Header Ads Widget

Episode 33: Selingan - Fashionista Clarice

 


 Proyek Gaun dan Senjata Rahasia Keluarga Victor

Pada hari libur sekolah, Randy pulang ke rumah keluarga Victor bersama Liz dan Ellie. Awalnya, tujuannya adalah mendiskusikan strategi bisnis dengan ayahnya, Alan. Namun, ada pemandangan tak biasa di kantor ayahnya.

"Clarice, kenapa kau ada di sini?" tanya Randy sambil menaikkan alis.

Saudara perempuannya, Clarice, duduk di sudut ruangan dengan buku catatan tebal di pelukannya. Ia tidak bicara, hanya menatap Randy dan Liz dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Memangnya kenapa kalau aku di sini, Kak?" Clarice memalingkan wajah dengan ketus, namun sedetik kemudian ia melirik Liz lagi dengan binar penuh kerinduan.

Randy dan Alan saling bertukar senyum kecut. Mereka tahu Clarice selalu mendambakan sosok kakak perempuan untuk berbagi cerita. Randy kemudian melirik buku catatan yang dipegang erat oleh adiknya—buku yang berisi tumpukan sketsa rahasia.

Sebuah ide cemerlang melintas di kepala Randy.

"Randy, wajahmu terlihat licik sekali," tegur Alan.

"Ah, tidak. Aku hanya baru saja menemukan solusi untuk dua masalah sekaligus," jawab Randy santai. Ia berdeham dan menoleh pada adiknya. "Clarice, aku butuh bantuanmu untuk bisnis baru kita."

Clarice tersentak. "H-hah? Aku?"

"Hanya kau yang bisa melakukannya," ujar Randy sambil memberikan senyum paling meyakinkan. "Clarice, kenapa kau tidak mencoba mendesain gaun? Aku tahu buku itu penuh dengan gambar gaun impianmu, kan?"

Wajah Clarice memerah. Selama ini, karena keluarga Victor adalah bangsawan miskin, Clarice hanya bisa menumpahkan obsesinya pada pakaian putri dongeng ke dalam gambar. Sketsa-sketsa itu sebenarnya sangat artistik, namun ia tak pernah berani menunjukkannya.

"Dengan bantuan Liz—yang ahli dalam sihir produksi—dan sisa bahan dari gaun lama Ibu, kita bisa mewujudkan desainmu," lanjut Randy.

Mata Clarice berbinar. "Aku... aku ingin mencobanya!"

Liz pun tampak antusias. "Kedengarannya sangat menyenangkan. Mari kita tunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh imajinasi seorang gadis!"

Saat Clarice dan Liz meninggalkan ruangan sambil bergandengan tangan, Alan menatap putranya dengan takjub. "Kau sudah cukup mahir memanipulasi wanita sejak terakhir kali kita bertemu, ya?"

"Bukan manipulasi, Ayah. Sebut saja ini 'manajemen bakat'," jawab Randy sombong.


Transformasi di Ruang Tamu

Di sisi lain rumah, Grace Victor sedang menyeruput tehnya ketika putri dan "calon menantu"-nya datang menyerbu. Setelah mendengar penjelasan mereka, senyum Grace yang semula lembut berubah menjadi tatapan penuh semangat kompetisi.

"Gaun lama, ya? Baiklah, mari kita bongkar harta karun Ibu," ujar Grace.

Mereka pindah ke ruang resepsi yang kini dipenuhi tumpukan kain sutra dan renda dari gaun-gaun kenangan Grace. Ada gaun pesta pertamanya, hingga gaun yang ia pakai saat kencan pertama dengan Alan. Meski kuno, bahan-bahannya masih berkualitas tinggi.

"Bagaimana kalau kita buat ulang (remake)?" saran Liz. "Bukan sekadar kain, tapi mengubah napas gaun ini menjadi sesuatu yang modern."

Maka dimulailah "Festival Mode Keluarga Victor". Dengan bantuan sihir Liz, kreativitas Clarice, dan saran mengejutkan dari Ellie—roh kuno yang ternyata punya selera fashion yang tajam—ruangan itu berubah menjadi bengkel seni.

"Siluet ini... mari kita ubah dari model lonceng klasik menjadi A-line yang elegan," instruksi Liz.

"Tambahkan aksen renda di bagian bahu untuk mempertegas garis leher Ibu!" seru Clarice antusias.

"Dan gunakan pola asimetris untuk bagian bawahnya agar terlihat lebih tinggi," tambah Ellie dengan nada sok tahu.


Kembalinya Sang Ratu

Beberapa jam kemudian, pintu kantor Alan terbuka perlahan.

"Bagaimana menurut kalian?" tanya Grace dengan nada ragu yang jarang ia tunjukkan.

Alan dan Randy seketika terpaku. Pena di tangan Alan jatuh ke lantai. Di depan mereka berdiri dua sosok yang seolah keluar dari lukisan mahakarya.

Grace mengenakan gaun hasil remake yang memadukan kesan klasik dan tren terbaru dari ibu kota. Siluetnya yang ramping namun elegan membuat kecantikannya yang dewasa bersinar dua kali lipat lebih terang. Sementara Clarice mengenakan gaun gaya putri dengan rok berlapis yang memberinya aura bangsawan tinggi yang sombong namun manis.

"Hah? Ini... ini lebih luar biasa dari yang kubayangkan," gumam Randy. Ia menyadari satu hal: jika serum kecantikan adalah pedang, maka gaun ini adalah baju zirah yang tak terkalahkan. Bisnis ini akan meledak di pasar wanita.

Alan berdiri dan menghampiri istrinya. Ia memegang tangan Grace dan tersenyum tulus. "Kalian berdua selalu cantik setiap hari, tapi hari ini... kalian terlihat sangat menakjubkan."

"Ya, ya, aku berikan 100 poin untuk gaunnya, dan sejuta poin untuk pemakainya," sahut Randy sambil tertawa, menghindari pukulan main-main dari Clarice.


Pesta Teh yang Berantakan

Beberapa hari kemudian, Grace dan Clarice tiba di sebuah rumah besar milik bangsawan yang sebelumnya sempat meremehkan keluarga Victor.

Tujuan pesta teh itu sebenarnya adalah untuk mengejek "gadis-gadis desa" dari keluarga Victor yang baru saja naik daun. Namun, saat kereta kuda mereka terbuka, seluruh hadirin terdiam. Keheningan yang mematikan menyelimuti taman.

Para wanita bangsawan itu menatap dengan mata terbelalak, bukan karena ejekan, melainkan karena rasa iri yang membakar. Desain gaun yang belum pernah dilihat di ibu kota, dipadukan dengan kulit yang tampak berkilau akibat serum kecantikan, membuat Grace dan Clarice terlihat seperti keluarga kerajaan yang sedang berkunjung ke daerah terpencil.

Senyum Grace tetap anggun, namun di balik itu, ia seolah berkata: "Selamat datang di era baru keluarga Victor."


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments