang kerja pribadinya yang sangat luas. Setelah Clael duduk di sofa tamu yang empuk, sang Kardinal menatapnya lamat-lamat.
"Nah... ini adalah kali kedua kita berbicara tatap muka seperti ini, bukan, Pastor Clael Byrne?" buka Diret. "Sudah enam bulan sejak kau melepaskan Reina ke Ibukota... Apakah dia baik-baik saja menurutmu?" "Ya. Dia bekerja sangat keras. Bahkan menurut saya kemampuannya sudah lebih dari cukup."
Mendengar itu, Diret menghela napas lelah dan mengangkat bahunya. "Sungguh... Aku menyadarinya lagi dan lagi, eksistensi Saintess benar-benar jauh di luar nalar. Jauh lebih dahsyat dari legenda mana pun. Setiap hari selalu ada kejutan yang membuat jantungan." "...Apakah separah itu?" "Kau tahu? Sejak Saintess Reina datang ke Kuil Agung dan mulai memanjatkan doa hariannya, total hasil panen di seluruh kerajaan meningkat hingga 70%. Wabah penyakit dan bencana alam menyusut hingga nyaris nol, dan serangan monster turun drastis. Jujur saja, aku tak pernah menyangka satu individu bisa membawa dampak sebesar ini pada keseimbangan sebuah negara... Kekuatan Tuhan sungguh menakutkan."
"......" Clael terdiam kaget. Meski ia tahu Reina kuat, ini pertama kalinya ia mendengar dampak mukjizat Reina secara makro dari sudut pandang pemerintah.
"Ini memang luar biasa... tapi di saat yang sama, ini sangat berisiko," lanjut Diret. "...Hanya sedikit orang yang mampu menyadari risiko itu. Kau memang pria yang cerdas, Pastor Clael," puji Diret sambil bertepuk tangan pelan.
Kekuatan Saintess memang absolut. Namun... akan sangat berbahaya jika negara ini menjadi terlalu bergantung pada kemakmuran instan yang dihasilkannya. Reina tetaplah manusia fana, bukan dewa yang abadi. Suatu hari nanti, ketika Reina tiada dan perlindungan sucinya memudar... apakah umat manusia yang sudah terbiasa dengan kemudahan ini bisa bertahan hidup dan kembali ke kehidupan keras mereka sebelumnya?
"...Yah, itu adalah masalah untuk masa depan yang masih jauh. Kami sudah memberi peringatan pada Keluarga Kerajaan dan para bangsawan tingkat tinggi. Seiring berjalannya waktu, jangkauan kekuatan Saintess akan menyebar ke seluruh benua, sehingga efektivitas perlindungannya di satu titik akan sedikit mereda dan menjadi lebih seimbang." "Begitu rupanya..."
"Namun..." Ekspresi Kardinal Diret mendadak berubah sangat serius. "Sebesar apa pun dampaknya nanti, kita tidak boleh kehilangan Saintess. Kita harus mengikatnya dengan negara ini dengan cara apa pun. Kita tak akan berhenti sampai berhasil."
Hawa di ruangan itu berubah tegang. Clael memperbaiki posisi duduknya. Sepertinya... pembicaraan ini akan mengarah pada sesuatu yang rumit.
Episode 97: Tercium Bau Konspirasi
Di dalam ruang kerja Kardinal, pembicaraan rahasia berlanjut.
"Pastor Byrne, kau mungkin sudah tahu hal ini, tapi... di dunia ini, eksistensi Saintess tidak hanya ada di negara kita. Negara-negara besar lain juga memiliki Saintess mereka sendiri," ujar Diret. "Sayangnya, Saintess sangat jarang muncul, sehingga masih banyak negara yang tidak memilikinya. Dan di antara negara-negara itu, ada beberapa negara licik yang tak segan mencoba menculik Saintess dari negara lain."
"......" Clael mengangguk dalam hati. Ia sangat tahu soal itu. Dalam alur game aslinya, ada skenario di mana agen dari negara musuh mencoba menculik Reina.
"Dan yang lebih berbahaya lagi, ancaman itu bukan hanya datang dari negara asing. Otoritas keagamaan tertinggi di benua ini... 'Kerajaan Suci Shinecross' juga sangat menginginkan Saintess kita." "Kerajaan Suci Shinecross... Bukankah itu negara merdeka tempat Sri Paus bertahta?" tanya Clael.
"Benar." Di Kerajaan Seinkle ini, otoritas agama dipegang oleh Kuil Agung dan para Kardinal. Namun di atas mereka, ada Kerajaan Suci Shinecross yang berfungsi sebagai markas besar pengawas seluruh kuil di benua. Meski wilayahnya kecil dan tak punya militer yang kuat, pengaruh keagamaan mereka mutlak. (Di dunia asalku, posisinya mungkin mirip Vatikan... Tapi di game ini, negara itu adalah faksi antagonis!) batin Clael waspada.
"Kerajaan Suci memiliki dogma fanatik bahwa 'Semua Saintess harus dikelola dan tunduk langsung di bawah Sri Paus'. Mereka berambisi memonopoli semua Saintess di benua ini ke wilayah mereka. Demi ambisi itu, mereka sering menggunakan cara-cara ilegal dan paksaan," ungkap Diret. "Saya memang pernah mendengar rumor tentang betapa korupnya internal Kerajaan Suci saat ini. Tapi mereka tidak punya militer, bagaimana bisa mereka merampas Saintess kita dengan paksa?"
"Mereka memang tidak akan menculiknya dengan kekerasan fisik, melainkan dengan manipulasi agar seolah-olah 'Saintess pindah atas kemauannya sendiri'. Untuk itu, mereka akan mencuci otak orang-orang terdekat Saintess menggunakan sihir pikiran atau obat-obatan terlarang. Oleh karena itu, kita harus ekstra waspada melindungi Saintess Reina." Kardinal Diret menghela napas panjang dan menautkan jari-jarinya di atas meja.
"Biar kuperjelas, Pastor Byrne. Saintess Reina terlalu kuat. Potensinya jauh melampaui Saintess dari negara mana pun. Kerajaan Suci Shinecross sudah mencium hal ini dan sedang menyusun rencana untuk merebutnya. Dan jujur saja... ide untuk menobatkanmu menjadi seorang 'Santo' sebenarnya berasal dari desakan pihak Kerajaan Suci."
"Hah? Apa untungnya bagi mereka jika saya menjadi Santo?" Clael terkejut. "Dulu kami memang sudah berencana menjadikanmu Santo Pelindung Pendidikan, tapi proposal itu baru bisa disahkan dengan cepat berkat persetujuan mutlak dari Kerajaan Suci. Rencana mereka mudah ditebak: Mereka ingin mengangkat statusmu, menarikmu ke pihak mereka melalui pencucian otak atau suap, lalu menggunakanmu sebagai pion untuk membujuk Reina agar mau pindah ke negara mereka. Utusan dari Kerajaan Suci dijadwalkan hadir besok di upacara penobatanmu."
"......" Clael mengerutkan kening. Insting gamer-nya berbunyi nyaring. Kerajaan Suci Shinecross memang faksi villain di pertengahan game yang mencoba memanipulasi Reina. Salah satu Capture Target rahasia juga berasal dari negara itu. (Skenario aslinya, Shinecross baru akan bergerak saat Reina naik kelas dua... Tapi karena intervensiku dan level Reina yang sudah terlampau overpowered, sepertinya alur ceritanya melenceng sangat jauh ke depan. Efek kupu-kupu yang mengerikan!)
"Kerajaan Suci mungkin melabeli diri mereka sebagai 'Tanah Tuhan', tapi kesucian tempat itu sudah membusuk sejak ratusan tahun lalu. Kini tempat itu tak lebih dari sarang para pendeta korup yang gila harta dan takhta," lanjut Diret dengan nada jijik. "Tentu saja kami akan meningkatkan keamanan untuk Reina. Tapi, Pastor Byrne, aku memintamu untuk sangat berhati-hati."
"Mereka akan melakukan segala cara," peringat Diret menatap Clael tajam. "Misalnya, mereka bisa mengirimkan biarawati cantik untuk merayumu dan menjebakmu dalam skandal cinta. Berhati-hatilah." "...Saya mengerti. Terima kasih atas peringatannya, Yang Mulia."
Clael mengangguk serius. Reina yang sekarang sudah menjadi "monster" suci yang mustahil bisa dilukai siapa pun. Paradoksnya, kelemahan terbesar Reina saat ini justru ada pada Clael. Clael sadar bahwa posisinya sebagai guru akademi Ibukota juga merupakan taktik Kardinal untuk menyembunyikan dan melindunginya di dalam benteng keamanan tertinggi kerajaan.
(Demi Reina, aku tidak boleh menjadi beban... Aku harus sangat waspada terhadap jebakan apa pun, terutama jebakan wanita!) tekad Clael dalam hati.
Episode 98: Jebakan di Lorong Kuil
"Ya, amboii! Tolong angkat tangannya sedikit, tampan. Astaga, otot lengan Anda kencang juga ya, sangat menggoda~" "......"
Setelah menyelesaikan rapat tegang dengan Kardinal, Clael langsung digiring ke ruangan penjahit khusus Kuil Agung untuk melakukan pengukuran baju upacara penobatannya besok. Di dalam ruangan itu, seorang penjahit pria bertubuh kekar, namun berkepala plontos dan bertingkah gemulai (kemayu) sedang meraba-raba seluruh tubuh Clael dengan pita ukurnya.
"Baiklah, Sayang~ Aku akan membuatkanmu setelan upacara yang super memukau! Tolong tunggu ya, aku akan menyelesaikannya dalam waktu semalam saja!" "...Iya, tolong kerja samanya," jawab Clael menahan cringe.
Penjahit plontos kemayu itu mengedipkan sebelah matanya genit, membuat bulu kuduk Clael berdiri tegak. Gaya bicaranya yang luar biasa manis dan melambai itu entah kenapa mengingatkan Clael pada seseorang yang ia kenal di kampung. "Permisi... apakah Anda kebetulan kenal dengan seseorang bernama Oratorio?" "Oh, ya ampun?! Kau kenal dengan 'adik'ku?!" seru si penjahit kaget. "...Saya tinggal di Eggbell, jadi saya cukup sering merepotkannya untuk urusan baju." "Oh, begitu ya! Dulu si Oratorio kerja di butikku ini lho! Tapi begitu dia sudah mahir, dia malah memilih buka butik sendiri di kota pelosok karena katanya dia benci keramaian Ibukota. Dunia ini sempit sekali ya~!"
Benar-benar pertemuan yang tak terduga yang sukses menguras stamina mental Clael. Setelah diukur (dan diraba-raba secara sistematis) selama hampir satu jam oleh penjahit kemayu itu, Clael akhirnya dibebaskan. Sambil menghela napas panjang, Clael berjalan menyusuri lorong Kuil Agung mencari kamar tamu yang ditugaskan untuknya.
(Perjalanan jauh dari Eggbell, rapat politik dengan Kardinal, lalu dilecehkan secara visual oleh penjahit... Aku capek sekali. Aku mau cepat-cepat tidur,) keluh batin Clael.
"Oh... Bukankah itu Pastor Clael Byrne?" Tiba-tiba, sebuah suara berat memanggilnya dari belakang. Clael berbalik dan melihat seorang pemuda berpakaian uskup yang usianya mungkin sebaya dengannya. Wajahnya tampan dengan kacamata bertengger di hidungnya, namun senyumnya memancarkan aura culas dan meremehkan.
"Benar, saya Clael Byrne... Anda siapa?" "Ah, maafkan saya karena tidak memperkenalkan diri lebih awal. Nama saya Bellamy Walls. Meski mungkin terdengar lancang karena usia saya, saya adalah Uskup di Kuil Agung ini," ucapnya bangga.
Uskup di usia dua puluhan. Di hierarki gereja, naik pangkat menjadi Uskup di usia semuda itu berarti dia adalah elit super yang kemungkinan besar dibantu "orang dalam" (nepotisme).
"Ini pertama kalinya kita bertemu, Uskup Walls. Tapi sepertinya Anda tahu banyak tentang saya," balas Clael tenang. "Tentu saja. Anda kan sangat terkenal... Anda adalah pria beruntung yang 'cuma kebetulan memungut Saintess dari jalanan, dan sekarang tiba-tiba mau diangkat jadi Santo', bukan?"
Uskup Walls melontarkan hinaan itu dengan nada yang sangat menjengkelkan. Senyum mengejek terukir jelas di wajahnya, tak bisa menyembunyikan rasa iri dan dengki yang mendidih di baliknya.
(Oh, orang ini...) Clael membatin. "...Cara bicara Anda cukup sarkastik. Apa saya pernah menyinggung Anda sebelumnya?" "Oh, tidak, tidak ada masalah pribadi," Walls mengibaskan tangannya berlebihan seolah mengusir lalat. "Hanya saja... banyak pihak di Kuil Agung ini yang muak melihat seorang pastor desa tanpa prestasi tiba-tiba dilompati pangkatnya melebihi kami semua, hanya karena dia kebetulan menemukan Saintess. Tapi yah... kalau kau menganggap hoki itu sebagai 'mukjizat Tuhan', maka mungkin penobatanmu itu masuk akal."
"......" Clael mengerutkan kening. Ia sangat sadar bahwa dirinya memang mendapat durian runtuh berkat Reina. Wajar jika banyak pendeta elit yang cemburu padanya. (Meski begitu... dilabrak dan dihina langsung di depan muka begini rasanya cukup menyebalkan juga,) pikirnya. Clael menggali ingatannya soal game. Ia ingat ada seorang Uskup Agung bernama "Walls". Uskup Agung Walls adalah politisi korup yang dulu bersaing dengan Kardinal Diret untuk kursi tertinggi. (Pemuda di depanku ini pasti anak atau cucunya. Pantas kelakuannya sombong begini.)
"Kenapa kau diam saja? Apa kau gemetar karena kata-kataku tepat sasaran? Kalau ayah angkat Sang Saintess punya mental tempe begini, mana pantas dia dipanggil Santo—"
"Oh! Clael! Jadi kau di sini?!" Sebelum Walls menyelesaikan hinaannya, suara riang Reina terdengar dari ujung lorong. Reina yang sudah mengganti pakaiannya dengan jubah biarawati putih bersih berlari-lari kecil menghampiri Clael dengan wajah berseri-seri.
"Apa urusanmu dengan Kardinal sudah selesai?" tanya Reina. "Ah... ya. Jadwalku sudah kosong, jadi aku berencana istirahat di kamar." "Oh, kamar tamumu di sayap barat kan? Ayo, aku antar ke sana!"
Reina langsung menggandeng lengan Clael dan menariknya pergi. "T-Tunggu sebentar! Saintess Reina!" panggil Walls kaget.
