Header Ads Widget

Episode 32: Selingan - Petualang Randy

 


Ekspektasi Isekai dan Realitas yang Memalukan

Fajar baru saja menyingsing ketika Randy dan Liz meninggalkan desa. Diantar oleh lambaian tangan kepala desa yang masih berbau sisa pesta semalam, keduanya melangkah kembali ke hutan. Misi mereka hari ini: menemukan "predator" yang telah mengusir para Orc hingga ke pinggiran pemukiman.

"Hutan ini tidak terlalu luas. Seharusnya tidak sulit menemukan penghuninya," gumam Randy.

Namun, pemandangan di depan mereka mulai berubah. Pohon-pohon besar tumbang dengan batang yang hancur, mayat-mayat Orc berserakan dengan luka benturan hebat, dan jejak kaki raksasa bersegmen membekas dalam di tanah. Di tengah sebuah kliring yang terbuka, seekor kadal raksasa dengan panjang lebih dari tiga meter tampak sedang berjemur. Kulitnya berupa lempengan logam yang berkilau redup di bawah sinar matahari.

"...Kadal Lapis Baja (Armor Lizard), ya?" gumam Randy.

Sesosok roh kecil muncul di pundaknya. Ellie menguap lebar, melirik monster itu dengan tatapan menghina. "Cuma kadal lemah ini? Aku tidur lagi saja," ucapnya sebelum menghilang kembali ke dalam kesadaran Liz.


Pukulan Satu Inci

Armor Lizard biasanya berada di peringkat D hingga C. Kerangka luar metaliknya adalah mimpi buruk bagi petualang fisik, karena senjata biasa akan mental saat menghantam tubuhnya. Namun, individu di depan mereka ini jelas merupakan "Varian" yang tumbuh jauh lebih besar dari ukuran normal.

"Ukurannya luar biasa," ujar Liz waspada. "Apa kita harus memanggil tim investigasi?"

"Tidak perlu. Cangkangnya bisa dijual mahal, sayang kalau ditinggalkan," jawab Randy sambil menyeringai.

Merasakan ancaman, si Kadal raksasa itu mengaum keras, menggetarkan dedaunan di seluruh hutan, lalu menerjang ke arah Randy dengan kecepatan yang tak terduga untuk ukuran tubuhnya.

BUM!

Liz memekik, namun matanya terbelalak saat melihat Randy menahan serudukan kepala sekeras baja itu hanya dengan satu tangan. Randy bahkan tidak bergeming satu inci pun.

"Tenagamu besar, tapi Kadal Besar di Hutan Kejahatan jauh lebih menantang," gumam Randy santai.

Randy sedikit menggeser pergelangan tangannya, menciptakan celah tipis di antara telapak tangannya dan moncong monster itu. Detik berikutnya, ia menghujamkan tinjunya dalam gerakan super pendek—sebuah pukulan satu inci yang melepaskan seluruh energi kinetik ototnya.

DUARRR!

Hutan seakan berguncang. Kadal raksasa itu terlempar sejauh sepuluh meter, menabrak barisan pohon hingga tumbang, dan berakhir terkapar tak bernyawa dengan perut menghadap ke atas.

"Randy... kau jadi semakin kuat, ya?" Liz bertanya dengan nada ngeri.

"Yah, ini namanya masa pertumbuhan, Liz," jawab Randy asal sambil mulai mengikat ekor monster seberat hampir satu ton itu.


Parade Memalukan di Ibu Kota

Randy sedang dalam suasana hati yang luar biasa baik. Dalam pikirannya, ia sedang menjalani skenario klasik novel Isekai yang pernah ia baca:

  1. Kembali ke Guild sambil menyeret monster langka.

  2. Seluruh Guild gempar dan terkesima.

  3. Resepsionis cantik memujinya dan pangkatnya naik drastis.

"Lihat, Liz! Kita akan jadi pusat perhatian!" seru Randy riang sambil menyeret bangkai kadal raksasa itu di sepanjang jalan menuju ibu kota, menciptakan parit panjang di tanah.

Liz hanya bisa menutupi wajahnya dengan satu tangan. "Ya... kau benar-benar menjadi pusat perhatian, Randy. Tapi bukan dalam arti yang kau inginkan."

Para penduduk kota dan petualang yang lewat tidak menatap mereka dengan kagum. Mereka menatap Randy seolah-olah ia adalah orang gila atau preman mencurigakan yang baru saja merampok museum logam. Namun, Randy yang sedang tenggelam dalam delusi "Protagonis Hebat"-nya sama sekali tidak menyadari desahan berat Liz.


Realitas yang Menampar

Sesampainya di Guild, Randy bersiap untuk sambutan meriah. Namun, yang ia dapati di balik meja resepsionis bukanlah gadis cantik yang tersipu malu, melainkan seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang berkilat tajam dan aura seperti ibu asrama yang sedang marah.

"Tuan Randolph... boleh saya minta penjelasan?" tanyanya dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

"E-eh? Ada yang salah?" Randy mengerjap. Di mana resepsionis cantiknya? Di mana sorak sorai para petualang?

"Salah?!" Suara wanita itu meninggi. "Anda adalah petualang Peringkat E! Anda membawa monster Peringkat C ke depan pintu kami tanpa laporan investigasi, tanpa prosedur keamanan, dan menyeretnya di sepanjang jalan umum kota! Anda tahu berapa banyak laporan komplain yang masuk karena jalanan rusak?!"

Randy terdiam. "Tapi... di buku-buku biasanya..."

"Buku apa?!" Resepsionis itu berubah menjadi sosok iblis. "Masuk ke ruang interogasi! Sekarang!"

Beberapa staf veteran yang berotot besar segera memegangi lengan Randy. Randy melirik Liz, meminta pertolongan.

"Liz, kau mengkhianatiku?" bisik Randy pilu.

Liz hanya menghela napas panjang. "Aku sudah memperingatimu berkali-kali di jalan tadi, Randy. Kau saja yang asyik bergumam 'aku tidak melakukan apa-apa' sambil tersenyum bodoh."

Randy akhirnya diseret masuk ke ruangan dalam dengan kepala tertunduk lesu. Meskipun begitu, ia tidak menyadari bahwa di aula luar, para petualang lain mulai berbisik dengan nada terkesan.

"Gila, anak baru itu membunuh Armor Lizard raksasa dengan satu pukulan?" "Lihat hidungnya hancur, itu kekuatan murni!" "Siapa dia? Pelayan wanita yang bersamanya juga sangat cantik."

Ternyata, imajinasi Randy memang menjadi kenyataan—tapi tentu saja, setelah ia selesai menerima ceramah selama tiga jam yang membuat telinganya panas.



Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments