Episode 86: Kemalangan Seekor Naga Tertentu
Dalam teologi agama mayoritas, naga sering digambarkan sebagai monster yang melambangkan dosa besar "Kemarahan". Sejalan dengan kepercayaan tersebut, naga satu ini juga terlahir dengan temperamen yang sangat buruk dan mudah meledak.
"Aku adalah naga." "Aku kuat." "Aku akan memangsa segalanya. Ini adalah hak istimewaku!"
Karena ia merasa paling kuat, ia yakin ia berhak menginjak-injak makhluk yang lebih lemah sesuka hatinya. Memangsa, menghancurkan, dan mencabik-cabik apa pun yang ia inginkan. Setelah tumbuh dewasa dengan pikiran arogan seperti itu, naga muda ini akhirnya terbang meninggalkan sarangnya menuju permukiman ras lain.
Saat masih kecil, ia pernah mendengar cerita dari naga-naga yang lebih tua. Di dunia ini, spesies yang menguasai wilayah daratan terbesar adalah makhluk lemah yang disebut "Manusia".
"Beraninya ras rendahan itu bertingkah seolah mereka adalah penguasa dunia! Mengabaikan kami, para naga yang merupakan makhluk terkuat, adalah penghinaan yang tak termaafkan! Mereka semua harus dihukum!"
Dipenuhi oleh amarah tak beralasan, naga muda itu terbang menuju kota manusia terdekat. Saat ia terbang di atas wilayah yang cukup ramai, matanya menangkap sesuatu yang bergerak di darat. Sebuah balok besi panjang yang melaju cepat seperti ular raksasa.
"Beraninya kau memiliki tubuh yang lebih besar dari naga! Aku akan menghancurkan dan melahapmu!"
Naga muda itu tidak tahu bahwa benda itu adalah kendaraan buatan manusia yang disebut kereta api. Dengan rahang terbuka lebar, naga itu bersiap menyemburkan napas apinya ke arah kereta yang sedang melaju.
"Beruang!" "GUAAH?!"
Tiba-tiba, sebuah pukulan telak menghantam wajahnya dari arah atas. Sosok humanoid bercahaya muncul entah dari mana dan langsung merontokkan giginya. Sosok yang memberinya pukulan kejutan itu memiliki sayap putih yang tumbuh dari punggungnya layaknya malaikat. Namun anehnya, wajahnya adalah wajah boneka beruang.
Karena diserang saat lengah, tubuh raksasa naga itu berputar tak terkendali di udara bagai bor yang rusak, lalu terjun bebas ke laut dan hampir tenggelam.
"Grrrrr... Beraninya kau menghinaku, dasar makhluk sialan! Aku akan membunuhmu! Aku akan mencabik-cabikmu!"
Setelah susah payah merangkak keluar dari laut, naga itu mendidih oleh amarah. Ia mencari "sesuatu" yang berani melemparnya tadi. Karena "sesuatu" itu memancarkan aura suci yang sangat unik, naga itu bisa dengan mudah melacak keberadaannya dari kejauhan. Naga itu pun terbang menuju kota pesisir tempat targetnya berada demi membalas dendam.
"Aku menemukannya! Aku menemukannya! Akan kulahap kau!"
Target yang diincar naga itu ternyata adalah seorang gadis muda yang sedang berada di kota. Meskipun gadis itu terlihat berbeda dari sosok beruang bersayap tadi, ia memancarkan aura suci yang persis sama. Naga itu menyimpulkan bahwa gadis itu pasti adalah wujud lain dari makhluk yang tadi. Tanpa ragu, naga itu langsung menukik turun untuk menyerang.
"Mati kauuuuu!"
Namun, tepat sebelum ia bisa menyentuh gadis itu, ia disergap lagi. Sesuatu melesat dari langit dengan kecepatan kilat dan menembus perutnya hingga berlubang. Rupanya, ada beberapa sosok bersayap lain yang menjaga gadis itu.
"G-Grrr... Aku tak pernah menyangka ada spesies rendahan yang mampu memberiku luka separah ini..."
Ini adalah situasi krisis yang sangat serius. Naga seharusnya adalah ras terkuat dan termulia di dunia. Seharusnya tidak ada satu pun makhluk yang bisa menjatuhkannya semudah ini. Lebih buruk lagi, harga dirinya hancur melihat ada makhluk yang berani terbang lebih tinggi darinya. Langit seharusnya hanya milik para naga, sang penguasa angkasa sejati.
"Aku akan bunuh mereka... Aku pasti akan bunuh mereka... Tapi sekarang, aku harus menyembuhkan lukaku dulu...!"
Naga itu terpaksa mundur. Ia bersembunyi di sebuah pulau kecil tak berpenghuni di tengah laut. Naga, yang memiliki kecerdasan tertinggi di antara para monster, mampu menggunakan sihir setara atau bahkan melebihi manusia. Ia menggunakan sihir Stealth (Penyembunyian) tingkat tinggi untuk menutupi auranya dari makhluk lain, dan fokus memulihkan luka tembus di perutnya.
Ia bersembunyi selama beberapa hari. Namun, karena rasa laparnya sudah tak tertahankan, naga itu akhirnya mematahkan mantra penyembunyiannya sendiri.
"Aku lapar. Aku harus makan."
Naga itu mengendus-endus udara mencari mangsa. Namun... di saat yang sangat tidak beruntung itu, hidungnya justru mencium aroma "sesuatu" yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
"Aroma itu...?! Aroma malaikat sialan itu...?!"
Lalu, seorang manusia laki-laki muncul dari balik semak-semak. Seorang pemuda yang tangannya penuh dengan buah-buahan liar, berdiri mematung menatapnya.
Episode 87: Layaknya Menginjak Kulit Pisang
"Gawat...!"
Awalnya Clael hanya berniat mencari buah liar sebentar, tapi ia malah bertatap muka langsung dengan seekor naga yang sedang bersembunyi di balik semak-semak. Saking terkejutnya, buah beri yang ada di tangannya langsung jatuh berserakan ke tanah.
Naga yang tadinya bersembunyi untuk memulihkan diri itu juga membelalakkan matanya lebar-lebar. Jika diperhatikan lebih jeli, ada kilat ketakutan di mata reptil raksasa tersebut.
Clael tahu ia bukan pria lemah, tapi melawan naga jelas ide yang sangat buruk. Kekuatan fisik seorang pastor tidak akan pernah cukup untuk menumbangkan naga. Meski naga itu terlihat terluka parah, Clael sadar ia tidak boleh mengambil risiko bertarung secara frontal.
(Kata orang, hewan buas yang sedang terluka adalah yang paling berbahaya. Apa aku harus lari?!)
Clael hampir saja berbalik dan lari terbirit-birit. Tapi ia ingat bahwa berlari justru bisa memicu insting berburu monster itu. Ia sempat berpikir untuk melawan saja, tapi akal sehatnya langsung menolak. Bingung dan panik akibat pertemuan tak terduga ini, Clael secara naluriah mengangkat tangan kirinya yang memakai "Cincin Bulan Biru".
"Air...!"
Niatnya adalah menggunakan sihir air berkekuatan tinggi untuk menembak wajah naga itu, lalu kabur saat naga itu kelilipan. Ia tidak tahu apakah itu keputusan yang benar, tapi itulah satu-satunya rencana yang terlintas di otaknya yang sedang error.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOOO!" "Uwaah?!"
Namun, sebelum Clael merapal mantranya, naga itu meraung panik dan tiba-tiba mengepakkan sayapnya kuat-kuat untuk kabur. Hembusan angin badai dari kepakan sayap itu menghantam tubuh Clael, membuatnya terhuyung ke belakang.
"Aduh?!"
Srooot. Lalu... sebuah tragedi konyol terjadi. Kaki Clael tak sengaja menginjak buah beri yang tadi ia jatuhkan. Ia terpeleset dengan gaya yang sangat komikal layaknya menginjak kulit pisang di film kartun.
Akibatnya, tangan yang sudah terlanjur merapal sihir air itu mengarah ke atas, dan pancaran air bertekanan tinggi itu justru menyemprot telak ke wajahnya sendiri. Clael pingsan seketika akibat friendly fire.
Meong?!
Sesosok bayangan kecil melompat keluar dari balik pohon dan mengguncang-guncang bahu Clael yang tak sadarkan diri. Itu adalah Nekopon, boneka kucing yang dirasuki Roh Suci. Nekopon memang bersembunyi di sana sebagai pengawal rahasia Clael.
Saat Clael berhadapan dengan naga, Nekopon sudah siap melompat untuk membantai naga itu jika ia berani menyerang. Namun yang terjadi justru di luar nalar; naganya terbang kabur ketakutan, sementara Clael terpeleset buah dan pingsan karena sihirnya sendiri. Ini adalah plot twist yang sama sekali tidak diprediksi oleh sang roh penjaga.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOO!"
Naga itu menjerit panik sambil terbang menjauh ke angkasa. Meski cara terbangnya sempoyongan karena luka di perutnya, naga itu terus terbang secepat mungkin untuk menjauhi pulau, seolah takut "sesuatu yang lebih mengerikan" sedang mengejarnya dari belakang.
Meong, meong...
Boneka kucing itu kebingungan. Reina telah memberinya perintah mutlak: Tanpa ampun musnahkan siapa pun yang berani melukai Clael. Tapi bagaimana dengan kasus ini? Di satu sisi, naga itulah yang menyebabkan angin kencang sehingga Clael jatuh. Tapi di sisi lain, Clael pingsan murni karena kecerobohannya sendiri. Nekopon memutuskan untuk kembali dan melaporkan kejadian ini pada majikannya, Reina. Namun...
"Aku tidak akan memaafkannya..." Meong?! "Aku tidak akan memaafkannya... Aku tidak akan memaafkannya... Aku tidak akan memaafkannya...!"
Nekopon terlonjak kaget mendengar suara mengerikan dari arah belakangnya. Saat ia menoleh dengan hati-hati... di sana berdiri seorang gadis yang hanya mengenakan bikini daun.
"Beraninya makhluk rendahan itu melukai Clael-ku... Aku tidak akan pernah memaafkannya...!" Meong, meong... (Itu salah paham, Nona...)
Rupanya, logika "kecelakaan" tidak berlaku di dalam standar hukum Reina. Mata hijau giok Reina kini memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Rambut peraknya yang panjang melayang-layang diselimuti aura merah darah, bergerak-gerak liar seperti ular Medusa. Dari punggungnya, enam sayap putih besar membentang lebar. Wajah cantiknya kini berkerut oleh amarah yang membakar.
Sejak zaman kuno, monster yang paling menakutkan sering kali memiliki wujud yang sangat rupawan. Keindahan dan kengerian adalah dua sisi dari koin yang sama. Reina, yang kini sepenuhnya dikuasai oleh amarah dan obsesi, terlihat begitu memukau, namun sekaligus menghadirkan kengerian yang membekukan darah.
"Clael..."
Reina berlutut dan menyentuh lembut wajah Clael yang pingsan. Seketika, cahaya putih yang sangat murni menyelimuti tubuh Clael. Itu adalah sihir penyembuhan tingkat mutlak, "Omega Heal". Ekspresi Clael yang tadi sedikit meringis kini berubah damai akibat efek sihir tersebut.
"......"
Melihat Clael sudah tenang, ekspresi Reina sesaat menunjukkan kelegaan. Namun sedetik kemudian, seperti koin yang dibalik, ekspresi itu kembali berubah menjadi amarah iblis.
"Hukuman Ilahi akan turun kepada siapa pun yang berani menyakiti Clael-ku..."
Tubuh Reina perlahan melayang ke udara. Mengepakkan enam sayap putihnya, ia melesat ke langit biru, matanya menatap tajam ke arah naga yang sedang terbang kabur di kejauhan. (Naga bodoh itu. Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat...) pikir Reina dingin. (Tapi itu tidak penting. Tidak ada gunanya mengingat wajah makhluk yang akan mati beberapa detik lagi.)
Reina mengangkat tangannya ke atas. "Penghakiman Ilahi."
Pembalasan itu datang seketika. Sebuah pilar cahaya raksasa—yang ratusan kali lipat lebih tebal dari sihir yang dulu ia gunakan untuk menghukum preman di ibukota—turun dari langit menembus awan. Kekuatan suci murni yang terkandung di dalamnya berada pada dimensi yang sama sekali berbeda, setara dengan murka Tuhan itu sendiri.
ZDOOOOOOM!
Pilar cahaya raksasa itu menghantam laut dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Naga malang itu lenyap tanpa sisa, menguap menjadi ketiadaan bahkan sebelum ia sempat menyadari apa yang baru saja membunuhnya.
Episode 88: Bangkit dan Tenggelamnya Dewa Jahat
Sang "Dewa" tengah tertidur lelap di dasar samudera yang gelap gulita. Jauh di dasar lautan, di luar jangkauan pemahaman umat manusia, terbentang sebuah reruntuhan kota kuno yang asal-usulnya tak diketahui siapa pun. Kemungkinan besar kota itu tenggelam ke dasar laut akibat pergeseran tektonik ribuan tahun silam. Dinding-dinding reruntuhan bawah laut yang menyeramkan itu dihiasi oleh ukiran mural yang sangat mengerikan, hingga ikan-ikan laut dalam buta pun secara naluriah menghindari tempat terkutuk tersebut.
Di ruang paling dalam dari reruntuhan itu. Sang "Dewa" sedang berhibernasi di balik gerbang batu raksasa yang tersegel rapat. Namun... hari ini, ia tiba-tiba terbangun dengan panik.
"......!"
Sang "Dewa" seharusnya terus tertidur dalam diam hingga waktu kebangkitannya tiba, menanti tumbal dari para pengikutnya. Namun... tak ada satu pun tanda-tanda kehadiran bawahannya di sekitar reruntuhan ini. Semua ras Saffergin dan Deep Gigant yang tercipta khusus untuk menyembah dan melayaninya telah lenyap tanpa sisa. Ini adalah anomali yang sangat fatal.
Lalu... dari arah daratan, ia merasakan luapan kekuatan musuh alaminya. Kekuatan yang sama dengan musuh bebuyutannya—Sang Saintess Pertama—yang ribuan tahun lalu menyegelnya di dasar laut ini.
『+GEVG?EW}G`B*RW}VB...!』 (BAHASA DEWA: KEKUATAN INI... SAINTESS?!)
Sang "Dewa" langsung memahami situasinya. Ia yakin bahwa pemilik kekuatan suci itulah yang telah membantai seluruh pasukannya. Ia tidak tahu siapa manusia itu, tapi satu hal yang pasti: musuh bebuyutannya ini telah melenyapkan seluruh bawahannya untuk menggagalkan ritual kebangkitannya.
『{BEB=EVB{RW...@(H+E<{L!})}}』 (BAHASA DEWA: JIKA BEGITU, AKU AKAN BANGKIT SEKARANG JUGA DAN MENGHANCURKANNYA!)
Sang "Dewa" mengambil keputusan nekat: ia harus menghancurkan segelnya sendiri secara paksa dan menantang musuh suci itu sekarang juga. Karena para pengikutnya telah musnah, ia tak akan bisa memulihkan kekuatannya secara maksimal meski ia terus tidur. Sebaliknya, jika ia membiarkan waktu berlalu, musuhnya akan semakin kuat. Oleh karena itu... ia harus menantang musuhnya sekarang, saat sang musuh (ia asumsikan) sedang kelelahan setelah bertarung melawan ribuan pasukannya semalaman. Meskipun memecahkan segel secara paksa sebelum waktunya akan membuat kekuatan Sang "Dewa" melemah drastis, itu jauh lebih baik daripada mati konyol saat tertidur lelap.
『H+BKJP*J? AACSVA!!!!!!!』 (BAHASA DEWA: RASAKAN MURKAKU, WAHAI SAINTESS!!!!!!!)
Sang "Dewa" meledakkan sisa kekuatannya untuk menghancurkan segel batu tersebut. Tubuhnya yang berukuran sepuluh kali lipat lebih besar dari paus biru menggeliat keluar dari reruntuhan. Tentakel-tentakel raksasanya yang tak terhitung jumlahnya mengaduk-aduk lautan, menciptakan pusaran air maut saat ia berenang naik menuju permukaan.
Ia tidak berniat langsung menantang musuhnya secara buta. Pertama-tama, ia akan menangkap mangsa apa pun yang ada di dekat permukaan laut dan melahapnya untuk memulihkan sedikit energinya.
"Hukuman Ilahi."
『EWG*WGB!!!!!!!??????』 (BAHASA DEWA: TUNGGU, APA INI!!!!!!!??????)
Sebuah suara dingin nan mengerikan mendadak terdengar langsung di dalam otak Sang "Dewa". Sesaat kemudian, sebuah pilar cahaya yang sangat terang, panas, dan mematikan turun dari langit, membelah lautan, dan menghantam tepat ke atas kepalanya.
『+N*_” OIJ...』 (BAHASA DEWA: GUBRAAAAAKKK...)
Apakah sang Saintess menyadari kebangkitannya yang dramatis ini? Terhantam secara telak oleh kekuatan suci absolut yang ditujukan untuk naga (namun tembus hingga ke dasar laut), Sang "Dewa" yang baru saja bangun tidur itu langsung pingsan dan tenggelam perlahan kembali ke reruntuhannya di dasar laut. Karena baru saja bangun dalam kondisi low battery dan langsung menerima serangan Ultimate, Sang "Dewa" dipastikan tidak akan bisa bangkit lagi dalam waktu dekat.
Ia baru akan sadar kembali jutaan tahun kemudian. Ya, jutaan tahun lagi, tepatnya setelah umat manusia sudah punah dari muka bumi dan cerita ini tak lagi relevan.
〇 〇 〇
"Eh?"
Di atas awan, Reina yang melayang dengan enam sayap putihnya memiringkan kepala dengan ekspresi bingung.
Tadi ia memang melepaskan pilar cahaya Penghakiman Ilahi dengan kekuatan maksimal (karena sangat marah) untuk memusnahkan naga yang telah membuat Clael terjatuh. Tapi... ia merasa cahaya itu juga mengenai sesuatu yang lain di dasar laut. Bayangan super masif yang baru saja berniat naik ke permukaan itu samar-samar terlihat memudar dan tenggelam kembali ke dasar laut setelah tak sengaja terkena tembakannya.
"...Itu tadi paus ya?" gumam Reina polos.
(Mungkinkah aku tak sengaja membunuh hewan laut yang tak bersalah?) Reina sedikit merasa bersalah. (Ah, tidak. Sihir suci tidak akan melukai makhluk yang tidak memiliki niat jahat. Berarti yang terkena tadi pasti monster laut yang kebetulan sedang lewat.)
"...Yah, tidak masalah lah," simpulnya singkat.
Benar. Itu tidak penting sama sekali. Yang lebih penting saat ini... Reina segera berbalik dan mengepakkan sayapnya menuju pulau.
"Clael... aku akan segera kembali. Bertahanlah!"
Ia harus segera kembali merawat Clael yang sedang pingsan. Dengan panik (padahal ia sendiri yang barusan merapal Omega Heal), Reina melesat kembali ke pulau untuk memberikan pertolongan pertama (berupa bantal paha) kepada sang ayah angkat yang kepalanya terbentur.
Episode 89: Terbangun di Atas Bantal Paha
Clael sedang terlelap dalam kegelapan. (Tadi... sepertinya kepalaku terbentur keras sampai pingsan. Ah iya, aku tersandung sesuatu dan jatuh. Sial, ingatanku sedikit kabur... apa yang sebenarnya terjadi tadi?) Dalam ketidaksadarannya, ingatan Clael masih belum tersusun rapi. Namun tak lama kemudian, kesadarannya yang sempat terputus itu perlahan-lahan kembali.
Indra pertama yang kembali berfungsi adalah indra perabanya. Ia merasakan sensasi yang sangat lembut, empuk, dan hangat menyangga bagian belakang kepalanya. Aroma wangi yang sangat manis juga tercium di hidungnya. (Sejak kapan aku punya bantal semewah ini?) pikir Clael yang masih setengah sadar. Bersamaan dengan itu, indra penglihatan dan pendengarannya mulai pulih.
"Clael, kau sudah sadar?" "...Reina?"
Saat Clael membuka mata, wajah cantik Reina berada tepat di atasnya, menatapnya dengan lembut. Butuh tiga detik bagi otak Clael untuk mencerna situasinya. Ia menyadarinya sedikit terlambat. Saat ini, kepalanya sedang bersandar di atas pangkuan Reina. Sang Saintess sedang memberinya "Bantal Paha" (Lap Pillow) legendaris.
"UWAH?!" "Ah! Kau belum boleh bangun!"
Clael secara refleks mencoba bangkit duduk karena panik, tapi kedua tangan Reina dengan sigap menahan bahunya, memaksanya kembali berbaring di atas pahanya yang lembut. Ia melirik ke sekeliling. Mereka masih berada di pulau terpencil. Tepatnya di atas pasir putih pantai. Yang membuatnya sedikit lega, Reina tampaknya sudah mengganti bikini daun yang konyol (dan berbahaya) itu dengan gaun musim panas putihnya yang biasa.
"Kepalamu terbentur sangat keras sampai kau pingsan, Clael! Kau masih butuh banyak istirahat!" ucap Reina dengan nada khawatir yang dibuat-buat. "Kepalaku terbentur...?"
Ucapan Reina pelan-pelan menarik kembali ingatan memalukan itu ke otak Clael. Ia ingat melihat naga. Ia ingat sangat terkejut sampai menjatuhkan buah beri yang dipegangnya. Lalu... ia berniat mundur, tapi kakinya malah menginjak buah yang ia jatuhkan sendiri, dan ia terpeleset layaknya menginjak kulit pisang.
(Oh Tuhan... matikan saja aku...) Wajah Clael memerah padam menahan rasa malu yang tak tertahankan. Ia telah melakukan tindakan konyol level komedi slapstick di situasi yang seharusnya menegangkan. Satu-satunya hal yang sedikit melegakannya adalah fakta bahwa Reina (sepertinya) tidak melihat adegan memalukan tersebut.
(Aku tak percaya aku pingsan karena kecerobohan sekonyol itu... Ugh, sialan! Sangat tidak keren!)
"A-Aku sudah tidak apa-apa, sungguh. Kepalaku sama sekali tidak sakit," Clael mencoba bangkit lagi. Ia tidak bohong. Berkat sihir penyembuhan Omega Heal dari Reina, bukan cuma rasa sakit di kepalanya yang hilang, seluruh tubuhnya terasa sangat segar seolah baru tidur sepuluh jam di kasur premium.
"TIDAK." Namun, Reina memotongnya dengan nada absolut.
"E-Eh? Tapi aku sudah—" "TIDAK BOLEH." "Reina, kita tidak bisa terus-terusan berbaring begini..." "POKOKNYA TIDAK BOLEH." "......"
Jika Reina sudah menggunakan nada keras kepala seperti itu, maka tidak ada ruang untuk negosiasi. Ia menatap Clael dengan tatapan yang seolah berkata 'Tidurlah dengan patuh di pangkuanku, atau aku akan memaksamu tertidur lagi.'
(Yah... mau bagaimana lagi...) Clael akhirnya pasrah menerima nasibnya. Ia merilekskan otot lehernya dan membiarkan kepalanya tenggelam di pangkuan empuk Reina. Jujur saja, ini adalah posisi yang sangat nyaman, meski rasa bersalahnya pada norma kesopanan terus meronta-ronta.
"...Sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Clael memecah keheningan. "Hanya sekitar satu jam." "Lalu... bagaimana dengan kapal penyelamat kita?" "Kurasa mereka akan segera tiba. Karena aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu, aku menggunakan sedikit sihir untuk 'mempercepat' kedatangan mereka," senyum Reina polos.
"......" Bagaimana cara mempercepat kapal datang? Di dunia ini tidak ada telepon satelit darurat. (Yah, lebih baik aku tidak bertanya lebih jauh. Kalau Reina bilang segera tiba, berarti memang segera tiba,) batin Clael yang sudah terbiasa dengan keanehan gadis itu.
Karena masalah kapal penyelamat sudah teratasi, Clael merasa inilah saat yang tepat untuk meminta maaf atas semua kesalahannya selama liburan ini. "...Maafkan aku ya, Reina. Aku benar-benar merepotkanmu selama liburan ini."
Perjalanan liburan mereka awalnya sangat menyenangkan. Namun semua berubah kacau saat Clael tak sengaja memancing ular laut raksasa dan membuat mereka berdua terseret ke laut. Lebih parahnya lagi, ia malah terpeleset dan pingsan di saat-saat genting, hanya menunjukkan sisi lemah dan memalukannya di depan Reina. Clael benar-benar merasa bersalah karena telah merusak liburan putri angkatnya.
Namun anehnya, Reina justru menundukkan wajahnya dengan ekspresi yang sangat menyesal. "Tidak... Clael, justru akulah yang seharusnya meminta maaf padamu." "Hah? Kenapa kau harus minta maaf?"
Reina menautkan jari-jarinya di atas dada Clael. "Sejujurnya... kalau aku mau, aku bisa saja menghabisi ular laut itu sejak awal. Atau lebih tepatnya, ada banyak kesempatan bagiku untuk mencegah kita jatuh ke laut... Aku memang tidak sengaja jatuh, tapi aku juga tidak melawan tarikan ular laut itu karena aku berpikir 'Wah, terdampar berdua di pulau terpencil pasti romantis dan menyenangkan'. Aku sengaja membiarkan kita terdampar... Pokoknya, aku minta maaf. Keegoisanku ini malah membuat Clael terluka dan pingsan. Aku benar-benar... minta maaf."
"............?" Clael menatap wajah Reina yang menunduk sedih dengan tatapan kosong. Butuh waktu untuk mencerna pengakuan tersebut. (Tunggu dulu. Jadi maksudmu, kau sengaja membiarkan kita terdampar di pulau kosong ini karena kau pikir itu menyenangkan? Ini bukan skenario kecelakaan, tapi skenario 'liburan pantai eksklusif' yang kau ciptakan sendiri?!)
Clael tidak ingat kapan persisnya, tapi ia yakin Reina merasa bersalah atas alasan yang sangat keliru.
"...Baiklah. Karena kita berdua sama-sama sudah meminta maaf dan merasa bersalah, mari kita akhiri diskusi ini," putus Clael bijaksana (karena lelah berpikir). "......Ya, Clael." Reina tersenyum lega.
"Jadi... tentang kapal yang akan menjemput kita..."
Puuuuoooooot! Tepat saat Clael bicara, suara peluit kapal uap (atau kapal sihir) terdengar keras dari arah laut lepas. Tanpa mengangkat kepalanya dari pangkuan Reina, Clael memutar bola matanya dan melihat sebuah kapal nelayan berukuran sedang melesat mendekati pulau mereka dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Itu dia..." "Ah, sepertinya kapal yang datang menjemput kita sudah tiba," ucap Reina santai. "Memang sudah tiba, tapi... bukankah kecepatan kapalnya agak tidak normal?"
Kapal nelayan itu membelah ombak dengan kecepatan setara speedboat modern. Meski kapal di dunia ini menggunakan batu sihir air dan angin untuk berlayar, kecepatan gila seperti itu sangat mustahil dicapai oleh perahu kayu. Para nelayan di atas kapal itu bahkan terlihat berteriak panik sambil berpegangan pada tiang layar karena kapalnya melaju terlalu kencang di luar kendali mereka.
"Hah...?" Clael memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Ada sesuatu yang janggal di bagian depan lambung kapal. Jika matanya tidak salah lihat... ada sosok boneka beruang berotot binaragawan (Urzus) yang sedang berenang gaya kupu-kupu dengan kecepatan torpedo, sambil menarik haluan kapal itu dengan tali tambang.
"Tunggu, bukankah beruang itu—" "Clael, kapalnya masih butuh waktu untuk merapat. Kau harus banyak istirahat. Ayo, tutup matamu," potong Reina lembut. "Eh—" Sebelum Clael bisa memprotes, Reina langsung menutup kedua mata Clael dengan telapak tangannya yang dingin dan lembut.
"Sshhh, tidak apa-apa. Serahkan semuanya padaku, kau tidurlah..." bisik Reina di telinga Clael. "Tap—" Entah karena efek sugesti suara Reina atau karena sihir, gelombang kantuk yang luar biasa berat tiba-tiba menyerang otak Clael. Dalam hitungan detik, kesadarannya kembali memudar dan ia tertidur lelap.
Clael tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Menurut cerita yang ia dengar setelah siuman, ia dan Reina diangkat ke atas kapal nelayan penyelamat tersebut, dibawa kembali ke daratan, dan langsung dilarikan ke pusat pengobatan terdekat di Pantai Amira. Meski Clael dipaksa menginap semalam di klinik untuk observasi medis, dokter memastikan bahwa tidak ada gegar otak atau kelainan apa pun di kepalanya. Mereka berdua akhirnya berhasil kembali ke peradaban dengan selamat (dan sedikit trauma).
Episode 90: Berakhirnya Liburan Musim Panas
Setelah menginap semalam untuk berbagai pemeriksaan medis (yang murni hanya formalitas karena tubuhnya sudah 100% sehat berkat Omega Heal), Clael akhirnya diizinkan keluar dari klinik.
Hari ini adalah hari ketujuh. Terlepas dari berbagai drama monster, naga, dan terdampar di pulau terpencil... liburan musim panas mereka resmi berakhir hari ini.
"Sedih rasanya liburan kita harus berakhir secepat ini..." gumam Reina. "Ya. Tapi perjalanannya sangat menyenangkan," balas Clael. Reina membalas dengan senyuman, meski ada sedikit rona kesedihan di matanya. Ia menautkan kedua tangannya di depan dada.
"Kita akan langsung pulang hari ini?" tanya Reina. "Ya... tapi kereta kita masih lama berangkatnya. Bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kota untuk beli oleh-oleh dulu sebelum pulang?" "Mau! Ayo kita pergi!" Reina mengangguk antusias, kesedihannya langsung menguap.
Sebagai kota resor pesisir, Pantai Amira dipenuhi jalanan berbatu yang dijajakan puluhan toko suvenir dan jajanan. Clael dan Reina berjalan berdampingan, masuk dan keluar dari satu toko ke toko lainnya dengan gembira.
"Aku harus beli suvenir untuk teman-temanku di akademi... dan untuk warga kota Eggbell juga," gumam Reina sambil memilih-milih barang. "Menurutku permen manis atau cokelat paling cocok untuk dibagikan pada warga kota." "Setuju! Oh, dan untuk teman dekatku, aku akan membelikan anting-anting dari cangkang kerang ini. Yang warna merah muda ini lucu sekali, kan?" "Ya, itu pilihan yang sangat bagus." "Kalau untuk Paman Roywood, Clael mau belikan apa?" "Untuk Roywood ya... hmm, karena dia suka minum, bagaimana kalau anggur buah?"
Clael akhirnya membeli beberapa botol anggur buah langka yang diimpor dari luar negeri melalui jalur laut.
"Hm...?" Saat Clael sedang berdiri di sudut toko suvenir, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu yang menarik di etalase kaca. Sebuah kalung perak sederhana dengan bandul mutiara tunggal berukuran kecil. Kalung itu tidak memancarkan energi magis, bukan artefak peninggalan kuno, dan harganya juga cukup terjangkau. Itu murni hanya aksesoris perhiasan biasa untuk gadis remaja.
Tanpa berpikir panjang, Clael mengambil kalung itu dan mengangkatnya ke arah Reina.
"Clael? Ada apa?" tanya Reina bingung. "Hah? Oh, eh, tidak... maaf." Clael mendadak sadar dan menurunkan tangannya. "Tidak apa-apa kok. Apa ada yang salah?" "......"
Melihat Reina yang memiringkan kepala dengan ekspresi polos, entah kenapa Clael mendadak gugup. Perasaan canggung yang aneh menyelimuti dadanya. (Kenapa aku jadi grogi begini? Aku kan cuma mau membelikan hadiah liburan untuk putri angkatku. Ini hal yang sangat wajar!) batin Clael menenangkan diri.
"...Aku merasa kalung ini akan sangat cocok untukmu, Reina. Ayo kita beli." "Eh...?" Mata hijau giok Reina membulat sempurna. Sesaat kemudian, wajah gadis itu memerah padam hingga ke telinga. Senyum yang luar biasa manis dan bahagia merekah di bibirnya, dan efek ilusi bunga-bunga mawar yang bermekaran kembali muncul di udara sekelilingnya.
"A-Aku sangat senang! Terima kasih banyak, Clael!" seru Reina bahagia. "Yaah, ini bukan barang mahal, jadi tidak perlu bereaksi berlebihan begitu..." Clael berdeham canggung untuk menyembunyikan wajahnya yang juga sedikit memerah. Ia menyerahkan kalung itu ke kasir dan membayarnya.
"Ini dia kalungnya." "Iya, mari kuterima." Reina mengambil kalung itu dari tangan Clael.
"Eh...?" Tanpa diduga, Reina berbalik membelakangi Clael. Dengan kedua tangannya, Reina menyapu rambut peraknya yang panjang dan mengangkatnya ke atas, mengekspos tengkuk lehernya yang putih mulus di depan Clael.
(Tunggu... Mungkinkah... dia ingin aku yang memakaikannya?!) Clael terpaku di tempat. "......" Reina menunggu dalam diam. Postur tubuhnya yang menyodorkan leher dengan rambut terangkat itu adalah jawaban yang tak terbantahkan. Ya, dia minta dipakaikan.
"B-Baiklah, permisi sebentar..." Dengan ujung jari yang bergetar aneh (dan sedikit berkeringat), Clael melingkarkan kalung perak itu ke leher Reina.
(Apa-apaan ini... Kenapa suasananya jadi tegang begini...) batin Clael meronta. Kulit leher Reina sangat putih dan halus bagai porselen mahal. Tengkuknya terlihat begitu tipis dan rapuh, membuat Clael merasa takut leher itu akan patah jika ia tidak sengaja menekan terlalu kuat.
"Hnn..." "A-Ah, maaf, apa aku menyakitimu?" "Tidak, aku baik-baik saja..."
Saat ujung jari Clael tak sengaja menyentuh kulit tengkuknya saat mengaitkan pengunci kalung, Reina mengeluarkan desahan napas pendek yang terdengar sangat... sensual. Wajah Clael terasa seperti terbakar. Bersamaan dengan ketegangan itu, rasa bersalah karena memikirkan hal yang "tidak-tidak" pada putri angkatnya sendiri menyerang batinnya.
(Tenanglah, diriku! Ini cuma memakaikan kalung! Ayah mana pun pasti pernah melakukan ini! Ini wajar!) Clael mensugesti dirinya sendiri dengan panik.
Klik. Gesper kalung berhasil dikaitkan. Clael segera menarik tangannya. Reina menoleh ke belakang dan memamerkan senyum paling bahagia yang pernah Clael lihat di dunia ini. Senyum yang membuat kalung mutiara di lehernya tampak redup jika dibandingkan dengan pesonanya.
"Terima kasih banyak, Clael... Aku akan menyimpan dan menjaganya seumur hidupku!" janjinya sungguh-sungguh. "S-Syukurlah kalau kau suka..."
Melihat senyum tulus itu, Clael merasa semua kerepotan dan keanehan liburan ini terbayar lunas. Namun, kelegaan Clael hancur dalam hitungan detik.
PROK! PROK! PROK! "Kerja bagus, Tuan!" "Semoga langgeng ya, anak muda!" "Sangat romantis... Aku baru saja melihat adegan yang luar biasa indah...!"
Para pelanggan toko dan staf kasir yang rupanya sejak tadi memperhatikan mereka berdua langsung bertepuk tangan dan bersorak menggoda. (Kenapa kalian pada heboh sendiri cuma karena aku membelikan kalung murah?! Kalian salah paham, kami ini ayah dan anak!) jerit Clael dalam hati. Malu menjadi pusat perhatian (dan tontonan gratis), Clael buru-buru meraih pergelangan tangan Reina dan menyeretnya keluar dari toko secepat mungkin. Ia terus berjalan dengan langkah lebar menjauhi area pusat perbelanjaan.
"Hah... Jujur saja, orang-orang itu terlalu melebih-lebihkan hal kecil. Berani-beraninya menyoraki orang seenaknya," gerutu Clael setelah mereka cukup jauh. "Clael..." "Oh, maaf. Aku tidak sadar menarik tanganmu terlalu kencang," Clael buru-buru melepaskan genggamannya. "Ah..." Reina menatap tangannya yang baru saja dilepaskan dengan alis berkerut, jelas menunjukkan ekspresi kecewa karena genggaman hangat itu harus berakhir.
"Kereta kita akan berangkat sebentar lagi. Oleh-oleh sudah dibeli semua, kan? Ayo kita jalan ke stasiun sekarang," ajak Clael mengalihkan pembicaraan. "Iya... Berarti, liburan kita benar-benar akan berakhir hari ini, ya." "Begitulah. Seminggu berlalu dengan sangat cepat." "Ya... Rasanya baru kemarin kita sampai. Ini sangat menyenangkan..." Reina menghela napas panjang sambil berjalan perlahan di samping Clael.
"...Setelah liburan musim panas ini berakhir, aku harus kembali ke asrama akademi dan berpisah lagi denganmu, Clael... Aku pasti akan merasa sangat kesepian." "......"
Mendengar nada sedih Reina, Clael merasa iba. (Apakah ini yang dinamakan rindu kampung halaman? Reina pasti merasa berat harus kembali hidup sendiri di ibukota setelah merasakan kehangatan keluarga di sini,) pikir Clael yang masih menganggap Reina sebagai anak kecil.
"Aku juga benci kalau liburan musim panas harus berakhir," kata Clael mencoba menghibur. "Semua siswa di akademi mana pun pasti merasakan hal yang sama." "Apakah Clael juga merasakannya?" "Tentu saja. Dulu waktu aku masih belajar di akademi teologi, aku selalu mengutuk hari terakhir liburan musim panas... meskipun secara teknis aku ini calon pastor."
Reina tertawa kecil mendengar candaan Clael. "Yah, kalau kau merasa sedih liburan ini berakhir, kita bisa pergi liburan lagi tahun depan," lanjut Clael. "Tahun depan?" mata Reina kembali berbinar. "Tentu saja. Apa kau ingin ke pantai lagi tahun depan? Atau bagaimana kalau kita coba pergi ke pegunungan? Pasti sangat seru kalau kita mencoba berkemah sungguhan dan memasak di alam bebas."
"...Kau benar. Kita masih punya tahun depan." Senyum Reina kembali merekah cerah. "Aku sangat menantikannya! Mulai sekarang, kita harus membuat kenangan indah berdua setiap tahun tanpa putus, ya, Clael!" "...Y-Yah, begitulah." Clael tersenyum canggung.
Di dalam hatinya, Clael tahu realita tidak akan semudah itu. (Kalau di akademi nanti Reina akhirnya menjalin hubungan asmara dengan salah satu pangeran atau ksatria itu, pasti dia akan lebih memilih liburan bersama pacarnya daripada ayah angkatnya. Suatu hari nanti, Reina pasti akan mandiri dan meninggalkanku... Sampai saat itu tiba, aku harus melindunginya dengan baik,) tekad Clael dalam hati layaknya seorang ayah yang siap melepas putrinya menikah.
Mereka pun tiba di stasiun dan naik ke dalam Kereta Ajaib jurusan Eggbell. Clael duduk di kursi dekat jendela, menatap pemandangan kota Pantai Amira yang perlahan bergerak menjauh.
(Terima kasih, Pantai Amira. Kau telah memberiku pengalaman liburan musim panas yang luar biasa mengesankan—meski penuh dengan hal aneh...) batin Clael mengucapkan selamat tinggal pada kota resor tersebut.
"Eh?" Namun, saat kereta mulai melaju perlahan meninggalkan peron, mata Clael menangkap pemandangan wajah-wajah yang sangat familiar sedang berlari-lari panik di stasiun.
"Woy! Cepat sedikit! Keretanya sudah mau jalan!" "Ini salahmu yang kelamaan milih kotak bekal makan siang! Dasar rakus!" "Berisik! Aku kan sedang membandingkan harga lauknya!"
Empat Capture Targets andalan—Eric, Vincent, dan Will—berlari terbirit-birit menyusuri peron stasiun sambil menenteng tas dan kotak bekal (bento) mereka.
"Hah, hah... Hei, tunggu! Penciuman tajamku menangkap aroma Kak Reina di kereta ini! Kak Reina pasti naik kereta ini juga!" seru Louie si pemuda shota yang entah punya indra penciuman seperti anjing pelacak. "Kalau Kak Reina ada di dalam, aku akan memohon padanya untuk membiarkanku tidur di pangkuannya selama perjalanan pulang! Hahaha, ini akan jadi perjalanan yang romantis—"
SREEEK! Tiba-tiba, seorang petugas stasiun bertubuh gempal yang sedang membersihkan peron 'tak sengaja' menjulurkan gagang sapunya ke depan kaki Louie. Petugas stasiun yang kepalanya ditutupi topi seragam kebesaran (yang jika dilihat dari dekat, itu adalah kepala boneka kucing) dengan mulus membuat Louie tersandung telak.
"BWAH?!" Louie terjatuh berguling-guling. Kotak bekal makan siangnya terbang dan isinya tumpah berantakan ke mana-mana. "Hei! Apa yang kau lakukan, Louie! Cepat berdiri!" teriak Eric. "T-Tunggu! Petugas stasiun yang bikin aku jatuh tadi... tiba-tiba menghilang?!" tunjuk Louie dengan panik ke arah peron yang mendadak kosong. "Jangan berkhayal! Ah! Pintunya sudah ditutup!" teriak Vincent frustrasi.
Kereta Ajaib itu mulai berakselerasi dan meninggalkan stasiun, meninggalkan keempat pemuda tampan itu menangisi nasib mereka di peron stasiun karena tertinggal kereta yang ditumpangi gadis incaran mereka.
"...Syukurlah kita tidak harus satu gerbong dengan kelompok yang berisik itu," gumam Clael menghela napas lega. "Ada apa, Clael?" tanya Reina yang sedang merapikan barangnya. "Bukan apa-apa kok..." balas Clael.
Meski ia melihat kejadian aneh dengan petugas stasiun berkepala kucing di detik-detik terakhir tadi, Clael memilih untuk masa bodoh. Yang terpenting, liburan musim panas mereka yang mendebarkan akhirnya usai dengan damai.
Episode 91: Kembali ke Kuil Eggbell
Perjalanan seminggu yang penuh drama akhirnya selesai. Kereta ajaib membawa Clael dan Reina kembali ke kampung halaman mereka, kota terpencil Eggbell.
"Wah, selamat datang kembali, Pastor Clael! Selamat datang, Saintess Reina!" "Kalian sudah pulang!"
Begitu mereka berdua turun dari kereta dan berjalan memasuki kota, para warga langsung menyambut mereka dengan senyum ramah dan sapaan hangat dari segala penjuru.
"Halo semuanya, kami sudah kembali. Semoga kota ini baik-baik saja selama kami pergi," balas Clael ramah. "Tentu saja aman terkendali! Pastor pengganti yang datang kemarin itu sangat bisa diandalkan," jawab seorang ibu penjual sayur.
Tentu saja yang dimaksud ibu itu adalah Gievil, pendeta dari Ibukota yang dikirim untuk menggantikan tugas Clael selama seminggu terakhir.
