Kepulangan dan Sambutan "Ibu Negara" Victor
Randy dan Liz baru saja memulai hari-hari mereka di akademi, dan kini liburan kedua telah tiba. Di dunia ini, satu minggu terdiri dari tujuh hari, namun akademi memiliki aturan unik: libur penuh pada hari Sabtu kedua dan keempat, sementara Sabtu lainnya hanya diisi kelas setengah hari.
Bagi Randy, Sabtu sore adalah waktu yang sakral. Setelah dua minggu mendekam di akademi, ia ingin memantau perkembangan wilayah keluarganya—sekaligus mencuci mata dari penatnya pelajaran. Ia tidak pulang sendiri. Selain Liz, ada satu tamu tambahan yang tampak masih diliputi keraguan.
"Randy, kau yakin ini tidak apa-apa?" tanya Cecilia dengan nada sangsi.
Gadis itu masih merasa asing. Sejak pembatalan pertunangannya dengan Dario memicu perang dingin dengan pemerintah pusat, Cecilia resmi menjadi "rekan seperjuangan" Randy dan Liz. Randy pun sudah menceritakan rahasia di balik pengusiran Liz serta keberadaan Ellie kepadanya. Cecilia yang punya harga diri tinggi, menolak mentah-mentah untuk terus menjadi pion bagi orang-orang yang telah mengabaikannya.
(Para bangsawan kalau sudah nekat memang mengerikan,) batin Randy.
Atas permintaan Cecilia, Randy kini berhenti menggunakan bahasa formal kepadanya. Dengan bantuan sihir teleportasi Ellie yang luar biasa praktis, perjalanan yang seharusnya memakan waktu sepuluh hari pun selesai dalam satu jentikan jari.
Sambutan yang "Luar Biasa"
"Di sini rumahmu?" tanya Cecilia takjub. "Ya, aku pulang," jawab Randy santai.
Kediaman keluarga Victor masih tampak sama seperti sebulan lalu. Randy melambaikan tangan pada seorang pelayan yang sedang menyapu halaman. "Halo! Ini aku, Randolph!"
Pelayan itu mematung. Sapunya jatuh dengan bunyi gedebuk.
"Ada apa—"
"Tuan! Tuan Besar! Tuan Muda Randy pulang membawa nona muda lagi! Kali ini dua orang sekaligus!" teriak pelayan itu sambil berlari masuk ke dalam rumah seolah-olah ada kebakaran.
"Lagi?" Cecilia menaikkan sebelah alisnya, menatap Randy penuh selidik. "Kau sering 'memungut' gadis di jalan, Randy?" "Jangan dengarkan dia, itu cuma salah paham!" gerutu Randy, sementara Liz hanya bisa tersenyum kecut di sampingnya.
Dalam sekejap, rumah itu menjadi gaduh. Alan, Keith, serta Grace—sang ibu—muncul bersama dua adik Randy, Clarice dan Cecil.
Randy melihat adik bungsunya, Cecil, dan langsung berlari ingin memeluknya. "Cecil! Kakak pulang!"
"Tahan dulu, Randolph." Sebuah tangan menghalangi jalan Randy. Itu adalah ibunya, Grace, yang tersenyum dengan aura yang sangat mengintimidasi namun anggun. "Jelaskan dulu pada Ibu, siapa tamu-tamu cantik ini?"
Randy melirik ayahnya, Alan, meminta bantuan. Namun Alan justru memalingkan wajah, berpura-pura sangat sibuk menghitung kancing bajunya sendiri. Pasrah, Randy akhirnya menggiring mereka semua masuk ke ruang tamu.
Grace Victor: Sang Penakluk "Bos Terakhir"
"Begitu. Jadi ini Nona Elizabeth, dan ini Nona Cecilia yang diceritakan dalam surat Marquis," ujar Grace sambil menyesap tehnya dengan sangat anggun. "Salam kenal, saya Grace Victor, ibu dari pemuda ceroboh ini."
Meskipun keluarga Victor hanya bergelar Viscount, Liz dan Cecilia bisa merasakan wibawa yang luar biasa dari wanita itu. Mereka segera membalas salam dengan sangat hormat.
"Jangan kaku begitu, ini cuma daerah pedesaan," Grace tersenyum manis. Namun bagi Randy, itu adalah senyum "predator" yang menandakan ibunya sedang merencanakan sesuatu yang heboh.
"Ibu, mereka itu—"
"Minggir dulu, Randolph," Grace mendorong putranya ke samping dan menatap kedua gadis itu dengan mata berbinar. "Wah, kalian berdua benar-benar cantik... Jadi, yang mana calon menantuku?"
Uh-huk! Liz tersedak dan wajahnya memerah padam, sementara Cecilia mendadak merasa salah tingkah.
"Oh, kelihatannya memang Nona Elizabeth, ya?" Grace menggoda Liz, membuat gadis itu makin panik. "A-aku... menantu...?"
"Ibu, hentikan! Liz sedang dalam kesulitan," tegur Randy. "Bagus sekali! Akhirnya kau punya keberuntungan dengan wanita," ejek Grace. Lalu, ia menatap lurus ke arah Liz dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah serius. "Kapan Eleonora akan menunjukkan wajahnya?"
Liz tersentak. Bagaimana Grace bisa tahu? Ia kemudian menyampaikan jawaban Ellie, "Dia bilang, 'kalau dia mau'."
Tiba-tiba, suasana ruangan berubah dingin. Sosok Ellie mengintip melalui mata Liz. "Hmph. Kau berani mengklaim selirku sebagai putrimu, manusia?"
"Tentu saja," jawab Grace tanpa gentar, bahkan tersenyum menantang. "Mau kau penyihir kuno atau putri bangsawan, jika kau berada di rumah ini, kau adalah putriku. Beritahu aku jika Randy macam-macam padamu."
Ellie tertegun sejenak, lalu menyeringai licik. "Wanita yang menarik. Baiklah, karena kau cukup bernyali, aku akan membantumu jika terjadi sesuatu." Setelah itu, Ellie menghilang kembali.
Randy dan Liz melongo. Grace adalah orang pertama yang bisa membuat Ellie luluh hanya dengan satu percakapan. Dalam sejarah asli, Grace adalah alasan mengapa "Bos Terakhir" membutuhkan waktu lama untuk menghancurkan kerajaan; kasih sayang keibuannya adalah satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan jiwa Elizabeth dan Eleonora.
Adik-adik yang Bersemangat
"Clarice, Cecil, kemari," panggil Grace.
Clarice (12 tahun) dan Cecil (5 tahun) mendekat. Clarice menatap Liz dengan mata berbinar-binar. "Saya Clarice... Jadi, yang mana Kakak Iparku?"
"Clarice!" Randy ingin protes, tapi ibunya malah memanas-manasi. "Mungkin Nona Elizabeth?"
Clarice langsung memegang tangan Liz. "Bolehkah saya memanggilmu Kakak Elizabeth?" "Panggil saja Liza, itu lebih akrab," jawab Liz dengan senyum tulus. Ia memang selalu ingin punya adik perempuan.
"Kalau begitu, Kakak Liza!" seru Clarice girang.
"Randolph," Grace menoleh pada putranya, "pastikan kau membuat Liza bahagia, ya." "Ibu, tolonglah... kalian bergerak terlalu cepat," Randy tertunduk lesu, bahunya merosot karena merasa tidak punya kuasa di rumahnya sendiri.
Melihat kakaknya terpuruk, si kecil Cecil mendekat dan mengelus kepala Randy dengan lembut. "Cecil... cuma kau yang ada di pihakku," Randy memeluk adik bungsunya itu dengan haru.
"Randolph..." Alan, sang ayah, menepuk bahu putranya dengan wajah prihatin. "Menyerah sajalah. Di rumah ini, ibumu adalah hukum yang mutlak."
Alan kemudian mengajak Randy dan Keith keluar untuk membicarakan bisnis, meninggalkan Grace yang mulai asyik bergosip dengan Liz dan Cecilia. Saat Randy melangkah keluar pintu, suara tawa riang dari dalam ruangan terdengar memenuhi rumah—sebuah pertanda bahwa aliansi baru ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga tentang keluarga yang baru ditemukan.
0 Comments