Mahkota Nilai Sempurna dan Kedatangan Sang Kawan Lama
Seminggu setelah renovasi kamar mandi yang melelahkan—dan saat ketegangan insiden pembunuh bayaran mulai memudar dari ingatan—kehidupan di Akademi Alexandria kembali ke ritme normalnya. Semester kedua kini memasuki puncaknya, dan udara di koridor sekolah mulai dipenuhi desas-desus antusias tentang Budayasai (Festival Budaya).
Di akademi ini, hierarki sosial yang kaku sering kali mencair selama festival. Jika di hari biasa para bangsawan tinggi mendominasi, di festival sekolah, justru rakyat jelata dan bangsawan rendah yang menjadi bintang lewat kedai-kedai makanan yang ramai dan pameran klub yang kreatif. Sementara itu, para lajang sibuk berhias, berharap pesta dansa penutup semester akan menjadi panggung bagi pernyataan cinta mereka.
Namun, di tengah keriuhan itu, Randy masih setia pada obsesi barunya.
Misi Rahasia: Mengalahkan Sang Jenius
"Teleskop, ya?" Randy bergumam sambil mengamati sebuah alat optik.
"Jika Anda ingin membuat lensa, bukankah lebih mudah bertanya pada Kak Cedric?" saran Liz yang berjalan di sampingnya.
Randy menggeleng tegas. "Tidak. Proyek ini punya misi khusus: memberikan kejutan besar pada Cedric. Kalau aku bertanya padanya sekarang, dia pasti akan langsung paham konsep kamera, lalu dia akan mengambil alih semuanya demi mendapatkan foto-foto terbaikmu. Aku ingin menunjukkan hasil jadinya padanya dan berkata, 'Lihat, aku bisa melakukan ini tanpa bantuanmu!'"
Liz terkekeh melihat sisi kompetitif Randy yang kekanak-kanakan. "Lalu, bagaimana dengan bahan fotosensitifnya? Bukankah itu butuh reaksi kimia yang rumit?"
Randy menghela napas. Pengetahuannya tentang kamera hanya sebatas lensa, rana, dan film. Ia tidak punya latar belakang kimia untuk menciptakan kertas foto. Namun, pertanyaan Liz justru memicu kilat di kepalanya.
"Tunggu... ini bukan Jepang modern. Ini dunia sihir!" Randy menepuk tangannya keras hingga menarik perhatian siswa lain. "Liz, apakah ada monster yang bisa berubah warna saat terkena cahaya?"
"Itu dia!" Liz tersenyum bangga. "Monster atau tanaman ajaib tertentu pasti memiliki sifat seperti itu. Kenapa kita tidak bertanya pada klub 'Masyarakat Penelitian Hewan Ajaib' sepulang sekolah?"
Tragedi di Papan Pengumuman
Saat mereka tiba di gerbang gedung utama, lautan manusia sudah menyemut. Hasil ujian tengah semester baru saja dipasang. Di era ini, memajang nilai secara publik adalah cara terbaik untuk memicu persaingan—atau mempermalukan mereka yang malas.
"Seperti kaleng sarden yang dipaksa masuk," gumam Randy. Beruntung, postur tubuhnya yang tinggi membuatnya bisa melihat papan itu tanpa harus berdesakan.
Ia mencari namanya dari urutan paling bawah.
"Oh! Aku naik peringkat!" seru Randy bangga. Ia memang masih berada di kelompok bawah, tapi setidaknya posisinya merangkak naik berkat bimbingan belajar privat dari Liz.
"Lalu, namaku di mana?" tanya Liz polos.
Randy menggeser pandangannya ke urutan paling atas. Dan di sana, di puncak tertinggi tahun kedua, nama Elizabeth Victor tertulis dengan tinta emas dengan angka 500. Nilai sempurna. Ia melampaui Pangeran Edgar, Catherine, bahkan Dario yang hanya meraih 490.
"Kali ini soalnya relatif mudah, ya," ujar Liz sambil tersenyum tulus, tanpa bermaksud pamer.
"Ada seorang tuan yang nilainya lebih rendah dari pelayannya sendiri," bisik Ellie dari dalam kalung dengan nada mengejek.
Randy hanya bisa terdiam, meratapi nasibnya sebagai majikan yang secara intelektual "dijajah" oleh pelayannya sendiri. Sebelum kerumunan menyadari bahwa sang peraih nilai sempurna ada di sana, Randy segera menarik tangan Liz untuk menjauh.
Kepulangan Sang Pengawal Baru
Di saat yang sama, sebuah kereta mewah melintasi jalan menuju ibu kota. Di dalamnya, Cecilia von Hartfield tampak bercakap-cakap dengan seorang pemuda yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Jadi, ini pertama kalinya Anda ke ibu kota, Tuan Luke?" tanya Cecilia ramah.
Pemuda bernama Luke itu tersenyum lebar, matanya memancarkan kecerdasan yang liar. "Benar, Milady. Dan saya harus berterima kasih pada si bodoh Randy itu. Berkat kekacauan yang ia buat, saya bisa berakhir di sini sebagai pengawal Anda."
"Hehehe, Anda bicara seolah-olah kalian berteman dekat."
"Oh, hubungan kami jauh lebih rumit dari sekadar teman, Milady. Kami adalah kawan lama dalam penderitaan," jawab Luke dengan tatapan yang sulit ditebak.
Luke adalah pria yang seharusnya menjadi musuh atau sekutu kunci Randy dalam alur waktu asli dunia ini. Namun, karena campur tangan Randy yang tidak sengaja mengubah nasib banyak orang, Luke kini muncul lebih awal—bukan sebagai pengelana biasa, melainkan sebagai pengawal tangguh Cecilia yang telah diakui oleh Alan dan Harrison.
Pion baru telah diletakkan di papan catur Alexandria, dan Randy, yang saat ini sedang bingung mencari "monster fotosensitif", sama sekali tidak menyadari bahwa kawan lamanya telah tiba untuk mengacaukan ketenangannya.