"Pendeta itu... jujur saja, awalnya kami mengira dia itu orang aneh dan mencurigakan," lanjut seorang kakek. "Tapi waktu kami mengobrol, ternyata dia orang yang sangat baik lho! Istriku sempat sakit pinggang waktu di pasar, dan pendeta itu tidak segan-segan menggendong istriku sampai ke rumah!" "Benar, benar! Kemarin tanganku terkilir," sahut seorang pemuda. "Waktu aku berobat, dia bilang cederaku ringan, jadi dia menolak uang donasiku dan mengobatiku gratis! Tatapannya memang sedikit menakutkan dan auranya misterius, tapi hatinya selembut sutra." "Setiap sore dia juga selalu meluangkan waktu bermain kejar-kejaran dengan anak-anak di lapangan. Dia benar-benar pria yang tulus," tambah seorang ibu rumah tangga dengan wajah kagum.
"Oh... jadi begitulah kejadiannya," Clael mengangguk dengan senyum tipis. Fakta bahwa para warga kompak menyematkan kata "mencurigakan", "menakutkan", dan "misterius" pada deskripsi Gievil memang agak mengkhawatirkan, tapi secara keseluruhan, kinerjanya sangat memuaskan. Gievil tak memiliki cacat moral dalam bertugas dan bahkan berhasil merebut hati warga Eggbell dalam waktu singkat.
"Saking baiknya dia, beberapa warga malah berharap Pastor Gievil bisa tinggal permanen di kota ini lho! O-Oh, tapi tenang saja! Kami tidak bermaksud mengusir Pastor Clael kok! Kami sangat menyukai Pastor Clael!" Ibu rumah tangga itu dengan panik melambaikan tangannya karena sadar ucapannya bisa menyinggung.
"Hahaha... Tidak apa-apa, saya senang mendengarnya. Saya juga tidak keberatan jika ada pendeta sehebat itu yang mau menetap di sini," Clael tertawa ringan. Meski mulutnya berkata tidak apa-apa, jujur saja hati Clael terasa sedikit tercubit.
Mengetahui bahwa kuil berjalan sangat lancar (bahkan mungkin lebih baik) tanpa kehadirannya memang hal yang bagus, tapi pujian berlebihan untuk si pendeta pengganti itu memberinya perasaan campur aduk. Rasanya persis seperti pegawai kantoran tetap yang sedang cuti, lalu digantikan oleh anak magang sementara, tapi si anak magang ternyata kerjanya jauh lebih bagus dan lebih disukai bos serta klien. Perasaan terpinggirkan itu sangat tidak nyaman.
(Yah, wajar saja. Gievil itu kan pendeta veteran berpangkat tinggi yang biasa bertugas di Kuil Agung Ibukota. Pengalaman dan kemampuannya jelas jauh di atasku yang cuma pastor desa,) batin Clael menghibur diri. Meski wajar, fakta bahwa hal ini mengganggu egonya membuktikan bahwa mental Clael sebagai pendeta belum sepenuhnya matang. (Walaupun kalau digabungkan dengan umurku di kehidupan masa lalu aku sudah lebih dari lima puluh tahun... ternyata aku masih labil,) keluhnya dalam hati.
"Clael? Ada apa?" Reina menatap wajah Clael yang sedikit murung. "Ah, bukan apa-apa kok. Ayo kita pulang ke kuil. Aku bawa banyak oleh-oleh permen untuk dibagikan ke anak-anak di jalan," alih Clael tersenyum kembali.
Setelah membagikan suvenir ke beberapa warga, Clael dan Reina akhirnya tiba di depan gerbang kayu kuil mereka. Kuil familier yang sudah menjadi rumah mereka selama lima tahun.
"Hah...?" Langkah Clael terhenti. Matanya membelalak tak percaya. Kuil itu... telah direnovasi total (secara kebersihan).
Memang benar, biasanya Clael dan para boneka beruang Reina selalu membersihkan kuil ini setiap hari, jadi tempat ini memang tidak pernah kotor. Tapi pemandangan di depannya saat ini berada di level yang sama sekali berbeda.
Batu jalanan disikat hingga tak ada satu pun lumut yang menempel. Tak ada sehelai pun rumput liar yang berani tumbuh di taman. Dinding luar bangunan yang terbuat dari kayu dipoles sedemikian rupa hingga memantulkan cahaya. Bahkan kaca-kaca jendela digosok sampai mengkilap bagai kristal tanpa noda debu setitik pun. Tingkat kebersihannya sudah mencapai tahap obsesif. Seberapa keras seseorang harus mengepel dan menyikat tempat ini dari pagi sampai malam untuk membuatnya terlihat seperti istana baru begini?!
Kuil itu, yang memang sudah memiliki aura suci karena menjadi tempat tinggal Saintess Reina, kini memancarkan cahaya silau secara fisik.
"Wah, kuilnya bersih sekali..." gumam Reina takjub. "Pendeta pengganti itu benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk bekerja ya..." Clael bergumam dengan bahu merosot drastis.
Rasa percaya dirinya hancur berkeping-keping. "Bagaimana mengatakannya ya... melihat kuil ini, aku merasa selama lima tahun ini aku hanya bermalas-malasan saat membersihkan rumah. Padahal aku merasa sudah mengepelnya dengan benar setiap hari..." Clael benar-benar insecure. Ia ditampar telak oleh perbedaan kualitas yang bagaikan langit dan bumi antara dirinya dan seorang pendeta elit Ibukota.
"Tidak masalah!" Reina tiba-tiba memeluk lengan Clael dan menatap wajahnya dengan mata hijau yang berbinar tulus. Reina berusaha keras menghibur Clael yang sedang patah semangat. "Bagi Reina, satu-satunya pastor terhebat di dunia ini hanyalah Clael! Hanya Clael yang menyelamatkanku, membesarkanku, membelikanku kalung, dan mengajakku liburan...! Clael adalah satu-satunya orang yang paling aku cintai di dunia ini!"
Pernyataan cinta (sebagai keluarga) yang dilontarkan Reina dengan suara lantang itu sukses mengusir awan mendung di hati Clael. "...Terima kasih, Reina." Hati Clael menghangat oleh kebaikan putri angkatnya. Ia kembali mengepalkan tinjunya dengan tekad baru. (Benar! Aku tidak boleh kalah dari Pastor Gievil! Mulai besok aku akan menyikat lantai kuil ini tiga kali sehari!)
KREEEAAAK. Pintu utama kuil terbuka dari dalam. "Oh! Saintess Reina dan Pastor Clael! Kalian sudah kembali rupanya!"
Sesosok pria melangkah keluar menyambut mereka. Clael menatap pria itu dan otaknya mendadak lag selama lima detik. "Eeeh... Pastor Gievil...?"
Penampilan pria yang keluar dari kuil itu telah berubah 180 derajat dibandingkan dengan Gievil yang ia temui seminggu lalu. Gievil yang asli adalah pria paruh baya berusia lima puluhan, bertubuh kurus kering, pucat pasi, dan terlihat penyakitan akibat kurang gizi (atau kurang tidur).
Namun... pria yang berdiri di depannya ini terlihat sangat bugar. Kulitnya kecokelatan eksotis karena sering terpapar sinar matahari. Tubuhnya yang dulu kurus kini dipenuhi otot-otot kekar binaraga yang menyembul dari balik jubah pendeta yang kekecilan. Wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda, memancarkan vitalitas tinggi. Dan yang paling aneh, rambutnya kini dicukur plontos licin. Hanya kacamata bundarnya yang berkilat tajam yang mengonfirmasi bahwa pria kekar mirip pegulat profesional ini memang Gievil.
"Apa yang terjadi padamu selama seminggu ini, Gievil?!" jerit batin Clael ngeri.
Episode 92: Panggilan Mendadak dari Ibukota
"U-Um... Anda ini Pastor Gievil... kan?" tanya Clael ragu, masih berusaha mencocokkan wajah pria berotot di depannya dengan pria kurus pucat seminggu lalu. "Tentu saja! Seratus persen Gievil asli!" seru pria kekar itu sambil melakukan pose double bicep ala binaragawan.
BREEET. Jahitan jubah pendetanya berderit menyedihkan menahan gumpalan otot lengannya yang mengembang. "Baru seminggu saya bertugas di kuil ini, saya sangat terkejut dengan perubahan tubuh saya! Kesehatan saya meningkat drastis! Ini benar-benar tanah suci tempat Sang Saintess dilahirkan. Saya merasa diberkati oleh mukjizat Tuhan setiap kali saya bernapas di sini!"
"B-Begitu ya..." Clael menoleh perlahan ke arah Reina dengan wajah berkedut menahan cringe. Sementara itu, Reina sama sekali tidak peduli pada Gievil. Gadis itu asyik berjongkok di taman, mengagumi bunga-bunga mawar yang mekar dengan indah.
"R-Reina... Bukankah pendeta ini berubah terlalu drastis?" bisik Clael. "Hah? Benarkah?" jawab Reina tanpa minat. "Minggu lalu dia itu kakek-kakek kurus penyakitan yang kurang gizi lho..." "Masa sih? Seingatku wajah dan tubuhnya dari awal memang sudah seram seperti itu kok," Reina membalas cuek, membuktikan bahwa ia sama sekali tidak pernah merekam wajah pria lain (selain Clael) ke dalam memori otaknya. "B-Benarkah itu...?" Clael pasrah.
(Yah, kami memang cuma bertemu sekitar lima menit sebelum aku berangkat liburan, jadi mungkin aku yang salah ingat,) Clael menyalahkan ingatannya sendiri yang sudah menua. Menepis kebingungannya, Clael kembali berhadapan dengan Gievil dan membungkuk sopan selayaknya profesional.
"Terima kasih banyak telah menjaga dan mengelola kuil ini selama saya pergi, Pastor Gievil. Berkat kerja keras Anda, saya dan Reina bisa menikmati liburan dengan tenang." "Luar biasa! Saya sangat bahagia mendengarnya!" Gievil membusungkan dadanya yang bidang dengan bangga hingga hidungnya nyaris menyentuh langit. "Merupakan kehormatan terbesar dalam hidup saya bisa dipercaya menjaga kuil Sang Saintess, meskipun hanya sementara! Tolong, jangan ragu untuk memanggil saya kapan pun Anda butuh tenaga tambahan untuk menyikat toilet atau membersihkan genteng!"
"A-Ah... iya, terima kasih banyak atas tawarannya..." "Oh iya! Saya hampir lupa. Selama Anda pergi, ada sepucuk surat dinas yang datang untuk Anda dari Kuil Agung Ibukota, Pastor Clael."
Gievil merogoh saku jubahnya dan menyerahkan sebuah amplop tebal berstempel lilin merah resmi. "Ini..." Clael menerima surat itu dengan firasat buruk. "Dari Yang Mulia Kardinal, kan?" Reina ikut mendekat, mengenali lambang cap stempel lilin tersebut.
Kardinal Diret Horst. Pria tua penuh perhitungan yang menjabat sebagai kepala otoritas keagamaan tertinggi di kerajaan ini. Dialah yang pertama kali mengidentifikasi kekuatan Reina dan memaksanya pindah ke akademi ibukota. Dia pula yang belakangan ini terus-menerus mengirimkan dokumen "Perjodohan Buta" untuk memaksa Clael cepat-cepat menikah (dan menjauh dari Reina).
(Ngomong-ngomong soal perjodohan, semua kandidat wanita yang direkomendasikan Kardinal selalu membatalkan rencana pertemuan kami di detik-detik terakhir dengan alasan yang aneh-aneh... Apakah aku ini punya kutukan jomblo abadi, atau ada pihak ketiga yang diam-diam menyabotase kehidupan asmaraku?) batin Clael curiga. Ia tak pernah ingat melakukan kejahatan apa pun yang membuat wanita-wanita itu lari ketakutan sebelum bertatap muka dengannya.
Clael memecahkan segel lilin dan membaca isi dokumen pertama. "Hah...? Apa ini? 'Pemberitahuan Penganugerahan Gelar...' dan 'Panggilan ke Kuil Agung Ibukota'?" Clael membaca keras-keras, matanya menyipit bingung.
Isi dokumen itu menyatakan bahwa dewan petinggi Kuil Agung sepakat untuk memberikan gelar suci "Santo" (Saint) kepada Clael Byrne, dan memintanya untuk segera datang ke Ibukota Kerajaan guna menghadiri upacara penobatan resmi. Di dunia ini, gelar Saintess (seperti Reina) adalah gelar mutlak yang diberikan Tuhan sejak lahir. Namun, gelar Santo (Saint) untuk pria adalah gelar kehormatan tertinggi dari gereja yang hanya diberikan kepada pastor yang telah mencapai jasa atau mukjizat yang sangat luar biasa bagi umat manusia.
"Waaah! Hebat sekali, Clael!" "Luar biasa! Pantas saja! Selamat, Pastor Clael!" Reina dan Gievil bersorak kegirangan secara bersamaan, bertepuk tangan heboh merayakan kabar tersebut.
Namun, yang bersangkutan—Clael—justru merasa perutnya mulas. (Tunggu dulu. Prestasi luar biasa apa yang pernah kulakukan?! Kalau diingat-ingat... satu-satunya prestasiku di dunia ini hanyalah mengasuh dan membesarkan Reina, kan?) Clael memeras otaknya, tapi ia benar-benar tak punya pencapaian lain. Ia hanya menemukan seorang gadis kecil yang disiksa di jalanan, memberinya makan, memandikannya, dan mengajarinya membaca. Itu adalah tugas kemanusiaan standar.
(Kalau anak yang kupungut itu bukan Saintess, gereja tidak akan pernah melirikku sedikitpun. Gelar ini bukan karena kemampuanku... Ini murni cuma bonus hadiah karena kebetulan anak angkatku adalah orang penting. Memalukan sekali...) Clael merasa sangat rendah diri.
"...Apakah aku benar-benar pantas menerima gelar semegah ini?" gumam Clael ragu. "Tentu saja pantas!" potong Reina tegas. Matanya menyala-nyala marah mendengar Clael meragukan dirinya sendiri. "Semua yang aku miliki hari ini, nyawaku dan kebahagiaanku, semuanya adalah berkat jasa Clael! Jika ada petinggi gereja tua bangka yang berani bilang kau tidak pantas, aku tidak akan memaafkannya! Akan kubakar mereka semua dengan—maksudku, akan kumarahi mereka semua!"
Sesaat, Clael berani bersumpah ia melihat aura iblis berbentuk beruang dan kucing raksasa memancarkan hawa membunuh di belakang Reina. Tapi ia cepat-cepat mengucek matanya. (Pasti karena aku terlalu lelah habis perjalanan jauh.)
"B-Begitu ya... Yah, karena ini titah langsung dari Kardinal, sangat tidak sopan kalau aku menolaknya, kan?" Clael menghela napas pasrah. Kuil Agung memang butuh alasan simbolis untuk menghargai Clael demi menjaga citra mereka di mata Reina. Jika mereka tidak memberinya apa-apa, Reina mungkin akan mengamuk dan keluar dari gereja.
"Baiklah, aku akan mematuhi panggilan ini dan pergi ke Ibukota... Oh? Tunggu, ada satu dokumen lagi di dalam amplop ini." Clael menarik selembar perkamen lain yang terselip di bagian belakang. Ia membaca kop suratnya dengan dahi berkerut.
"Surat Keputusan Pengangkatan. Dengan ini, Anda ditunjuk sebagai Dosen Teologi Sementara di... Akademi Kerajaan Ibukota...?!" Clael menatap perkamen itu dengan mulut ternganga. Itu adalah surat kontrak kerja yang memaksanya menjadi guru di akademi elit tempat Reina dan para pangeran itu bersekolah!
Episode 93: Sang Kardinal yang Menyerah pada Takdir
Ibukota Kerajaan. Di dalam gedung pencakar langit kuno milik Kuil Agung. Kardinal Diret Horst, pemimpin otoritas keagamaan tertinggi di negeri ini, sedang duduk di meja kerjanya dengan wajah pucat pasi dan kantung mata hitam yang tebal. Ia kewalahan oleh tumpukan dokumen yang terus berdatangan tanpa henti seperti air bah.
"Ya Tuhan... Kepalaku mau pecah..." Kardinal Diret memijat pelipisnya menahan sakit kepala migrain yang berdenyut-denyut. Tumpukan dokumen setinggi gunung yang ada di depannya saat ini BUKANLAH dokumen urusan gereja. Itu semua adalah beratus-ratus proposal "Lamaran Pernikahan". Dan tentu saja, tumpukan proposal itu bukan ditujukan untuk Diret yang sudah tua bangka. Lamaran itu ditujukan kepada Saintess agung yang baru diumumkan keberadaannya pada musim semi lalu: Reina Laurel.
"Uang emas puluhan peti, perhiasan berlian, lukisan legendaris, artefak kuno, rumah mewah di pusat kota, hak kepemilikan tanah subur... Aku benar-benar mual melihat daftar hadiah lamaran yang mereka kirimkan setiap hari tanpa henti ini," keluh sang Kardinal. "Para bangsawan itu pasti berpikir mereka bisa membeli hati Sang Saintess dengan kekayaan duniawi. Bodoh sekali. Saintess bukanlah wanita murahan yang bisa disuap dengan harta karun," cibir seorang uskup bawahan yang berdiri di samping meja Kardinal.
Sejak Reina secara resmi diperkenalkan ke publik dan bersekolah di akademi, Kuil Agung kebanjiran lamaran pernikahan dari pria-pria berkuasa dari seluruh penjuru benua yang bermimpi menjadikan Saintess sebagai istri (sekaligus senjata politik) mereka. Proposal itu selalu disertai hadiah super mewah sebagai uang muka. Sayangnya bagi para pelamar, hadiah mahal itu sepenuhnya tak berguna. Saat Kardinal menunjukkan daftar hadiah itu pada Reina, gadis itu hanya tersenyum dingin dan berkata: "Tolak semuanya. Dan kembalikan semua barang rongsokan itu ke pengirimnya."
Kardinal dengan patuh mengembalikan semua hadiah yang bisa dikembalikan. Barang-barang yang pengirimnya menolak menerima refund akhirnya disita oleh Kuil Agung dan dimasukkan ke dalam kas donasi panti asuhan. Kuil sudah berkali-kali menyebarkan pengumuman resmi bahwa Saintess menolak segala bentuk hadiah dan lamaran, tapi para bangsawan serakah itu tetap keras kepala mengirimkannya setiap hari.
(Tentu saja dia menolak harta. Saintess Reina adalah sosok suci yang tidak terikat nafsu duniawi. Ia tidak menginginkan uang, takhta, maupun permata. Ia hanya menginginkan satu hal di dunia ini... yaitu hati pria udik bernama Clael itu,) batin Kardinal menangis darah.
"...Kalau mereka cuma sekadar mengirim hadiah dan lamaran untuk mencoba peruntungan sih tidak masalah," Kardinal mengusap wajahnya lelah. "Yang membuatku pusing adalah ada beberapa orang bodoh yang berani mengirim surat ancaman."
Beberapa bangsawan arogan berpangkat tinggi (Duke atau Marquis dari negara tetangga) yang lamarannya ditolak merasa harga diri mereka terinjak. Mereka mengirimkan surat protes, menuntut perlakuan khusus karena sudah berdonasi, bahkan ada yang mengancam akan menyatakan perang dagang dengan Kuil Agung jika Reina tidak diserahkan pada mereka malam itu juga.
"Dulu, sebelum aku benar-benar mengenal Nona Reina, aku sempat punya pemikiran naif..." Kardinal Diret menerawang jauh ke luar jendela. "Aku pikir Saintess hanyalah seorang gadis desa yang kebetulan diberkati kekuatan besar. Aku pikir aku bisa memanipulasinya, mendidiknya, dan menjadikannya pion politik di bawah kendali gereja."
"Bukankah itu pemikiran yang masuk akal bagi seorang pemimpin politik seperti Anda, Yang Mulia?" "Ya. Masuk akal bagi manusia biasa. Tapi aku harus menelan pil pahit dan menyadari betapa bodohnya diriku... Saintess berada di dimensi yang sama sekali berbeda dengan kita."
Kardinal menyapu jatuh setumpuk proposal lamaran dari mejanya dengan gerakan pasrah. "Mau kau punya gelar Kardinal, Raja, Kaisar, atau Dewa sekalipun, status politik sama sekali tidak ada artinya di hadapan Saintess. Tidak ada rantai apa pun di dunia ini yang bisa mengikatnya. Jika ia telah menetapkan kehendaknya pada suatu hal, kita manusia fana tak punya pilihan lain selain sujud dan mematuhi skenarionya."
Kardinal Diret berbicara dari pengalaman pribadinya yang penuh trauma. Dulu, ia mencoba mengendalikan Reina dengan menjauhkan gadis itu dari Clael. Ia sengaja mengatur pertemuan omiai (kencan buta paksa) antara Reina dengan pria-pria tampan, kaya, dan berkuasa dari faksi gereja. Tujuannya agar Reina jatuh cinta dan melupakan ayah angkatnya yang tinggal di kampung. Hasilnya? Kegagalan mutlak. Reina memandang para pria tampan itu seolah mereka adalah tumpukan sampah basah. Ada beberapa pria arogan yang mencoba bermain kasar dan berniat menjebak Reina dalam situasi kompromi demi memaksa pertunangan... tapi tak satu pun dari mereka yang selamat. Pria-pria malang itu tiba-tiba dihantam "Palu Keadilan Ilahi" (diinjak boneka beruang) hingga cacat dan dipaksa mundur dari dunia politik selamanya.
"Karena rencanaku gagal, aku mencoba taktik kedua. Aku mencoba menyingkirkan Pastor Clael dengan menjodohkannya dengan wanita-wanita bangsawan agar ia segera menikah," lanjut Kardinal dengan suara gemetar. Taktik itu juga berakhir dengan kegagalan yang tak bisa dijelaskan oleh nalar. Setiap wanita yang ia sewa untuk menggoda Clael tiba-tiba membatalkan pertunangan di detik terakhir. Anehnya, para wanita itu tidak dibunuh atau diancam. Mereka mendadak menemukan cinta sejati mereka, atau secara ajaib memenangkan lotre dan meraih impian bisnis mereka, sehingga mereka membuang rencana pernikahan dengan Clael karena hidup mereka sudah terlalu bahagia. Itu adalah sabotase takdir yang sangat halus dan menakutkan.
