Senja di Atas Genteng dan Tanda Tangan Darah
Lembayung senja mulai menyapu langit ibu kota saat Randy dan Cecilia keluar melalui pintu belakang toko. Antrean sudah jauh lebih pendek, hanya menyisakan beberapa wanita yang masih gigih menunggu giliran terakhir.
"Sudah cukup lama kita di dalam, ya?" Cecilia mendongak, menatap gradasi warna jeruk yang menyatu dengan biru malam. "Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan Randolph?"
"Entahlah," jawab Randy santai. "Mungkin mencari angin sebentar."
"Jika belum ada rencana, mau saya antar ke penginapan?" tawar Cecilia sambil menunjuk keretanya.
Randy menggeleng. "Terima kasih, tapi ini masih terlalu sore untuk mengurung diri di kamar. Aku ingin jalan-jalan sebentar."
Setelah Cecilia pergi dengan keretanya, Randy melambaikan tangan layaknya guru sekolah yang melepas muridnya. Namun, begitu kereta itu menghilang di belokan jalan, senyum santai Randy berubah menjadi tatapan tajam. Ia melirik sekilas ke arah atap bangunan di dekatnya.
(Hawa keberadaan ini... mereka tidak mengejar Cecilia. Targetnya pasti aku, Liz, atau kakaknya,) batin Randy.
Ia melangkah memasuki gang sempit yang sepi, sengaja memancing para pengejarnya. Benar saja, dua bayangan bergerak gesit di atas atap, mengikuti gerakannya. Namun, saat Randy mencoba memancing mereka ke area yang lebih terbuka, kedua bayangan itu justru berhenti dan menarik diri.
(Oh? Mereka cukup disiplin. Tidak mudah terpancing, ya?)
Randy mendecak kecewa. Ia tadinya berharap bisa melakukan adegan keren seperti di film-film aksi. Tapi jika musuhnya tidak mau mendekat, maka dia yang akan mendatangi mereka.
Kejar-kejaran di Atas Langit
BRAK!
Randy meledakkan kecepatannya. Ia menendang dinding gang, melompat tinggi, dan mendarat di atas atap tepat di depan kedua sosok berjubah hitam itu.
"Hei, kalian penggemarku, kan? Mau pergi ke mana tanpa meminta tanda tangan?"
Dua sosok itu mengenakan jubah gelap dan tudung yang menutupi wajah. Klasik. Di bawah langit senja, penampilan mereka justru terlihat sangat mencolok. Bukannya menjawab, kedua orang itu langsung menghunus belati dan mengambil kuda-kuda rendah.
"Oh, jadi kalian tipe yang tidak suka bicara? Baik, aku akan sedikit kasar."
DUM!
Randy melesat. Kekuatan tendangannya membuat beberapa genteng terlempar. Dalam sekejap, jarak antara mereka menjadi nol.
"Apa—?!"
Salah satu pria itu terbelalak, namun Lariat tangan kanan Randy sudah menghantam kepalanya dengan telak. Pria itu berputar di udara seperti gasing sebelum mendarat dengan kepala terlebih dahulu di atas atap.
"Aduh..." Randy meringis melihat kerusakan pada atap rumah warga. "Maaf ya, Pak Tua pemilik rumah. Aku akan memperbaikinya segera."
Sambil tetap waspada pada musuh kedua, Randy dengan cepat mengambil serpihan genteng yang pecah. Menggunakan skill produksinya yang cekatan, ia menyusun kembali genteng-genteng itu ke posisi semula seolah tidak pernah terjadi apa-apa. "Fiuh, untung aku selalu bawa peralatan kerajinan."
Penyelesaian yang Brutal
Musuh kedua tidak membuang waktu. Ia melompat menyeberangi gang, muncul di belakang Randy, dan menghujamkan belati ke bawah. Randy menoleh tanpa panik. Ia menangkis lengan lawan dengan tangan kiri, lalu menangkap lengan kanan pria itu di ketiaknya.
KREK!
Dengan satu sentakan bahu yang kuat, Randy menghancurkan siku pria itu. Belum sempat pria itu berteriak, lutut kiri Randy sudah menghantam tulang belakangnya, menekuk tubuhnya ke arah yang tidak alami.
"Kalian benar-benar tidak mau bicara, ya?" gumam Randy sambil memanggul kedua tubuh lemas itu di pundaknya.
Ia melompat menuju gedung toko tadi, tempat ia merasakan ada tiga kehadiran lain yang sedang mengawasi dari kejauhan.
GEDUBUK!
Randy menjatuhkan kedua tawanan itu di depan tiga pria berjubah lain yang sedang bersembunyi. Mereka terkejut, tidak menyangka keberadaan mereka telah diketahui.
"Dia tidak mau bicara, jadi aku membawanya kemari. Mungkin kalian lebih kooperatif?" Randy menyeringai.
Di saat yang sama, ia melirik ke arah jendela toko. Di sana, Miranda—wanita pelayan keluarga Brauberg—sedang mengawasi dengan tenang. Salah satu pembunuh mencoba melihat ke arah yang sama, namun tinju Randy sudah mendarat di puncak kepalanya, membantingnya ke lantai atap.
"Mari kita selesaikan ini dengan cepat."
Hanya butuh beberapa menit bagi Randy untuk melumpuhkan sisanya. Salah satu dari mereka mencoba menggunakan taktik umpan, namun Randy menendang rekan pria itu yang sudah pingsan ke arahnya, membuat keduanya bertabrakan. Randy kemudian mencengkeram kerah baju pria terakhir dan menginjak wajahnya ke atas atap.
Sinyal dan Serah Terima
Randy menghela napas, melihat "pembantaian" kecil yang baru saja ia lakukan. Ia menatap Miranda di balik jendela dan memberi isyarat. Tak lama kemudian, kepulan asap tipis naik dari belakang toko—sebuah sinyal.
Beberapa sosok muncul dari segala arah. Mereka berpakaian seperti rakyat jelata, namun gerakan mereka sangat terlatih.
"Tuan Randolph, saya menerima pesan dari Nona Miranda," ujar salah satu dari mereka sambil membungkuk hormat.
"Bagus. Tangkap orang-orang mencurigakan ini," ujar Randy singkat.
"Kami mohon maaf karena terlambat bertindak. Kami diperintahkan untuk memantau dari jauh."
Randy mengangguk. Ia mengerti bahwa Miranda dan Cedric mungkin punya rencana lain, tapi ia lebih suka menyelesaikan masalah sebelum menjadi rumit. Setelah menyerahkan para tawanan, Randy berdiri sendirian di atas atap, menatap langit yang kini telah sepenuhnya memerah.
"Ah, benar juga... aku lupa memperbaiki bagian genteng yang itu."
Suara Randy lenyap ditelan hiruk pikuk kota, seiring dengan hilangnya bayangan para pembunuh yang kini berada dalam pengawasan keluarga Brauberg.
0 Comments