Bayang-bayang di Bawah Katedral
Model Bisnis Masa Depan
Setelah mengantar Cecilia dan Luke, serta berpisah dengan Cory, Randy dan yang lainnya menyusuri jalan utama ibu kota yang padat. Di antara hiruk-pikuk itu, sebuah toko baru menarik perhatian mereka.
"Studio fotonya... ramai sekali," gumam Randy.
Karena kelangkaan film, target pasar kamera memang kaum bangsawan. Namun, Randy mengusulkan studio foto agar rakyat jelata bisa ikut menikmati keajaiban ini. Ia merencanakan masa depan di mana wilayah Cecilia menjadi tempat pengembangbiakan Valion—sumber cairan film—sehingga harganya bisa ditekan.
"Aku... aku ingin berfoto dengan ayah dan ibuku suatu saat nanti," ujar Annabelle dengan mata berbinar.
Randy menawarkan bantuan kamera dan film, namun Annabelle menolak dengan sopan. "Niat baikmu sudah cukup. Kemewahan yang berlebihan terkadang bisa meninggalkan kekosongan di hati." Randy mengangguk kagum; ketaatan keluarga Annabelle memang bukan sekadar pajangan.
Kabar Sang Santa yang Terbuang
"Omong-omong, apa kabar Catherine sekarang?" tanya Randy tiba-tiba.
Annabelle menjelaskan bahwa Catherine kini menghabiskan harinya di ruang bawah tanah katedral, dikawal oleh tim gabungan ksatria kerajaan dan gereja. "Dia selalu pulang dalam keadaan benar-benar kelelahan," tutur Annabelle.
Rupanya, penggeledahan terhadap Paus mengungkap labirin penjara bawah tanah yang sangat besar di bawah katedral. Karena katedral adalah wilayah sensitif, keberadaan Catherine sebagai "Santa" digunakan sebagai simbol legalitas agar tidak ada gereja lain yang berani memprotes penggeledahan tersebut.
"Jadi, dia menjadi tameng politik, ya?" Randy menyeringai.
Namun, Catherine sepertinya tidak keberatan. Ia justru menunjukkan motivasi tinggi untuk "membangun kekuatannya sendiri." Mendengar itu, Randy dan Liz saling bertukar senyum—sebuah senyum sinergi yang hanya dimengerti oleh dua jiwa yang selaras.
Namun, di tengah percakapan, sebuah ingatan melintas di benak Randy: Ruang bawah tanah katedral... Kuil Agung... Staf Hukum Universal.
(Penjara bawah tanah itu... pasti tempat di mana staf milik Liz dan Ellie disembunyikan. Pantas saja Catherine begitu bersemangat).
Sang Pahlawan Tragis yang Palsu
Sementara itu, di sebuah kamar di istana, Edgar menatap kota dengan helaan napas berat. Di belakangnya, Dario dan Arthur berdiri dengan bahu terkulai.
"Perintah larangan kontak... mereka memperlakukan kita seperti penjahat meskipun kita sudah terbebas dari pengaruh Catherine," keluh Arthur.
Dario berbisik, "Kudengar di luar sana Catherine disebut sebagai 'Penyihir Penghancur Bangsa'. Dia memikat kita hingga kita kehilangan tunangan kita sendiri."
Ketiganya mengangguk, terjebak dalam delusi kolektif. Mereka memilih untuk berperan sebagai "korban" yang malang daripada mengakui bahwa merekalah yang memilih untuk mengkhianati kepercayaan Elizabeth. Seandainya ada seseorang seperti Randy di sana untuk menampar realitas ke wajah mereka—mengatakan bahwa mereka hanyalah pria-pria idiot yang tidak punya pendirian—mungkin mereka bisa melangkah maju. Namun yang mereka pelihara hanyalah mentalitas pahlawan tragis yang menyedihkan.
"Apakah aku akan dimaafkan?" gumam Edgar, tanpa menyadari bahwa penyesalan tanpa pemahaman akan kesalahan sendiri hanyalah omong kosong.
Realitas Berdarah Catherine
Berbeda dengan para pangeran yang bermuram duri, Catherine sedang berhadapan dengan kematian yang nyata.
"Y-ya, aku berhasil... Aku berhasil mengalahkan Jenderal Orc Undead itu!"
Catherine tersengal, mengabaikan luka di tubuhnya sendiri demi merapal sihir penyembuhan pada para ksatria. Ini bukan lagi permainan. Luka-luka ini nyata, rasa sakit ini nyata. Jenderal Orc yang merupakan "hadiah" tidak sengaja dari ulah Randy di masa lalu telah membantai banyak ksatria, memaksa Catherine belajar tentang kerja sama tim yang sesungguhnya.
Tujuannya satu: mencapai bagian terdalam penjara bawah tanah untuk mendapatkan Staf Hukum Universal, senjata pamungkas sang Santa.
Ia berlari mendahului para ksatria, mengabaikan teriakan peringatan mereka. Ia sampai di halaman terdalam kuil bawah tanah dengan jantung berdebar kencang, namun...
"Eh?"
Tempat itu kosong. Tidak ada staf legendaris. Hanya ada sebuah kawah bekas galian, pecahan kaca berserakan, dan pakaian hitam robek yang merupakan sisa-sisa dari seorang Lich—undead tingkat tinggi.
"Wow, Santa... apakah Anda mengalahkan Lich penunggu tempat ini sendirian sebelum kami tiba?" tanya seorang ksatria muda yang baru sampai dengan ekspresi kagum.
Catherine hanya bisa melongo. "Hah? Apa? Apa?"
Para ksatria yang selama ini memandangnya rendah kini mulai bersorak, memberikan apresiasi tulus atas "kehebatan" sang Santa yang berhasil membersihkan area paling berbahaya. Catherine hanya bisa mengangguk linglung saat tangannya digandeng untuk pulang.
Penutup
Malam itu, di kamar tidurnya, Catherine menghantam bantalnya sekuat tenaga.
"ELIZABETHHHHH! BUKAN, PRIA BESAR ITU! SIAPA LAGI KALAU BUKAN DIA YANG MENGAMBILNYA?!"
Sementara itu, Randy, Liz, dan Ellie sedang sibuk menyiapkan oleh-oleh Sugar Star Puff untuk dibawa pulang ke keluarga Viktor, sama sekali tidak peduli pada jeritan frustrasi sang "Protagonis" di kejauhan.
Catatan Penulis
Dengan ini, Bab 3 dan Bagian 1 berakhir. Terima kasih atas semua dukungan, bintang, dan komentar yang telah memotivasi saya untuk menulis setiap hari. Saya membaca setiap ulasan dengan penuh syukur.
Mohon nantikan Bab 4 (Bagian Kedua) yang akan segera hadir. Akan ada beberapa selingan dan cuplikan menarik sebelum kita masuk ke konflik yang lebih besar!
Single Follow-up Question: Apakah Anda ingin plot di Bagian 2 nanti lebih menekankan pada petualangan Randy dan Liz di wilayah keluarga Viktor, atau Anda lebih tertarik melihat bagaimana Catherine menggunakan "pengetahuan game"-nya untuk mencoba merebut kembali posisinya di akademi?
0 Comments