Lebih parah lagi... sejak Kardinal aktif mencarikan jodoh untuk Clael, fenomena poltergeist mulai meneror rumah dinas Kardinal. Ia sering merasa ada mata tak kasat mata yang mengawasinya dari luar jendela lantai lima. Sesosok bayangan kelinci sering muncul berkedip di cermin kamar mandinya, dan suara cakaran kuku terdengar dari dalam lemari bajunya saat tengah malam. Teror mistis itu baru berhenti setelah Kardinal membakar semua dokumen perjodohan Clael. Jelas sekali, itu adalah teguran keras dari "Sesuatu" yang memperingatkannya untuk 'berhenti main-main atau nyawanya melayang'.
"Begitu ya... Pantas saja. Sang Saintess pasti sangat dilindungi oleh para Malaikat Tuhan," uskup muda itu mengangguk takjub, salah mengartikan kengerian Kardinal sebagai bentuk kekaguman religius. (Bukan malaikat, bodoh! Itu iblis berkepala boneka hewan!) jerit Kardinal dalam hati, tapi ia terlalu lelah untuk berdebat.
"Lalu, Yang Mulia... jika Anda sudah menyerah memisahkan mereka, apa alasan Anda secara tiba-tiba menganugerahkan gelar 'Santo' pada Pastor Clael dan memindahkannya ke akademi Ibukota sebagai guru?" "Ini murni strategi bertahan hidup untuk Kuil Agung kita. Kita harus menjaga agar Reina tetap menetap di Ibukota." "Hah? Maksud Anda?" Uskup muda itu memiringkan kepala tak paham.
"Kuil kecil di kota Eggbell tempat Reina dibesarkan kini telah menjadi tempat ziarah suci. Begitu Reina lulus dari akademi, dia pasti akan langsung angkat kaki dari Ibukota dan pulang ke Eggbell untuk hidup berdua dengan Pastor Clael. Jika itu terjadi, pusat iman dan sumbangan umat akan berpindah ke kota udik itu! Kuil Agung Ibukota akan kehilangan pamornya!" terang Kardinal dengan wajah frustrasi.
Tidak peduli seberapa mewah fasilitas ibukota, Reina sama sekali tidak memiliki ketertarikan hidup di sana. Gadis itu hanya peduli pada satu manusia. "Oleh karena itu, satu-satunya cara membuat Reina mau tinggal di Ibukota adalah dengan memindahkan 'rumah'nya—yaitu Pastor Clael—ke Ibukota secara permanen!"
Untungnya, rencana ini berjalan sangat mulus. Proposal penganugerahan gelar Santo pada Clael disetujui secara aklamasi oleh dewan gereja. Tak hanya itu, "kebetulan sekali" ada seorang guru perempuan jurusan Teologi di Akademi Kerajaan yang tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu karena mendadak dilamar oleh pria kaya raya. Lowongan kerja yang kosong itu langsung dimanfaatkan Kardinal untuk memasukkan Clael sebagai staf pengajar di akademi yang sama dengan Reina.
"...Semua kebetulan yang terlalu mulus ini pastilah kehendak Tuhan (atau kehendak Reina yang mengatur skenario dari balik layar). Aku sudah kapok ikut campur. Mulai detik ini, aku akan tunduk dan menyerahkan segala urusan pada Sang Saintess," pasrah Kardinal Diret dengan tatapan kosong, menyerah sepenuhnya pada takdirnya sebagai pion politik belaka.
Episode 94: Persiapan Pindah ke Ibukota
Surat keputusan dari Kuil Agung bersifat mutlak. Clael Byrne, Pastor udik dari desa, resmi diangkat menjadi "Santo", dan ia diwajibkan pindah ke Ibukota untuk bekerja sebagai dosen Teologi sementara di Akademi Kerajaan. Konsekuensinya, ia harus meninggalkan kota Eggbell untuk waktu yang belum ditentukan.
"Haaaah... Aku benar-benar tak pernah menyangka hidupku akan berbelok separah ini," desah Clael sambil memasukkan lipatan bajunya ke dalam koper kulit besar. Wajahnya menunjukkan ekspresi rumit.
Clael tidak terlalu membenci ide pindah ke Ibukota. Di kehidupan lamanya di dunia ini, sebelum ia kabur menjadi pastor desa, ia lahir dan besar di Ibukota sebagai putra bangsawan Marquis Byrne. Ia sudah mengenal kerasnya kehidupan kota besar. Baginya, ini hanyalah kembali ke tempat asalnya. Ia tidak merasa takut atau ragu.
Yang membuatnya sedih (dan sedikit insecure) adalah betapa lancar proses kepergiannya dari Eggbell. Kuil Eggbell telah sepenuhnya diserahkan kepada Gievil (si pendeta binaragawan). Selama seminggu liburan kemarin, Gievil telah membuktikan bahwa ia mampu mengurus kuil dengan sempurna, bahkan ia sudah akrab dengan seluruh warga kota.
(Gievil bisa menghandle semuanya sendiri. Warga kota juga menyukainya. Tidak akan ada masalah sekecil apa pun meski aku pergi... Sangat aman...) batin Clael getir.
Fakta bahwa segalanya berjalan terlalu lancar tanpa ada yang menangisi kepergiannya justru membuat Clael merasa tidak dibutuhkan lagi. Tentu saja, itu hanyalah pemikiran pesimis yang bodoh. Warga kota pasti akan merindukannya. Namun, perasaannya saat ini persis seperti pegawai lama yang diberitahu oleh bosnya: "Tenang saja, kami sudah punya karyawan baru yang lebih hebat dari Anda, jadi silakan Anda pindah ke divisi lain tanpa perlu khawatir." Fakta bahwa sebuah kota dan kuil yang ia bangun selama lima tahun bisa berjalan baik-baik saja tanpa kehadirannya membuat harga diri Clael sedikit terluka.
"Clael! Apakah buku yang ini harus dibawa ke Ibukota juga?!" Berbeda 180 derajat dengan Clael yang sedang mellow, Reina yang berlutut di samping koper terlihat sangat berseri-seri. Ia melompat-lompat kecil sambil menunjukkan buku teologi tua.
"Ah... Buku itu ditinggal saja. Di perpustakaan akademi Ibukota pasti ada salinan yang lebih bagus," jawab Clael. "Siap laksanakan! Kyaaa, aku benar-benar bahagia! Membayangkan Clael akan menjadi guru di sekolahku... kita bisa berangkat sekolah sama-sama di Ibukota... rasanya seperti mimpi! Ini sungguh keajaiban!" Reina menari-nari kecil di sekitar ruangan.
"...Syukurlah kalau ini berita bagus buatmu." Reina terus berada dalam mode hyperactive sejak ia membaca surat penempatan tugas Clael. Tingkat kebahagiaan Reina berada di level maksimal, sampai-sampai lingkaran cahaya suci (halo) secara harfiah muncul memancar di belakang kepalanya, dan setiap kali ia melangkah, lantai kayu di kamar Clael ditumbuhi bunga mawar merah yang mekar sekejap sebelum menghilang.
(Yah... kalau Reina bahagia, itu tidak apa-apa... Tapi tunggu, apakah ini benar-benar tidak apa-apa?!) Clael mulai panik sendiri dalam hati. Tujuan awal Kardinal memindahkan Reina ke akademi adalah untuk melatih kemandiriannya agar ia bisa lepas dari sosok ayah angkatnya dan tumbuh menjadi wanita dewasa yang siap menikah.
(Alih-alih mandiri, dia malah semakin lengket dan bergantung padaku dibanding sebelumnya! Bukankah ini kemunduran pendidikan yang sangat fatal?!)
"Clael! Pakaian dalammu! Sini kumasukkan pakaian dalammu!" seru Reina sambil membuka paksa laci lemari Clael. "Hei, hentikan! Biar celana dalamku aku sendiri yang urus! Masukkan ke tas yang hitam itu, jangan diurai begitu! Nanti kalau koperku terbuka di stasiun dan para gadis melihat celana dalamku berserakan, aku mau taruh di mana wajahku?!" Clael buru-buru merebut tumpukan kain dari tangan Reina.
Reina terus bertingkah kekanak-kanakan dan hiperaktif akibat luapan dopamin di otaknya. Clael tahu ia harus segera menyadarkan gadis ini pada realita.
"Dengar ya, Reina..." Clael menekan bahu Reina agar gadis itu duduk diam, menatap matanya dengan serius. "Hanya karena aku pindah bekerja ke Ibukota, BUKAN berarti kita akan tinggal satu atap lagi, paham?"
"Hah? Eh? Memangnya kenapa?" Aura cerah di sekeliling Reina mendadak padam. "Status kita di Ibukota nanti berbeda." Clael menjelaskan dengan pelan. "Kau adalah Saintess agung yang punya kewajiban tinggal di asrama khusus Kuil Agung. Sedangkan aku adalah guru akademi yang diwajibkan tinggal di asrama staf guru. Murid dilarang keras masuk ke area asrama guru dengan alasan apa pun."
Peraturan ketat itu bukan tanpa alasan. Akademi Kerajaan Ibukota dipenuhi oleh murid-murid dari keluarga bangsawan elit yang licik dan gila nilai. Di masa lalu, sering terjadi insiden di mana murid (atau orang tua mereka yang berkuasa) menyelinap masuk ke rumah guru untuk menyuap, mengancam, atau mencuri lembar soal ujian. Untuk mencegah korupsi dan teror semacam itu, pihak akademi membangun asrama staf guru yang dijaga ketat oleh ksatria keamanan.
"Eeeeeh... Jahat sekali peraturannya..." bahu Reina merosot lesu. Wajahnya cemberut seperti anak anjing yang dilarang makan daging. Reina mungkin gadis yang egois jika menyangkut obsesinya pada Clael, namun ia pada dasarnya adalah anak baik yang taat aturan. Ia tidak akan menggunakan kekuatan Saintess-nya untuk mendobrak sistem keamanan asrama guru hanya demi tidur seranjang dengan Clael.
"Tapi... meskipun beda rumah, kita masih bisa terus berduaan selama di area sekolah, kan?!" mata Reina kembali berbinar menemukan celah hukum. "...Ya. Tentu saja, selama batas kesopanan antara guru dan murid tetap dijaga," Clael mengingatkan.
"Horeee! Aku akan menjagamu sepanjang waktu di sekolah! Tidak akan kubiarkan siapa pun mendekatimu!" Cahaya suci kembali meledak dari punggung Reina. Kali ini bunga-bunga lili putih bermekaran dengan subur menutupi seluruh lantai kamar Clael.
"Kita harus makan siang bersama setiap hari! Aku akan bangun pagi-pagi untuk memasak kotak bekal bento khusus untukmu!" Reina mulai menyusun rencana agresifnya. "Tunggu, bukankah kau harus makan dengan teman-teman—" "Setelah jam pelajaran selesai, aku akan membantumu mengoreksi tugas murid-murid! Ah, aku memang ada jadwal rutin pelayanan suci di Kuil Agung setiap sore... tapi tenang saja, aku bisa membuat lebih banyak copy-paste boneka hewan untuk menggantikanku memimpin doa di Kuil!"
"......" Reina memang taat aturan sekolah, tapi jika menyangkut agama dan pekerjaannya sebagai wakil Tuhan, ia tidak segan-segan melakukan bidah demi bisa bucin dengan Clael. Menghadapi serangan cinta dan rencana gila yang bertubi-tubi itu, Clael hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah menerima takdirnya.
Episode 95: Rentetan Mukjizat Menuju Ibukota
Hari keberangkatan pun tiba. Setelah menyerahkan kunci kuil dan segala urusan administratif kota Eggbell ke tangan Gievil, Clael memuat koper-kopernya ke bagasi kereta kuda. Ia sudah mengucapkan salam perpisahan yang mengharukan pada Nyonya Rotter, Oratorio, Roywood, dan warga kota lainnya. Kini, Clael dan Reina duduk berhadapan di dalam kereta kuda mewah bertanda salib emas yang dikirim khusus dari Kuil Agung Ibukota. Kusir melecut kuda, dan kereta mulai melaju meninggalkan kampung halaman mereka.
"Hmm~ hmmm~ hm~♪" Di dalam kereta yang sedikit bergoyang, Reina terus bersenandung riang tak henti-hentinya. Senyum lebar tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Ia duduk sambil menopang dagu, menatap wajah Clael di hadapannya seolah pria itu adalah pemandangan terindah di dunia.
"...Kau benar-benar terlihat sangat bahagia ya, Reina," tegur Clael yang mulai salah tingkah ditatap intens seperti itu. "Ya! Aku adalah gadis paling bahagia di seluruh dunia saat ini!" seru Reina dengan senyum yang menyilaukan.
Bukan kiasan, senyum Reina benar-benar memicu mukjizat nyata. Gerbong kereta kuda itu kini dipenuhi kelopak bunga mawar merah yang berjatuhan dari langit-langit (meski tidak ada celah di atap). Bahkan yang tidak disadari oleh Clael dan Reina di dalam kereta, sepanjang jalan tol tanah yang dilewati oleh roda kereta kuda mereka, bunga-bunga liar bermacam warna tumbuh mekar seketika secara ajaib. Tanaman itu membentuk pagar bunga abadi di sisi kiri dan kanan jalan. Bunga ajaib ciptaan Saintess ini tidak akan pernah layu meski musim salju tiba. Kelak, jalur berbunga ini akan menjadi legenda pelindung bagi para pedagang dan musafir, karena wangi bunga itu terbukti mengusir monster buas yang mencoba mendekati jalan raya.
"Clael! Di Ibukota nanti, aku tahu ada satu kafe kue krep (crepes) yang sangat manis dan lezat! Teman kelasku yang merekomendasikannya. Ayo kita pergi kencan ke sana sepulang sekolah nanti!" ajak Reina antusias. "Kedengarannya enak. Kau tahu kan aku lemah pada makanan manis." "Tentu saja aku tahu! Oh, aku juga sudah riset lokasi kedai teh klasik yang daun tehnya sangat wangi. Tempatnya tersembunyi dan sepi pengunjung, jadi suasananya sangat privat dan cocok untuk kita berduaan. Di gang sebelahnya ada toko buku loak yang menjual buku teologi kuno kesukaanmu. Oh! Di perbatasan luar Ibukota juga ada ladang bunga luas yang jadi rumah peri alam, pasti seru sekali kalau kita gelar tikar dan piknik makan siang di sana di akhir pekan!"
Reina terus mengoceh dengan kecepatan senapan mesin, memuntahkan semua rencana kencan yang sudah ia susun di otak jeniusnya sejak kemarin. "Jadi, untuk mengisi libur akhir pekan, di hari Sabtu pertama kita akan kencan ke kafe krep. Hari Minggunya kita kencan ke toko buku. Di Sabtu minggu depan kita piknik ke ladang peri... Oh iya, kita juga harus fitting baju untuk acara penobatanmu! Kita harus keliling butik—"
"Reina... Coba tarik napas dulu dan tenang sebentar," Clael memotong dengan kepala sedikit pusing. Reina terdiam dengan mulut mengerucut. "Aku sangat menghargai semangatmu menyusun jadwal," Clael tersenyum kebapakan. "Tapi... kalau kau menghabiskan setiap detik hari liburmu bersamaku, kapan kau punya waktu untuk bergaul dengan teman-teman perempuanmu di akademi?"
"Eh...?" Reina berkedip polos. "Ah... B-Benar juga ya. Maafkan aku, aku saking senangnya sampai benar-benar lupa kalau aku punya teman..." Reina menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya karena malu. Ia benar-benar menghapus eksistensi manusia lain dari otaknya jika sudah menyangkut Clael.
"Bersosialisasi dengan teman seumuranmu itu sangat penting untuk masa remajamu lho," nasihat Clael. "...Baiklah. Kalau begitu, jatahnya kuubah: Sebulan sekali di akhir pekan aku akan main dengan teman-teman perempuan. Sisa 29 hari dalam sebulan akan kuhabiskan full bersamamu, Clael!" putus Reina mengangguk mantap.
"......" Clael menepuk jidatnya. Rasio pembagian waktu yang sangat tidak sehat. (Sepertinya anak ini butuh terapi kecanduan ayah angkat,) keluh batinnya, meski ia tahu isi hati seorang gadis remaja memang rumit ditebak.
"Permisi, Yang Mulia Saintess, Tuan Pastor... apakah Anda ada waktu sebentar?" Sebuah suara memecah obrolan mereka. Jendela kecil yang menghubungkan kabin penumpang dengan kursi kusir terbuka. Wajah kusir yang kebingungan mengintip ke dalam. "Ada apa, Pak Kusir?" tanya Clael. "Maaf mengganggu kenyamanan Anda, tapi sepertinya jalan raya di depan kita ditutup."
"Ditutup? Apa terjadi kecelakaan?" Clael menjulurkan kepalanya ke luar jendela kereta. Benar saja, kereta kuda mereka telah berhenti total dalam antrean panjang. Di depan mereka, puluhan kereta kuda pedagang dan pelancong terdampar di pinggir jalan raya.
"Bukan kecelakaan, Tuan. Tapi jembatan batu besar yang melintasi sungai di depan sana baru saja runtuh tersapu arus sungai yang meluap tiba-tiba. Rombongan di depan bilang kita tidak bisa menyeberang," lapor sang kusir panik.
"Sungainya meluap sampai menghancurkan jembatan batu? Apa hujan badai di hulu separah itu?" Clael mengernyit. Di musim panas, sangat jarang ada topan atau hujan badai di wilayah ini yang mampu memicu banjir bandang. Itulah kenapa jembatan di area ini dibangun tanpa struktur bendungan antigalau.
"Mungkin ini bukan bencana alam biasa, tapi perbuatan monster," celetuk Reina tiba-tiba. "Kau bisa merasakannya, Reina?" "Ya. Aku merasakan sisa-sisa energi kotor yang sangat kuat berkumpul di hulu sungai sana."
Reina mencondongkan separuh tubuhnya keluar dari jendela kereta. Matanya yang tajam menatap jauh ke arah gunung di kejauhan tempat hulu sungai berada. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, membentuk postur seperti menembak dengan pistol.
"Ray." (Sinar). Satu kata pendek yang diucapkan dengan sangat santai, diikuti sentilan kecil dari jari telunjuknya. ZWUUSSS! Sebuah bola energi putih yang sangat padat melesat dari ujung jarinya dengan kecepatan suara, membentuk jejak cahaya seperti bintang jatuh melintasi langit siang bolong, lalu menghantam sesuatu di puncak gunung hulu sungai yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat mereka. Bunyi ledakan samar terdengar beberapa detik kemudian.
"Nah, sudah beres... Mau kita lanjutkan perjalanannya sekarang?" Reina kembali duduk di kursinya sambil menepuk-nepuk tangannya yang bersih. "Tunggu dulu, Reina... Anggaplah monster raksasa penyebab banjirnya sudah kau bunuh barusan dengan tembakan sniper gaibmu itu. Tetap saja jembatannya sudah hancur berkeping-keping. Kereta kita tidak punya sayap untuk terbang melintasi sungai selebar itu," protes Clael logis.
"Tenang saja, semuanya sudah kuatur." Reina tersenyum misterius.
Clael memiringkan kepalanya dengan kebingungan total. Namun tak lama kemudian, terdengar sorak-sorai gembira dari kerumunan pelancong di depan sana. Antrean kereta kuda yang tadinya mogok kini perlahan-lahan mulai berjalan maju melintasi sungai.
"Astaga... Sungguh sebuah mukjizat ilahi..." Kusir kereta mereka bergumam dengan suara gemetar penuh kekaguman. Air mata haru mengalir di pipi kasarnya.
Ketika giliran kereta kuda mereka melaju mendekati sungai, Clael akhirnya melihat apa yang terjadi dan nyaris pingsan. Di tempat di mana jembatan batu raksasa itu tadinya hancur, kini membentang sebuah "Jembatan Gantung Ekologis" yang terbuat dari jalinan akar pohon raksasa super tebal, dijalin dengan tanaman rambat sekuat baja, dan dihiasi oleh bunga-bunga menyala yang bermekaran di sepanjang pagar pembatasnya. Konstruksi jembatan sihir yang sangat kokoh dan lebar itu dibangun hanya dalam hitungan detik.
"...Reina, kau yang membuat jembatan ini?" tanya Clael dengan wajah pucat. "Iya! Sekarang kita bisa menyeberang ke Ibukota tanpa hambatan! Ah, aku sudah tidak sabar mencicipi krep stroberi di sana!" Reina tersenyum manis tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"......" Clael tak bisa berkata-kata. Level kekuatan mukjizat Reina kini sudah benar-benar melampaui batas akal sehat. Dengan satu jentikan jari santai, ia bisa menembak mati monster kelas bencana dari jarak puluhan kilometer, dan secara instan menumbuhkan jembatan akar raksasa ala sihir Wood Style yang mampu menahan beban puluhan kereta kuda besi. Kekuatan Saintess ini bertumbuh secara eksponensial seiring waktu.
(Yah... memiliki putri dengan kekuatan absolut untuk melindungi dirinya sendiri tentu saja hal yang bagus. Tapi... kenapa melihat kekuatan gila ini membuatku sangat cemas?!)
Semakin Reina menjadi tidak terkalahkan, Clael semakin merasa dirinya hanyalah manusia biasa yang rentan dan tak berdaya di hadapannya. Sebuah firasat buruk—bahwa hidup damainya yang tersisa akan segera dihancurkan oleh keegoisan cinta gadis super-kuat di hadapannya ini—mulai merayapi tengkuk Clael, membuatnya berkeringat dingin di tengah perjalanan menuju Ibukota.
0 Comments