Bab: Kunjungan Sang Marquis dan Keajaiban Gambar Abadi
Saat cakrawala mulai terbakar oleh cahaya oranye, sebuah kereta kuda mewah berhenti tepat di depan rumah. Cedric melompat turun dengan kelincahan seorang atlet dan keanggunan seorang bangsawan, lalu mengulurkan tangan untuk menyambut Miranda. Mandian cahaya matahari terbenam membuatnya tampak seperti pahlawan dari buku cerita.
"Liza! Sudah lama kita tidak bertemu!" Cedric langsung menghambur, hendak memeluk adik tercintanya.
Liz dengan tangkas menghindar, membuat Cedric memeluk angin. "Astaga, Kak. Aku sudah menjadi wanita dewasa sekarang, aku tidak butuh pelukan kekanakan seperti itu."
"Oh? Padahal di mataku, Liza tetaplah adik kecil yang menggemaskan," Cedric menghela napas dramatis dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat, membuat Randy tertawa hambar.
"Sudah lama tidak bertemu, Randolph," Cedric berbalik, memasang senyum sempurna yang sulit dibaca.
"Ya, Kak. Maaf, rumah sedikit berantakan karena kami sedang mengerjakan beberapa... 'mainan'," jawab Randy tenang.
Cedric mengangkat alisnya sedikit. Ia tahu Randy baru saja kembali dari Eldenberg untuk memburu Valion. Baginya, Randy bukanlah tipe orang yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk membuat "mainan" biasa. Ada sesuatu yang lebih besar di balik kata-kata itu.
Reuni Kecil di Ruang Tamu
Di dalam rumah, Rita dan Harrison sudah menunggu. Pertemuan itu berubah menjadi reuni kecil yang penuh nostalgia. Cedric, dengan kerendahan hati yang jarang dimiliki bangsawan tinggi, membungkuk hormat kepada Rita—mantan pelayan keluarganya—sebagai tanda terima kasih karena telah menjaga Liz.
Sementara itu, di sudut lain, Miranda dan Harrison saling melempar hormat dengan kaku. "Tuan Harrison Walker, kehormatan bagi saya bertemu kembali dengan sang Kapten," ucap Miranda formal. "Jangan panggil aku 'Tuan', Miranda. Kekuatanmu di Hartfield adalah sesuatu yang sangat aku hormati," balas Harrison datar namun tulus.
Setelah suasana mencair, mereka semua duduk. Miranda awalnya bersikeras berdiri sebagai pengawal, namun akhirnya menyerah setelah Cedric membujuknya dengan lembut bahwa ini hanyalah "pertemuan antar teman."
Bisnis Kecantikan dan Kopi Tetes
Percakapan dimulai dengan laporan bisnis. Cedric menjelaskan perkembangan serum plasenta yang sedang diuji di Heartfield serta strategi pemisahan pasar antara produk high-end dan produk massal.
"Untuk pasar umum, aku akan menyebarkannya ke berbagai perusahaan dagang di kota-kota besar," jelas Cedric.
"Bagaimana dengan ibu kota? Aku punya kenalan di sana, keluarga Cory," saran Randy.
Cedric tersenyum penuh arti. "Gadis yang belakangan ini akrab denganmu itu? Aku sudah memasukkannya dalam daftar. Reputasi perusahaan mereka di kalangan rakyat jelata sangat bagus."
Sambil berbincang, Randy menyajikan kopi dengan metode drip (tetes). Cedric menyesapnya dan matanya berbinar. "Rasanya unik... berbeda dari kopi rebusan biasa."
"Ini metode tetes. Aku juga sedang memikirkan konsep 'kantong teh' tapi berisi kopi," Randy membagikan idenya, yang langsung dicatat oleh Cedric sebagai potensi bisnis baru yang menjanjikan.
Momen Kebenaran: Sang Kamera
"Jadi?" Cedric meletakkan cangkirnya, matanya menyipit tajam. "Mana mainan yang kau banggakan itu?"
Randy memberi isyarat pada Harrison, yang menyerahkan sebuah kotak kayu kecil. "Ini masih prototipe. Aku menyebutnya... Kamera."
Randy meminta Cedric dan Miranda duduk berdekatan di sofa. Keduanya tampak canggung—terutama Miranda yang wajahnya sedikit memerah—saat harus merapat demi instruksi Randy.
"Tolong tersenyum," ucap Randy sambil mengintip dari jendela bidik.
Ceklek!
Randy segera melakukan proses kilat: mencelupkan kertas fotosensitif ke dalam larutan fiksatif Ghost terbaru dan membiarkannya mengering secara sihir. Beberapa saat kemudian, ia menyerahkan selembar kertas tebal kepada Cedric.
Cedric dan Miranda terpaku. Di atas kertas itu, terpampang gambar mereka berdua dengan detail yang sangat akurat, bahkan helai rambut Miranda dan binar mata Cedric tertangkap sempurna.
"I-ini... ini kami?" bisik Miranda tak percaya.
Cedric membeku. Sebagai seorang jenius bisnis, ia langsung melihat potensi kehancuran dunia (dan potensi keuntungan tak terbatas) dari alat ini. Namun, sebagai seorang siscon, pikirannya langsung melompat ke satu hal.
"Randolph... ikut aku sebentar," Cedric menarik Randy ke pojok ruangan dengan wajah sangat serius.
"Ini masih prototipe, Kak," Randy mencoba menjelaskan, namun ia justru mengeluarkan beberapa lembar foto dari sakunya. Foto-foto Liz.
Ada foto Liz yang sedang bingung, Liz yang cemberut, hingga Liz yang tertawa lebar seperti bunga mekar. Tangan Cedric gemetar. Ia mencoba meraih foto-foto itu seperti seorang pria yang menemukan air di gurun pasir.
Hup! Randy menarik kembali foto-foto itu ke sakunya.
"Berapa?" tanya Cedric dengan suara rendah yang penuh tekanan. "Sebutkan harganya."
"Gratis," Randy menyeringai nakal.
Cedric mengerutkan kening dalam-dalam, lalu mendekat ke telinga Randy. "Aku tidak akan mengizinkanmu menikahinya. Ini terlalu cepat! Kau terlalu berbahaya jika memegang 'senjata' semacam ini!"
Randy hanya bisa melongo. Menikah? Siapa yang bahas soal menikah?
"Sudahlah, Kak. Mereka memandangmu seperti orang mencurigakan," Randy menunjuk ke arah Liz dan Miranda yang memperhatikan mereka dengan heran.
Cedric berdehem, mencoba kembali tenang. Namun saat Randy memberikan sebuah foto terbalik padanya sebagai "hiburan," Cedric membukanya dengan semangat—hanya untuk menemukan wajah Harrison yang sedang menguap lebar. Cedric melemparkan foto itu dengan jijik.
Pembicaraan Berat: Esensi Hantu
Suasana kembali serius saat Randy duduk kembali. Senyum jahilnya hilang, digantikan oleh tatapan tajam yang membuat Cedric waspada.
"Kak, alasan sekolah diliburkan sebenarnya berhubungan dengan apa yang baru saja aku temukan," ucap Randy pelan.
Cedric mencondongkan tubuh. "Tentang hantu-hantu di gedung tua?"
"Ya. Identitas asli hantu... itu lebih rumit dan lebih besar dari yang kita duga. Mereka bukan sekadar arwah, tapi akumulasi imajinasi dan energi magis yang terkontaminasi," Randy mulai menjelaskan hasil eksperimennya dengan Annabelle.
Cedric memandang adiknya dengan tatapan baru. Ia menyadari bahwa "mainan" ini bukan sekadar alat pengambil gambar, melainkan instrumen yang akan mengungkap rahasia terdalam dunia mereka. Pertemuan bisnis yang awalnya santai itu kini berubah menjadi diskusi strategi tingkat tinggi yang akan menentukan masa depan mereka di akademi.