Langit Setelah Badai
Teh Hangat dan Gradasi Hati
"Apakah kau sudah tenang?" "...Sedikit."
Catherine menyesap tehnya perlahan. Wajahnya masih merah padam hingga ke telinga. Tadi, dalam keadaan basah kuyup dan berlumuran lumpur, ia didorong Randy ke kamar mandi mansion dengan instruksi singkat: "Bersihkan dirimu." Kini, ia mengenakan pakaian pinjaman dari Liz yang tampak bersih dan rapi.
Randy menyandarkan tubuh di ambang pintu, menatap hujan yang mulai mereda di luar. Ia terpaksa membiarkan Catherine masuk karena desakan kuat dari Liz—dan tentu saja, demi menjaga ketenangan lingkungan dari teriakan histeris Catherine.
"Minum tehmu, lalu pulanglah secepat mungkin," ujar Randy datar.
"A-aku tahu!" sahut Catherine ketus, meski tangannya masih gemetar memegang cangkir.
Liz tersenyum masam melihat interaksi itu. "Randy, apa kau begitu membenci Nona Catherine?"
"Bukan benci," Randy menghela napas panjang. "Aku hanya tidak ingin terlibat terlalu dalam. Di dunia ini, batas antara teman dan musuh sering kali kabur. Seperti gradasi warna, atau cuaca. Begitu kau terlibat secara emosional, sulit untuk menarik garis tegas siapa yang harus kau lindungi dan siapa yang harus kau habisi."
Catherine mendongak, matanya membelalak. "Apa kau... berniat membunuhku?"
"Hanya jika kau menyakiti Liz lagi," jawab Randy. Matanya tidak menunjukkan kebencian, melainkan ketegasan yang goyah oleh sedikit rasa iba. Catherine segera mengalihkan pandangannya.
Runtuhnya Benteng Delusi
"Nona Catherine," Liz berjongkok di depan Catherine, menatapnya dengan lembut. "Mengapa kau sampai senekat ini hari ini?"
"Perintah larangan kontak..." Catherine mulai bercerita dengan suara serak. Ia menjelaskan bagaimana keterlibatan Chris dan Gereja dalam upaya pembunuhan Putra Mahkota membuatnya terisolasi. Ia dilarang menemui Edgar, Dario, maupun Arthur.
"Haremku... semua kerja kerasku..." Catherine menunduk, bahunya bergetar. "Ini semua gara-gara kau menyelidiki Tujuh Keajaiban Sekolah itu!"
Liz menghela napas. "Bukankah Nona sendiri yang memutuskan dan menyelidiki keajaiban-keajaiban itu? Mengapa kau menyalahkan orang lain?"
Catherine terdiam. Logika Liz tidak bisa dibantah.
"Lady Catherine, apa sebenarnya yang kau inginkan dari para pangeran itu?" tanya Liz tulus.
Randy hampir saja menyahut, "Tentu saja harem terbalik," namun ia menahan diri. Istilah itu tidak ada di dunia ini. Ia hanya memperhatikan dalam diam saat Catherine mencoba menjelaskan konsep "dicintai banyak pria" kepada Liz yang tampak bingung.
"Bukankah itu hanya akan menuju kehancuran?" tanya Liz polos. "Tentu saja tidak! Ini adalah dunia game, dan jika aku mau—"
"Catherine," potong Liz lembut namun dingin. "Dunia ini bukan papan permainan. Ini bukan dongeng, bukan novel, apalagi simulasi. Ini adalah kenyataan."
Wajah Catherine memucat. "T-tidak mungkin! Aku adalah protagonis! Jika aku tidak mengikuti skenario, dunia akan hancur! Aku menanggung beban masa depan!" ia berteriak dengan air mata yang mulai menggenang. Ia menatap Liz dengan tajam. "Kau juga mengerti, kan? Kau juga seorang reinkarnasi!"
Liz menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku tidak melakukan apa pun."
"Bohong! Lalu bagaimana dengan serum kecantikan dan kamera itu? Itu teknologi dari dunia lain!"
Randy mengangkat tangannya dengan santai. "Oh, kalau itu ideku."
Bibir Catherine bergetar. "Kau... kau tidak bercanda? Siapa kau sebenarnya? Kau sudah ada di sini sejak awal cerita!"
"Aku? Randolph Viktor. Putra sulung bangsawan miskin yang hidup semau gue. Siapa lagi?"
Catherine tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar pecah. "Jadi... selama ini aku bertarung sendirian? Aku mencoba mengikuti naskah game 'No Way!' yang konyol itu sendirian sementara kalian hidup sesuka hati?"
Awal yang Baru bagi Sachie
"Aku bukan tokoh utama... pengetahuanku tidak berguna... lalu untuk apa aku di sini?" Catherine berlutut, merasa benar-benar kosong.
Ellie, yang sejak tadi mengamati dalam wujud rohnya, mendekat dengan seringai nakal. "Aku bisa memberitahumu apa yang harus dilakukan. Dalam skenariomu, kau seharusnya dibunuh olehku, kan? Mau kurealisasikan?"
Catherine tersentak mundur karena haus darah yang dipancarkan Ellie.
"Ellie, hentikan," tegur Liz. Ia kembali menatap Catherine. "Nona Catherine, aku tidak akan menertawakanmu. Aku juga pernah merasa kehilangan segalanya. Saat aku diasingkan, aku merasa kosong."
Liz tersenyum, mengenang saat-saat ia mulai bangkit bersama Randy dan Ellie. "Tapi justru saat kita merasa kosong, kita bisa mulai mengisi hidup kita dengan apa yang benar-benar kita inginkan, bukan apa yang ditentukan orang lain."
Liz menangkup pipi Catherine. "Siapa namamu di kehidupan sebelumnya?"
"...Sachie. Sano Sachie."
"Nama yang indah. Sekarang dengarkan aku, Sachie-sama. Kau bisa memilih: terus memainkan peran 'Catherine' yang ditentukan game, atau mulai hidup sebagai 'Catherine' yang diinginkan oleh Sachie. Buang naskah itu. Ini adalah duniamu sekarang."
Catherine tertegun. "Tapi... aku seorang Santo. Aku harus mengalahkan Penyihir Agung..."
"Penyihir itu sekarang hanyalah hantu kecil yang hobi makan kue sus," sahut Randy sambil menunjuk Ellie yang sedang merajuk. "Status Santomu mungkin akan berubah setelah skandal Gereja ini terungkap, tapi itu justru membebaskanmu, bukan?"
Catherine menyeka air matanya. Ia menatap Liz, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang memiliki sedikit bumbu tantangan.
"Kau... kau benar-benar orang yang menyebalkan, Elizabeth."
"Aku tahu," jawab Liz riang. "Dan ingatlah ini: aku tidak memaafkan apa yang kau lakukan padaku. Aku akan menunggumu bangkit kembali, mendaki gunung yang tinggi, agar saat kau mencapai puncak hidupmu... aku bisa mendorongmu jatuh lagi."
Catherine tertawa, kali ini tawanya terdengar nyata. "Coba saja kalau bisa! Aku adalah Catherine Evans. Aku tidak akan kalah darimu!"
Bintang Pertama
Saat badai benar-benar berlalu, Harrison menyiapkan kereta untuk mengantar Catherine pulang. Langit barat bermandikan cahaya matahari terbenam yang jingga keemasan.
Randy menyaksikan kereta itu menjauh. "Badai yang dahsyat, ya?"
"Tapi langitnya jadi sangat cantik," sahut Liz sambil menyandarkan kepalanya di bahu Randy.
"Emosi itu memang seperti cuaca," gumam Randy. "Terkadang badai diperlukan untuk membersihkan debu di jalanan."
"Dan Randy tetaplah Randy," Liz menggenggam tangan suaminya erat.
Di atas sana, di tengah gradasi warna senja yang memudar, bintang pertama mulai bersinar, mengiringi awal kisah baru bagi mereka yang berani membuang naskah takdir.
Single Follow-up Question: Setelah konfrontasi emosional ini, apakah Anda ingin cerita selanjutnya fokus pada persidangan Paus dan pengungkapan skandal Gereja, atau lebih ke arah pengembangan hubungan Randy dan Liz dalam mengelola bisnis teknologi baru mereka?
0 Comments