Header Ads Widget

Episode 34: Gereja Suci ~Mereka yang Merencanakan Kejahatan di Balik Bayangan~

 


Bayang-Bayang Gereja dan Benang Takdir yang Kusut

Agama Suci bukan sekadar keyakinan di benua ini; ia adalah fondasi peradaban. Bermula dari seorang gadis yang mengklaim mendengar suara dewi, ajaran ini menjanjikan surga bagi mereka yang berbuat baik—sebuah doktrin yang sangat efektif untuk mengendalikan massa.

Seiring waktu, penguasa yang awalnya menindas agama ini menyadari kekuatannya. Alih-alih memusuhinya, mereka menjadikannya alat legitimasi. Lahirlah "Agama Negara." Gereja Suci tumbuh menjadi raksasa yang bahkan bisa membuat kaisar bertekuk lutut dalam konflik pengangkatan imam. Namun, kekuasaan yang terlalu besar selalu melahirkan pembusukan.


Pertemuan Rahasia di Jantung Katedral

Di ruang pribadinya yang mewah di dalam katedral ibu kota, Paus duduk dengan perut buncit yang disangga kursi bertahtakan emas. Cincin permata di jari-jarinya yang tebal berkilau di bawah cahaya bulan. Ia terlihat lebih seperti pedagang tamak daripada seorang wakil dewi.

Di depannya, berdiri seorang siswa akademi yang wajahnya tertutup bayangan.

"Kau mau apa? Aku ada ujian besok," desah sosok itu dengan nada bosan.

"Kau tahu persis kenapa aku memanggilmu," geram Paus sambil menyesap anggur merahnya. "Rencana kita di wilayah Heartfield berantakan. Mengapa Marquis Brauberg begitu tenang? Seharusnya mereka sudah mulai mengangkat senjata sekarang!"

"Mungkin rencana itu memang cacat sejak awal?" Sosok itu tertawa mengejek. "Lagipula, Perdana Menteri Dill sedang dalam posisi sulit. Kekuasaannya melemah drastis karena masalah dengan keluarga mantan tunangan anaknya."

Paus mencondongkan tubuh, lemak di perutnya bergoyang. "Melemah? Bagus. Jika pusat tidak stabil, Gereja bisa masuk lebih dalam. Lalu, bagaimana dengan 'Santa' kita?"

"Dia?" Sosok itu menghela napas kesal. "Kalian menyebutnya 'milik kami,' tapi kalian hanya memandangnya sebagai pion."

"Jangan munafik, Chris Lowe," seringai Paus tajam. "Kau yang pertama kali membawa ide ini kepadaku."

Chris, putra angkat Menteri Kehakiman, memalingkan wajahnya yang dingin ke arah cahaya bulan. "Aku tidak ingat. Aku hanya ingin melihat kekacauan. Tunggu saja, sesuatu yang menarik akan segera terjadi."

Tanpa pamit, Chris berbalik dan menghilang ke kegelapan koridor, meninggalkan Paus yang tertawa kecil penuh ambisi untuk mengubah kerajaan ini menjadi miliknya sendiri.


Kepanikan Sang "Pahlawan Wanita"

Sementara itu, di asrama akademi, Catherine Evans sedang dilanda kecemasan hebat. Ia menatap buku catatan rahasianya yang berisi bocoran plot game.

"Ada yang salah... kenapa pemberontakan Marquis tidak kunjung dimulai?"

Catherine menuliskan nama: Chris Lowe.

Dalam ingatan Catherine, Chris adalah seorang hedonis sinis yang memiliki trauma masa lalu. Ia diadopsi oleh Abel Lowe—Menteri Kehakiman yang licik—hanya untuk dijadikan alat politik. Chris seharusnya menjadi mata-mata Paus sekaligus karakter yang nantinya akan "diselamatkan" oleh Catherine melalui rute asmara.

"Seharusnya setelah festival sekolah, Chris membantu Elizabeth dideportasi, lalu Marquis memberontak karena marah, dan aku muncul sebagai penyelamat yang menghancurkan korupsi gereja," gumam Catherine sambil menggigit kuku.

Namun, keberadaan Elizabeth yang sekarang—yang jauh lebih kuat dan mandiri—telah menghancurkan seluruh bendera peristiwa (event flags). Tanpa pengusiran Elizabeth, tidak ada pemberontakan. Tanpa pemberontakan, Catherine tidak punya alasan untuk mengambil alih otoritas Gereja.

"Elizabeth... kau benar-benar pengganggu," desis Catherine. Matanya menatap katedral di kejauhan. "Jika aku tidak bisa memicu plot aslinya, aku harus mencari cara lain untuk mengusik rakun tua itu dan Chris. Aku harus mendapatkan Gereja, apa pun taruhannya."


Realitas yang Berbeda: Sesi Belajar Menderita

Di tempat lain, di sebuah penginapan sederhana, Randy sedang menghadapi monster yang jauh lebih menakutkan daripada Armor Lizard: Ujian Teologi.

"Dan begitulah katedral ini dibangun sebagai simbol persatuan..." Liz menjelaskan dengan sabar, menunjuk buku teks di depan Randy.

"Ugh, katedral lagi? Bukankah itu cuma bangunan raksasa yang boros ruang?" gerutu Randy, kepalanya sudah berasap.

"Oh, yang itu? Pausnya sangat arogan dan aromanya busuk. Haruskah kita habisi saja dia agar ujian ini dibatalkan?" Ellie muncul tiba-tiba dengan usul yang sangat radikal.

"Tolong jangan katakan hal mengerikan seperti itu di tengah sesi belajar!" Liz panik, menepuk meja untuk mengembalikan fokus.

Liz menghela napas melihat Randy yang matanya sudah mulai layu. "Randy, apa kau mendengarkan?"

"I-iya! Dewi itu baik... surga itu indah... zzz..."

Plak!

Liz menepuk pipi Randy agar ia tidak pingsan karena kantuk. Di saat para petinggi negara sedang merencanakan konspirasi besar yang bisa menghancurkan kerajaan, sang "tokoh utama" kita sedang berjuang mati-matian hanya agar tidak mendapat nilai merah di ujian besok.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments