Pesta Daging dan "Kesialan" Sang Santa
Randy dan Liz duduk bersila di atas hamparan kain sederhana. Di depan mereka, api unggun besar berkobar, mengirimkan percikan jingga ke langit malam. Tawa penduduk desa bersahutan, aroma lemak daging yang dipanggang memenuhi udara—suasana pesta yang sangat meriah untuk sebuah desa pertanian kecil.
Pesta ini adalah bentuk rasa syukur warga atas bantuan Randy dan timnya sore tadi.
Penyebab yang Mencurigakan
Awalnya, permintaan yang masuk ke perkumpulan petualang terdengar sepele: "Gangguan monster pada tanaman." Hadiahnya rendah, sehingga tidak ada petualang yang mau meliriknya. Namun, atas desakan Liz yang merasa iba pada penduduk desa, Randy setuju untuk memeriksanya.
Begitu tiba, mereka tidak hanya menemukan seekor Kera Besar (Big Ape), tetapi juga beberapa Orc di pinggiran hutan.
"Kera Besar dan Orc turun ke lapisan hutan yang dangkal secara bersamaan? Ini tidak wajar," gumam Ellie sambil menatap kegelapan hutan.
"Sepertinya mereka dikejar oleh sesuatu yang lebih kuat dari dalam sana," Randy mengangguk setuju. "Normalnya, monster-monster ini tidak akan berani mendekati pemukiman manusia kecuali mereka merasa terancam."
Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa mereka akan bermalam di desa dan menyelidiki lebih dalam besok pagi. Sebagai bentuk "bonus" bagi penduduk desa yang kekurangan pangan, Randy memutuskan untuk membantai Orc yang ia temui dan membawa dagingnya kembali.
Momen di Bawah Cahaya Api
Daging Orc yang dibumbui garam dan merica sederhana ternyata terasa luar biasa nikmat saat dimakan bersama-sama. Kepala desa yang tua menghampiri Randy dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Tuan Petualang. Kami tidak bisa memberi hadiah besar, tapi kalian malah mentraktir kami pesta seperti ini."
Randy tersenyum tulus. "Makanan terasa lebih enak jika dimakan bersama-sama, Kek."
Liz, yang biasanya hidup dalam protokoler bangsawan yang kaku, menatap Randy dengan kagum. "Randy, kau tampak sangat terbiasa dengan suasana seperti ini. Padahal... kau tahu, kau bukan orang biasa."
"Keluarga Victor juga tinggal di pedesaan, Liz. Kami sering ikut festival panen bersama warga," jawab Randy santai sambil menyesap air putih dari cangkirnya.
Liz terkekeh, pipinya merona merah terkena pantulan api unggun. "Bersamamu, aku menyadari betapa sempitnya duniaku selama ini. Aku sangat menikmati hari-hari ini, Randy."
"Sama-sama. Lagipula, aku juga berhutang budi pada kalian berdua," balas Randy tulus.
Saat Randy menoleh, ia tertegun. Di bawah cahaya api yang bergoyang, profil wajah Liz tampak begitu cantik—helai rambutnya yang keemasan dan matanya yang berbinar membuat jantung Randy berdegup kencang. Ia segera memalingkan wajah, merasa telinganya mulai panas.
"Randy? Wajahmu merah sekali. Kau mabuk?" tanya Liz bingung.
"Ya... mungkin karena udaranya panas," dalih Randy, padahal ia hanya minum air putih.
"Mabuk karena air putih? Atau mabuk karena melihat gadis cantik di sampingmu, hm?" Suara Ellie tiba-tiba berbisik tepat di telinga Randy dengan nada mengejek.
"Diamlah, Ellie!" seru Randy panik, yang justru membuat Liz semakin bingung. Beruntung, suara kepala desa memanggil mereka untuk ronde daging berikutnya menyelamatkan Randy dari situasi canggung itu.
Tragedi Sang Santa: "Mukjizat" Pengusir Mabuk
Keesokan paginya, Catherine Evans tiba di desa tersebut dengan megah, diikuti oleh empat pengawal tampannya. Ia sudah membayangkan adegan pahlawan: menyelamatkan desa dari ketakutan, mengalahkan monster, dan dipuja sebagai Santa.
Namun, yang ia temukan adalah desa yang sangat tenang... dan bau sisa bakaran daging.
"Hah? Sudah dikalahkan?" Catherine terbelalak.
"Benar, Nona Santa," jawab kepala desa dengan riang. "Sore kemarin sepasang petualang—pria yang gagah dan wanita yang sangat cantik seperti dewi—sudah menghabisi monyet dan babi hutan itu. Mereka bahkan membantu kami menyelidiki hutan pagi-pagi sekali."
Catherine gemetar. Elizabeth! Pasti Elizabeth yang melakukan ini!
"Tapi... tapi aku ini Santa! Aku datang untuk menyembuhkan mereka yang terluka akibat serangan monster!" seru Catherine, berusaha menyelamatkan harga dirinya di depan Edgar dan yang lainnya.
Kepala desa menepuk tangannya. "Oh! Syukurlah! Kalau begitu, tolonglah penduduk kami, Nona Santa!"
Wajah Catherine berseri. Akhirnya, panggungnya tiba. "Tentu! Di mana mereka yang terluka parah?"
"Di sana!" Kepala desa menunjuk ke arah barak. "Beberapa pemuda desa kami mengalami 'luka' yang sangat hebat akibat pesta daging semalam. Mereka mual-mual dan pusing karena mabuk berat! Tolong gunakan kekuatan suci Anda untuk menghilangkan rasa mual mereka!"
Catherine mematung. Kekuatan suci yang seharusnya digunakan untuk menyembuhkan luka tempur yang legendaris, kini diminta untuk... mengobati orang mabuk?
Sambil gemetar menahan amarah dan rasa malu, Catherine terpaksa berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, mengeluarkan cahaya suci hanya untuk membuat orang-orang desa berhenti muntah-muntah.
"ELIZABETHHHH!" teriaknya dalam hati, bersumpah akan membalas dendam atas sabotase yang tidak disengaja ini.
[Bab Dua Selesai]
Terima kasih banyak atas dukungan, komentar, dan bintang yang telah Anda berikan! Berkat Anda semua, cerita ini berhasil mencapai peringkat teratas dalam kategori Isekai Fantasy. Dukungan Anda adalah motivasi terbesar saya untuk terus menulis setiap hari.
Nantikan Bab Tiga yang akan segera hadir!
0 Comments