Header Ads Widget

Episode 38: Marquisat - Sebagai Saudara, Sebagai Seorang Pria -

 


Sang Monster dan Alamat yang Hilang

Pertemuan antara Liz dan Cedric, kakak beradik yang terpisah oleh garis takdir, berlangsung hangat di dalam gedung putih itu. Mereka berbagi tawa, mengenang masa kecil, dan saling bertukar cerita tentang kehidupan saat ini. Namun, waktu adalah pencuri yang ulung. Senja telah berganti menjadi biru tua yang pekat saat Liz menyadari bahwa ia harus segera pulang.

"Aku tak percaya waktu berlalu secepat ini," Liz tersenyum menyesal sambil menatap langit malam dari jendela.

"Benar. Setidaknya, izinkan aku mengantarmu ke penginapan," ujar Cedric dengan nada berat, seolah tidak rela melepas adiknya. "Miranda—"

Miranda mengangguk sigap. Ia menuntun mereka menuruni tangga dan keluar dari toko. Di bawah temaram lampu jalan yang baru saja dinyalakan, Liz memiringkan kepalanya saat melihat sesosok pemuda yang bersandar santai di tembok.

"Randy? Kau menungguku?" tanya Liz dengan binar kegembiraan di matanya.

Cedric mendadak memasang wajah serius. Di sisi lain, Randy hanya mendengus santai. "Cuma kebetulan lewat saja."

Liz mendekat, hidungnya mengendus sesuatu. "Randy... ada yang aneh. Apa terjadi sesuatu?"

Randy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah... Ellie bilang dia mencium bau darah, ya? Padahal aku sudah mencoba membersihkannya." Ia menghela napas panjang. "Tadi aku cuma bermain sebentar dengan beberapa ekor 'anjing liar'."

Liz menunduk, ekspresi bersalah menghiasi wajahnya. Ia tahu persis siapa "anjing liar" yang dimaksud Randy. Namun, Randy segera menepuk bahu adiknya itu. "Jangan khawatir. Bukan salahmu jika mereka memutuskan untuk datang menjemput ajal."

Randy kemudian berpaling ke arah Cedric. Ia membungkuk dengan tata krama yang begitu sempurna—sebuah kontras tajam dengan sikap santainya tadi. "Saya akan mengambil alih penjagaan dari sini."

"Begitu, ya. Baiklah, aku percayakan adikku padamu," jawab Cedric dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

Sebelum Randy pergi, Cedric memanggilnya sekali lagi. "Randolph! Ada pesan dari ayahku. Beliau bilang, 'Memberikan keamanan di hotel biasa akan sulit'."

Cedric menyerahkan sebuah surat dengan segel lilin keluarga Marquis Brauberg. Di dalamnya terdapat sebuah alamat. Lucien rupanya telah menyiapkan sebuah rumah pribadi di ibu kota sebagai basis operasional mereka—sebuah tempat di mana akses masuk bisa dikontrol sepenuhnya.

"Kami sudah mengatur ksatria dan pelayan di sana. Meski untuk saat ini, jumlahnya masih terbatas," tambah Cedric dengan nada frustrasi. Baginya, membayangkan Liz tinggal di bawah satu atap dengan Randy adalah siksaan mental tersendiri.

"Baiklah. Aku akan mengambil barang-barang di penginapan dulu. Tuan Cedric, tolong antar Liz ke alamat ini lebih dulu," saran Randy.

Seketika, wajah Cedric berseri-seri. Efek suara "cling!" seolah terdengar di udara. "Tentu saja! Ayo, Liza, kita berangkat!"


Analisis Sang Bayang: Monster di Balik Wajah Desa

Di dalam kereta yang membawa mereka pulang, Cedric menatap jalanan ibu kota yang mulai sepi.

"Nona Elizabeth terlihat sangat bahagia," gumam Miranda.

"...Ya," jawab Cedric singkat.

"Itulah sebabnya prospek pernikahan Anda selalu gagal, Tuan muda. Anda terlalu sibuk membanggakan adik Anda di depan para pelamar," sindir Miranda tajam.

"Diamlah, kau berisik sekali!" Cedric mendecak, namun kemudian ekspresinya berubah drastis. Matanya berubah tajam saat menatap Miranda. "Miranda... menurutmu, bisakah kau mengalahkannya?"

Miranda terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Sebagai pemimpin bayangan keluarga Marquis yang pernah menghadapi ksatria sekelas Harrison Walker, ia memiliki insting yang tajam.

"Tuan muda... Anda sedang bercanda," jawab Miranda datar. "Aku tidak akan bisa menyentuhnya."

"Hahaha, kupikir juga begitu," Cedric menghela napas, raut wajahnya tampak sedikit sedih. "Aura pemuda itu... benar-benar tidak masuk akal."

Cedric teringat jabat tangan mereka tadi. Dalam gelombang niat membunuh yang dilepaskan Randy dalam sekejap, Cedric memahami satu kebenaran mutlak: Jika aku benar-benar menyerangnya tadi, akulah yang akan mati dalam satu gerakan.

"Lord Harrison Walker memang kuat secara fisik, tapi Lord Randolph..." Miranda mencari kata yang tepat. "Dia adalah monster yang sebenarnya. Ia memahami politik, ia jeli membaca niat orang, dan ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan apa pun, namun ia memilih untuk berpura-pura menjadi pemuda desa biasa."

Cedric mengangguk pelan. "Itu yang membuatku iri sekaligus takut. Ia tahu gaya hidup bangsawan tapi tidak mempedulikannya. Ia adalah anomali."

"Lalu kenapa Anda tidak memujinya di depan Nona Elizabeth?" tanya Miranda jengkel.

"Bodoh! Jika aku memujinya, Liza akan langsung jatuh cinta padanya!" seru Cedric sambil menutup telinganya. "Aku belum siap kehilangan adikku secepat ini!"

Miranda hanya bisa menghela napas pasrah melihat sisi Siscon tuan mudanya kambuh lagi.


Kekurangan Sang Monster

Sementara itu, Randy—pemuda yang disebut "monster" oleh para ahli intelijen dan "tidak konvensional" oleh jenius seperti Cedric—sedang berdiri di sebuah perempatan jalan.

"Duh... di mana ya alamatnya?"

Randy menggaruk kepalanya yang pening. Sebagai pemuda yang besar di pedesaan, struktur jalanan ibu kota yang rumit bagaikan labirin sihir tingkat tinggi baginya.

"Tadi pria mabuk itu bilang belok kanan... tapi kenapa aku malah sampai di pasar ikan?"

Randy, sang petarung yang bisa melumpuhkan pembunuh bayaran dalam sekejap tanpa berkeringat, kini benar-benar tak berdaya menghadapi selembar kertas alamat. Tampaknya, setiap "monster" memang memiliki kelemahan yang tak terduga.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter