Mahakarya Kayu Hinoki dan Diplomasi Air Hangat
Meskipun Randy terobsesi ingin membuat kamera, ia terbentur masalah bahan. Lensa mungkin bisa dicopot dari teleskop, tapi komponen lainnya masih kabur di kepalanya. Akhirnya, daripada pusing, ia memutuskan untuk mengeksekusi proyek yang sudah ia dambakan sejak pindah: Ekspansi Kamar Mandi.
Karena lahan utama rumah sudah penuh, Randy merancang bangunan tambahan (annex) di halaman belakang yang dihubungkan dengan selasar beratap. Visinya jelas: ia ingin membangun Onsen pribadi bergaya Jepang yang ia rindukan dari kehidupan masa lalunya.
Setelah seharian berkutat dengan pipa dan struktur kayu, gubuk kecil itu akhirnya berdiri. Sebuah perpaduan arsitektur timur dan barat yang unik, tersembunyi dengan aman di balik pagar halaman belakang yang tinggi.
"Bentuknya agak aneh, tapi suasananya... menenangkan," gumam Randy puas.
Konflik Hak Mandi
Begitu pintu geser dibuka, aroma harum kayu Hinoki langsung menyergap indra penciuman. Di dalam sana terdapat bak mandi kayu yang luas, cukup untuk dua orang dewasa bersantai tanpa perlu menekuk kaki.
"Aku sudah menduganya... tapi ini benar-benar keterlaluan indahnya," ujar Liz dengan tatapan tak percaya.
"Saya setuju," timpal Rita, pelayan mereka, dengan nada sedikit protes. "Tidak adil jika hanya Tuan Muda dan Tuan Harrison yang bisa menikmati kemewahan seperti ini setiap hari."
Randy membusungkan dada. "Dengar, Rita. Aku ini majikanmu, tahu."
"Majikan kami yang sebenarnya adalah Tuan Besar Alan, bukan Anda," sahut Harrison telak, membuat Randy langsung lesu.
"Kalian tidak mengerti!" seru Randy sambil melompat masuk ke bak kering untuk berdemonstrasi. "Bayangkan pulang dalam keadaan letih, lalu berendam di sini sambil menatap langit malam melalui atap terbuka ini. Aku bahkan berencana memasang alat sihir pendingin di pojok sana untuk menyimpan anggur buah dingin!"
Mata Harrison berbinar. "Anggur buah dingin saat berendam...? Ide yang brilian."
"Tentu saja brilian! Tapi kami juga bisa lelah, Tuan Muda!" Rita tetap bersikeras. Diskusi buntu, sampai Liz memberikan solusi sederhana yang membuat semua orang terdiam.
"Um... kenapa kita tidak bangun satu lagi saja di sebelahnya?"
Randy, Harrison, dan Rita serempak menepuk dahi. Benar juga. Mengapa mereka harus berebut jika bisa membangun dua?
Invasi Kilat ke Kediaman Victor
"Semua bawahanku ternyata berotak burung," ejek Ellie dari dalam kalung.
Randy mengabaikan hinaan itu karena ia butuh bantuan sang Penyihir Agung. "Simpan ejekanmu, Ellie. Sekarang, gunakan Teleportasi-mu. Kita butuh lebih banyak kayu Hinoki!"
SWOOSH!
Dalam sekejap, mereka muncul di halaman belakang kediaman utama keluarga Victor. Alan Victor yang sedang bersantai hampir menjatuhkan cangkir tehnya saat melihat putra dan putrinya muncul entah dari mana.
"Ini keadaan darurat!" seru Randy. "Situasi kritis!" sahut Harrison. "Maaf, Ayah, kami pinjam kayunya sebentar!" Liz membungkuk sopan sebelum ikut membantu Randy menebang dahan pohon Hinoki di bukit belakang rumah mereka.
Hanya dalam hitungan menit, mereka sudah memanggul tumpukan kayu berkualitas tinggi. "Oke, bahan cukup. Ayo pulang!" perintah Randy, dan mereka menghilang kembali dalam cahaya teleportasi, meninggalkan Alan dan Keith yang bengong seperti baru saja dilewati badai.
Harmoni di Balik Dinding Kayu
Di bawah langit yang mulai memerah jingga, pekerjaan gila itu berlanjut. Dengan bantuan sihir konstruksi Liz dan kekuatan fisik Randy, bangunan kedua selesai dengan kecepatan yang melanggar hukum fisika. Kini, terdapat dua kamar mandi yang berdiri berdampingan, dipisahkan oleh dinding kayu yang kokoh.
Malam itu, uap panas mulai mengepul. Randy menjadi orang pertama yang menceburkan diri ke sisi pria.
"Aaaah... aku hidup kembali..." Suaranya terdengar seperti kakek-kakek yang puas, tapi ia tidak peduli. Tubuhnya yang lelah setelah bekerja seharian seolah meleleh di dalam air hangat.
"Aku bisa mendengar suaramu, Randy!" Suara Liz terdengar jernih dari balik dinding. Rupanya ada celah ventilasi di bagian atas yang memungkinkan suara merambat di antara kedua kamar mandi.
"Oh, Liz? Baguslah. Besok kita buat taman kecil di luar jendela geser itu agar pemandangannya lebih cantik," teriak Randy.
"Ide bagus! Aku setuju!" jawab Liz riang, diikuti suara kecipak air yang menenangkan.
Di tengah keheningan malam ibu kota, di sebuah rumah kecil yang tersembunyi, suara tawa dan obrolan ringan antara kakak-adik dan pelayan mereka terus mengalir. Tanpa batasan kasta atau aturan kaku bangsawan, mereka menikmati kemewahan yang mereka ciptakan sendiri.
"Ah, mandi memang pencapaian tertinggi peradaban manusia," gumam Randy sambil menatap bintang-bintang di sela uap panas.
"Jangan bicara filosofis saat telanjang, bodoh," sahut Ellie sinis, meski ia sendiri tampak menikmati uap hangat yang merambat ke kalungnya.