Namun Reina menganggap Walls persis seperti debu mikroskopis. Ia sama sekali tak menoleh, apalagi melirik ke arah uskup muda itu. "Nanti toiletnya ada di ujung lorong sana, dan ruang mandinya di belokan ya, Clael. Jangan sampai salah masuk ke area biarawati," oceh Reina tanpa memedulikan eksistensi Walls. "H-Hei! Saintess Reina!" teriak Walls lagi dari belakang, namun Reina dan Clael terus berjalan menjauh meninggalkannya yang mematung menahan malu di tengah lorong.
Episode 99: Mata Tuhan (dan Beruang) Selalu Mengawasi
"Sialan... Berani-beraninya mereka mempermalukanku!" Melihat punggung Clael dan Reina yang menghilang di ujung lorong, Uskup Bellamy Walls menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai pualam.
Saat ia memanggil, Sang Saintess sama sekali tidak mengindahkannya. Reina memperlakukannya seolah-olah ia hanyalah kerikil jelek di pinggir jalan. Bahkan Clael hanya memberinya tatapan kasihan sekilas sebelum diseret pergi, yang mana hal itu justru semakin menginjak-injak harga diri Walls.
"Beraninya mereka... Bukan cuma Sang Saintess, pastor rendahan yang menyedihkan itu juga berani menghinaku...!" Walls menggertakkan giginya dan meninju dinding lorong dengan keras. Kelakuannya saat ini sangat tidak mencerminkan gelar keagamaan yang ia sandang, namun karena tak ada orang lain di sana, Walls membiarkan emosinya meledak.
Sebagai putra dari seorang Uskup Agung yang berkuasa, Walls selalu dimanja sejak lahir. Ia melesat menjadi elit di usia dua puluhan. Apa pun yang ia inginkan—perhiasan mahal, wanita cantik, kekuasaan—selalu bisa ia dapatkan dengan mudah. (Namun... hanya wanita itu yang tidak bisa kudapatkan! Aku bahkan tidak bisa menyentuh sehelai rambutnya!)
Wanita itu adalah Saintess Reina. Sejak hari pertama Reina menginjakkan kaki di Kuil Agung, Walls telah mencoba berbagai cara untuk mendekati dan merayunya. Mulai dari mengajaknya makan malam mewah, menawarkan bantuan politik, hingga memamerkan kekayaan dan kuasa ayahnya. Namun, Reina tidak pernah memberikan reaksi selain senyum dingin. Dinding pertahanan Sang Saintess terlalu tebal. Bahkan ketika Walls sengaja menyusun skenario agar mereka bisa "kebetulan" berduaan di lorong sepi, rencananya selalu gagal secara misterius. Seseorang atau "sesuatu" selalu muncul merusak suasana di detik-detik terakhir.
(Tapi pria itu... pastor udik itu bisa dengan mudahnya mendapatkan kasih sayang dan senyum termanis Sang Saintess... Itu semua cuma karena keberuntungan! Kebetulan saja Saintess dibuang di desa tempat dia bertugas!) Kecemburuan membakar dada Walls melihat bagaimana cara Reina menatap Clael dengan penuh cinta. Pastor desa, putra kelima yang tak dapat hak waris, berwajah biasa saja... kenapa pria rendahan seperti itu bisa memonopoli Saintess?!
(Dan yang paling parah... pria itu mau diangkat jadi Santo lusa nanti! Pangkatnya akan langsung melampauiku yang seorang Uskup!) Bagi Walls yang merupakan perwujudan arogansi dan elitisme, hal itu adalah sebuah penistaan. (Aku, uskup jenius termuda, adalah satu-satunya orang yang pantas menyandang gelar Santo! Status itu adalah milikku!)
Ego yang mengakar dalam otak korupnya memunculkan sebuah pembenaran yang gila: Menyingkirkan hama yang menghalangi jalannya menuju puncak kekuasaan adalah bentuk "Keadilan" mutlak sesuai kehendak Tuhan.
(Kardinal tua itu pasti mem-back-up pria itu secara politik. Aku tidak bisa menjatuhkannya lewat jalur birokrasi. Apa yang harus kulakukan? Menyewa pembunuh bayaran? Meracuninya? Tidak, tidak perlu sejauh itu. Cukup hancurkan reputasinya hingga ke akar-akarnya! Aku akan menyuruh salah satu biarawati peliharaanku untuk menyusup ke kamarnya malam ini dan menjebaknya dengan tuduhan pemerkosaan! Hahaha!) Walls menyeringai membayangkan rencana jahatnya.
"Beruang..." "Hah?"
Tepat saat Walls tertawa sendiri, ia mendengar suara bisikan berat dan berbulu dari arah belakangnya. Ia merinding dan cepat-cepat menoleh ke belakang, tapi lorong itu kosong melompong. Sesaat, dari sudut matanya, ia bersumpah melihat sebuah bayangan raksasa berkelebat di luar jendela... (Apakah itu cuma burung gagak yang lewat?)
"Cih..." Walls mendengus angkuh dan kembali berjalan dengan dada membusung, sama sekali tidak menyadari peringatan alam semesta yang baru saja ia abaikan.
Tuhan (dan Pasukan Beruang Macho) selalu mengawasi. Sayangnya, Uskup korup ini telah melupakan prinsip paling mendasar dalam agamanya sendiri.
Episode 100: Penyusup Tengah Malam
"Haaah... kasur yang sangat nyaman..."
Setelah selamat dari drama di Eggbell dan rapat melelahkan dengan Kardinal, Clael akhirnya bisa merebahkan diri di atas ranjang empuk kamar tamu Kuil Agung. Ia sudah membersihkan diri di pemandian mewah dan menikmati makan malam yang lezat. (Di dunia ini, para pendeta tidak dilarang makan daging atau makanan enak).
Bagi Clael yang lebih suka hidup damai dan sepi, berada di dalam Kuil Agung yang super besar dan penuh intrik politik sungguh menguras energinya. Apalagi dengan status barunya sebagai "Calon Santo" dan "Ayah Angkat Sang Saintess", ke mana pun ia melangkah, puluhan pasang mata pendeta dan biarawati selalu menatapnya tajam.
(Besok aku harus bangun pagi untuk gladi bersih upacara... Lebih baik aku langsung tidur,) pikir Clael menguap lebar. Begitu ia mematikan lampu kristal di nakas dan memejamkan mata, rasa kantuk yang berat langsung menariknya ke alam bawah sadar.
Suu... Suu... Suara napas teratur Clael memenuhi kamar tamu yang hening dan gelap itu. Entah sudah berapa lama waktu berlalu...
Klik. Tiba-tiba, sebuah keanehan terjadi. Kenop pintu kamar yang sudah dikunci dari dalam oleh Clael, perlahan-lahan berputar dari luar menggunakan kunci duplikat. Pintu berderit pelan dan terbuka.
Dua sosok bayangan mengendap-endap masuk ke dalam kegelapan kamar. Mereka memicingkan mata, dan setelah memastikan Clael sedang tertidur lelap di atas ranjang, mereka saling mengangguk.
Srek... Srek... Terdengar suara kain bergesekan. Detik berikutnya, dua potong jubah biarawati putih jatuh menumpuk di lantai. Cahaya bulan purnama yang menembus jendela menyinari dua tubuh wanita muda yang kini sepenuhnya tanpa busana. Mereka adalah dua biarawati Kuil Agung yang telah disuap (dan ditiduri) oleh Uskup Bellamy Walls. Tugas mereka malam ini adalah menyusup ke ranjang Clael dalam keadaan telanjang bulat, lalu berteriak histeris menuduh Clael mencoba memperkosa mereka. Walls sudah standby di luar lorong, siap mendobrak masuk sebagai "Pahlawan Penyelamat" begitu teriakan terdengar.
Jika skenario ini berhasil, skandal seks ini akan menghancurkan karir Clael. Gelar "Santo"-nya akan dicabut dengan tidak hormat, dan yang terpenting, Saintess Reina pasti akan membencinya seumur hidup.
(Dia tidur nyenyak sekali...) bisik salah satu biarawati. (Bagus, ini akan sangat mudah...) sahut temannya.
Mereka berdua merangkak naik ke atas ranjang dari sisi kiri dan kanan, bersiap memeluk Clael yang masih tertidur pulas tanpa curiga.
"Hah?" "Eh?"
Namun... sebelum tangan kotor mereka bisa menyentuh ujung selimut Clael, sebuah tangan tak kasat mata mencengkeram pundak mereka berdua dari belakang dengan cengkeraman sekuat catut besi.
"Kyaaa...!" Kedua biarawati itu tersentak dan menoleh ke belakang dengan ngeri. Di tengah kegelapan, berdiri sesosok wanita. Wajah wanita itu sangat cantik, namun ekspresi amarah iblis yang terpancar dari matanya membuat darah kedua biarawati itu membeku.
Wanita itu adalah Saintess Reina. Gadis yang biasanya mereka lihat tersenyum polos dan suci, kini menatap mereka layaknya Dewi Pembalasan Dendam.
"K-Kita harus kabur...!" Sang biarawati berusaha menjerit memanggil bantuan Walls, tapi Reina lebih dulu membekap mulut dan mencengkeram leher mereka.
"Hmph...!" Tanpa suara, Reina menggunakan sihir ruang untuk merobek dimensi tepat di belakangnya. Sebuah portal gelap seperti mulut iblis terbuka. Bagaikan membuang kantong sampah, Reina melempar dua biarawati telanjang itu ke dalam portal dimensi tersebut. Portal tertutup rapat, melenyapkan eksistensi kedua wanita itu dari kamar tersebut tanpa jejak.
Zzz... Zzz... Clael masih tidur mendengkur pelan, sama sekali tidak sadar bahwa kesuciannya baru saja diselamatkan dari ancaman cancel culture.
Setelah membereskan hama pengganggu, ekspresi iblis Reina kembali melembut. Ia mencondongkan wajahnya ke wajah Clael yang sedang tertidur, menatapnya penuh kasih sayang. "Cup." Reina mengecup pipi Clael dengan lembut, lalu berjalan mundur dan menghilang ke dalam kegelapan ruang.
Kamar kembali damai. Dua helai jubah biarawati tergeletak bisu di lantai. Beberapa hari kemudian, rumor tentang hilangnya dua biarawati secara misterius sempat beredar di Kuil Agung, tapi Clael yang tak tahu apa-apa sama sekali tak mempedulikan gosip tersebut.
Episode 101: Si Bodoh yang Melarikan Diri
"Hah... Hah... Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Di sayap lain Kuil Agung, seorang pria sedang berlari terbirit-birit menyusuri koridor gelap di tengah malam. Pria itu adalah Bellamy Walls, Uskup termuda yang sebelumnya berencana menjebak Clael.
Wajah tampannya yang biasanya sombong dan elitis kini berkerut hancur oleh ketakutan absolut. Keringat dingin membasahi jubahnya. Ia mencoba mencari tempat sembunyi, tapi entah kenapa setiap pintu ruangan yang ia tarik selalu terkunci rapat. Ia berteriak minta tolong sekencang-kencangnya, tapi lorong kuil yang seharusnya dipenuhi ratusan penjaga itu sunyi senyap bak kuburan. Tak ada satu pun manusia yang datang merespons teriakannya.
"Beruang..." "HIIIIIYAAA!"
Suara langkah kaki berat yang mendekat dari belakang membuatnya memekik ngeri. "Apa salahku?! Kenapa aku harus dikejar monster seperti ini?!" tangis Walls putus asa.
Rencana awalnya sangat sempurna. Ia bersembunyi di balik pilar lorong dekat kamar Clael, menunggu dua biarawati itu berteriak agar ia bisa mendobrak masuk. Namun... yang keluar dari kamar itu bukanlah jeritan wanita, melainkan sebuah siluet raksasa. Makhluk itu bertubuh kekar, berotot gempal, dan tingginya mencapai dua meter. Meski wajahnya tertutup bayangan gelap, dada bidangnya yang tak berbaju dan hawa membunuhnya membuat nyali Walls langsung ciut.
Siapa pun manusia normal pasti akan langsung kabur jika dihadapkan pada raksasa binaraga tak berbaju di tengah lorong gelap jam dua pagi.
Walls terus berlari dan berlari hingga paru-parunya terasa mau meledak. Anehnya, lorong Kuil Agung ini terasa memanjang tanpa batas. Seolah ia telah terjebak ke dalam dimensi labirin tanpa ujung yang terus mengulang pemandangan yang sama.
"Hah... Hah... Siapa sebenarnya makhluk gila di belakangku itu?!" "Beruang..." "Uwaaaaaah!" Suara dengusan beruang itu kini terdengar tepat di telinganya. Walls memaksakan kakinya yang sudah kram untuk berlari lebih cepat tanpa berani menoleh ke belakang.
Tepat ketika staminanya berada di titik nol dan ia hampir pingsan, sebuah keajaiban muncul. Di ujung lorong, ia melihat sebuah papan nama pintu bertuliskan: "Ruang Kerja Uskup Agung Walls". Itu adalah kantor ayahnya! Dan yang lebih melegakan, cahaya lampu redup menyala dari celah bawah pintu, menandakan ayahnya sedang lembur di dalam.
"AYAH! TOLONG AKU!" Walls menabrak pintu ganda itu hingga terbuka lebar dan jatuh tersungkur ke lantai karpet ruangan. Saat ia masuk, seberkas cahaya putih magis yang menyilaukan memenuhi ruangan, membuat pandangannya memutih selama beberapa detik. Ketika matanya kembali fokus, ia melihat siluet ayahnya sedang duduk tenang di kursi kebesaran, mengerjakan setumpuk dokumen.
"Ayah...!" Walls merangkak putus asa. "Tolong aku! Aku dikejar makhluk aneh! Ada raksasa setinggi dua meter mengejarku di lorong...!"
Layaknya anak balita yang ketakutan, pemuda berusia dua puluhan itu memeluk pinggang ayahnya erat-erat dan membenamkan wajah berjenggotnya ke perut sang Uskup Agung, menangis tersedu-sedu.
"Ini pasti perbuatan pendeta udik itu... Clael sialan itu pasti menyewa monster pembunuh untuk menyingkirkanku...!" rutuk Walls di sela tangisannya. "Gelar Santo itu harusnya milikku... Tolong gunakan kekuasaanmu untuk menghukumnya, Ayah!"
"Oh, begitu ya... Kau pasti sangat ketakutan, anakku sayang. Kasihan sekali," suara lembut dan berat merespons dari atas, sementara sebuah tangan besar dengan lembut mengelus kepala Walls. Mendapat usapan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan sejak kecil, Walls merasa sangat lega dan nyaman.
"Ngomong-ngomong... Makhluk seperti apa yang mengejarmu tadi?" tanya suara itu lagi. "Aku tidak tahu... Lorongnya terlalu gelap, tapi dia besar sekali..." isak Walls. "Oh? Apakah dia besar dan berotot... seperti aku ini?"
"Hah...?" Mendengar nada suara yang tiba-tiba berubah menyeramkan, Walls yang sedang memeluk perut itu perlahan mendongak ke atas. Cahaya magis yang menyilaukan ruangan itu perlahan meredup.
