Header Ads Widget

Episode 91: Catherine ~Sachie dan Sang Pahlawan Wanita~

 


Runtuhnya Delusi sang Protagonis

Catherine Evans, atau Sachie Sano

Dahulu, namanya adalah Sachie Sano. Seorang gadis biasa yang meninggal di usia muda dan bereinkarnasi ke dalam dunia game favoritnya. Saat pertama kali melihat wajah mungil Catherine Evans di cermin, Sachie bersukacita. Ia yakin, inilah takdirnya: menjadi pahlawan wanita yang dicintai dalam cerita yang ia dambakan.

Di kehidupan lamanya, Sachie hanyalah gadis medioker yang sering merasa kesepian dan tidak puas. Baginya, dunia fantasi adalah pelarian. Namun, ada satu perbedaan fatal antara dia dan orang lain: Sachie terlalu larut dalam fantasinya.

Ia mulai percaya bahwa ia seharusnya berada di dalam game. Ketika kematian menjemput dan ia terbangun sebagai Catherine, kegembiraannya tak terbendung. Namun, ia tidak menyadari satu hal: ini bukan lagi baris kode program, melainkan realitas. Dan dalam realitas, setiap cita-cita akan selalu berbenturan dengan ketidakadilan.

Sachie terus menipu dirinya sendiri, memelihara rasa berhak (entitlement) yang besar. Ia ingin dicintai oleh semua orang—oleh sang pangeran, oleh teman-temannya, bahkan ia menuntut kekaguman dari musuh-musuhnya. Namun, Elizabeth yang ia temui di dunia ini bukanlah "bos terakhir" yang kaku. Elizabeth adalah manusia hidup yang tidak terpengaruh oleh manipulasi murahan Sachie.

Saat realitas menyakitinya, Sachie menyimpulkan itu sebagai "paksaan skenario". Ia menjebak Elizabeth dengan dendam, dan ketika rencana itu berhasil, delusinya semakin liar.

"Akulah protagonis di dunia ini."

Ia salah besar. Di dunia ini, setiap orang adalah protagonis bagi hidupnya sendiri. Namun Sachie telah membungkam fakta itu. Keberadaannya mulai meracuni sekitarnya; mengubah Dario menjadi sombong dan Chris menjadi tenggelam dalam kegelapan.

Dan sekarang, kebenaran pahit itu menghantamnya tepat di wajah: Ia dikenakan tahanan rumah di istana sebagai saksi kunci upaya pembunuhan Putra Mahkota.


Tanpa Kehadiran sang Tokoh Utama

Saat Catherine terkurung, sejarah terus bergulir tanpa dirinya. Penangkapan Paus, demonstrasi massa, dan persidangan besar yang mengguncang benua—semuanya terjadi tanpa Catherine Evans sebagai pusatnya. Ia menjadi tokoh sampingan yang menyedihkan dalam ceritanya sendiri.

Setelah dibebaskan dengan status "dimanipulasi," Catherine duduk di dalam kereta menuju rumah. Kata-kata Menteri Kehakiman Abel masih terngiang, dingin dan menusuk.

"Kau yang menciptakan keretakan antara Yang Mulia dan Nona Elizabeth. Jangan pernah berharap bisa mendekati mereka lagi."

Perintah larangan kontak. Pengusiran dari lingkaran sosial elit. Semuanya karena ia terlalu menikmati kehancuran pertunangan Edgar dan Elizabeth.

"Apakah ini... benar-benar kesalahanku?" gumamnya.

Rasa sakit menusuk di perutnya—gejala fisik dari stres dan penyesalan yang coba ia tekan. Ia bukan lagi sang Santa yang agung; ia hanyalah gadis kosong bernama Catherine Evans yang hampir runtuh seperti potongan karton yang terkena hujan.

Namun, egonya menolak kalah. "Selama aku tidak mengaku kalah, aku tidak akan kalah!" Ia menjerit dalam hati, sebuah pelarian terakhir dari kenyataan yang hancur.


Pertemuan di Tengah Hujan

Dari jendela kereta, Catherine mendengar orang-orang memuji kamera baru yang dikembangkan oleh Elizabeth.

"Elizabeth... Elizabeth, Elizabeth! ELIZABETH!"

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Kebencian yang salah sasaran itu meluap. Baginya, Elizabeth telah mengambil segalanya—cinta, kekaguman, dan status protagonisnya. Dalam kondisi delirius, Catherine meraung, membuat kusir menghentikan kereta dengan panik.

"Nona! Anda mau ke mana?!"

Catherine melompat keluar, berlari sekuat tenaga. Gaunnya yang indah kini kotor oleh lumpur. Rambutnya lepek terkena hujan gerimis yang mulai menderu. Ia terus berlari menuju kediaman Elizabeth yang telah ia selidiki.

Ia tersandung, wajahnya menghantam batu jalanan hingga lecet dan berdarah. Namun, ia bangkit lagi, didorong oleh kecemburuan yang murni. Di depan gerbang kediaman, ia melihat Elizabeth dan seorang pria bertubuh besar hendak masuk.

"ELIZABETH!" teriaknya parau.

Ia berlari mendekat, namun kakinya terpeleset di atas ubin yang basah. Ia tersungkur tepat di depan kaki Elizabeth.

"Apa kau baik-baik saja?" Elizabeth mendekat dengan wajah cemas, hendak mengulurkan tangan.

"JANGAN SENTUH AKU!" Catherine menepis tangan itu. "Kenapa... kenapa hanya kau yang selalu beruntung?"

Air mata bercampur darah dan lumpur mengalir di pipinya. "Kenapa aku tidak bisa melakukan apa pun dengan benar?!"

Elizabeth menoleh ke arah suaminya—Randy—dengan ekspresi bingung dan iba. "Ada perintah larangan kontak, kan?" tanya Elizabeth. Ia menatap suaminya, "Randy, kumohon..."

Randy menatap Catherine dengan dingin. "Ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Biarkan saja."

"Kumohon," bisik Elizabeth dengan mata berkaca-kaca, "kita tidak bisa membiarkannya mati di depan rumah kita."

Randy menghela napas panjang, tampak sangat terganggu. Ia maju dan mencengkeram tengkuk Catherine seperti mengangkat anak kucing yang kotor.

"Jangan menangis di sini. Kau mengganggu tetangga," ujar Randy dengan suara bariton yang menggelegar.

"Lepaskan! Aku—"

"Diam." Randy mendelik, membuat nyali Catherine menciut seketika. "Luka di dahimu serius. Obati dulu di dalam, lalu pulang."

Tanpa memedulikan rontaan Catherine, Randy menyeret gadis yang hancur itu masuk ke dalam kediaman mereka. Protagonis yang jatuh itu kini hanya bisa menangis dalam cengkeraman realitas yang sama sekali tidak peduli pada naskah permainannya.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments