Simbol Sigma dan Ujung Pedang sang Kakak
"Ahhh... akhirnya penderitaan ini berakhir!"
Randy melakukan peregangan maksimal di tengah gang akademi, tulang-tulangnya berderak nikmat. Di sampingnya, Liz menghela napas panjang. Ia tampak kelelahan, namun lebih karena merasa malu melihat tingkah laku Randy yang menarik perhatian orang lewat.
Ujian tengah semester telah usai. Lima mata pelajaran akademik—Matematika, Sejarah, Bahasa Kuno, Teori Sihir, dan Fisika Sihir—dijejalkan dalam satu hari yang brutal. Bagi kebanyakan siswa, ini adalah kebebasan. Bagi Randy, ini adalah evakuasi dari zona perang.
"Ngomong-ngomong, Randy... bagaimana hasil ujianmu?" tanya Liz hati-hati.
Bahu Randy berkedut hebat. Ia menoleh perlahan dengan tatapan sok bijak. "Dengar, Liz... seorang pria sejati tidak pernah menoleh ke masa lalu."
"Jadi kau gagal total," simpul Liz datar.
"Habisnya, apa-apaan simbol $\sum$ (Sigma) itu?! Itu bukan angka! Kenapa matematika harus menggunakan alfabet Yunani? Setidaknya berikan aku penjumlahan pecahan!" seru Randy frustrasi.
"Penjumlahan pecahan itu materi sekolah dasar, Randy..." Liz memijat pelipisnya.
Randy hanya bisa menutupi wajahnya. Di kehidupan sebelumnya, ia bukan akademisi, dan di dunia ini, otaknya seolah memiliki mekanisme pertahanan otomatis yang membuatnya mengantuk setiap kali melihat rumus kompleks.
"Teori sihirmu juga berantakan, Nak," cibir Ellie yang tiba-tiba muncul. "Padahal aku sudah menjelaskan semuanya seolah aku sedang menyuapi bayi."
"Diamlah! Ada beberapa hal yang tidak bisa kutelan meskipun kau sudah mengunyahnya sampai hancur!" balas Randy sengit. Masalahnya, Ellie menjelaskan teori sihir tingkat tinggi dengan standar "Dewa", sementara kurikulum akademi hanya menyentuh permukaan. Jelas saja Randy mengalami overload informasi.
Toko Putih di Tengah Kota
"Kalian terlambat."
Cecilia menyambut mereka dengan senyum tipis di depan sebuah bangunan putih bergaya Mediterania yang mencolok di antara deretan bangunan bata ibu kota. Ini adalah toko fisik pertama untuk produk kecantikan kolaborasi wilayah Brauberg dan Heartfield.
Antrean wanita mengular panjang di depan toko. Di tengah kerumunan itu, Randy sempat menangkap sosok berambut merah muda—Catherine Evans—yang baru saja keluar sambil mendekap kantong belanjaan dengan wajah panik, seolah-olah ia baru saja merampok bank daripada membeli serum kecantikan.
"Itu Nona Evans, kan?" gumam Cecilia.
"Biarkan saja," jawab Randy. Ia lebih tertarik pada suasana toko yang meledak. "Sepertinya bisnis ini akan membuat Marquis Brauberg menjadi orang terkaya di kerajaan."
Seorang wanita dengan seragam pelayan kelas tinggi muncul dari pintu belakang gedung. Ia menatap Liz sejenak dengan tatapan penuh arti, seolah menahan diri untuk tidak membungkuk hormat.
"Tuan Randolph, Nona Cecilia, dan... Nona Liz. Silakan masuk, beliau sudah menunggu."
Ujian dari Sang Kakak
Mereka menaiki tangga kayu yang harum menuju ruang privat di lantai atas. Saat wanita pemandu itu membuka pintu, atmosfer tiba-tiba menajam.
Sring!
Sebuah pedang lurus melesat secepat kilat ke arah Randy yang berada paling depan. Ujung pisau itu berhenti tepat satu milimeter di depan hidung Randy. Hembusan angin dari serangan itu menerbangkan poni rambut merahnya, namun mata Randy bahkan tidak berkedip.
"Randy!" Liz memekik kaget.
Randy menatap pemuda berwajah androgini yang memegang pedang itu. Wajah pemuda itu sangat mirip dengan Liz—elegan namun tajam.
"Apakah aku sudah cukup layak sebagai pengawal?" tanya Randy dengan seringai santai.
Cedric Brauberg, kakak laki-laki Liz, menurunkan pedangnya dan menyarungkannya dengan gerakan anggun. "Kenapa kau tidak menghindar?"
"Tidak ada niat membunuh dalam serangan tadi," jawab Randy sambil mengangkat bahu. "Hanya sebuah salam pembuka yang sedikit kasar."
Cedric tertawa renyah. "Luar biasa. Kau bisa membedakannya?"
"Aku sudah dilatih untuk merasakan hal-hal seperti itu," ujar Randy sambil melangkah maju dan mengulurkan tangan.
Saat mereka berjabat tangan, Randy sengaja melepaskan sedikit aura haus darah yang ia asah di Hutan Kejahatan. Seketika, suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat. Wajah Cedric dan wanita pemandu tadi sempat menegang sebelum Randy menarik kembali auranya dan tersenyum lebar.
"Sekali lagi, apakah aku cukup layak?"
Cedric tertegun sejenak, lalu membalas jabat tangan Randy dengan erat. Senyum tulus muncul di wajahnya. "Sangat layak. Terima kasih telah menjaga adik perempuanku yang berharga selama ini, Randolph Victor."
0 Comments