"Hiiii...!" Pemandangan di atasnya membuat jantung Walls berhenti berdetak. Pria yang sedang ia peluk itu bukanlah ayahnya. Jubah Uskup Agung itu dipakai paksa hingga robek oleh gumpalan otot-otot dada yang sangat masif. Dan wajah yang menunduk menatapnya dari atas... adalah kepala sebuah boneka beruang dengan senyum psikopat.
"Beruang." (Halo).
"HIIIIIIIIIIYAAAAAAAAAAAAAA!" Jeritan melengking Walls memecah keheningan malam. Matanya berputar ke belakang. Uskup muda yang sombong itu langsung pingsan di tempat dengan mulut berbusa, sementara cairan pesing berwarna kuning perlahan merembes membasahi karpet mahal dari sela-sela celananya.
Episode 102: Pagi yang Damai dan Sampah di Lorong
"Nnggh... Ah, tidurku nyenyak sekali..."
Matahari pagi menyinari Kuil Agung. Clael terbangun dengan tubuh yang luar biasa segar. Saat ia membuka jendela, angin pagi yang sejuk bertiup masuk mengusir hawa panas musim panas. "Anginnya enak sekali... Cuaca hari ini sepertinya sangat mendukung."
Clael melakukan peregangan kecil dan bersiap mengganti piyamanya dengan jubah biarawan. "Hm?" Tiba-tiba, ujung kakinya menyenggol tumpukan kain di lantai. Saat ia memungutnya... itu adalah dua helai gaun biarawati berwarna putih bersih.
"............?" Clael memiringkan kepalanya dengan sejuta tanda tanya di atas kepala. (Apa kemarin malam kain ini sudah ada di sini?) pikirnya bingung. (Mungkin tamu yang menginap sebelum aku tak sengaja meninggalkan cucian mereka. Nanti kuberikan saja pada petugas laundry.) Tanpa curiga sedikit pun, Clael meletakkan gaun itu di kursi, berpakaian, dan berjalan menuju ruang makan Kuil Agung.
Ruang makan sudah dipenuhi ratusan pendeta yang sedang menikmati sarapan pagi. Clael mengambil nampan makanannya dan duduk di salah satu meja panjang.
"Hei, kau Clael kan? Bolehkah aku duduk di sini?" "Hm?" Clael mendongak dan melihat seorang pria paruh baya tersenyum padanya. Wajah yang sangat familier. Itu adalah Pastor Brownie, kakak tingkat (senior) yang dulu sangat suka menceramahinya semasa kuliah teologi.
"Senior Brownie! Sudah lama sekali ya," sapa Clael ramah. "Benar, sangat lama," Brownie duduk di seberangnya. "Kudengar kau ditugaskan ke kota pelosok Eggbell... Tak disangka, kaulah pria yang menemukan Sang Saintess." "Ah... itu murni hanya kebetulan belaka."
"Jangan merendah. Itu pencapaian yang sangat luar biasa. Aku tak pernah membayangkan kau akan segera diangkat menjadi Santo," puji Brownie. "Kau itu memang selalu kurang ambisi, padahal kau punya potensi besar. Dulu aku selalu yakin suatu hari kau akan melakukan sesuatu yang hebat." "Hahaha... Senior terlalu memuji." Clael tertawa hambar.
Ceramah motivasi khas Senior Brownie kembali dimulai. Dulu, Brownie selalu mengomeli Clael yang lebih memilih hidup santai di desa daripada mengejar karir di Ibukota. (Senior Brownie ini memang orang baik yang peduli pada juniornya, tapi kebiasaannya yang suka menceramahi orang panjang lebar benar-benar bikin lelah,) batin Clael pasrah mendengarkan.
"Lalu, Senior Brownie sendiri... apakah selama ini terus bertugas di Kuil Agung ini?" tanya Clael mengalihkan topik. "Ya. Aku terus bekerja di sini sejak lulus. Pangkatku sekarang adalah Pastor senior. Haha, kalau kau resmi jadi Santo besok, pangkatku akan berada jauh di bawahmu lho." "Ah... Maafkan aku, aku benar-benar tak bermaksud melangkahi Senior..." Clael merasa tak enak hati. "Tidak perlu sungkan. Kau telah membesarkan dan mendidik Saintess dengan luar biasa. Kinerjamu dihargai dengan adil," potong Brownie bijaksana.
Namun, ekspresi Brownie perlahan berubah serius. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik pelan. "Tapi, Clael... kau harus tahu bahwa ada banyak orang di kuil ini yang iri dengan kesuksesan instanmu. Salah satunya adalah Uskup Bellamy Walls, putra dari Uskup Agung."
"Uskup Walls..." Clael menggumamkan nama pemuda menyebalkan yang ia temui kemarin sore. Ia melirik sekeliling ruang makan, tapi sosok Uskup itu tidak terlihat. Tentu saja, Uskup elit seperti dia pasti sarapan mewah di kamar pribadinya, bukan di kantin umum.
"Meski usianya masih muda, rumor tentang kelakuan buruknya sudah jadi rahasia umum," lanjut Brownie. "Dia sangat ambisius dan benci jika ada orang sebayanya yang sukses. Anehnya, para pastor yang pernah bermasalah dengannya selalu berakhir hancur karirnya karena jebakan skandal. Kau harus sangat berhati-hati padanya."
"...Terima kasih banyak atas peringatannya, Senior," Clael mengangguk hormat. Ia tidak langsung menelan mentah-mentah rumor itu, tapi mengingat tatapan benci Walls kemarin, Clael sadar pemuda itu jelas memusuhinya. (Mengingat dia tampan dan kaya, dia mungkin akan menyewa biarawati bayaran untuk membuat skandal palsu atau semacamnya. Lebih baik aku jaga jarak aman,) putus Clael waspada (tanpa tahu bahwa Walls sudah melakukan hal itu semalam dan gagal total).
Setelah menghabiskan sarapannya, Clael pamit kembali ke kamar untuk bersiap-siap melakukan fitting baju upacara. Namun, saat berjalan di lorong utama, langkahnya terhenti.
"Hah? Ada keributan apa ini?" Sekelompok besar pastor dan biarawati sedang berkerumun melingkar di tengah lorong, berbisik-bisik ngeri sambil menutup hidung mereka. "Astaga... apa yang terjadi pada Uskup Walls?" "Kenapa dia bisa berakhir seperti ini?"
Mendengar nama Walls disebut, Clael yang penasaran ikut menyelinap masuk ke dalam kerumunan untuk melihat apa yang terjadi.
"Ugh...?" Pemandangan di tengah kerumunan itu membuat Clael memalingkan wajah dengan meringis jijik. Di lantai lorong pualam itu, Uskup Bellamy Walls yang sombong tampak bersandar di dinding dalam keadaan tak sadarkan diri. Matanya berputar putih, mulutnya dipenuhi busa yang mengering, dan bagian bawah jubah mahalnya basah kuyup menebarkan bau pesing yang sangat menyengat. Pemuda elit itu pingsan sambil mengompol layaknya orang gila yang baru melihat hantu.
"Apa yang dia lakukan di lorong tengah malam begini...?" gumam Clael ngeri.
(Beberapa hari kemudian, skandal "Uskup Ngompol di Lorong" ini meledak. Bellamy Walls dinilai mengalami gangguan kejiwaan parah dan dicopot dari jabatannya di Kuil Agung secara tidak hormat. Imbas dari skandal memalukan putranya, sang ayah—Uskup Agung Walls—kehilangan seluruh pengaruh politiknya, dipaksa mundur dari perebutan kursi Kardinal, dan diasingkan ke kuil pedesaan seumur hidup. Hukuman Ilahi bekerja dengan sangat rapi).
Episode 103: Tangisan Darah Sang Saintess (Karena Kegantengan)
Setelah insiden menjijikkan di lorong selesai diurus, Clael kembali ke ruang fitting untuk mencoba pakaian upacara yang sudah direvisi penjahit.
"Jujur saja... bukankah pakaian ini terlalu mencolok untukku?" keluh Clael menatap pantulannya di cermin besar. "Oh ampuuun, apanya yang mencolok?! Ini luar biasa pas dan tampan untukmu, Sayang!" sahut si penjahit kemayu dengan mata berbinar.
Clael mengusap tengkuknya dengan wajah masam. Pakaian upacara penobatan yang dikerjakan semalam suntuk oleh penjahit ini terbuat dari kain sutra putih terbaik, disulam padat dengan benang emas dan perak yang membentuk motif suci. Bahkan orang awam pun tahu bahwa jubah ini harganya selangit, setara dengan jubah kebesaran seorang Kardinal.
"Ada pepatah bilang 'Pakaian bagus bisa membuat kera terlihat seperti pangeran', tapi di kasusku ini... aku merasa 'pakaiannya yang memakaimu', bukan aku yang memakainya," gumam Clael insecure. Pada dasarnya, Clael sadar diri. Ia tidak punya prestasi heroik yang pantas membuatnya menjadi Santo. Ia hanyalah pria biasa yang kebetulan mengasuh Reina. Dipaksa memakai baju semegah ini membuatnya merasa seperti badut penipu.
Cklek. Pintu ruangan terbuka. "Permisi, Clael, apa kau sudah selesai ganti ba—" Reina yang memakai jubah biarawati polos melangkah masuk. Kalimatnya terhenti mendadak.
"Ah, Reina... Maaf kalau desain bajunya terlalu—" "Hiks... Ahhh...!" "REINA?!"
Clael panik bukan main saat melihat Reina tiba-tiba ambruk berlutut di lantai. Tangannya menutupi mulutnya, tubuhnya gemetar hebat, dan air mata mengalir deras bagai air terjun dari sepasang matanya yang indah. Emosi gadis itu tampak hancur lebur.
"Ada apa?! Apa yang sakit?! Kenapa kau menangis?!" Clael langsung berjongkok menghampirinya. "T-Tampan sekali..." "Hah...?" "C-Clael... pakaian itu sangat... sangat cocok untukmu... Sungguh luar biasa menakjubkan... hiks," isak Reina dengan kelenjar air mata yang error karena damage visual yang ia terima.
Wajah Clael langsung berubah datar deadpan. (Kenapa kau harus bereaksi se-lebay itu hanya karena lihat aku pakai baju baru?!) rutuknya dalam hati.
"Pakaian itu terlahir untuk menempel di tubuhmu, Clael... Perpaduan putih, perak, dan emasnya... membuatmu terlihat sangat elegan, berwibawa, tampan, suci, dan cool abis..." Reina meracau dengan kosakata yang berantakan karena otaknya konslet saking jatuh cintanya. "Reina, tenanglah. Tarik napas. Bahasamu jadi sangat aneh," tegur Clael menepuk punggungnya. Meski Clael merasa pakaian ini terlalu mencolok, setidaknya Reina sangat menyukainya. Itu sudah cukup untuk mengobati rasa insecure-nya.
"Tuh kan, apa kubilang? Jubah itu sangat cocok untukmu, Pastor tampan~" goda si penjahit sambil merapikan lipatan kain. "Hari ini aku tinggal melakukan penyesuaian akhir di bagian ujung jahitan bawah. Aku sangat menantikan upacara besok, bukan begitu, Saintess?"
"Ya! Aku sangat menantikannya!" Reina akhirnya berhenti menangis dan bangkit berdiri. Ia menautkan tangannya di dada dengan senyum cerah yang membutakan. "Hari di mana seluruh dunia akhirnya akan mengakui kehebatan Clael-ku akhirnya tiba!" "Aku ini bukan pria yang sehebat itu lho..." Clael mencoba merendah.
"KAU PRIA YANG SANGAT HEBAT!" potong Reina dengan volume suara tinggi dan nada absolut, membungkam protes Clael seketika. Tatapannya seolah menegaskan: 'Kalau kau membantah lagi, aku akan menghukum siapa pun yang meragukanmu'. "Upacara besok akan jadi buktinya... Aku akan memastikan seluruh umat manusia berlutut dan mengakui bahwa Clael adalah satu-satunya entitas yang layak berdiri di sampingku."
"...Eh? Barusan kau bilang apa?" Clael samar-samar mendengar gumaman bernada diktator fasis dari mulut Reina. "Tidak ada apa-apa kok! Fufufu," Reina tersenyum manis memiringkan kepala.
Sesaat, Clael menyadari ada dua sosok wanita berjubah biarawati yang sejak tadi berdiri diam seperti patung di belakang Reina. "Reina, siapa dua biarawati di belakangmu itu?" tanya Clael penasaran. "Oh, mereka? Mereka adalah biarawati magang yang sekarang berada di bawah bimbingan langsungku." "Ah... yunior yang sedang kau training ya?"
Di Kuil Agung yang stafnya ribuan ini, wajar jika pendeta senior diberi tugas mengawasi dan membimbing biarawati baru. Tapi... dua biarawati itu memiliki tatapan mata yang sangat kosong. Manik mata mereka gelap gulita tanpa setitik pun cahaya kehidupan, persis seperti boneka rusak yang kehilangan jiwanya. (Mungkin karena tekanan kerja di Kuil Agung sangat berat, banyak pendeta yang depresi seperti itu,) batin Clael mencoba berpikir positif. Ia sama sekali tidak tahu bahwa dua wanita itu adalah biarawati sewaan Walls yang semalam dilempar Reina ke dimensi lain untuk di-brainwash ulang.
"Nah, kalian berdua, ambil alat pel. Ayo kita bersihkan kuil sekarang," perintah Reina tegas. "Ya... Kami akan patuh pada perintah Sang Dewi..." jawab dua biarawati itu serempak dengan suara monoton tanpa emosi. Keduanya berjalan mengikuti Reina keluar ruangan layaknya zombi penurut. Clael hanya bisa menatap kepergian mereka dalam diam, merasa ada sesuatu yang sangat salah tapi memilih mengabaikannya demi kewarasannya sendiri.
Episode 104: Mahkota Sang Santo
Hari H Upacara Penobatan. Clael berdiri di depan pintu raksasa Katedral Utama Kuil Agung, mengenakan jubah putih emasnya yang berkilau. Jantungnya berdebar kencang.
(Katedral ini benar-benar megah...) batin Clael kagum. Katedral ini jauh lebih masif dari kuil di Eggbell. Lantai marmer, dinding, dan pilar-pilar raksasanya dipenuhi ukiran emas rumit. Jendela-jendela kaca patri (stained glass) raksasa memantulkan cahaya warna-warni ke dalam ruangan. Di ujung aula utama, menjulang patung Dewi Agung raksasa. Di sisi kiri dan kanan patung Dewi tersebut, berjejer patung-patung para Santo dan Saintess dari abad-abad lampau yang sedang berlutut memuja. Di langit-langit kubahnya, terdapat lukisan fresco bergambar ratusan malaikat yang seolah menatap langsung ke arah Clael. Ini persis seperti Katedral katedral megah di Eropa masa Renaissance di dunia asalnya.
Ribuan pasang mata menatap Clael saat ia berjalan perlahan menyusuri karpet merah menuju altar. Katedral itu dipadati oleh pendeta, uskup, ksatria templar, dan biarawati berpangkat tinggi. Tatapan mereka terbagi menjadi dua kubu ekstrem. Di satu sisi, ada kelompok pendeta konservatif yang memandang Clael dengan tatapan sinis, iri, dan penuh permusuhan—persis seperti kubu Bellamy Walls. Mereka tidak terima "pendeta udik" ini melangkahi pangkat mereka. Di sisi lain, ada kelompok moderat yang memandang Clael dengan ramah, penuh hormat, dan kekaguman.
Saat Clael tiba di altar depan patung Dewi, tiga orang tokoh penting telah menunggunya. Orang pertama adalah Reina, yang tersenyum sangat lembut menyambutnya. Orang kedua adalah Kardinal Diret Horst, yang memberinya tatapan penuh arti politik. Dan orang ketiga... adalah seorang Uskup muda ramping dengan mata sipit melengkung bagai benang, mengenakan jubah khas utusan asing.
(Itu pasti perwakilan dari Kerajaan Suci Shinecross,) batin Clael waspada. (Aku ingat wajah itu. Carmine Imari. Karakter Uskup musuh licik yang di dalam game akan menggunakan segala cara kotor, mulai dari pencucian otak hingga penculikan, demi merampas Reina ke negaranya!)
Clael langsung memasang mode siaga penuh. (Jadi pria inilah yang memaksa dewan gereja untuk mengangkatku jadi Santo. Rencananya pasti ingin menjadikanku bonekanya!)
"Baiklah... kita akan memulai prosesi Upacara Penobatan Suci untuk Pastor Clael Byrne!" suara Kardinal Diret menggema ke seluruh katedral dengan bantuan sihir pengeras suara. "Pastor Clael Byrne yang hadir di hadapan kita hari ini, adalah pria yang berjasa besar menemukan Saintess Reina Laurel di saat krisis, memberinya tempat bernaung, serta mendidik dan membimbing jiwanya. Berkat Sang Saintess, Kerajaan Seinkle kita diberkati panen melimpah, terbebas dari wabah, dan terlindungi dari invasi monster. Semua kemakmuran ini secara tidak langsung merupakan buah dari bimbingan suci Pastor Clael!"
Kardinal sengaja melebih-lebihkan jasa Clael di depan publik untuk menekan mulut-mulut sinis para pendeta yang tak setuju. "Keluarga Kerajaan dan Kuil Agung dengan ini menganugerahkan gelar kehormatan tertinggi. Pastor Clael Byrne diakui sebagai 'Santo Pelindung Pendidikan'!"
(Untunglah gelarku cuma seputar pendidikan... bukan 'Santo Pelindung Pengasuhan Anak' seperti rumor konyol itu,) batin Clael lega. (Meski begitu, aku tidak yakin apa mengajari anak SD membaca bisa disebut pendidikan suci tingkat dewa...)
Setelah Kardinal mundur, Carmine Imari maju selangkah dan berbicara dengan senyum ularnya. "Kami, mewakili otoritas Kerajaan Suci Shinecross, juga sangat mendukung penobatan ini. Seperti yang kita ketahui, Saintess Reina sebelumnya hidup dalam lingkungan keluarga kandung yang penuh siksaan. Adalah sebuah keajaiban bahwa Pastor Clael datang menyelamatkannya dan membesarkannya menjadi rohaniwan yang mulia. Atas mukjizat kasih sayang itu, Kerajaan Suci mengakui Clael Byrne sebagai sosok yang pantas menyandang gelar Santo!"
Mendengar dukungan terbuka dari perwakilan Kerajaan Suci (Vatikan-nya dunia ini), para pendeta yang tadinya sinis kini mulai terdiam. Pengakuan dari Shinecross adalah stempel legitimasi mutlak dalam dunia keagamaan.
"...Dengan penuh kerendahan hati, saya menerima tanggung jawab suci ini," Clael berlutut satu kaki dan menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah patung Dewi Agung. Sebenarnya ia merasa sangat tidak pantas memakai gelar overpowered ini, tapi skenarionya sudah lock dan ia tak bisa mundur.
"Kalau begitu... mari kita sematkan mahkota kesuciannya," instruksi Kardinal. "Permisi, Clael..." Reina melangkah maju mendekati Clael yang berlutut. Dengan senyum paling indah dan agung yang pantas dimiliki seorang Saintess, Reina perlahan meletakkan mahkota daun laurel (simbol kemuliaan) di atas kepala Clael.
"Semoga engkau diberkati sebagai seorang Santo, sang Utusan Tuhan," ucap Reina syahdu. "Semoga Tangan Tuhan selalu menyertai umat-Nya. Saya berjanji akan mengabdi sepenuh hati," balas Clael menyelesaikan ritual sumpah resminya.
Prosesi formal selesai. Para pendeta di katedral mulai memberikan tepuk tangan formal (dan sedikit enggan) untuk menyambut sang Santo baru.
Namun... di detik itu, hal yang merusak akal sehat terjadi. ZRIIING! Partikel cahaya keemasan yang tak terhitung jumlahnya tiba-tiba turun seperti hujan salju bercahaya dari langit-langit katedral. Saat Clael dan semua hadirin mendongak, mereka melihat lukisan malaikat di kubah katedral itu menyala terang. Ratusan roh cahaya berwujud peri dan malaikat kecil berterbangan turun, mengelilingi tubuh Clael dalam pusaran cahaya surgawi.
"A-Apa ini?!" "Mukjizat turun dari langit?!" "Ya Tuhan! Dewi memberkatinya!" "Ini bukti nyata! Roh Kudus dan para Malaikat secara langsung memberikan restu padanya! Dia adalah Santo sejati pilihan Tuhan!"
Histeris massal meledak di dalam katedral. Para pendeta (termasuk kubu pembenci Clael) langsung jatuh berlutut sambil menangis tersedu-sedu, memanjatkan doa memuja Clael seolah pria itu adalah inkarnasi dewa yang turun ke bumi. Adegan ini sangat megah dan surealis.
"Tunggu, tunggu, tunggu... Ini di luar script acara..." gumam Clael panik di tengah badai cahaya. "Fufufu... Dengan begini, tak ada satu pun manusia di dunia ini yang berani meragukan Clael-ku. Rencanaku sukses besar," bisik Reina sangat pelan di telinga Clael, diiringi senyum kemenangan seorang sutradara mastermind.
Episode 105: Penobatan Sukses (Berkat Monopoli Pikiran)
Berkat intervensi (baca: manipulasi paksa) Roh Kudus yang di-sutradarai Reina, upacara penobatan yang tadinya kaku berubah menjadi ekstravaganza keagamaan paling mewah abad ini. Para pendeta konservatif yang berniat memprotes status Clael langsung bungkam seribu bahasa. Mau benci atau tidak, melihat hujan cahaya dan malaikat yang turun memberkati pria itu, mereka terpaksa sujud dan memujanya. Clael kini dihormati sebagai "Santo Sejati" baik secara hukum maupun secara de facto.
"Clael! Upacara tadi sangat spektakuler dan mengesankan!" seru Reina bahagia. Setelah acara selesai dan aula dibersihkan, Clael akhirnya bisa beristirahat di kamar tamunya. Tentu saja, Reina menempel di sebelahnya, terus membanjiri Clael dengan pujian. Hanya ada mereka berdua di kamar karena Kardinal dan petinggi lain sedang sibuk mengurus konsumsi dan kekacauan jamaah di luar.
"Seperti dugaanku, Clael sangat hebat! Cahaya turun seperti salju musim dingin! Bahkan Sang Dewi langsung memberkatimu dari kahyangan!" Reina bertepuk tangan riang. "...Kau yang memanipulasi cahaya dan roh-roh itu agar muncul kan, Reina?" Clael menatapnya dengan mata menyipit penuh selidik.
Pasti Reina sengaja menggunakan sihir Saintess-nya untuk memanggil fenomena visual luar biasa itu agar orang-orang percaya bahwa status Santo Clael adalah kehendak Tuhan, bukan rekayasa politik gereja. Namun, Reina membalas tatapan curiga Clael dengan senyum polos tak berdosa. Gadis itu sama sekali tidak merasa bersalah telah melakukan penipuan mukjizat massal. Ia malah terlihat sangat bangga.
"Melihat semua orang menatap Clael dengan penuh hormat sampai menangis haru... Ah, itu sungguh pemandangan terbaik. Aku sangat bahagia. Aku sangat bangga padamu!" senyum Reina mekar sempurna.
"Haaaah..." Clael membuang napas panjang. Melihat Reina yang begitu bahagia sampai-sampai menganggap "kesuksesan" ini sebagai pencapaian hidupnya, Clael merasa tak ada gunanya mengomelinya lebih jauh. Clael akhirnya pasrah menerima masa depan berat yang kini berada di pundaknya. Masa depan di mana ia harus menjadi tokoh panutan bagi jutaan umat beragama.
(Gelar Santo ini menuntutku untuk selalu bertingkah sempurna tanpa cacat,) batin Clael merenung. (Di mata publik, kesan pertama itu krusial. Kalau seorang selebriti yang dicitrakan suci membuat kesalahan kecil saja, media dan masyarakat akan mencabik-cabiknya tanpa ampun. Sebaliknya, mantan preman yang rajin sholat sekali saja langsung dipuji bagai malaikat turun dari surga. Setelah diangkat jadi Santo ini, aku harus 100% menjaga perilakuku agar tidak ada celah skandal).
(Sejak awal aku memungut Reina, aku sudah tahu bahwa hidup damaiku sebagai pastor udik akan berakhir... Tapi aku tak pernah membayangkan dampaknya akan sedahsyat ini.)
"Clael, ada apa? Kenapa melamun?" Reina mencondongkan wajahnya, menatap Clael dengan cemas. Clael membalas tatapan itu dengan senyum lembut dan mengusap kepala Reina. "Tidak apa-apa kok."
(Ya. Aku harus menanggung semua ini. Demi keluarga. Sebagai figur ayah dan kakak untuknya, aku tidak boleh menunjukkan sisi lemah atau menyedihkan. Aku harus menjadi tameng politik yang kuat untuk melindungi masa depannya,) tekad Clael dalam hati. Tepat saat tekad bajanya kembali terkumpul, terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu.
"Silakan masuk," sahut Clael. Pintu terbuka, dan sesosok pria berbalut jubah uskup merah melangkah masuk. "Permisi, Pastor Clael—oh, maafkan kelancangan saya. Saya seharusnya memanggil Anda Santo Clael sekarang."
Pria itu adalah Uskup Carmine Imari dari Kerajaan Suci Shinecross. Senyum ular yang khas dengan sepasang mata sipit yang hanya menyisakan garis tipis menghiasi wajahnya. Panggilannya menggunakan gelar kehormatan penuh menegaskan formalitas perbincangan ini.
"Anda bebas memanggil saya apa saja, Uskup Carmine. Jadi... apa ada keperluan penting hingga Anda mengunjungi kamar saya?" tanya Clael tenang.
(Dalam game aslinya, pria ini adalah villian manipulator yang menggunakan segala cara licik untuk menculik Reina. Aku harus menggali tujuannya kemari tanpa membiarkannya sadar bahwa aku tahu sifat aslinya,) batin Clael mengaktifkan mode waspada.
"Tidak ada hal khusus, Yang Mulia Santo. Saya hanya belum sempat mengucapkan selamat secara pribadi sebelum upacara tadi, jadi saya datang kemari untuk menebusnya," Carmine menjawab dengan nada sopan yang sempurna. "Ah, begitu rupanya. Maafkan saya juga karena belum sempat bertegur sapa dengan layak."
"Sama sekali tidak masalah... Saya yakin ke depannya kita akan sering menjalin kerja sama yang menguntungkan. Saya sangat menantikan saat itu tiba." Carmine melangkah maju dan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan senyum paling ramah di dunia.
Clael membalas senyum itu dan menyambut uluran tangannya. BZZZAAAAP! Sesaat ketika telapak tangan mereka bersentuhan, terdengar suara gemeretak keras seperti ledakan listrik tegangan tinggi, diiringi percikan bunga api kebiruan di udara.
"Ugh!" Carmine buru-buru menarik tangannya dengan wajah kaget. "Oh, listrik statis ya? Cuaca musim panas begini memang kadang memicu hal aneh," Clael tersenyum tenang tanpa melepaskan kontak mata. "...Y-Ya, Anda benar. Fenomena alam memang kadang mengejutkan," senyum ramah Carmine sedikit berkedut menahan sakit, tapi ia segera menormalkan ekspresinya.
"Jika Anda memiliki waktu luang, saya sangat menyarankan Anda mengunjungi Kerajaan Suci Shinecross kami, Santo Clael. Saya pribadi yang akan menjadi pemandu tur Anda." Carmine sedikit menunduk. Lalu ia melirik Reina yang berdiri di belakang Clael dengan tatapan penuh perhitungan. "Dan tentu saja, Anda juga sangat diharapkan hadir, Saintess Reina. Seluruh Kerajaan Suci akan menggelar karpet merah untuk menyambut kedatangan Anda."
"Ya, jika ada kesempatan," jawab Reina dingin. "Itu pun hanya jika Clael juga ikut bersamaku." "...Baiklah. Saya permisi undur diri." Carmine membungkuk hormat dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan.
Setelah pintu tertutup rapat, Clael langsung mengernyitkan dahi. (Dasar ular berbisa... Dia pria yang sangat berbahaya. Tadi itu dia jelas-jelas berniat mencuci otakku!)
Untung saja, sebelum Carmine masuk, Clael diam-diam telah merapal sihir suci perlindungan tingkat tinggi ke seluruh tubuhnya. Efek tolakan dari sihir pertahanan itulah yang menyebabkan ledakan listrik statis barusan saat Carmine mencoba menyuntikkan sihir manipulasi pikiran (Mind Control) melalui jabat tangan. Jika Clael lengah, ia mungkin sudah menjadi boneka penurut pria itu sekarang.
"Reina, dengar baik-baik. Jangan pernah mau berduaan dengan pria itu di ruangan tertutup, mengerti?" peringat Clael serius. Meski Reina memiliki perlindungan mutlak yang membuatnya kebal terhadap sihir pencucian otak atau hipnosis, Clael tidak mau mengambil risiko ada kejadian tak terduga yang bisa mencelakai putri angkatnya.
Reina menatap Clael dengan senyum manis dan memiringkan kepalanya dengan polos. "Tenang saja, Clael. Aku tak akan pernah mau berada dalam satu ruangan berdua saja dengan pria mana pun di dunia ini... kecuali dirimu."
"...B-Begitu ya," Clael menelan ludah. Jawaban Reina memang sangat melegakan dari segi keamanan, namun dari segi kesehatan mental remaja, pernyataan itu terdengar sangat posesif dan agak creepy. (Yah... setidaknya dia aman dari Carmine. Itu yang terpenting sekarang,) batin Clael mencoba mengabaikan red flag tersebut.
0 Comments