Header Ads Widget

Episode 39: Bisnis berjalan seperti biasa meskipun ada pembunuh bayaran yang berkeliaran.

 


Markas Baru dan Proyek "Kotak Ajaib"

"Baiklah, aku berangkat!" "Hati-hati di jalan. Sisanya serahkan pada kami!"

Randy yang masih setengah mengantuk dan Liz yang sudah segar benderang melangkah keluar dari gerbang rumah baru mereka. Di ambang pintu, dua sosok melambaikan tangan: Rita, pelayan setia yang kini merangkap manajer rumah tangga, dan Harrison, ksatria yang ditugaskan Lucien untuk mengawasi keamanan (sekaligus mengawasi agar Randy tidak macam-macam).

Kedatangan Randy ke rumah ini semalam adalah sebuah tragedi komedi. Ia tersesat selama dua jam hanya karena mempercayai petunjuk jalan dari seorang pemabuk, padahal rumah ini terletak tepat di belakang gang seberang penginapan lamanya.

"Anak muda terkadang bisa sangat bodoh, ya?" Harrison berkomentar pedas semalam saat Randy tiba dengan wajah lelah.

"Dia tidak 'terkadang' bodoh, Harrison. Dia selalu bodoh," Ellie menimpali dari dalam kalung dengan tawa mengejek yang melengking.

Meskipun malam kepindahan itu kacau, rumah ini adalah bukti nyata pengaruh keluarga Marquis. Cedric mengatur administrasinya dalam waktu semalam, sementara Lucien menyediakan dana tanpa bertanya. Properti ini kini atas nama Randy hingga ia lulus.

(Aku harus mengembalikan uang Yang Mulia secepat mungkin,) batin Randy. Ini bukan sekadar soal utang, tapi soal harga diri pria. Cedric adalah lawan yang terlalu tangguh; Randy tidak ingin merasa "berhutang" lebih dari yang seharusnya.


Kekaguman yang Berbahaya

"Ngomong-ngomong, Randy... bagaimana pendapatmu tentang Kakak setelah bertemu dengannya kemarin?" tanya Liz saat mereka berjalan menyusuri jalan utama menuju akademi.

Randy terdiam sejenak. "Dia... luar biasa. Benar-benar jenius."

Liz berseri-seri mendengar pujian itu. "Benarkah?"

"Ya. Dia baru dua puluh tahun, tapi pikirannya sangat fleksibel. Bahkan dengan pengetahuanku dari 'tempat lain', aku merasa dia bisa melampauiku dalam hal strategi politik hanya dalam waktu singkat. Ditambah lagi, kemampuan pedangnya..." Randy tersenyum kecut. "Dia memiliki bakat surgawi, tapi tetap bekerja lebih keras dari siapa pun. Dia tipe orang yang membuat pria lain merasa cemburu sekaligus iri."

Liz tertawa kecil. "Kamu terdengar cukup kompetitif, ya?"

"Tentu saja. Mengaguminya bukan berarti aku mau kalah darinya," jawab Randy sambil meregangkan badan. "Lagipula, sekarang kita punya markas sendiri. Kita bisa mulai merenovasi bengkel kerja di sana. Aku ingin membuat prototipe alat ajaib yang lebih kompleks."

"Seperti kamar mandi terpisah untuk pria dan wanita?" Liz bertanya dengan antusias.

"Itu prioritas utama! Tapi setelah itu... aku punya ide gila."


Guncangan di Akademia: Kamera dan Konspirasi

Di gerbang akademi, mereka bertemu Cecilia yang sudah menunggu dengan senyum nakal.

"Jadi, kalian sudah resmi tinggal bersama?" goda Cecilia, membuat Liz langsung tergagap dan wajahnya memerah padam.

Randy hanya bisa tersenyum masam, teringat pesan singkat di balik surat dari Marquis Lucien semalam: "Saya rasa saya mengerti." Tulisan tangan yang begitu intens itu seolah berteriak bahwa nyawa Randy ada di ujung tanduk jika sesuatu terjadi pada kesucian Liz.

Sambil berjalan menuju kelas, Randy mengamati sekeliling. Penjagaan akademi tampak lebih ketat. Miranda bekerja cepat; ia bahkan menempatkan salah satu agen bayangan keluarga Brauberg sebagai pelayan baru di akademi untuk menjaga Cecilia setelah serangan pembunuh bayaran kemarin.

"Jadi, apa proyek besar berikutnya, Tuan Randolph?" tanya Cecilia, mengalihkan perhatian Randy dari pengamatan intelijennya.

"Aku terpikir untuk menciptakan perangkat yang bisa menangkap satu momen dan mengubahnya menjadi gambar yang realistis," ujar Randy dengan binar ambisi di matanya. "Aku menyebutnya... Kamera."

"Menangkap momen? Menjadi gambar?" Liz dan Cecilia tampak bingung.

"Ya. Bayangkan jika aku bisa memotret wajah Cedric atau momen-momen penting dan mencetaknya dalam sekejap," Randy tersenyum lebar. Ia sebenarnya tidak tahu detail teknis kamera modern, tapi ia paham konsep dasarnya: lensa, rana, dan elemen fotosensitif. Di dunia ini, elemen itu bisa digantikan dengan material sihir.

Randy berpikir ini hanya proyek iseng untuk "pamer" pada Cedric. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di dunia yang dikendalikan oleh dogma agama dan citra suci, sebuah alat yang mampu merekam kebenaran visual tanpa rekayasa akan menjadi senjata yang sanggup mengguncang otoritas Gereja Suci hingga ke akar-akarnya.

"Yah, ini akan menjadi eksperimen yang panjang," pungkas Randy santai saat mereka memasuki ruang kelas.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter