Blunder Sang Perdana Menteri dan Bayangan di Balik Ladang
Setelah menikmati masa libur singkat yang hangat di wilayah Victor, Randy dan teman-temannya kembali ke rutinitas akademi. Desas-desus tentang batalnya pertunangan Cecilia dan Dario mulai menyebar, namun anehnya, gosip itu meredup secepat ia muncul.
Alasannya sederhana: Cecilia tampak jauh lebih bahagia dan segar dari biasanya. Ia tidak terlihat seperti wanita yang baru saja "dibuang". Justru Dario-lah yang menjadi pusat perhatian karena ia kini secara terang-terangan memamerkan kemesraannya dengan Catherine Evans di koridor sekolah.
"Kalian lihat tarian Lord Weissman dan Nona Evans di pesta kemarin? Benar-benar serasi," bisik para murid.
Namun, tidak semua kabar tentang sang "Santa" itu indah. Desas-desus lain menyebutkan bahwa Catherine tidak hanya menempel pada Dario, tetapi juga terlihat akrab dengan Putra Mahkota, Lord Lowe, hingga Lord Lance.
(Yah, namanya juga game harem. Tidak heran jika dia mengganti target seperti mengganti baju,) batin Randy sambil tersenyum kecut.
"Randy, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan dengan wajah mesum itu?" tegur Cecilia tiba-tiba.
"Apa?! Wajah mesum?!" Randy tersentak. Ia melirik Liz dan Cecilia yang menatapnya penuh curiga. "Aku hanya berpikir, alangkah indahnya jika mereka semua (para target pria) menikah saja dengan Catherine sekaligus. Bukankah itu solusi yang adil?"
Liz dan Cecilia serentak mendengus. "Lakukan saja sesuka mereka," ujar Cecilia dingin.
Randy tahu, meski tampak tidak peduli, situasi ini sedang menuju badai besar. Jika para pemimpin masa depan kerajaan hanya sibuk dengan urusan asmara dan mengabaikan rakyat, kehancuran hanyalah masalah waktu. Namun, tugas Randy bukan untuk menceramahi mereka, melainkan memastikan ia dan teman-temannya tidak terseret arus kegagalan itu.
Surat Ancaman dari Ibu Kota
Tiba-tiba, seorang pelayan berlari menghampiri Cecilia dan membisikkan sesuatu. Seketika, wajah Cecilia mengeras. Ia mengembuskan napas panjang—bukan desahan kemarahan, melainkan desahan karena tak percaya betapa bodohnya lawan mereka.
"Ada masalah?" tanya Liz khawatir.
"Ya. Perdana Menteri Dill Weissman baru saja mengirim surat ancaman ke wilayahku," jawab Cecilia. "Dia menghentikan seluruh kompensasi dan menuduh keluarga Heartfield melakukan pengkhianatan."
"Pengkhianatan?" Randy mengernyit. "Secepat itu?"
"Tepatnya pemberontakan," lanjut Cecilia. "Dill curiga kami menolak uang kompensasi karena kami punya sumber dana rahasia dari perdagangan daging ilegal ke negara tetangga."
"Pfftt... Hahaha!" Suara Ellie mendadak muncul dari kesadaran Liz. "Bodoh sekali! Mereka akan tenggelam sebelum kita sempat menyentuhnya!"
Randy mengangguk setuju. "Itu tuduhan yang sangat berisiko. Menuduh keluarga bangsawan lokal yang punya otonomi khusus tanpa bukti kuat sama saja dengan menyatakan perang terhadap seluruh aliansi bangsawan lama."
Cecilia menjelaskan bahwa menurut perjanjian kuno Kerajaan Alexandria, bangsawan teritorial memiliki hak otonomi yang sangat kuat. Menuduh mereka secara serampangan adalah pelanggaran hukum berat. Dill Weissman, dalam kepanikannya karena kehilangan kendali atas Cecilia, telah melompati prosedur hukum dan langsung menggunakan ancaman militer.
"Dill pasti mengirim unit rahasia untuk mencari bukti di wilayahku," gumam Cecilia. "Tapi sayangnya, dia mengirim 'tikus-tikusnya' ke dalam sarang naga."
Malam Berdarah di Wilayah Heartfield
Di tengah kegelapan malam di wilayah Heartfield, seorang pria berpakaian serba hitam—agen rahasia dari dunia bawah kerajaan—berlari dengan napas tersengal. Bahunya bersimbah darah.
Dari sepuluh orang yang menyusup bersamanya, ia tidak tahu apakah ada yang tersisa. Infiltrasi mereka adalah bencana total. Mereka tidak menemukan bukti perdagangan daging ilegal. Yang mereka temukan hanyalah peternakan slime dan monster tanaman rendah yang sudah memiliki izin resmi sejak bertahun-tahun lalu.
Tepat saat ia hendak mencapai perbatasan, sebuah kilatan perak melintas di depannya tanpa suara.
Slash!
Kedua kaki agen itu lemas. Ia tersungkur ke tanah. Beberapa bayangan muncul dari kegelapan, mengelilinginya. Salah satunya adalah Harrison Walker, wakil komandan ksatria dari wilayah Victor yang dikirim oleh Alan (Ayah Randy).
"Begitu rupanya. Prediksi Marquis Lucien benar-benar tepat," gumam salah satu bayangan yang merupakan agen rahasia milik keluarga Liz.
Marquis Lucien telah menduga bahwa Dill Weissman akan menggunakan cara kotor. Itulah sebabnya ia mengirimkan agen-agen terbaiknya untuk bekerja sama dengan ksatria kiriman keluarga Victor.
"Tuan Harrison, terima kasih atas bantuan Anda," ujar agen Marquis itu kepada sosok pria besar yang sedang membersihkan pedangnya.
"Ah, jangan sungkan. Aku hanya sedang melakukan pemanasan," jawab Harrison sambil tertawa santai. "Tapi, apa tidak masalah aku menghabisi mereka semua? Tidak ada saksi hidup yang tersisa, lho."
"Justru itu yang diinginkan Marquis," balas sang agen. "Kematian sepuluh agen rahasia tanpa jejak di wilayah otonom akan membuat Dill Weissman kehilangan kekuatan gelapnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri. Dia tidak bisa mengaku telah mengirim mereka tanpa mengakui pelanggaran hukumnya sendiri."
Harrison melambaikan tangan lalu menghilang ke dalam kegelapan malam secepat ia muncul. Para agen Marquis menatap kepergiannya dengan rasa ngeri.
"Wakil komandan ksatria wilayah Victor... dia benar-benar monster," bisik salah satu dari mereka. "Untung saja keluarga Victor berada di pihak kita."
Kembali ke Akademi
Keesokan harinya, di meja makan akademi, Randy menyeruput kopi dinginnya dengan tenang. Ia sudah mendengar laporan singkat bahwa "hama" di wilayah Heartfield telah dibersihkan.
"Weissman sudah masuk ke dalam jebakannya sendiri," gumam Randy.
Ia bisa membayangkan wajah Dill Weissman yang akan memucat ketika menyadari bahwa unit elitnya hilang tanpa bekas, sementara tuntutan hukum atas pelanggaran otonomi mulai disusun oleh keluarga Heartfield dan Brauberg.
"Kopi ini..." Randy menatap cangkirnya. "Masih terasa pahit, tapi setelah kemenangan kecil ini, rasanya lumayan juga."
0 Comments