Rahasia Masa Kecil dan Godaan Sang Kawan Lama
"Apa hal memalukan seperti itu benar-benar terjadi?" "Demi Dewa, setiap kata yang kuucapkan adalah kebenaran, Lady Cecilia." "Hei, Luke! Tutup mulutmu atau aku akan melemparmu keluar dari kereta ini!"
Mendengar gertakan Randy, Luke hanya mengedipkan mata jenaka ke arah Cecilia dan Liz. "Lihat? Dia selalu menggunakan otot jika rahasianya terbongkar."
Saat ini, mereka berempat berada di dalam kereta kuda milik keluarga Heartfield menuju asrama putri. Rencana awal untuk mengunjungi Klub Penelitian Hewan Ajaib terpaksa ditunda demi membantu Cecilia mengemas barang-barangnya. Meskipun asrama putri terlarang bagi laki-laki, Randy dan Luke tetap ikut untuk membantu mengangkut tas-tas ajaib yang berat ke vila keluarga Heartfield di ibu kota.
Di sepanjang perjalanan, Luke tampak sangat menikmati peran barunya sebagai pengungkap aib masa kecil Randy.
"Dia bilang sedang 'latihan keras', tapi sebenarnya dia tersesat di Hutan Terkutuk dan baru berani pulang seminggu kemudian dengan wajah belepotan lumpur," tawa Luke pecah. "Belum lagi saat dia menghancurkan gerbang belakang rumah hanya karena ingin mencoba tendangan baru yang dia pelajari dari buku tua."
Cecilia menatap Randy dengan saksama. "Jadi... dia memang sudah 'ajaib' sejak dulu?"
"Ajaib? Dia monster cilik, Milady," sahut Luke sambil menyeringai. "Saat pertama kali kami bertemu, alih-alih menyapa dengan sopan, bocah ini malah menunjuk hidungku dan berkata: 'Mulai hari ini, kau adalah bawahanku.'"
Percakapan Dua Pria di Gerbang Asrama
Kereta berhenti di depan gerbang asrama putri. Randy segera melompat keluar, lalu menoleh ke arah Luke dengan tatapan menantang. "Hei, Luke. Sini sebentar. Ada yang perlu kubicarakan."
Luke mengangkat bahu, berpamitan sopan pada para gadis, lalu mengikuti Randy ke sisi gerbang. Begitu mereka hanya berdua, Randy bersandar pada tiang batu dan melirik Luke.
"Kau benar-benar tidak bisa menjaga wibawamu, ya? Mencoba mencari istri di kerajaan orang dengan menjual aib masa kecilku?" sindir Randy.
Luke tertawa lebar. "Aku hanya ingin melihat seberapa jauh 'saudara kecilku' ini sudah tumbuh. Tapi jujur saja, Randy... gadis berambut perak di sampingmu itu persis tipemu, kan? Dan ksatria penyihir yang galak itu juga pesaing kuat. Jadi, siapa yang akan kau nikahi nanti?"
"Jangan bicara sembarangan," dengus Randy sambil memalingkan muka. "Pikirkan saja nasibmu sendiri. Bukankah kau dulu terkenal sebagai 'penakluk wanita' di wilayah Victor yang menggoda setiap gadis desa?"
"Itu masa lalu yang kelam," Luke membalas dengan senyum masam.
Keheningan sesaat menyelimuti mereka sebelum Randy bertanya dengan nada yang lebih serius. "Tapi Luke... apakah kau benar-benar tidak keberatan? Seorang pangeran sepertimu, berakhir menjadi ksatria pengawal di wilayah pinggiran?"
Luke menatap Randy dengan mata yang jernih. "Aku bukan lagi pangeran Highland. Aku adalah ksatria Victor... ah, sekarang ksatria Heartfield. Aku melayani atas keinginanku sendiri, Randy."
Randy menghela napas panjang. Ia tahu Luke memiliki hak atas takhta di utara, namun Luke memilih untuk menetap di dunia yang "rusak" karena ulah Randy. "Jika kau ingin merebut kembali hakmu, katakan padaku. Aku dan ayahku akan mendukungmu sampai titik darah terakhir."
"Tidak perlu," Luke menepuk bahu Randy dengan keras. "Melihatmu mengguncang politik kerajaan dengan bisnis daging babi dan serum kecantikan sudah cukup menghibur bagiku. Kau membuat wilayah kita tidak lagi dikucilkan, meskipun caranya sangat eksentrik."
Ledakan Godaan Randy
Beberapa saat kemudian, Cecilia dan Liz keluar dari asrama membawa barang-barang terakhir. Prosesi pemindahan pun selesai. Luke membantu Cecilia naik ke kereta, menunjukkan tata krama ksatria yang sempurna.
(Mereka benar-benar serasi,) batin Randy sambil menatap keduanya. Luke yang tampan dan Cecilia yang anggun tampak seperti lukisan yang indah.
Saat pintu kereta akan tertutup, Randy tiba-tiba mendekat ke jendela dengan senyum licik yang paling menyebalkan.
"Sampai jumpa besok, Luke! Pastikan kau menjaga Lady Cecilia dengan baik... kau tahu kan, ksatria harus melayani wanita yang dicintainya dengan sepenuh hati?"
"H-hah?!" Wajah Cecilia langsung memerah padam.
"Bajingan kau, Randy—!" Luke tergagap, kehilangan ketenangannya untuk pertama kali hari itu.
"Kenapa kalian panik begitu?" Randy tertawa penuh kemenangan saat kereta mulai bergerak. "Aku kan bicara tentang 'cinta' seorang ksatria kepada tuannya! Kecuali... kalian punya definisi lain?"
Kereta itu menjauh dengan suasana yang dipastikan akan sangat canggung di dalamnya. Randy melambaikan tangan dengan riang, sementara Luke memberikan tatapan "kau-akan-mati-besok" dari jendela.
"Kau benar-benar jahat, Randy," ujar Liz sambil menghela napas, meski matanya memancarkan rasa geli.
"Hahaha! Itu cara kawan lama menunjukkan kasih sayang, Liz. Lagipula, melihat Luke yang biasanya tenang jadi panik seperti itu adalah pemandangan terbaik tahun ini!"
Randy tertawa lepas, mengabaikan Ellie yang bergumam tentang betapa buruknya kepribadian Randy. Di balik candaan itu, Randy merasa lega. Sahabatnya telah kembali, dan meskipun badai politik mungkin akan menerjang, ia tahu ia tidak akan menghadapinya sendirian.