Kilat Kamera dan Kehancuran Sang Suci
Saat kegembiraan kontes foto Marquis melanda ibu kota, sebuah badai berbeda sedang berkecamuk di depan katedral agung.
"Keluarkan Paus!" "Berikan penjelasan pada rakyat!"
Teriakan massa mengguncang gerbang suci. Segalanya bermula dari satu foto yang tampak sepele, sebuah karya dalam kontes "Hal-Hal Favoritku" berjudul Langit dan Katedral.
Sekilas, itu hanya foto puncak katedral dengan latar langit biru. Namun, mata tajam seorang anak kecil menangkap sesuatu yang janggal di sudut jendela kamar pribadi Paus.
"Ibu, kenapa wanita itu tidak pakai baju?"
Di balik kaca jendela yang jauh, terpantul punggung seorang wanita yang setengah telanjang. Foto itu segera menjadi pusat perhatian. Dengan bantuan kaca pembesar yang dipasang secara "kebetulan" oleh Cedric di galeri, detail itu menjadi bukti tak terbantahkan.
Desas-desus meledak: Paus membawa pelacur ke kamar sucinya!
Itu adalah jebakan madu yang sempurna. Cedric menggunakan agen bayangan keluarga Marquis yang menyamar sebagai pemilik rumah bordil keliling untuk menggoda Paus dengan dalih "demonstrasi bisnis". Paus, yang mengira tidak ada bangunan yang lebih tinggi dari katedral untuk mengintipnya, terjebak dalam tarian sensual yang diabadikan oleh lensa kamera dari jarak jauh.
Efek Domino dan Kelahiran Hantu
Cedric tidak berhenti di sana. Ia menyisipkan "kebetulan" lain dalam foto-foto kontes:
Dalam foto Jalanan Rumah Bordil, terlihat sosok kardinal gemuk yang mencoba bersembunyi.
Dalam foto Teman-Teman Panti Asuhan, tertangkap bayangan kardinal lain yang sedang memukul anak yatim.
Serangan ini memicu keberanian para korban asli. Kesaksian anonim mulai bermunculan—suster yang dilecehkan, jemaat yang diperas—semuanya dikoordinasi secara rahasia oleh jaringan Cedric.
Namun, kejutan terbesar justru datang dari rakyat sendiri. Karena doktrin gereja selama ini menyatakan bahwa "Hantu adalah jiwa orang jahat yang ditinggalkan dewi," massa menarik kesimpulan liar: "Paus sangat jahat sampai-sampai ia berubah menjadi hantu saat masih hidup!"
Ketakutan dan amarah massa menciptakan manifestasi Ghost yang benar-benar menyerupai Paus di pemakaman umum. Ketika hantu itu dikalahkan petualang di depan publik, rakyat yakin bahwa roh Paus telah dicuri oleh iblis karena perbuatannya yang terekam kamera.
Kehancuran Diri di Depan Publik
Di dalam katedral, Paus Léonard Spiteo yang pucat pasi memutuskan untuk melakukan serangan balik. Ia mengumpulkan ksatria gereja dan memerintahkan mereka membuka gerbang.
"Mereka adalah kaum sesat! Habisi siapa pun yang mencoba menyakitiku!" serunya dengan mulut berbusa.
Gerbang besar itu terbuka. Paus melangkah keluar dengan keangkuhan yang dipaksakan, bersiap mengutuk teknologi kamera sebagai sihir iblis. Namun, yang menyambutnya bukan sekadar massa, melainkan barisan Ksatria Kerajaan dan Gendarme.
"Paus Léonard Spiteo, Anda ditahan atas tuduhan pengkhianatan dan upaya penggulingan pemerintah," ujar sang kapten ksatria dingin.
"Omong kosong! Ini semua fitnah!" teriak Paus. "Foto-foto itu hanyalah bisikan iblis! Saya sama sekali tidak tertarik pada wanita!"
Tepat saat itu, seorang agen Marquis yang tak terlihat mendorong Paus dari belakang. Paus tersandung, dan beberapa lembar foto jatuh dari balik jubahnya.
"Foto apa lagi ini?!" tanya sang kapten sambil memungutnya. Ia menyeringai tipis. "Oh, tampaknya Anda benar-benar tidak tertarik pada wanita."
Foto itu menampilkan otot-otot dada pria yang terlatih (yang sebenarnya adalah foto Randy dan Luke tanpa baju yang diambil Cedric sebelumnya).
"Jangan konyol! Aku suka wanita muda yang berisi!" teriak Paus tanpa sadar karena panik.
Keheningan seketika menyelimuti kerumunan. Paus baru saja mengakui seleranya di depan ribuan orang, sekaligus membenarkan bahwa dialah sosok dalam foto skandal sebelumnya. Ia telah menghancurkan dirinya sendiri.
"Tangkap mereka semua," perintah kapten ksatria. "Geledah katedral. Cari semua bukti korupsi dan rencana pembunuhan Putra Mahkota!"
Penonton dari Atap
Dari atap gedung terdekat, Randy dan Luke menyaksikan seluruh drama itu.
"Aku tidak menyangka dia akan benar-benar menggunakan foto kita tanpa baju untuk ini," gumam Randy tak percaya.
"Pangeran Puncak Perak itu benar-benar monster," sahut Luke sambil tersenyum kecut. "Dia menciptakan 'hutan' informasi untuk memamerkan satu 'pohon' kebenaran. Strategi pemasaran yang mengerikan."
Randy menopang dagu, menatap kerumunan yang bersorak saat Paus digiring pergi. Cedric telah memanipulasi segalanya—mulai dari teknologi kamera, desas-desus hantu, hingga ego sang Paus—untuk menciptakan badai api yang sempurna.
"Yah, bagaimanapun juga," Randy berbalik membelakangi katedral, "inilah yang terjadi jika kau mencoba bermain api dengan orang-orang yang menguasai lensa."
Di matanya, kemarahan rakyat bukan lagi sekadar emosi, melainkan senjata yang telah diasah dengan sangat tajam oleh kejeniusan seorang Cedric.
0 Comments