Bayang-Bayang di Balik Lensa
Saat Catherine memacu keretanya sendirian menuju katedral dengan ambisi yang meluap-luap...
Di koridor istana yang tenang, Randy melirik Liz. "Apa kau benar-benar tidak keberatan?" tanyanya ragu. Ia merasa sedikit bersalah karena amarahnya tadi justru berujung pada pemberian "ampunan" bagi Catherine.
"Ya," jawab Liz dengan senyum tulus yang menenangkan. "Apa yang dilakukan Lady Catherine memang sulit dimaafkan, tapi jika bukan karena kejadian itu, aku tidak akan berada di posisiku yang sekarang. Aku tidak lagi menyimpan dendam. Terus terjebak dalam kebencian hanya akan membuat kita lelah, bukan?"
Liz menatap langit musim dingin yang biru cerah melalui jendela besar istana. "Dunia ini terlalu indah untuk dinikmati dengan hati yang kotor."
Randy mengangguk pelan. "Kau benar."
"Tapi, Randy," suara Liz mendadak berubah menjadi nada menceramah, "kau tidak boleh meledak begitu saja di depan Raja." "Aku tidak bermaksud membuat masalah—" "Bohong. Aku tahu ekspresi wajahmu saat sedang marah besar. Jika tadi aku tidak menahanmu, kau pasti sudah membalikkan meja dan memicu insiden internasional," ucap Liz sambil menggembungkan pipinya.
Randy menunduk, menggumamkan kata "maaf" yang membuat Liz akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Tapi tidak apa-apa. Itulah Randy yang kukenal," Liz menggenggam tangan Randy erat. "Randy yang akan marah jika melihat ketidakadilan, siapa pun lawannya. Itulah Randolph Viktor yang kupercayai."
Teguran sang Marquis
"Randy, lihat ke belakangmu!" seru Luke tiba-kira.
Randy menoleh dan mendapati Lucien berdiri di sana dengan senyum formal, namun urat-urat di dahinya terlihat menonjol.
"Randolph, kau perlu belajar menempatkan diri," tegur Lucien tajam. Randy tidak tahu apakah ini soal kemarahannya di ruang sidang atau karena ia tertangkap basah sedang bermesraan dengan Liz. Namun, ia hanya bisa menunduk pasrah.
"Tapi..." Lucien menghela napas, suaranya melunak. "Seharusnya aku juga meminta maaf. Aku terlalu fokus pada penghancuran Gereja dan Kerajaan sampai-sampai hampir mengorbankan nuraniku. Kemarahanmu tadi menyadarkanku, jika aku terus memanfaatkan gadis itu sebagai persembahan, aku tidak ada bedanya dengan babi-babi di Gereja."
Lucien tersenyum tipis ke arah putrinya. "Liz-lah yang paling hebat di sini. Dia yang meredakan situasi dan membawa hasil terbaik."
"Terima kasih, Ayah," sahut Liz malu-malu. Lucien mengangguk puas. "Kau sudah menjadi jauh lebih kuat, Liza."
Peluncuran 'Hutan' Kebenaran
Siang itu, Lucien dan Cedric berangkat menuju acara peluncuran produk baru mereka: Kamera. Randy menolak ikut serta dengan sopan, merasa status Marquis mereka akan lebih menonjol jika ia tidak ikut campur dalam presentasi.
"Sampai jumpa malam ini di vila, Liza," pamit Lucien. Kini, setelah hubungan mereka diketahui publik, tidak ada alasan lagi bagi Liz untuk bersembunyi.
Sambil menyaksikan kereta Lucien menjauh, Cecilia bergumam, "Marquis memang sosok yang tangguh sekaligus menakutkan."
Randy mengangguk. Meski ia dan Liz sempat emosi, pada akhirnya skenario besar Lucien tetap berjalan mulus. Kerajaan kini resmi menjadi musuh Gereja—sebuah posisi yang sangat berbahaya bagi siapa pun yang berhadapan dengan Marquis Brauberg.
Empat sekawan itu—Randy, Liz, Cecilia, dan Luke—kemudian menuju pusat kota setelah Ellie (roh yang hanya bisa didengar Randy) merengek meminta camilan manis.
Di sudut jalan utama, kerumunan besar telah berkumpul. Lucien berdiri di atas panggung dengan wibawa yang luar biasa, memegang kotak kayu hitam dengan lensa kaca di depannya.
(Dia benar-benar terlihat seperti Steve Jobs,) batin Randy, teringat kehidupan masa lalunya.
Sorak-sorai pecah saat Lucien mendemonstrasikan bagaimana alat itu bisa "menghentikan waktu" dan mencetaknya di atas kertas. Liz ikut melompat kegirangan, matanya berbinar melihat keajaiban teknologi itu.
Lalu, Cedric mengambil alih panggung. Dengan senyum bak pangeran yang mempesona, ia mengumumkan kompetisi fotografi bertajuk "Hal-Hal Favoritku".
"Kami akan meminjamkan kamera kepada 300 orang pertama. Ambil foto apa pun yang kalian sukai selama seminggu ke depan, dan foto itu akan dipamerkan di galeri ini!" seru Cedric.
Randy menyadari kejeniusan di balik strategi ini. Di dunia di mana konsep "foto" masih asing, orang-orang mungkin tidak akan percaya jika tiba-tiba muncul foto skandal para petinggi Gereja. Mereka akan menganggapnya sebagai sihir atau tipuan.
Namun, dengan membiarkan rakyat mengambil foto sendiri—foto kucing mereka, keluarga mereka, atau bunga di taman—Cedric sedang membangun kepercayaan. Jika rakyat percaya bahwa foto yang mereka ambil adalah nyata, maka mereka akan percaya bahwa foto skandal Gereja yang akan muncul nanti juga nyata.
(Jika ingin menyembunyikan sebatang pohon, letakkan di tengah hutan,) pikir Randy sambil menatap Cedric yang tampak sombong di panggung. (Cedric tidak hanya menanam satu pohon; dia sedang menciptakan seluruh hutan hanya untuk memamerkan satu pohon kebenaran.)
Desas-Desus yang Meresahkan
Malam itu, saat gairah tentang teknologi kamera masih membara di jalanan, sebuah narasi lain mulai merayap di sudut-sudut gelap kedai minuman.
"Hei, kau dengar tidak? Katanya hantu Paus terdahulu muncul di pemakaman barat." "Kenapa hantu Paus muncul sekarang?" "Entahlah, tapi katanya wajahnya tampak sangat marah..."
Di bawah cahaya remang lentera, benih-benih keraguan terhadap kesucian Gereja mulai disemai, menunggu saat yang tepat untuk meledak bersama kilatan lampu kamera.
0 Comments