Bab: Menara Waktu dan Rahasia di Balik Cahaya Bulan
Sehari setelah Cedric dan kawan-kawan menginap, Randy dan Liz melepas mereka pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah. Penutupan sementara akademi rupanya hanya berlangsung satu hari, namun sisa-sisa kegemparan masih terasa sangat kental di koridor sekolah.
"Kau dengar? Dewan Siswa yang menyelesaikannya." "Sang Santa baru saja memurnikan kutukan besar, katanya."
Desas-desus tentang "Insiden Elemen" yang memicu libur mendadak kemarin menjadi topik utama. Di tengah pusaran gosip itu, Annabelle—satu-satunya anggota Klub Penelitian Okultisme—menjadi sasaran empuk. Ia terkepung di aula masuk, dihujani pertanyaan oleh kerumunan siswa yang haus informasi.
"E-etoo... kami masih mengumpulkan data. Akan segera kami umumkan—" jawab Annabelle gugup.
"Selamat pagi, Nona Annabelle."
Suara bariton yang tenang itu memecah kerumunan. Randy muncul dengan senyum formal aristokrat yang sempurna. Di belakangnya, Liz berdiri dengan aura tangguh yang mengintimidasi. Seketika, kerumunan siswa yang tadinya mendesak Annabelle langsung surut, memberi jalan bagi dua sosok paling ambigu di akademi tersebut.
Reputasi mereka memang terbagi dua. Ada yang melihat Randy sebagai pria kasar yang "menundukkan" Elizabeth sang jenius, namun ada juga yang percaya Randy adalah individu luar biasa yang layak ditaati oleh sang Putri Es. Ditambah lagi dengan pencapaian Liz yang baru-baru ini mengalahkan nilai Pangeran Mahkota dan Sang Santa, tak ada yang berani mencari masalah dengan mereka.
"Terima kasih sudah membantuku," bisik Annabelle sembari membungkuk dalam.
Randy membungkuk sedikit, menyejajarkan tatapannya dengan Annabelle yang mungil. "Jangan khawatir. Sepulang sekolah, mari kita berkumpul di klub. Aku ingin mengungkap misteri terakhir... Menara Bulan Baru."
Kearifan Kuno yang Murah: Suap untuk Sang Penyihir
Sore harinya, ruang klub penelitian okultisme terasa lebih serius dari biasanya. Annabelle tampak masih ragu sebelum menyerahkan laporan akhir mengenai hantu kepada lembaga penelitian nasional.
"Nona Annabelle, kau yakin?" tanya Randy serius. "Laporan ini berpotensi meruntuhkan wibawa Gereja."
Annabelle mengangguk mantap. "Paus saat ini hanya menggunakan iman untuk memperkaya diri. Memutarbalikkan kehendak Dewi adalah kesalahan yang harus diluruskan."
Cory berdiri di samping Annabelle, menunjukkan dukungan penuh yang tak tergoyahkan. Randy mengangguk menghargai keberanian mereka. "Baiklah. Sambil menunggu Cedric mempersiapkan 'panggung' untuk laporan itu, mari kita selesaikan Misteri Ketujuh."
Annabelle membuka catatannya tentang Menara Bulan Baru. Menara itu konon hanya muncul saat bulan baru melalui ritual Cermin Cahaya Bulan. Gosipnya, siapa pun yang berhasil masuk ke sana dengan mengenakan jubah hitam legam akan mendapatkan "Kebijaksanaan Kuno".
"Liz, apa pendapat Ellie tentang ini?" tanya Randy.
Liz tersenyum masam, lalu auranya berubah. Ellie, sang penyihir kuno, mengambil alih dengan gaya angkuhnya yang khas. "Kearifan kuno? Cih, nama aslinya adalah Menara Waktu. Itu lembaga penelitian sihir dimensional dari zamanku."
"Oh? Jelaskan lebih lanjut, Penyihir Agung," goda Randy.
"Dua kotak Sugar Star Puff," jawab Ellie datar. "Dan aku ingin yang isinya krim vanilla ganda."
Semua orang di ruangan itu membatin hal yang sama: Kebijaksanaan kuno ternyata harganya hanya dua kotak kue sus mewah dari ibu kota.
"Bicaralah pada Liz soal itu. Dia yang memegang kendali dietmu," ujar Randy santai, yang dibalas gerutuan oleh Ellie.
Melubangi Dimensi
"Menara itu sebenarnya selalu ada di sana, tersembunyi di celah dimensi," jelas Ellie setelah menyepakati kontrak kuenya. "Penelitian perjalanan waktu membutuhkan isolasi ruang. Namun, sihir buatan manusia tidak pernah sempurna. Saat bulan baru, ketika energi lunar berada di titik terendah, penghalang dimensi itu melemah dan menara tersebut menjadi terlihat."
Randy mendengarkan dengan penuh minat. Baginya, Menara Waktu adalah laboratorium yang sempurna. Ia butuh tempat di mana waktu bisa dimanipulasi untuk menguji ketahanan film kameranya terhadap penuaan—semacam percepatan waktu untuk uji degradasi material.
"Tapi, Ellie-sama," tanya Annabelle ragu. "Jika itu tersembunyi di dimensi lain, meskipun kita bisa melihatnya, bukankah kita tidak akan bisa menyentuhnya? Kita akan menembusnya seperti bayangan."
Ellie menyeringai jahat, lalu melirik ke arah Randy.
"Memang. Orang normal tidak akan bisa masuk. Tapi kita punya si bodoh ini," Ellie menunjuk Randy. "Dia punya cara yang sangat 'tidak beradab' untuk membuka pintu dimensi."
Randy mengepalkan tinjunya, memicu aliran mana yang terasa berat dan padat di udara. "Satu pukulan cukup untuk melubangi penghalang itu, kan? Serahkan padaku."
Dengan rencana yang sudah bulat, mereka bersiap menghadapi misteri terakhir. Sebuah menara yang menyimpan rahasia waktu, yang kini hanya menunggu satu hantaman keras dari seorang pria yang tidak peduli pada batasan dimensi.